Kesiapsiagaan PDF
Kesiapsiagaan PDF
Indikator dan Perilaku Kesiapsiagaan Masyarakat Di Permukiman Padat Penduduk dalam Antisipasi Berbagai Fase
Bencana Banjir
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 24 No. 2, Agustus 2013, hlm.125 140
Dodon
Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Desa, Program Studi Perencanaan Wilayah
dan Kota,-SAPPK- Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Labtek IXA Bandung
Email: dodonyamin@gmail.com
Abstrak
Dalam kondisi negara Indonesia yang memiliki banyak potensi bencana alam, kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi bencana menjadi salah satu isu yang penting dalam usaha
pengurangan risiko bencana. Salah satu wilayah yang rentan terkena bencana banjir adalah
Kelurahaan Baleendah, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di permukiman padat.
Hampir setiap musim hujan datang, banjir dapat dipastikan terjadi di wilayah ini, sementara
upaya pengurangan risiko bencana masih berfokus pada kebijakan struktural kurang
mempertimbangkan kondisi masyarakatnya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi
kesiapsiagaan masyarakat Kelurahan Baleendah dalam menghadapi bahaya banjir. Metode
analisis yang digunakan adalah metode analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi untuk
mengidentifikasi tingkat kesiapsiagaan dan hubungan antar faktor yang mempengaruhi
kesiapsiagaan. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap
bahaya bencana lebih rendah dibandingkan kesiapsiagaan masyarakat saat bencana dan
setelah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Baleendah memiliki
kesiapsiagaan dalam kondisi darurat.
Abstract
Under conditions of Indonesia which has a lot of potential natural disasters, community
preparedness for disasters to be one of the important issues in disaster risk reduction efforts.
One of the areas that are flood prone Kelurahaan Baleendah, especially for people who live in
dense settlements. Almost every rainy season came, flooding can certainly occur in this region,
while the disaster risk reduction has focused on structural policies did not consider the
condition of the people. This study aims to identify Baleendah Village community preparedness
in the face of the danger of flooding. The analytical method used is descriptive method of
statistical analysis and correlation analysis to identify the level of preparedness and the
relationships among factors affecting preparednes. The study results showed that the level of
community preparedness against disasters is lower than the current community preparedness
and disaster after community. This suggests that people have a Baleendah Village preparedness
in an emergency.
Kesiapsiagaan adalah suatu upaya yang banjir yang sering terjadi memiliki
dilaksanakan untuk mengantisipasi kesiapsiagaan tersediri untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya bencana guna dampak yang mereka rasakan. Tulisan ini
menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian bertujuan untuk menegidentifikasi
harta benda, dan berubahnya tata kehidupan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi
masyarakat di kemudian hari (Gregg et al., bencana banjir di permukiman padat penduduk.
2004; Perry dan Lindell, 2008; Sutton dan Ada beberapa sasaran yang ingin dituju dalam
Tierney, 2006). Kesiapsiagaan menghadapi tulisan ini diantaranya adalah mengetahui
bencana adalah suatu kondisi masyarakat yang indikator kesiapsiagaan masyarakat dan
baik secara individu maupun kelompok yang mengetahui perilaku kesiapsiagaan masyarakat
memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dalam menghadapi bencana banjir.
kemungkinan terjadinya bencana di kemudian
hari (Gregg et al., 2004; Perry dan Lindell, Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama.
2008; Sutton dan Tierney, 2006). Bagian pertama membahas latar belakang dan
tujuan penelitian. Bagian kedua membahas
Pemerintah membutuhkan masyarakat yang tinjauan literature terkait konsep bencana, risiko
memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam bencana, bahaya, kerentanan, dan kapasitas;
menghadapi suatu bencana untuk mengurangi bahaya banjir; dampak bencana banjir; dan
risiko terhadap bencana (Matsuda dan Okada, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi
2006). Kesiapsiagaan dari masyarakat akan bahaya. Bagian ketiga membahas metodologi
membuat masyarakat lebih siap ketika bencana penelitian. Bagian keempat berisi analisis
melanda. Kesiapan masyarakat ini akan kesiapsiagaan masyarakat Kelurahan
meminimalkan dampak negatif yang muncul Baleendah dalam Menghadapi Bahaya Banjir.
dari suatu bencana yang terjadi. Bencana banjir Bagian terakhir berisi kesimpulan.
yang datang secara berkala biasanya akan
membentuk kesiapsiagaan masyarakat dalam 2. Tinjauan Literature
menghadapi bahaya banjir yang ada.
Kesiapsiagaan terbentuk oleh pengalaman 2.1 Konsep Bencana, Risiko Bencana,
mereka dalam menghadapi bencana banjir. Bahaya (Hazard), Kerentanan, dan
Kapasitas
Salah satu bencana yang sering melanda adalah
bencana banjir di Kelurahaan Baleendah. Banjir Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun
di Kelurahaan ini sudah terjadi sejak tahun 2005 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
hingga sekarang. Masyarakat Kelurahaan bencana adalah peristiwa atau rangkaian
Baleendah yang sering mengalami bencana peristiwa yang mengancam dan mengganggu
banjir secara tidak langsung akan membentuk kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
kesiapsiagaan sendiri. Hal ini, sebenarnya bisa disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
di manfaatkan pemerintah dalam upaya faktor nonalam maupun faktor manusia
mengurangi risiko bencana banjir yang terjadi. sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
Berdasarkan penjelasan diatas diketahui benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat
bagaimana pentingnya tindakan kesiapsiagaan pula didefinisikan sebagai situasi krisis yang
yang ada dimasyarakat. Masyarakat yang telah jauh diluar kapasitas manusia untuk
lama hidup berdampingan dengan bencana menyelamatkan diri. Artinya, suatu kejadian
126
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
alam ekstrim tidak akan disebut bencana 1. Geological hazards, antara lain: gempa
apabila dampak atau kerugian yang bumi, tsunami, gunung api, dan longsor.
ditimbulkannya tidak dirasakan oleh manusia. 2. Hydrometeorological hazards, antara lain
banjir, kemarau, angin topan, badai salju,
Bencana merupakan hasil interaksi dari potensi dan gelombang pasang.
bahaya, faktor kerentanan, dan kurangnya 3. Biological hazards, antara lain: wabah
kapasitas masyarakat dalam meminimalisir penyakit dan hama.
dampak negatif bencana tersebut. Untuk 4. Technological hazards, antara lain:
memahami konsep bencana dengan baik, perlu kegagalan infrastruktur, polusi industri,
diketahui definisi dari kata-kata kunci berikut aktivitas nuklir, tanggul yang jebol, dan
ini. kecelakaan transportasi.
5. Environmental degradation, antara lain
Risiko Bencana deforestasi, kebakaran hutan, polusi air dan
Risiko bencana adalah kemungkinan terjadinya udara, dan perubahan iklim.
kerusakan ataupun kerugian berupa korban
jiwa, cedera, hilangnya harta benda, rusaknya Kerentanan dan Kapasitas
tempat tinggal, dan sebagainya, sebagai akibat Kerentanan merupakan suatu kondisi dari suatu
interaksi antara bahaya dengan kondisi manusia masyarakat yang mengarah atau menyebabkan
yang rentan (UN-ISDR, 2002). Analisis risiko ketidakmampuan dalam menghadapi bahaya.
bencana adalah proses menentukan jenis dan Tingkat kerentanan adalah suatu hal penting
tingkat risiko bencana dengan menganalisis untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang
potensi bahaya serta mengevaluasi kondisi berpengaruh terhadap terhadap terjadinya
eksisting manusia, tempat tinggal, kegiatan, dan bencana, karena bencana baru akan terjadi bila
lingkungan yang meliputi kerentanan dan bahaya terjadi pada kondisi yang
kapasitas terhadap bencana. rentan(Wisner, 2004). Kerentanan merupakan
sebuah kondisi yang ditentukan oleh proses
Bahaya (Hazard) fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan yang bisa
Bahaya dapat mencangkup kondisi yang meningkatkan kerawanan sebuah komunitas
bersifat laten yang bisa di mewakili ancaman di terhadap dampak bahaya (UNDP, 2004).
masa depan. Bahaya juga bersifat dinamis dan
dampaknya pun akan berbeda antara satu Kerentanan dapat diartikan karakteristik dan
dengan yang lainnya. Bahaya yang disebabkan situasi seseorang atau suatu kelompok meliputi
oleh alam memiliki proses yang tidak menentu, faktor fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi
sulit untuk diprediksi dan dinamis, dapat yang memperbesar kemungkinan menderita
memicu bahaya lainnya dan mengubah dampak suatu bahaya (UN-ISDR, 2002).
lingkungan. Bahaya adalah peristiwa fisik, Kerentanan dapat pula diartikan sebagai faktor
fenomena alam, ataupun aktivitas manusia yang yang menentukan seberapa besar dampak yang
berpotensi mengakibatkan kematian, cedera, dirasakan apabila terjadi bahaya. Sebaliknya,
kerugian harta benda, gangguan sosial terdapat pula faktor kapasitas, yaitu penguasaan
ekonomi, dan ataupun kerusakan lingkungan sumber daya, sikap, dan kemampuan yang
(UN-ISDR, 2002). Menurut UN-ISDR (2002), dimiliki oleh masyarakat, yang memungkinkan
bahaya dapat diklasifikasikan berdasarkan lima mereka untuk mempertahankan dan
aspek yaitu: mempersiapkan diri untuk mencegah,
127
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
menanggulangi, dan memulihkan diri dari Bencana banjir terjadi hamper disetiap musim
dampak bencana. hujan melanda Indonesia. Kejadian bencana
banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor
Sementara kapasitas merupakan hasil dari suatu alam berupa curah hujan yang diatas normal dan
persiapan yang direncanakan sebelum bencana adanya pasang naik air laut. Disamping itu
terjadi (Taubenbck et al., 2008). Persiapan faktor ulah manusia juga berperan penting
disini adalah kesiapsiagaan dalam menghadapi seperti penggunaan lahan yang tidak tepat
bencana. Kapasitas ini mencakup fisik, sosial, (pemukiman di daerah bantaran sungai, di
ekonomi, serta karakteristik keterampilan daerah resapan, penggundulan hutan, dan
pribadi maupun karakteristik kolektif (Buckle, sebagainya), pembuangan sampah ke dalam
2006). Kapasitas seseorang menunjukan tingkat sungai, pembangunan pemukiman di daerah
kesiapsiagaan dari orang tersebut. Sama seperti dataran banjir dan sebagainya (Price, 2008).
dengan kerentanan, kapasitas juga
diklasifikasikan menjadi tiga aspek sebagai Penyebab umum terjadinya banjir diakibatkan
berikut. oleh faktor cuaca, yaitu curah hujan. Curah
1. Kapasitas fisik dan lingkungan, meliputi hujan dengan intensintas yang tinggi yang
kapasitas manusia untuk mengurangi terjadi pada waktu yang pendek biasanya
kecenderungannya terkena dampak bencana merupakan penyebab utama banjir. Limpahan
melalui pembangunan yang bersifat fisik air hujan tersebut tidak dapat di tampung/di
pada lingkungan sekitar tempat tinggal dan serap sistem drainase yang ada baik itu yang
berkegiatan. alami seperti sungai maupun yang buatan
2. Kapasitas sosial, meliputi sikap manusia seperti saluran air.
untuk mengurangi kecenderungan menderita
dampak bencana melalui pengembangan Kedua faktor tersebut yang mengakibatkan
perilaku dan budaya yang positif serta terjadinya banjir. Kemampuan daya tampung
pelaksanaan kegiatan yang bertujuan dari sistem pengaliran air yang ada juga tidak
menambah wawasan masyarakat terkait selamanya sama, terjadi perubahan berupa
bencana. sedimentasi/penyempitan terhadap sistem
3. Kapasitas ekonomi, meliputi upaya manusia pengairan yang ada. Penyempitan tersebut bisa
untuk memperkecil dampak bencana melalui diakibatkan oleh faktor alam bisa juga
pengelolaan harta benda yang baik, misalnya diakibatkan oleh faktor ulah manusia. Ulah
kepemilikan simpanan di bank. manusia seperti membuang sampah
sembarangan ,atau pembangunan kawasan
2.2 Bahaya Banjir perumahan ataupun industri yang tidak melihat
kaidah-kaidah lingkungan seperti
Banjir adalah dimana suatu daerah dalam pembangunan pertokohan di daerah resapan air
keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang dan pemukiman di sepanjang sempadan sungai
begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah mengakibatkan terjadinya sumbatan/
banjir yang datang secara tiba-tiba yang penyempitan pada sistem pengairan. Selain itu
disebabkan tersumbatnya sungai maupun penggundulan hutan di kawasan hulu
karena pengundulan hutan disepanjang sungai menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan
sehingga merusak rumah penduduk maupun air (catchment area), akibatnya debit/pasokan
menimbulkan korban jiwa (Price, 2008). air yang masuk ke dalam sistem aliran yang ada
mengalami peningkatan sehingga melampaui
128
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
129
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
130
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
131
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
132
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
133
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
134
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
darurat. Sumber daya yang ada dapat berasal masyarakat di wilayah yang rentan terhadap
dari internal (dari dalam wilayah yang terkena bencana akan mengurangi kerentanan itu
dampak bencana itu sendiri) dan eksternal (dari sendiri. Modal sosial yang solid antara
luar daerah bencana). penduduk akan mempermudah masyrakat
4%
dalam melakukan mobilisasi pada saat evakuasi
Pernah Mendapatkan akan di lakukan.
Materi Kesiapsiagaan
135
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
melindungi rumah dengan kayu/batu/karung Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang
pasir, menyiapkan asuransi harta benda/jiwa, didapatkan sebelum bencana berdasarkan
dan mengikuti pelatihan dan simulasi jika ada. pembagian kelas dengan rumus Struges.
Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah
Jumlah tindakan kesiapsiagaan sebelum frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi
bencana yang digunakan untuk mengukur minimun 0, maka didapatkan kelas
tingkat kesiapsiagaan sebelum bencana kesiapsiagaan sebelum bencana adalah sebagai
berjumlah 8 tindakan. Dengan memasukan nilai berikut
n sebesar 8, maka di peroleh k atau jumlah
tingkat kesiapsiagaan sebesar 4 kelas. Interval 0 sampai dengan 474 = Sangat Rendah
nilai untuk setiap tingkat kesiapsiagaan di dapat 475 sampai dengan 948 = Rendah
dari frekuensi maksimun dikurangi frekuensi 949 sampai dengan 1422 =tinggi
minimun dibagi jumlah tingkat kesiapsiagaan 1423 sampai dengan 1896=sangat tinggi
dari rumus Sturges.
Jumlah frekuensi total semua tindakan
Frekuensi kesiapsiagaan sebelum bencana kesiapsiagana sebelum bencana adalah 858.
maksimun adalah 1896 yaitu ketika semua Frekuensi masyarakat yang melakukan
responden (237) mengatakan melakukan semua tindakan kesiapsiagaan sebelum bencana masuk
tindakan kesiapsiagaan yang ada. Skor ke tingkat rendah. Masyarakat kurang
kesiapsiagan sebelum bencana minimun adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana
0 yaitu ketika semua responden menyatakan yang ada karena dampak dari bencana banjir
tidak melakukan semua tindakan kesiapsiagaan. yang ada belum menimbulkan kerugian bagi
Maka, interval nilai untuk setiap tingkat mereka.
kesiapsiagaan adalah (1896-0)/4, yaitu 474.
Dengan demikian pembagiannya tingkat Analisis Perilaku Kesiapsiagaan Saat
kesiapsiagaan sebelum bencana berdasarkan Bencana
frekuensi masyarakat yang melakukan Kesiapsiagaan saat bencana adalah suatu
tindakanya adalah sebagai berikut : tindakan kesiapsiagaan yang dilakukan pada
saat bencana banjir terjadi. Ada beberapa
Menyiapkan
gambar/poster tindakan 4 tindakan yang dilakukan sebagai bentuk
aksi kesiapsiagaan saat bencana seperti menentukan
Menyiapkan asuransi
(Jiwa dan Harta)
28 prioritas barang-barang yang akan di bawah
Mengikuti pelatihan dan
pada saat bencana terjadi, mematikan aliran
68
simulasi Bencana listrik, melakukan pembagian tugas pada saat
Tindakan Melindungi Rumah untuk bencana terjadi, berlindung di tempat yang
119
Kesiapsiaga menahan air
an
aman sampai ada pemberitahuan selanjutnya,
Sebelum Perlengkapan gawat
120 menyepakati tempat evakuasi yang di
Bencana darurat
laksanakan, meminta bantuan kepada tetangga,
Mempersiapkan Evakuasi 167 memberikan bantuan kepada tetangga, dan
Rencana tindakan aksi
menyiapkan tanah dan rumah di tempat lain.
169
menghadapi bencana
Penentuan langkah-
183
langkah Kesiapsiagaan
136
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
Melakukan
Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang pembersihan
17
didapatkan saat bencana berdasarkan
Membersihkan
pembagian kelas dengan rumus Struges. 101
lingkungan, jalan,
Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah Merekonstruksi dan
143
frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi meninggikan rumah
minimun 0, maka didapatkan kelas Tindakan Berobat ke rumah
185
Kesiapsiag sakit setelah terjadi
kesiapsiagaan saat bencana adalah sebagai aan
berikut : Setelah Memperbaiki/Mempe 215
Bencana kuat rumah dan
Membersihkan rumah
0 sampai dengan 474 = Sangat dan perabotan
219
Rendah Memeriksa kembali
475 sampai dengan 948 = Rendah 221
kondisi bangunan
949 sampai dengan 1422 =tinggi
Migrasi ketempat lain 222
1423 sampai dengan 1896=sangat tinggi
0 50 100 150 200 250
Jumlah frekuensi total semua tindakan Jumlah Responden
kesiapsiagaan saat bencana adalah 1208.
Frekuensi masyarakat yang melakukan Gambar 9. Kesiapsiagaan Masyarakat Setelah
tindakan kesiapsiagaan saat bencana masuk ke Bencana terjadi
Sumber: Hasil Analisis, 2012
tingkat tinggi. Pada saat bencana terjadi
masyarakat mulai dituntut untuk melakukan Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang
berbagai tindakan pencegahan untuk didapatkan setelah bencana berdasarkan
meminimalisir dampak yang dirasakan. pembagian kelas dengan rumus Struges.
Masyarakat mulai melakukan berbagai tindakan Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah
pencegahan bencana banjir dan penyelamatan frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi
diri karena dampak bencana banjir mulai minimun 0, maka didapatkan kelas
dirasakan oleh mereka.
137
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
138
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
berbagai kesiapsiagaan yang ada untuk Messner, Frank. and Meyer, Volker. 2005. Flood
mengurangi risiko bencana. Kondisi bencana Damage, Vulnerability And Risk Perception
Challenges For Flood, Damage Research.
juga akan membuat masyarakat terdorong Discussion Nato Science Series, Springer
untuk melakukan kesiapsiagaan kemudian hari, Publisher.
hal ini di lihat dari kesiapsiagaan masyarakat Price. 2008. Urban Flood Disaster Management.
UNESCO-IHE, Delft
setelah bencana. Sutton, J., and Tierney, K. 2006. Disaster
Preparedness: Concepts, Guindance and
Ucapan Terima Kasih Research. Colorado: University of Colorado.
Takao, Kenji, Motoyoshi, Tadahiro, Sato, Teruko,
Fukuzono, Teruki. 2004. Factors
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Determining Residents' Preparedness For
Saut Aritua H. Sagala, ST., M.Sc., Ph.D untuk Floods In Modern Megapolises: The Case Of
arahan dan bimbingan sehingga artikel ini The Tokai Flood Disaster In Japan. Journal
dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua of Risk Research, Carfax Publishing
mitra bestari yang telah memberikan komentar Taubenbck, H., Post, J., A., R., Zossesder, K.,
yang berharga. Strunz, G., and Dech, S. 2008. A Conceptual
Vulnerability and Risk Framework as Outline
Daftar Pustaka to Identify Capabilities of Remote Sensing.
Journal Of Natrural Hazard and Earth System
Buckle, P. 2006. Assessing Social Resilience. Management, 409-502.
Disaster Resilience: An Intergreted Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang
Approach. Illinois: Charles C. Thomas Penanggulangan Bencana
Publisher, Springfield. UN-ISDR. 2002. Living with Risk: A Global Review
Gissing, Andrew. 2002. Bussines In The Macleay of Disaster Reduction Initiatives. Preapared
Commercial Flood Damage Kempsey 2001. as An Inter-Agency Effort Coordinated by the
NSW Floodplain Management Conference ISDR Secretariat with special support from
Gregg, C. E., Houghton, B. F., Johnston, D. M., the Government of Japan, the World
Paton, D., and Swanson, D. A. 2004. The Meteorological Organization and the Asian
Perception of Volcanic Risk in Kona Disaster Reduction Center (Kobe, Japan).
Communities from Mauna Loa and Hualalai Geneva: ISDR Secretariat.
Volcanoes, Hawaiki. Journal of Volcanology United Nation Development Programme. 2004.
and Geothermal Research, 130, 179-196. Reducing Disaster Risk: A Challengen for
Ho, M. C., Shaw, D., and Lin, S. Y. 2008. "How Do Development. New York: UNDP.
Disasters Characteristics URL:www.undp.org/cpr/whats_new/rdr_eng
Kreibich, Heide, Thieken, Annegret. 2007. Coping lish.pdf.
With Floods in the City Of Dresenden, Wisner, B., Blakilie, P., Canon, T., and Davis, I.
Germany. Journal in Natural Hazard and 2004. At Risk: Natural Hazard, People's
Earth System Sciennces Vulnerability and Disasters. New York:
Lindell, M.K. & Perry, R.W. 1992. Behavioral Routledge.
Foundations of Community Emergency Zhai, Guofang, Fukuzono, Teruki, Ikeda, Saburo.
Management. Washington China. Habitat 2005. Modelling Flood Damage case of Tokai
International. Washington, DC: Hemisphere Flood 2000. Journal of the America Water
Publishing Corp Resources Association
LIPI-UNESCO/ISDR. 2006. Kajian Kesiapsiagaan
Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana
Gempa Bumi dan Tsunami.
Martens, T., Garrelts, Grunnenberg, H., and Lange,
H. : Taking The Heterogeneity Of Citizens
Into Account: Flood Risk Communication In
Coastal Cities A Case Study Of Bremen.
Natural Hazards and Earth System Sciences.
Matsuda, Yoko., Okada, Norio. 2006. Community
Diagnosis for Sustainable Disaster
Preaparedness. Journal of Natural Disaster
Science, Kyoto University
139
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013
140