Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan selama 3 hari pada
pasien bayi ny. A dengan bayi baru lahir normal, penulis akan membahas
kesenjangan yang terjadi antara tinjauan teoritis dengan kasus meliputi
pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan catatan perkembangan.
Dalam pembahasan ini penulis menguraikan kesenjangan yang terajadi
antara teori dan praktek keperawatan yang telah penulis laksanakan pada pasien
bayi ny. A dengan bayi baru lahir normal . Adapaun kesenjangan yang penulis
temukan antara lain:
1. Pengkajian
Pengkajian adalah penilaian dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk

mengumpulkan

mengindentifikasi

informasi

mengenai

atau

data

masalah-masalah

tentang

pasien,

keperawatan

agar

pasien

dapat
secara

menyeluruh meliputi aspek; biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual.


Dari hasil anamnesa didapatkan bahwa klien ke rumah sakit bersama
keluarganya datang dengan keluhan ada benjolan di lipatan paha sebelah kanan,
benjolan yang dirasakan nyeri apabila ditekan, nyeri yang dirasakan seperti
ditusuk-tusuk, benjolan timbul apabila klien mengejan karena tertekan kebawah,
benjolan hilang jika klien beristirahat. Setelah dikaji post operasi klien mengeluh
nyeri pada lipatan paha karena luka operasi,nyeri timbul bila klien bergerak dan
aktivitas, nyeri dirasakan dilipatan paha denga skala 4 (0-10) dan nyeri dirasakan
tidak menentu waktunya. Setelah dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital: TD:
110/ 70 mmHg, RR: 20x/ menit, N: 80 x/menit, S: 360C.
2. Diagnosa Keperawatan
Masalah yang ada pada tinjauan kasus yang penulis lakukan, ternyata
diagnosa keperawatan yang didapatkan pada Tn. D (52 tahun) dengan kasus Post

26

27

Operasi Hernia di Ruang Pari RSUD Palabuhanratu Sukabumi yaitu ada tiga
diagnosa antara lain:
a. Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi atau insisi
bedah.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pasca operasi.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasif, insisi
bedah.

3. Perencanaan
Setelah diagnosa didapatkan kemudian penulis mulai untuk melakukan
rencana keperawatan. Rencana di tulis sesuai dengan rencana yang ada pada teori
dan dimodifikasi pada beberapa rencana tindakan di sesuaikan dengan kondisi
pasien. Adapun rencana yang dilakukan antara lain:
a. Nyeri akut b.d adanya luka operasi atau insisi bedah, tindakannya yaitu
penulis melakukan: observasi TTV yaitu tekanan darah, nadi, suhu dan
respirasi. Anjurkan klien untuk melakukan tindakan relaksasi nafas dalam.
b. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri luka operasi, tindakannya yaitu penulis
melakukan : berikan tindakan pengamanan
4. Pelaksanaan
Adapun pelaksanaan yang dilakukan penulis adalah mengobservasi
keadaan umum, mengobservasi tanda-tanda vital, memberikan anjuran terapi
relaksasi nafas dalam, memfasilitasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan
perasaannya, membina hubungan baik dengan keluarga klien.
5. Evaluasi
Evaluasi yang dinilai berdasarkan perkembangan yang terjadi pada pasien
setelah dilakukan tindakan yang mengacu pada tujuan dan kriteria hasil yang telah
ditentukan. Evaluasi studi kasus ada dua macam:
a. Evaluasi formatif : yang dilakukan setelah tindakan keperawatan yang
berupa respon hasil.
b. Evaluasi sumatif : berupa SOAP, sehingga dapat diketahui dengan masalah
yeng belum teratasi.

28

Setelah dilakukan tidakan keperawatan maka didapatkan hasil evaluasi


yaitu:
1) Evaluasi Formatif
Setelah dilakukannya tindakan keperawatan mengobservasi keadaan umum,
mengobservasi tanda-tanda vital, memberikan terapi untuk menurunkan
persepsi nyeri pasien diharapkan keadaan umum klien baik, tidak tedapat
tanda-tanda

peningkatan

infeksi.

Setelah

dilakukannya

tindakan

keperawatan pemberian nutrisi yang adekuat diharapkan status nutrisi klien


baik, nafsu makan klien bertambah,
2) Evaluasi Sumatif
Evaluasi ini berupa SOAP, sehingga dapat diketahui dengan masalah yang
belum teratasi. Pada evaluasi tahap ini, penulis belummelakukan evaluasi
dikarenakan pasien kelolaan pulang.

