Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Regulasi adalah "mengendalikan perilaku manusia atau masyarakat dengan aturan
atau pembatasan.". Regulasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, misalnya: pembatasan
hukum diumumkan oleh otoritas pemerintah, regulasi pengaturan diri oleh suatu industri
seperti melalui asosiasi perdagangan, Regulasi sosial (misalnya norma), co-regulasi dan
pasar. Seseorang dapat mempertimbangkan regulasi dalam tindakan perilaku misalnya
menjatuhkan sanksi (seperti denda). Tindakan hukum administrasi, atau menerapkan regulasi
hukum, dapat dikontraskan dengan hukum undang-undang atau kasus.
Akuntansi sector publik memiliki standar yang sedikit berbeda dengan akuntansi
biasa. Karena, akuntansi biasa belum mencakup pertanggungjawaban kepada masyarakat
yang ada di sektor publik.
Ikatan Akuntansi Indonesia sebenarnya telah memasukan standar untuk organisasi
nirlaba di Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Standar ini tercantum pada
PSAK nomor 45 tentang organisasi nirlaba. Namun, standar ini belum mengakomodasi
praktik-praktik lembaga pemerintahan ataupun organisasi nirlaba yang dimilikinya. Karna itu,
pemerintah mencoba menyusun suatu standar yang disebut dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).
Standar akuntansi sektor publik juga telah diatur secara internasional. Organisasi yang
merancang standar ini adalah International Federation of Accountants-IFAC (Federasi Auntan
Internasional). Mereka membuat suatu standar akuntansi sector publik yang disebut
Internation Public Sector Accounting Standards-IPSAS ( Standar Internasional Akuntansi
Sektor Publik ). Standar ini menjadi pedoman bagi perancangan standar akuntansi
pemerintahan di setiap Negara di dunia.
B. Tujuan
Secara umum, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Akuntansi Sektor Publik. Secara khusus penulisan makalah ini untuk mengenal,
menambah wawasan dan pemahaman mahasiswa tentang regulasi dan standar akuntansi
internasional sektor publik.
C. Rumusan Masalah
1. Jelaskan bagaimana international public sector accounting standar?
2. Bagaimana standar akuntansi pemerintahan itu?
3. Jelaskan mengenai pelaporan keuangan entitas nirlaba (PSAK no. 45 revisi
2011)?
4. Bagaiman standar pemeriksaan keuangan negara?

BAB II
PEMBAHASAN

A. International Public Sector Accounting Standards


International Public Sector Accounting Standards (IPSAS) adalah standar akuntansi
untuk entitas sektor publik yang dikembangkan oleh International Public Sector Accounting
Standards Board (IPSASB). IPSASB merupakan badan yang bernaung di
bawah International Federation of Accountants (IFAC), organisasi profesi akuntansi di
tingkat internasional yang didirikan tahun 1977. Keberadaan IPSASB bermula dari kesadaran
akan manfaat nyata informasi keuangan yang konsisten dan terbandingkan (comparable)
lintas-jurisdiksi. IPSAS, sebagai standar internasional akuntansi sektor publik, diharapkan
memainkan peran kunci untuk merealisasikan manfaat tersebut. Dalam mengembangkan
standar akuntansi sektor publik, IPSASB sangat mendorong keterlibatan pemerintah dan
penyusun standar di berbagai negara melalui penyampaian tanggapan/komentar atas
proposal-proposal IPSASB yang dinyatakan dalam exposure draft.
IPSAS yang diterbitkan oleh IPSASB terkait dengan pelaporan keuangan sektor publik,
baik untuk yang masih menganut basis kas (cash basis) maupun yang telah mengadopsi basis
akrual (accrual basis). IPSAS yang berbasis akrual dikembangkan dengan mengacu
kepada International Financial Reporting Standards (IFRS), standar akuntansi bisnis yang
diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB), sepanjang ketentuanketentuan di dalam IFRS dapat diterapkan di sektor publik. Meskipun demikian, IPSASB
tetap memperhatikan isu-isu yang spesifik di sektor publik yang tidak tercakup di dalam
IFRS.
Diadopsinya IPSAS oleh pemerintah di berbagai negara diharapkan akan meningkatkan
kualitas dan daya banding informasi keuangan yang dilaporkan entitas-entitas sektor publik
di seluruh dunia. Dalam mendorong pengadopsian dan harmonisasi ketentuan-ketentuan
akuntansi sektor publik di berbagai negara dengan IPSAS, IPSASB menghormati hak
pemerintah dan penyusun standar di tingkat nasional dalam menetapkan standar dan pedoman
pelaporan keuangan di dalam jurisdiksi mereka masing-masing. Meskipun demikian, laporan
keuangan sektor publik hanya boleh mengklaim telah mematuhi IPSAS jika laporan
keuangan itu memenuhi semua ketentuan yang berlaku di dalam masing-masing standar.
Isi dari International Public Sector Accounting Standards (IPSAS) sebagai berikut:
Isi dari International Public Sector Accounting Standards (IPSAS) sebagai berikut:
1. IPSAS 1 : Penyajian Laporan Keuangan
Menetapkan pertimbangan keseluruhan penyajian laporan keuangan, pedoman
struktur laporan keuangan tersebut dan persyaratan minimum untuk konten mereka di
bawah dasar akrual.
2. IPSAS 2 :Laporan Arus Kas
Memerlukan penyediaan informasi mengenai perubahan kas dan setara kas selama
periode operasi, investasi dan pendanaan.
3. IPSAS 3 :Surplus atau Defisit Bersih
Surplus atau defisit bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan
Perubahan Kebijakan Akuntansi, menentukan perlakuan akuntansi atas perubahan
2

estimasi akuntansi, perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi atas kesalahan


