Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kecamatan Lae Parira terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Dairi Nomor 33 Tahun 2001, tentang Pembentukan Kecamatan Lae Parira dan
Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal
13 Pebruari 2001. Kecamatan Lae Parira sebelumnya merupakan bagian dari
Kecamatan Silima Pungga-pungga yang kemudian dimekarkan menjadi dua (2)
kecamatan yang beribu kota di Desa Lae Parira, dimana maksud dan tujuannya
untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk percepatan
pembangunan seuai dengan semangat Otonomi Daerah (Situmorang, 2003).
Seluruh dunia Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan
sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan,
Jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras. Bahkan, di beberapa daerah
di Indonesia, jagung dijadikan bahan pangan utama. Tidak hanya sebagai bahan
pangan, jagung juga dikenal sebagai salah satu bahan pakan ternak dan industri
(Purwono dan Rudi, 2005).
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian
dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16
orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda
menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn ( Jayanto, 2009).
Pengendalian organisme pengganggu tanaman yang ramah lingkungan
akhir-akhir ini sering menjadi wacana dalam usaha tani, Hal ini sesuai dengan
kebijakan pemerintah dalam UU No. 12 tahun 1995 yang mengisyaratkan bahwa

perlindungan tanaman dilakukan sesuai dengan sistem PHT. Konsep PHT dalam
perlindungan tanaman mengandalkan berbagai cara strip sistem yang kompatibel
(tidak kaku pada satu cara) dalam tindakan pengendalian OPT. PHT merupakan
cara pengendalian hama yang ramah lingkungan (Dinas Pertanian Provsu, 2013).
SLPHT merupakan metode penyuluhan untuk mengimplementasikan PHT.
Prinsipdasar Sekolah Lapangan, adalah (1) mempunyai peserta dan pemandu
lapangan,

(2)merupakan

sekolah

di

lapangan

dan

peserta

mempraktekkan/menerapkan secaralangsung apa yang dipelajari, (3) mempunyai


kurikulum, evaluasi dan sertifikat tandalulus, dan (4) dimulai dengan pretest/ballot box, kontak belajar, pertemuan pekanan,post-test/ballot box, field
day/hari

lapangan

(penyerahan

sertifikat

kelulusan)

(Direktorat Jendral Tanaman Pangan, 2013).


Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT)
Jagung pada kecamatan Lae Parira Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara.
Kegunaan Percobaan
-

Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium


Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu, Program Studi Agroekoteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.


Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Adapun klasifikasi botani tanaman jagung (Zea mays L.) menurut Jayanto
(2009) yang menyatakan bahwa sistematika dari tanaman jagung adalah sebagai
berikut:

Kingdom:

Plantae

Divisio:

Spermatophyta

Sub

Divisio:

Angiospermae ;Class : Monocotyledone ; Ordo: Graminae ; Familia: Graminaceae


; Genus: Zea ;
Species : Zea mays L.
Daun jagung muncul dari buku-buku batang,sedangkan pelepah daun
menyelubungi ruas batang. Tepi helaian daun halus dankadang berombak. Bagian
atas epidermis umumnya berbulu dan mempunyaibarisan memanjang yang terdiri
dari sel-sel bulliform. Bagian bawah permukaandaun tidak berbulu (glabrous) dan
umumnya mengandung stomata lebih banyakdibandingkan dengan permukaan
atas (Effendi, 2006).
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a)
akarseminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar
seminaladalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan
akarseminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah
danpertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif
adalahakar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian
setakar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus keatas
antara

7-10

buku,

adventifberkembang

semuanya
menjadi

di

serabut

bawah
akar

permukaan

tebal.

Akar

tanah.

Akar

seminal

hanya

sedikitberperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam


pengambilan air dan hara (Subekti,dkk., 2008).
Batang tanaman yang kaku ini tingginya berkisar antara 1.5 m dan 2.5 m
dan terbungkus pelepah daun yang berselang seling yang berasal dari setiap buku.
Buku batang mudah terlihat. Pelepah daun terbentuk pada buku dan membungkus
rapat rapat panjang batang utama, sering melingkupi hingga buku berikutnya.
Pada lidah daun, setiap lidah daun kemudian membengkok menjauhi batang
sebagai daun yang panjang, luas dan melengkung (Harahap, 2007).
Sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah, daun jagung
mulaiterbuka. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daunyang
erat melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah bukubatang. Jumlah
daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-ratamunculnya daun yang terbuka
sempurna adalah 3-4 hari setiap daun.Tanaman jagung di daerah tropis
mempunyai jumlah daun relatif lebihbanyak dibanding di daerah beriklim sedang
(temperate).Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar,
tebal,sudut, dan warna pigmentasi daun. Lebar helai daun dikategorikan mulaidari
sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar(9,1-11 cm),
hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhitipe daun. Sudut
daun jagung juga beragam, mulai dari sangat kecil hingga sangat besar . Beberapa
genotipe jagung memiliki antocyaninpada helai daunnya, yang bisa terdapat pada
pinggir daun atau tulang daun.Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun
bervariasi, dari sangatlemah hingga sangat kuat (Subekti, dkk., 2008).
Tanaman jagungmerupakan tanaman berumah satu (monoecious) dimana
letak bunga jantanterpisah dengan bunga betina. Rangkaian bunga terdapat dalam

