Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Hidronefrosis didefinisikan sebagai pembengkakan atau dilatasi abnormal pelvis
dan kaliks ginjal yang disertai dengan berbagai tingkatan atrofi parenkim ginjal. Hal tersebut
terjadi akibat dari adanya hambatan aliran urine ke distal pelvis renalis. Dalam keadaan
normal, urin mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran urin
tersumbat, maka urine akan mengalir kembali ke pelvis renalis dan tubulus renalis. Hal ini
akan menyebabkan ginjal menggelembung yang lama kelamaan akan menyebabkan
kerusakan pada ginjal.
Pada anak, insidens hidronefrosis berkisar antara 2-2,5 %, lebih banyak ditemukan
pada anak laki-laki dan usia kurang dari 1 tahun. Hidronefrosis juga dapat ditemukan pada
saat antenatal. Hidronefrosis antenatal terjadi pada 1:1000 kehamilan dan merupakan
kelainan traktus urinarius terbanyak yang ditemukan pada saat screening prenatal, yaitu
berkisar 50 % dari seluruh kelainan traktus urinarius.
Secara umum hidronefrosis disebabkan oleh kelainan-kelainan seperti :
1. Obstruksi pada PUJ(sambungan antara ureter dan pelvis renalis)
2. Obstruksi dibawah PUJ
3. Refluks vesikoureter
Pada anak, kebanyakan hidronefrosis disebabkan oleh adanya obstruksi pada PUJ
atau karena adanya batu pada traktus urinarius bagian atas.
PUJadalah adanya hambatan/penyempitan pada bagian yang menghubungkan pelvis
renalis dan ureter, sehingga aliran urine dari pelvis menuju ke vesika urinaria berkurang yang
menyebabkan pembesaran ginjal oleh karena kembalinya urin ke pelvis renalis
(hidronefrosis) dan dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Angka kejadian 1:500-800 dan
hampir setengahnya ditemukan massa abdomen. Penderita lebih banyak laki-laki dibanding
perempuan, dengan rasio 2 : 1, dan mengenai ginjal unilateral sebanyak 76% danginjal
bilateral sebanyak 10-40% kasus.
Batu saluran kemih (BSK) ialah pembentukan batu di dalam saluran kemih.
Berdasarkan letaknya BSK dapat dibagi menjadi batu vesika dan batu ginjal. Angka kejadian,
komposisi batu, gambaran klinis pada anak sangat bervariasi dari satu negara dengan degara
lain. BSK ditemukan sama seringnya pada anak laki-laki maupun perempuan, lebih sering
ditemukan pada ras Kaukasia, dan jarang ditemukan pada ras Afrika-Amerika.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal
akibat tekanan balik terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat. Dalam keadaan
normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah.
Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabung-
tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat pengumpulan air
kemih (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggelembung dan menekan
jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang menetap dan berat akan
merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.

Penyebab
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan ureteropelvik
(sambungan antara ureter dan pelvis renalis):
Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis terlalu
tinggi
Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah
Batu di dalam pelvis renalis
Penekanan pada ureter oleh:
- jaringan fibrosa
- arteri atau vena yang letaknya abnormal
- tumor.
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan di bawah sambungan
ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih:
Batu di dalam ureter
Tumor di dalam atau di dekat ureter
Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran atau
pembedahan
Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter akibat pembedahan,
rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid)
Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih)
Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul lainnya
Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretra akibat
pembesaran prostat, peradangan, atau kanker
Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera
Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangi kontraksi
ureter.

Terkadang hidronefrosis terjadi selama kehamilan karena pembesaran rahim menekan
ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk keadaan ini karena mengurangi kontraksi
ureter yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Hidronefrosis akan
berakhir bila kehamilan berakhir, meskipun sesudahnya pelvis renalis dan ureter mungkin
tetap agak melebar.
Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot
ritmis yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa lalu
akan menggantikan kedudukan jaringan otot yang normal di dinding ureter sehingga terjadi
kerusakan yang menetap.






Patofisiologi
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga
tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan
balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat
adanya batu ataukekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak.
Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk di
piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya. Obstruksi dapat diakibatkan oleh
tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses atau inflamasi dekat
ureter dan menjepit saluran tersebut. Gangguan dapat sebagai akibat dari bentuk abnormal di
pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter berpilin atau kaku.
Pada pria lansia , penyebab tersering adalah obstruksi uretra pada pintu kandung kemih akibat
pembesaran prostat. Hidronefrosis juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran
uterus.
Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan
distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal
sedang mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar secara bertahap
(hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu.

