Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi ini masih banyak perusahaan baik sektor formal
maupun informal yang belum menempatkan ergonomi sebagai prioritas dalam
merancang lingkungan kerja. Hal ini karena ergonomi dianggap tidak penting
bahkan disangka sebagai pemborosan keuangan. Padahal sebagai sumber daya
terpenting dalam organisasi, pekerja sudah seharusnya dijamin aksesnya untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan semaksimal
mungkin sekaligus dilindungi dari pengaruh buruk yang merugikan karena
pemajanan yang bahaya potensial terhadap kesehatan di tempat kerja.
Pertumbuhan industri saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup
tinggi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Pertumbuhan industri
akan diikuti dengan bertambahnya tenaga kerja. Berdasarkan data media industri
2011, penyerapan tenaga kerja di tingkat nasional sebesar 104.555.275 pada
tahun 2009, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 108.207.767 atau terjadi
peningkatan sebesar 3,49% yang menyebar di berbagai industri di Indonesia.
Meningkatnya jumlah tenaga kerja tentunya akan menambah permasalahan
ketenagakerjaan

yang

terkait

dengan

keamanan,

kenyamanan

dan

kesehatan, sehingga tingkat kecelakaan akibat kerja cenderung tinggi. Di


Indonesia, tingkat kecelakaan kerja relatif tinggi dan mengalami kenaikan setiap
tahun. Hal ini disebabkan bertambahnya jumlah tenaga kerja dengan tidak diikuti
pengawasan yang baik, sehingga muncul persoalanpersoalan yang memicu
terjadinya kecelakaan kerja (Purnomo, 2013:1).
Berdasarkan hal tersebut, perlu dikembangkan dan ditingkatkan upaya
promosi dan preventif dalam rangka menekan serendah mungkin risiko penyakit
yang timbul akibat pekerjaan atau lingkungan kerja misalnya salah satunya yakni
membenahi dari sektor ergonomi karena tingkat keamanan, kenyamanan, dan
kesehatan pekerja harus diperhatikan untuk meningkatkan produktivitas kerja.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apakah yang dimaksud dengan Ergonomi?
b) Apa sajakah Ruang Lingkup Ergonomi?
c) Bagaimana yang dimaksud dengan pelatihan Ergonomi?
d) Apa saja Metode- Metode Ergonomi?
e) Bagaimana Aplikasi atau Penerapan Ergonomi?
f) Bagaimana yang dimaksud dengan Ergonomi Anthropometri?
g) Bagaimana yang dimaksud dengan Produtivitas Kerja?
h) Apakah yang di maksud dengan Produktivitas kerja?
i) Apa saja factor-faktor yang mempenggaruhi produktivitas kerja?
j) Bagaimna cara meningkatkan Produktivitas Kerja?
k) Bagaimana pengukuran Produktivitas Kerja?
l) Apa saja Metode Penilaian Kinerja Kerja?
1.3 Tujuan Penulisan
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Mendeskripsikan Pengertian Ergonomi.


Mendeskripsikan Ruang Lingkup Ergonomi.
Mendeskripsikan Pelatihan-Pelatihan Ergonomi.
Mendeskripsikan Metode-Metode Ergonomi.
Mendeskripsikan Aplikasi atau Penerapan Ergonomi.
Mendeskripsikan Ergonomi Anthropometri.
Mendekripsikan Produktivitas kerja.
Mendekripsikan factor-faktor yang mempenggaruhi produktivitas kerja?
Mendekripsikan cara meningkatkan Produktivitas Kerja?
Mendekripsikan pengukuran Produktivitas Kerja?
Mendekripsikan Metode Penilaian Kinerja Kerja

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata-kata dalam bahasa yunani yaitu ergos yang
berarti kerja dan nomos yaitu berarti ilmu, sehingga secara harfiah dapat
dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan
2

pekerjaannya. Sedangkan beberapa ahli mendefinisikan ergonomi sebagai


berikut (Solichin, 2014:153-156):
1. Menurut Sri Tomo W.S ergonomi merupakan disiplin ilmu yang
mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.
2. Capains mengatakan bahwa ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan
mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia,
kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk
merancang peralatan, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk
meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas
pekerjaan manusia.
3. Menurut Mc Cormicks dan Sanders membagi ergonomi ke dalam tiga
pendekatan yaitu:
a) Fokus utama

yaitu

mempertimbangkan

manusia

dalam

perancangan benda kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja.


b) Tujuan yaitu ergonomi mempunyai dua tujuan yaitu meningkatkan
efektifitas dan efisiensi pekerjaan dan aktifitas-aktifitas lainnya
serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari
pekerjaan tersebut.
c) Pendekatan utama yaitu mencakup aplikasi

sistematik dari

informasi yang relevan tentang kemampuan, keterbatasan,


karakteristik, perilaku dan motivasi manusia terhadap desain
produk dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat
menggunakannya.
Ditinjau dari fakta historis, ergonomi telah menyatu dengan manusia sejak
zaman megalitik, dalam proses perancangan dan pembuatan benda-benda
seperti alat kerja dan barang buatan sesuai dengan kebutuhan manusia pada
zamannya (Kuswana, 2014:1-2).
Jadi ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam
kaitannya dengan pekerjaan mereka. Atau bisa diartikan dengan penyesuaian
tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia yang berkaitan tentang aspekaspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi,
psikologi, enginerring, dan manajemen.

