Anda di halaman 1dari 43

Ekonomi Mikro

1. Pengertian Ekonomi Mikro


Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu
ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga
pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan.
Ekonomi

mikro

meneliti

bagaimana

berbagai

keputusan

dan

perilaku

tersebut

memengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga;
dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan
jasa selanjutnya.[1][2] Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara
optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan
dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus).
Kebalikan dari ekonomi mikro ialah ekonomi makro, yang membahas aktivitas ekonomi
secara keseluruhan, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran,
berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan[1], serta dampak atas beragam tindakan
pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap hal-hal tersebut.[3]
2. Tujuan Ekonomi Mikro
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisis pasar beserta mekanismenya yang
membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi dari sumber terbatas di antara
banyak penggunaan alternatif.
Ekonomi mikro menganalisis kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam memproduksi
hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi
suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang penelitian yang penting dalam ekonomi
mikro, meliputi pembahasan mengenai keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan
pasar dalam informasi asimetris, pilihan dalam situasi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi
ekonomi

dari teori

permainan.

Juga

mendapat

perhatian

ialah

pembahasan

mengenai elastisitas produk dalam sistem pasar.


3. Asumsi dan definisi
Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar
persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam
pasar, dan tidak satupun di antara mereka memiliki kapasitas untuk memengaruhi harga
barang dan jasa secara signifikan.

Dalam berbagai transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini ternyata gagal, karena beberapa
individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki kemampuan untuk memengaruhi harga.
Seringkali, dibutuhkan analisis yang lebih mendalam untuk memahami persamaan
penawaran-permintaan terhadap suatu barang. Bagaimanapun, teori ini bekerja dengan baik
dalam situasi yang sederhana.

Model permintaan dan penawaran menjelaskan bagaimana harga beragam sebagai hasil dari
keseimbangan antara ketersediaan produk pada tiap harga (penawaran) dengan kebijakan
distribusi dan keinginan dari mereka dengan kekuatan pembelian pada tiap harga
(permintaan). Grafik ini memperlihatkan sebuah pergeseran ke kanan dalam permintaan dari
D1 ke D2 bersama dengan peningkatan harga dan jumlah yang diperlukan untuk mencapai
sebuah titik keseimbangan (equibilirium) dalam kurva penawaran (S).

Ekonomi arus utama (mainstream economics) tidak berasumsi apriori bahwa pasar lebih
disukai daripada bentuk organisasi sosial lainnya. Bahkan, banyak analisis telah dilakukan
untuk membahas beragam kasus yang disebut "kegagalan pasar", yang mengarah pada
alokasi sumber daya yang suboptimal, bila ditinjau dari sudut pandang tertentu (contoh
sederhananya ialah jalan tol, yang menguntungkan semua orang untuk digunakan tetapi tidak
langsung menguntungkan mereka untuk membiayainya). Dalam kasus ini, ekonom akan
berusaha untuk mencari kebijakan yang akan menghindari kesia-siaan langsung di bawah
kendali pemerintah, secara tidak langsung oleh regulasi yang membuat pengguna pasar untuk

bertindak sesuai norma konsisten dengan kesejahteraan optimal, atau dengan membuat "pasar
yang hilang" untuk memungkinkan perdagangan efisien di mana tidak ada yang pernah
terjadi sebelumnya. Hal ini dipelajari di bidangtindakan kolektif. Harus dicatat juga bahwa
"kesejahteraan optimal" biasanya memakai norma Pareto, di mana dalam aplikasi
matematisnya efisiensi Kaldor-Hicks, tidak konsisten dengan norma utilitarian dalam sisi
normatif

dari

ekonomi

yang

mempelajari

tindakan

kolektif,

disebut

pilihan

masyarakat/publik. Kegagalan pasar dalam ekonomi positif (ekonomi mikro) dibatasi dalam
implikasi tanpa mencampurkan kepercayaan para ekonom dan teorinya.
Permintaan untuk berbagai komoditas oleh perorangan biasanya disebut sebagai hasil dari
proses maksimalisasi kepuasan. Penafsiran dari hubungan antara harga dan kuantitas yang
diminta dari barang yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain, pilihan
pengaturan seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para konsumen.
Model operasi
Diasumsikan bahwa semua perusahaan mengikuti pembuatan keputusan rasional, dan akan
memproduksi pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Dalam asumsi ini, ada empat
kategori di mana keuntungan perusahaan akan dipertimbangkan:

Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan ekonomi ketika average


total cost lebih rendah dari setiap produk tambahan pada keluaran maksimalisasi
keuntungan. Keuntungan ekonomi adalah setara dengan kuantitas keluaran dikali dengan
perbedaan antara average total cost dan harga.

Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan normal ketika keuntungan


ekonominya sama dengan nol. Keadaan ini terjadi ketika average total cost setara dengan
harga pada keluaran maksimalisasi keuntungan.

Jika harga adalah di antara average total cost dan average variable cost pada keluaran
maksimalisasi keuntungan, maka perusahaan tersebut dalam kondisi kerugian minimal.
Perusahaan ini harusnya masih meneruskan produksi, karena kerugiannya akan makin
membesar jika berhenti produksi. Dengan produksi terus menerus, perusahaan bisa
menaikkan biaya variabel dan akhirnya biaya tetap, tetapi dengan menghentikan
semuanya akan mengakibatkan kehilangan semua biaya tetapnya.

Jika harga di bawah average variable cost pada maksimalisasi keuntungan,


perusahaan harus melakukan penghentian. Kerugian diminimalisir dengan tidak
memproduksi sama sekali, karena produksi tidak akan menghasilkan keuntungan yang
cukup signifikan untuk membiayai semua biaya tetap dan bagian dari biaya variabel.

Dengan tidak berproduksi, kerugian perusahaan hanya pada biaya tetap. Dengan
kehilangan biaya tetapnya, perusahaan menemui tantangan. Akan keluar dari pasar
seutuhnya atau tetap bersaing dengan risiko kerugian menyeluruh.
Kegagalan pasar
Dalam ekonomi mikro, istilah "kegagalan pasar" tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi
berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi di mana sebuah pasarefisien dalam
mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai
istilah ini pada situasi di mana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan
bahwa institusi non pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks
politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi saat
pasar dipaksa untuk tidak melayani "kepentingan publik", sebuah pernyataan subyektif yang
biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial.
Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :

Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar di mana
"sebuah" pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau
keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan undangundang anti-trust.[4]

Eksternalitas, di mana terjadi dalam kasus di mana "pasar tidak dibawa kedalam akun
dari akibat aktivitas ekonomi di dalam orang luar/asing." Ada eksternalitas positif dan
eksternalitas negatif.[4] Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti di mana program
kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif
terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air.
Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi,
atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan
untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya.

Barang

publik seperti pertahanan

nasional[4] dan

kegiatan

dalam kesehatan

publik seperti pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk
diserahkan pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin akan
dibasmi. Untuk menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya
menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pada
barang publik tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif
pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial).

Kasus di mana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang
inefisien)[4]. Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki
informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjual yang
lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi
dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui
bagaimana mobil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi
yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh di mana pembeli memiliki informasi lebih baik
dari penjual merupakan penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian
penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki
informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan.
Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminar tentang
kesehatan tahun 1963 berjudul "ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari
Kepedulian

Kesehatan,

"

di

dalam American

Economic

Review. George

Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya pada tahun
1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari bahwa, dalam pasar seperti itu, nilai
rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat
sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui
apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah "lemon" (produk yang
menyesatkan).
Biaya peluang
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) kadang-kadang sulit untuk dihitung, efek dari
biaya peluang sangatlah universal dan nyata pada tingkat perorangan. Bahkan, prinsip ini
dapat diaplikasikan kepada semua keputusan, dan bukan hanya bidang ekonomi. Sejak
kemunculannya dalam karya seorang ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser,
sekarang biaya peluang dilihat sebagai dasar dari teori nilai marjinal.
Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan dari sesuatu biaya.
Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga mengenali cara
alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama. Keuntungan yang akan
hilang sebagai akibat dari alternatif terbaik lainnya; adalah merupakan biaya peluang dari
pilihan pertama. Sebuah contoh umum adalah seorang petani yang memilih mengolah
pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke tetangga. Maka, biaya peluangnya
adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan tersebut. Dalam kasus ini, sang petani
mungkin mengharapkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan
yang dilakukannya sendiri. Begitu juga dengan memasuki universitas dan mengabaikan upah
yang akan diterima jika memilih menjadi pekerja, yang dibanding dengan biaya pendidikan,
buku, dan barang lain yang diperlukan (sebagai biaya total dari kehadirannya di universitas).

Contoh lainnya ialah biaya peluang dari melancong ke Bahamas, yang mungkin merupakan
uang untuk pembayaran cicilan rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari alternatif yang ada, melainkan lebih
kepada keuntungan dari suatu pilihan alternatif yang terbaik. Biaya peluang yang mungkin
dari keputusan sebuah kota membangun rumah sakit di lahan kosong, merupakan kerugian
dari lahan untuk gelanggang olahraga, atau ketidakmampuan untuk menggunakan lahan
menjadi sebuah tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari menjual lahan
tersebut, atau kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam - tapi bukan
merupakan agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang sebenarnya, merupakan
keuntungan yang akan hilang dalam jumlah terbesar di antara alternatif-alternatif yang telah
disebutkan tadi.
Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana menghitung keuntungan dari alternatif
yang tidak sama. Kita harus menentukan sebuah nilai uang yang dihubungkan dengan tiap
alternatif untuk memfasilitasi pembandingan dan penghitungan biaya peluang, yang hasilnya
lebih-kurang akan menyulitkan untuk dihitung, tergantung dari benda yang akan kita
bandingkan. Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang melibatkan dampak lingkungan,
nilai uangnya sangat sulit untuk dihitung karena ketidakpastian ilmiah. Menilai kehidupan
seorang manusia atau dampak ekonomi dari tumpahnya minyak di Alaska, akan melibatkan
banyak pilihan subyektif dengan implikasi etisnya.
Penerapan ekonomi mikro
Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak di antaranya
menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi dan organisasi industri mempelajari
topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi, aturan merek dagang. Hukum dan
Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi
dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. Ekonomi Perburuhan mempelajari upah,
kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. Finansial publik (juga dikenal dengan ekonomi
publik) mempelajari rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek
ekonomi dari kebijakan-kebijakan tersebut (contohnya, program asuransi sosial). Ekonomi
kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari pegawai
kesehatan dan program asuransi kesehatan. Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi
politik dalam menentukan keluarnya sebuah kebijakan. Ekonomi kependudukan, yang
mempelajari tantangan yang dihadapi oleh kota-kota, seperti gepeng, polusi air dan udara,
kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan, digambarkan dalam geografi kependudukan dan
sosiologi. Finansial Ekonomimempelajari topik seperti struktur dari portofolio yang optimal,
rasio dari pengembalian ke modal, analisis ekonometri dari keamanan pengembalian, dan

kebiasaan finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi dari ekonomi
dan institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang ekonomi, sejarah,
geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik.