Gejala
Gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi penyumbatan serta
lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (hidronefrosis akut), biasanya
akan menyebabkan kolik renalis (nyeri yang luar biasa di daerah antara tulang rusuk dan
tulang panggul) pada sisi ginjal yang terkena.
Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis), bisa tidak
menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul).
Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis atau karena
penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah.
Air kemih dari 10% penderita mengandung darah atau hematuria. Sering ditemukan
infeksi saluran kemih (terdapat nanah atau piuria di dalam air kemih), demam dan rasa nyeri
di daerah kandung kemih atau ginjal. Jika aliran air kemih tersumbat, bisa terbentuk batu
(kalkulus).
Hidronefrosis bisa menimbulkan gejala saluran pencernaan yang samar-samar, seperti
mual, muntah, dan nyeri perut. Gejala ini kadang terjadi pada penderita anak-anak akibat
cacat bawaan, dimana sambungan ureteropelvik terlalu sempit. Jika tidak diobati, pada
akhirnya hidronefrosis akan menyebabkan kerusakan ginjal dan bisa terjadi gagal ginjal.

Diagnosa
Dokter bisa merasakan adanya massa rata di pelvis yang unilateral atau bilateral, di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, terutama jika ginjal sangat membesar.
khususnya pada bayi; ginjal yang teraba pada anak berusia lebih dari 3 tahun patut dicurigai,
demikian juga asimetri pada anak yang berusia lebih muda.
Namun ada yang datang dengan nyeri abdomen (sering kronis atau kambuh) atau,
pada kasus yang jarang, terdapat bukti adanya gagal ginjal. Pemeriksaan darah bisa
menunjukkan adanya kadar urea yang tinggi karena ginjal tidak mampu membuang limbah
metabolik ini.
Beberapa prosedur digunakan utnuk mendiagnosis hidronefrosis:
USG, memberikan gambaran ginjal, ureter, dan kandung kemih
Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal
Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara langsung.







Pengobatan
Tujuan : Untuk mengidentifikasi dan memperbaiki penyebab obstruksi, untuk
menangani infeksi, dan untuk mempertahankan serta melindungi fungsi renal.
Pada hidronefrosis akut:
- Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang hebat, maka air
kemih yang terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan (biasanya melalui
sebuah jarum yang dimasukkan melalui kulit).
- Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau terdapat batu, maka bisa
dipasang kateter pada pelvis renalis untuk sementara waktu.
Hidronefrosis kronis diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi
penyumbatan air kemih. Ureter yang menyempit atau abnormal bisa diangkat melalui
pembedahan dan ujung-ujungnya disambungkan kembali.
Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa.
Jika sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan pembedahan untuk
melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali di sisi kandung kemih yang berbeda.
Infeksi ditangani dengan agen antimikrobial karena sisa urin dalam kaliks
menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan untuk mengankat
lesi obstruktif (batu, tumor, obstruksi ureter). Jika salah satu ginjal rusak parah dan fungsinya
hancur, nefrektomi dapat dilakukan

Prognosis
Pembedahan pada hidronefrosis akut biasanya berhasil jika infeksi dapat dikendalikan
dan ginjal berfungsi dengan baik. Prognosis untuk hidronefrosis kronis belum bisa dipastikan.



BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas
Nama : An. Ar
Umur : 6 thn
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Narmada
Anak ke : 2 dari 2 bersaudara
Tanggal MRS : 17/01/2014
Tanggal Pemeriksaan : 20/01/2014

3.2 Heteroanamnesis (ibu dan ayah pasien)
KU : Kencing Menetes
RPS :
Pasien merupakan rujukan RS-Selong, datang dengan keluhan kencing menetes sejak
7 hari SMRS. Keluhan ini dirasakan kencing keluar sedikit-sedikit dan saat 5 hari
SMRS dikeluhkan kencing tidak keluar kemudian dibawa ke Puskesmas Pringgasela
dan dirujuk RS Selong. Keluhan kencing kemerahan (-), kencing keruh (+), nyeri saat
kencing (-), tidak bisa menahan kencing (+), sering merembes tanpa disadari , mual
(+), muntah (+) sedikit, 2 kali, bercampur sisa makanan. BAB (-) sejak 2 hari yang
lalu. Pasien memang memiliki riwayat BAB tidak lancar. Selama di rawat di RS
Selong tidak BAB, kemudian diberikan lasadin sirup. Saat ini pasien merasa lemas
dan tak bertenaga. Makan dan minum sedikit.

RPD
Keluha serupa (+), sejak usia 2 tahun 4-6 kali, namun tidak pernah rawat inap,
hanya kontrol ke dokter.
Riwayat meningokel sejak lahir dan dioperasi saat berumur 2 tahun
Berat badan tidak naik-naik sejak usia 3 tahun
Riwayat batuk lama (-)


RPK
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa seperti pasien.
Riwayat Pengobatan
Di RS Selong pasien mendapat terapi : injeksi cefotaxim 2 x 500 mg dan Lasadine syr
2 x cth 1/2
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Selama hamil ibu rutin melakukan ANC di Posyandu (> 4x)
Ibu tidak pernah mengalami demam tinggi atau penyakit berat yang lain selama
hamil.
Pasien lahir di Puskesmas dibantu oleh bidan, cukup bulan, BBL 2800 gr,
langsung menangis, tidak biru, tidak kuning. Pasien lahir kembar.
Riwayat Imunisasi
Menurut ibu pasien, pasien mendapatkan imunisasi lengkap di posyandu
Riwayat Nutrisi
Pasien mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
Setelah usia 6 bulan pasien langsung diberikan MPASI sampai usia 2 tahun.
Pasien saat ini mendapat makanan keluarga sehari-hari, namun nafsu makan
menurun.
Riwayat Sosial dan lingkungan
Pasien tinggal bersama orang tua dan kakak
Sumber air minum keluarga adalah dari air PDAM yang sudah dimasak.