2.2 Ruang Lingkup Ergonomi


Aktifitas kerja dalam jabatan, dituntut sesuai kemampuan dan keterbatasan
yang dimiliki para pegawai. Oleh karena itu, para perancang sistem pelayanan
melakukan berbagai analisis terkait dengan jenis tugas, gerakan tubuh yang
diperlukan dan batas kemampuan menerima beban.
Ditinjau dari kepentingan praksis, manajemen sumber daya manusia di
industri adalah sebagai berikut (Kuswana, 2014):
1. Menentukan prasyarat terkait dengan kebutuhan calon tenaga kerja.
2. Upaya peningkatan kapasitas kebutuhan pekerja selaras dengan tuntutan
kompetensi kerja, melalui pendidikan dan pelatihan tertentu.
3. Upaya perbaikan kinerja sesuai dengan hasil identifikasi dan penilaian
pekerja.
4. Upaya peningkatan kesigapan dan kewaspadaan dalam melaksanakan
keselamatan dan kesehatan kerja.
5. Memelihara fisik dan mental sebagai sumber dan tujuan kesejahteraan
pekerja dalam upaya pencapaian produktivitas.

Ditinjau dari kepentingan ilmiah yang dapat memberikan kontribusi pada


praksis industri melalui penelitian adalah sebagai berikut (Kuswana, 2014):
1. Penelitian Interface
Interface (perangkat antara), yang mengidentifikasi, menganalisis, dan
mengkaji

mengenai

informasi

tentang

suatu

lingkungan

serta

mendeskripsikannya dengan simbol-simbol, tanda-tanda, lambang, dan


angka-angka, peta dan variabel (waktu dan jarak) serta konstanta lainnya
2. Kekuatan Fisik Pekerja
Penelitian tentang aktifitas pelayanan sistem kerja, melalui pengukuran
dan menganalisis gerakan fisik, beban yang diterima, dan peralatan yang
diperoleh dalam objek pekerjaan. Data yang diperoleh dijadikan bahan
perancangan peralatan kerja sesuai dengan rata-rata kemampuan fisik para
pekerja.
4

3. Dimensi dan Bentuk Tempat Kerja


Penelitian mengenai dimensi dan bentuk ruang tempat kerja, dimensi
ukuran kebutuhan para pekerja, jenis pekerjaan, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi karakteristik aktifitas kerja.
4. Lingkungan Kerja
Penelitian mengenai kondisi lingkungan tempat kerja, seperti pengaturan
pencahayaan, ventilasi udara, dan faktor yang mempengaruhi fisik pekerja
seperti kebisingan, getaran, temperatur, dan limbah cairan kimia.
Menurut Napitupulu (2009), ruang lingkup ergonomi tebagi menjadi 4,
yakni sebagai berikut:
1. Ergonomi fisik
Berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik
fisiologi dan biomekanikan yang berhubungan dengan aktifitas fisik.
2.

Ergonomi kognitif
Berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya yakni
persepsi, ingatan, dan reaksi sebagai akibat dari interaksi manusia
terhadap pemakaian elemen sistem.

3.

Ergonomi organisasi
Berkaitan dengan optimalisasi struktur organisasi, kebijakan dan proses.

4.

Ergonomi lingkungan
Berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan, dan getaran.

2.3 Pelatihan Ergonomi


Pelatihan bidang ergonomi sangat penting, sebab ahli ergonomi umumnya
berlatarbelakang pendidikan teknik, psikologi, fisiologi atau dokter, meskipun
ada juga yang dasar keilmuannya tentang desain, manajer dan lain-lain. Akan
tetapi semuanya ditujukan pada aspek proses kerja dan lingkungan kerja.

Cara kerja yang ergonomis adalah:


a. Menghindari kelelahan
b. Mengurangi ketidak efisienan sehingga diperoleh:
1. Tidak membuang waktu dan energi secara sia-sia
2. Suasana kerja yang aman dan tidak melelahkan
3. Efisiensi kerja optimum dapat dicapai
4. Selamat dan sehat
Kemampuan manusia dibatasi dengan potensi mental:
a. Kesanggupan menetapkan suatu suasana kerja dan kemampuan
b.
c.
d.
e.

mencapainya
Rasa tanggung jawab
Pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya
Latar belakang sosiologi
Pandangan hidup

Dengan adanya pelatihan ergonomi tersebut, diharapkan tujuan-tujuan


ergonomi akan tercapai, antara lain sebagai berikut (Napitupulu, 2009):
1. Angka cedera dan kesakitan dalam melakukan pekerjaan tidak ada/dapat
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

dikurangi;
Biaya terhadap penanganan kecelakaan atau kesakitan menjadi berkurang;
Kunjungan untuk berobat bisa berkurang;
Tingkat absentisme/ketidakhadiran bisa berkurang;
Produktivitas/kualitas dan keselamatan kerja meningkat;
Pekerja merasa nyaman dalam berkerja;
Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental.
Meningkatkan kesejahteraan sosial;
Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis,
antropologis, dan budaya dari setiap sistem kerja.

2.4 Metode Ergonomi


Menurut Solichin dkk. (2014:158), metode ergonomi terbagi menjadi 3
yakni sebagai berikut:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi
tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic
checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar
pada saat diagnosis. Terkadang sangat sederhana seperti merubah posisi
meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai, serta membeli
furniture sesuai dengan dimensi fisik pekerja.
6

3. Follow-up, dengan evaluasi yang subjektif atau objektif, subjektif


misalnya dnegan menanyakan keamanan, bagian badan yang sakit, nyeri
bahu dan siku, keletihan, sakit kepala, dan lain-lain. Secara objektif
misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka
kecelakaan, dan lain-lain.