mendasar, mendefinisikan item luar biasa dan mensyaratkan pengungkapan terpisah
item tertentu dalam laporan keuangan.
4. IPSAS 4 :Pengaruh Perubahan Tukar Mata Uang Asing
Berkaitan dengan akuntansi untuk transaksi mata uang asing dan operasi asing. IPSAS
4 menetapkan persyaratan untuk menentukan nilai tukar yang digunakan untuk dasar
pencatatan transaksi tertentu dan saldo dan bagaimana mengenali dalam laporan
keuangan dampak keuangan perubahan nilai tukar.
5. IPSAS 5 :Biaya Pinjaman
Mengatur perlakuan akuntansi untuk biaya pinjaman dan membutuhkan baik langsung
membebankan biaya pinjaman atau, sebagai pengobatan alternatif yang diizinkan,
kapitalisasi biaya pinjaman yang langsung dapat diatribusikan dengan perolehan,
konstruksi atau produksi suatu kualifikasi aset.
6. IPSAS 6 :Laporan Keuangan Konsolidasi dan Akuntansi Entitas
Mengharuskan semua entitas pengendalian untuk menyiapkan laporan keuangan
konsolidasi yang mengkonsolidasikan seluruh entitas yang dikendalikan pada baris
dengan metode garis. Standar juga berisi diskusi rinci tentang konsep kontrol seperti
itu diterapkan pada sektor publik dan panduan untuk menentukan apakah kontrol ada
untuk tujuan pelaporan keuangan.
7. IPSAS 7 :Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi
Mengharuskan semua investasi pada perusahaan asosiasi diperhitungkan dalam
laporan keuangan konsolidasi dengan menggunakan metode ekuitas, kecuali jika
investasi dibeli dengan tujuan untuk dijual dalam waktu dekat dalam hal metode biaya
diperlukan.
8. IPSAS 8 :Pelaporan Keuangan Kepentingan dalam Ventura Bersama
Membutuhkan konsolidasi proporsional untuk diadopsi sebagai patokan untuk
perlakuan akuntansi untuk venturer bersama tersebut ditandatangani oleh entitas
sektor publik. Namun, IPSAS 8 juga memungkinkan - sebagai alternatif
diperbolehkan - usaha bersama yang akan dicatat dengan menggunakan metode
ekuitas.
9. IPSAS 9 : Pendapatan dari Transaksi Bursa
Menetapkan persyaratan untuk perlakuan akuntansi pendapatan dari transaksi
pertukaran. Non-tukar pendapatan, seperti perpajakan, tidak dibahas dalam standar
ini. Non-tukar pendapatan harus ditangani sebagai proyek terpisah.
10. IPSAS 10 : Pelaporan Keuangan dalam Hyperinflationary Ekonomi
Menggambarkan karakteristik perekonomian yang menunjukkan apakah itu
mengalami masa hiperinflasi dan menyediakan panduan ulangan laporan keuangan di
lingkungan hyperinflationary untuk memastikan informasi yang berguna disediakan.
11. IPSAS 11 : Kontrak Konstruksi
Berkaitan dengan kedua kontrak komersial dan non-komersial dan menyediakan
panduan dalam alokasi biaya kontrak dan, jika diperlukan, kontrak pendapatan untuk
periode pelaporan di mana pekerjaan konstruksi dilakukan.
12. IPSAS 12 :Persediaan
Mengatur perlakuan akuntansi persediaan yang diselenggarakan oleh perusahaan
sektor publik dan berhubungan dengan persediaan yang dimiliki untuk dijual dalam
transaksi bursa dan persediaan tertentu yang dimiliki untuk distribusi tanpa dikenakan
3

biaya atau nominal. IPSAS tidak termasuk dari ruang lingkup kerja dalam kemajuan
layanan yang akan diberikan tanpa biaya atau nominal dari penerima karena mereka
tidak ditangani oleh IAS 2 Persediaan dan karena mereka melibatkan isu-isu sektor
publik tertentu yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut.
13. IPSAS 13 :Sewa
IPSAS ini didasarkan pada IAS 17 Sewa. The IPSAS menetapkan persyaratan untuk
pelaporan keuangan sewa dan transaksi penjualan dan penyewaan kembali oleh
entitas sektor publik, baik sebagai penyewa atau lessor. PSC memutuskan bahwa
karena IPSAS di Sewa dan IPSAS yang diusulkan tentang Aset Tetap sangat erat
terkait, itu lebih baik bahwa dua IPSASs akan dirilis pada waktu yang sama. Dengan
demikian, pelepasan IPSAS ini telah ditangguhkan untuk kemudian pada tahun 2001.
(Lihat bagian di Work in Progress di bawah ini untuk laporan tentang kemajuan dalam
IPSAS tentang Aset Tetap.)
14. IPSAS 14 :Peristiwa Setelah Tanggal Pelaporan
IPSAS didasarkan pada IAS 10, Peristiwa Setelah Tanggal Neraca (revisi 1999), tetapi
telah mengalami perubahan dimana diperlukan untuk mencerminkan lingkungan
sektor usaha publik. Standar menetapkan kriteria untuk menentukan apakah laporan
keuangan harus disesuaikan untuk sebuah event yang terjadi setelah tanggal
pelaporan. Ia membedakan antara peristiwa adjustable (orang-orang yang
memberikan bukti dari kondisi yang ada pada tanggal pelaporan) dan acara nonadjustable (mereka yang menunjukkan kondisi yang muncul setelah tanggal
pelaporan.
15. IPSAS 15 :Instrumen Keuangan : Penyajian dan Pengungkapan
IPSAS didasarkan pada IAS 32, Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan
(Revisi 1998). Standar mencakup persyaratan untuk pengungkapan tentang kedua
pada lembar-neraca dan off-balance (laporan posisi keuangan) instrumen, dan
klasifikasi instrumen keuangan sebagai aset keuangan, kewajiban atau ekuitas.
Beberapa responden mencatat bahwa IPSAS akan aplikasi terbatas hanya untuk
entitas sektor publik yang tidak memiliki aset keuangan, kewajiban atau ekuitas. PSC
telah dimasukkan sebagai lampiran ke IPSAS panduan untuk membantu perusahaan
dalam mengidentifikasi persyaratan Standar yang akan dikenakan kepada mereka.
16. IPSAS 16 :Properti Investasi
IPSAS 16 Investasi Properti didasarkan pada IAS 40, Investasi Properti (diterbitkan
2000) dan menyediakan panduan untuk mengidentifikasi properti investasi di sektor
publik. Standar ini :
a) Mengharuskan properti investasi awalnya diakui sebesar harga perolehan dan
menjelaskan bahwa di mana aset diperoleh tanpa biaya atau nominal, biaya
adalah nilai wajarnya pada tanggal itu adalah pertama kali diakui dalam
laporan keuangan;
b) Mensyaratkan bahwa setelah pengakuan awal properti investasi diukur
konsisten dengan baik model nilai wajar atau model biaya dan
c) Memasukkan ketentuan peralihan untuk adopsi awal IPSAS
17. IPSAS 17 :Aktiva Tetap

