Anda di halaman 1dari 8

Kelompok 11:

Nuril Trisnawati 12324002


Veti Ulfiana
Claugita Andini
Vania Maharani
TUMBUHAN DAN CEKAMAN ALELOPATI
Deskripsi Alelopati
Alelopati berasal dari bahasa Yunani, allelon yang berarti "satu sama lain" dan pathos
yang berarti "menderita". Alelopati didefinisikan sebagai suatu fenomena alam dimana suatu
organisme memproduksi dan mengeluarkan suatu senyawa biomolekul (disebut alelokimia) ke
lingkungan dan senyawa tersebut memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan organisme lain
di sekitarnya. Sebagian alelopati terjadi pada tumbuhan dan dapat mengakibatkan tumbuhan di
sekitar penghasil alelopati tidak dapat tumbuh atau mati
Alelopati merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat
yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans)
jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik.
Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa. Contoh jamur Penicillium sp.
dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Menurut Rohman dan I wayan Sumberartha, 2001.
Alelopati juga merupakan sebuah fenomena yang berupa bentuk interaksi antara makhluk
hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia
Menurut Odum (1971) dalam Rohman dan I wayan Sumberartha (2001)
Alelopati merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat
kimia dan dapat menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan
tumbuhan tersebut.
Menurut Molisch pada tahun 1937 (Willis, 2007)
Alelopati diartikan sebagai pengaruh negatif dari suatu jenis tumbuhan tingkat tinggi terhadap
perkecambahan, pertumbuhan, dan pembuahan jenis-jenis lainnya.

Kemampuan untuk menghambat pertumbuhan tumbuhan lain merupakan akibat adanya


suatu senyawa kimia tertentu yang terdapat pada suatu jenis tumbuhan. Dalam Rohman dan I
wayan Sumberartha (2001) disebutkan bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat ditemukan
pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah, dan biji).

Sejarah Alelopati
Reaksi alelopati telah dikemukakan oleh Bapak Botani, Theophrastus, sejak tahun 300
SM. Dia menuliskan tentang buncis yang dapat membunuh populasi gulma di sekitarnya. Pada
tahun 1 setelah Masehi, seorang cendekiawan dan naturalis Roma bernama Gaius Plinius
Secundus menuliskan tentang bagaimana buncis dan jelai dapat berefek "menghanguskan"
ladang. Selain itu, dia juga mengemukakan bahwa pohon walnut bersifat toksik (beracun)
terhadapat tumbuhan lain. Pada tahun 1832, Augustin Pyramus De Candolle, seorang ahli botani
dan naturalis mengemukakan bahwa tanah dapat menderita "sakit" kemungkinan diakibatkan
oleh senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tanaman. Penemuan mengenai alelopati semakin jelas
ketika pada tahun 1907-1909, dua orang ilmuwan bernama Schreiner dan Reed berhasil
mengisolasi senyawa fitotoksik kimia dari tanaman dan tanah. Konsep mengenai alelopati
dikemukakan pada tahun 1937 oleh Hans Molisch, seorang ahli fisiologi tanaman asal Austria
(Willis, 2007). Lebih lanjut dijelaskan bahwa senyawa-senyawa tersebut dapat terlepas dari
jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar, pencucian, dan
pembusukan bagian-bagian organ yang mati.
Mekanisme dan Proses Terjadinya Alelopati
a.

Mekanisme Alelopati
Fenomena alelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan, antar
mikroorganisme, atau antara tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a). Menurut
Rice (1984) interaksi tersebut meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau
tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk oleh suatu organisme (tumbuhan, hewan
atau mikrobia) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain. Senyawa kimia
yang berperan dalam mekanisme itu disebut alelokimia. Pengaruh alelokimia bersifat

selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak terhadap
organisme lain (Weston, 1996).
Alelokimia pada tumbuhan dibentuk di berbagai organ, mungkin di akar, batang, daun,
bunga dan atau biji. Organ pembentuk dan jenis alelokimia bersifat spesifik pada setiap
spesies. Pada umumnya alelokimia merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan
menjadi 14 golongan, yaitu asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang,
quinon, terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam benzoat dan
derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino non protein, sulfida serta
nukleosida. (Rice,1984; Einhellig, 1995b). Pelepasan alelokimia pada umumnya terjadi pada
stadium perkembangan tertentu, dan kadarnya dipengaruhi oleh stres biotik maupun abiotik
(Einhellig, 1995b).
Alelokimia pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran
melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Setiap jenis alelokimia
dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau
sifat kimianya (Rice, 1984; Einhellig, 1995b).
Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan
dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses
yang cukup kompleks, namun menurut Einhellig (1995b) proses tersebut diawali di
membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau
hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan
konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses
fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen
dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh
hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel
yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran.
b.