2.5 Aplikasi/Penerapan Ergonomi


1. Kerja Duduk
Ditinjau dari aspek kesehatan, bekerja ada posisi duduk yang
memerlukan waktu lama dapat menimbulkan otot perut semakin elastis,
tulang belakang melengkung, otot bagian mata terkonsentrasi sehingga
cepat merasa lelah. Kejadian tersebut jika tidak diimbangi dengan tempat
duduk yang tidak memberikan keleluasaan gerak atau alih pandang yang
memadai tidak menutup kemungkinan terjadi gangguan bagian punggung
belakang, ginjal, dan mata. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan
dalam melaksanakan pekerjaan dengan duduk (Kuswana, 2014):
a. Duduk bergantian dengan berdiri dan berjalan, duduk dalam waktu
yang relatif lama harus dihindari karena akan berpengaruh pada
kesehatan. Saat duduk, leher dan punggung mengalami tekanan
berkepanjangan yang dapat menyebabkan keluhan leher dan
punggung. Tugas yang membutuhkan duduk berkepanjangan harus
diselingi dengan tugas-tugas yang dilakukan dengan postur berdiri atau
berjalan.
b. Ketinggian kursi dan sandaran kursi harus disesuaikan, ketinggian
kursi harus dipilih sedemikian rupa sehingga ketika duduk, bagian
belakang lutut tidak sempit. Sandaran harus memberikan kenyamanan
terutama untuk punggung bagian bawah (untuk orang dewasa di
Inggris, rentang pengaturan minimal harus 10 cm antara ketinggian 20
dan 30 cm). bagian bawah sandaran harus diberi bentuk cembung
untuk menjaga lekukan punggung bawah. Selain itu, kursi juga harus
dapat berputar untuk mengurangi kebutuhan memutar tubuh.

c. Karakteristik kursi secara spesifik ditentukan oleh jenis tugas, sebuah


kursi dengan sandaran lengan dapat dipilih jika dipandang tidak
mengahambat kegiatan. Sandaran lengan pada kursi berfungsi untuk
mendukung berat lengan dan berguna ketika bangkit dari kursi.
Sandaran lengan harus endek untuk memungkinkan dekat ke meja.
Untuk tugas dimana tubuh tehindarkan membungkuk ke depan, miring
ke depan terbatas (maksimum 20o) dianggap menguntungkan karena
mencegah punggung bawah melengkung.
d. Ketinggian bekerja bergantung pada tugas
Tipe Tugas
Penggunaan mata: sering; penggunaan
tangan/lengan: jarang
Penggunaan mata: sering; penggunaan
tangan/lengan: sering
Pernggunaan mata: jarang; penggunaan
tangan/lengan: sering

Ketinggian Kerja
10-30 cm di bawah ketinggian mata
0-15 cm di atas tinggi siku
1.30m di bawah tinggi siku

e. Gunakan sandaran kaki jika tinggi pekerjaan tetap, jika ketinggian


kerja tidak dapat disesuaikan oleh pengguna, seperti pada mesin,
permukaan kerja yang relative tinggi harus dipilih sesuai dengan tinggi
pengguna. Ketinggian kursi kemudian harus disesuaikan dengan
permukaan kerja.. ketinggian kaki juga harus disesuaikan dengan
menggunakan pijakan kaki yang cocok.
f. Hindari jangkauan berlebihan, benda kerja, alat, dan kontrol yang
digunakan secara teratur harus ditempatkan di depan atau di dekat
tubuh. Jangkauan yang ditoleransi dalam pekerjaan duduk maupun
berdiri maksimal 50 cm.
g. Pilih permukaan kerja miring untuk membaca, sebuah permukaan kerja
miring membawa pekerjaan ke mata bukan sebaliknya. Dalam tugas
yang tidak memerlukan pekerjaan manual, seperti membaca,
membungkukkan kepala dan batang leher ke depan dapat dikurangi
dengan menggunakan kemiringan permukaan kerja minimal 45o untuk
melihat. Untuk tugas yang menggunakan mata dan tangan, kemiringan
permukaan kerja sekitar 15o.
8

h. Berikan ruang kaki yang memadai, ruang kaki yang cukup harus
disediakan di bawah permukaan tempat kerja. Lebar sekitar 60 cm,
kedalaman minimal 40 cm dan bagian lutut sekitar 100 cm. hal ini
digunakan untuk meregangkan kaki sesekali duduk untuk waktu yang
lama. Untuk memiliki ruang yang cukup antara bawah permukaan
kerja dan bagian atas kaki, ketebalan permukaan kerja tidak boleh
lebih dari 3 cm.
2. Kerja Berdiri
Postur tubuh dalam pekerjaan berdiri merupakan suatu totalitas
perilaku kesiagaan dalam menjaga keseimbangan fisik dan mental.
Kecenderungan lainnya adalah memerlukan tenaga yang lebih besar
dibandingkan dengan posisi duduk mengingat kaki sebagai tumpuan
tubuh. berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam posisi kerja
berdiri (Kuswana, 2014):
a. Berdiri bergantian dengan duduk dan berjalan. Tugas yang harus
dilakukan dalam waktu lama dengan posisi berdiri harus diselingi
dengan tugas yang dapat dilakukan dengan duduk dan berjalan.
b. Ketinggian meja kerja harus disesuaikan. Ketinggian meja kerja harus
disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Ketinggian meja maksimal untuk
pria adalah 110 cm dan wanita adalah 105 cm, sedangkan ketinggian
meja minimal untuk pria adalah 90 cm dan untuk wanita adalah 85 cm.
c. Menyediakan cukup ruang untuk kaki. Antara bagian tengah meja harus
lebih lebar 5 cm dengan tumpuan meja. Antara sandaran meja dan jarak
lantai minimal 75 cm.
d. Hindari jangkauan berlebihan. benda kerja, alat, dan kontrol yang
digunakan secara teratur harus ditempatkan di depan atau di dekat tubuh.
Jangkauan yang ditoleransi dalam pekerjaan duduk maupun berdiri
maksimal 50 cm. pilih permukaan kerja yang miring untuk membaca
tugas.
e. Postur tangan dan lengan. Bekerja untuk jangka waktu yang lama
dengan tangan dan lengan dalam sikap tubuh yang buruk dapat
menyebabkan keluhan spesifik dari pergelangan tangan, siku, dan bahu.
Masalah ini timbul terutama dari handling alat.

