Anda di halaman 1dari 29

INTUBASI, EKSTUBASI, CARA MENCUCI TANGAN STERIL DAN

MENCUCI DAN MENSTERILKAN INSTRUMEN

Ditunjukan untuk memenuhi salah satu tugas keperawatan medikal bedah II

IRMA SURYANI
4115006

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI BANDUNG
2015
A. Intubasi
Intubasi adalah memasukan pipa ke dalam rongga tubuh melalui mulut
atau hidung. Intubasi terbagi menjadi 2 yaitu intubasi orotrakeal (endotrakeal) dan
intubasi nasotrakeal. Intubasi endotrakeal adalah tindakan memasukkan pipa
trakea ke dalam trakea melalui rima glottidis dengan mengembangkan cuff,
sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan trakea antara pita suara
dan bifurkasio trakea. Intubasi nasotrakeal yaitu tindakan memasukan pipa nasal
melalui nasal dan nasopharing ke dalam oropharing sebelum laryngoscopy.
B. Tujuan Intubasi
Intubasi adalah memasukkan suatu lubang atau pipa melalui mulut atau
melalui hidung, dengan sasaran jalan nafas bagian atas atau trachea. Tujuan
dilakukannya intubasi yaitu sebagai berikut :
a. Mempermudah pemberian anesthesia.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan
kelancaran pernapasan.
c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi lambung (pada keadaan tidak
sadar, lambung penuh dan tidak ada reflex batuk).
d. Mempermudah pengisapan sekret trakeobronkial.
e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut.
C. Indikasi dan kontraindikasi Intubasi
Indikasi intubasi endotrakeal yaitu mengontrol jalan napas, menyediakan
saluran udara yang bebas hambatan untuk ventilasi dalam jangka panjang,
meminimalkan risiko aspirasi, menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan
keadaan gawat atau pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi, ventilasi
yang tidak adekuat, ventilasi dengan thoracoabdominal pada saat pembedahan,
menjamin fleksibilitas posisi, memberikan jarak anestesi dari kepala,
memungkinkan berbagai posisi (misalnya,tengkurap, duduk, lateral, kepala ke
bawah), menjaga darah dan sekresi keluar dari trakea selama operasi saluran
napas, Perawatan kritis : mempertahankan saluran napas yang adekuat,
melindungi terhadap aspirasi paru, kebutuhan untuk mengontrol dan
mengeluarkan sekret pulmonal. Kontraindikasi intubasi endotrakeal adalah :
trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical,
sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi. Intubasi nasotrakeal dapat
dilakukan pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi maupun tindakan
intraoral. Dibandingkan dengan pipa orotrakeal, diameter maksimal dari pipa yang
digunakan pada intubasi nasotrakeal biasanya lebih kecil oleh karenanya tahanan
jalan napas menjadi cenderung meningkat. Intubasi nasotrakeal pada saat ini
sudah jarang dilakukan untuk intubasi jangka panjang karena peningkatan tahanan
jalan napas serta risiko terjadinya sinusitis. Teknik ini bermanfaat apabila urgensi
pengelolaan airway tidak memungkinkan foto servikal. Intubasi nasotrakeal secara
membuta (blind nasotrakeal intubation) memerlukan penderita yang masih
bernafas spontan.
Prosedur ini merupakan kontraindikasi untuk penderita yang apnea. Makin
dalam penderita bernafas, makin mudah mengikuti aliran udara sampai ke dalam
laring. Kontraindikasi lain dari pemasangan pipa nasotrakeal antara lain fraktur
basis cranii, khususnya pada tulang ethmoid, epistaksis, polip nasal, koagulopati,
dan trombolisis. Indikasi intubasi fiber optik yaitu kesulitan intubasi (riwayat sulit
dilakukan intubasi, adanya bukti pemeriksaan fisik sulit untuk dilakukan intubasi),
diduga adanya kelainan pada saluran napas atas, trakea stenosis dan kompresi,
menghindari ekstensi leher (insufisiensi arteri vertebra, leher yang tidak stabil),
resiko tinggi kerusakan gigi (gigi goyang atau gigi rapuh), dan intubasi pada
keadaan sadar.
D. Kesulitan Intubasi
Sehubungan dengan manajemen saluran nafas, riwayat sebelum intubasi
seperti riwayat anestesi, alergi obat, dan penyakit lain yang dapat menghalangi
akses jalan napas. Pemeriksaan jalan napas melibatkan pemeriksaan keadaan gigi;
gigi terutama ompong, gigi seri atas dan juga gigi seri menonjol. Visualisasi dari
orofaring yang paling sering diklasifikasikan oleh sistem klasifikasi Mallampati
Modifikasi. Sistem ini didasarkan pada visualisasi orofaring. Pasien duduk
membuka mulutnya dan menjulurkan lidah.
Klasifikasi Mallampati :
Mallampati 1 : Palatum mole, uvula, dinding posterior oropharing, pilar tonsil
Mallampati 2 : Palatum mole, sebagian uvula, dinding posterior uvula
Mallampati 3 : Palatum mole, dasar uvula
Mallampati 4 : Palatum durum saja
Dalam sistem klasifikasi, Kelas I dan II saluran nafas umumnya diperkirakan
mudah intubasi, sedangkan kelas III dan IV terkadang sulit. Selain sistem
klasifikasi Mallampati, temuan fisik lainnya telah terbukti menjadi prediktor yang
baik dari kesulitan saluran nafas. Wilson dkk
menggunakan analisis diskriminan linier, dimasukkan lima variable : Berat badan,
kepala dan gerakan leher, gerakan rahang, sudut mandibula, dan gigi ke dalam
sistem penilaian yang diperkirakan 75% dari intubasi sulit pada kriteria risiko = 2.
11 Faktor lain yang digunakan untuk memprediksi kesulitan intubasi meliputi :
a. Lidah besar
b. Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
c. Mandibula menonjol
d. Maksila atau gigi depan menonjol
e. Mobilitas leher terbatas
f. Pertumbuhan gigi tidak lengkap
g. Langit-langit mulut sempit
h. Pembukaan mulut kecil
i. Anafilaksis saluran napas
j. Arthritis dan ankilosis cervical.
k. Sindrom kongenital (Klippel-Feil (leher pendek, leher menyatu), Pierre
Robin (micrognathia, belahanlangit-langit, glossoptosis), Treacher Collins
(mandibulofacialdysostosis).
l. Endokrinopati (Kegemukan, Acromegali, Hipotiroid
macroglossia,Gondok) Infeksi (Ludwig angina (abses pada dasar mulut),
peritonsillar abses, retropharyngeal abses,epiglottitis).
m. Massa pada mediastinum.
n. Myopati menunjukkan myotoniaatau trismus.
o. Jaringan parut luka bakar atau radiasi.
p. Trauma dan hematoma.
q. Tumor dan kista.
r. Benda asing pada jalan napas.
s. Kebocoran di sekitar masker wajah (edentulous, hidung datar, besar wajah
dan kepala, Kumis, jenggot.
t. Nasogastrik tube.
u. Kurangnya keterampilan, pengalaman, atau terburu-buru.