Pengantar Ekonomi Mikro 1


PENGANTAR ILMU EKONOMI MIKRO
Dosen Pembina : Bayu Pramutoko,SE,MM
ILMU EKONOMI MIKRO

1. Pengertian Ekonomi Mikro


Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu
ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga
pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan.
Ekonomi

mikro

meneliti

bagaimana

berbagai

keputusan

dan

perilaku

tersebut

memengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga;
dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan
jasa selanjutnya.[1][2] Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara
optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan
dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus).
Kebalikan dari ekonomi mikro ialah ekonomi makro, yang membahas aktivitas ekonomi
secara keseluruhan, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran,
berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan[1], serta dampak atas beragam tindakan
pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap hal-hal tersebut.[3]
2. Tujuan Ekonomi Mikro
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisis pasar beserta mekanismenya yang
membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi dari sumber terbatas di antara
banyak penggunaan alternatif.
Ekonomi mikro menganalisis kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam memproduksi
hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi
suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang penelitian yang penting dalam ekonomi
mikro, meliputi pembahasan mengenai keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan
pasar dalam informasi asimetris, pilihan dalam situasi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi

ekonomi

dari teori

permainan.

Juga

mendapat

perhatian

ialah

pembahasan

mengenai elastisitas produk dalam sistem pasar.


3. Asumsi dan definisi
Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar
persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam
pasar, dan tidak satupun di antara mereka memiliki kapasitas untuk memengaruhi harga
barang dan jasa secara signifikan.

Dalam berbagai transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini ternyata gagal, karena beberapa
individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki kemampuan untuk memengaruhi harga.
Seringkali, dibutuhkan analisis yang lebih mendalam untuk memahami persamaan
penawaran-permintaan terhadap suatu barang. Bagaimanapun, teori ini bekerja dengan baik
dalam situasi yang sederhana.

Model permintaan dan penawaran menjelaskan bagaimana harga beragam sebagai hasil dari
keseimbangan antara ketersediaan produk pada tiap harga (penawaran) dengan kebijakan
distribusi dan keinginan dari mereka dengan kekuatan pembelian pada tiap harga
(permintaan). Grafik ini memperlihatkan sebuah pergeseran ke kanan dalam permintaan dari
D1 ke D2 bersama dengan peningkatan harga dan jumlah yang diperlukan untuk mencapai
sebuah titik keseimbangan (equibilirium) dalam kurva penawaran (S).

Ekonomi arus utama (mainstream economics) tidak berasumsi apriori bahwa pasar
lebih disukai daripada bentuk organisasi sosial lainnya. Bahkan, banyak analisa telah
dilakukan untuk membahas beragam kasus yang disebut kegagalan pasar, yang
mengarah pada alokasi sumber daya yang suboptimal, bila ditinjau dari sudut pandang
tertentu (contoh sederhananya ialah jalan tol, yang menguntungkan semua orang untuk

digunakan tetapi tidak langsung menguntungkan mereka untuk membiayainya). Dalam


kasus ini, ekonomi akan berusaha untuk mencari kebijakan yang akan menghindari kesiasiaan langsung di bawah kendali pemerintah, secara tidak langsung oleh regulasi yang
membuat pengguna pasar untuk bertindak sesuai norma konsisten dengan kesejahteraan
optimal, atau dengan membuat pasar yang hilang untuk memungkinkan perdagangan
efisien dimana tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dipelajari di bidang
tindakan kolektif. Harus dicatat juga bahwa kesejahteraan optimal biasanya memakai
norma Pareto, dimana dalam aplikasi matematisnya efisiensi Kaldor-Hicks, tidak konsisten
dnegan norma utilitarian dalam sisi normatif dari ekonomi yang mempelajari tindakan
kolektif, disebut pilihan masyarakat/publik. Kegagalan pasar dalam ekonomi positif (ekonomi
mikro) dibatasi dalam implikasi tanpa mencampurkan kepercayaan para ekonom dan
teorinya.
Permintaan untuk berbagai komoditas oleh perorangan biasanya disebut sebagai
hasil dari proses maksimalisasi kepuasan. Penafsiran dari hubungan antara harga dan
kuantitas yang diminta dari barang yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain,
pilihan pengaturan seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para
konsumen.
4. Model operasi
Diasumsikan bahwa semua perusahaan mengikuti pembuatan keputusan rasional,
dan akan memproduksi pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Dalam asumsi ini, ada
empat kategori dimana keuntungan perusahaan akan dipertimbangkan:
Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan ekonomi ketika average total
cost lebih rendah dari setiap produk tambahan pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
Keuntungan ekonomi adalah setara dengan kuantitas keluaran dikali dengan perbedaan
antara average total cost dan harga.
Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan normal ketika keuntungan
ekonominya sama dengan nol. Keadaan ini terjadi ketika average total cost setara dengan
harga pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
Jika harga adalah di antara average total cost dan average variable cost pada keluaran
maksimalisasi

keuntungan,

maka

perusahaan

tersebut

dalam

kondisi

kerugian

minimal.Perusahaan ini harusnya masih meneruskan produksi, karena kerugiannya akan


makin membesar jika berhenti produksi. Dengan produksi terus menerus, perusahaan bisa
menaikkan biaya variabel dan akhirnya biaya tetap, tetapi dengan menghentikan
semuanya akan mengakibatkan kehilangan semua biaya tetapnya.
Jika harga dibawah average variable cost pada maksimalisasi keuntungan, perusahaan
harus melakukan penghentian. Kerugian diminimalisir dengan tidak memproduksi sama
sekali, karena produksi tidak akan menghasilkan keuntungan yang cukup signifikan untuk

membiayai semua biaya tetap dan bagian dari biaya variabel. Dengan tidak berproduksi,
kerugian perusahaan hanya pada biaya tetap. Dengan kehilangan biaya tetapnya,
perusahaan menemui tantangan. Akan keluar dari pasar seutuhnya atau tetap bersaing
dengan resiko kerugian menyeluruh. Kegagalan pasar Dalam ekonomi mikro, istilah
kegagalan pasar tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah
kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur produksi
atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai istilah ini pada
situasi dimana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan bahwa institusi non
pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks politik, pemegang
modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi saat pasar dipaksa
untuk tidak melayani kepentingan publik, sebuah pernyataan subyektif yang biasanya
dibuat dari landasan moral atau sosial.

5. Kegagalan pasar
Ekonomi mikro menganalisis kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam memproduksi
hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi
suatu pasar persaingan sempurna.
Dalam ekonomi mikro, istilah "kegagalan pasar" tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi
berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi di mana sebuah pasarefisien dalam
mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai
istilah ini pada situasi di mana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan
bahwa institusi non pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks
politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi saat
pasar dipaksa untuk tidak melayani "kepentingan publik", sebuah pernyataan subyektif yang
biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial.
Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :

Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar di mana
"sebuah" pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau
keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan undangundang anti-trust.[4]

Eksternalitas, di mana terjadi dalam kasus di mana "pasar tidak dibawa kedalam akun
dari akibat aktivitas ekonomi di dalam orang luar/asing." Ada eksternalitas positif dan
eksternalitas negatif.[4] Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti di mana program
kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif
terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air.
Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi,

atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan
untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya.

Barang

publik seperti pertahanan

nasional[4] dan

kegiatan

dalam kesehatan

publik seperti pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk
diserahkan pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin akan
dibasmi. Untuk menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya
menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pada
barang publik tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif
pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial).

Kasus di mana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang
inefisien)[4]. Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki
informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjual yang
lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi
dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui
bagaimana mobil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi
yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh di mana pembeli memiliki informasi lebih baik
dari penjual merupakan penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian
penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki
informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan.
Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminar tentang
kesehatan tahun 1963 berjudul "ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari
Kepedulian

Kesehatan,

"

di

dalam American

Economic

Review. George

Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya pada tahun
1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari bahwa, dalam pasar seperti itu, nilai
rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat
sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui
apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah "lemon" (produk yang
menyesatkan).

Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :


Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar dimana
sebuah pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau
keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan
undang-undang anti trust.

Eksternalitas, dimana terjadi dalam kasus dimana pasar tidak dibawa kedalam akun dari
akibat aktifitas ekonomi didalam orang luar/asing. Ada eksternalitas positif dan
eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program
kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi
ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air. Eksternalitas
negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi, atau dengan
menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan untuk menerima
akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya.
Barang publik seperti pertahanan nasional dan kegiatan dalam kesehatan publik seperti
pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk diserahkan
pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin akan dibasmi. Untuk
menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya menggunakan
pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pda barang publik
tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif pada pihak
ketiga/kesejahteraan sosial).
Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang inefisien).
Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang
lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjua yang lebih tahu tentang
produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini.
Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana mbil tersebut
telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang tidak tersedia bagi
pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi lebih baik dari penjual merupaka
penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian penghuni sebelumnya. Seorang
broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki informasi lebih tentang rumah
tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan. Situasi ini dijelaskan
pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminartentang kesehatan tahun 1963
berjudul ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan, di
dalam American Economic Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah
informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for Lemons. Akerlof
menyadari bahwa , dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari komoditas cenderung
menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurnakebaikannya, karena para
pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli akan
menjadi sebuah lemon (produk yang menyesatkan).
6. Biaya peluang
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) terkadang sulit untuk dihitung, efek dari
biaya peluang sangatlah universal dan nyata pada tingkat perorangan. Bahkan, prinsip ini
dapat diaplikasikan kepada semua keputusan, dan bukan hanya bidang ekonomi. Sejak
kemunculannya dalam karya seorang ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser,
sekarang biaya peluang dilihat sebagai dasar dari teori nilai marjinal.

Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan dari
sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga
mengenali cara alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama.
Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari alternatif terbaik lainnya; adalah
merupakan biaya peluang dari pilihan pertama. Sebuah contoh umum adalah seorang
petani yang memilih mengolah pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke
tetangga. Maka, biaya peluangnya adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan
tersebut. Dalam kasus ini, sang petani mungkin mengharapkan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan yang dilakukannya sendiri. Begitu juga dengan
memasuki universitas dan mengabaikan upah yang akan diterima jika memilih menjadi
pekerja, yang dibanding dengan biaya pendidikan, buku, dan barang lain yang diperlukan
(sebagai biaya total dari kehadirannya di universitas). Contoh lainnya ialah biaya peluang
dari melancong ke Bahamas, yang mungkin merupakan uang untuk pembayaran cicilan
rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari alternatif yang ada,
melainkan lebih kepada keuntungan dari suatu pilihan alternatif yang terbaik. Biaya peluang
yang mungkin dari keputusan sebuah kota membangun rumah sakit di lahan kosong,
merupakan kerugian dari lahan untuk gelanggang olahraga, atau ketidakmampuan untuk
menggunakan lahan menjadi sebuah tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari
menjual lahan tersebut, atau kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam
tapi bukan merupakan agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang sebenarnya,
merupakan keuntungan yang akan hilang dalam jumlah terbesar diantara alternatif-alternatif
yang telah disebutkan tadi.
Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana menghitung keuntungan dari
alternatif yang tidak sama. Kita harus menentukan sebuah nilai uang yang dihubungkan
dengan tiap alternatif untuk memfasilitasi pembandingan dan penghitungan biaya peluang,
yang hasilnya lebih-kurang akan menyulitkan untuk dihitung, tergantung dari benda yang
akan kita bandingkan. Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang melibatkan dampak
lingkungan, nilai uangnya sangat sulit untuk dihitung karena ketidakpastian ilmiah. Menilai
kehidupan seorang manusia atau dampak ekonomi dari tumpahnya minyak di Alaska, akan
melibatkan banyak pilihan subyektif dengan implikasi etisnya.