spikelet denganbunga jantan di ujung tanaman (apikal) dan bunga betina di ketiak
daun (aksilar).Jagung bersifat protandrus yaitu mekarnya bunga jantan (pelepasan
tepun sari)biasanya terjadi satu atau dua hari sebelum munculnya tangkai putik.
Oleh karenaitu jagung merupakan spesies yang menyerbuk silang (Effendi, 2006).
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.
tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletakpada
bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besardibanding yang
terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang
jumlahnya selalu genap. Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp
menyatu dengankulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri
atas tigabagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi
mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b)endosperm,
sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yangmengandung 90%
pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan(c) embrio (lembaga),
sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule,akar radikal, scutelum, dan
koleoptil (Surbekti, dkk., 2008).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jagung membutuhkan air sekitar 100-140mm/bulan. Oleh karena
itu waktu penanaman harusmemperhatikan curah hujan dan penyebarannya.
Penanamandimulai bila curah hujan sudah mencapai 100 mm/bulan.Untuk
mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujandan pola distribusinya
selama 10 tahun ke belakang agarwaktu tanam dapat ditentukan dengan baik dan
tepat (Murni dan Arief, 2008).

Jagung tumbuhbaik di wilayah tropis hingga 50 LU dan 50 LS, dari


dataran rendah sampaiketinggian 3.000 m di atas permukaan laut (dpl), dengan
curah hujan tinggi,sedang, hingga rendah sekitar 500 mm per tahun.Pusat
produksi

jagung

di

dunia

tersebar

di

negara

tropis

dan

subtropis

( Iriany, dkk., 2008).


Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase
pembungaandan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam
awal musim hujanatau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari,
tanaman yangternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil
biji yang tidakoptimal. Suhu optimum antara 230C - 300C (Prihatman, 2000).
Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan
curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase
pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air.
Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau.
Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman
jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan
memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34O C, akan tetapi bagi
pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27O C.
Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar
30O C. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik
daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan
pengeringan hasil (Jayanto, 2009).
Tanah

Jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapatberproduksi dengan


baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagungmembutuhkan unsur hara terutama
nitrogen (N), fosfor (P) dankalium (K) dalam jumlah yang banyak. Oleh karena
padaumumnya tanah di Lampung miskin hara dan rendah bahanorganiknya, maka
penambahan pupuk N, P dan K serta pupukorganik (kompos maupun pupuk
kandang) sangat diperlukan (Murni dan Arief, 2008).
Jagung tidak memerlukan persyaratantanah khusus, namun tanah yang
gembur, subur dan kaya humus akan berproduksioptimal. pH tanah antara 5,6-7,5.
Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanahkurang dari 8 %. Daerah
dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukanpembentukan teras
dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggianoptimum antara 50600 m dpl (Prihatman, 2010).
Jagung dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 0 1 300 m
diatas permukaan laut. Tanaman jagung akan tumbuh baikpada tanah yang subur,
drainase baik, suhu hangat 21-320 C, curah hujan meratasepanjang tahun, serta
curah hujan bulanan sekitar 100-125 mm. Tanah yang baikuntuk ta naman jagung
adalah tanah dengan pH optimum 6.0-7.0 (Effendi, 2006).
Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainasebaik,
dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembabantanah kurang dari
40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air.Pada dataran rendah,
umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi didataran tinggi di atas 1000 m dpl
berumur 4-5 bulan. Umur panen jagungsangat dipengaruhi oleh suhu, setiap
kenaikan tinggi tempat 50 m daripermukaan laut, umur panen jagung akan
mundur satu hari (Iriany, dkk., 2008).