Gambar Kesulitan Intubasi Trakea

Kelas 1: sebagian besar glotis terlihat, kelas 2 : hanya ekstremitas posterior glotis
dan epiglotis tampak; kelas 3: tidak ada bagian dari glottis terlihat, hanya epiglotis
terlihat; Kelas 4: tidak bahkan epiglotis terlihat. Kelas 1 dan 2 dianggap sebagai
'mudah' dan kelas 3 dan 4 sebagai 'sulit'.
E. Persiapan intubasi
Persiapan untuk intubasi termasuk mempersiapkan alatalat dan
memposisikan pasien.ETT sebaiknya dipilih yang sesuai. Pengisian cuff ETT
sebaiknya di tes terlebih dahulu dengan spuit 10 milliliter. Jika menggunakan
stylet sebaiknya dimasukkan ke ETT.Berhasilnya intubasi sangat tergantung dari
posisi pasien, kepala pasien harus sejajar dengan pinggang anestesiologis atau
lebih tinggi untuk mencegah ketegangan pinggang selama laringoskopi. Persiapan
untuk induksi dan intubasi juga melibatkan preoksigenasi rutin.Preoksigenasi
dengan nafas yang dalam dengan oksigen 100 %. Persiapan alat untuk intubasi
antara lain :
STATICS
1. Scope
Yang dimaksud scope di sini adalah stetoskop dan laringoskop. Stestoskop
untuk mendengarkan suara paru dan jantung serta laringoskop untuk melihat
laring secara langsung sehingga bisa memasukkan pipa trake dengan baik dan
benar. Secara garis besar, dikenal dua macam laringoskop:
a. Bilah/daun/blade lurus (Miller, Magill) untuk bayi-anak-dewasa.
b. Bilah lengkung (Macintosh) untuk anak besar-dewasa.
Pilih bilah sesuai dengan usia pasien. Yang perlu diperhatikan lagi adalah lampu
pada laringoskop harus cukup terang sehingga laring jelas terlihat.
Gambar Laringoscope
2. Tube
Yang dimaksud tubes adalah pipa trakea. Pada tindakan anestesia, pipa
trakea mengantar gas anestetik langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari
bahan standar polivinil klorida. Ukuran diameter pipa trakea dalam ukuran
milimeter. Bentuk penampang pipa trakea untuk bayi, anak kecil, dan dewasa
berbeda. Untuk bayi dan anak kecil di bawah usia lima tahun, bentuk penampang
melintang trakea hampir bulat, sedangkan untuk dewasa seperti huruf D. Oleh
karena itu pada bayi dan anak di bawah lima tahun tidak menggunakan kaf (cuff)
sedangkan untuk anak besar-dewasa menggunakan kaf supaya tidak bocor. Alasan
lain adalah penggunaan kaf pada bayi-anak kecil dapat membuat trauma selaput
lendir trakea dan postintubation croup. Pipa trakea dapat dimasukkan melalui
mulut (orotracheal tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube). Nasotracheal
tube umumnya digunakan bila penggunaan orotracheal tube tidak
memungkinkan, mislanya karena terbatasnya pembukaan mulut atau dapat
menghalangi akses bedah. Namun penggunaan nasotracheal tube
dikontraindikasikan pada pasien dengan farktur basis kranii.
3. Airway
Airway yang dimaksud adalah alat untuk menjaga terbukanya jalan napas
yaitu pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring
(naso-tracheal airway). Pipa ini berfungsi untuk menahan lidah saat pasien tidak
sadar agar lidah tidak menyumbat jalan napas.

