0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
406 tayangan16 halaman

Kesiapsiagaan PDF

Tulisan ini membahas kesiapsiagaan masyarakat di permukiman padat dalam menghadapi bencana banjir di Kelurahan Baleendah. Penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bahaya banjir lebih rendah dibandingkan saat dan setelah terjadi bencana. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki kesiapsiagaan dalam kondisi darurat.

Diunggah oleh

Loli Putra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
406 tayangan16 halaman

Kesiapsiagaan PDF

Tulisan ini membahas kesiapsiagaan masyarakat di permukiman padat dalam menghadapi bencana banjir di Kelurahan Baleendah. Penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bahaya banjir lebih rendah dibandingkan saat dan setelah terjadi bencana. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki kesiapsiagaan dalam kondisi darurat.

Diunggah oleh

Loli Putra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dodon

Indikator dan Perilaku Kesiapsiagaan Masyarakat Di Permukiman Padat Penduduk dalam Antisipasi Berbagai Fase
Bencana Banjir
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 24 No. 2, Agustus 2013, hlm.125 140

INDIKATOR DAN PERILAKU KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DI


PERMUKIMAN PADAT PENDUDUK DALAM ANTISIPASI
BERBAGAI FASE BENCANA BANJIR

Dodon

Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Desa, Program Studi Perencanaan Wilayah
dan Kota,-SAPPK- Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Labtek IXA Bandung
Email: dodonyamin@gmail.com

Abstrak

Dalam kondisi negara Indonesia yang memiliki banyak potensi bencana alam, kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi bencana menjadi salah satu isu yang penting dalam usaha
pengurangan risiko bencana. Salah satu wilayah yang rentan terkena bencana banjir adalah
Kelurahaan Baleendah, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di permukiman padat.
Hampir setiap musim hujan datang, banjir dapat dipastikan terjadi di wilayah ini, sementara
upaya pengurangan risiko bencana masih berfokus pada kebijakan struktural kurang
mempertimbangkan kondisi masyarakatnya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi
kesiapsiagaan masyarakat Kelurahan Baleendah dalam menghadapi bahaya banjir. Metode
analisis yang digunakan adalah metode analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi untuk
mengidentifikasi tingkat kesiapsiagaan dan hubungan antar faktor yang mempengaruhi
kesiapsiagaan. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap
bahaya bencana lebih rendah dibandingkan kesiapsiagaan masyarakat saat bencana dan
setelah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Baleendah memiliki
kesiapsiagaan dalam kondisi darurat.

Kata Kunci: Banjir, Bencana, Kesiapsiagaan Masyarakat, Kelurahan Baleendah

Abstract

Under conditions of Indonesia which has a lot of potential natural disasters, community
preparedness for disasters to be one of the important issues in disaster risk reduction efforts.
One of the areas that are flood prone Kelurahaan Baleendah, especially for people who live in
dense settlements. Almost every rainy season came, flooding can certainly occur in this region,
while the disaster risk reduction has focused on structural policies did not consider the
condition of the people. This study aims to identify Baleendah Village community preparedness
in the face of the danger of flooding. The analytical method used is descriptive method of
statistical analysis and correlation analysis to identify the level of preparedness and the
relationships among factors affecting preparednes. The study results showed that the level of
community preparedness against disasters is lower than the current community preparedness
and disaster after community. This suggests that people have a Baleendah Village preparedness
in an emergency.

Keywords: Flood, Disaster, Community Preparedness, Baleendah Village

1. Pendahuluan Kesiapsiagaan masyarakat cenderung diabaikan


oleh pemerintah yang akan membuat
Bencana banjir sudah menjadi isu nasional yang keputusan. Selama ini masih banyak
seakan tidak dapat diatasi lagi. Bencana banjir masyarakat yang mengantungkan
yang terjadi dibeberapa wilayah yang memiliki kesiapsiagaan dan mitigasi kepada pemerintah
kepadatan penduduk yang tinggi. Upaya dengan mengabaikan kesiapsiagaan pribadi
pengurangan dampak bencana yang dilakukan masing-masing (Matsuda dan Okada, 2006).
oleh pemerintah masih terfokus pada kebijakan
struktural saja (Matsuda dan Okada, 2006).
125
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

Kesiapsiagaan adalah suatu upaya yang banjir yang sering terjadi memiliki
dilaksanakan untuk mengantisipasi kesiapsiagaan tersediri untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya bencana guna dampak yang mereka rasakan. Tulisan ini
menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian bertujuan untuk menegidentifikasi
harta benda, dan berubahnya tata kehidupan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi
masyarakat di kemudian hari (Gregg et al., bencana banjir di permukiman padat penduduk.
2004; Perry dan Lindell, 2008; Sutton dan Ada beberapa sasaran yang ingin dituju dalam
Tierney, 2006). Kesiapsiagaan menghadapi tulisan ini diantaranya adalah mengetahui
bencana adalah suatu kondisi masyarakat yang indikator kesiapsiagaan masyarakat dan
baik secara individu maupun kelompok yang mengetahui perilaku kesiapsiagaan masyarakat
memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dalam menghadapi bencana banjir.
kemungkinan terjadinya bencana di kemudian
hari (Gregg et al., 2004; Perry dan Lindell, Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama.
2008; Sutton dan Tierney, 2006). Bagian pertama membahas latar belakang dan
tujuan penelitian. Bagian kedua membahas
Pemerintah membutuhkan masyarakat yang tinjauan literature terkait konsep bencana, risiko
memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam bencana, bahaya, kerentanan, dan kapasitas;
menghadapi suatu bencana untuk mengurangi bahaya banjir; dampak bencana banjir; dan
risiko terhadap bencana (Matsuda dan Okada, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi
2006). Kesiapsiagaan dari masyarakat akan bahaya. Bagian ketiga membahas metodologi
membuat masyarakat lebih siap ketika bencana penelitian. Bagian keempat berisi analisis
melanda. Kesiapan masyarakat ini akan kesiapsiagaan masyarakat Kelurahan
meminimalkan dampak negatif yang muncul Baleendah dalam Menghadapi Bahaya Banjir.
dari suatu bencana yang terjadi. Bencana banjir Bagian terakhir berisi kesimpulan.
yang datang secara berkala biasanya akan
membentuk kesiapsiagaan masyarakat dalam 2. Tinjauan Literature
menghadapi bahaya banjir yang ada.
Kesiapsiagaan terbentuk oleh pengalaman 2.1 Konsep Bencana, Risiko Bencana,
mereka dalam menghadapi bencana banjir. Bahaya (Hazard), Kerentanan, dan
Kapasitas
Salah satu bencana yang sering melanda adalah
bencana banjir di Kelurahaan Baleendah. Banjir Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun
di Kelurahaan ini sudah terjadi sejak tahun 2005 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
hingga sekarang. Masyarakat Kelurahaan bencana adalah peristiwa atau rangkaian
Baleendah yang sering mengalami bencana peristiwa yang mengancam dan mengganggu
banjir secara tidak langsung akan membentuk kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
kesiapsiagaan sendiri. Hal ini, sebenarnya bisa disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
di manfaatkan pemerintah dalam upaya faktor nonalam maupun faktor manusia
mengurangi risiko bencana banjir yang terjadi. sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
Berdasarkan penjelasan diatas diketahui benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat
bagaimana pentingnya tindakan kesiapsiagaan pula didefinisikan sebagai situasi krisis yang
yang ada dimasyarakat. Masyarakat yang telah jauh diluar kapasitas manusia untuk
lama hidup berdampingan dengan bencana menyelamatkan diri. Artinya, suatu kejadian

126
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

alam ekstrim tidak akan disebut bencana 1. Geological hazards, antara lain: gempa
apabila dampak atau kerugian yang bumi, tsunami, gunung api, dan longsor.
ditimbulkannya tidak dirasakan oleh manusia. 2. Hydrometeorological hazards, antara lain
banjir, kemarau, angin topan, badai salju,
Bencana merupakan hasil interaksi dari potensi dan gelombang pasang.
bahaya, faktor kerentanan, dan kurangnya 3. Biological hazards, antara lain: wabah
kapasitas masyarakat dalam meminimalisir penyakit dan hama.
dampak negatif bencana tersebut. Untuk 4. Technological hazards, antara lain:
memahami konsep bencana dengan baik, perlu kegagalan infrastruktur, polusi industri,
diketahui definisi dari kata-kata kunci berikut aktivitas nuklir, tanggul yang jebol, dan
ini. kecelakaan transportasi.
5. Environmental degradation, antara lain
Risiko Bencana deforestasi, kebakaran hutan, polusi air dan
Risiko bencana adalah kemungkinan terjadinya udara, dan perubahan iklim.
kerusakan ataupun kerugian berupa korban
jiwa, cedera, hilangnya harta benda, rusaknya Kerentanan dan Kapasitas
tempat tinggal, dan sebagainya, sebagai akibat Kerentanan merupakan suatu kondisi dari suatu
interaksi antara bahaya dengan kondisi manusia masyarakat yang mengarah atau menyebabkan
yang rentan (UN-ISDR, 2002). Analisis risiko ketidakmampuan dalam menghadapi bahaya.
bencana adalah proses menentukan jenis dan Tingkat kerentanan adalah suatu hal penting
tingkat risiko bencana dengan menganalisis untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang
potensi bahaya serta mengevaluasi kondisi berpengaruh terhadap terhadap terjadinya
eksisting manusia, tempat tinggal, kegiatan, dan bencana, karena bencana baru akan terjadi bila
lingkungan yang meliputi kerentanan dan bahaya terjadi pada kondisi yang
kapasitas terhadap bencana. rentan(Wisner, 2004). Kerentanan merupakan
sebuah kondisi yang ditentukan oleh proses
Bahaya (Hazard) fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan yang bisa
Bahaya dapat mencangkup kondisi yang meningkatkan kerawanan sebuah komunitas
bersifat laten yang bisa di mewakili ancaman di terhadap dampak bahaya (UNDP, 2004).
masa depan. Bahaya juga bersifat dinamis dan
dampaknya pun akan berbeda antara satu Kerentanan dapat diartikan karakteristik dan
dengan yang lainnya. Bahaya yang disebabkan situasi seseorang atau suatu kelompok meliputi
oleh alam memiliki proses yang tidak menentu, faktor fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi
sulit untuk diprediksi dan dinamis, dapat yang memperbesar kemungkinan menderita
memicu bahaya lainnya dan mengubah dampak suatu bahaya (UN-ISDR, 2002).
lingkungan. Bahaya adalah peristiwa fisik, Kerentanan dapat pula diartikan sebagai faktor
fenomena alam, ataupun aktivitas manusia yang yang menentukan seberapa besar dampak yang
berpotensi mengakibatkan kematian, cedera, dirasakan apabila terjadi bahaya. Sebaliknya,
kerugian harta benda, gangguan sosial terdapat pula faktor kapasitas, yaitu penguasaan
ekonomi, dan ataupun kerusakan lingkungan sumber daya, sikap, dan kemampuan yang
(UN-ISDR, 2002). Menurut UN-ISDR (2002), dimiliki oleh masyarakat, yang memungkinkan
bahaya dapat diklasifikasikan berdasarkan lima mereka untuk mempertahankan dan
aspek yaitu: mempersiapkan diri untuk mencegah,

127
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

menanggulangi, dan memulihkan diri dari Bencana banjir terjadi hamper disetiap musim
dampak bencana. hujan melanda Indonesia. Kejadian bencana
banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor
Sementara kapasitas merupakan hasil dari suatu alam berupa curah hujan yang diatas normal dan
persiapan yang direncanakan sebelum bencana adanya pasang naik air laut. Disamping itu
terjadi (Taubenbck et al., 2008). Persiapan faktor ulah manusia juga berperan penting
disini adalah kesiapsiagaan dalam menghadapi seperti penggunaan lahan yang tidak tepat
bencana. Kapasitas ini mencakup fisik, sosial, (pemukiman di daerah bantaran sungai, di
ekonomi, serta karakteristik keterampilan daerah resapan, penggundulan hutan, dan
pribadi maupun karakteristik kolektif (Buckle, sebagainya), pembuangan sampah ke dalam
2006). Kapasitas seseorang menunjukan tingkat sungai, pembangunan pemukiman di daerah
kesiapsiagaan dari orang tersebut. Sama seperti dataran banjir dan sebagainya (Price, 2008).
dengan kerentanan, kapasitas juga
diklasifikasikan menjadi tiga aspek sebagai Penyebab umum terjadinya banjir diakibatkan
berikut. oleh faktor cuaca, yaitu curah hujan. Curah
1. Kapasitas fisik dan lingkungan, meliputi hujan dengan intensintas yang tinggi yang
kapasitas manusia untuk mengurangi terjadi pada waktu yang pendek biasanya
kecenderungannya terkena dampak bencana merupakan penyebab utama banjir. Limpahan
melalui pembangunan yang bersifat fisik air hujan tersebut tidak dapat di tampung/di
pada lingkungan sekitar tempat tinggal dan serap sistem drainase yang ada baik itu yang
berkegiatan. alami seperti sungai maupun yang buatan
2. Kapasitas sosial, meliputi sikap manusia seperti saluran air.
untuk mengurangi kecenderungan menderita
dampak bencana melalui pengembangan Kedua faktor tersebut yang mengakibatkan
perilaku dan budaya yang positif serta terjadinya banjir. Kemampuan daya tampung
pelaksanaan kegiatan yang bertujuan dari sistem pengaliran air yang ada juga tidak
menambah wawasan masyarakat terkait selamanya sama, terjadi perubahan berupa
bencana. sedimentasi/penyempitan terhadap sistem
3. Kapasitas ekonomi, meliputi upaya manusia pengairan yang ada. Penyempitan tersebut bisa
untuk memperkecil dampak bencana melalui diakibatkan oleh faktor alam bisa juga
pengelolaan harta benda yang baik, misalnya diakibatkan oleh faktor ulah manusia. Ulah
kepemilikan simpanan di bank. manusia seperti membuang sampah
sembarangan ,atau pembangunan kawasan
2.2 Bahaya Banjir perumahan ataupun industri yang tidak melihat
kaidah-kaidah lingkungan seperti
Banjir adalah dimana suatu daerah dalam pembangunan pertokohan di daerah resapan air
keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang dan pemukiman di sepanjang sempadan sungai
begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah mengakibatkan terjadinya sumbatan/
banjir yang datang secara tiba-tiba yang penyempitan pada sistem pengairan. Selain itu
disebabkan tersumbatnya sungai maupun penggundulan hutan di kawasan hulu
karena pengundulan hutan disepanjang sungai menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan
sehingga merusak rumah penduduk maupun air (catchment area), akibatnya debit/pasokan
menimbulkan korban jiwa (Price, 2008). air yang masuk ke dalam sistem aliran yang ada
mengalami peningkatan sehingga melampaui

128
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

kapasitas pengaliran dan menyebabakan banjir 2.4 Kesiapsiagaan Masyarakat


terjadinya bahkan juga erosi. Menghadapi Bahaya

2.3 Dampak Bencana Banjir Kesiapsiagaan didefiniskan sebagai tindakan


atau aktivitas yang dilakukan sebelum suatu
Analisis bahaya banjir yang telah dilakukan bencana terjadi. Kesiapsiagaan menurut Gregg
dapat dilanjutkan dengan melakukan analisis (2004) bertujuan untuk meminimalkan efek
terhadap dampak kerugian/kerusakan yang samping bahaya melalui tindakan pencegahan
ditimbulkan oleh bencana banjir. Dari sisi yang efektif, tepat waktu, memadai, efesiensi
ekonomi Messner (2004) membagi untuk tindakan tanggap darurat dan bantuan
kerugian/kerusakan yang ditimbulkan oleh saat bencana. Tindakan kesiapsiagaan terhadap
bencana banjir menjadi dua, yang bersifat bencana banjir dapat berupa tindakan yang
langsung (direct) yaitu yang mengalami kontak dilakukan untuk mengurangi dampak bencana
fisik langsung dengan air dan tidak langsung baik dampak secara langsung maupun tidak
(indirect) yaitu yang tidak mengalami kontak langsung (Gissing, 2009). Upaya kesiapsiagaan
fisik dengan air. juga bertujuan untuk memastikan bahwa
sumber daya yang diperlukan untuk tanggap
Kerusakan/kerugian yang ditimbulkan oleh dalam peristiwa bencana dapat digunakan
bencana banjir secara langsung yang bersifat secara efektif pada saat bencana dan tahu
nyata dan terukur (tangibel) secara ekonomi bagaimana menggunakanya (Sutton dan
seperti, kerusakan bangunan, infrastruktur, Tierney, 2006).
hasil pertanian/peternakan, barang-barang
kebutuhan pokok dan sebagainya. Sedangkan Kesiapsiagaan akan membuat masyarakat
yang bersifat tidak terukur (intangible) berupa mempertimbangkan berbagai hal dalam
adanya korban luka-luka maupun korban jiwa, melakukan segala tindakan mereka sehingga
rusaknya kualitas lingkungan. tidak berisiko terkena dampak bencana banjir
(Zhai et al, 2005). Kesiapsiagaan adalah
Sedangkan dampak dari bencana banjir secara kegiatan yang sifatnya perlindungan aktif yang
tidak langsung terhadap daerah-daerah yang dilakukan pada saat bencana terjadi dan
tidak tergenang, secara nyata dapat terlihat pada memberikan solusi jangka pendek untuk
berkurangnya produksi (dari sektor pertanian memberikan dukungan bagi pemulihan jangka
maupun perdagangan/jasa), terganggunya panjang (Sutton dan Tierney, 2006).
sistem distribusi. Selain itu, berkurangnya daya Kesiapsiagaan secara struktural sulit dilakukan
saing wilayah, migrasi sampai dengan oleh rumah tangga miskin sehingga pemerintah
bertambahnya kerentanan ekonomi disuatu harus mulai mendorong kesiapsiagaan secara
wilayah merupakan dampak yang tidak non-strukutral (Price, 2008). Tingkat
langsung mempengaruhi perekonomian suatu kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi
wilayah yang tidak mengalami banjir secara bahaya banjir juga bergantung pada
langsung. pengalaman dan dampak yang dirasakan oleh
masyarakat (Takao, 2004).

Contoh-contoh kegiatan kesiapsiagaan


menghadapi bencana banjir antara lain:
mempersiapkan rencana pada saat bencana

129
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

terjadi, meningkatkan kemampuan menangani inisiatif untuk melakukan perlindungan diri


bahaya dengan mengikuti pelatihan, memahami sendiri.
rute evakuasi, pembagian kerja pada saat
bahaya terjadi, dan lainnya. Kesiapsiagaan Berbagai indikator yang di kemukan oleh ISDR
memiliki langkah-langkah yang (2005), Sutton dan Tierney (2006), dan Perry
memungkinkan unit-unit yang berbeda, dan Lindell (2008), ini umumnya mencakup
dimulai dari individu, rumah tangga, organisasi, beberapa hal yang sama yaitu :
komunitas, dan masyarakat untuk merespon
dan mengembalikan keadaan menjadi normal 1. Pengetahuan Dan Sikap Terhadap
pada saat terjadi bencana (Sutton dan Tierney, Bencana
2006). Kesiapsiagaan tidak hanya melakukan Pengetahuan terhadap bencana merupakan
berbagai tindakan-tindakan pencegahaan, alasan utama seseorang untuk melakukan
melainkan juga dengan penyesuaian kondisi kegiatan perlindungan atau upaya
bangunan yang menjadi tempat tinggal kesiapsiagaan yang ada (Sutton dan Tierney,
(Krebich et al, 2004). Misalnya adalah dengan 2006). Pengetahuan yang dimiliki
menaikan pondasi bangunan rumah. mempengaruhi sikap dan kepedulian
masyarakat untuk siap dan siaga dalam
Sutton dan Tierney (2006) membagi beberapa mengantisipasi bencana, terutama bagi
indikator kesiapsiagaan antara lain adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah
pengetahuan terhadap bahaya yang akan yang rentan terhadap bencana alam.
dihadapi (risiko, kerentanan, pengetahuan Indikator pengetahuan dan sikap
terhadap bencana), kebijakan dan panduan individu/rumah tangga merupakan
kesiapsiagaan, rencana untuk keadaan darurat, pengetahuan dasar yang semestinya dimiliki
sistem peringatan bencana, dan kemampuan oleh individu meliputi pengetahuan tentang
memobilisasi sumber daya. bencana, penyebab dan gejala-gejala,
maupun apa yang harus dilakukan bila
Penelitian mengenai kesiapsiagaan telah terjadi Banjir (ISDR/UNESCO 2006).
banyak dilakukan untuk berbagai macam jenis Individu atau masyarakat yang memiliki
bencana. Penelitian yang dilakukan LIPI dan pengetahuan yang lebih baik terkait dengan
ISDR (2005) tentang kesiapsiagaan masyarakat bencana yang terjadi cenderung memiliki
dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami kesiapsiagaan yang lebih baik dibandingkan
di Aceh menggunakan indikator: (1) individu atau masyarakat yang minim
pengetahuan terhadap bencana, (2) kebijakan, memiliki pengetahuan.
(3) peraturan dan panduan dijabarkan, (4)
rencana untuk keadaan darurat,(5) sistem 2. Rencana Tanggap Darurat
peringatan bencana, (6) Sistem peringatan Rencana tanggap darurat adalah suatu
bencana, dan (7) kemampuan mobilisasi dari rencana yang dimiliki oleh individu atau
sumber daya yang ada. Sutton dan Tierney masyarakat dalam menghadapi keadaan
(2006) mengemukakan indikator kesiapsiagaan darurat di suatu wilayah akibat bencana alam
secara umum adalah kegiatan (1) manajemen (Sutton dan Tierney, 2006). Rencana
perlindungan, (2) koordinasi antar lembaga tanggap darurat menjadi bagian yang
pengambil keputusan, (3) sumber daya penting dalam suatu proses kesiapsiagaan,
mendukung, (4) perlindungan keselamatan terutama yang terkait dengan evakuasi,
hidup, (5) perlindungan terhadap properti, (6) pertolongan dan penyelamatan, agar korban