Proses Terjadinya Alelopati


1. Penguapan
Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus
tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia,
Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid.
Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk
embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar

2. Eksudat Akar
Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan
(eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.
3. Pencucian
Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada
di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan
Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup
di bawah naungan tumbuhan ini.
4. Pembusukan Organ Tumbuhan
Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia
yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang
mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa
kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman
budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan
senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah.
Demikian juga tumbuhan yang sudah mati pun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat
organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah.
Dampak Negatif Alelopati bagi Tumbuhan

Menurut Rohman dan I Wayan Sumberatha (2001)


Menyebutkan bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan
yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel, pertumbuhan,
proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang

lain.
Menurut anonim (tanpa tahun)
Menjelaskan tentang pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai
berikut:
1. Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan
kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
2. Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
3. Beberapa alelopati dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi
pembesaran sel tumbuhan.
4. Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.

5. Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.


6. Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel
tumbuhan.
7. Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.

Menurut Rice (1984) dalam Salempessy (1998) dalam Tetelay (2003)


Menjelaskan bahwa senyawa alelopat dapat menyebabkan gangguan atau hambatan pada
perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin dan Indole Acetid Acid (IAA),
penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan mulut daun, sintesa protein,

aktivitas enzim tertentu dan lain-lain.


Menurut Patrick (1971) dalam Salempessy (!998) dalam Tetelay (2003)
Menyatakan bahwa hambatan alelopati dapat pula berbentuk pengurangan dan
kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem
perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman.
Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih
hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin
menurun (Anonim a, Tanpa Tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang
dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam
tumbuhan alelopat, saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan
alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur
fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4).

Penanggulangan Alelopati
Pada ekosistem pertanian alelopati dapat menurunkan atau meningkatkan produktivitas
lahan, tergantung pada pembentuk alelokimia (tanaman atau gulma), organisme sasaran dan
aktivitasnya. Oleh karena itu penerapannya memerlukan strategi tertentu, yang menurut Einhellig
(1995a), dan Caamal-Maldonado et al. (2001) adalah mengendalikan gulma dan atau patogen
melalui :
1. Pola tanam di lapangan

Untuk ini diperlukan tanaman non-produksi (yang selanjutnya disebut tanaman X), yang
bersifat alelopat terhadap gulma atau patogen namun tidak terhadap tanaman produksi, dan
pemanfaatannya melalui:
a. Rotasi tanam, dengan menanam tanaman X di antara waktu tanam tanaman produksi,

b. Cover crop, tanaman X ditanam sebagai tanaman penutup tanah,


c. Tanaman sela, tanaman X ditanam di antara tanaman produksi,atau
d. Mulsa, organ tanaman X yang diketahui sebagai pembentuk alelokimia dijadikan sebagai
mulsa. Pemilihan pola tanam didasarkan atas sifat morfologi dan fisiologi tanaman X,
organ pembentuk alelokimia, mekanisme pelepasan, sifat alelokimia dan sebagainya.
2. Produksi pestisida alami dari alelokimia

Alelokimia yang menghambat gulma atau patogen diformulasi dan diproduksi secara
marketable menjadi pestisida alami (herbisida, fungisida, bakterisida dan sebagainya).
3. Pemuliaan tanaman

Untuk memperoleh kultivar tanaman produksi yang alelopatik bagi gulma pesaingnya.
Pada jenis tanaman tertentu mungkin telah ada varitas alami yang bersifat demikian. Bagi
jenis tanaman yang belum mempunyai, kultivar seperti ini perlu dikembangkan melalui
pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi, seleksi, dan identifikasi) maupun nonkonvensional (transformasi gen, fusi protoplas, dan lain-lain).
Manfaat dan Peranan Alelopati
Selain dapat merugikan tanaman pertanian, alelopati juga memounyai beberapa manfaat dan
peranan bagi pertanian antara lain:
1.
2.
3.
4.