4. Tape
Tape yang dimaksud adalah plester untuk fiksasi pipa supaya tidak
terdorong atau tercabut.
5. Introducer
Introducer yang dimaksud adalah mandrin atau stilet dari kawat yang dibungkus
plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea
mudah dimasukkan.
6. Connector
Connector yang dimaksud adalah penyambung antara pipa dengan bag
valve mask ataupun peralatan anesthesia.
7. Suction
Suction yang dimaksud adalah penyedot lender, ludah dan cairan lainnya.

Gambar Alat-alat Intubasi Endotrakeal


Sumber : Longnecker et al., 2008
INTUBASI ENDOTRAKEA

PROSEDUR TETAP

PENGERTIAN Intubasi endotrakea adalah tindakan memasukkan


pipa endotrakea kedalam trakea melalui mulut atau
hidung.

TUJUAN 1. Mempertahankan jalan nafas (atas) secara


adekuat
2. Sarana memudahkan pengisapan / suction
secret jalan nafas
3. Sarana terapi dengan ventilator dan terapi
inhalasi

KEBIJAKAN Indikasi intubasi endotrakea:


1. Pasien tidak sadar atau sadar dengan
obstruksi jalan nafas atas sehingga
mengganggu oksigenasi dan ventilasi dan
tidak beresponse dengan cara pembebasan
nafas degan pipa orofaring atau nasofaring.
2. Pasien tidak sadar atau sadar dengan retensi
secret jalan nafas, dengan / tanpa reflex
batuk adekuat yang memerlukan pengisapan
berulang ulang.
3. Pasien henti jantung, bila ventilasi dengan
bag-mask tidak adekuat.
4. Pasien memerlukan batuan mekanik
(ventilator).
5. Bila tindakan intubasi cara konvensional
gagal dapat diupayakan intubasi endotrakeal
cara lain atau upaya pembebasan jalan nafas
yang lain.
6. Tindakan intubasi endotrakeal dilakukan
oleh dokter yang kompeten atau dokter
dalam pelatihan dengan supervise atau
perawat / calon dokter dalam pengajaran.
PROSEDUR 1. Persiapan alat yang diperlukan :
a. Laringoskop dengan handle dan
bilah/blade yang sesuai, lampu nyala
terang
b. Pipa orofaring ukuran sesuai (3,4,5)
c. Resuscitator-bag dengan sungkup muka,
selang oksigen
d. Pipa endotrakea (ETT) dengan berbagai
ukuran. Pilih ukuran yang sesuai pada
dewasa (7.0,7.5,8.0,8.5,) kecuali ada
masalah ukuran diameter jalan nafas.
Jenis ETT kink atai non-kink, jenis cuff
low-pressure high-volume untuk
pemakaian ETT jangka lama. Adaptor
atau konektor ETT
e. Stilet atau indroducer atau mandarin
f. Jelly
g. Magil forcep
h. Stetoskop
i. Spuit 20cc atau 10 cc
j. Plester dan gunting
k. Mesin suction dan catheter suction ( yang
sesuai)
2. Teknik intubasi :
a. Bila pasien sadar berikan obat obatan
sedative, analgetik dan bila perlu
b. Relaksan
c. Posisikan pasien horizontal. Lakukan
oksigenasi dengan ventilasi bantu atau
kendali menggunakan bag-mask sambil
melakukan penekanan krikoid (maneuver
Sellick) selama 30-60 detik
d. Letakkan bantal setinggi kira kira 10
cm di oksiput dan kepala tetap ekstensi
e. Bila perlu lakukan pengisapan secret
pada mulut dan laring
f. Buka mulut sedemikian rupa, sehingga
dengan tangan kiri memegang
laringoskopon memasukkan blade ke
dalam mulut melalui sudut mulut kanan,
menelusuri rongga mulut sebelah kanan
sambil menyisihkan lidah kekiri.
Masukkan blade sampai mencapai dasar
lidah, awasi agar lidah atau bibir tidak
terjepit diantara blade dan gigi pasien
g. Angkat larigoskop ke-atas dan tarik
kearah depan dengan kemiringan 30-400
hindati penggunaan gigi sebagai titik
tumpuan blade
h. Bila laring terpapar maka akan tampak
pita suara kiri-kanan,masukkan ETT
melewati celah diantara dua pita suara,
sampai bagian proksimal cuff ETT
melewati pita suara sepanjang kira kira
2 cm atau kedalam posisi ETT pada
orang dewasa dapat dilihat pada angka
19-23 disudut mulut
i. Mulai laringoskopi sampai ETT masuk,
normal perlu waktu 45 detik
j. Lakukan ventilasi dengan bagging dan
auskultasi lambung, paru kanan, paru
kiri, awasi pengebangan dinding dada
k. Bila terdengar suara dinding pada
lambung, dada tidak mengembang, cabut
ETT, lakukan langkah ulang mulai
oksigenisasi dengan oksigen 100% 30-60
detik, dan mulai lagi laringoskopi dst
l. Bila suara nafas paru kiri dan kanan
sama, kembangkan cuff, sampai tidak
ada suara kebocoran udara di mulut saat
di bagging
m. Lakukan fiksasi ETT dengan plester atau
cara lain agar ETT tidak terdorong ke
dalam atau tertarik/tercabut keluar
n. Lakukan ventilasi dengan bagging
sampai nafas kembali adekuat atau
ventilator telah siap ambil alih