Penerapan ekonomi mikro


Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak diantaranya
menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi dan organisasi industri mempelajari
topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi, aturan merek dagang.Hukum dan
Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi
dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. Ekonomi Perburuhan mempelajari upah,
kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. Finansial publik (juga dikenal dengan ekonomi
publik) mempelajari rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek
ekonomi dari kebijakan-kebijakan tersebut (contohnya, program asuransi sosial). Ekonomi
kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari pegawai
kesehatan dan program asuransi kesehatan.
Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi politik dalam menentukan keluarnya
sebuah kebijakan. Ekonomi kependudukan, yang mempelajari tantangan yang dihadapi oleh
kota-kota, seperti gepeng, polusi air dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan,
digambarkan dalam geografi kependudukan dan sosiologi. Finansial Ekonomi mempelajari
topik seperti struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari pengembalian ke modal, analisa
ekonometri dari keamanan pengembalian, dan kebiasaan
finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi dari ekonomi dan institusi
ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang ekonomi, sejarah, geografi,
sosiologi, psikologi dan ilmu politik.
Mekanisme harga dan Sistem Pasar
Semua anggota Masyarakat terlibat dalam dua sektor yaitu :
1. Sektor proses produksi
2. Sektor rumah tangga.
Transaksi antara kedua sektor tersebut terjadi di dua pasar :
1. Pasar hasil produksi (atau pasar output)
Di pasar output produsen bertemu konsumen dan harga dari berbagai macam barang
ditentukan. Gerak harga-harga output ini memecahkan masalah WHAT.

2. Pasar faktor produksi (atau pasar input).


Di pasar input, sektor produksi berperan sebagai konsumen faktor produksi dan sektor
rumah tangga sebagai penjual faktor produksi (karena semua penduduk tinggal
di sektor rumah tangga, maka semua pemilik faktor produksi ada di sana). Harga
berbagai faktor produksi ditentukan di pasar ini. Gerak harga faktor produksi
mempunyai dua fungsi:
a. Memberi petunjuk kepada produsen bagaimana mengkombinasikan faktor-faktor
produksiagar biaya produksiserendah mungkin (masalah HOW).
b.Menunjukkan beberapa imbalan (per unit faktor produksi) yang diberikan
kepada para pemilik faktor produksi (masalah FOR WHOM).
Perlu diperhatikan serta diingat di sini , adalah :
1.Bahwa mekanisme harga bisa memecahkan semua itu secara otomatis. Tidak
adaperencanaan lebih dulu.
2.Masing-masing warga masyarakat bertindak sendiri-sendiri, tetapi hasil akhir dari
semua

tindakan-tindakan

yang

tidak terkoordinir

itu

akan

membuat

semrawutnya harga di pasaran.


Pemecahan tiga masalah ekonomi pokok dari masyarakat adalah adanya mekanisme
pasar. Karena :
1.mekanisme ini bisa

memecahkan

ketiga

masalah

ekonomi

pokok

yang

dihadapimasyarakat dengan biaya yang sangat murah.


2.Tidak perlu masyarakat menggaji
merencanakanberapa

birokrat-birokrat

masing-masing

barang

untuk

yang

menghitung

harus

dan

diproduksikan,

bagaimana dan untuk siapa.


Pada masyarakat industri modern, proses produksi selalu dilakukan dengan
menggunakan alat-alat, mesin dan barang-barang modal. Akibat tersebut menimbulkan :
1.Penggunaan

Barang-barang

modal

dalam

proses

produksi

menaikkan

produktivitas.
2.Semakin banyak barang-barang modal yang digunakan maka akan semakin
tinggi produktivitas masyarakat tersebut.
3.Barang-barang modal dalam masyarakat akan semakin banyak bila masyarakat
tersebut tidak memakai habis (atau tidak mengkonsumsi seluruh) barang-barang
hasil produksi yang dihasilkan tiap tahun.

4.Setiapaktivitas Produksi setiap tahunnya harus diarahkan pada produksi barangbarang modal;
5.Barang-barang ini disisihkan untuk ditambahkan pada stok barang-barang modal
yang telah ada di dalam masyarakan atau di investasikan.
Mekanisme harga juga mampu memecahkan masalah penentuan berapa bagian dari
hasil produksi total yang dikonsumsikan. Masalah ini dipecahkan melalui gerakan harga
faktor produksi modal (kapital), yaitu tingkat bunga.
1.Bila tingkat bunga naik maka warga masyarakat akan bersediamenyisihkan lebih
banyak dari penghasilannya untuk dipinjamkan (Ditabung di bank) kepada
produsen-produksen ( Kredit ke bank) untuk memperluas pabrik-pabriknya, yaitu
dengan penambahan barang-barang modal investasinya, karena mendapat
imbalan berupa bunga yang lebih tinggi.
2.Sebaliknya

bila

tingkat

bunga

menurun

maka

warga

masyarakat

akan

membelanjakan penghasilannya sebagai barang produktif, diperjual belikan.


Keberadaan tingkat bunga akan menentukan berapa besar konsumsi dan
seberapa besarnya investasi.
karena besarnya investasimenentukan besarnya kenaikan produktivitas.
Kenaikan produktivitas; menentukan besarnya kenaikan prosuksi ini berarti
meningkatkan produksi masyarakat yang menimbulkan kenaikan penghasilan
masyarakat.
#Maka tingkat bunga menentukan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sehingga
bisa dikatakan bahwa mekanisme harga memecahkan masalah ekonomi
pokok yang keempat yaitu seberapa cepat perekonomian akan tumbuh atau
masalah HOW FAST
PERENCANAAN DAN MEKANISME HARGA
Mekanisme harga dikatakan mampu memecahkan semua permasalahan ekonomi.
Namun untuk masalah-masalah ekonomi penting tertentu, Mekanisme harga tidak bisa
memecahkan permasalahan dengan baik. Masalah-masalah Ekonomi lainya di mana
mekanisme harga tidak memecahkan masalah ekonomi dengan baik yaitu :
a.Distribusi pendapatan.
Mekanisme harga tidak selalu bisa menjamin dipecahkannya masalah FOR
WHOM secara adil.
b.Ketidaksempurnaan pasar

Apabila terdapat perbedaan yang menyolok dalam hal kekuatan ekonomi antara
pihak-pihak yang bertransaksi di pasar, maka harga yang terbentuk tidak
mencerminkan prioritas masyarakat secara wajar, sehingga masalah WHAT dan
HOW tidak bisa dipecahkan dengan baik.
c.Barang-barang kolektif
Ada barang-barang yang hanya bisa disediakan secara kolektif oleh masyarakat
(misalnya : keamanan, ketertiban hukum, beberapa macam infrastruktur dan
sebagainya). Harga pasar bagi barang-barang semacam ini tidak ada, atau
kalaupun ada tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.
Lagi, masalah WHAT untuk barang-barang ini tidak bisa dipecahkan dengan baik
oleh mekanisme harga.
d.Eksternalitas
Mekanisme pasar tidak bisa memperhitungkan pengaruh-pengaruh tidak
langsung dari kegiatan ekonomi ( misalnya, pengaruh suatu pabrik terhadap
lingkungan ).
e.Pengelolaan perekonomian secara makro
Dalam perekonomian Makro Mekanisme pasar tidak bisa diandalkan untuk
menstabilkan gejolak naik turunnya kegiatan ekonomi nasional secara total.
Pada kelima bidang masalah ekonomi ini, mekanisme harga tidak bisa diharapkan
menyelesaikan permasalahan ekonomi secara otomatis dengan baik, Di sini perlu tindakantindakan yang dirumuskan dan dijalankan secara sadar oleh masyarakat (Negara).
Tindakan-tindakan ini disebut perencanaan dalam arti luas. Di luar bidang-bidang ini
mekanisme masih efektif.. Dalam kenyataan mekanisme harga dan perencanaan digunakan
bersama-sama, karena keduanya saling melengkapi. tentunya Dengan porsi yang
berbeda-beda bagi masing-masing negara dan bagi waktu yang berbeda).
PERMINTAAN PASARdan PERILAKU KONSUMEN
Sector rumah tangga sebagai konsumen di pasar output. Akan berakibat :
1.Perilaku konsumen dalam memutuskan berapa jumlah masing-masing barang
yang akan dibeli dalam berbagai situasi.
2.Konsumen-konsumen secara bersama-sama menimbulkan permintaan di pasar.
PENDEKATAN PENDEKATAN DALAM PERILAKU KONSUMEN
Hukum Permintaan, yang mengatakan bahwa bilasesuatu barang naik maka ceteris paribus
jumlah yang diminta konsumen akan barang tersebut turun. Dan sebaliknya bila harga

barang tersebut turun. Ceteris paribus berarti bahwa semua faktor-faktor lain yang
mempengaruhi jumlah yang diminta dianggap tidak berubah.
Pendekatanyang dinyatakan oleh Hukum Permintaan :
1.

Pendekatan marginal utility,yang bertitik tolak pada anggapan bahwa


kepuasan(atau utility) setiap konsumen bisa diukurdengan uang atau dengan satuan
lain (utility yang ber-sifat cardinal) seperti kita mengukur volume air, panjang jalan atau
berat dari sekarung beras.
2.
Pendekatan indifference curve, yang tidak memerlukan adanya anggapan bahwa
kepuasan konsumen bisa diukur; anggapan yang diperlukan adalah bahwa tingkat
kepuasan konsumen bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tanpa me-ngatakan
berapa lebih tinggi atau lebih rendah.
PENDEKATAN MARGINAL UTILITY
Perilaku konsumen bisa diterangkan dengan menggunakan pendekatan marginal
utility sebagai berikut:
(a)Utility bisa diukur dengan uang, dan
(b)Hukum Gossen (law of diminishing marginal utility) berlaku, yaitu bahwa semakin
banyak sesuatu barang dikonsumsikan, maka tambahan kepuasan (marginal
utility) yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan
menurun, dan
(c)Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.
Perhatikan perbedaan antara kepuasan total (total utility) dan kepuasan marjinal
(marginal utility).