IPSAS 17 Aktiva Tetap, mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, termasuk dasar dan
waktu pengakuan awal mereka, dan penentuan jumlah mereka terus-menerus tercatat,
pembebanan penyusutan. Tidak memerlukan atau melarang pengakuan aset warisan.
18. IPSAS 18 : Pelaporan Segmen
Menetapkan prinsip pelaporan informasi keuangan tentang kegiatan dibedakan dari
pemerintah atau badan sektor publik lainnya yang sesuai untuk mengevaluasi kinerja
masa lalu entitas dalam mencapai tujuan dan untuk membuat keputusan tentang
alokasi sumber daya masa depan.
19. IPSAS 19 :Provisi
Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi. Standar ini mendefinisikan ketentuan,
kewajiban kontinjensi dan aktiva kontinjensi, dan mengidentifikasi keadaan di mana
ketentuan harus diakui, bagaimana mereka harus diukur dan pengungkapan yang
harus dibuat tentang mereka. Standar juga mensyaratkan bahwa informasi tertentu
diungkapkan tentang kewajiban kontinjensi dan aktiva kontinjensi dalam catatan atas
laporan keuangan untuk memungkinkan pengguna untuk memahami sifat mereka,
waktu, dan jumlah.
20. IPSAS 20 :Pengungkapan Pihak Terkait
IPSAS 20 mensyaratkan pengungkapan adanya hubungan istimewa di mana kontrol
ada dan pengungkapan informasi tentang transaksi antara perusahaan dan pihak
terkait dalam keadaan tertentu. Informasi ini diperlukan untuk tujuan akuntabilitas
dan untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih baik dari posisi keuangan dan kinerja
perusahaan pelapor. Isu-isu utama dalam pengungkapan informasi mengenai pihak
yang mempunyai hubungan istimewa adalah mengidentifikasi kendali pihak atau
secara signifikan mempengaruhi entitas pelaporan dan menentukan informasi apa
yang harus diungkapkan mengenai transaksi dengan pihak-pihak.
21. IPSAS 21 :Penurunan Non-Cash-Generating Aset IPSAS 20
Mengatur prosedur yang entitas menerapkan untuk menentukan apakah suatu aset
non-kas-menghasilkan terganggu dan untuk memastikan bahwa kerugian penurunan
nilai diakui. Standar ini juga menentukan kapan suatu entitas akan membalikkan
penurunan nilai dan pengungkapan yang diperlukan.
22. IPSAS 22 :Pengungkapan Informasi Keuangan tentang Sektor Pemerintah Umum
IPSAS 22 menetapkan persyaratan bagi pemerintah yang memilih untuk
mengungkapkan informasi tentang sektor pemerintah umum dan yang menyiapkan
laporan keuangan mereka di bawah dasar akrual.
23. IPSAS 23 :Pendapatan dari Transaksi Luar Bursa (Pajak dan Transfer)
IPSAS 23 alamat:
a) Pengakuan dan pengukuran pendapatan dari pajak
b) Pengakuan pendapatan dari transfer, yang meliputi hibah dari pemerintah
lainnya dan organisasi internasional, hadiah dan sumbangan
c) Bagaimana kondisi dan pembatasan penggunaan sumber daya dialihkan harus
tercermin dalam laporan keuangan
24. IPSAS 24 :Penyajian Informasi Anggaran dalam Laporan Keuangan
IPSAS 24 berlaku untuk entitas yang menerapkan basis akrual pelaporan keuangan.
Ini mengidentifikasi pengungkapan dibuat oleh pemerintah dan entitas sektor publik
lainnya yang membuat anggaran yang disetujui mereka tersedia untuk umum. Juga,
itu memerlukan entitas sektor publik untuk menyertakan perbandingan anggaran dan
5