f. Pilih model alat yang tepat. Sebuah alat tertentu sering tersedia dalam
berbagai model. Pilih model yang palin cocok untuk tugas dan postur
tubuh agar tidak terjadi permasalahan di persendian. Bila menggunakan
alat genggam, pergelangan tangan harus dijaga selurus mungkin.
g. Alat genggam tidak boleh terlalu berat. Alat genggam yang masih bisa
ditoleransi beratnya adalah sekitar 2 kg.
h. Penjagaan alat. Alat kerja harus dijaga kualitasnya agar tidak
membutuhkan kekuatan yang besar dalam penggunaannya.
i. Bentuk genggaman. Bentuk dan lokasi genggaman di troli, mesin, dan
sebagainya harus mempertimbangkan posisi tangan dan lengan. Jika
seluruh tangan digunakan untuk mengerahkan kekuatan, handgrip harus
memiliki diameter sekitar 3 cm dan panjang sekitar 10 cm. pegangannya
harus agak cembung untuk meningkatkan kontak permukaan dengan
tangan.
j. Hindari melaksanakan tugas di atas bahu. Tangan dan siku harus berada
jauh di bawah bahu ketika melaksanakan tugas. Jika pekerjaan di atas
permukaan bahu tidak dapat dihindari, durasi kerja harus terbatas
dengan diselingi oleh istirahat teratur.
k. Hindari bekerja dengan tangan di belakang tubuh. Posisi tangan dan
lengan di belakang tubuh menimbulkan gangguan, misalnya nyeri pada
bagian lengan atas dan dikhawatirkan terjadi disposisi sendi (terkilir).
2.5.1 Prinsip Dasar Ergonomi dalam Aktifitas Kerja
1. Bekerja di postur netral
Memposisikan S-kurva tulang
belakang.

Ketika berdiri, meletakkan satu kaki di


atas sandaran kaki membantu untuk
menjaga tulang belakang dalam
keselarasan.
Lumbar support yang baik sering
membantu untuk menjaga kurva yang
tepat di punggung anda.

10

Membungkuk menciptakan banyak


tekanan pada tulang belakang.

Menggunakan kondisi miring untuk


membaca

Menjaga leher tetap selaras. Lama


postur memutar dan membungkukkan
leher dapat menyebabkan stress.

Menjaga siku tetap dalam kondisi netral


untuk membuat siku dan bahu santai.

Seharusnya melakukan pekerjaan


dengan tidak membungkukkan bahu
dan tidak megeluarkan siku.

Pada saat memainkan mouse,


pergelangan tangan harus sejajar
dengan mouse, bila perlu menggunakan
bantalan yang empuk.
Memegang kemudi mobil yang baik.

Prinsip pemakaian alat yang


disesuaikan dengan postur tubuh.

2. Mengurangi angkatan beban berlebihan

11

Kekuatan yang berlebihan pada sendi dapat membuat potensi kelelahan dan
cedera. Metode mengangkat beban menurut Solichin dkk. (2014) adalah
sebagai berikut:
a. Otot lengan lebih banyak digunakan daripada otot punggung;
b. Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat
badan.
3. Jangkauan
Konsep semilingkaran yang membuat
lengan mudah menjangkau
benda/objek.

Posisi siku yang tidak sesuai.

Seharusnya permukaan meja sesuai


standard.

Mengusahakan cara untuk tidak bekerja


dengan mengangkat bahu.

4. Bekerja pada ketinggian siku


Sebagian besar pekerjaan seharusnya
dilakukan pada sekitar tinggi siku, baik
duduk maupun berdiri.
Pekerjaan yang lebih berat sering lebih
baik dilakukan dengan lebih rendah
dari siku.

12

Menyesuaikan kondisi dengan


menggunakan pijakan kaki.

5. Mengurangi gerakan berlebihan


Mengganti alat manual dengan alat
listrik.
Mengubah layout peralatan untuk
menghilangkan gerakan.
Menghilangkan atau mengubah
permukaan yang tidak rata.

6. Meminimalkan kelelahan dan beban statis


Tidak perlu memegang pensil atau
bullpoin terlalu erat dalam jangka
waktu yang lama.

Menggunakan fixture menghilangkan


kebutuhan untuk memegang bagian.

Dapat menambahkan extender untuk


alat sehingga tidak menambah beban
statis pada otot bahu.

13

Sebaiknya menggunakan sandaran kaki


agar tidak mengalami kelelahan saat
berdiri.

7. Meminimalkan tekanan pada satu titik

Menambahkan pegangan empuk pada


alat.
Menyandarkan lengan pada tepian meja
yang tidak runcing.

Seharusnya duduk antara paha dan


bagian bawah meja. Kursi yang baik
adalah kursi yang memiliki bantalan.

Menggunakan sol yang tepat apabila


bekerja di lantai yang keras.

8. Memiliki cukup clearance


Wilayah kerja perlu diatur sehingga
memiliki ruang yang cukup untuk
kepala, lutut, dan kaki.
Tidak ada sesuatu yang menghalangi
pandangan saat melakukan pekerjaan.

9. Pindah gerak dan peregangan


14

Otot harus dilatih dan detak jantung


membutuhkan elevasi periodik.
Perlu menggeser postur ketika duduk
dalam jangka waktu yang lama.
Bergantian antara duduk dan berdiri
pada saat melakukan pekerjaan.

10. Menjaga kenyamanan lingkungan

Pencahayaan yang baik.

