Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

AROMATERAPI VIRGIN COCONUT OIL

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Aromaterapi dan Hidroterapi

AYU APRILIANI

260110140078

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2017

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Aromaterapi
Virgin Coconut Oil . Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari
mata kuliah aromaterapi dan hidroterapi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran.
Dalam penyusunan makalah ini, tentunya kami memperoleh banyak bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya, oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada Bapak Prof. Dr. Moelyono Moektiwardoyo, MS, Apt, selaku dosen yang telah
membimbing dalam penyusunan tugas makalah Aromaterapi Virgin Coconut Oil.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini memiliki banyak
kekurangan, baik dari segi penyajian sampai pada materi yang kami bahas, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang sifatnya
membangun. Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Jatinangor, 05 April 2017

Penyusun

Daftar Isi

2
KATA PENGANTAR....................................................................................... II
DAFTAR ISI..................................................................................................... III
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
1.4 Manfaat.............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 3
2.1 Kelapa................................................................................................ 3
2.2 Virgin Coconut Oil (VCO)................................................................ 5
2.3 Kandungan Virgin Coconut Oil (VCO)............................................. 7
2.4 Manfaat Virgin Coconut Oil (VCO).................................................. 7
2.5 Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai aromaterapi............................... 8
2.6 Prinsip Virgin Coconut Oil (VCO).................................................... 9
2.6.1 Pembuatan dengan enzimatis........................................................ 10
2.6.2 Pembuatan dengan Pengasaman................................................... 11
2.6.3 Pembuatan dengan Sentifugrasi.................................................... 12
2.6.4 Pembuatan dengan Fermentasi...................................................... 14
2.7 Standar Mutu Virgin Coconut Oil (VCO)......................................... 15
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 17
3.1 Simpulan............................................................................................ 17
3.2 Saran ................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 18

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia kaya akan sumber daya alam diantara yaitu indonesia memiliki kebun
kelapa terluas di dunia yaitu sekitar 3.781.600 hektar. Sering dnegan perkembangan
teknologi pengolahan , penelitian mengenai minyak kelapa dapat meningkatkan nilai
tambah serta fungsinya yang sangat esensial. Hasil dari penelitian tersebut kini
memunculkan suatu produk yang mempunyai manfaat lebih banyak.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata tidak mampu begitu saja
menghilangkan arti pengobatan tradisional. Apalagi keadaan perekonomian Indonesia
saat ini yang mengakibatkan harga obat-obatan modern menjadi mahal. Oleh karena
itu salah satu pengobatan alternatif yang dilakukan adalah meningkatkan penggunaan
tumbuhan berkhasiat obat di kalangan masyarakat. Agar peranan obat tradisional
dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan, perlu dilakukan upaya
pengenalan, penelitian, pengujian dan pengembangan khasiat dan keamanan suatu
tumbuhan obat.

VCO merupakan minyak kelapa yang diproses dari kelapa segar tanpa
pemanasan dan tidak melalui pemurnian dengan bahan kimia. Dibandingkan dengan
minyak kelapa yang diolah secara pemanasan, VCO memiliki keunggulan, yaitu
kadar air dan asam lemak bebas rendah, tidak berwarna (jernih), beraroma harum, dan
daya simpan lebih lama. Dalam perkembangannya VCO telah dimanfaatkan sebagai
bahan baku farmasi, kosmetik, dan pangan (Kastanya, 2009).

1.2 Rumusan Masalah

1
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana manfaat Virgin Coconut Oil sebagai aromaterapi ?

1.3 Tujuan
1. Apa itu Virgin Coconut Oil?
2. Apa Manfaat Virgin Coconut Oil?
3. Bagaimana manfaat Virgin Coconut Oil sebagai aromaterapi?
4. Bagaimana Pembuatan Virgin Coconut Oil?