jumlah aktual dalam laporan keuangan dan penjelasan tentang perbedaan material
antara anggaran dan jumlah sebenarnya.
25. IPSAS 25 : Imbalan Kerja
IPSAS 25 menetapkan persyaratan pelaporan untuk empat kategori manfaat karyawan
dibahas dalam 19 IASB's IAS Imbalan Kerja. Ini adalah imbalan kerja jangka pendek,
seperti upah dan iuran jaminan sosial; pasca-kerja, termasuk pensiun dan tunjangan
pensiun lainnya; lain imbalan kerja jangka panjang, dan pesangon. Para IPSAS baru
juga berkaitan dengan isu-isu spesifik untuk sektor publik, termasuk tingkat diskonto
yang berkaitan dengan imbalan pasca-kerja, pengobatan imbalan pasca-kerja yang
diberikan melalui komposit program jaminan sosial, dan manfaat cacat jangka
panjang. IPSAS 25 berlaku efektif untuk pelaporan periode yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 Januari 2011.
26. IPSAS 26 : Penurunan Nilai Aktiva Kas-Pembangkit
Beberapa entitas sektor publik (selain usaha bisnis pemerintah, yang sudah akan
menggunakan SAK penuh) dapat beroperasi aktiva dengan tujuan utama
menghasilkan kembali komersial (daripada menyediakan pelayanan publik). IPSAS
26, yang didasarkan pada PSAK 36 Penurunan Nilai Aktiva, berlaku untuk aktiva
tersebut. Ini menetapkan prosedur bagi badan sektor publik untuk menentukan apakah
aset penghasil kas telah kehilangan manfaat ekonomi masa depan atau potensi
layanan dan untuk memastikan bahwa kerugian penurunan nilai diakui dalam laporan
keuangan. Non kas-menghasilkan aset, yang digunakan terutama untuk penyediaan
layanan, ditangani secara terpisah dalam IPSAS 21 Penurunan Non-Cash-Generating
Aset. IPSAS 26 berlaku efektif untuk pelaporan periode yang dimulai pada atau
setelah 1 April 2009.
27. IPSAS 27 : Pertanian
IPSAS 27 mengatur perlakuan akuntansi dan pengungkapan yang terkait dengan
kegiatan pertanian, hal yang tidak tercakup dalam standar lain. kegiatan pertanian
pengelolaan oleh entitas dari transformasi biologis hewan hidup atau tanaman (aktiva
biologi) untuk dijual atau untuk distribusi tanpa biaya atau dengan biaya nominal atau
untuk dikonversi menjadi hasil pertanian atau dalam aset biologis tambahan. IPSAS
27 terutama diambil dari IAS 41 IASB Pertanian, dengan perubahan terbatas
berurusan dengan isu-isu spesifik sektor publik. Sebagai contoh, IPSAS 27 alamat
aset biologis yang dimiliki untuk mentransfer atau distribusi tanpa biaya atau dengan
biaya nominal untuk lain badan-badan sektor publik atau tidak-untuk organisasi
nirlaba. 27 IPSAS juga mencakup persyaratan pengungkapan yang bertujuan untuk
meningkatkan konsistensi dengan dasar statistik akuntansi yang mengatur Statistik
Keuangan Pemerintah Manual. IPSAS 27 berlaku efektif untuk laporan keuangan
tahunan yang mencakup periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 April 2011,
dengan aplikasi sebelumnya dianjurkan.
28. IPSAS 28 : Instrumen Keuangan : Penyajian
IPSAS 28 menarik terutama pada IAS 32 dan menetapkan prinsip-prinsip penyajian
instrumen keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas dan saling hapus aset keuangan
dan kewajiban keuangan.
29. IPSAS 29 : Instrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran

IPSAS 29 menarik terutama pada IAS 39, menetapkan prinsip untuk pengakuan dan
pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dan kontrak untuk membeli atau
menjual item non-keuangan.
30. IPSAS 30 : Instrumen Keuangan : Pengungkapan
IPSAS 30 mengacu pada IFRS 7 dan membutuhkan pengungkapan jenis pinjaman
yang dijelaskan dalam IPSAS 29. Hal ini memungkinkan pengguna untuk
mengevaluasi: pentingnya instrumen keuangan dalam posisi keuangan entitas dan
kinerja, sifat dan tingkat risiko yang timbul dari instrumen keuangan yang entitas
yang terkena, dan bagaimana risiko-risiko tersebut dikelola.
31. IPSAS 31 : Aktiva tidak berwujud
IPSAS 31 meliputi akuntansi dan pengungkapan aktiva tidak berwujud. Hal ini
terutama diambil dari IAS 38 Aktiva Tidak Berwujud. Hal ini juga mengandung
ekstrak dari 32 Aktiva tidak berwujud-SIC Web Site Biaya, menambahkan panduan
aplikasi dan ilustrasi yang belum dimasukkan ke dalam IAS. Pada titik ini, IPSAS 31
tidak berhubungan dengan isu sektor unik publik, seperti kekuasaan dan hak-hak yang
diberikan oleh undang-undang, konstitusi, atau dengan cara setara; yang IPSASB
akan mempertimbangkan kembali penerapan standar ini kekuasaan dan hak-hak
dalam konteks yang konseptual kerangka kerja proyek yang saat ini sedang dalam
penyelesaian
B. Standar Akuntansi Pemerintahan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang
diterapkan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Pemerintah [1], yang terdiri
atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD), dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan akuntansi
pemerintahan, serta peningkatan kualitas LKPP dan LKPD.
SAP dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP),
yaitu SAP yang diberi judul, nomor, dan tanggal efektif. Selain itu, SAP juga dilengkapi
dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP dapat dilengkapi dengan
Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) atau Buletin Teknis
SAP.IPSAP dan Buletin Teknis SAP disusun dan diterbitkan oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan (KSAP) dan diberitahukan kepada Pemerintah dan Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK).Rancangan IPSAP disampaikan kepada BPK paling lambat empat belas hari kerja
sebelum IPSAP diterbitkan.
IPSAP dimaksudkan untuk menjelaskan lebih lanjut topik tertentu guna menghindari
salah tafsir pengguna PSAP.Sedangkan Buletin Teknis SAP dimaksudkan untuk mengatasi
masalah teknis akuntansi dengan menjelaskan secara teknis penerapan PSAP atau IPSAP.