Menggunakan task lighting

Alat getar, misalnya bor

11. Meningkatkan organisasi kerja


Pekerjaan harus diatur dengan berbagai cara, misalnya:
a.
b.
c.
d.

Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun;


Frekuensi pergerakan diminimalisasi;
Jarak mengangkat beban dikurangi;
Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan

mengangkatnya tidak terlalu tinggi;


e. Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
2.6 Ergonomi Anthropometri
Menurut Napitupulu (2009), anthropometri akan secara luas digunakan
sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi

15

manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan


secara luas antara lain dalam hal berikut:
a)
b)
c)
d)

Perancangan areal kerja;


Perancangan peralatan kerja;
Perancangan produk-roduk konsumtif seperti pakaian, meja, kursi, dll.
Perancangan lingkungan kerja fisik.

Sedangkan menurut Solichin dkk. (2014), anthropometri terbagi 2 bagian,


yakni:
1. Anthropometri statis
Pengukuran manusia dalam posisi diam dan linear pada permukaan tubuh.
ada beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia
diantaranya:
a. Umur
Ukuran tubuh manusia akan berkembang. Semakin bertambahnya
umur manusia, maka ukuran tubuhnya juga akan berkembang.
b. Jenis Kelamin
Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali
dada dan pinggul yang dipengaruhi oleh:
a. Suku bangsa (etnis);
b. Sosio ekonomi;
c. Konsumsi gizi;
d. Pekerjaan;
e. Aktifitas sehari-hari.
2. Anthropometri Dinamis
merupakan pengukuran keadaan dan cirri-ciri fisik manusia dalam
keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin
terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya. Terdapat tiga kelas
pengukuran anthropometri dinamis antara lain:
a) Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk
mengerti

keadaan

mekanis

dari

suatu

aktifitas,

misalnya

pengukuran performasi atlet;


b) Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja.
Misalnya jangkauan dari gerakan tanagn dan kaki efektif pada saat
bekerja, yang dilakukan dengan berdiri atau duduk;

16

c) Pengukuran variabilitas kerja. Misalnya analisis kinematika dan


kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator
komputer.
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam
anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar manfaatnya
pada saat suatu rancangan pproduk atau fasilitas kerja akan dibuat. Mengingat
bahwa keadaan dan cirri fisik dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga berbeda
satu sama lainnya, maka terdapat tiga prinsip dalam pemakai data tersebut,
antara lain (Solichin, 2014):
1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim terbagi atas dua
yaitu perancangan berdasarkan individu terbesar dan perancangan fasilitas
berdasarkan individu terkecil.
2. Perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip ini digunakan untuk
merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut bisa menampung atau bisa
dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin
memerlukannya.
3. Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya. Prinsi ini
hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak
mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika menggunakan prinsip
perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip ini tidak mungkin
dilaksanakan apabila lebih banyak rugi daripada untungnya. Sedangkan jika
fisilitas tersebut dirancang berdasarkan fasilitas yang bisa disesuaikan, tidak
layak karena terlalu mahal harganya.
2.7.Perilaku Kerja
Perilaku kerja adalah perilaku diterjemahkan dari kata bahasa inggris
behavior dan kata tersebut sering dipergunakan dalam bahasa sehari-hari,
namun seringkali pengertian perilaku ditafsirkan secara berbeda-beda antara
satu orang dengan yang lainnya. Perilaku juga sering diartikan sebagai
tindakan atau kegiatan yang ditampilkan seseorang dalam hubungannya
dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya, atau bagaimana manusia
beradaptasi terhadap lingkungannya. Perilaku, pada hakekatnya adalah

17

aktifitas atau kegiatan nyata yang ditampilkan seseorang yang dapat teramati
secara langsung maupun tidak langsung . perilaku kerja adalah tindakan atau
kegiatan yang berhubungan dengan faktor-faktor kerja. Perilaku kerja ada dua
yaitu: perilaku kerja yang baik dan perilaku kerja yang buruk.
a. Perilaku kerja yang baik
Jenis dan perilaku kerja yang harus diperhatikan oleh para pekerja
untuk mencapai keberhasilan di dalam kerja atau bisnisnya antara lain
meliputi hal-hal berikut ini :
1. Kerja ikhlas
Kerja ikhlas adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh, dapat
menghasilkakn sesuau yang baik dan dilandasi dengan hati yang
tulus. Contoh: seorang buruh pabrik yang bekerja dengan upah yang
pas-pasan, namuun tetap bekerja dengan baik melaksanakan
pekerjaan dengan tulus dan semata-mata merupakan pengabdian
kepada pekerjaannya yang menghasilkan uang untuk keperluan hidup
keluarga.
2. Kerja Mawas Terhadap Emosiaonal
Kerja mawas terhadap emosional adalah bekerja dengan tidak
terpengaruh oleh perasaan/kemarahan yang sedang melanda jiwanya.
Seorang pekerja, di rumah mempunyai masalah dengan keluarganya.
Di perusahaannya, ada pegawainya yang melakukan kesalahn. Maka
sebagai pemimpin atau pemilik usaha maka dapat membedakan
maslah pribadi dengan maslah pekerjan. Cara pemecahannya harus
tetap rasional dan tidak emosioanl.
3. Kerja Cerdas
Kerja cerdas adalah bahwa

di dalam bekerja kita harus pandai

memperhitungkan resiko, mampu melihat peluang dan dapat mencari


solusi sehingga dapat mencapai keuntungan yang diharapkan.
Perilaku/sikap cerdas dalam melakukan pekerjaannya menggunakan
teknologi yang tepat, menggunakan konsep hitung menghitung,