1.4 Manfaat
Memberikan informasi baru bagi produsen dan masyarakat mengenai khasiat
minyak kelapa murni (VCO) .

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Kelapa
Kelapa (Cocos nucifera L) merupakan salah satu hasil pertanian Indonesia yang
cukup potensial. Hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan.
Banyak kegunaan yang dapat diperoleh dari kelapa dan salah satu cara untuk
memanfaatkan buah kelapa adalah mengolahnya menjadi minyak makan atau minyak
goreng. Produk kelapa yang paling berharga adalah minyak kelapa, yang dapat
diperoleh dari daging buah kelapa segar atau dari kopra (Suhardiyono, 1995).
Kelapa (coconut) dikenal dengan berbagai sebutan seperti Nux indica, al djanz al
kindi, ganzganz, nargil, narle, tenga, temuai dan pohon kehidupan. Buah kelapa
(Cocos nucifera) termasuk famili palmae dari genus cocos. Pohon kelapa mempunyai
tinggi ratarata 12,3 meter dan sejak ditanam sampai berbuah hingga siap dipetik
pohon kelapa membutuhkan waktu 12 bulan (Suhardiyono, 1995).
Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku
aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya
oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi
masyarakat pesisir. Kelapa juga sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini.
Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari pesisir Samudera Hindia di sisi Asia, namun
kini telah menyebar luas di seluruh pantai daerah tropis dunia. Buah kelapa memiliki
beberapa bagian seperti

3
Buah kelapa terdiri dari kulit luar, sabut, batok, kulit daging (tesla), daging buah,
air kelapa, dan lembaga (bakal buah). Kulit luar merupakan lapisan tipis (0,14 mm)
yang memiliki permukaan licin dengan warna bervariasi dari hijau hingga coklat,
tergantung dari tingkat kematangan buah. Sabut kelapa merupakan bagian yang
cukup besar dari buah kelapa, yaitu 30% dari berat keseluruhan. Sabut kelapa terdiri
dari serat dan gabus yang menghubungkan satu serat dengan serat lainnya. Batok
kelapa merupakan lapisan keras yang terdiri dari lignin, selulosa, metoksil, dan
berbagai mineral. Berat batok kelapa sekitar 15-19% dari berat keseluruhan buah
kelapa. Kulit daging buah merupakan lapisan tipis coklat pada bagian terluar daging
buah. Daging buah merupakan lapisan tebal (8-15 mm) yang berwarna putih. Daging
buah tua merupakan sumber minyak nabati yang memiliki kandungan minyak
berkisar 33-35%. Air kelapa mengandung sedikit
karbohidrat, protein, lemak, dan beberapa
mineral (Setiaji, 2006).
Taksonomi tumbuhan kelapa (Cocos
nucifera L) menurut Sentra Informasi IPTEK
(2005) adalah sebagai berikut:
Klasifikasi
Divisi: Spermatophyta
Subdivisi: Angiospermae
Kelas: Monocotyledoneae
Bangsa: Palmales
Suku: Palmae
Marga: Cocos
Jenis: Cocos nucifera L ( Sentra Informasi Iptek, 2005).