1. Penetapan SAP
Sebelum dan setelah dilakukan publik hearing, Standar dibahas bersama dengan Tim
Penelaah Standar Akuntansi Pemerintahan BPK.Setelah dilakukan pembahasan
berdasarkan masukan-masukan KSAP melakukan finalisasi standar kemudian KSAP
meminta pertimbangan kepada BPK melalui Menteri Keuangan.Namun draf SAP ini
7

belum diterima oleh BPK karena komite belum ditetapkan dengan


Keppres.Suhubungan dengan hal tersebut, melalui Keputusan Presiden Nomor 84
Tahun 2004 dibentuk Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. Komite ini segera
bekerja untuk menyempurnakan kembali draf SAP yang pernah diajukan kepada BPK
agar pada awal tahun 2005 dapat segera ditetapkan.
2. SAP yang Berlaku di Indonesia
a) Pada tanggal 13 Juni 2005 Presiden menandatangani Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
b) Pada tahun 2010 diterbitkan PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, sehingga sejak saat itu PP No. 24 Tahun 2005 dinyatakan tidak
berlaku lagi. PP No. 71 Tahun 2010 mengatur penyusunan dan penyajian
laporan keuangan berbasis akrual.
3. PP No.71 Tahun 2010
SAP tercantum dalam dua lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010,
yaitu:
a) SAP Berbasis Akrual
Pemerintah menerapkan SAP Berbasis Akrual, yaitu SAP yang
mengakui pendapatan, beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan
finansial berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan
dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan
dalam APBN/APBD. SAP Berbasis Akrual tersebut dinyatakan dalam bentuk
PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan.
PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP
Berbasis Akrual dimaksud tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah
Nomor 71 Tahun 2010.
Penyusunan SAP Berbasis Akrual dilakukan oleh KSAP melalui proses
baku penyusunan (due process). Proses baku penyusunan SAP tersebut
merupakan pertanggungjawaban profesional KSAP yang secara lengkap
terdapat dalam Lampiran III Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
Yang membedakan antara Laporan Keuangan Perusahaan dengan Laporan
Keuangan Pemerintahan adalah terletak pada jenis bidang usaha yaitu
pelayanan publik serta nomor rekening perkiraan yang digunakan.
b) SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
Penerapan SAP Berbasis Akrual dilaksanakan secara bertahap dari
penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual menjadi penerapan SAP
Berbasis Akrual. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual yaitu SAP yang
mengakui pendapatan, belanja,dan pembiayaan berbasis
kas,
serta
mengakui aset, utang, dan ekuitas dana berbasis akrual. Ketentuan lebih lanjut
mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah
pusat diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.Ketentuan lebih lanjut
mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah
daerah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.Penerapan SAP
Berbasis Akrual secara bertahap dilakukan dengan memperhatikan urutan
persiapan dan ruang lingkup laporan.

SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dinyatakan dalam bentuk PSAP dan
dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. PSAP dan
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis
Kas Menuju Akrual tercantum dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah
Nomor 71 Tahun 2010.
Sebelumnya, SAP Berbasis Kas Menuju Akrual digunakan dalam SAP
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005. Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2003menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran
pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan
pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran
pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal 36 ayat (1) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 dilaksanakan paling lambat limatahun. Karena
itu, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 digantikan dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
4. Perubahan PSAP
Dalam hal diperlukan perubahan terhadap PSAP, perubahan tersebut diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari
BPK.Rancangan perubahan PSAP disusun oleh KSAP sesuai dengan mekanisme yang
berlaku dalam penyusunan SAP.Rancangan perubahan PSAP disampaikan oleh KSAP
kepada Menteri Keuangan.Menteri Keuangan menyampaikan usulan rancangan
perubahan PSAP kepada BPK untuk mendapat pertimbangan.Perubahan yang
dimaksud adalah penambahan, penghapusan, atau penggantian satu atau lebih PSAP.
C. Pelaporan Keuangan Entitas NirLaba (PSAK no 45 revisi 2011)
Karakteristik entitas nirlaba berbeda dengan entitas bisnis. Perbedaan utama yang
mendasar terletak pada cara entitas nirlaba memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk
melakukan berbagai aktivitas operasinya. Entitas nirlaba memperoleh sumber daya dari
pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi
yang sebanding dengan jumlah sumber daya yang diberikan.
1. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan untuk
memenuhi kepentingan pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan pembayaran
kembali, anggota, kreditur, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi
entitas nirlaba. Pihak pengguna laporan keuangan memililiki kepentingan bersama
dalam rangka menilai :
a) Jasa yang diberikan oleh entitas nirlaba dan kemampuannya untuk terus
memberikan jasa tersebut
b) Cara manajer melaksanakan tanggung jawab dan aspek lain dari kinerjanya
Secara rinci, tujuan laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan
keuangan, adalah untuk menyajikan informasi mengenai
a) Jumlah dan sifat aset, liabilitas, dan aset neto entitas nirlaba
b) Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah nilai dan sifat aset neto
c) Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam satu periode
dan hubungan antar keduanya
9

d) Cara entitas nirlaba mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh


pinjaman dan melunasi pinjaman, dan faktor lain yang berpengaruh terhadap
likuiditasnya
e) Usaha jasa entitas nirlaba
2. Laporan keuangan entitas nirlaba meliputi :
a) Laporan posisi keuangan
Tujuan laporan posisi keuangan yaitu menyediakan informasi mengenai aset,
liabilitas, dan aset neto serta informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur
tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang
digunakan bersama pengungkapan, dan informasi dalam laporan keuangan lain
dapat membantu pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan pembayaran
kembali, anggota, kreditur, dan pihak lain untuk menilai :
Kemampuan entitas nirlaba untuk memberikan jasa secara berkelanjutan
Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi
kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal.
Laporan posisi keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, menyediakan
informasi yang relevan mengenai likuiditas, fleksibilitas keuangan, dan hubungan
antara aset dan lliabilitas. Informasi tersebut umumnya disajikan dengan
pengumpulan aset dan liabilitas yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu
kelompok yang relatif homogen. Sebagai contoh, entitas nirlaba biasanya melaporkan
masing-masing unsur aset dalam kelompok yang homogen, seperti :
Kas dan setara kas
Piutang pasien, pelajar, anggota dan penerima jasa yang lain
Persediaan
Sewa, asuransi, dan jasa lain yang dibayar di muka
Instrumen keuangan dan investasi jangka panjang
Tanah, gedung, peralatan, serta aset tetap lain yang digunakan untuk
menghasilkan barang dan jasa
Informasi likuiditas diberikan dengan cara sebagai berikut :
Menyajikan aset berdasarkan urutan likuiditas, dan liabilitas berdasarkan
tanggal jatuh tempo
Mengelompokkan aset ke dalam lancar dan tidak lancar, dan liabilitas ke
dalam jangka pendek dan jangka panjang
Mengungkapkan informasi mengenai likuiditas aset atau saat jatuh tempo
liabilitas, termasuk pembatasan penggunaan aset, dalam catatan atas laporan
keuangan.
Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing kelompok aset neto
berdasarkan pada ada atau tidaknya pembatasan oleh pemberi sumber daya yang tidak
mengharapkan pembayaran kembali, yaitu : terikat secara permanen, terikat secara temporer,
dan tidak terikat. Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan permanen atau
temporer diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keungan atau
dalam catatan atas laporan keuangan.

10

Pembatasan permanen tehadap aset, seperti tanah atau karya seni, yang diberikan untuk
tujuan tertentu, untuk dirawat dan tidak untuk dijual; atau aset yang diberikan untuk investasi
yang mendatangkan pendapatan secara permanen dapat disajikan sebagai unsur terpisah
dalam kelompok aset neto yang penggunaannya dibatasi secara permanen atau disajikan
dalam catatan atas laporan keuangan. Pembatasan permanen kelompok kedua tersebut berasal
dari hibah atau wakaf dan warisan yang menjadi dana abadi. Pembatasan temporer terhadap
sumber daya berupa aktivitas operasi tertentu; investasi untuk jangka waktu tertentu;
penggunaan selama periode tertentu dimasa depan atau pemerolehan aset tetap; dapat
disajikan sebagai unsur terpisah dalam kelompok aset neto yang penggunaannya dibatasi
secara temporer atau disajikan dalam catatan atas laporan keuangan.
Aset neto tidak terikat umumnya meliputi pendapatan dari jasa, penjualan barang,
sumbangan, dan dividen atau hasil investasi, dikurangi beban untuk memperoleh pendapatan
tersebut.Batasan terhadap penggunaan aset neto tidak terikat dapat berasal dari sifat entitas
nirlaba.
b) Laporan aktivitas
Tujuan laporan aktivitas yaitu menyediakan informasi mengenai pengaruh transaksi
dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aset neto; hubungan antar transaksi dan
peristiwa lain; dan bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program
atau jasa. Laporan aktivitas mencakup entitas nirlaba secara keseluruhan dan menyajikan
perubahan jumlah aset neto selama suatu periode.Perubahan aset neto dalam laporan aktivitas
tercermin pada aset neto atau ekuitas dalam posisi keuangan.
Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan aset neto terikat permanen, terikat
temporer, dan tidak terikat suatu periode.
Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aset neto tidak terikat,
kecuali jika penggunaannya dibatasi oleh pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan
pembayaran kembali, dan menyajikan beban sebagai pengurang aset neto tidak terikat.
Sumber daya disajikan sebagai penambah aset neto tidak terikat, terikat permanen, atau
terikat temporer, bergantung pada ada tidaknya pembatasan. Dalam hal sumber daya terikat
yang pembatasannya tidak berlaku lagi dalam periode yang sama, dapat disajikan sebagai
sumber daya tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan diungkapkan sebagai
kebijakan akuntansi.
c) Laporan Arus kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah Menyajikan informasi mengenai penerimaan dan
pengeluaran kas dalam suatu periode.
Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK 2 (Revisi 2009) : Laporan Arus Kas atau SAK
ETAP Bab 7 dengan tambahan berikut ini
a. Aktivitas pendanaan
b. Penerimaan kas dari pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan pembayaran
kembali yang penggunaannya dibatasi dalam jangka panjang
c. Penerimaan kas dari pemberi sumber daya dan penghasilan invesetasi yang
penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aset
tetap, atau peningkatan dana abadi
11

d. Bunga dan dividen yang dibatasi penggunaannya dalam jangka panjang


e. Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan nonkas,
misalnya sumbangan berupa bangunan atau aset investasi.
Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui dari investasi dan
aset lain (atau liabilitas) sebagai penambah atau pengurang aset neto tidak terikat, kecuali jika
penggunaannya dibatasi. Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan beban secara
bruto, kecuali diatur berbeda oleh SAK lain atau SAK ETAP.
Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah aset neto tidak terikat,
kecuali jika penggunaanya dibatasi oleh pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan
pembayaran kembali, dan menyajikan beban sebagai pengurang aset neto tidak terikat.
Sumber daya disajikan sebagai penambah aset neto tidak terikat, terikat permanen, atau
terikat temporer, bergantung pada ada tidaknya pembatasan. Dalam hal sumber daya terikat
yang pembatasannya tidak berlaku lagi dalam periode yang sama, dapat disajikan sebagai
sumber daya tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan diungkapkan sebagai
kebijakan akuntansi.
Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui dari investasi dan
aset lain (atau liabilitas) sebagai penambah atau pengurang aset neto tidak terikat, kecuali jika
penggunaannya dibatasi. Laporan aktivitas atau catatan atas laporan keuangan menyajikan
informasi mengenai beban menurut klasifikasi fungsional, seperti menurut kelompok
program jasa utama dan aktivitas pendukung.
D. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
Dalam pelaksananaan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara
diperlukan suatu standar. Standar pemeriksaan keuangan negara adalah amanat dari UU
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara dan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Standar
Pemeriksaan diperlukan untuk menjaga kredibilitas serta profesionalitas dalam pelaksanaan
maupun pelaporan pemeriksaan baik pemeriksaan keuangan, kinerja, serta pemeriksaan
dengan tujuan tertentu.Standar Pemeriksaan Keuangan Negara ditetapkan dengan Peraturan
BPK Nomor 1 Tahun 2007 yang berlaku sejak 7 Maret 2007.
SPKN ini berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas,
program,kegiatan serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung
jawab Keuangan Negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SPKN berlaku bagi
BPK atau akuntan publik serta pihak lain yang diberi amanat untuk melakukan pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara untuk dan atas nama BPK. SPKN juga
dapat menjadi acuan bagi aparat pengawasan internal pemerintah maupun pihak lain dalam
penyusunan standar pengawasan sesuai kedudukan, tugas, dan fungsinya.
Tujuan SPKN adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi
pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara.Pemeriksaan Pengeloaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dalam rangka
mewujudkan akuntabilitas publik adalah bagian dari reformasi bidang keuangan negara yang
dimulai sejak tahun 2003. Pengertian pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara
mencakup akuntabilitas yang harus diterapkan semua entitas oleh pihak yang melakukan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.Akuntabilitas diperlukan untuk dapat
12

mengetahui pelaksanaan program yang dibiayai dengan keuangan negara, tingkat


kepatuhannya terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta untuk
mengetahui tingkat kehematan, efisiensi, dan efektivitas dari program tersebut.
Setiap pemeriksaan dimulai dengan penetapan tujuan dan penentuan jenis pemeriksaan yang
akan dilaksanakan serta standar yang harus diikuti oleh pemeriksa. Jenis pemeriksaan yang
diuraikan dalam SPKN meliputi: pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan.Pemeriksaan
keuangan tersebut bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable
assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis
akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang
terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.
Contoh tujuan pemeriksaan atas hasil dan efektivitas program serta pemeriksaan atas
ekonomi dan efisiensi adalah penilaian atas:
a. Sejauh mana tujuan peraturan perundang-undangan dan organisasi dapat dicapai
b. Kemungkinan alternatif lain yang dapat meningkatkan kinerja program atau
menghilangkan faktor-faktor yang menghambat efektivitas program
c. Perbandingan antara biaya dan manfaat atau efektivitas biaya suatu program
d. Sejauh mana suatu program mencapai hasil yang diharapkan atau menimbulkan
dampak yang tidak diharapkan
e. Sejauh mana program berduplikasi, bertumpang tindih, atau bertentangan dengan
program lain yang sejenis
f. Sejauh mana entitas yang diperiksa telah mengikuti ketentuan pengadaan yang sehat
g. Validitas dan keandalan ukuran-ukuran hasil dan efektivitas program, atau ekonomi
dan efisiensi
h. Keandalan, validitas, dan relevansi informasi keuangan yang berkaitan dengan kinerja
suatu program.
Standar Umum
Standar umum memberikan kerangka dasar untuk dapat menerapkan standar
pelaksanaan dan standar pelaporan secara efektif yang dijelaskan pada pernyataan standar
berikutnya. Dengan demikian, standar umum ini harus diikuti oleh semua pemeriksa dan
organisasi pemeriksa yang melakukan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara. Beberapa standar umum yang termuat dalam PSP Nomor 01 sebagai
berikut:
a. Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk
melaksanakan tugas pemeriksaan
b. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa
dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan
pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya
c. Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan,
pemeriksawajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama

13

d. Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN


harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian
mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu
ekstern).
Standar umum yang termuat dalam PSP Nomor 02 yaitu standar pelaksanaan
pemeriksaan keuangan. Untuk pemeriksaan keuangan, SPKN memberlakukan tiga
pernyataan standar pekerjaan lapangan SPAP yang ditetapkan IAI, berikut ini:
a. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan tenaga
asisten harus disupervisi dengan semestinya
b. Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan
dilakukan
c. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan
pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan yang diaudit
SPKN juga memberikan standar pelaksanaan tambahan sebagai berikut:
a. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat,
lingkup pengujian, pelaporan yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada
manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang meminta pemeriksaan
b. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnyaserta tindak lanjut
atas rekomendasi yang signifikan dan berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang
sedang dilaksanakan
c. (1)Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan keyakinan yang
memadai guna mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan
material terhadap penyajian laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi
perhatian pemeriksa, diantaranya informasi tersebut memberikan bukti yang berkaitan
dengan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berpengaruh material tetapi tidak langsung berpengaruh terhadap kewajaran penyajian
laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur pemeriksaan tambahan
untuk memastikan bahwa penyimpangan dari ketentuan peraturan perundangundangan telah atau akan terjadi;
(2) Pemeriksa harus waspada pada kemungkinan adanya situasi dan/atau peristiwa
yang merupakan indikasi kecurangan dan/atau ketidakpatutan dan apabila timbul
indikasi tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran penyajian laporan
keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur pemeriksaan tambahan untuk
memastikan
bahwa
kecurangan
dan/atau
ketidakpatutan telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan
d. Pemeriksa harus merencanakan dan melaksanakan prosedur pemeriksaan untuk
mengembangkan unsur-unsur temuan pemeriksaan
e. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam
bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan dengan
14

perencanaan, pelaksanaan, danpelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang


cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi
pemeriksaan tersebut dapat menjadibukti yang mendukung pertimbangan dan
simpulan pemeriksa. Dokumentasi pemeriksaan harus mendukung opini,
temuan,simpulan dan rekomendasi pemeriksaan.
Standar umum yang termuat dalam PSP Nomor 03 tentang standar pelaporan pemeriksaan
keuangan. Untuk pemeriksaan keuangan, SPKN memberlakukan empat standar pelaporan
SPAP yang ditetapkan IAI berikut ini:
a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang lain
yang berlaku secara komprehensif (PSAP).
b. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip
akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya
c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan audit
d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat
diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya
harus Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan dinyatakan. Dalam hal nama auditor
dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat petunjuk yang
jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung
jawab yang dipikul auditor.
SPKN juga memberikan standar pelaporan tambahan sebagai berikut:
a. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai
dengan SPKN
b. Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa
pemeriksa telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian
laporan keuangan
c. Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam
pengendalian intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai kondisi yang
dapat dilaporkan
d. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian
intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, dan
ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang
bertanggung jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan dan rekomendasi
serta tindakan koreksi yang direncanakan
e. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan.
Namun laporan hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak
15

dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan


tidak dilaporkannya informasi tersebut
f. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang
diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa,
pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan
kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Standar umum yang termuat dalam PSP Nomor 04 tentang standar pelaksanaan
pemeriksaan kinerja. Untuk pelaksanaan pemeriksaan kinerja, SPKN memberikan beberapa
standar sebagai berikut:
a. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai
b. Staf harus disupervisi dengan baik
c. Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus diperoleh untuk menjadi dasar yang
memadai bagi temuan dan rekomendasi pemeriksa
d. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumen pemeriksaan dalam
bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang
cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumen
pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung temuan, simpulan, dan
rekomendasi pemeriksa.
PSP 05 : Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja. Untuk pelaporan pemeriksaan
kinerja, SPKN memberikan beberapa standar sebagai berikut:
a. Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan untuk mengkomunikasikan
setiap hasil pemeriksaan
b. Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup:
Pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan SPKN
Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
Hasil pemeriksaan berupa temuan pemeriksaan, simpulan, dan rekomendasi
Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan
Pelaporan informasi rahasia apabila ada
Pernyataan bahwa Pemeriksaan Dilakukan Sesuai dengan SPKN
c. Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu, lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan,
serta jelas, dan seringkas mungkin
d. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang
diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa,
pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan
kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PSP 06 : Standar pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Untuk pemeriksaan
dengan tujuan tertentu, SPKN memberlakukan dua pernyataan standar pekerjaan lapangan
perikatan/penugasan atestasi SPAP yang ditetapkan IAI berikut ini:
16

a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus


disupervisi dengan semestinya
b. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan
yang dinyatakan dalam laporan.
SPKN juga memberi standar pelaksanaan tambahan sebagai berikut:
a. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, dan
lingkup pengujian serta pelaporan yang direncanakan atas hal yang akan dilakukan
pemeriksaan, kepada manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang meminta
pemeriksaan
b. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya serta tindak
lanjut atas rekomendasi yang signifikan dan berkaitan dengan hal yang diperiksa
c. Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk eksaminasi
dan merancang prosedur untuk mencapai tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus
memperoleh pemahaman yang memadai tentang pengendalian intern yang sifatnya
material terhadap hal yang diperiksa
d. (1) Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk
eksaminasi, pemeriksa harus merancang pemeriksaan dengan tujuan untuk
memberikan keyakinan yang memadai guna mendeteksi kecurangan dan
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak
material terhadap hal yang diperiksa.
(2) Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk reviu
atau prosedur yang disepakati, pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau
peristiwa yang mungkin merupakan indikasi kecurangan dan penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan.Apabila ditemukan indikasikecurangan
dan/atau penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang secara
material mempengaruhi hal yang diperiksa, pemeriksa harus menerapkan prosedur
tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau penyimpangan tersebut telah
terjadi dan menentukan dampaknya terhadap halyang diperiksa.(3)Pemeriksa harus
waspada terhadap situasi dan/atau peristiwa yang mungkin merupakan indikasi
kecurangan dan/atau ketidakpatutan, dan apabila ditemukan indikasi tersebut serta
berpengaruh signifikan terhadap pemeriksaan, pemeriksa harus menerapkan prosedur
tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau ketidakpatutan tersebut telah
terjadi dan menentukan dampaknya terhadap hasil pemeriksaan;
e. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam
bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang
cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi
pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan
simpulan pemeriksa.
PSP 07 : Standar pelaporan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

17

Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, SPKN memberlakukan empat pernyataan


standar pelaporan perikatan/penugasan atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI sebagai
berikut:
a. Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan
atestasi yang bersangkutan
b. Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai
alat pengukur
c. Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang
perikatan dan penyajian asersi
d. Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun berdasarkan
kriteria yang disepakati atau berdasarkan suatu perikatan untuk melaksanakan
prosedur yang disepakati harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan
pemakaian laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur
tersebut.
SPKN juga memberikan standar pelaporan tambahan sebagai berikut:
a. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai
dengan SPKN
b. Laporan Hasil Pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus mengungkapkan:
Kelemahan pengendalian internal yang berkaitan dengan hal yang diperiksa
Kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangantermasuk
pengungkapan atas penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan
perdata,
maupun
penyimpangan
yang
mengandung unsur tindak pidana yang terkait dengan hal yang diperiksa
Ketidakpatutan yang material terhadap hal yang diperiksa
c. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian
intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, dan
ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang
bertanggung jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan dan simpulan serta
tindakan koreksi yang direncanakan
d. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan.
Namun laporan hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak
dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan
tidak dilaporkannya informasi tersebut
e. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang
diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa,
pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan
kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

18

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sifat regulasi disektor publik setiap jenis bersifat lebih spesifik untuk setiap organisasi.
Pada instansi pemerintah, regulasi yang digunakan cenderung lebih rumit dan detail.
Standar akuntansi adalah regulasi atau aturan (termasuk pula hukum dan anggaran
dasar yang mengatuir penyusunan laporan keuangan. Penetapan standar adalah proses
perumusan atau formulasi standar akuntansi.

19

DAFTAR PUSTAKA
Nordiawan, Deddi, Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat
http://akuntansi-asp.blogspot.com/2012/03/perkembangan-regulasi-dan-standar.html
http://kedebok.blogspot.com/2013/03/akuntansisektor-publik-pokokpembahasan_21.html

20

21