Belalang (Locusta migratoria)


Seekor belalag betina mampu menghasilkan telur sekitar 270 butir. Telur
berwarnakeputih putihan dan berbentuk buah pisang, tersusun rapi sekitar 10 cm
dibawah permukaan tanah. Menurut BPOPT (2000), telur akan menetassetelah 17
hari, sementara menurut Farrow (1990), telur akan menetasantara 10-50 hari,
bergantung temperatur (Pabbage, dkk., 2012).
Belalang kembara pada fase gregaria aktif terbang pada siang hari
berkumpul dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang
hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahanlahan kosong,
berpasir, makan tanaman yang dihinggapi, dan kawin. Pada pagi hari, kelompok
belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang
dihinggapi pada malam hari biasanya dimakan sampai habis. Kelompok besar
nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara
berkelompok. Sepanjang perjalanannya juga memakan tanaman yang dilewati
(Pabbage, dkk., 2012).
Gejala serangan belalang tidak spesifik, bergantung pada tipe tanaman
yang diserang dan tingkat populasi. Daun biasanya bagian pertama yang diserang.
Hampir keseluruhan daun habis termasuk tulang daun, jika serangannya parah.
Spesies ini dapat pula memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya
sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas (Pabbage, dkk., 2012).
Pengendalian hama dapat dilakukan :

1. Secara hayati :

Agens hayati M. anisopliae var. acridium, B. bassiana,

Enthomophaga sp., dan Nosuma locustae di beberapa negara terbukti dapat


digunakan pada saat populasi belum meningkat.
2. Pola Tanam : diupayakan segera penanaman kembali dengan tanaman yang
tidak disukai belalang seperti, kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar,
kacang panjang, tomat, atau tanaman yang kurang disukai belalang seperti
kacang tanah, petsai, kubis, dan sawi.
3. Secara Kimiawi : dapat diaplikasikan. Penyemprotan dengan alat aplikasi
ULV lebih baik karena lebih efisien.
(Pabbage, dkk., 2012).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Kelompok
: Gabe
Desa : Lae Parira
Kecamatan
: Lae Parira
Kab. : Dairi
Provinsi
: Sumatera Utara
Minggu
: 1 (13 Mei 2013)
Petak PHT
Petak perlakuan petani
No
Hama
e/r Penyaki % Jl Hama
e/r Penyaki
.
t
h
t
1
Belalang
0
Hawar
0
Belalang
0
Hawar
Daun
Daun
2
Ulat
0
Ulat
0
Grayak
Grayak
3
Ulat
0,
Ulat Tanah 0,
Tanah
2
4
4
Ulat
0
Ulat
0
Jengkal
Jengkal
5
Penggerek 0
Pengggere 0
Batang
k Batang
6
Penggerek 0
Penggerek 0
Tongkol
Tongkol
Musuh
e/r
Musuh
e/r
Alami
Alami
1
Laba-laba 0,
Laba-laba
0,
3
2
2
Cecopet
0
Cecopet
0
3
Paedirus
0
Paedirus
0
4
Opionea
0
Opionea
0
5
Coccineli 0
Coccinelid 0
d
6
Semut
0
Semut
0
Jumlah
1
1
Anakan
Tinggi
6
6
Tanaman
cm
cm
Keadaan
Lb
lb
Lahan

% Jlh
0

Minggu
: 2 (20 Mei 2013)
Petak PHT
No
Hama
e/r Penyaki
.
t
1
Belalang
0, Hawar
2
Daun
2
Ulat
0,
Grayak
1
3
Ulat
0
Tanah
4
Ulat
0,
Jengkal
1
5
Penggerek 0
Batang
6
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
1
Laba-laba 0,
8
2
Cecopet
0,
1
3
Paedirus
0,
1
4
Opionea
0
5
Coccineli 0,
d
2
6
Semut
1,
3
Jumlah
1
Anakan
Tinggi
31
Tanaman
cm
Keadaan
Lb
Lahan

% Jl
h
0

Petak perlakuan petani


Hama
e/r Penyaki
t
Belalang
0, Hawar
1
Daun
Ulat
0,
Grayak
3
Ulat Tanah 0,
1
Ulat
0,
Jengkal
2
Pengggere 0
k Batang
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
Laba-laba
0,
5
Cecopet
0
Paedirus
Opionea
Coccinelid
Semut

0,
1
0
0,
4
0,
3
1
25
cm
lb

% Jlh
0

Minggu
: 3 (27 Mei 2013)
Petak PHT
No
Hama
e/r Penyaki
.
t
1
Belalang
0, Hawar
1
Daun
2
Ulat
0
Grayak
3
Ulat
0,
Tanah
2
4
Ulat
0,
Jengkal
1
5
Penggerek 0
Batang
6
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
1
Laba-laba 1,
2
2
Cecopet
0,
3
3
Paedirus
0,
2
4
Opionea
0
5
Coccineli 0,
d
4
6
Semut
1,
3
Jumlah
1
Anakan
Tinggi
56
Tanaman
cm
Keadaan
Lb
Lahan