UNIT TERKAIT Kamar bdah, Ruang perawatan, HCU, ruang


resusitasi IGD

DOKUMEN TERKAIT SOP pelayanan dan prosedur medic ICU


F. Ekstubasi Perioperatif
Setelah operasi berakhir, pasien memasuki prosedur pemulihan yaitu
pengembalian fungsi respirasi pasien dari nafas kendali menjadi nafas spontan.
Sesaat setelah obat bius dihentikan segeralah berikan oksigen 100% disertai
penilaian apakan pemulihan nafas spontan telah terjadi dan apakah ada hambatan
nafas yang mungkin menjadi komplikasi. Bila dijumpai hambatan nafas,
tentukaan apakah hambatan pada central atau perifer. Teknik ekstubasi pasien
dengan membuat pasien sadar betul atau pilihan lainnya pasien tidak sadar (tidur
dalam), jangan lakukan dalam keadaan setengah sadar ditakutkan adanya vagal
refleks. Bila ekstubasi pasien sadar, segera hentikan obat-obat anastesi hipnotik
maka pasien berangsu-angsur akan sadar. Evaluasi tanda-tanda kesadaran pasien
mulai dari gerakan motorik otot-otot tangan, gerak dinding dada, bahkan sampai
kemampuan membuka mata spontan. Yakinkan pasien sudah bernafas spontan
dengan jalan nafas yang lapang dan saat inspirasi maksimal. Pada ekstubasi pasien
tidak sadar diperlukan dosis pelumpuh otot dalam jumlah yang cukup banyak, dan
setelahnya pasien menggunakan alat untuk memastikan jalan nafas tetap lapang
berupa pipa orofaring atau nasofaring dan disertai pula dengan triple airway
manuver standar.
Syarat-syarat ekstubasi :
1. Vital capacity 6 8 ml/kg BB.
2. Tekanan inspirasi diatas 20 cm H2O.
3. PaO2 diatas 80 mm Hg.
4. Kardiovaskuler dan metabolic stabil.
5. Tidak ada efek sisa dari obat pelemas otot.
6. Reflek jalan napas sudah kembali dan penderita sudah sadar penuh.
SOP EKSTUBASI

EKSTUBASI

PROSEDUR TETAP

PENGERTIAN Ekstubasi adalah tindakan pencabutan pipa


endoktrakea. Ekstubasi dilakukan pada saat yang
tepat bagi pasien untuk menghindari terjadinya
reintubasi dan komplikasi lain.

TUJUAN 1. Minimalisasi komplikasi yang mungkin


timbul.
2. Pemantauan dini komplikasi dan
penatalaksanaan segera dari komplikasi
yang timbul.
3. Keamanan dan kenyamanan pasien
terjamin selama pelaksanaan prosedur.

KEBIJAKAN 1. Tindakan ekstubasi membutuhkan tenaga


terlatih, asisten, obat obatan dan
monitoring yang sama dengan standard
intubasi endotrakea terdahulu.
2. Sebaiknya dilakukan pada pagi atau siang
hari.
3. Keputusan ekstubasi dilakukan oleh
konsultan ICU atau residen ICU yang
telah dinyatakan mampu untuk mengambil
keputusan tersebut.
4. Kriteria ekstubasi :
a. Kesadaran yang adekuat untuk
mempertahankan reflex protektif jalan
nafas dan refleks batuk untuk
mempertahankan jalan nafas .
b. Cadangan paru yang adekuat :
Laju paru < 30 kali / menit
FVC > 15 ml/kg
PaO2 / FiO2 > 200
c. Pada pasien pasca pembedahan jalan
nafas atas atau edema jalan nafas atas,
edema jalan nafas telah minimal atau
ditandai dengan adanya kebocoran
udara yang adekuat setelah cuff pipa
endotrakea dikosongkan.
d. Pasien bedah plastic atau THT bila
memungkinkan dibicarakan terlebih
dahulu dengan dokter bedah plastic
atau THT sebelum ekstubasi. Pasien
dengan intermaxillary fixation yang
masih terpasang membutuhkan dokter
Bedah Plastik dan pemotong kawat
bila akan diekstubasi.
e. Pasien pasien khusus seperti pasien
PPOK, pasien dengan kesadaran yang
tidak baik, membutuhkan diskusi
dengan konsultan ICU yang bertugas
untuk dilakukan ekstubasi.
5. Semua pasien pasca ekstubasi mendapat
oksigen.