Pada Gambar1 marginal utility diatas :


1.Dari konsumsi suatu barang X , Semakin banyak barang X yang dikonsumsikan,
semakin kecil marginal utility yang diperoleh dari barang X yang terakhir
dikonsumsikan [anggapan (b) di atas].
2.Bila harga barang X adalah OPx, maka pada tingkat konsumsi yang lebihrendah
dari 0X 3, tingkat kepuasan total (total utility) konsumen belum mencapai
maksimum. Misalnya pada tingkat konsumsi OX1, maka setiap tambahan

pembelian 1 (satu) unit X akan memberikan tambahan kepuasan (yang dinilai


dengan uang) sebesar X1 B sedangkan pengorbanan (berupa pembayaran
harga) untuk 1 unit tersebut adalah hanya X1 A ( = OPx).
Jadi ada tambahan kepuasan netto sebesar AB bila konsumen membeli
lebih banyak X. Oleh sebab itu masih menguntungkan baginya apabila ia
menambah pembelian barang X.
3.Sebaliknya, pada tingkat konsumsi lebih besar dari OX 3 maka kepuasan total
konsumen juga tidak maksimum. Misalnya pada imgkat konsumsi OX2, maka
tambahan kepuasan yang diperoleh dari pembelian 1 (satu) unit terakhir dari
barang X hanya sebesar X2E, sedangkan pengorbanan konsumen adalah
sebesar X2D (= OPx); jadi
4.Akan menambah kepuasan total konsumen bila ia mengurangi tingkat konsumsi
(pembeliannya). Konsumen akan mencapai kepuasan total yangmaksimum pada
tingkat konsumsi (pembelian) di mana pengorbanan untuk pembelian unit terakhir
dari barang tersebut (yang tidak lain adalah harga unit terakhir tersebut) adalah
sama dengan kepuasan tambahan yang didapatkan dari unit terakhir tersebut.
Kepuasan total maksimum tercapai bila :

Penjelasannya :
1.Bila seandainya harga barang X naik dari OPx menjadi OPx, maka untuk mencapai
posisi kepuasan total yang maksimum (atau sering disebut posisi equilibrium
konsumen), konsumen akan me-milih tingkat konsumsi (pembelian) sebesar OX4
(yang lebih kecil dari OX3). Jadi perilaku konsumen yang dinyatakan oleh Hukum
Permintaan terbukti.
2.Perhatikan bahwa dengan pendekatan marginal utility ini, kurva Marginal Utility
(yang diukur dengan uang) tidak lain adalah kurva permintaan konsumen, karena
menunjukkan tingkat pembeliannya (atau jumlah yang ia minta) pada berbagai
tingkat harga.
Untuk kasus di mana konsumen menghadapi beberapa macam barang yang
dibeli, maka posisi equilibrium konsumen adalah :

1.Syarat ini bisa dicapai dengan anggapan bahwa konsumen mempunyai uang (atau
penghasilan atau budget yang cukup untuk dibelanjakan untuk setiap barang
sampai marginal utility setiap barang sama dengan harga masing-masing
barang.
2.Bila kita menganggap suatu kasus yang lebih realistis di mana konsumen hanya
mempunyai sejumlah uang yang tertentu yang tidak cukup untuk membeli
barang-barang sampai pada tingkat MU = P untuk setiap barang, maka bisa
dibuktikan bahwa dengan uang yang ter-batas tersebut ia bisa mencapai
kepuasan total yang paling tinggi bila ia mengalokasikan pembelanjaannya
sehingga

dipenuhi

persyaratan

tersebut

Syarat ini disebut equilibrium konsumen dengan constraint. (Yaitu dengan


pembatasan jumlah uang yang dipunyai).
Dalam kasus banyak barang ini pun kita bisa menunjukkan bahwa Hukum
Permintaan berlaku bagi masing-masing barang (X, Y,Z dan seterusnya).
PENDEKATAN INDIFFERENCE CURVE
Perilaku konsumen bisa pula diterangkan dengan pendekatan Indifference curve
sebagai berikut:
(a)konsumen mempunyai pola preferensi akan baarang-barang konsumsi (misalnya
X dan Y) yang bisa dinyatakan dalam bentuk indifference map atau kumpulan
dari indifference curve,
(b)konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu dan
(c)konsumen lelaluberusaha mencapaikepuasan maksimum.
Definisi: Indifference curve adalah konsumsi (atau pembelian) barang-barang yang
menghasilkan tingkat kepuasanyang sama.
Asumsi: Indifference curve :
a.turun dari kiri atas ke kanan bawah,
b.cembung ke arah origin,
c.tidak saling memotong,

d.yang terletak di sebelah kanan atas menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi
( tanpa perlu menunjukkan berapa lebih tinggi, yaitu asumsi ordinal ulility)
Gambar

Perliatikan Gambar .2. di atas. Dengan sejumlah uang ter-tentu (M) konsumen bisa
membelikannya semua untuk barang X
memperoleh sebanyak :M/Px ataumembelikannyasemua untuk barang Y dan memperoleh
M/Pyatau membelanjakan jumlah uang M tersebut untuk berbagai kemungkinan kombinasi
X dan Y seperti yang ditunjukkan oleh garis lurus yang menghubungkan M/Pxdan M/Py
Garis ini disebut garis budget atau budget line. Tingkat kepuasan yang maksimum
dicapai bila konsumen membelanjakan M untuk membeli sebanyak OY 1 barang Y dan OX
1 barang X, yaitu pada posisi persinggungan antara budget line dengan indifference curve.
(Posisi ini menunjukkan posisi kepuasan yang maksimum atau posisi equilibrium konsumen
dengan constraint (M) karena I 1 adalah Indifference curve yang tertinggi yang bisa dicapai
oleh budget line tersebut; posisi selain A hanya bisa mencapai indifference curve yang lebih
rendah dari I 1).
bila harga X turun dari Px menjadi Px dan harga Y tetap. Maka budget line akan
berayun ke kanan menjadi garisM/Py <-> M/PxPosisi equilibrium yang baru adalah pada C.
Jadi dengan adanya penurunan harga barang X, maka jumlah barang X yniig diminta
naik dari OX 1 menjadi OX 3. Perilaku konsumen
Menurut Hukum Permintaan terbukti.
Keunggulan pendekatan Indifference Curve dibanding dengan pendekatan Marginal Utility,
adalah :
(a) tidak perlunya menganggap Bahwa utility konsumen bersifat cardinal,

(b) efek perubahan harga terhadap jumlah yang diminta bisa dipecah lebih lanjut
menjadi dua, yaitu efek substitusi atau substitution effect dan efek pendapatan atau income
effect. Dari gambar di atas, efek total dari penurunan harga :
barang X dari Px menjadi Px dapat dipecah menjadi X1 X2 = substitution effect dan
X2 X3 = income effect.
Substitution effect didalam contoh ini adalah kenaikan konsumsi X karena adanya
substitusi Y dengan X, karena sekarang harga X relatif menjadi lebih rendah
dibanding harga Y.
Income effect adalah kenaikan X, yang (disebabkan oleh kenaikan income riil
karena turunnya harga X; yaitu nilai M secara riil naik karena Px turun.
Contoh : Apabila dengan gajiDoni Rp 100.000,00, maka doni sekarang bisa membeli
500 kg beras sedang sebelumnya hanya 400 kg beras, karena harga beras turun dari Rp
500,00 menjadi Rp 400,00 per kg, maka daya beli Doni meningkat, atau income riil Doni
meningkat, meskipun M Doni tetap Rp 100.000,00).
Keunggulan lain dari pendekatan indifference curve adalah bisa ditunjukkannya
beberapa faktor lain yang sangat penting yang mempengaruhi permintaan konsumen akan
sesuatu barang. Faktor-faktor ini (yang di dalam Hukum Permintaan dianggap tidak
berubah, atau ceteris paribus) adalah :
a.Penghasilan atau income riilkonsumen. Kenaikan income riil konsumen, yang dicerminkan
oleh kenaikan M bila harga-harga barang dianggap tetap, biasanya menaikkan
permintaan konsumen. Keadaan seperti ini berlaku bagi barang-barang pada umumnya,
atau barang normal. Pengecualian terjadi untuk barang-barang inferior, di mana
kenaikan income riil menurunkan permintaan akan barang tersebut (income effect
negatif). Contoh barang inferior adalah gaplek dari rumah tangga-rumah tangga di kotakota. Barang inferior tidak banyak jumlahnya. Kebanyakan barang yang kita beli adalah
barang normal. Gambar berikut menggambarkan pengaruh perubahan income terhadap
jumlah barang yang diminta.
06
b. Perubahan harga barang lain. Perubahan harga barang yang mempunyai hubungan
ekat dengan suatu barang bisa pula mempengaruhi permintaan akan barang tersebut.
Perubahan liarga Y bisa mempengaruhi permintaan akan barang X. Gambar 111.4.
berikut enunjukkan dua pengaruh yang berbeda dari perubahan harga Y terhadap
jumlah barang X yang diminta.
07

c. Selera konsumen. Perubahan selera konsumen bisa ditunjuk-k;in oleh perubahan bentuk
atau posisi dari indifference map. I anpa ada perubahan harga barang-barang maupun
income, permintaan akan sesuatu barang bisa berubah karena perubahan selera.
Permintaan (demand function) adalah : Jumlah suatu barang yang mau dan dapat dibeli
oleh konsumen pada pelbagai kemungkinan harga, dalam jangka waktu tertentu
dengan anggapan hal-hal lain akan tetap sama ( Cateris Paribus)
Penawaran adalah : Jumlah dari suatu barang tertentu yang mau dijual pada pelbagai
kemungkinan harga, dalam jangka waktu (cateris paribus)
Hukum Permintaan
Kurve permintaan untuk pelbagai macam barang dan jasa tidak semuanya tepat sama.
Bahkan kurve permintaan akan barang yang sama pun dapat berbeda menurut tempat dan
waktu yang berbeda. Tetapi semua kurve permintaan menunjukkan satu ciri yang sama,
yaitu arahnya yang turun dan kiri-atas ke kanan-bawah (downward sloping to the right).
Bentuk kurve mi menunjukkan bahwa antara HARGA (P) dan JUMLAH YANG MAU DIBELT
(Qd) terdapat suatu hubungan yang berbalikan:
Kalau harga naik, jumlah yang mau dibeli berkurang
Kalau harga turun, jumlah yang mau dibeli bertambah
Gejala mi dikenal dengan nama Hukum Permintaan, yang dapat dirumuskan sbb.:
Orang cenderung membeli lebih banyakpada harga rendah daripadapada harga tinggi.
Disehut hukum karena merupakan gejala umum yang sulit dicari perkecualiannya.
Hal ini terjadi karenaHukum permintaan menunjuk pada fakta bahwa, kalau harga
suatu barang/jasa naik, jumlah yang akan dibeli cenderung menjadi Iebih sedikit, sedang
kalau harganya turun, jumlah yang mau dibeli oleh masyarakat akan lebih banyak. Sekarang
kita her- tanya: mengapa terjadi demikian? Apa sebabnyajumlah yang mau dibeli berkurang
bila harga barang itu naik, dan bertambah bila harganya turun? Pada dasarnya ada tiga
alasan yang dapat menjelaskan gejala tsb.:
I. Pengaruh penghasilan (Income effect)
Kalau harga suatu barang naik, maka denganjumlah penghasilan uang yang sama
orang terpaksa hanya dapat membeli barang lebih sedikit. Sebaliknyajika harga barang tu
turun, dengan penghasilan yang sama orang dapat membeli lebih banyak dan barang ybs.,
(dan mungkinjuga dan barang-barang lain pula), sebab penghasilan realnya naik.
Misalnya datam contoh di atas: pada harga beras Rp 400-/kg, keluarga ybs. dapat
membeli 50kg beras perbulan. Tetapi kalau harga beras naik menjadi Rp 500, 1kg,
denganjumlah uang yang sama rncrcka hanya dapat membeli 40 kg beras per bulan.

Hal yang sama berlaku tidak hanya untuk permintaan individual tetapi juga untuk
permintaan pasar. Kalau harga suatu barang naik (ceteris paribus), Iebih sedikit warga
masyarakat yang mampu membelinya dengan penghasilan mereka. Sebaliknya jika harga
barang tertentu turun (ceteris paribus), semakin banyak orang yang dulu tidak mampu
membelinya sekarang akan dapat menjangkaunya, sehingga jumlah pembeli bertambah
banyak. Hal mi disebut income effect:
2. Pengarub substitusi (Substitution effect)
Jika harga suatu barang naik, orang akan mencari barang lain yang fungsinya sama
tetapi harganya lebih murah. Penggantian mi dengan istilah teknis disebut substitusi. Maka
gejala mi disebut substitution effect.
3. Penghargaan subyektif (Marginal Utility)
Andaikan seseorang hanya mernpunyai satu pasang sepatu saja. Maka ia akan
menilai sepatunya itu lebih tinggi daripada scandainya ia mempunyai sepuluh pasang. Kalau
sepatunya itu rusak ia akan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepasang sepatu
yang barn, walau harganya mahal. Sebaliknya kalau orang mempunyai sepuluh pasang
sepatu, ia tidak akan merasa kerugian besar kalau kehilangan satu pasang sepatu, dan ia
tidak begitu bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepatu lebih banyak lagi. Jadi
makin banyak dan satu macam barang tertentu yang telah dimiliki, makin rendah
penghargaan kita terhadap barang itu.
Tinggi-rendahnya harga yang bersedia dibayar oleh konsumen untuk barang tertentu
mencerminkan kegunaan atau kepuasan (Marginal) yang diperolehnya dan konsumsi
barang tsb. Gejala mi dikenal dengan nama Hukum Semakin Berkurangnya Tambahan
Kepuasan (Law of Diminishing Marginal Utility LDMU), atau Hukum Gossen ke-I.
> Persamaan fungsi permintaan
Antara HARGA (P) suatu barang dan JUMLAH yang mau dibeli (Qd) ternyata ada
hubungan fungsional yang kurang-lebih tetap. Dikatakan jumlah yang mau dibeli merupakan
fungsi dan harga. artinya: besar-kecilnya Qd tergantung dan tinggi-rendahnya P. Hubungan
tersebut secara matematik dapat dinyatakan dalam bentuk sebuah persamaan, yang bila
dilukiskan dalam grafik menjadi kurve permintaan.
Kehanyakan kurve perrnintaan berbentuk garis melengkung yang menyerupai hentuk
hiperbola. BeHtuk umurn persamaan hiperbola adalah:
a
y=+ b
x

Tetapi untuk rnenyederhanakan, garis rnelengkung di daerah yang penting dapat didekati
dengan garis lurus. Bentuk umum persamaan garis lurus adalah:
y = mx + b
dimana untuk kurve perrnintaan koefisien arahnya (rn = gradien) bertanda negatif.
Sebagai contoh. dalam Gambar 1.3 dilukiskan dua bentuk kurve permintaan, yaitu:
D : P = 200 2,5 Q (garis lurus)
D: P= 200 + 50 (garis melengkung)
Q
Dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk memastikan bentuk dan letak kurve
permintaan akan suatu barang. Bagairnana tepatnya kurve perrnintaan dan persamaannya
hanya dapat dipastikan atas dasarpenelitian pasar dengan bantuan Statistika. Dan hcrbagai
tempat dan pada pelbagai waktu harus dikumpulkan informasi herapajumlah dan barang
tertentu yang mau dibeli oleh masyarakat pada pelbagai tingkat harga. Informasi yang
diperoleh belum tentu menghasilkan sebuah kurve permintaan yang bagus seperti dalam
contoh di atas. Tetapi dengan bantuan matematika dapat dihitung garis rata-rata (garis
regresi, dan diagram tebar) yang dapat mendekati (mencerminkan) keadaan nyata.
08
1.2. PERUBAHAN DALAM PERMINTAAN
Inti dan pengertian permintaan yang dibicarakan sarnpai sekarang adalah hubungan
antara HARGA suatu barang/jasa dan JUMLAH YANG DIMINTA j ika P naik, Qd herkurang;
sebaliknyajika P turun, Q1 akan bertambah: Q, herubuh sebagaiAKlBATaari perubahan P.
Dalam kurve permintaan hubungan tsb. kelihatan dan arah kurve yang turun ke kananbawah: jika harga barang turun, akibatnyajumlah yang mau dibeli bertambah, dan kita
berjalan dan titik yang satu ke titik yang lain pada kurvc permintaan yang sama seperti telah
digambarkan itu.
Tetapi kenyataannya dapat teijadi bahwa ada perubahan dalam jumlah yang diminta tanpa
ada perubahan harga. Mungkin juga ada perubahan harga, tetapi tidak diikuti oleh
perubahan dalam jumlah yang mau dibeli. Dalam hal mi kombinasi dan P dan Q semula
ternyata sudah tidak berlaku dan dikatakan ada perubahan dalarn permintaan (change in
Demand). Bagaimana hal itu dapat terjadi?
Ceteris Paribus
Daftar permintaan akan barang tertentu, dan kurve permintaan yang dibuat atas dasar daftar
tsb. selalu disusun dengan anggapan ceteris paribus. Maksudnya ialah:

dan berbagai faktor yang inungkin dapat mempengaruhi permintaan masyarakat akan suatu
barang, kita hanya memperhatikan huhungan antara jumlah yang diminta dan harga barang
ybs. Semua faktor lain yang mungkin ikut mempengaruhi jumlah yang mau dibeli itu untuk
sementara waktu tidak diperhatikan dulu, atau dianggap konstan, tidak berubah.
Apa yang dianggap sama?
Faktor-faktor lain (selain harga barang ybs.) yang ikut mempengaruhi permintaan
masyarakat akan suatu barang, (tetapi tidaklbelum diperhatikan karena dianggap sama atau
tidak berpengaruh) adalah:
1. Jumlah pembeli/konsumen
2. Besarnya penghasilan yang tersedia untuk dibelanjakan
3. Harga barang-barang lain
4. Pengaruh musim, mode, selera, kebiasaan, perubahan jaman, pengaruh lingkungan
5. Harapan atau pandangan orang tentang masa depan.
Dalam kenyataan jelas hal-hal tsh. tidak selalu sama atau konstan. Maka apa yang terjadi
jika satu atau lebih dan faktor-faktor tsb. berubah?
Jika ada perubahan dalam salah satu atau lebih dan faktor tsb., maka seluruh permintaan,
yaitu kombinasi dan [harga sekian; jumlah yang mau dibeli sekian] akan berubah juga. Jika
digambarkan dalam grafik, seluruh kurve permintaan akan bergeser menjadi kurve
permintaan yang baru, yang berbeda dan yang semula.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan:
1. Jumlah pembeli: jika jumlah pembeli suatu barang tertentu bertambah, maka pada harga
yang sama jumlah yang man diheli hcrtamhah hanyak juga. dan kurve permintaan akan
bergeser ke kanan. Hal mi dapat terjadi misalnya karena pertambahan penduduk, perbaikan
transport sehingga barang tertentu dapat terjual di daerah lain pula, berhasilnya usaha
promosi/perikianan, dsb. Misalnya pada awal tahun pelajaran baru permintaan akan alat-alat
tulis tentu bertambah.
2. Besar penghasilan yang tersedia untuk dibelanjakan jelas berpcngaruh sekali terhadap
permintaan. Dan penghasilan yang lebih tinggi orang akan dapat membeli lebih banyak dan
segala macam barang dan jasa.
Dalam hal mi hanya ada satu perkecualian, yaitu yang disebut inferior goods (atau
juga disebut Giffen goods), yaitu barang-barang yang permintaannyajustru berkurang bila
penghasilan konsumen naik. Misalnya orang miskin, yang terpaksa hanya makan gaplek
atau jagung, dengan naiknya penghasilan akan menggantikan gaplek dengan nasi,

sehingga permintaan akan gaplek/jagung berkurang. Semua barang lain disebut normal
goods artinya barang yang pemiintaannya naik apabila pendapatan konsumen naik.
Pengaruh perubahan penghasilan terhadap permintaan akan suatu barang dapat
diukur dan diperhitungkan, dengan jalan membandingkan persentase kenaikan jumlah yang
diminta dengan persentase kenaikan penghasilan konsumen. mi disebut elastisitas
pendapatan.
3. Harga barang-barang lain ikut mempengaruhi permintaan. Apakah kenaikan harga
barang lain itu memperbesar atau justru memperkecil perrnintaan masyarakat akan suatu
barang tertentu itu tergantung apakah barang lain itu barang pelengkap (= komplementer),
barang pengganti (= substitut) atau barang lepas (= independent! netral).
> Barang pelengkap (komplementer)
Misalnya sepeda motor, bensin dan oli saling melengkapi. Jika harga sepeda motor
turun, maka jumlah sepeda motor yang diininta akan bertambah. Akibatnya permintaan akan
bensin bertambah pula. Demikian pula permintaan akan oil ikut bertambahjuga.
> Barang pengganti (substitut)
Misalnya kopi dan teh, rokok merk yang satu dan merk yang lain, kereta api dan bis
malam, bis dan colt itu dapat saling mengganti. Kalau harga karcis kereta api naik, lebih
banyak orang akan naik bis. Jadi bila harga barang yang satu naik,jumlah yang diminta dan
barang tersebut akan berkurang, tetapi jumlah yang diminta dan barang substitutnya justru
akan bertambah.
> Barang lepas (independent)
Barang independent adalah barang yang tidak ada hubungan atau pengaruh timbalbalik satu sama lain. Apabila harga barang lain itu naik, mungkin pendapatan real berkurang
(= ada income effect) dan hal mi secara tidak Iangsung dapat berpengaruh terhadap jumhah
barang/jasa yang diminta.
4. Musim, selera, mode, kebiasaan, perubahan jaman, Iingkungan sosial juga
berpengaruh terhadap permintaan. Misalnya permintaan akan payung pada awalmusim
hujan. Terutama mode pakaian dapat berubah dalam waktu singkat. Kemajuan zaman dapat
menyebabkan bahwa harang yang dulu dipandang sebagai barang mewah (radio, kaset,
walk-man, komputer,jam tangan, sepeda motor, TV, dsb.) lama-kelamaan menjadi barang
yang biasa.
5. Harapan/pandangan tentang masa yang akan datang dan faktor-faktor psikologis
lainnya dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang mendadak dalam