130
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

bencana dapat di minimalkan dan sumber daya bimbingan teknis dan


(ISDR/UNESCO, 2006). Rencana tanggap penyedian materi.
darurat sangat penting terutama pada hari
pertama terjadi bencana atau masa dimana 5. Modal Sosial
bantuan dari pihak luar belum datang Modal sosial sering diartikan sebagai
(ISDR/UNESCO, 2006). Rencana tanggap kemampuan individu atau kelompok untuk
darurat ini adalah situasi dimana masyarakat bekerja sama dengan individu atau
memastikan bagaimana pembagian kerja kelompok lainnya. Masyarakat atau individu
sumber daya yang ada pada saat bencana. yang memiliki ikatan sosial yang lebih baik
antara satu dengan yang lainnya akan lebih
3. Sistem Peringatan Dini mudah dalam melakukan kesiapsiagaan
Sistem peringatan meliputi tanda peringatan yang ada. Selain itu modal sosial yang baik
dan distribusi informasi jika akan terjadi diantara masyarakat di wilayah yang rentan
bencana. Sistem peringatan dini yang baik terhadap bencana akan mengurangi
dapat mengurangi kerusakan yang dialami kerentanan itu sendiri (Martens, 2009).
oleh masyarakat (Gissing, 2009). Sistem Modal sosial yang solid antara penduduk
yang baik ialah sistem dimana masyarakat akan mempermudah masyarakat dalam
juga mengerti informasi yang akan diberikan melakukan mobilisasi pada saat evakuasi
oleh tanda peringatan dini tersebut atau tahu akan dilakukan. Modal sosial juga dapat
apa yang harus dilakukan jika suatu saat menjadi pengerak indikator kesiapsiagaan
tanda peringatan dini bencana yang lainnya seperti menyepakati tempat
berbunyi/menyala (Sutton dan Tierney, evakuasi yang sama, sepakat dalam
2006). Oleh karena itu, diperlukan juga mengikuti pelatihan, dan bersama-sama
adanya latihan/simulasi untuk sistem dalam melakukan tindakan kesiapsiagaan
peringatan bencana ini. lainnya (Sutton dan Tierney 2006).

4. Sumber Daya Mendukung 3. Metode Penelitian


Sumber daya yang mendukung adalah salah
satu indikator kesiapsiagaan yang Tulisan ini menggunakan metode analisis data
mempertimbangkan bagaimana berbagai statistik deskriptif. Analsisi stastistik deskriptif
sumber daya yang ada digunakan untuk berfungsi menerangkan keadaan, gejala dan
mengembalikan kondisi darurat akibat persoalan. Untuk mengetahui bagaimana
bencana menjadi kondisi normal kesiapsiagaan masyarakat studi ini difokuskan
(ISDR/UNESCO, 2006). Indikator ini pada kesiapsiagaan yang ada di Kelurahan
umumnya melihat berbagai sumber daya Baleendah, adapun indikator yang umumnya di
yang dibutuhkan individu atau masyarakat gunakan adalah hasil analisis dari beberapa
dalam upaya pemulihan atau bertahan dalam kajian terdahulu yang terkait dengan
kondisi bencana atau keadaan darurat. Yang kesiapsiagaan seperti Sutton dan Tierney
dapat berasal dari internal maupun eksternal (2004), UN-ISDR (2006), dan LIPI. Indikator
dari wilayah yang terkena bencana. Sumber yang akan digunakan untuk mengidentifikasi
daya menurut Sutton dan Tierney dibagi kesiapsiagaan adalah (1) pengetahuan dan
menjadi 3 bagian yaitu sumber daya sikap, (2) rencana tanggap darurat, (3) sistem
manusia, sumber daya pendanaan/logistik, peringatan dini, (4) mobilisasi sumber daya, dan
(5) modal sosial.

131
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

Selanjutnya adalah analisis perilaku menyatakan tidak melakukan tindakan


kesiapsiagaan masyarakat, metode pengolahan kesiapsiagaan tersebut (0) sedangkan skor
data yang digunakan untuk menganalisis maksimun 1896 diperoleh ketika semua
perilaku kesiapsiagaan masyarakat dalam responden (237) menyatakan melakukan
menghadapi bencana banjir adalah skala tindakan kesiapsiagaan tersebut (1).
Guttman. Skala Guttman adalah suatu metode
untuk mendapatkan jawaban yang tegas Dalam penelitian ini, rumus Sturges digunakan
terhadap suatu persoalan. Pada analisis perilaku untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan
kesiapsiagaan ini akan dianalisis apakah masyarakat berdasarkan waktu pelaksanaan
responden melakukan tindakan kesiapsiagaan kesiapsiagaan (kesiapsiagaan sebelum bencana,
atau tidak, misalnya adalah tindakan kesiapsiagaan saat bencana, dan kesiapsiagaan
kesiapsiagaan mempersiapkan rencana setelah bencana), sebagai berikut :
evakuasi responden yang menjawab ya maka k = 1 + 3,322 log n
akan diberi skala 1 sedangkan responden yang Keterangan :
menjawab tidak akan diberi skala 0. Perilaku k : jumlah tingkat/kelas kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan masyarakat Kelurahaan n : jumlah variabel/tindakan kesiapsiagaan
Baleedah dalam menghadapi bencana banjir
akan dilihat berdasarkan waktu pelaksanaan 4. Analisis
tindakan seperti perilaku kesiapsiagaan
sebelum bencana banjir, perilaku kesiapsiagaan Sutton dan Tierney (2006) membagi beberapa
saat bencana banjir terjadi, dan perilaku indikator kesiapsiagaan antara lain adalah
kesiapsiagaan setelah bencana banjir terjadi. pengetahuan terhadap bahaya yang akan di
hadapi (risiko, kerentanan, pengetahuan
Perilaku kesiapsiagaan masyarakat diperoleh
terhadap bencana), kebijakan dan panduan
dari kuisioner yang disebarkan kepada 237
kesiapsiagaan, rencana untuk keadaan darurat,
orang responden (Jumlah Populasi total dari
sistem peringatan bencana, dan kemampuan
RW yang menjadi lokasi studi kasus adalah memobilisasi sumber daya. LIPI dan ISDR
1344 KK, maka jumlah sampel ditetapkan (2006) mengemukakan beberapa indikator
dengan tingkat kepercayaan alpha = 0,01 untuk kesiapsiagaan yang ada diantaranya adalah
populasi 1.000-10.000 jiwa, yaitu besar sampel Pengetahuan terhadap bencana, kebijakan,
adalah antara 173-209. Untuk menghindari peraturan, dan panduan dijabarkan, rencana
kesalahan ketika pengisian data , terdapat untuk keadaan darurat, sistem peringatan
konten kuisioner yang tidak terdata, dan bencana, Sistem peringatan bencana, dan
kesalahan lainnya, maka jumlah sampel kemampuan mobilisasi dari sumber daya yang
ada (ISDR, 2006). Pada penelitian kali ini,
responden ditambah menjadi 237 kuisioner
penulis menggunakan beberapa indikator yang
kepada KK yang ada di 4 RW tersebut.
di adopsi dari berbagai penelitian kesiapsiagaan
yang telah dilakukan sebelumnya seperti Sutton
Dari hasil skala Guttman, dilakukan dan Tierney (2006), Ho et al.,(2008), dan LIPI
perhitungan frekuensi masyarakat yang dan ISDR (2006). Indikator-Indikator yang
menyatakan melakukan tindakan kesiapsiagaan digunakan antara lain adalah (1) pengetahuan
baik sebelum bencana, saat bencana, dan dan sikap terhadap bencana, (2) rencana
setelah bencana. frekuensi untuk setiap tanggap darurat saat terjadi bencana, (3) sistem
tindakan kesiapsiagaan berada pada rentang 0 peringatan dini, (4) mobilisasi sumber daya, dan
hingga 1896. Frekuensi minimal 0 diperoleh (5) modal sosial.
ketika semua responden (237 responden)