% Jl
h
0

Petak perlakuan petani


Hama
e/r Penyaki
t
Belalang
0, Hawar
3
Daun
Ulat
0,
Grayak
3
Ulat Tanah 0
Ulat
Jengkal
Pengggere
k Batang
Penggerek
Tongkol
Musuh
Alami
Laba-laba

0,
1
0
0
e/r

Cecopet

0,
7
0

Paedirus

Opionea
Coccinelid

0
0,
2
1,
0
1

Semut

43
cm
Lb

% Jlh
0

Minggu
: 4 (03 Juni 2013)
Petak PHT
No
Hama
e/r Penyaki
.
t
1
Belalang
0
Hawar
Daun
2
Ulat
0
Grayak
3
Ulat
0
Tanah
4
Ulat
0,2
Jengkal
5
Penggerek 0
Batang
6
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
1
Laba-laba 1,0
2
Cecopet
0,2
3
Paedirus
0,1
4
Opionea
0
5
Coccineli 0,4
d
6
Semut
0,9
Jumlah
1
Anakan
Tinggi
10
Tanaman
8
cm
Keadaan
Lb
Lahan

% Jl
h
0

Petak perlakuan petani


Hama
e/r
Penya
kit
Belalang
0,1
Hawar
Daun
Ulat
0,1
Grayak
Ulat Tanah 0
Ulat
Jengkal
Pengggere
k Batang
Penggerek
Tongkol
Musuh
Alami
Laba-laba
Cecopet
Paedirus
Opionea
Coccinelid

0,1

Semut

1,1
1

0
0
e/r
0,5
0,1
0
0
0,3

76
cm
Ak

% Jl
h
0

Minggu
: 5 (10 Juni 2013)
Petak PHT
No
Hama
e/r Penyaki % Jl
.
t
h
1
Belalang
0, Hawar
0
1
Daun
2
Ulat
0
Grayak
3
Ulat
0
Tanah
4
Ulat
0
Jengkal
5
Penggerek 0
Batang
6
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
1
Laba-laba 1,
5
2
Cecopet
0,
2
3
Paedirus
0,
1
4
Opionea
0
5
Coccineli 0,
d
3
6
Semut
1,
1
Jumlah
1
Anakan
13
Tinggi
2
Tanaman
cm
Keadaan
Lb
Lahan

Petak perlakuan petani


Hama
e/r Penyaki
t
Belalang
0, Hawar
3
Daun
Ulat
0,
Grayak
2
Ulat Tanah 0
Ulat
Jengkal
Pengggere
k Batang
Penggerek
Tongkol
Musuh
Alami
Laba-laba

0,
2
0
0
e/r

Cecopet

0,
6
0

Paedirus

Opionea
Coccinelid

0
0,
2
1

Semut

1
10
4

cm
Lb

% Jlh
0

Minggu
: 6 (17 Juni 2013)
Petak PHT
No
Hama
e/r Penyaki % Jl
.
t
h
1
Belalang
0
Hawar
0
Daun
2
Ulat
0
Grayak
3
Ulat
0
Tanah
4
Ulat
0,
Jengkal
1
5
Penggerek 0
Batang
6
Penggerek 0
Tongkol
Musuh
e/r
Alami
1
Laba-laba 0,
5
2
Cecopet
0,
1
3
Paedirus
0,
2
4
Opionea
0,
1
5
Coccineli 0,
d
2
6
Semut
0,
8
Jumlah
1
Anakan
10
Tinggi
7
Tanaman
cm
Keadaan
Lb
Lahan

Petak perlakuan petani


Hama
e/r Penyaki
t
Belalang
0, Hawar
1
Daun
Ulat
0,
Grayak
1
Ulat Tanah 0
Ulat
Jengkal
Pengggere
k Batang
Penggerek
Tongkol
Musuh
Alami
Laba-laba
Cecopet
Paedirus
Opionea
Coccinelid
Semut

% Jlh
0

0
0
0
e/r
0,
2
0
0,
1
0
0,
1
1,
0
1
14
2

cm
lb

Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada data didapat pada
Minggu-1, hama yang paling banyak menyerang adalah hama Ulat Tanah 0,4 %.