permintaan masyarakat. Misalnya desas-desus atau rasa takut bahwa harga-harga akan
naik mendorong orang untuk segera membeli banyak (sebelum harga naik) sehingga jumlah
yang diminta akan naik pada harga yang sama.
Jadi akibat dan perubahan dalam salah satu atau lehih dan faktortsb. di atas ialah:
suatu kombinasi yang baru antara harga dan jumlah yang mau dibeli; berarti bahwa seluruh
permintaan berubah. Jika perubahan dalam permintaan tsb. di atas digambarkan dalam
grafik, kurve permintaan semula bergeser ke kanan atau ke kin menjadi kurve permintaan
yang baru.
Pergeseran kurve permintaan
Bila permintaan bertambah, maka kurve permintaan bergeser ke kanan-atas seperti
pada gambar dibawah Artinya:
Para konsumen mau membeli lebih banyak dan suatu harang tertentu pada tingkat
harga yang berlaku. Misalnya pada harga Rp 1.000,- jumlah yang diminta
bertambah dan 5 menjadi 8 satuan (dan titik A > E).
Jumlah barang yang mau dibeli sama, meskipun harga barang telah naik. Misainya
harga naik dan Rp 1 .000,- menjadi Rp 2.000,- tetapi jurnlah yang mau dibeli
tetap 5 satuan (dan A > C).
09
Perubahan Dalam Penawaran
Kurve Penawaran Tertentu selalu digambarkan dengan Anggapan Cateris Paribus
(bahwa semua faktor-faktor lain yang mempengaruhi jumlah yang diminta
dianggap tidak berubah )
Yang dianggap sama Dalam Hal ini :
1.Jumlah Produsen di Pasar
> Jika jumlah Produksen Bertambah, penawaran total juga akan bertambah ,
pada tingkat harga yang berlaku, lebih banyak barang/ jasa yang ditawarkan
untuk dijual di pasaran. Atau kalau harga pasar turun karena persaingan antara
produksen tsb, jumlah yang sama mau dijual juga meskipun pada harga yang
lebih rendah.
2.Harga Faktor-Faktor Produksi
>>Bersama dengan Tehnik Produkssi, Harga Faktor-Faktor Produksimerupakan
input dalam proses produksi, menentukan biaya produksi. Misalnya jika harga
bahan baku turun, maka produksen :

dapat menjual (menghasilkan) lebih banyak pada tingkat harga yang sama
dan /atau.
dapat menghasilkan dan menjual jumlah yang sama pada harga yang lebih
rendah, ini berarti penawaran bertambah dan kurve supply bergeser ke kanan
kebawah.
10
Sebaliknya jika harga bahan-bahan dan input-input lainnya naik,
sehingga biaya produksi bertambah, maka :
Jumlah barang yang sama hanya akan dijual pada harga lebih tinggi
Pada tingkat harga yang sama jumlah yang ditawarkan lebih sedikit.
Ini berarti penawaran berkurang, dan kurve supply bergeser ke kiri atas. Lihat
kurve B
3.Harga Barang-barang Lain :
Jika berubah, penawaran barang tertentu mungkin bertambah, mungkin
berkurang, tergantung jenis barang dan hubungannya satu sama lain (barang
pengganti, barang pelengkap atau barang lepas.
4.Harapan atau perkiraan para produksen/penjual tentang masa yang akan datang.
a.Jika diperkirakan harga akan naik, apakah para penjual segera akan
menjual seluruh persediannya ? (Jawab : Tidak,bahkan sebaliknya,
banyak yang akan menahan barangnya, menunggu kenaikan harga < dan
akibatnya harga memang akan naik >
b.Jika diperkirakan harga akan Turun, apakah para penjual tidak akan
menjual seluruh persediannya ? (Jawab : Tidak,bahkan sebaliknya,
banyak yang akan menjual semua barang persediannya selama harga
belum merosot < dan akibatnya harga memang akan merosot/turun >
Harga Pasar
Jumlah yang mau dibeli di tunjukkan dengan Q d
Jumlah yang mau dijualdi tunjukkan dengan Q s
Berbagai kemungkinan harga di tunjukkan dengan P
Pengertian Pasar adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli untuk
mengadakan transaksi jual beli barang.

Pengertian Pasar dalam ilmu ekonomi lebih luas lagi yaitu Pasar mencakup
keseluruhan permintaan dan penawaran, seluruh kontak antara penjual dan
pembeli untuk mempertukarkan barang dan jasa. Setiap barang yang diperjual
belikan ada pasarnya. Contoh : ada pasar ikan, tetapi juga ada pasar rokok
kretek, pasar tekstil, pasar modal dan pasar tenaga kerja.
Fungsi Pasar adalah : sebagai mata rantai yang mempertemukan penjual yang
mempunyai barang dan menginginkan uang, dengan pembeli yang mempunyai
uang dan menginginkan barang. Penjual dan pembeli tidak bertemu muka ,
tetapi dapat juga melalui surat atau telepon.
Pasar Sempurna adalah apabila semua pihak di pasar tersebut mengetahui
seluruhkeadaan pasar yaitu : harga-harga yang berlaku, jumlah-jumlah yang
ditawarkan.
PasarPersaingan Sempurna terjadi apabila jumlah pembeli lebih banyak dan jumlah
penjual juga lebih banyak, yang semuanya menawarkan barang yang sifatnya
samaatau homogen. Misalnya barang jenis tertentucontoh ikan lele, karena jumlah
penjual banyak dimana masing-masing menawarkan sebagian kecil saja dari suplai
total, maka tidak ada penjual atau pembeli yang seorang diri mempengaruhi harga,
bila jumlah penjual dan pembeli yang bertemu di pasar banyak dan terdapat
koordinasi yang baik diantara mereka, untuk satu macam barang akan terjadi satu
harga. Yaitu harga pasar.
Harga Keseimbangan
Untuk mengerti bagaimana permintaan dan penawaran bersama-sama menentukan harga
pasar, sebagai contoh kita pelajari terbentuknya harga gula kelapa. Dalam masyarakat kita
gula kelapa banyak pembelinya dan juga banyak produsen/penjualnya(= bentuk pasar
persaingan).
Dalam tabel di bawah mi dikumpulkan hasil pengamatan pasar, yaitu berapa kg gula
kelapa yang mau dibel i (Q1) dan berapa kg yang mau dij ual (Q) pada berbagai harga(di
daerah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu atau satu bulan).
Tabel
Permintaan dan Penawaran Bawang Putih
11
Angka-angka dan tabel dapat juga digambarkan dalam bentuk sebuah diagram.
Karena mengenai barang yang sama, makajumlah yang mau dibeli (D) dan jumlah yang
mau dijual () dapat digambarkan dalam satu diagram.
Dan gambar segera tampak bahwa

pada harga pasar tinggi, para penjual mau menjual banyak, tetapi para pembeli
hanya mau membeli sedikit;
pada harga rendah, para pembeli ingin membeli banyak, tetapi para penjual hanya
mau menjual sedikit.
Maka berapakah harga gula kelapa yang akhirnya akan terjadi? Atau dengan kata
lain: dan berbagai kemungkinan harga yang tercantum dalam daftar di atas, harga yang
manakah yang akan berlaku di pasaran?
Jawabannya ialah: dalam interaksi dan tawar menawar antara para pembeli (yang
membutuhkan barang dan bersedia membayar uang untuk memperolehnya, diringkas
Demand) dan para penjual (yang telah mengeluarkan biaya untuk menghasilkan barang dan
mau menjualnya dengan harga tertentu, ringkasnya Supply) akhirnya akan terbentuk satu
harga tertentu, yaitu harga dimanajumlah yang mau dibeli (Qd) sama dengan jumlah yang
mau dijual (Q). Harga inilah yang disebut harga pasar atau harga keseimbangan
(Equilibrium price). Hal ini dengan mudah dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.
12
Keterangan Gambar .
Konfrontasi antara permintaan danpenawaran Bawang Putih
Penjelasan :
a. Pada Posisi Harga Rp 1000,-/kg
Apakah harga Rp 1000,-/kg dapat terjadi? Dapat! Sebab memang ada beherapa
icmbeli yang bersedia membayar harga setinggi itu. Apakah harga Rp l000.-!kg akan
inenjadi harga pasar yang umum berlaku? Tidak! Mengapa tidak? Karena pada harga kp
l000,-/kg para penjual mau menjual 11.000 kg. Tetapi pada harga itu para pembeli Iianya
mau membeli 5.000 kg!minggu. Jadi ada kelebihan (= surplus) sebanyak 6000 kg yang tak
terjual. Supaya barangnya laku (supaya tak perlu disimpan lama, atau (lihawa pulang,
supaya uangnya segera kembali, dli.) tentu akan ada penjual yang bersedia menurunkan
harga dan menjual barangnya dengan harga yang Iebih rendah. Oleh karena itu harga Rp 1
000,-/kg tidak akan menjadi harga yang berlaku umum di pasaran.
Situasi seperti ini dengan istilah teknis disebut buyers market (pasar dikuasai
oleh para pembeli). Para pembeli yang merupakan pihak yang kuat, para penjual berada di
pihak yang lemah; mereka mencani-cari pembeli dan untuk itu bersedia menurunkan harga
hal mana inenguntungkan bagi pembeli.
b. Pada posisi harga jual Rp 400,- per kg

Sekarang kita teliti harga Rp 400,-/kg. Apakah harga mi bisa menjadi harga pasar
Yang berlaku umum? Tidak! Sebab pada harga itu pmbeli mau membeli sebanyak I .000 kg
gula per minggu (Qd = 11.000). Tetapi para penjual hanya menyediakan ft 000 kg saja (Qs =
6.000). Jadi ada kekurangan supply (= shortage) sehanyak 5.000 kg/minggu. Dalam situasi
mi jelas ada konsumen yang tidak mcndapatkan gula sehanyak yang diinginkan. Maka tentu
akan ada pembeli yang berani/ bersedia membayar Iiaiga Icbih tinggi. Oleh karena itu harga
Rp 400,-/kg tidak bisa menjadi harga pasar yang berlaku umum. dan kalaupun terjadi jualbeli dengan harga itu, pasti tidak bisa tahan lama.
Siluasi pasar ini disehut sellers market: para penjuallah yang menguasai
pasara, sedang para pemheli di pihak yang lemah. Untuk mendapatkan barang, para
pembeli bersedia menaikan harga belinya, yang akan menguntungkan para penjual.
Harga Rp 600,- per kg
Pada harga Rp 600,-/kg dan hanya pada harga ini jumlah yang mau dibeli (Qd
= 8.000 kg/minggu) danjumlah yang rnau dijual (Qs = 8.000 kg/minggu) tepat sama, tidak
ada kekurangan dan tak ada kelebihan. Jadi pada harga mi semua pihak mendapat apa
yang diinginkan, dan tidak ada alasan untuk menaikkan/menurunkan harga lagi (ceteris
parihus). Maka harga Rp 600,- mi disebut harga keseimbangan (Equilibrium price). yaitu
harga yang menyeirnbangkan Permintaan dan Penawaran, atau P dimana Qd=Qs.
Kurve Permintaan dan Penawaran
Hal yang sarna dapat juga dianalisis dengan mempergunakan kurve. Untuk itu
Gambar 1-8 di atas tadi dilukiskan kembali dalam bentuk kurve permintaan dan penawaran.
Lihat gambar 1-9, di mana kurve D dan kurve S dilukiskan pada diagram yang sama.
Jumlah (baik Qd maupun Qs) diukur pada sumbu horisontal (sumbu X), sedang harga per
satuan diukur pada sumbu tegak (sumbu Y). Perpotongan kedua kurve tsb. menunjukkan
harga keseimbangan: pada harga Rp 600,-/kg, maka Qd = Qs = 8.000 kg/minggu.
13
Keterangan Gambar Harga keseimbangan.
Kurve Permintaan (D) turun ke kanan-bawah. Kurve Penawaran (S) naik ke kananatas. Perpotongan kurve D dun kurve S inenunjukkan harga keseimbangan, yaitu P Rp
600/kg. Pada harga itun jumlah yang diperjualbelikan Q = 8.000 kg/minggu.
Pada harga lebih tinggi, daripada harga keseimbangan tsb., ada surplus hurang
yang tak lequal; supaya harangnya laku, para penjual terdorong untuk inenurunkan harga
jual sa. Sehaliknya jada harga lebih rendah daripada Rji 600/kg, adanya kekurangan
bawang putih akan mendorong pembeli menawar harga yang Iebth tinggi.