132
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

Pengetahuan dan Sikap tidak berjalan maksimal dalam kondisi darurat


Pengetahuan terhadap bencana merupakan karena perasaan panik yang mereka alami.
alasan utama seseorang untuk melakukan
kegiatan perlindungan atau upaya Rencana Tanggap Darurat
kesiapsiagaan yang ada (Sutton dan Tierney, Rencana tanggap darurat menjadi bagian yang
2006). Pengetahuan yang dimiliki
penting dalam suatu proses kesiapsiagaan,
mempengaruhi sikap dan kepedulian
terutama yang terkait dengan evakuasi,
masyarakat untuk siap dan siaga dalam
mengantisipasi bencana, terutama bagi mereka pertolongan dan penyelamatan, agar korban
yang bertempat tinggal di daerah yang rentan bencana dapat diminimalkan (ISDR/UNESCO,
terhadap bencana alam. Indikator pengetahuan 2006). Rencana tanggap darurat sangat penting
dan sikap individu/rumah tangga merupakan terutama dihari pertama terjadi bencana atau
pengetahuan dasar yang semestinya dimiliki masa dimana bantuan dari pihak luar belum
oleh individu meliputi pengetahuan tentang diterima, pada masa ini rencana tanggap darurat
bencana, penyebab dan gejala-gejala, maupun dari masing-masing individu dimasyarakat
apa yang harus dilakukan bila terjadi banjir sangat diperlukan (ISDR/UNESCO, 2006).
(ISDR/UNESCO 2006). Pengetahuan dan Salah satu variabel untuk mengetahui tindakan
sikap masyarakat terhadap bencana dapat
kesiapsiagaan masyarakat adalah tersedianya
dilihat dengan pengetahuan mereka terhadap
perlengkapan gawat daurat pada saat bencana
berbagai tindakan kesiapsiagaan yang
seharusnya mereka lakukan. terjadi. Perlengkapan gawat darurat ini berupa
Mengetahui barang-barang kebutuhan mereka untuk
1%
mengurangi dampak yang mereka rasakan.
8% Cukup Mengetahui
Salinan/Fotokopian Surat-
8% Surat Penting
34% Sangat Mengetahui Minimal 2 L air Minum
3%
16%
Senter/Obor
Sedikit Mengetahui 5%
6% 18%
Makanan Kering atau Kaleng
Sangat Sedikit 7% untuk Cadangan Makanan
33% Mengetahui Peralatan Pertukangan
Tidak Mengetahui 10% 14%
Duplikat Kunci Rumah dan
Kendaraan
Gambar 2. Pengetahuan Tindakan 11%
Alat/Kotak P3K
13%
Kesiapsiagaan Tali Tambang
13%
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Kumpulan No penting (RS,
Polisi, Tim sar)
Berdasarkan pengolahan data kuisioner di Masker

identifikasi bahwa masyarakat mengetahui Gambar 3. Perlengkapan Gawat Darurat


(34%) dan cukup mengetahui (33%) berbagai Sumber: Hasil Analisis, 2012
tindakan kesiapsiagaan. Masyarakat umumnya
mengetahui tindakan kesiapsiagaan yang harus Tersedia 10 perlengkapan gawat darurat, yaitu
dilakukan oleh masyarakat seandainya terjadi alat/kotak P3K, Senter/obor, makanan kering
bencana banjir dilingkungan mereka. Berbagai atau cadangan makanan, minuman, kumpulan
tindakan kesiapsiagan yang dilakukan oleh nomor telepon penting, duplikat kunci rumah,
masyarakat umumnya mereka peroleh dari masker dan tali tambang, peralatan dan
pengalaman mereka menghadapi bencana pertukangan, dan salinan surat-surat penting.
banjir yang sering melanda mereka. Akan tetapi 58,2% responden memiliki perlengkapan gawat
kesiapsiagaan yang mereka ketahui serigkali darurat sebanyak 0-5 perlengkapan gawat

133
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

darurat. Sisanya 41,8% memiliki perlengkapan Lamanya Hujan Turun


1%
gawat darurat 0-9 perlengkapan gawat darurat. Ketinggian Air Sungai
7%
Tiga jenis perlengkapan gawat darurat Intruksi dari Kepala Dusun
9% 27%
terbanyak yang dimiliki adalah fotocopy surat- (Pemerintah)
Ajakan Tetangga
surat penting, makanan kering atau cadangan 11%
Lainnya
makanan, dan minimum 2L air minum dalam Intruksi dari Toko
botol. 19% 24% Masyarakat
Berita TV dan Radio

Berita Koran Poster dan


Sebanyak 58,2% responden memiliki Selebaran

perlengkapan gawat darurat sebanyak 0-5 . Gambar 4. Sumber Informasi Bencana


perlengkapan gawat darurat. Sisanya 41,8% Sumber: Hasil Analisis, 2012
memiliki perlengkapan gawat darurat 0-9
perlengkapan gawat darurat. Tiga jenis Berdasarkan hasil pengolahan data statistik
perlengkapan gawat darurat terbanyak yang diketahui sebagian besar menjadikan intensitas
dimiliki adalah fotocopy surat-surat penting, lamanya hujan turun (27%) sebagai sumber
makanan kering atau cadangan makanan, dan informasi yang dipertimbangkan oleh mereka.
minimum 2L air minum dalam botol. Pertimbangan ini didasarkan dengan
pengalaman mereka dalam menghadapi
Sistem Peringatan Dini bencana banjir. Selanjutnya sumber informasi
Salah satu indikator kesiapsiagaan masyarakat responden dalam memprediksi bencana adalah
adalah bagaimana sistem peringatan dini yang ketinggian air sungai yang ada di sungai (24%),
ada dimasyarakat, terutama di daerah yang ketinggian air sungai biasanya dilihat dari pintu
memiliki kerentanan bencana banjir. Sistem air yang berada di Sungai Citarum. Masyarakat
peringatan meliputi tanda peringatan dan menjadi ketinggian air sungai menjadi salah
distribusi informasi jika terjadi bencana. Selain
satu pertimbangan masyarakat dalam
ada sistem peringatan bencana, sistem yang
menentukan kesiapsiagaan khususnya sistem
baik ialah sistem dimana masyarakat juga
evakuasi bencana banjir yang ada. Sumber
mengerti informasi yang akan diberikan oleh
tanda peringatan atau tahu apa yang harus informasi bencana yang berikutnya adalah
dilakukan jika suatu saat tanda peringatan instruksi dari kepala dusun (19%), ajakan
bencana berbunyi/menyala (Sutton dan tetangga (11%), lainnya (9%), instruksi tokoh
Tierney, 2006). Oleh karena itu diperlukan juga masyarakat (7%), berita tv dan radio (2%), dan
adanya latihan/simulasi untuk sistem selebaran/koran (1%).
peringatan bencana ini. Sistem peringatan
bencana merupakan awal dari semua Rencana Mobilisasi Sumber Daya
kesiapsiagaan yang dilakukan masyarakat, Sumber daya yang mendukung adalah salah
sistem peringatan bencana yang baik akan satu indikator kesiapsiagaan yang
membuat korban jiwa yang ditimbulkan akibat mempertimbangkan bagaimana berbagai
bencana berkurang atau ditekan menjadi sumber daya yang ada digunakan untuk
seminimal mungkin. mengembalikan atau mempersiapakan dalam
kondisi darurat yang terjadi akibat adanya suatu
bencana (ISDR/UNESCO, 2006). Indikator
mobilisasi sumber daya melihat berbagai
sumber daya yang dibutuhkan individu atau
masyarakat dalam upaya pemulihan atau
bertahan dalam kondisi bencana atau keadaan

134
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

darurat. Sumber daya yang ada dapat berasal masyarakat di wilayah yang rentan terhadap
dari internal (dari dalam wilayah yang terkena bencana akan mengurangi kerentanan itu
dampak bencana itu sendiri) dan eksternal (dari sendiri. Modal sosial yang solid antara
luar daerah bencana). penduduk akan mempermudah masyrakat
4%
dalam melakukan mobilisasi pada saat evakuasi
Pernah Mendapatkan akan di lakukan.
Materi Kesiapsiagaan

Tidak Pernah Ya, Menjadi


96% Mendapatkan Materi Anggota
Kesiapsiagaan Organisasi
39%
Masyarakat
Tidak Menjadi
61%
Gambar 5. Masyarakat Pernah Mendapatkan Anggota
Organisasi
Materi Kesiapsiagaan Masyarakat
Sumber: Hasil Analisis, 2012

Berdasarkan hasil pengolahan statistik Gambar 6. Masyarakat Yang Mengikuti


didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat Organisasi Kemasayarakatan
Sumber: Hasil Analisis, 2012
tidak mendapatkan materi kesiapsiagaan (96%).
Sebagian besar responden menyatakan bahwa
mereka tidak mendapatkan materi Berdasarkan hasil pengolahan statistik
kesiapsiagaan. Selama ini kesiapsiagaan yang menyatakan bahwa 61% responden yang ada
mereka lakukan didapatkan berdasarkan menyatakan bahwa mereka mengikuti
pengalaman pribadi mereka dalam menghadapi organisasi yang berada di lingkungan mereka.
bencana banjir yang berulang kali melanda Organisasi yang diikuti oleh responden ini
wilayah mereka. Sementara itu yang umumnya berupa organisasi keagamaan dan
menyatakan menerima materi kesiapsiagaan organisasi kepemudaaan. Organisasi yang
(4%) umumnya hanya perangkat RT/RW dan mereka ikuti berupa pengajiaan, karang
petugas Kelurahaan. Mereka menyatakan tarunan, organisasi semacam arisan. Sementara
mendapatkan materi kesiapsiagaan yang itu 39% menyatakan bahwa tidak mengikuti
diadakan mulai dari Balai Besar Wilayah organisasi apapun yang berada disekitar
Sungai Citarum (BBWS Citarum), TNI dan wilayah studi. Umumnya mereka yang tidak
Tim Sar Kabupaten Bandung. Materi ini mengikuti organisasi masyarakat merupakan
umumnya mereka dapatkan setelah bencana penduduk pendatang.
banjir besar tahun 2010. Materi yang di
dapatkan berupa cara evakuasi, cara Analisis Perilaku Kesiapsiagaan Sebelum
Bencana
menggunakan beberapa perlengkapan darurat.
Kesiapsiagaan sebelum bencana adalah suatu
Modal Sosial tindakan kesiapsiagaan yang dilakukan sebelum
Modal sosial merupakan salah satu indikator suatu bencana melanda wilayah tersebut.
yang bisa digunakan untuk melihat Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk
kesiapsiagaan. Modal sosial sering diartikan mengurangi dampak bencana yang terjadi atau
sebagai kemampuan individu atau kelompok meminimalkan kerugian yang disebabakan oleh
untuk bekerja sama dengan individu atau bencana. Ada beberapa tindakan kesiapsiagaan
kelompok lainnya. Masyarakat atau individu yang dapat dilakukan sebelum bencana banjir
yang memiliki ikatan sosial yang lebih baik terjadi antara lain adalah menentukan langkah-
antara satu dengan yang lainnya akan lebih langkah menghadapi bencana banjir, membuat
mudah dalam melakukan kesiapsiagaan yang rencana aksi dalam menghadapi bencana,
ada. Selain itu modal sosial yang baik diantara mempersiapkan evakuasi, menyiapakan
sekumpulan perlengkapan gawat darurat,

135
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

melindungi rumah dengan kayu/batu/karung Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang
pasir, menyiapkan asuransi harta benda/jiwa, didapatkan sebelum bencana berdasarkan
dan mengikuti pelatihan dan simulasi jika ada. pembagian kelas dengan rumus Struges.
Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah
Jumlah tindakan kesiapsiagaan sebelum frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi
bencana yang digunakan untuk mengukur minimun 0, maka didapatkan kelas
tingkat kesiapsiagaan sebelum bencana kesiapsiagaan sebelum bencana adalah sebagai
berjumlah 8 tindakan. Dengan memasukan nilai berikut
n sebesar 8, maka di peroleh k atau jumlah
tingkat kesiapsiagaan sebesar 4 kelas. Interval 0 sampai dengan 474 = Sangat Rendah
nilai untuk setiap tingkat kesiapsiagaan di dapat 475 sampai dengan 948 = Rendah
dari frekuensi maksimun dikurangi frekuensi 949 sampai dengan 1422 =tinggi
minimun dibagi jumlah tingkat kesiapsiagaan 1423 sampai dengan 1896=sangat tinggi
dari rumus Sturges.
Jumlah frekuensi total semua tindakan
Frekuensi kesiapsiagaan sebelum bencana kesiapsiagana sebelum bencana adalah 858.
maksimun adalah 1896 yaitu ketika semua Frekuensi masyarakat yang melakukan
responden (237) mengatakan melakukan semua tindakan kesiapsiagaan sebelum bencana masuk
tindakan kesiapsiagaan yang ada. Skor ke tingkat rendah. Masyarakat kurang
kesiapsiagan sebelum bencana minimun adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana
0 yaitu ketika semua responden menyatakan yang ada karena dampak dari bencana banjir
tidak melakukan semua tindakan kesiapsiagaan. yang ada belum menimbulkan kerugian bagi
Maka, interval nilai untuk setiap tingkat mereka.
kesiapsiagaan adalah (1896-0)/4, yaitu 474.
Dengan demikian pembagiannya tingkat Analisis Perilaku Kesiapsiagaan Saat
kesiapsiagaan sebelum bencana berdasarkan Bencana
frekuensi masyarakat yang melakukan Kesiapsiagaan saat bencana adalah suatu
tindakanya adalah sebagai berikut : tindakan kesiapsiagaan yang dilakukan pada
saat bencana banjir terjadi. Ada beberapa
Menyiapkan
gambar/poster tindakan 4 tindakan yang dilakukan sebagai bentuk
aksi kesiapsiagaan saat bencana seperti menentukan
Menyiapkan asuransi
(Jiwa dan Harta)
28 prioritas barang-barang yang akan di bawah
Mengikuti pelatihan dan
pada saat bencana terjadi, mematikan aliran
68
simulasi Bencana listrik, melakukan pembagian tugas pada saat
Tindakan Melindungi Rumah untuk bencana terjadi, berlindung di tempat yang
119
Kesiapsiaga menahan air
an
aman sampai ada pemberitahuan selanjutnya,
Sebelum Perlengkapan gawat
120 menyepakati tempat evakuasi yang di
Bencana darurat
laksanakan, meminta bantuan kepada tetangga,
Mempersiapkan Evakuasi 167 memberikan bantuan kepada tetangga, dan
Rencana tindakan aksi
menyiapkan tanah dan rumah di tempat lain.
169
menghadapi bencana

Penentuan langkah-
183
langkah Kesiapsiagaan

0 50 100 150 200


Jumlah Responden

Gambar 7. Kesiapsiagaan Masyarakat


Sebelum Bencana terjadi
Sumber: Hasil Analisis, 2012

136
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

Analisis Perilaku Kesiapsiagaan Setelah


Menyiapkan rumah atau
58 Bencana
tanah di tempat yang lain
Kesiapsiagaan setelah bencana adalah suatu
Bantuan kepada tetangga 111 tindakan kesiapsiagaan yang di lakukan pada
Meminta Bantuan kepada
suatu wilayah pasca bencana terjadi wilayah
Tindakan
114
Kesiapsiaga kenalan/tetangga tersebut. Ada beberapa tindakan yang dapat
an
Saat Tempat Evakuasi dilakukan untuk meminimalkan atau
Bencana 145
dilaksanakan
mengurangi dampak bencana banjir pasca
Berlindung di tempat yang
172 bencana antara lain tindakan melakukan
aman
migrasi ke wilayah aatau daerah lain yang tidak
Pembagian Tugas kepada
setiap anggota keluarga
192 terkena dampak bencana banjir, memeriksa
kembali kondisi bangunan atau rumah,
Mematikan aliran listrik 208
membersihkan perabotan rumah tangga,
Prioritas barang-barang
209
memperbaiki rumah atau perabotan rumah
yang akan di evakuasi
tangga yang dapat di perbaiki, berobat kerumah
0 50 100 150 200 250 sakit setelah bencana terjadi, merekonstruksi
Jumlah Responden
dan meninggikan rumah, membersihkan jalan
Gambar 8. Kesiapsiagaan Masyarakat Saat dan lingkungan pemukiman, dan mencari serta
Bencana terjadi mengakses informasi untuk meningkatkan
Sumber: Hasil Analisis, 2012 kesiapsiagaan.

Melakukan
Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang pembersihan
17
didapatkan saat bencana berdasarkan
Membersihkan
pembagian kelas dengan rumus Struges. 101
lingkungan, jalan,
Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah Merekonstruksi dan
143
frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi meninggikan rumah
minimun 0, maka didapatkan kelas Tindakan Berobat ke rumah
185
Kesiapsiag sakit setelah terjadi
kesiapsiagaan saat bencana adalah sebagai aan
berikut : Setelah Memperbaiki/Mempe 215
Bencana kuat rumah dan
Membersihkan rumah
0 sampai dengan 474 = Sangat dan perabotan
219
Rendah Memeriksa kembali
475 sampai dengan 948 = Rendah 221
kondisi bangunan
949 sampai dengan 1422 =tinggi
Migrasi ketempat lain 222
1423 sampai dengan 1896=sangat tinggi
0 50 100 150 200 250
Jumlah frekuensi total semua tindakan Jumlah Responden
kesiapsiagaan saat bencana adalah 1208.
Frekuensi masyarakat yang melakukan Gambar 9. Kesiapsiagaan Masyarakat Setelah
tindakan kesiapsiagaan saat bencana masuk ke Bencana terjadi
Sumber: Hasil Analisis, 2012
tingkat tinggi. Pada saat bencana terjadi
masyarakat mulai dituntut untuk melakukan Berikut ini adalah kelas kesiapsiagaan yang
berbagai tindakan pencegahan untuk didapatkan setelah bencana berdasarkan
meminimalisir dampak yang dirasakan. pembagian kelas dengan rumus Struges.
Masyarakat mulai melakukan berbagai tindakan Dengan n=8 maka didapatkan k=4, jumlah
pencegahan bencana banjir dan penyelamatan frekuensi maksimun adalah 1986 dan frekuensi
diri karena dampak bencana banjir mulai minimun 0, maka didapatkan kelas
dirasakan oleh mereka.