2.2 Virgin Coconut Oil (VCO)

4
Minyak kelapa murni atau disebut juga dengan virgin coconut oil adalah minyak
yang berasal dari sari pati kelapa, diproses secara higienis tanpa sentuhan api secara
langsung dan bahan kimia tambahan. Dilihat dari warnanya, minyak kelapa murni
jauh lebih bening seperti air mineral. Selain itu kadar air dan asam lemak bebasnya
kecil, serta kandungan asam lauratnya
tinggi(Darmoyuwono, 2006).
VCO mengandung antioksidan bebas,
berdasarkan proses pembuatannya rasa minyak
yang dihasilkan lembut dengan bau khas kelapa
yang unik. Minyak ini tidak mudah tengik karena
kandungan asam lemak jenuhnya tinggi sehingga
proses oksidasi tidak mudah terjadi. Namun, bila kualitas VCO rendah, proses
ketengikan akan berjalan lebih awal. Hal ini disebabkan oleh pengaruh oksigen,
keberadaan air, dan mikroba yang akan mengurangi kandungan asam lemak yang
berada dalam VCO menjadi komponen lain(Darmoyuwono, 2006).
Selama sekitar 3960 tahun yang lalu, dari 4000 tahun sejak adanya catatan
sejarah, telah diketahui penggunaan buah kelapa sebagai bahan makanan dan
kesehatan. Selama itu, dicatat bahwa buah kelapa memang sangat bermanfaat, tanpa
efek samping. Pohon kelapa dipandang sebagai sumber daya berkelanjutan yang
memberikan hasil panen yang berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan
masyarakat di daerah tropis. Dan yang penting adalah buahnya, daging kelapa, air
kelapa, santan, dan minyaknya (Darmoyuwono, 2006).
Belakangan ini, pemanfaatan daging buah kelapa menjadi lebih variatif. Virgin
coconut oil (VCO) merupakan bentuk olahan daging kelapa yang baru-baru ini
banyak diproduksi orang. Di beberapa daerah, VCO lebih terkenal dengan nama
minyak perawan, minyak sara, atau minyak kelapa murni (Setiaji dan Prayugo, 2006).
Pada pengolahan minyak kelapa biasa atau minyak goreng secara tradisional
dihasilkan minyak kelapa bermutu kurang baik. Hal tersebut ditandai dengan adanya
kadar air dan asam lemak bebas yang cukup tinggi di dalam minyak kelapa. Bahkan

5
warnanya agak kecokelatan sehingga cepat menjadi tengik. Daya simpannya pun
tidak lama, hanya sekitar dua bulan saja. Oleh karena itu, dilakukan serangkaian
pengujian untuk memperbaiki teknik pengolahan minyak kelapa tersebut sehingga
diperoleh minyak kelapa dengan mutu yang lebih baik dari cara sebelumnya. Minyak
kelapa yang dihasilkan memiliki kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah,
berwarna bening, serta berbau harum. Daya simpannya pun menjadi lebih lama, bisa
lebih dari 12 bulan (Rindengan dan Novarianto, 2004).
Minyak kelapa murni merupakan hasil olahan kelapa yang bebas dari transfatty
acid (TFA) atau asam lemak-trans. Asam lemak trans ini dapat terjadi akibat proses
hidrogenasi. Agar tidak mengalami proses hidrogenasi, maka ekstraksi minyak kelapa
ini dilakukan dengan proses dingin. Misalnya, secara fermentasi, pancingan,
sentrifugasi, pemanasan terkendali, pengeringan parutan kelapa secara cepat dan lain-
lain (Darmoyuwono, 2006).
Minyak kelapa murni memiliki sifat kimia-fisika antara lain :
1. Penampakan : tidak berwarna, Kristal seperti jarum
2. Aroma : ada sedikit berbau asam ditambah bau caramel
3. Kelarutan : tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alcohol (1:1)
4. Berat jenis : 0,883 pada suhu 20C
5. ph: tidak terukur, karena tidak larut dalamair.
Namun karena termasuk dalam senyawa asam maka dipastikan memiliki pH di
bawah 7
6. Persentase penguapan : tidak menguap pada suhu 21C (0%)
7. Titik cair : 20-25C
8. Titik didih : 225C
9. Kerapatan udara (Udara = 1) : 6,91
10. Tekanan uap (mmHg) : 1 pada suhu 121C
11. Kecepatan penguapan (Asam Butirat = 1) : tidak diketahui
(Darmoyuwono, 2006).

6
2.3 Kandungan Virgin Coconut Oil (VCO)
VCO memiliki asam lemak yang tidak terhidrogenasi seperti pada minyak kelapa
biasa. VCO banyak mengandung asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty
Acid / MCFA). Sifat MCFA yang mudah diserap sampai ke mitokondria akan
meningkatkan metabolisme tubuh. MCFA yang paling banyak terkandung dalam
VCO adalah asam laurat.