29

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada Tn. D (52
tahun) di Ruang Pari RSUD Palabuhanratu Sukabumi dengan indikasi post
operasi hernia inguinal lateral dextra selama 1 (satu) hari yang dilakukan
dengan secara komprehensif dengan proses keperawatan sebagai berikut:
1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian penulis perlu membina hubungan
saling percaya atau diperlukannya pendekatan pada pasien dan keluarga
pasien sehingga pasien dan keluarganya dapat menerima dan terbuka,
sehingga tidak adanya hambatan atau kesulitan pada tahap pengumpulan
data dan pemeriksaan fisik, data didapatkan dari hasil anamnesa (auto dan
allo anamnesa), catatan medis, dan catatan perawat.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang didapatkan dalam tinjauan kasus dan diagnosa
dalam teoritis tidak semua terdapat pada tinjauan kasus karena diagnosa
yang ditemukan dalam pasien harus sesuai dengan respon pasien pada saat
pengkajian. Diagnosa yang terdapat pada tinjauan kasus adalah:
a. Nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi atau insisi bedah.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pasca operasi.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasif, insisi bedah.
3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan dan tindakan keperawatan harus dibuat
berdasarkan diagnosa yang muncul sehingga sesuai dengan kebutuhan
pasien, namun dari diagnosa yang penulis dapatkan tidak semua intervensi
sesuai dengan rencana yang ada di teori, pada beberapa rencana tindakan
disesuaikan dengan kondisi pasien, dan adanya keterbatasan waktu penulis
sehingga penulis bekerja sama dengan perawat ruangan, seperti observasi
tanda-tanda vital, observasi keadaan umum.
4. Pelaksanaan

30

Pada tahap pelaksanaan asuhan keperawatan harus sesuai dengan


rencana tindakan yang telah ditetapkan. Agar tahap pelaksanaan dapat
berjalan dengan baik karena dibantu dengan keluarega pasien dan
perawat ruangan.
Secara kenyataan yang ada dalam kasus ini, masalah tidak sama
persis karena manusia satu dengan yang lainnya berbeda dan penulis tidak
mengangkat diagnosa secara keseluruhan diagnosa yang ada pada tinjauan
teori karena data yang kurang mendukung pada masing-masimg diagnosa
tersebut.
5. Evaluasi
Pada tahap evaluasi dapat melakukan penilaian proses keperawatan
dan dapat mengetahui hasil yang telah dicapai pada Tn. D (52 tahun)
keadaan umum baik, sesekali terlihat dapat mobilisasi secara mandiri,
sudah bisa BAK spontan, terlihat lebih banyak berdoa meskipun
pengetahuannya masih terbatas.
6. Dokumentasi
Dokumentasi memberikan catatan tentang penggunaan proses
keperawatan untuk memberikan peerawatan pasien secara individual
pengkajian awal diacatat dalam riwayat atau dasar data pasien. Diagnosa
dari masalah atau kebutuhan pasien dan perencanaan asuhan pasien dicatat
pada rencana keperawatan, implementasi dari perencanaan dicatat dalam
catatan perkembangan pasien. Evaluasi asuhan diacatat dalam catatan
rencana perawatan.
Dokumentasi bukan hanya persyaratan untuk akreditasi tetapi juga
merupakan catatan tentang apa yang terjadi pada setiap pasien. Catatan
perkembangan harus mencatat apa yang terjadi pada setiap pasien semua
fase penyakit, pengobatan dan penyembuhan.
Mencatat informasi dan hasil pengamatan sangat penting karena akan
membantu perawat yang bertugas maupun memberi asuhan keperawatan
pada pasien yang lain dalam mempeertahankan kontinuitas asuhan yang
telah direncanakan.

31

B. Saran
Dalam meencapai tujuan penyembuhan yang optimal serta
terwujudnya asuhan keperawatan yang efektif pada setiap pasien, maka
penulis menyarankan:
1. Untuk Institusi Pendidikan
Untuk lebih meningkatkan kulaitas mutu pendidikan dalam memberikan
teori asuhan keperawatan agar mahasiswa lebih mampu dan memahami dalam
melakukan asuhan keperawtan sehingga asuhan keperawatan dapat mengatasi
permasalahan pasien secara cepat dan tepat.
2. Untuk Penulis
Dalam melakukan asuhan keperawatan ini penulis masih banyak
kekurangan sehingga diharapkan tidak terjadi dalam memberikan asuhan
keperawatan selanjutnya. Maka:
a. Dalam pengkajian dengan menggunakan tekhnik komunikasi terapeutik
dapat membina hubungan saling percaya sehingga pengkajian dapat
mudah dilakukan.
b. Dalam menentukan diagnosa keperawatan yang utama hendaknya
disusun sesuai prioritas keperawatan yang mencakup PES (problem,
etiologi, sign atau symptom).
c. Dalam pembuatan perencanaan keperawatan harus disesuaikan dengan
masalah dan kebutuhan pasien serta diberikan cara pencegahan,
pengobatan, dan dilakukan rehabilitasi.
d. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, lakukan disesuaikan dengan
kebutuhan dasar menurut teori Maslow.
e. Evaluasi sebaiknya dilakukan setiap

hari

untuk

mengetahui

perkembangan pasien dan apakah masalah dapat teratasi atau tidak.


f. Pendokumentasian harus dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang diberikan.
g. Dalam peningkatan keperawatan ini pasien dibekali dengan perawatan
secara mandiri agar pasien dapat melakukan perwatan di rumah secara
mandiri.
3. Untuk Rumah Sakit

32

Lebih memberikan bimbingan belajar kepada mahasiswa yang


sedang praktek dilapangan.