Mengendalikan gulma dan penyakit


Mencegah timbulnya pencemaran
Menambah ketersediaan unsur hara
Meminimalkan kerugian dari akibat radiasi sinar matahari dengan pengelolaan iklim
mikro, pengelolaan air, dan pengendalian erosi

Beberapa contoh tanaman yang dapat melakukan alelopati adalah


Jenis tanaman

Dampak

Mimba (Azadirachta Menghambat tanaman yang tumbuh dalam jarak 5


indica) dan eukaliptus meter.

Mangga

Bubuk daun mangga kering dapat menghambat


pertumbuhan teki ladang sepenuhnya.

Foto

Residu brokoli dapat mencegah fungi Verticillium


Brokoli

penyebab penyakit layu pada beberapa tanaman


sayur, contohnya kembang kol dan brokoli sendiri.

Gandum dan gandum


hitam

Lantana atau Saliara

Penekanan pertumbuhan gulma apabila gandum


tersebut digunakan sebagai tanaman pelindung atau
mulsa.

Akar dan tunas tanaman ini dapat mengurangi


perkecambahan gulma anggur dan gulma lainnya.

Tanaman Leucaena yang ditanam secara bersilangan


Golongan Leucaena,
contohnya lamtoro

dengan tanaman pangan di dalam sistem tumpang


sari dapat mengurangi hasil panen gandum dan
kunir, namun meningkatkan hasil panen jagung dan
padi.

Penerapan Alelopati dalam Pertanian


Penerapan alelopati dalam pertanian secara garis besar adalah untuk mengendalikan
gulma dan penyakit menggunakan bahan yang berasal dari tumbuhan atau mikroorganisme, yaitu
meminimalkan serangan hama (termasuk gulma) dan penyakit pada tanaman melalui pencegahan
dan perlakuan yang aman. Penggunaan pestisida yang berasal dari tumbuhan bersifat relatif
aman, karena berbeda dengan bahan kimia sintetis, bahan alami mudah terurai sehingga tidak
akan meninggalkan residu di tanah atau air, dan oleh karena itu tidak menimbulkan pencemaran.
Penanaman tanaman produksi maupun non-produksi yang alelopatik terhadap gulma atau
patogen bahkan dapat dikatakan tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan dan
manusia, dan murah bagi petani sehingga petani tidak perlu menambahkan input dari luar.

Pemanfaatan tanaman non-produksi alelopatik melalui rotasi tanam, cover crop, dan
tanaman sela dapat berperan ganda. Selain untuk mengendalikan gulma atau patogen, teknik ini
dapat mengoptimalkan ketersediaan unsur hara, karena kedua jenis tanaman tersebut biasanya
dipilih yang mempunyai kedalaman akar dan kebutuhan hara yang berbeda, sehingga masingmasing mendapatkan hara dalam jumlah cukup dan tidak terjadi eksploitasi unsur hara.
Pemanfaatan sisa organ tanaman tersebut sebagai mulsa juga dapat berperan ganda, yaitu
meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari dengan pengelolaan iklim mikro,
pengelolaan air dan pengendalian erosi. Dengan menutup permukaan tanah maka radiasi
matahari tidak langsung mengenai tanah sehingga menurunkan suhu tanah, mengurangi
evaporasi (penguapan air tanah) dan akibatnya ketersedian air tanah tetap memadai. Mulsa yang
berasal dari bahan tanaman juga dapat mencegah erosi, karena humus yang berasal dari mulsa
merupakan bahan organik yang memiliki retensi air yang cukup tinggi sehingga air terserap ke
dalam tanah dan tidak dapat menghanyutkan permukaan tanah.
Reference:
Caamal-Maldonado, J.A., Jimenez-Osornio, J.J., Torres-Barrag, A. & Anaya, A.L. 2001. The use
of allelopathic legume cover and mulch species for weed control in cropping systems.
Agron. J. 93: 27-36.
Einhellig, F.A. 1996. Interactions involving allelopathy in cropping systems. Agron. J. 88: 886893.
Odum, H. T. 1971. Fundamentals of Ecology. Philadelphia: W. B. Saunders.
Rice,

E.

L.

(1984).

Allelopathy,

Second

Edition

edition.

Academic

Press,

Inc., Orlando.
Rick J. Willis (2007). The History of Allelopathy. Springer. ISBN 978-1-4020-4092-4.Page.1-8
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.
JICA. Malang.
Weston,

L.

A.

(1996a).

Utilization

of

Allelopathy

Management in Agroecosystems. Agronomy Journal 88, 860-866.

For

Weed