18

memakai atau menggunakan bahasa global, pandai berkomunikasi


dan pandai pula mengelola informasi.
4. Kerja Keras
Kerja keras adalah dalam bekerja kita harus mempunyai sifat mampu
bekerja keras atau gila kerja untuk mencapai sasaran yang ingin
dicapai. Mereka dapat memanfaatkan waktu yang optimal sehingga
kadang-kadang tidak mengenal waktu, jarak serta kesulitan yang
dihadapi. Dalam bekerja mereka penuh semangat dan berusaha keras
untuk meraih hasil yang baik dan maksimal.
5. Kerja Tuntas
Kerja tuntas adalah di dalam berkerja mmapu mengorgaisasikan
kerjanya secara terpadu dari awal sampai akhir untuk dapat
menghasilkan hasil kerja yang maksimal.

a. Perilaku kerja yang buruk


Perilaku kerja yang buruk adalah perilaku kerja yang tidak baik ditujukan
oleh perkerja. Berikut adalah 5 perilaku buruk yang dikemukaan dalam
buku karangannya Sylvia La Fair yaitu:
1. Penganiaya (Persecutor)
Orang jenis ini tak segan mengatur hal-hal kecil dan memperhatikan
pelanggaran-pelanggaran orang lain. Beberapa cirinya adalah email
pasif-agresif yang cenderung menyalahkan orang lain. Mengapa
terjadi? Orang seperti ini tumbuh dengan pelecehan atau pengabaian
dari orang tua
2. Pura-pura (denier)
Karyawan tioe ini tidak realistis dan berpura-pura tidak ada masalah
dalam pekerjaan kantor maupun kondisi kantor. Saat keuangan kantor
mengalami kerugian dan krisis berat, pendapat sebagian besar orang
adalh Perusahaan akan bangkrut. Mereka akan keukeuh dengan
ucapan, Akan ada bonus untuk semua orang! Kemungkina terbesar
dari tipe orang ini adalh mreka berasal dari eluarga yang takut
membicarakan hal-hal tidak menyenangkan.
3. Penghindar (Avoider)
19

Dia adalh orang pertama yang menghindar atau keluar kantor setiap
kali akan berlangsung rapat yang akan menyampaikan berita buruk
atau menjelang deadline. Sebabnya, di masa kanak-kanak, orang tua
mereka terlau menghakimi atau tidak memliki hubungan kuat dengan
orang tua.
4. Si Berprestasi (Super Achiever)
Orang seperti ini mendorong diri agar terus unggul dalam segala hal.
Mereka memimpikan untuk selalu meraih keuntungan bagi dirinya.
Orang sepeeti ini akan merasa gagal jika ada hal yang menyiratkan
bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Jadi, sekuat tenaga, tipe
seperti ini akan beurusaha membuat orang lain terlihat buruk. Di
masa kecil, biasanya orang seperti ini memiliki pengalaman rasa
malu atau tragedi dalam keluarga. Maka mereka berusaha
menebusnya dengan sgala cara.
- Martir
Orang ini melakukan pekerjaan semua orang. Mereka datang lebih
awal setiap har dan bekerja lembur setiap malam. Mereka juaga
bangga dan selalu menceritakannya kepada semua orang. Alasan
utama dari perilaku pekerja jenis ini adalah di masa kecil mereka
mencoba untuk menyenangkan orang tua yang tidak menyukai
impian mereka.
2.8 Masalah Akibat Lingkungan Kerja yang Tidak Ergonomi
Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan
pekerjaannya adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan adalah
suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih
lanjut sehingga terjadi pemuliham setelah istirahat.
Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan
kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya
kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (static
muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan
mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries), yaitu nyeri otot, tulang,
tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat
berulang (repetitive) (Nurmianto, 2003).

20

Sebab-sebab kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton,


beban dan lama kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi
yang buruk, dan kurangnya waktu istirahat (Nurmianto, 2003).
Lamanya pekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6 8 jam
sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam hal lamanya kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu
diatur istirahat khusus dengan mengadakan organisasi kerja secara khusus
pula.pengaturan kerja demikian bertujuan agar kemampuan kerja dan
kesegaran jasmani serta rohani dapat dipertahankan (Nurmianto, 2003).
Dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya,
beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut :
2.4.1 Kelelahan fisik
Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat
dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak
terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup
(Manuaba, 2000).
2.4.2 Kelelahan yang patologis
Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya
muncul tiba-tiba dan berat gejalanya (Manuaba, 2000).
2.4.3 Psikologis dan emotional fatique
Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan
sejenis mekanisme melarikan diri dari kenyataan pada penderita
psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi
angka kejadiannya di tempat kerja (Manuaba, 2000).
Gejala klinis dari kelelahan adalah perasaan lesu, ngantuk, dan pusing,
sulit tidur, kurang atau tidak mampu berkonsentrasi, menurunnya tingkat
kewaspadaan, persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau berkurangnya
keinginan untuk bekerja, dan menurunnya kesegaran jasmani dan rohani
(Manuaba, 2000).

21

Jika kelelahan yang terjadi sudah dalam batas waktu kronis, maka gejala
yang ditimbulkan adalah meningkatnya ketidaksatbilan jiwa, depresi, dan
meningkatnya sejumlah penyakit fisik (Manuaba, 2000).