Dan grafik segera tampak bahwa pada semua harga yang lebih tinggi daripada liarga
keseimbangan (pada P>600), maka > q berarti ada surplus. Surplus mi akan mendorong
para penjual untuk menurunkan harga jualnya. Pada harga yang lebih rendah itu, para
penjual akan mengurangi jumlah yang ditawarkan (= hiikum penawaran). .lika harga
diturunkan, para pembeli akan bersedia membeli lehih banyak atau Qd hertambah (hukum
permintaan). Proses mi berjalan terus sampai surplus tsb. hilang. .ladi misalnya apakah
harga Rp 800/kg bisa terjadi? Bisa! Apakah harga Rp 800 akan dapat tahan larna? Tidak!
Sehab pada harga Rp 800/kg itu Q > Q. berarti masih tetap ada surplus/kelebihan supply.
Demikian pula pada seniua harga lebih rendah daripada harga kesei mbangan (pada
P <600), maka Q1> Q ,jadi ada kekurangan supply (Shortage). Kekurangan tsb. akan
inendorong para pembeli untuk menawar dengan harga lebih tinggi, agar rnendapatkan gula
sebanyak dibutuhkan. Jika harga dinaikkan, maka Qs akan bertambah dan Qd akan
herkurang. sampai tercapai keseimbangan. Jadi misalnya harga Rp 400/kg, apakah akan
bisa tahan lama? Tidak! Sebab pada harga itu Q < Q. Ceklah sendiri untuk harga Rp 1000
dan Rp 200.
Satu-satunya harga yang dapattahan lama ialah harga dirnana Q1 = Q. Hanya pada
harga itu tak ada kecenderungan menaikkan/menurunkan harga atau untuk menambah/
incngurangi jumlah. Maka harga Rp 600 adalah harga keseimbangan (Equilibrium price).
Secara matematika
Hal yang sama dapat juga dirumuskan dalarn bahasa matematika. Kenyataannya
kurve D dan kurve S biasanya berbentuk garis melengkung (hiperholalparabola). [elapi
untuk menyederhanakan, dapat didekati dengan garis-garis lurus di daerah Nlrategisnya.
Misalnya kurve D dan gambar harga keseimbangan diatas dapat didekati dengan garis lurus
P = 1400 0,075 Q atau P = 1200 0,1 Qd Sedang kurve S dapat didekati dengan paris P =
200 + 0,1 Q.
Contoh:
Pemintaan dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi (persamaan) yang menunjukkin
liuhungan antara harga barang (P) dan jumlah yang mau dibeli (Q1). Rumus urnum iiiitiik
fungsi permmntaan yang berbentuk garis lurus adalah: P = a mQ. Misalnya P = 80 0,5 Q.
Ieiiawaran pun dapat dinyatakan sebagai fungsi (persamaan) yang menunjukkan hubungan
antara harga barang (P) dan jumlah yang mau dijual (Q). Rumus umum untuk fungsi
penawaran yang berbentuk garis lurus adalah: P = a + mQ. Misalnya: P = 20 + 0,5 Q.
Ditanyakan: Berapakah harga keseimbangan. Hitunglah dan lukiskan kurvenya.
14
Perpotongan kurve P dan kurve S menunjukkan harga keseimbangan, dimana Qd = Qv.

Perhatikan bahwa hasil perhitungan dan titik potong dalam grafik harus cocok.
Proses penyesuaian
Harga keseimbangan merupakan persesuaian antara keinginan pembeli dan
keinginan penjual, sehingga masing-masing pihak mendapat apa yang diinginkan, tanpa
adanya kekurangan/kejebihan Harga keseimbangan tidak selalu tercapai. mi ternyata dan
adanya persediaan barang-barang yang bertumpuk di gudang karena tak laku terjual, atau
dan kekurangan barang yang sering terjadi. Untuk menyamakan permintaan dan penawaran
diperlukan suatu proses penyesuaian, yang biasanya memerlukan waktu (mungkin waktu
yang cukup lama). Bila proses mi digambarkan dalam kurve, akan kelihatan seperti sarang
labah-lahah. Sebagai contoh lihatlah gambar dibawah ini.
15
Keterangan Gambar Proses Penyesuaian.
Pada P = 400, jumlah Qv = 50. Tetapi pada harga ini Qd hanya 10. jumlah Qs = 50
hanya akan mau dibeli konsumen dengan harga P = 100. Pada P = 100, Qd memang 50.
tempat Qs hanya 15. jadi ada kekurangan, dan harga akan naik. Untuk memperoleh jumlah
sebanyak Q = 15 para pembeli bersedia membayar P = 330. Pada P = 330, Q.s = 45. Tetapi
Qs ,sebesar 45 hanya akan dapat laku pada harga P = 130. Demikian seterusnya sampai
akhirnya tercapai P = 200 dan Qd Q,s = 30.
Contoh lain untuk mengetahui bagaimana permintaan dan penawaran bersamasama menentukan harga pasar, dapat dilihat sebagai berikut :
16
pada harga pasar tinggi, para penjual mau menjual banyak, tetapi para pembeli
hanya mau membeli sedikit.
pada harga rendah, para pembeli ingin membelibanyak, tetapi para penjualhanya
mau menjualsedikit.
Pertanyaan :
1.Berapa harga Semangka Tanpa Biji yang akhirnya akan terjadi ?
2.dari kemungkinan harga yang tercantum dalam table diatas, harga manakah yang
akan berlaku di pasaran ?
Jawaban :
Setelah terjadi interaksi antara pembeli dan penjual, akhirnya akan terbentuk satu
harga tertentu, yaitu harga dimana jumlah yang mau dibeli Qd sama dengan jumlah

yang mau dijual Qs. Harga inilah yang disebut dengan harga pasar atau harga
Keseimbangan.
Pemahaman Tabel harga pasar semangka .
A. Untuk harga Rp. 2000/kg :
1.Apakah Harga Rp. 2000/kg dapat terjadi ? dapat ! sebab memang ada beberapa
pembeli yang bersedian membayar harga setinggi itu.
2.Apakah Harga Rp. 2000/kg dapat menjadi harga yang umum berlaku ? Tidak dapat
! karena pada harga Rp. 2000/kg para penjual hanya mau menjual 13.000 kg.
tetapi pada harga itu pembeli hanya mau membeli 6000 kg/minggu. Jadi ada
kelebihan sebanyak 7000 kg yang tak terjual.
3.Supaya barangnya laku , maka akan ada penjual yang menurunkan harga
danmenjual barangnya dengan harga yang lebih rendah dari yang lain. Sehingga
harga Rp. 2000/kg tidak akan berlaku menjadi harga umum dipasaran.
( pada situasi seperti ini dengan istilah Tehnis Buyer Market pasar dikuasai
oleh para pembeli. Pembeli dipihak yang kuat, penjual dipihak yang lemah.
Situasi ini menguntungkan pembeli.
B. Untuk harga Rp. 2000/kg :
1.Apakah Harga Rp. 400/kg dapat menjadi harga yang umum berlaku ? Tidak dapat !
karena

pada

harga

Rp.

400/kg

para

pembeli

hanya

mau

membeli

sebanyak11.000 kg per minggu (Qd = 11.000). tetapi para penjual hanya


menyediakan 6000 kg/minggu (Qs = 6.000). Jadi ada kekurangan persediaan
(supply) ssebanyak 5000 kg/minggu.
2.Dalam situsi ini jelas ada konsumen yang tidak mendapatkan semangka tanpa biji
sebanyak yang diinginkan. Maka tentu ada pembeli yang berani membeli dengan
harga yang lebih tinggi.
3.Oleh karena itu Harga Rp. 400/kg tidak dapat menjadi harga yang umum berlaku.
Dan apabila terjadi tidak akan bertahan lama.
( pada situasi ini disebut dengan Seller Market para penjuallah yang menguasai
pasar, sedang pembeli pada pihak yang lemah. Karena untuk mendapatkan
barang, para pembeli bersedia menaikan harga belinya.
C. Untuk Harga Rp. 1.200/kg.

1. pada harga Rp. 1.200/kg. dan hanya pada harga ini jumlah yang dibeli Qd =
8000/kg dan jumlah yang dijual Qs=8000/kg tepat sama. Tidak ada kekurangan
dan tidak ada kelebihan.
2. Jadi pada harga ini semua pihak mendapat apa yang diinginkan, dan tidak ada
alasan untuk menaikkan/menurunkan harga lagi. (cateris paribus)
3. Maka harga Rp. 1.200/kg. ini disebut Harga Keseimbangan (equilibrium price),
yaitu harga yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran, atau P dimana
Qd = Qs.

