Anda di halaman 1dari 2

Tak Ada Gunanya Menyesal

Eded , malasku pindah ke sini e , mak . . . menyesalku harus tinggal di


sini . . . . Inilah ucapan yang sangat sering kuucapkan pada Ibu pada tahun
pertamaku menetap di Makassar . Saya selalu bersungut sungut setiap ada
kesempatan . . . Apalagi setiap kali saya mendapat kesusahan di sekolah , selalu
saja orang orang yang berada di sekitarku kusalahkan . . .

Yah , saya akan bercerita dari awal , mengapa selalu ku berkeluh kesah
ketika terpaksa pindah dan menetap di Makassar . Namaku Ucok , saya
sebenarnya berasal dari Makassar . Hanya saja . . . Karena pendidikan , Ayahku
meninggalkan Makassar dan menimba ilmu di Surabaya . Ibu , dan tentu saja
saya beserta saudaraku pun ikut bersama Ayah . Di kala itu , saya masih berusia
tiga tahun , sehingga dalam benakku yang masih balita, saya tidak dapat
mengingat masa kecil yang kujalani di Makassar . . . Sehingga akhirnya , saya
pun tumbuh dan mengenal dunia di kota yang dijuluki kota pahlawan itu .

Sejauh yang kuingat , saat kami sekeluarga tinggal di sana , keuangan


Ayahku tidak berlebihan , tetapi tidak juga dapat dikatakan miskin sekali .
Sehingga , keluargaku tinggal di rumah yang dipinjamkan oleh saudara dari
nenek saya di Surabaya . Hingga sekarang , entah mengapa . . . kenangan saat
tinggal di rumah tersebut tetap bernaung di hatiku , walaupun rumah yang
kutempati dulu hanyalah rumah tua yang berukuran sedang . Hanya saja , saya
memiliki banyak peristiwa peristiwa yang menjadi kenangan manis dan pahit
bagiku sewaktuku masih kecil . Saya belajar akan banyak hal di rumah
kenanganku seperti cara bersepeda , menggambar , mengetik , dan banyak lagi .
. . Semua itu masih menjadi kenangan manis untukku hingga sekarang . . .

Selain itu ,hal yang membuatku sulit melupakan kota yang sudah
kuanggap sebagai kampungku sendiri adalah di sana lah ku mengenal teman
pertama dan mendapatkan sahabat . Saya mulai duduk di bangku TK pada saat
berusia empat tahun . Dan saya telah mendapatkan berbagai pengalaman , baik
yang bersifat umum maupun unik , seperti saya pernah melempar sepatuku
secara tidak sengaja ke dalam ruang guru . . . Dan juga , saya mendapat sahabat
, yang walaupun kami sudah berpisah selama 7 tahun lebih , kami masih sering
bertukar pengalaman . Tetapi . . . dari semua hal di atas . . . akan selalu kuingat
jasa Ibuku yang selalu menemaniku hingga jam pelajaran berakhir .

Akhirnya , saya pun duduk di bangku SD . Tak kusangka , saya berhasil


mendapatkan begitu banyak teman ketika masuk di SD kelas 1 . Dan , dulunya
mungkin saya adalah pribadi yang sangat pemalu , akhirnya berhasil mendapat
sahabat perempuan . Walaupun hanya tiga tahun , sekolah SD tempatku
bersekolah di Surabaya telah kuanggap menjadi bagian penting hidupku hingga
sekarang . . . Begitu banyak kenangan yang kudapatkan , sehingga saat itu saya
sudah berharap tidak akan ada hal yang berubah . . .
Namun , akhirnya , Ayahku berhasil menyelesaikan pendidikannya ,
sehingga beliau pun harus kembali ke kota asalnya , Makassar . Saat mendengar
hal tersebut , walaupun masih kecil . . . saya pun merasakan kesedihan yang
mendalam karena harus berpusah dari semuanya . . . Mulai dari sahabat , rumah
kenangan , dan kota Surabaya dengan segala kenangannya . . .

Akhirnya , saya pun kembali ke kota asalku . . . Bagiku keadaan seperti


benar benar berbeda . . . Saya pun bersekolah di SD Kulupanamana pada saat
saya telah naik kelas dari kelas tiga menuju kelas empat SD . Hari pertama
sekoalah pun dimulai . . . aku ditempatkan di kelas IV B . Wali kelasku pun
memintaku memperkenalkan diri . Setelahnya , saya pun duduk di pojok kelas .
Semua berjalan normal ketika pelajaran berlangsung . Tetapi , saat jam istirahat
berlangsung , saya sangat terkejut mendengar cara berbicara dan kelakuan
teman temanku . . . Bila dibandingkan teman temanku di Surabaya , teman
temanku di Makassar sangat kasar dalam hal berkata kata , serta mereka juga
mudah terbawa emosi...
Saya begitu kaget ketika seorang temanku berbicara kasar kepadaku dengan
santainya . . .

Selain masalah teman , saya pun merasa tidak puas dengan lingkungan di
Makassar , karena saya merasa Makassar masih sangat tertinggal bila
dibandingkan dengan Surabaya . Tidak ada ini , tidak ada itu . . . Serba kurang
lah pokoknya ! Itulah yang selalu memicu rasa jengkelku terhadap Makassar dulu
...

Hanya , entah mengapa , tak dapat kuingat lagi ,tiba tiba telingaku
menjadi terbiasa mendengar kata kata kasar yang diucapkan teman temanku
. . . Malahan saya pun menjadi cukup sering mengucapkannya , sehingga tidak
seperti sewaktu di Surabaya , kini saya mendapat menjalin persahabatan dengan
siswa yang boleh dikata dapat digolongkan sebagai siswa nakal . . . Sewaktu
kelas satu SMP , saya pun menjadi semakin menyukai Makassar , karena
temanku sekarang sangat beragam . Hal hal kecil , seperti tertinggalnya kota
Makassar dibandingkan kota kota di Jawa , sudah tidak kupedulikan , karena
saya sudah puas selama mempunyai sahabat yang mau menerima dan
menanggapiku , sehingga aku boleh betul betul mengalami persahabatan yang
sesungguhnya .

Akhir kata , hingga hari ini . . . Aku pun masih berpikir Wah , kalau dulu ,
saya tidak pindah , saya sekarang bagaimana ya ? . Tanpa dijawab pun saya
tahu bahwa saya tidak akan mempunyai sahabat sebanyak sekarang dan juga
tidak mengalami pengalaman pengalaman unik dan kocak baru bersama
teman teman di Makassar . . . Saya pun belajar untuk tidak menyesali sesuatu
karena Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik . . .