Anda di halaman 1dari 16

ABSTRAK

Sedimentasi merupakan proses pengolahan air dengan menggunakan proses pengendapan


partikel-partikel zat padat dalam suatu cairan sebagai akibat gaya gravitasi baik individu
atau bersama-sama sehingga menghasilkan cairan yang lebih jernih dan suspensi yang lebih
kental. Pada percobaan kali ini, praktikan menggunakan air rawa di bawah jembatan kupukupu UR. Percobaan ini bertujuan untuk menjernihkan air rawa dengan memanfaatkan
tawas dan variasi waktu detensi sedimentasi serta menghitung efisiensi Total Suspended
Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), dan konduktivitas air.. Pada percobaan kali ini, air
rawa tersebut diolah dengan proses sedimentasi memanfaatkan tawas sebagai koagulen.
Penambahan tawas dilakukan sebanyak 500 gram sebelum sedimentasi. Dengan waktu
detensi 30 menit, 60 menit dan 90 menit. Efisiensi Total Suspended Solid (TSS), Total
Dissolved Solid (TDS), dan konduktivitas yang terdapat dalam air kemudian diukur sebelum
dan sesudah sedimentasi. TSS pada sampel air setelah sedimentasi pada waku detensi 30
menit, 60 menit dan 90 menit mengalami penurunan menjadi 2000, 1000 dan 1000 ppm
berturut-turut. Sedangkan konsentrasi TDS menjadi 619, 613 dan 610 ppm. Efisiensi akhir
penurunan TSS pada air setelah pengolahan ialah 61,9 %. Nilai konduktivitas air setelah
sedimentasi pada watu 0 detik 1283S/cm, sedangkan nilai pada waktu 30, 60 dan 90 menit
adalah 1285 S/cm, 1307 dan 1271 S/cm.

Kata kunci : Sedimentasi, waktu detensi, TDS, TSS, Konduktivitas.

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Air merupakan salah satu kebutuhan bagi kehidupan manusia. Tubuh manusia

terdiri dari air kira-kira 70 % dari berat badannya. Untuk kelangsungan hidup,
manusia membutuhkan air yang jumlahnya tergantung pada berat badan.
Menurut kandungan mineral, air dikelompokkan dalam beberapa jenis yaitu
air lunak dan air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung ion-ion kalsium,
magnesium, klorida, sulfat dan besi. Air lunak adalah air yang sedikit sekali
mengandung garam-garam kalsium dan magnesium. Air sadah dibagi atas 2 yaitu air
sadah sementara dan air sadah tetap dimana air sadah sementara disebabkan oleh
bikarbonat dan dapat dihilangkan dengan cara pemanasan, sedangkan air sadah
permanen yaitu disebabkan oleh ion klorida atau sulfat yang bersenyawa dengan
kalsium ataupun magnesium. Jumlah antara kesadahan tetap dan kesadahan
sementara disebut kesadahan total.
Air sadah dapat menyebabkan kerak pada pipa-pipa dan dapat membentuk
endapan yang dapat mengurangi luas penampang pipa dan dapat menyebabkan
berkurangnya daya kerja sabun sehingga pemakaian sabun akan bertambah.
Kesadahan air yang tinggi juga dapat merusak peralatan-peralatan yang terbuat dari
besi yaitu melalui proses perkaratan, yang dapat menyebabkan proses industri
terganggu. Karena air yang dianggap bermutu baik adalah air yang mempunyai
kesadahan yang rendah (Banurea, 2008).
Dari data statistik 1995, prosentasi banyaknya rumah tangga dan sumber air minum
yang digunakan di berbagai daerah di Indonesia sangat bervariasi tergantung dari kondisi
geografisnya. Secara nasional yakni sebagai berikut: yang menggunakan air leding (PAM)
16,08 %, air tanah dengan memakai pompa 11,61 %, air sumur 49,92 %, mata air 13,92, air
sungai 4,91 %, air hujan 2,62 % dan lainnya 0,80 % (Banurea, 2008).

1.2

Tujuan Percobaan

1. Menjelaskan proses pengolahan air bersih


2. Menghitung efisiensi penyisihan bahan pencemar dari sumber air

3. Menganalisa

hubungan

variabel

perlakuan

terhadap

penyisihan

bahan

pencemaran
1.3
Teori
1.3.1 Air
Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan,
terutama penyakit perut. Peningkatan kualitas air minum dengan jalan mengadakan
pengelolaan terhadap air yang akan diperlukan sebagai air minum dengan mutlak
diperlukan. Oleh karena itu dalam praktek sehari-hari maka pengolahan air adalah
menjadi pertimbangan yang utama untuk menentukan apakah sumber tersebut bisa
dipakai sebagai sumber persediaan atau tidak.
Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang
dinamakan Cyclus Hydrologie. Dengan adanya penyinaran matahari, maka semua
air yang ada di permukaan bumi akan bersatu dan berada ditempat yang tinggi yang
sering dikenal dengan nama awan. Oleh angin, awan ini akan terbawa, makin lama
makin tinggi dimana temperatur diatas semakin rendah, yang menyebabkan titik-titik
air akan jatuh kebumi sebagai hujan. Air hujan ini sebagian mengalir kedalam tanah,
jika menjumpai lapisan rapat air, maka perserapan akan berkurang, dan sebagian air
akan mengalir diatas lapisan rapat air ini. Jika air ini keluar pada permukaan bumi,
umumnya berbentuk sungai-sungai dan jika melalui suatu tempat rendah (cekung)
maka air akan berkumpal, membentuk suatu danau atau telaga. Tetapi banyak
diantaranya yang mengalir ke laut kembali dan kemudian akan mengikuti siklus
hidrologi ini (goula, 2008).
Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas
air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas
air untuk keperluan domestik yang semakin turun. Kegiatan industri, domestik, dan
kegiatan yang lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, menyebabkan
penurunan kualitas air. Kondisi ini menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya
bagi semua makhluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu,
pengolahan sumber daya air sangat penting agar dimanfaatkan secara berkelanjutan
dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah pengelolaan yang dilakukan

adalah pemantauan dan interprestasi data kualitas air, mencakup kualitas fisika,
kimia, dan biologi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20
tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air mendefenisikan kualitas air sebagai
sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain didalam air.
Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter, yaitu parameter fisika (suhu,
kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, BOD, COD, kadar
logam, dan sebagainya). Dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan
sebagainya).
Berdasarkan peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan
kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukkannya. Adapun
pengolonggan air menurut (Banurea, 2008) adalah sebagai berikut:
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air
minum.
3. GolonganC, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan
dan pertenakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan
1.3.2

pertanian, usaha di perkotaan, industri, dan pembangkit tenaga listrik.


Sumber Air
Secara garis besar air dapat dikatakan bersumber dari :
1. Laut : air laut
2. Darat : air tanah dan air permukaan
3. Udara : air hujan dan air atmosfer
Masing-masing sumber air diatas yaitu :
1. Air laut
Air yang dijumpai didalam alam berupa air laut sebanyak 80%,
sedangkan sisanya berupa air tanah/daratan, es, salju, dan hujan. Air laut
turut menentukan iklim dan kehidupan didunia. Kadar garam pada air laut
bervariasi dari setiap tempat (Banurea, 2008).
2. Air tanah
Air tanah terbagi atas :
a. Air tanah dangkal

Terjadi karena proses peresapan air dari permukaan tanah. Lumpur


akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah
akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia, karena melalui
lapisan tanah yang mengandung unsur-unsur kimia tertentu untuk masingmasing lapisan tanah.
b. Air tanah dalam
Terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah
dalam, tidak semudah padaair tanah dangkal, dan harus menggunakan bor
dan memasukkan pipa kedalamnya sehingga dengan kedalaman tertentu
akan didapatkan lapisan air.
c. Mata air
Adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya kepermukaan tanah.
Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruhi oleh
musim dan kualitasnya sama dengan air dalam.
d. Air permukaan
Adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya
air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya seperti
lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota dan
sebagainya.
e. Air hujan
Dalam keadaan murni, sangat bersih, karena dengan adanya
pengotoran udara yang disebabkan oleh kotoran-kotoran industri/debu dan
lain sebagainya. Selain itu air hujan mempunyai sifat agresif terutama
terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini
akan mempercepat terjadinya korosi. Juga air hujan ini mempunyai sifat
lunak, sehingga akan boros terhadap penggunaan sabun.
Berdasarkan analisis air maka air digolongkan dalam 3 yaitu;
1.