PROSEDUR 1. Suctioning dan bersihkan jalan nafas


pasien
2. Pipa endotrakea dikosongkan
3. Lakukan ekstubasi
4. Suctioning dan bersihkan kembalikan
jalan nafas pasien
5. Catat pada rekam medis ICU pasien :
Keadaan pasien selama ekstubasi
Obat obatan yang diberikan
Komplikasi yang terjadi selama dan
pasca ekstubasi
6. Pemeriksaan analisa gas darah pasca
ekstubasi

UNIT TERKAIT -

DOKUMEN TERKAIT Rekam medis ICU


Daftar pustaka
Longnecker D, Brwon D, Newman M, Zapol W. Anesthesiology. USA. The
McGraw-Hill Companies. 2008.
Dorland,Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29,
Jakarta:EGC,1765.
Pasca Anestesia, dalam Petunjuk Praktis Anestesiologi, Edisi kedua, BagianA
nestesiologi dan Terapi Intensif, FKUI, Jakarta, 2002, Hal :253-256.
Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, Airway Management. In : Morgan GE,
Mikhail MS, Murray MJ, editors. Clinical Anesthesiology 4th ed. USA, McGr aw
Hill Companies, Inc.2006, p. 9806.
1. Cuci Tangan
1.1. Definisi cuci tangan
Menurut Tim Depkes (1987) mencuci tangan adalah membersihkan tangan
dari segala kotoran, dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara
tertentu sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu menurut Perry & Potter (2005),
mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan
dan pengontrolan infeksi. Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu
secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air
(Tietjen, et.al., 2004). Sedangkan menurut Purohito (1995) mencuci tangan
merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan
keperawatan misalnya: memasang infus, mengambil spesimen. Infeksi yang di
akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas
pelayanan kesehatan.Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau
terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit
(Perry & Potter, 2000).
Mencuci tangan adalah membasahi tangan dengan air mengalir untuk
menghindari penyakit, agar kuman yang menempel pada tangan benar-benar
hilang. Mencuci tangan juga mengurangi pemindahan mikroba ke pasien dan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang berada pada kuku, tangan , dan
lengan (Schaffer, et.al., 2000). Cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan
benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai
sarung tangan atau alat pelindung lain. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan
atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran
penyakit dapat di kurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi.Tangan harus di cuci
sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.Cuci tangan tidak dapat digantikan
oleh pemakaian sarung tangan.
1.2. Tujuan cuci tangan
Menurut Susiati (2008), tujuan dilakukannya cuci tangan yaitu untuk
Mengangkat mikroorganisme yang ada di tangan, Mencegah infeksi silang (cross
infection), Menjaga kondisi steril, Melindungi diri dan pasien dari infeksi,
Memberikan perasaan segar dan bersih.
1.3. Indikasi cuci tangan
Indikasi untuk mencuci tangan menurut Depkes RI. (1993) adalah :
Sebelum melakukan prosedur invasif misalnya : menyuntik, pemasangan kateter
dan pemasangan alat bantu pernafasan, Sebelum melakukan asuhan keperawatan
langsung, Sebelum dan sesudah merawat setiap jenis luka Setelah tindakan
tertentu, tangan diduga tercemar dengan mikroorganisme khususnya pada
tindakan yang memungkinkan kontak dengan darah, selaput lendir, cairan tubuh,
sekresi atau ekresi, Setelah menyentuh benda yang kemungkinan terkontaminasi
dengan mikroorganisme virulen atau secara epidemiologis merupakan
mikroorganisme penting. Benda ini termasuk pengukur urin atau alat penampung
sekresi Setelah melakukan asuhan keperawatan langsung pada pasien yang
terinfeksi atau kemungkinan kolonisasi mikroorganisme yang bermakna secara
klinis atau epidemiologis Setiap kontak dengan pasien-pasien di unit resiko tinggi
Setelah melakukan asuhan langsung maupun tidak langsung pada pasien yang
tidak infeksius.
1.4. Keuntungan mencuci tangan
Menurut Puruhito (1995), cuci tangan akan memberikan keuntungan
Dapat mengurangi infeksi nosocomial, Jumlah kuman yang terbasmi lebih banyak
sehingga tangan lebih bersih dibandingkan dengan tidak mencuci tangan Dari segi
praktis, ternyata lebih murah dari pada tidak mencuci tangan sehingga tidak dapat
menyebabkan infeksi nosokomial.
1.5. Macam- macam cuci tangan dan cara cuci tangan
Cuci tangan dalam bidang medis dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu
cuci tangan medical (medical hand washing), cuci tangan surgical (surgical hand
washing) dan cuci tangan operasi (operating theatre hand washing). Adapun cara
untuk melakukan cuci tangan tersebut dapat dibedakan berbagai cara :
a. Tehnik mencuci tangan biasa
Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan sabun
dan air bersih yang mengalir atau yang disiramkan, biasanya digunakan
sebelum dan sesudah melakukan tindakan yang tidak mempunyai resiko
penularan penyakit. Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan
biasa adalah setiap wastafel dilengkapi dengan peralatan cuci tangan
sesuai standar rumah sakit (misalnya kran air bertangkai panjang untuk
mengalirkan air bersih, tempat sampah injak tertutup yang dilapisi kantung
sampah medis atau kantung plastik berwarna kuning untuk sampah yang
terkontaminasi atau terinfeksi), alat pengering seperti tisu, lap tangan
(hand towel), sarung tangan (gloves), sabun cair atau cairan pembersih
tangan yang berfungsi sebagai antiseptik, lotion tangan, serta di bawah
wastefel terdapat alas kaki dari bahan handuk.
1) Prosedur kerja cara mencuci tangan biasa adalah:
o Melepaskan semua benda yang melekat pada daerah tangan, seperti
cincin atau jam tangan.