2.9 Upaya penanggulangan Kelelahan


Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang
mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan
mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : (Manuaba, 2000;
Nurmianto, 2003)
a. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi
harus memadai dan tidak ada gangguan bising,
b. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang
cukup saat makan siang.,
c. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor,
d. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus,
e. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin,
kalau memungkinkan,
f. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan
semangat kerja,
g. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja,
h. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja,
i. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
-

Pekerja remaja dan usia tua

Wanita hamil dan menyusui

Pekerja shift

Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan
atau zat addiktif lainnya perlu diawasi

22

2.10

Pengertian Produktivitas Kerja


Produktivitas sering pula dikaitkan dengan cara dan sistem yang
efisien, sehingga proses produksi berlangsung tepat waktu dan dengan
demikian tidak diperlukan kerja lembur dengan segala implikasinya,
terutama implikasi biaya. Dan kiranya jelas bahwa yang merupakan hal
yang logis dan tepat apabila peningkatan produktivitas dijadikan salah satu
sasaran jangka panjang perusahaan dalam langka pelaksanaan strateginya.
Produktivitas berasal dari kata produktiv artinya sesuatu yang
mengandung potensi untuk digali, sehingga produktivitas dapatlah
dikatakan sesuatu proses kegitan yang terstruktur guna menggali potensi
yang ada dalam sebuah komoditi/objek. Filosofi produktivitas sebenarnya
dapat mengandung arti keinginan dan usaha dari setiap manusia (individu
atau kelompok) untuk selalu meningkatkan mutu kehidupannya dan
penghidupannya. Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan
sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan pemasukan (input),
sedangkan menurut Ambar Teguh Sulistiani dan Rosidah mengemukakan
bahwa produktivitas adalah Menyangkut masalah hasil akhir, yakni
seberapa besar hasil akhir yang diperoleh didalam proses produksi, dalam
hal ini adalah efisiensi dan efektivitas. Sedangkan menurut Malayu S.P
Hasibuan produktivitas adalah : Perbandingan antara output (hasil)
dengan input (masukan). Jika produktivitas naik ini hanya dimungkinkan
oleh adanya peningkatan efesiensi (waktu,bahan,tenaga) dan sistem kerja,
teknik produksi dan adanya peningkatan keterampilan dari tenaga
kerjanya.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas sebenernya produktivitas memiliki
dua dimensi,

pertama efektivitas yang mengarah kepada pencapaian untuk kerja


yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan
berkualitas, kuantitas, dan waktu.
Kedua yaitu
efesiensi
yang
berkaitan
dengan
upaya
membandingakan input dengan realisasi penggunaanya atau
bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.

Efesiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan input


direncanakan dengan input sebenarnya. Apabila ternyata input yang
sebenarnya digunakan semakin besar penghematannya, maka tingkat
efesiensi semakin tinggi. Sedangkan efektivitas merupakan ukuran yang
memberikan gambaran suatu target yang dicapai. Apabila kedua tersebut

23

dikaitkan satu dengan yang lainnya, maka terjadinya peningkatan efektivitas


tidak akan selalu menjamin meningkatnya efesiensi.

2.11

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Untuk mencapai produktivitas yang tinggi suatu perusahaan dalam
proses produksi, selain bahan baku dan tenaga kerja yang harus ada juga
didukung oleh faktor faktor sebagai berikut :

Knowledge :
mendasari

Pengetahuan

pencapaian

dan

ketrampilan

produktivitas. Konsep

sesungguhnya
pengetahuan

yg
lebih

berorientasi pd intelejensi, daya pikir & penguasaan ilmu serta luas


sempitnya wawasan yg dimiliki seseorang. Dengan pengetahuan yg
luas & pendidikan tinggi diharapkan , diharapkan pegawai mampu

bekerja dg baik & produktif.


Skill : keterampilan adalah kemampuan &penguasaan teknis
operasional mengenai bidang tertentu yg bersifat kekaryaan. Ex :
ketrampilan komputer, perbengkelan, dll Abilites / kemampuan
terbentuk dari sejumlah kompetensi yg dimiliki oleh seorang
pegawai.konsep ini lebih luas krn dapat mencakup beberapa
kompetensi. Shg jk seseorang mempunyai pengetahuan & ketrampilan

tinggi, diharapkan memiliki ability yg tinggi pula.


Attitude : berhubungan dg kebiasaan & perilaku. Sehingga jk
karyawan punya punya kebiasaan yg baik maka perilaku kerjanya jg
baik. Ex : tepat waktu, disiplin, mentaati aturan yg berlaku, simple,
punya tanggung jawab
- Tingkat penghasilan
- Jaminan sosial
- Tingkat sosial dan iklim kerja
- Motivasi
- Gizi dan kesehatan
- Hubungan individu
- Teknologi
- Produksi

2.12

Cara Meningkatkan produktivitas

24

Menurut Hanafi, terdapat beberapa cara yang digunakan untuk


meningkatkan produktivitas yaitu:
a) Meningkatkan operasional:

dapat

dilakukan

dengan

meningkatkan riset dan pengembangan, sehingga organisasi


dapat menghasilkan ide produk baru maupun metode - metode
operasi yang lebih baik;
b) Meningkatkan keterlibatan karyawan, dapat meningkatkan
komitmen dan semangat kerja. Keterlibatan juga menjadi dasar
pengendalian kualitas kerja dari karyawan.
Balai pengembangan produktivitas daerah, mengatakan ada enam faktor
utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja, yaitu:

2.13

Sikap kerja.

Tingkat ketrampilan.

Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan.

Manajemen produktivitas.

Efisiensi tenaga kerja.

Kewiraswastaan.

Pengukuran Produktivitas Kerja


Pengukuran produktivitas kerja sebagai sarana untuk menganalisa dan
mendorong efisiensi produksi. Manfaat lain adalah untuk menentukan
target dan kegunaan, praktisnya sebagai standar dalam pembayaran upah
karyawan. Untuk mengukur suatu produktivitas dapat digunakan dua jenis
ukuran jam kerja manusia yakni jam jam kerja yang harus dibayar
dan jamjam kerja yang harus dipergunakan untuk bekerja.
Ada dua macam alat pengukuran produktivitas, yaitu :
1. Physical productivity, yaitu produktivitas secara kuantitatif seperti
ukuran (size),panjang, berat, banyaknya unit, waktu, dan biaya
tenaga kerja.