Air kotor/air tercemar


Air yang bercampur dengan satu atau berbagai campuran hasil

buangan yang disebut air tercemar/air kotor.


2. Air bersih
Air bersih adalah air yang sudah terpenuhi syarat fisik, kimia namun
bakteriologi belum terpenuhi. Air bersih ini diperoleh dari sumur gali,
sumur bor, air hujan, air dari sumber mata ai.

3. Air siap diminum/air minum


Air siap minum/air minum ialah air yang sudah terpenuhi sifat fisik,
kimia maupun bakteriologi serta level kontaminasi maksimum (LKM).
Level kontaminasi maksimum meliputi sejumlah zat kimia, kekeruhan dan
bakteri coliform yang diperkenankan dalam batas-batas aman (hafni,
2012)
1.3.3

Pengolahan Air
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah

dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu pengolahan
secara fisika, kimia, dan biologi. Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode
pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
a. Pengolahan Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,
diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap
atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening)
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang
berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses
pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di
dalam bak pengendap.
Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang
mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan
berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan
tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan
memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk
mendahului

proses

adsorbsi

atau

reverse

osmosis-nya,

dilaksanakan

untuk

menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak
mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam
proses osmosa.

Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan


senyawa aromatik (misal: fenol) dan senyawa organik terlarut lain, terutama jika
diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran
(reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama
jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah.

Gambar 2. 1. Skema Diagram pengolahan fisika


b. Pengolahan Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa
fosfor, dan zat organik beracun, dengan membubuhkan bahan kimia yang diperlukan.
Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat
bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan
(flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga
berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan
membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan
koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat

diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan


membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan
hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut
akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus
untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH) 3],
terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor
(FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).
Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada
konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl 2),
kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.Pada dasarnya kita dapat
memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya
pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.

Gambar 2.2 skema pengolahan secara kimiawi

c. Pengolahan secara biologi


Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai
pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan
yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang
berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.Pada dasarnya,
reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reactor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reactor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan
berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal
berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan
berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch
mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai
85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit.
Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai
kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam).
Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses
absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD
tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
Kolam oksidasi dan lagoon, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan
tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 1218 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup
untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di
dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.Di dalam
reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung
dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi
telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1. Trickling filter
2. Cakram biologi
3. Filter terendam
4. Reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar
80%-90%. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian
secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.

Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat
dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l,
proses anaerob menjadi lebih ekonomis (Hafni, 2012).

Gambar 2.3. Skema Diagram pengolahan Biologi

1.3.4

Proses pengolahan air


a. sedimentasi
Sedimentasi merupakan proses pengendapan partikel-partikel zat padat

dalam suatu cairan sebagai akibat gaya gravitasi baik individu atau bersama-sama
sehingga menghasilkan cairan yang lebih jernih dan suspensi yang lebih kental.
Flok yang terbentuk pada proses flokulasi diharapkan akan mengendap akibat
gaya beratnya sendiri pada unit sedimentasi ini. Sehingga bila terjadi pengendapan
lebih dahulu pada unit sebelumnya atau sesudah unit ini maka perlu dipertanyakan
perencanaan proses flokulasi dan sedimentasinya. Klasifikasi sedimentasi
didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan partikel untuk berinteraksi.
Klasifikasi ini dapat dibagi kedalam empat tipe, yaitu:

10

1. Settling tipe I: pengendapan partikel diskrit, partikel mengendap secara


individual dan tidak ada interaksi antar-partikel.
2. Settling tipe II: pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antarpartikel sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan
bertambah.
3. Settling tipe III: pengendapan pada lumpur biologis, dimana gaya antar
partikel saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
4. Settling tipe IV: terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang
terjadi karena berat partikel.
b. Ion Exchange
Merupakan salah satu metoda penghilangan mineral air yang berfungsi
untuk menukar ion dan menghilangkan ion-ion yang berbahaya. Air yang telah
melewati filtrasi yang masih mengandung kesadahan, akan dilewatkan melalui
kolom penukar ion. Sebagai media penukar ion, maka resin penukar ion harus
memenuhi syarat sebagai berikut :