(Ketaren, 1986).
2.4 Manfaat Virgin Coconut Oil
VCO memiliki banyak manfaat dalam dunia industri dan kesehatan. Dalam
dunia perindustrian, VCO dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik. Susunan
molekuler VCO memberikan tekstur lembut dan halus pada kulit dan rambut,
sehingga saat ini banyak industri sabun, shampoo, dan produk perawatan tubuh lain
yang menggunakan bahan baku VCO. Keunggulan VCO adalah merupakan bahan
baku yang murah dan mudah didapat. Dalam dunia kesehatan, VCO memiliki banyak
manfaat berikut ini :

7
1) Merupakan antibakteri ,antivirus , antijamur dan antiprotozoa alamiah.
2) Membantu meredakan gejala-gejala dan mengurangi resiko kesehatan
yang berhubungan dengan diabetes.
3) Membantu melindungi diri terhadap serangan penyakit osteoporosis.
4) Membantu mencegah tekanan darah tinggi.
5) Membantu mencegah penyakit liver.
6) Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
7) Membantu mencegah penyakit kanker.
8) Membantu menurunkan berat badan.
9) Menjaga stamina tubuh.
10) Memelihara kesehatan kulit dan rambut (Alamsyah, 2005).
2.5 Virgin Coconut Oil sebagai aromaterapi

Stres adalah respon kelangsungan hidup umpan balik yang memperkuat status
fisik dan mental dari seorang individu. Namun, stres yang ekstrim dapat
membahayakan kesehatan mental dan somatik dan menyebabkan depresi,
imunosupresi, hipertensi dan gangguan endokrin . Kondisi ini telah meningkatkan
jumlah pasien yang menderita depresi, mempengaruhi kualitas hidup mereka dan,
kemudian, keseimbangan sosial-ekonomi. Berbagai obat-obatan yang saat ini
digunakan untuk mengelola stres dan depresi, termasuk diazepam, kafein dan steroid
anabolik tertentu. Namun, obat ini mungkin terkait dengan toksisitas dan efek
samping yang parah . Dengan demikian, manajemen stres melalui modifikasi diet dan
tumbuh-tumbuhan alami dapat menjadi alternatif yang berharga untuk obat
antidepresan(Shinohara et all, 2013).

Virgin coconut oil (VCO), yang dapat dihasilkan dari daging kelapa segar, susu
kelapa atau residu santan, kaya trigliserida (TG) dan asam laurat. VCO telah banyak
dikonsumsi sebagai makanan kesehatan dan juga telah digunakan untuk tujuan
cosmeceutical . Studi sebelumnya melaporkan manfaat konsumsi VCO, termasuk
antiulcerogenic, antinociceptive, anti-inflamasi , antihiperkolesterolemia, antimikroba
dan hepatoprotektif. Nutrisi dan suplemen antioksidan telah dianggap bermanfaat
bagi pemulihan dari stres oksidatif . VCO menunjukkan potensi minyak diet lemak
rantai mengandung asam, yang ditemukan efektif sebagai antidepresan. VCO kaya

8
akan asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty Acid / MCFA) dan
polifenol , dapat digunakan sebagai antistress dan minyak gizi antidepresan
(Shinohara et all, 2013).