o Mengatur posisi berdiri terhadap kran air agar memperoleh posisi


yang nyaman.

o Membuka kran air dengan mengatur temperatur airnya.

o Menuangkan sabun cair ke telapak tangan.

o Melakukan gerakan tangan, dimulai dari meratakan sabun dengan


kedua telapak tangan, kemudian kedua punggung telapak tangan
saling menumpuk, bergantian, untuk membersihkan sela-sela jari.

o Membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak tangan.

o Membersihkan kuku dan daerah sekitarnya dengan ibu jari secara


bergantian kemudian membersihkan ibu jari dan lengan secara
bergantian .
o Membersihkan (membilas) tangan dengan air yang mengalir
sampai bersih sehingga tidak ada cairan sabun dengan ujung
tangan menghadap ke bawah.

o Menutup kran air menggunakan siku, bukan dengan jari, karena


jari yang telah selesai kita cuci pada prinsipnya bersih.

o Pada saat meninggalkan tempat cuci tangan, tempat tersebut dalam


keadaan rapi dan bersih. Hal yang perlu diingat setelah melakukan
cuci tangan yaitu mengeringkan tangan dengan hand towel.

b. Tehnik mencuci tangan aseptik


Mencuci tangan aseptik yaitu cuci tangan yang dilakukan sebelum
tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. Mencuci
tangan dengan larutan disinfektan, khususnya bagi petugas yang
berhubungan dengan pasien yang mempunyai penyakit menular atau
sebelum melakukan tindakan bedah aseptik dengan antiseptik dan sikat
steril. Prosedur mencuci tangan aseptik sama dengan persiapan dan
prosedur pada cuci tangan higienis atau cuci tangan biasa, hanya saja
bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci
tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril.
c. Tehnik mencuci tangan steril
Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan secara steril (suci
hama), khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau operasi.
Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah
menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut,
sabun antimikrobial (non-iritasi, spektrum luas, kerja cepat), sikat scrub
bedah dengan pembersih kuku dari plastik, masker kertas dan topi atau
penutup kepala, handuk steril, pakaian di ruang scrub dan pelindung mata,
penutup sepatu.
Prosedur kerja cara mencuci tangan steril adalah sebagai berikut:
Terlebih dahulu memeriksa adanya luka terpotong atauabrasi pada
tangan dan jari, kemudian melepaskan semua perhiasanmisalnya
cincin atau jam tangan.

Menggunakan pakaian bedah sebagai proteksi perawatyaitu: penutup


sepatu, penutup kepala atau topi, masker wajah,pastikan masker
menutup hidung dan mulut anda dengan kencang.Selain itu juga
memakai pelindung mata.

Menyalakan air dengan menggunakan lutut atau controldengan kaki


dan sesuaikan air untuk suhu yang nyaman.

Membasahi tangan dan lengan bawah secara bebas,


mempertahankankan tangan atas berada setinggi siku selama seluruh
prosedur.

Menuangkan sejumlah sabun (2 sampai 5 ml) ke tangan dan


menggosok tangan serta lengan sampai dengan 5 cm di atas siku.

Membersihkan kuku di bawah air mengalir dengan tongkat oranye


atau pengikir. Membuang pengikir setelah selesai digunakan.

Membasahi sikat dan menggunakan sabun antimikrobial.

Menyikat ujung jari, tangan, dan lengan. Menyikat kuku tangan


sebanyak 15 kali gerakan. Dengan gerakan sirkular, menyikat telapak
tangan dan permukaan anterior jari 10 kali gerakan. Menyikat sisi ibu
jari 10 kali gerakan dan bagian posterior ibu jari 10 gerakan. Menyikat
samping dan belakang tiap jari 10 kali gerakan tiap area, kemudian
sikat punggung tangan sebanyak 10 kali gerakan. Seluruh penyikatan
harus selesai sedikitnya 2 sampai 3 menit (AORN, 1999 sebagaimana
dikutip oleh Perry& Potter, 2000).
kemudian bilas sikat secara seksama. Dengan tepat mengingat, bagi
lengan dalam tiga bagian. Kemudian mulai menyikat setiap
permukaan lengan bawah lebih bawah dengan gerakan sirkular selama
10 kali gerakan;

menyikat bagian tengah dan atas lengan bawah dengan cara yang
samasetelah selesai menyikat buang sikat yang telah dipakai. Dengan
tangan fleksi, mencuci keseluruhan dari ujung jari sampai siku satu
kali gerakan, biarkan air mengalir pada siku.

Mengulangi langkah 8 sampai 10 untuk lengan yang lain.

Mempertahankan lengan tetap fleksi, buang sikat kedua dan


mematikan air dengan pedal kaki. Kemudian mengeringkan dengan
handuk steril untuk satu tangan secara seksama, menggerakan dari jari
ke siku dan mengeringkan dengan gerakan melingkar.