Hal ini dapat dikendalikan dengan menanam serentak tanaman jagung. Hal ini
sesuai dengan literatur Surtikanti (2011) yang menyatakan bahwa pengendalian
ulat tanah dapat dilakukan tanam serentak, dapat pula dilakukan penggenangan.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada data didapat pada
Minggu-2, hama yang paling banyak menyerang adalah Ulat Grayak yaitu 0,3 %.
Hal ini dapat dikendalikan dengan cara kimiawi yakni aplikasi insektisida. Hal ini
sesuai dengan liiteratur Pabbage, dkk. (2012) yang menyatakan bahwa
menganjurkan aplikasi insektisida jika sudah ditemukan dua ekor larva/m2.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada data didapat pada
Minggu-3, hama yang paling banyak menyerang adalah belalang yakni 0,3 %.
Hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan aplikasi pestisida. Hal ini
sesuai dengan lteratur Pabbage, dkk. (2012) yang menyatakan bahwa pestisida
dapat diaplikasikan. Penyemprotan dengan alat aplikasi ULV lebih baik karena
lebih efisien.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada data didapat pada
Minggu-4, hama yang paling banyak menyerang adalah ulat jengkal yakni 0,1 %.
Hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida. Hal ini sesuai
dengan literatur Pabbage, dkk. (2012) yang menyatakan bahwa Insektisida yang
cukup efektif antara lain adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos,
dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada data didapat pada
Minggu-5, hama yang paling banyak menyerang adalah Belalang yakni 0,3 %.
Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi lahan. Hal ini sesuai dengan literatur
Pabbage, dkk. (2012) menyatakan bahwa pengendalian secara kultur teknis yaitu
dengan cara sanitasi lahan, membersihkan lahan dari sampah yang dapat menjadi
sarang belalang.

Dari petak perlakuan petani terlihat bahwa musuh alami yang menyerang
hama tanaman jagung (Zea mays L.) sangat banyak diantaranya yang paling
banyak dan dominan adalah laba-laba dengan populasi pada minggu ke II
sebanyak 0,8 untuk kelompok PHT dan 0.5 untuk kelompok PP. Semut populasi
sebanyak 1,3 untuk kelompok PHT sedangkan 0.7 untuk kelompok PP.

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Pertanian Provsu. 2013. Laporan Akhir Pelaksanaan SLPHT Jagung Tahun
2013. Provinsi Sumatera Utara. Medan.
Direktorat Jendral Tanaman Pangan. 2013. Kerangka Acuan Kegiatan SLPHT.
Dirjend Tanaman Pangan Kementrian Pertanian. Jakarta.
Effendi, F.B. 2006. Uji Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Hibrida Pada
Tingkat Populasi Tanaman Yang Berbeda . IPB Repository. Bogor.
Harahap,H. 2007. Pola Pertumbuhan Dan Produksi Jagung (Zea mays L.) Pada
Musim Kering Terhadap Perbedaan Waktu Tanam. USU Repository.
Medan.
Iriany, R.N., M.Yasin., dan A. Takdir. 2008. Asal, Sejarah, Dan Taksonomi
Tanaman Jagung (Zea mays L.) . Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Jayanto, A.D. 2009. Jagung (Zea mays L.). Kantor Deputi Menegristek Bidang
Pendayagunaan Dan Permasyarakatan Ilmu Pengetahuan. Jakarta.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of in Indonesia. Resived and translated by P.A. van
der Laan, University of Amsterdam. PT Ichtiar Baru, van Hoeve, Jakarta.
701 hal.
Murni, A.M dan R.W. Arief. 2008. Teknologi Budidaya Jagung (Zea mays L.).
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Pabbage, M.S., A.M.Adnan., dan N. Nonci. 2012. Pengelolaan Hama Prapanen
Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serelia. Maros.
Prihatman. 2010. Modul Budidaya Jagung (Zea mays L.). Balai Pengkajian dan
Pengembangan. Bogor.
Purwono. dan Rudi H. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Bogor.
Ruhendi, A. Iqbal, dan D. Soekarna. 1985. Hama Jagung di Indonesia. Dalam:
Hasil Penelitian Jagung, Sorgum dan Terigu 1980-1984. Risalah Rapat
Teknis Puslitbangtan Bogor, 28-29 Maret 1985. p. 99-113.
Situmorang, R. 2003. Pemerintah Kabupaten Dairi Kecamatan Lae Parira.
Kabupaten Dairi. Sidikalang.
Subekti, N.A., Syafruddin., R. Effendi., dan Sunarti. 2008. Morfologi Tanaman
Dan Fase Pertumbuhan Jagung (Zea mays L.). Balai Penelitian Tanaman
Serealia. Maros.

Suratmo, F.G. 1974. Hama Hutan di Indonesia. Proyek Peningkatan Mutu


Perguruan Tinggi. IPB Bogor.
Surtikanti. 2011. Hama dan Penyakit Penting Tanaman
Pengendalianya. Balai Penelitian Tanaman Serelia. Maros.

Jagung

dan