2.6 Prinsip Pembuatan Virgin Coconut Oil


Kandungan kimia yang paling utama (tinggi) dalam sebutir kelapa yaitu air,
protein, dan lemak. Ketiga senyawa tersebut merupakan jenis emulsi dengan protein
sebagai emulgatornya. Emulsi adalah cairan yang terbentuk dari campuran dua zat
atau lebih yang sama, dimana zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara
halus atau merata di dalam zat yang lain. Sementara yang dimaksud dengan
emulgator adalah zat yang berfungsi untuk mempererat (memperkuat) emulsi tersebut
(Alamu, 2010).
Dari ikatan tersebut protein akan mengikat butir-butir minyak kelapa dengan
suatu lapisan tipis sehingga butir-butir minyak tidak akan bisa bergabung, demikian
juga dengan air. Emulsi tersebut tidak akan pernah pecah karena masih ada tegangan
muka protein air yang lebih kecil dari protein minyak. Minyak kelapa (VCO) baru
bisa keluar jika ikatan emulsi tersebut dirusak. Untuk merusak emulsi tersebut banyak
sekali cara, yaitu dengan sentrifugasi, pengasaman, enzimatis, dan pancingan.
Masing-masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, secara
umum teknologi tersebut sangat aplikatif(Alamu, 2010).
Proses pembuatan minyak kelapa murni dibagi menjadi beberapa metode yaitu
sebagai berikut:

2.6.1 Pembuatan dengan enzimatis


Pembuatan VCO dengan enzimatis merupakan pemisahan minyak dari santan tanpa
pemanasan melainkan dengan bantuan enzim. Enzim bisa disintetis atau disuplai dari
alam. Beberapa jenis enzim yang bisa digunakan untuk memecah ikatan lipoprotein
dalam emulsi lemak yaitu papain (pepaya), bromelin (nanas), melon, lidah buaya dan

9
enzim protease yang berasal dari kepiting
sungai.
Cara pembuatan VCO
secara enzimatis sebagai
berikut:

Parutan Kelapa

dicampur air + diperas

Perasan Kelapa

didiamkan 2 jam

Skim (bawah) Krim (atas)


ditambahkan enzim (nanas, melon, dll)
Dibuang

Air (bawah) Blondo (tengah) Minyak (atas)


disaring
Pembuatan VCO secara enzimatis memiliki kelebihan dan kekurangan: VCO

a) Kelebihan
1. VCO berwarna bening karena memang tidak mengalami proses pemanasan.
2. Kandungan asam lemak dan antioksidan di dalam VCO tidak banyak berubah
sehingga khasiatnya tetap tinggi.
3. Tidak mudah tengik karena komposisi asam lemaknya tidak banyak berubah.
4. Tidak memutuhkan biaya tambahan yang terlalu mahal karena umumnya daun
pepaya atau nanas dijual denga harga murah.
5. Hasil yang diperoleh cukup tinggi, yaitu dari 10 butir kelapa akan diperoleh
sekitar 1.100 ml VCO.
b) Kekurangan
Memutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses denaturasi protein untuk
memisahkan minyak dari ikatan lioprotein, yaitu sekitar 20 jam (Alamu, 2010).

10
2.6.2 Pembuatan dengan Pengasaman
Pengasaman dilakukan dengan membuat suasana emulsi (santan) dalam keadaan
asam. Asam memiliki kemampuan untuk memutus ikatan lemak-protein dengan cara
mengikat senyawa yang berikatan dengan lemak.

Parutan Kelapa

dicampur air + diperas


Perasan Kelapa
didiamkan 2 jam

Skim (bawah) Krim (atas)


ditambahkan asam cuka
Dibuang
Air (bawah) Blondo (tengah) Minyak (atas)
disaring
VCO

11
Namun asam dalam santan bisa bekerja dengan maksimal bila kondisi pH sesuai yaitu
4,3.
Pembuatan VCO dengan pengasaman memiliki kelebihan dan kekurangan:
a) Kelebihan
1. Warna lebih bening dibandingkan dengan VCO yang dibuat secara tradisional.
2. Kandungan asam lemak dan antioksidannya tidak banyak berubah karena proses
hanya memutuskan ikatan protein-lemak saja.
3. Daya simpan sangat lama, bisa sampai 10 tahun karena selama proses pembuatan
tidak terjadi denaturasi komposisi gizinya.
4. Proses pembuatan tidak membutuhkan tenaga tambahan.
5. Tidak membutuhkan biaya terlalu mahal karena harga asam cuka sebagai bahan
tambahan cukup murah.
b) Kekurangan
1. Tidak bisa diformulasikan secara pasti karena untuk mendapatkan pH 4,3 banyak
faktor yang berpengaruh sehingga harus dilakukan pencampuran (santan dan
asam) berulang-ulang.
2. pH campuran santan dan asam harus sesuai, apabila pH kurang atau lebih
kemungkinan kegagalan dalam pembuatan VCO sangat tinggi.
3. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan VCO cukup lama, sekitar 10
jam(Alamu, 2010).

2.6.3 Pembuatan dengan Sentifugrasi


Sentrifugasi merupakan salah satu pembuatan VCO dengan cara mekanik.
Pembuatan VCO dengan sentrifugasi juga dikelompokan menjadi tiga, yaitu
pembuatan santan, pembuatan VCO Parutan
serta penyaringan.
Kelapa Pemutusan ikatan lemak
protein pada santan dilakukan dengan pemutaran (pemusingan), yaitu dengan gaya
dicampur air + diperas
sentrifugal karena berat jenis minyak dan air berbeda maka setelah dilakukan
Perasan
sentrifugasi keduanya akan terpisah dengan KelapaKunci dari pembuatan VCO
sendirinya.
dengan sentrifugasi yaitu kecepatan pemutaran, yaitu 20.000 rpm
didiamkan 2dengan
jam waktu yang
dibutuhkan sekitar 15 menit.
Berikut Skim
ini merupakan
(bawah)cara pembuatan VCO dengan sentrifugasi:Krim (atas)
dimasukkan dalam tabung sentrifuse (pemutaran)
Dibuang

Air (bawah) Minyak (atas)


12
disaring
VCO
Pembuatan VCO dengan sentrifugasi memiliki kelebihan dan kekurangan:

a) Kelebihan
1. Berwarna jernih dan berbau khas minyak kelapa.
2. Daya simpan sekitar 10 tahun.
3. Proses pambuatannya sangat cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
4. Kandungan asam lemak rantai sedang tidak mengalami denaturasi, demikian juga
dengan kandungan antioksidannya.

b) Kekurangan
1. Membutuhkan biaya yang mahal untuk alat sentrifuge.
2. Membutuhkan tenaga listrik yang cukup tinggi sehingga bisa menambah biaya
produksi (Alamu, 2010).
2.6.4 Pembuatan dengan Fermentasi
Pembuatan minyak secara fermentasi pada prinsipnya adalah merusak protein
yang menyelubungi globula lemak menggunakan enzim proteolitik. Enzim yang
dimaksud adalah enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau tanaman sebagai
inokulum. Penambahan ragi tempe atau Rhizopus oligosporus karena mempunyai
kemampuan menghasilkan enzim protease dan lipase yang dapat menghidrolisis
minyak dengan didukung oleh kadar air yang tinggi. Mekanisme reaksi

13
Cara
pembuatan VCO dengan fermentasi yaitu:

Parutan Kelapa

dicampur air + diperas

Perasan Kelapa

didiamkan 2 jam
dicampurkan ragi tempe
Dibuang
Skim (bawah) Air (bawah) Krim (atas)
Blondo (tengah) Minyak (atas)
disaring
VCO

Pembuatan VCO dengan fermentasi memiliki kelebihan dan kekurangan:


a) Kelebihan
1. Berwarna jernih dan beraroma harum khas minyak kelapa.
2. Penggunaan energi yang minimal karena tidak menggunakan bahan bakar.
3. Pengolahan sederhana dan tidak terlalu rumit.
4. Tingkat ketengikan rendah dan daya simpan lebih lama.
b) Kekurangan
Proses fermentasi lama karena membutuhkan waktu 24 jam (Alamu, 2010).
2.7 Standar Mutu Virgin Coconut Oil (VCO)
Standar mutu VCO yang ditetapkan oleh Asian and Pasific Coconut
Community (APCC) agar VCO dapat dikatakan layak sebagai bahan makanan (food
grade) dan kosmetik disajikan pada tabel di bawah ini
Standar Kualitas VCO Berdasarkan APCC