Jadi harga keseimbangan tidak tercapai sekaligus. Biasanya terjadi kegoncangan


harga di sekitar titik keseimbangan. Umumnya para produsen memerlukan waktu untuk
nienyesuaikan supplynya dengan kebutuhan masyarakat. Walaupun sudah tercapai
keseimbangan pada saat tertentu, tetapi situasi keseimbangan tsb. sewaktu-waktu bisa
berubah lagi. Lebih-lebih harga hasil-hasil pertanian tidak begitu stabil. Jika harga suatu
barang tidak stabil, maka penjelasannya baru kita cari dalam perubahan situasi, entah dan
segi Supply, atau dan segi Demand, atau mungkin dan kedua-duanya sekaligus.
Perlu diingat :
1. Rumus UmumFungsiPermintaanadalah :
P = a mQ
Misalnya : P = 80 0,5 Q
2. Rumus UmumFungsiPenawaranadalah :
P = a + mQ
Misalnya : P = 20 + 0,5 Q
3.Rumus UmumHarga Keseimbanganadalah :

Qs = Qd
20 + 0,5 Q = 80 0,5 Q
ELASTISITAS
> PENGERTIAN ELASTISITAS
Kurve permintaan dan penawaran memperlihatkan bagaimana reaksi pembeli dan penjual
(dalam hal banyak-sedikitnya jumlah yang mau dibeli atau dijual) terhadap perubahan
harga. Dalam masalah reaksi ini dipertanyakan lebih lanjut: berapa besarnya perubahan
harga dan berapa besarnya reaksi tsb. Sehingga para para ahli ekonomi memberikan
pengertian elastisitas permintaan dan penawaran
ELASTISITAS PERMINTAAN
Inti pengertian permintaan adalah: hubungan antara HARGA suatu barang dengan
Jumlah yang mau dibeli. Bentuk kurve permintaan yang turun ke kanan menunjukkan
hagaimana reaksi jumlah yang mau dibeli terhadap perubahan harga: kalau P naik, Qd Iislru
berkurang, sedang kalau P turun, Qd justru bertambah.
Tetapi reaksi konsumen tidak mesti sama untuk pelbagai macam barang. Untuk heherapa
macam barang para konsumen sangat peka terhadap perubahan harga, artinya:
1witihahan harga yang kecil saja sudah menyebabkan jumlah yang mau dibeli berkurang
hanyak. Tetapi ada juga barang di mana konsumen hampir tidak peka terhadap pertihahan
harga: biarpun harga naik, jumlah yang dibeli hampir tidak berkurang. Untuk iiicnyatakan
peka-tidaknya jumlah yang mau dibeli terhadap perubahan harga dipergunakan istilah
elastisitas, tepatnya elastisitas harga (price elasticity of demand).
PENGERTIAN DAN RUMUS ELASTISITAS PERMINTAAN
Ealastisitas (harga) menunjukkan bagaimana reaksi pembeli (dalam hal jumlah yang mau
dibeli) bila ada peruhahan harga, atau: peka-tidaknya jumluh yang man dibeli terhadap
perubahan harga. Maka agar dapat dibandingkan dua-duanya dinyatakan dalam %
Jika konsumen peka terhadap perubahan harga suatu barang, permintaan akan barang
itu disebut ELASTIS.
Artinya: perubahan harga yang kecil menyebabkan perubahan yang relatif (lebih) hesar
dalam jumlah yang diminta. Misalnya harga naik dengan 10%. Akibatnya jumlah barang
yang mau dibeli berkurang dengan % yang lebih besar, misalnya 20%
Jika konsumen kurang peka terhadap perubahan harga suatu barang tertentu, permintaan
akan barang itu disebut INELASTIS.

Artinya: meskipun kenaikan harga (relatif) cukup besar. namun jumlah yang mau diheli
hampir tidak berkurang; sedang kalau harga barang turun, jumlah yang diminta hampir
tidak bertamhah.
Misalnya harga turun 10% menyebabkan pertambahan dalam jumlah yang diminta
relatif lebih kecil, misalnya hanya 5%. Hal mi terutama terjadi pada barang-barang
kehutuhan hidup pokok seperti beras, garam, dli.
Rumus elastisitas permintaan
Elaslisitas permintaan dapat diukur dan dinyatakan dalam suatu angka yang di%chiII
koelisien elastisitas. Besar-kecilnya koefisien elastisitas permintaan dapat diIiiliiiig dengan
hantuan suatu rumus yang sederhana.
Rumus umum untuk elastisitas permintaan adalah sbb:

Dibawah ini contoh perhitungan koefisien elastisitas permintaan.


Sebagai contoh kita perbandingkan permintaan akan dua macam barang, yaitu obat
nyamuk dan teh hungkus.

Untuk mcmpermudah pcrbandingannya, kedua barang tersehut digambarkan kurve


permintaannya dalam satu grafik.. Kemudian kita hitung elastisitas pcrinintaan,misalnya apa
yang terjadi dengan jumlah yang diminta (Qd) kalau harga naik dariRp 200,- menjadi Rp
300,-. Perhatikan cara kerjanya!

SISTEM HARGA
Dalam kehidupan ekonorni modern harga-harga memainkan peranan yang amat
penting, justru karena produsen dan konsumen (termasuk dunia perbankan, pedagang
ckspor-impor dan pemerintah sendiri) bertindak atas dasar pertimbangan dan
perbandingan harga.
a.NILAI DAN HARGA
Para ahli filsafat telah memikirkan persoalan harga dan nilai. Karena pada waktu itu
uang helum begitu berperanan, yang diutamakan adalah pengertian Nilai barang.

ARISTOTELES (384-322 seb.M.) pada tahun 300 sebelum Masehi telah membahas
masalah ini, Menurut Aristoteles suatu barang mempunyai nilai karena berguna untuk
yang memilikinya (= Nilai pakai), atau karena barang tsb. dapat dipertukarkan dengan
barang lain (= Nilai tukar). Jenis-jenis nilai mi masih dapat dibedakan obyektif dan
subyektif.
Nilai pakal (Value in use atau Utility) adalah kemampuan suatu barang untuk dapat
memenuhi suatu kebutuhan manusia.
1.Nilai pakai obyektif = kemampuan atau sifat barang untuk dapat memenuhi suatu
kebutuhan manusia, jadi kegunaan atau faedah barang.
2.Nilai pakai subyektif = penilaian yang diberikan seseorang terhadap suatu barang
karena kemampuan barang tsb. dalam memenuhi kebutuhannya. Pcnilaian subyektif mi
dapat sangat berbeda-beda menurut situasi dan kondisi, seperti mendesaknya
kebutuhan seseorang dan jumlah barang yang tersedia.
Nilai tukar (Value in exchange) adalah kemampuan suatu barang untuk dilukarkan dengan
barang lain di pasar.
a.Nilai tukar obyektif = kemampuan suatu barang untuk dipertukarkan dengan
barang lain.
b.Nilai tukar subyektif = penilaian yang diberikan seseorang bila barang tsb. akan
ditukarnya dengan barang lain.
Harga suatu barang adalah nilai (tukar) barang tsb. dinyatakan atau diukur dengan
uang. Jadi antara nilai dan harga tidak sama: Nilai (tukar) suatu barang diukur dengan
membandingkannya dengan barang lain. Sedang harga diukur dengan uang. Nilai suatu
barang adalah dasar untuk penentuan harga barang tsb.
Pada abad pertengahan masalah harga terutama disoroti dan segi moral baik-buruk,
halal dan haram. Yang dipersoalkan adalah apakah harga suatu barang itu adil
(wajar/pantas = just price). Karena harga yang diminta oleh produsen penjual barang
tertentu ikut mempengaruhi kesejahteraan pembeli atau masyarakat, perlu dijaga jangan
sampai orang mencari keuntungan dengan memeras sesamanya yang miskin. Hal ini
khususnya berlaku untuk pinjam-meminjam uang dengan bunga yang tinggi.
Sementara itu kaum klasik mempersoalkan faktor apa yang penentuan tinggi
rendahnya harga suatu barang Meskipun jelas bagi mereka bahwa suatu barang tidak
akan diproduksikan kalau barang tsb. tidak berguna bagi konsumen, tetapi perhatian
mereka dipusatkan pada segi biaya produksi.
Biaya produksi sebagai dasar harga dan nilai: Teori nilai obyektif

ADAM SMITH (1723-1790) menegaskan bahwa nilai (= nilai tukar atau harga) suatu
barang diteniukan oleh biaya produksinya. Dalam masyarakat yang masih sangat
sederhana, nilai tukar atau harga suatu harang terutama ditentukan oleh banyaksedikitnya kerja manusia yang telah dicurahkan untuk menghasilkan barang tsb. Tetapi
dalam masyarakat yang sudah lebih maju, biaya-biayaproduksi lain harus ikut
diperhitungkan pula, yaitu upah tenaga kerja, biaya bahan-hahan. sewa tanah. bunga
modal dan laba pengusaha.
DAVID RICARDO (1772-1823) membatasi biaya produksi hanya pada tenaga kerja
nianusia saja. Jadi harga suatu harang tergantung dan banyak-sedikitnyakerja manusia
yang telah dicurahkan dalarn produksi barang tsb. Ia membedakan antara barang seni
dan barang biasa. Nilai harang seni memang ditentukan oleh banyaknya pengaguran
barang seni tsb.: makin banyak penggernarnya, makin tinggi nilai dan harganya, karena
harang seni tidak dapat diperbanyak. Lain halnya dengan barang biasa yang dapat
diproduksi dalarnjumlah yang banyak. Teorinya dikenal dengan nama teori nilai kerja.
Contoh:
Andaikan kita dapat mengukur berapa jumlah jam kerja yang diperlukan untuk
produksi agung, beras dan pakaian (kain ). Angkaangka di hawah mi hanya sebagai
misal saja:
Produk Jumlah jam kerja yg diperlukan
Jagung (kg) 20
Beras (kg) 10
Kain (meter) 80
Menurut teori ini, jagung dan beras akan dipertukarkan dengan perbandingan 2 kg
jagung untuk 1 kg beras. Satu meter kain dapat dijual dengan harga 4kg jagung atau
2kg beras. Satu kg beras cukup untuk membayar meter kain. Satu kg jagung dapat
ditukar dengan kg beras atau 74 meter kain.
Cara berpikir seperti ini memang masuk di akal pada jaman itu. Karena pada waktu
itu tenaga kerja adalah faktor produksi yang utama, peralatan produksi masih serba
primitif. dan kehutuhan masyarakat rnasih terbatas pada kebutuhan dasar sandang,
pangan dan papan. Lagi pula penggunaan baang masih sangat terhatas. Dalam keadaan
seperti itu barang-barang dipertukarkan dengan harga sesuai dengan biaya produksinya.
KARL MARX (1818-1883) mengambil alih teori Ricardo tsh., tetapi lebih
diperseinpitlagi. Menurut Marx tenaga kerja merupakan satu-satunya sumher nilai. Nilai
dan harga setiap barang ditentukan oleh jumlah kerja (rata-rata) yang telah dicurahkan

dalam proses produksinya. Dan itu Marx menarik kesimpulan, hahwa laba (selisih antara
harga jual suatu barang dan biaya produksinya, atau yang disebutnya nilai lebih)
HENRY CAREY (1793-1879) memperbaiki teori nilai biaya produksi dengan
mtnunjukkan hahwa yang penting sebenarnya bukan biaya-biaya yang telah dikeluarkati
(= harga histonis). melainkan biaya-biaya yang penlu untuk rnenghasilkan kembali harang
yang sama (= biaya reproduksi).
Teori-teori di atas dikenal dengan nama teori nilai obyektif.
Kelemahan teori tsb adalah bahwa hendak menjelaskan terjadinya nilai dan dari satu
segi saja, yaitu dan segi biaya produksi atau dan segi produsen saja.
Memang, biaya produksi itu penting dalam penentuan harga jual oleh produsen.
tetapi nilai dan harga tidak hanya tergantung dan produsen saja! Sebenarnya mereka pun
tahu bahwa kehutuhan dan selera konsumen pentingjuga. Kalau begitu. mengapa mereka
membatasi hanya pada segi hiaya saja. Sementara itusegi kegunaan barang sama sekali
diabaikan.