3.3 Obyektif

Status Present
KU : Sedang
Kesadaran : CM
Nadi : 90 x/min, kuat angkat
RR : 17 x/min
T axilla : 36,7C
BB : 11 kg
PB : 105 cm


Status Generalis
Kepala :
Bentuk : normal, UUB tertutup
Mata : konjungtiva anemis (+), sklera ikterus (-),
Telinga : dbn, simetris D/S
Hidung : dbn, deviasi septum (-), nafas cuping hidung (-)
Mulut : Bibir kering (-), tenggorokan sde
Leher : pembesaran KGB (-)
Thorax :
Pulmo:
Inspeksi : retraksi (-), pergerakan dada simetris, iga gambang +/+
Palpasi : pergerakan dinding dada simetris, vocal fremitus
teraba sama di kedua lapang paru
Auskultasi : ves +/+, Rh -/-, wheezing -/-
Cor:
Inspeksi : pulsasi iktus kordis tidak tampak
Palpasi : thrill (-)
Auskultasi : S
1
S
2
Reguler tunggal, M(-), G(-)
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : BU (+) Normal
Perkusi : timpani (+)
Palpasi : nyeri tekan (-), H/L ttb, Ren : ballotemen +/+
Ekstremitas
Pemeriksaan Ekstremitas Atas Ekstremitas Bawah
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Akral Hangat - - - -
Edema - - - -
Nyeri Tekan - - - -
Pucat + + + +



3.4 RESUME

Pasien perempuan usia 6 tahun merupakan rujukan dari RSUD Selong dengan
keluhan kencing menetes 7 hr SMRS dan saat 5 hr SMRS kencing pasien tidak
keluar. Keluhan kencing keruh (+), tidak bisa menahan kencing (+), sering merembes
tanpa disadari, disertai mula dan muntah.

Dari pemerikaan fisik didapatkan:
KU : Sedang
Nadi : 90 x/min, kuat angkat
RR : 17 x/min tanpa O2
T ax : 36,7C
Konjungtiva anemis (+), akral dingin dan pucat.

3.5 Assesment
Hidronefrosis Billateral ec Susp. VUR
DD : ISK Kronik

3.6 LABORATORIUM

Darah Lengkap
WBC : 22,1 x 10
3
/L
RBC : 2,57 x 10
6
/ L
HGB : 7,9 g/dL
HCT : 24,5 %
MCV : 95,4 fl
MCH : 30,7 pg
MCHC : 31,6 g/dL
PLT : 222 x 10
3
/ L
LED : 104 mm/jam




Pemeriksaan Lain
GDS : 116 mg/dL
Creatinin : 4,3
Ureum : 143
SGOT : 26
SGPT : 12


USG : Hidronefrosis Billateral

3.7 Planning
Diagnostik
CT-Scan Abdomen
Terapi
O2 sungkup 2 lpm
IVDF RL 15 tpm
Inj. Ceftriaxon 3 x 150 mg


DAFTAR PUSTAKA

Antelo,D.V.P. Urinary tract infection. The Federal University of Rio de Janeiro.
http://www.medstudents.com.br/pedia/pedia10/pedia10.htm
Children's National Medical Center, Washington, D.C. 2006.
http://pediatrics.about.com/cs/commoninfections/l/bl_uti.htm
Dinda, Urinary Tract stones ( urolithiasis ), available from
http://www.itokindo.org.com 2011.
Egland, ann G.2006. Pediatrics, Urinary tract infection and Pyelonephritis.
Department of Operational and Emergency Medicine, Walter Reed Army
Medical Center. http://www.emedicine.com/EMERG/topic769.htm
Hellerstein, stanley. 2006. Urinary tract infection. Children's Mercy Hospital of
Kansas City. http://www.emedicine.com/PED/topic2366.htm
Schulam, Peter G. Ureteropelvic Junction Obstruction. University of California, Los
Angeles. Page 323-6. Available at http://kidney.niddk.nih.gov. Accessed on
2nd of March 2012.
Stifelman, Michael. Shah, Ojas. Ureteropelvic Junction Obstruction. NYU Langone
Medical Center. Available at http://urology.med.nyu.edu. Accessed on 2nd of
March 2012.
Syaifullah Noer,dkk. Kompendium Nefrologi Anak. Infeksi dan Batu Saluran
Kemih Unit Kerja Koordinasi Nefrologi, IDAI, Jakarta , 2011.