Memiliki kapasitas penukaran ion yang tinggi


Kelarutan yang rendah dalam berbagai larutan
Memiliki kestabilan kimia yang tinggi
Memiliki kestabilan fisik yang tinggi
Ada 2 macam resin penukar ion, yaitu resin penukar anion (anion

exchange resin) yaitu kemampuan menyerap/menukar anion-anion yang ada


dalam air dan resin penukar kation (kation exchange resin) yaitu kemampuan
menyerap/menukar kation-kation seperti Ca, Mg, Na yang ada dalam air
(kusnaedi, 2004).
1.3.5

Tawas
Tawas

adalah

garam

sulfat

terhidrat

dengan

formula

M+,

M3+ (SO4)2.12H2O. M+ merupakan kation univalen, umumnya Na+, Fe+, Cr+,


Ti3+atau Co3+. Aluminium sulfat biasanya dihasilkan oleh reaksi antara aluminium
hidroksida (atau bahan baku aluminium lainnya seperti bauksit atau kaolin) dan
asam sulfat, produk yang dihasilkan berupa padatan terhidrat dan larutan. Ada dua
macam prosedur untuk reaksi, yaitu reaksi terus menerus dan batch.
Aluminium

sulfat

cair

dalam

banyak

kasus

diperoleh

setelah

mengencerkan aluminium sulfat hidrat yang solid dalam air. Proses ini hanya

11

menghasilkan emisi udara dan air. Untuk pembuatan aluminium sulfat sebagai
padatan, campuran yang keluar dari reaktor dikirim tabung pendingin, flaker atau
kotak pembekuan sesuai dengan bentuk yang diperlukan. Perawatan lebih lanjut
mungkin

termasuk

penghancuran,

penggilingan,

penyaringan

sebelum

dilakukannya pengemasan. Proses ini menghasilkan air limbah dan emisi udara
yang mengandung partikulat.
Tawas ada 4 macam, yaitu:
1.

Natrium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas natrium) dengan


formula NaAl(SO4)2. 12H2O

2.

Kalium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas kalium) dengan rumus


KAl(SO4)2. 12H2OAmonium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas
amonium) dengan formula NH4Al(SO4)2.12H2O.

3.

Kalium kromium(III) sulfat dodekahidrat (tawas kromium) dengan


formula KCr(SO4)2.12H2O

4.

Amonium besi(III) sulfat dodekahidrat (tawas besi(II)) dengan


formula NH4Fe(SO4)2.12H2O

12

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
1. Bak pengendapan/sedimentasi Rectangular
2. Oven
3. Gelas ukur 100 ml
4. Tanki rerata
5. Kertas saring
6. TDS meter
7. Gelas piala 50 ml dan 100 ml
2.1.2 Bahan
1. Aquades
2. Tawas
3. Air kolam
2.1.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan air kolam, alat dipastikan dapat mengalirkan air ke bak
pengendapan, mudah diamati dan dioperasikan.
2. Kemudian air kolam diberi tawas sebanyak 500 g. Lalu diaduk merata
selama 10 menit .
3. Sebelum sampel air dialirkan ke bak pengendapan ukur nilai TSS dan
TDS sampel.
4. Alirkan sampel air ke dalam bak equalisasi dengan variasi perlakuan,
yaitu dengan waktu detensi 30 menit, 60 menit dan 90 menit
5. Periksa TSS dan TDS air yang keluar dari bak sedimentasi.

13

DAFTAR PUSTAKA
Banurea, Irmaliasari. 2008. Penentuan Kadar Kesadahan Total Air Baku dan Air
Bersih Dengan Titrasi Kompleksometri di PT Inalum Kuala Tanjung.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13928/1/09E00336.pdf.
diakses 20 Oktober 2016.
Goula, A. M., Kostoglou, M., Karapantsios, T.D., Zouboulis, A.I., 2008. The effect of
influent temperature variations in a sedimentation tank for potable water treatment
A computational fluid dynamics study. Water Research, Vol, 42 Hal 3405-3415

Hafni, 2012. Proses Pengolahan Air Bersih Pada PDAM Padang. Jurnal momentum,
Vol.13 No.2. Agustus 2012
Kusnaedi. 2004. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Jakarta: Puspa
Swara

14

15

16