25

2. Value

productivity,

yaitu

ukuran

produktivitas

dengan

menggunakan nilai uang yang dinyatakan dalam rupiah, yen,


dollar dan seterusnya.
2.14

Metode penilaian kinerja kerja


1. Metode metode penilaian berorientasi masa lalu :
Rating scale : penilaian prestasi kerja dg menggunakan skala
tertentu dari rendah

sampai tinggi . Ex : kualitas hasil kerja : nilai

sangat baik, baik, sedang , jelek , sangat jelek.


Checklist : penilaian tinggal memilih kalimat-kalimat dan
karakteristik-karakteristik karyawan. Ex : karyawan merawat

peralat`an dengan baik.


Metode peristiwa kritis : metode penilaian yang mendasarkan pada
catatan-catatan penilaian yang menggambarkan perilaku karyawan
yang baik atau sangat jelek dalam kaitanya dengan pelaksanaan

pekerjaan.
Metode peninjauan lapangan
2. Metode penilaian berorientasi masa depan :
Penilaian diri : digunakan untuk melanjutkan pengembangan diri
Penilaian psikologis: dilakukan melalui wawancara mendalam, tes

tes psikologi, diskusi dg atasan langsun, evaluasi-evaluasi diri


Pendekatan Manajement by objectives ( MBO): secara bersama
menetapkan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran pelaksanaan kerja
diwaktu yang akan datang.
Kegunaan penilaian kinerja kerja adalah Perbaikan prestasi

kerja, Penyesuaian

penyesuaian

kompensasi, Keputusan-keputusan

penempatan, Kebutuhan-kebutuhan pelatihan & pengembangan, Perencanaan


&

pengembangan

karier, Ketidakakuratan

informasional,Kesalahan-

kesalahan desain pekerjaan, Kesempatan kerja yg adil, Tantangan-tantangan


eksternal.

26

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Simpulan
Ergonomi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah
manusia dengan pekerjaannya. Ergonomi pada makalah ini dibahas menjadi
beberapa sub-bab, yakni pengertian ergonomi, ruang lingkup ergonomi, pelatihan
ergonomi, metode ergonomi, penerapan ergonomi, ergonomi anthropometri, serta
perilaku kerja yang berguna bagi terlaksananya sistem ergonomi di perusahaan
untuk meningkatkan produktivitas kerja, laba, serta kelangsungan hidup tenaga
kerja.
3.2 Saran
Ergonomi sering kali terabaikan karena masih kurangnya pengertian dan
pemahaman, di samping sikap acuh tak acuh, baik dari engusaha maupun

27

pekerjanya sendiri. Seharusnya, penerapan ergonomi untuk memperbaiki


produktivitas kerja, kesehatan dan keamanan, harus dimiliki oleh para pengusaha
atau pimpinan perusahaan. Demikian juga para teknisi yang merencanakan proyek
industry, termasuk perencanaan pembangunan dan fungsi sarana kerja, sesuai
dengan kemampuan tenaga kerja.
Penggalakan partisipasi harus mencakup semua pihak, dimulai dari
kebijakan yang diciptakan dalam peraturan perundangan, kemauan baik dari
pengusaha atau pimpinan perusahaan, para tenaga kerja serta lainnya yang terkait
seperti para perancang alat, teknisi, dan sebagainya. Masing-masing bergerak
dalam bidang maupun keahliannya sehingga ergonomi dapat menopang gerakan
produktivitas dalam pembangunan nasional.
Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat di harapkan agar dapat mempelajari
dan memahami tentang Ergonomi dan produktivitas kerja

DAFTAR PUSTAKA

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2014. Ergonomi dan Kesehatan Keselamatan Kerja.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ravianto, Produktivitas dan Pengukuran, Cetakan I, Lembaga Sarana Informasi
Usaha dan Produktivitas, Jakarta, 1986, hal.2
Ravianto, J. 1985. Produktivitas dan Manajemen. SIUP
Riyanto, J. 1986. Produktivitas dan Tenaga Kerja. SIUP : Jakarta.

Jakarta.

Bambang Kussriyanto, Meningkatkan Produktivitas Karyawan, Edisi II, Penerbit


LPPM dan PT.Pusataka Binaan.Jakarta, 1986.
Melayu S.P Hasibuan, Organisasi Dan Motivasi, Dasar Peningakatan
Produktivitas,
Bumi
Aksara
Putra,
Jakarta,
1996.
Muchdrasah Sinungan, Pruduktitas, Apa Dan Bagaimana, Bumi Aksara, Jakarta,
2000.

28

Solichin dkk. 2014. Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Malang:


Universitas Negeri Malang.
Darlis, dkk. 2009. Pertimbangan Ergonomi Pada Perancangan Stasiun Kerja.
Sigma Epsilon, vol 13 (4): 105-110
Manuaba, A. 2000. Ergonomi Kesehatan dan Keselamatan kerja, Proceeding
Seminar Nasional Ergonomi, Surabaya,6-7 juli.
McCormick, E. J. and Sanders, M. S. 1987. Human Factors in Engineering and
Design. McGraw-Hill, Inc. 37-123;313-452
McDowell, J. 2005. Computer related Injury: How Information Technology
Mangers Help ease the Pain. Available from:URL:http://cm.belllabs.com/who/ches/me/index.html [Accessed: 5 Sept 2012]
Abeysekera, J. 2002. Ergonomic and Industrially Developing Countries. Jurnal
Ergonomi Indonesia, Vol. 1(1):3-12
Ankrum, D.R. 2004. Computer Monitor Height, Angl, and Distance. Available
from URL:http://www. Google. Com/ ergonomics. Guidelines.html.
[Accessed: 5 Sept 2012]

29