Mengulangi metode pengeringan untuk tangan yang lain dengan


menggunakan area handuk yang lain atau handuk steril baru.

Mempertahankan tangan lebih tinggi dari siku dan jauh dari tubuh
anda. Perawat memasuki ruang operasi dan melindungi tangan dari
kontak dengan objek apa pun.
d. Kewaspadaan untuk perawat dalam melakukan cuci tangan steril
Pakaian atau seragam scub perawat harus tetap kering. Air mengalir
berdasarkan gravitasi dari ujung jari ke siku. Jadi mempertahankan tangan
tetap tinggi sehingga memungkinkan air mengalirdari area yang kurang ke
yang paling terkontaminasi. Bila perawat ingin menggunakan sarung
tangan steril di areareguler, perawat tidak perlu menyikat atau
mengeringkan tangan dengan handuk steril. Dengan penyabunan dan
penggosokan yang dilakukan duakali sesuai prosedur akan menjamin
tangan bersih. Pada situasi ini perawat dapat menggunakan handuk kertas
untuk pengeringan. Pengeringan dimulai dari area yang paling bersih ke
area yang kurang bersih. Pengeringan mencegah kulit kering dan
memudahkan penggunaan sarung tangan (perry & potter, 2005).

PROSEDUR MENCUCI TANGAN STERIL

A. PERSIAPAN ALAT & BAHAN

1. Sabun anti mikroba

2. Kertas Tisue

3. Handuk steril

4. Kikir pembersih kuku

5. Tempat handuk kotor

6. Bengkok

7. Sikat

8. Spon

Prinsip perawat cuci tangan steril sebelum asisten pembedahan di ruang


operasi

Jangan sampai mengenai pakaian yang dikenakan perawat

Saat dan setelah cuci tangan jangan sampai menyentuh benda yang
tidak steril

B. PROSEDUR KERJA
1. Lepaskan jam tangan, cincin dan lengan pakaian panjang ditarik ke atas

2. Inspeksi kuku dan permukaan kulit apakah ada luka

3. Berdiri di depan westafel jaga agar tangan dan seragam tidak menyentuh
westafel

4. Seragam yang digunakan harus tetap kering

5. Tuangkan sabun 2 - 5 cc kedalam tangan, sabun tangan lengan hingga 5


cm di atas siku

6. Bersihkan kuku bila kotor dengan kikir dan letakan pada tempat atau
bengkok

7. Basahi sikat / spon dan beri sabun kembali

8. Jumlah gerakan 20 gerakan untuk tangan, 30 gerakan untuk kuku, sikat di


pegang tegak lurus terhadap kuku

9. Sikat jari - jari termasuk sela jari, sikat telapak tangan, punggung tangan

10. Basahi sikat dan beri sabun kembali

11. Bagi tangan menjadi 3 bagian, 1/3 pergelangan tangan bawah dengan arah
memutar, lanjutkan 1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian atas. tangan dalam
posisi fleksi dengan jari - jari menghadap ke atas selama prosedur

12. Ulangi langkah ini pada yang satunya lagi (tangan kiri)

13. Dengan tangan posisi fleksi bilas dengan seksama ujung jari ke siku
tangan kiri dan ulangi pada tangan kanan

14. Matikan kran dengan siku

15. Ambil handuk steril yang ada di atas kemasan pastikan tidak ada apapun
atau benda dekat dari jangkauan anda

16. Buka handuk steril secara maksimal pagang satu bagian putar dari jari ke
siku

17. Dengan hati - hati pindahkan handuk ke lengan satunya

18. Buang handuk pada tempat yang disediakan


19. Bila akan menggunakan sarung tangan steril dapat dikeringkan hanya
dengan kertas tisu.
Metode sterilisasi
1. Sterilisasi dengan panas basah (autoklaf)
Sterilisasi dengan menggunakan uap air disertai tekanan. Autoklaf memiliki
suatu ruangan yg mampu menahan tekanan di atas 1 atm. Alat-alat atau bahan
yang akan disterilkan, dimasukkan dalam ruangan. Setelah udara dalam ruangan
ini digantikan oleh uap air, maka ruangan ini ditutup rapat sehingga tekanannya
akan meningkat, yg juga akan diikuti oleh kenaikan suhunya (Dwidjoseputro,
2005). Ada tiga waktu .
a. Sterilisasi dengan panas basah pada suhu 134-137C dengan waktu
minimum 3 menit dan tekanan 2,25 bar.
b. Sterilisasi pada suhu 126-129C selama 10 menit dan tekanan 1,50 bar.
c. Sterilisasi pada suhu 121-124C selama 15 menit dan tekanan 1,15 bar
(Lawrence dan May, 2003).
Di dalam autoklaf yg mensterilkan adalah panas basah, bukan tekanannya.
Oleh karena itu, setelah air dalam tangki mendidih dan mulai dibentuk uap air
maka uap air dialirkan ke ruang pensteril guna mendesak keluar semua udara di
dalamnya. Apabila masih ada udara yg tersisa, maka udara tersebut akan
menambah tekanan di dalam ruang pensteril yang akan mengganggu naiknya suhu
dalam ruang tersebut
2. Sterilisasi dgn panas kering
Proses sterilisasi dengan panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi
panas, dimana panas yang terbentuk akan diabsorbsi oleh permukaan luar dari alat
yang disterilkan lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu
untuk sterilisasi tercapai. Sterilisasi panas kering digunakan untuk alat-alat dan
bahan dimana steam tidak dapat berpenetrasi secara mudah dan digunakan untuk
peralatan yang terbuat dari kaca .
Siklus kerja dari mesin sterilisasi panas kering melalui empat tahapan, yaitu
a. Tahap pemanasan,
b. Periode plateu (sterilisasi),
c. Tahap equilubrum, dan tahap
d. Pendinginan chamber.
Pada tahap pemanasan udara panas dihasilkan melalui mekanisme listrik
dan sirkulasi pada chamber. Kemudian berlanjut pada tahap plateu (sterilisasi)
yang dimulai ketika sensor mendeteksi tercapainya suhu proses sterilisasi pada
chamber. Pada saat seluruh chamber memiliki suhu yang sama maka akan
berakhir fase equilubrum dan dimulai fase holding time atau sterilisasi. Tahap
akhir adalah tahap pendinginan chamber .