14
(APPC, 2004).
Terdapat juga komponen asam lemak dalam VCO yang menurut APCC seperti
yang terlihat pada Tabel

Komposisi Asam Lemak yang Terkandung Dalam VCO

15
VCO dibentuk oleh rantai karbon, hidrogen, dan oksigen yang mengandung
gugus karboksilat yang disebut asam lemak. Komponen asam lemak membentuk
gliserol trigliserida saat bergabung dengan gliserol. Menurut Winarno (2008),
trigliserida yang umumnya terdapat pada lemak/minyak yaitu gliserol trigliserida.
Gliserol trigliserida terbentuk bila tiga asam lemak beresterifikasi dengan satu
molekul gliserol. Mekanisme reaksi hidrolisisnya

Mekanisme Reaksi Hidrolisis Trigliserida

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

VCO (virgin coconut oil) merupakan minyak yang diperoleh dari daging buah
kelapa segar dan matang baik secara mekanis maupun alami dengan maupun tanpa
pemanasanVCO memiliki keunggulan, yaitu kadar air dan asam lemak bebas rendah,
tidak berwarna (bening), beraroma harum, dan daya simpan lebih lama. Dalam
perkembangannya VCO telah dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi, kosmetik,

16
dan pangan. . VCO kaya akan asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty
Acid / MCFA) dan polifenol , dapat digunakan sebagai antistress dan minyak gizi
antidepresan. VCO dapat dibuat dengan cara , enzimatis, pengasaman, sentifugrasi
dan dengan fermentasi.

5.2 Saran
Demikian makalah ini di susun, banyak kekurangan baik dalam segi isi atau
penyampaiannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan isi makalah
mengenai Virgin Coconut Oil yang telah disajikan dapat dijadikan referensi ataupun
tambahan wawasan bagi pembaca .

DAFTAR PUSTAKA

Alamu, O.J., Dehinbo, O., and Sulaiman, A.M.. 2010. Production and Testing of
Coconut Oil Biodiesel Fuel and its Blend, Leonardo Journal of Sciences, 16 :
95-104
Alamsyah AN. 2005. Virgin Coconut Oil: Minyak Penakluk aneka Penyakit. Jakarta:
Agro Media Pustaka
APCC. 2004. APCC Standards for Virgin Coconut Oil. Tersedia online di
www.apccsec.org/document (Diakses pada 5 April 2017).
Darmoyuwono, W., 2006, Gaya Hidup Sehat dengan Virgin Coconut Oil, Cetakan

17
Pertama, Penerbit Indeks-kelompok Gramedia, Jakarta.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit

Universitas Indonesia, Jakarta.

Rindengan, B. dan Novarianto, H. 2004. Pembuatan Dan Pemanfaatan Minyak


Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil). Penebar Swadaya, Jakarta
Sentra Informasi Iptek, 2005. Tanaman Penghasil Pati. Tersedia online di
http://www.ipteknet.com (Diakses pada 5 April 2017).
Setiaji, B. & Prayugo, S., 2006, Membuat VCO Berkualitas Tinggi, Penebar Swadaya,
Depok. 1-79.
Shinohara H, Fukumitsu H, Seto A and Furukawa S: Medium-chain fatty
acid-containing dietary oil alleviates the depression-like behaviour in mice
exposed to stress due to chronic forced swimming. J Funct Foods 5: 601-606,
2013.
Suhardiyono, L.1995. Tanaman Kelapa. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Winarno, F.G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi: Edisi Terbaru. Jakarta. Gramedia
Pustaka Utama.

18