137
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

kesiapsiagaan setelah bencana adalah sebagai 5. Kesimpulan


berikut :
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat
0 sampai dengan 474 = Sangat Rendah disimpulkan Kesiapsiagaan masyarakat secara
475 sampai dengan 948 = Rendah individu umumnya cukup tinggi. Pengetahuan
949 sampai dengan 1422 =tinggi
dan sikap masyarakat terkait dengan bencana
1423 sampai dengan 1896=sangat tinggi
menunjukan masyarakat cukup tahu tentang
Jumlah frekuensi total semua tindakan penangan bencana banjir yang melanda.
kesiapsiagaan setelah bencana adalah 1323. Rencana tanggap darurat masyarakat juga
Frekuensi masyarakat yang melakukan cukup tinggi sebagian besar masyarakat
tindakan kesiapsiagaan saat bencana masuk ke memiliki rencana tanggap darurat mulai dari
tingkat tinggi. Setelah bencana banjir melanda penentuan tempat evakuasi yang telah di
kelurahaan mereka masyarakat mulai sepakati sampai dengan perlengkapan gawat
melakukan berbagai tindakan untuk darurat. Sistem peringatan dini yang berlaku di
mengurangi dampak mereka terhadap bencana wilayah studi umumnya adalah sistem
yang terjadi. peringatan dini tradisional yakni melalui
pengeras suara melalui masjid yang di siarkan
Perilaku Kesiapsiagaan Masyarakat
oleh perangkat RT/RW. Mobilisasi sumber
Kesiapsiagaan responden sebelum bencana
berada pada tingkatan rendah. Tingkatan rendah daya manusia yang ada jika dilihat dari materi
menunjukan bahwa masyarakat belum terlalu kesiapsiagaan makamasih terbatas hanya
memperhatikan tindakan pengurangan risiko perangkat RT/RW yang pernah mendapatkan
bencana sebelum bencana. Tingkatan tindakan kesempatan untuk mengikuti pelatihan
kesiapsiagaan saat bencana dan setelah kesiapsiagaan yang ada. Moda transportasi
bencana termasuk kedalam tingkatan tinggi. untuk evakuasi juga sangat terbatas, sebagian
Tindakan kesiapsiagaan saat dan setelah besar masyarakat menuju penampungan dengan
bencana menunjukan masyarakat memiliki berjalan kaki. Alokasi dana masyarakat juga
kesiapsiagaan pada saat darurat.
sebatas pinjaman dari tidak resmi. Modal sosial
masyarakat yang berada dilokasi studi mulai
Kesiapsiagaan pada saat darurat masyarakat
menunjukan perkembangan ini terlihat dengan
berada pada tingkatan tinggi. Pada kondisi
darurat masyarakat cenderung melakukan adanya organisasi masyarakat dan pertemuan
berbagai tindakan untuk meminimalkan untuk berdisuksi terkait dengan masalah banjir.
dampak bencana yang mulai muncul.
Kesiapsiagaan masyarakat ketika kondisi Kesiapsiagaan masyarakat jika dilihat
darurat banyak di pengaruhi akibat pengetahuan berdasarkan Perilaku kesiapsiagaan yang ada
masyarakat tentang pengurangan risiko bencana maka tingkat kesiapsiagaan masyarakat
masih kurang Kesiapsiagaan masyarakat ini sebelum bencana termasuk kedalam kategori
seperti melakukan pembagian saat bencana rendah. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat pada
terjadi, mematikan aliran listrik, melakukan
saat bencana masuk kedalam kategori tinggi.
evakuasi ke tempat yang lebih aman. Temuan
Tingkat kesiapsiagaan masyarakat pada setelah
ini membenarkan temuan Tokai (2004) yang
bencana masuk kedalam kategori tinggi.
menyatakan bahwa masyarakat cenderung
melakukan tindakan kesiapsiagaan ketika Kategori bencana ini menunjukan
dampak bencana banjir mulai mengancam kesiapsiagaan masyarakat di pengaruhi oleh
mereka. kondisi yang ada di lapangan. Dalam situasi
bencana akan membuat masyarakat melakukan

138
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

berbagai kesiapsiagaan yang ada untuk Messner, Frank. and Meyer, Volker. 2005. Flood
mengurangi risiko bencana. Kondisi bencana Damage, Vulnerability And Risk Perception
Challenges For Flood, Damage Research.
juga akan membuat masyarakat terdorong Discussion Nato Science Series, Springer
untuk melakukan kesiapsiagaan kemudian hari, Publisher.
hal ini di lihat dari kesiapsiagaan masyarakat Price. 2008. Urban Flood Disaster Management.
UNESCO-IHE, Delft
setelah bencana. Sutton, J., and Tierney, K. 2006. Disaster
Preparedness: Concepts, Guindance and
Ucapan Terima Kasih Research. Colorado: University of Colorado.
Takao, Kenji, Motoyoshi, Tadahiro, Sato, Teruko,
Fukuzono, Teruki. 2004. Factors
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Determining Residents' Preparedness For
Saut Aritua H. Sagala, ST., M.Sc., Ph.D untuk Floods In Modern Megapolises: The Case Of
arahan dan bimbingan sehingga artikel ini The Tokai Flood Disaster In Japan. Journal
dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua of Risk Research, Carfax Publishing
mitra bestari yang telah memberikan komentar Taubenbck, H., Post, J., A., R., Zossesder, K.,
yang berharga. Strunz, G., and Dech, S. 2008. A Conceptual
Vulnerability and Risk Framework as Outline
Daftar Pustaka to Identify Capabilities of Remote Sensing.
Journal Of Natrural Hazard and Earth System
Buckle, P. 2006. Assessing Social Resilience. Management, 409-502.
Disaster Resilience: An Intergreted Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang
Approach. Illinois: Charles C. Thomas Penanggulangan Bencana
Publisher, Springfield. UN-ISDR. 2002. Living with Risk: A Global Review
Gissing, Andrew. 2002. Bussines In The Macleay of Disaster Reduction Initiatives. Preapared
Commercial Flood Damage Kempsey 2001. as An Inter-Agency Effort Coordinated by the
NSW Floodplain Management Conference ISDR Secretariat with special support from
Gregg, C. E., Houghton, B. F., Johnston, D. M., the Government of Japan, the World
Paton, D., and Swanson, D. A. 2004. The Meteorological Organization and the Asian
Perception of Volcanic Risk in Kona Disaster Reduction Center (Kobe, Japan).
Communities from Mauna Loa and Hualalai Geneva: ISDR Secretariat.
Volcanoes, Hawaiki. Journal of Volcanology United Nation Development Programme. 2004.
and Geothermal Research, 130, 179-196. Reducing Disaster Risk: A Challengen for
Ho, M. C., Shaw, D., and Lin, S. Y. 2008. "How Do Development. New York: UNDP.
Disasters Characteristics URL:www.undp.org/cpr/whats_new/rdr_eng
Kreibich, Heide, Thieken, Annegret. 2007. Coping lish.pdf.
With Floods in the City Of Dresenden, Wisner, B., Blakilie, P., Canon, T., and Davis, I.
Germany. Journal in Natural Hazard and 2004. At Risk: Natural Hazard, People's
Earth System Sciennces Vulnerability and Disasters. New York:
Lindell, M.K. & Perry, R.W. 1992. Behavioral Routledge.
Foundations of Community Emergency Zhai, Guofang, Fukuzono, Teruki, Ikeda, Saburo.
Management. Washington China. Habitat 2005. Modelling Flood Damage case of Tokai
International. Washington, DC: Hemisphere Flood 2000. Journal of the America Water
Publishing Corp Resources Association
LIPI-UNESCO/ISDR. 2006. Kajian Kesiapsiagaan
Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana
Gempa Bumi dan Tsunami.
Martens, T., Garrelts, Grunnenberg, H., and Lange,
H. : Taking The Heterogeneity Of Citizens
Into Account: Flood Risk Communication In
Coastal Cities A Case Study Of Bremen.
Natural Hazards and Earth System Sciences.
Matsuda, Yoko., Okada, Norio. 2006. Community
Diagnosis for Sustainable Disaster
Preaparedness. Journal of Natural Disaster
Science, Kyoto University

139
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Vol 21/No. 2 Agustus 2013

140

Anda mungkin juga menyukai