3. Sterilisasi dengan gas


a. Sterilisasi dengan etilen oksida
Metode sterilisasi dengan etilen oksida merupakan metode sterilisasi dengan
suhu rendah. Gas etilen oksida merupakan zat yang dapat membunuh
mikroorganisme dengan cara bereaksi dengan DNA dari mikroorganisme melalui
mekanisme alkilasi. Etilen oksida merupakan gas yang sangat eksplosif dan larut
di dalam air. Untuk menjamin sterilitas bahan-bahan diperlukan empat elemen
esensial dalam sterilisasi dengan etilen oksida. Empat elemen itu adalah
konsentrasi dari gas etilen oksida tdk kurang dari 400 mg/liter. Suhu yang
digunakan tidak kurang dari 36C pada siklus dingin dan tidak lebih dari 60C
pada siklus hangat. Kelembaban relatif yang diperlukan antara 40%-100% dan
waktu yang merupakan korelasi langsung dengan suhu dan konsentrasi gas.
Makin tinggi suhu dan konsentrasi gas makin cepat waktu yang diperlukan untuk
proses sterilisasi. Namun etilen oksida meninggalkan residu yang iritatif untuk
jaringan. Prosedurnya lambat, makan waktu dan alatnya mahal. Keuntungan
penggunaan etilen oksida adalah mudah menembus plastik dan mensterilkan isi
bungkusan-bungkusan. Alat-alat seperti alat optik, kateter, komponen-komponen
heart lung machine, arterial heart valves, bantal, kasur dan sepatu dapat
disterilkan dengan cara ini
b. Sterilisasi dengan uap formaldehid
Selain dalam bentuk cairan, formaldehid juga sangat bermanfaat dalam
bentuk gas. Larutan formaldehid 37% dalam air apabila dipanaskan akan
melepaskan uap formaldehid yang merupakan disinfektan yang sangat efektif bagi
alat-alat dan berbagai bahan yang tercemar dengan spora atau Mycobacterium
tuberculosis. Gas formaldehid dapat membunuh mikroorganisme melalui
mekanisme alkilasi. Formaldehid biasa digunakan untuk mendisinfeksi ruangan,
lemari, maupun instrumen-instrumen.
Siklus kerja mesin sterilisasi gas formaldehid ada beberapa tahap. Tahapan
itu berupa tahap pemanasan, loading atau memulai, pre-vakum, pemberian uap
awal, dan pulsing. Pada tahap pre vakum dilakukan di bawah 50 mbar, pada
proses ini akan menghilangkan udara dari chamber dan isi chamber. Sedangkan
pada tahap pulsing ada empat tahapan yaitu pemberian steam atau uap secara
kontinyu sampai suhu 73C, pompa vakum dijalankan di bawah 50 mbar,
pemaparan formaldehid sehingga diperoleh konsentrasi 15 mg/m3, serta fase
kesetimbangan gas.
4. Sterilisasi dengan plasma
Plasma secara umum didefinisikan sebagai gas yg terdiri dari elektron,
ion-ion, maupun partikel-partikel netral. Plasma buatan dpt terjadi pd suhu tinggi
maupun suhu rendah. Gas plasma suhu rendah terjadi apabila dlm keadaan deep
vacuum. Gas tertentu distimulasi dengan frekuensi radio atau energi gelombang
mikro sehingga terbentuk plasma. Plasma dari beberapa gas seperti argon,
nitrogen, dan oksigen menunjukkan aktivitas sporosidal.
Dalam pembentukan plasma yg berasal dari hidrogen peroksida, akan
mengalami dua fase yaitu fase hidrogen peroksida dan fase plasma. Pembentukan
plasma dimulai setelah prevakum chamber. Uap hidrogen peroksida yg dihasilkan
dari larutan 58% hidrogen peroksida masuk ke dlm chamber melalui mekanisme
difusi. Kemudian alat dan bahan yg akan disterilkan dipaparkan pada uap
hidrogen peroksida selama 50 menit pada konsentrasi 6 mg/liter.