Anda di halaman 1dari 17

Pemanfaatan Stem cell Conditioned Medium dalam Proses Regenerasi Fraktur

Makbruri
Program Studi Magister Biomedik Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

I. Pendahuluan
Berbagai penelitian menunjukan bahwa penggunaan stem cell-derived secreted factor
tunggal tanpa menggunakan stem cell dapat menyebabkan perbaikan jaringan di dalam berbagai
kondisi terutama dalam kasus cedera jaringan atau organ. Secreted factor disini dapat diartikan
sebagai secretome, microvesicels, atau exosome dan dapat ditemukan di dalam medium tempat
menumbuhkan stem cell , medium ini dikenal dengan sebutan conditioned medium (CM). 1 (2
prof,Jeanne). Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa penggunaan conditioned medium dari
berbagai stem cells memberikan terapi yang potensial contohnya pada bebrapa kasus acute
myocardial infarct, fulminant hepatic failure, renal failure, stroke, hypoxia brain injury, lung
injury( 2 Bone distraction osteo), akan tetapi sedikit yang masih diketahui mengenai secretromic
faktor apa saja yang terlibat dari berbagai macam stem cell yang digunakan dan fungsinya apa
saja terhadapa terapi regenerasi tanpa melibatkan transpalantasi sel. (2 Bone sc)
Penggunaan conditioned medium mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan
dengan penggunaan stem cell, Conditioned Medium dapat dibuat, dapat disimpan dalam posisi
kering beku, dapat dikemas, dan dipindahkan dengan mudah, selain itu karena tidak
mengandung sel di dalamnya, CM tidak perlu dicocokkan antara donor dan resepien untuk
mencegah reaksi penolakan. Oleh karena itu, stem Cell derived conditioned medium mempunyai
masa depan yang menjanjikan untuk diproduksi secara farmasi untuk keperluan regenerative
medicine. Proses regenerasi fraktur tulang merupakan proses biologi yang melibatkan proses
sistemik dan lokal . Proses fisiologi terjadi di tempat terjadinya fraktur termasuk terbentuknya
hematom, transformasi dari sel mesenkim , terjadinya proses angiogenesis, produksi dan
remodeling dari matrix extraselluler yang melibatkan proses intramembranous ossification dan
endochondral ossification.
Proses penyembuhan yang buruk menjadi masalah yang utama belakangan ini,
meskipun sebagian besar fracture dapat diperbaiki oleh tubuh melalui proses osifikasi
intramembranosa dan osifikasi endochondral , lebih kurang 10% kasus, proses penyatuan tulang
tertunda dan bermasalah disebabkan oleh beberapa penyebab antara lain ; bekurangnya suplai

1
darah dan homing stem cells, kerusakan pada jaringan periosteum, immobilisasi yang
inadequate atau infeksi di tempat terjadinya injury. Meskipun autologes bone transplantation dan
vascularized bone graft telah digunakan untuk kasus delayed-union atau non union fractures,
terapi ini terkadang tidak begitu efektif. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme
molekuler dalam proses repair fraktur tulang sangat diperlukan untuk
Mengembangkan suatu terapi baru terutama dalam kasus fraktur yang perlu perhatian khusus
seperti pada kasus delayed-union dan non union beserta komplikasinya.
Transplantasi stem cell, seperti Mesenchymal stem cell sum-sum tulang (MSCs)
terbukti mempromosikan regenerasi jaringan termasuk penyembuhan fraktur. Beberapa
penelitian menyebutkan bahwa transpalantasi MSCs memberikan kontribusi terhadap regenerasi
jaringan lebih melalui beberapa mekanisme dibandingkan proses diferensiasi dan integrasi
jaringan secara langsung. Oleh karena itu sinyal paracrine yang dihasilkan oleh stem cell
merupakan mekanisme yang potensial untuk menjelaskan proses stem cell dalam regenerasi
jaringan. Efek paracrine ini dimediasi oleh beberapa protein seperti sitokin, chemokine yang
dilengkapi dengan efek anti apoptotic, anti inflammatory, antioxidative, dan proangiogenik. y
ang semuanya terdapat dalam secretome CM.
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan systematical review menampilkan
CM dengan berbagai Stem Cell yang berbeda yang digunakan dalam proses penyembuhan
fracture.

II.Metode
Penulisan makalah ini menggunakan desain systematic review. Jurnal atau artikel
didapatkan dari pencarian di internet menggunakan website www.pubmed.com
www.scholar.google.com dan www.libraryui.com. Menggunakan strategi pencarian seperti
dibawah ini

Tabel 1. Strategi Pencarian artikel atau jurnal


Komponen Kata Kunci Sumber Pustaka
Problem Healing Fracture www.pubmed.com www.scholar.google.com
www.libraryui.com
Intervention Conditioned Medium, www.pubmed.com www.scholar.google.com
Stem Cell www.libraryui.com
2
Outcome Activity Efective www.pubmed.com www.scholar.google.com
www.libraryui.com

Kriteria Inklusi dari makalah ini adalah menggunakan jurnal atau artikel dengan tahun
terbit 2011-2016, Jurnal atau artikel yang digunakan adalah jurnal berupa full text menggunakan
bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, yang memuat judul, volume, nomor jurnal, serta lembaga
yang menerbitkan berupa jurnal primer, penulis melakukan sendiri penelitiannya dan memuat
tentang penggunaan CM dari berbagai stem cell dalam proses regenerasi fraktur tulang. Kriteria
eksklusi berupa artikel atau jurnal yang tidak berhubungan dengan tujuan pencarian yaitu selain
penggunaan CM dalam proses regenerasi fraktur, penggunaan CM bukan untuk regenerasi tulang
, dan artikel atau jurnal masih dalam tahap penelitian yang belum selesai, setelah melalui
beberapa tahapan didapatkan beberapa artikel atau jurnal sesuai dengan kriteria inklusi dan
eksklusi, kemudian dilakukan review terhadap artikel atau jurnal tersebut untuk menjawab
pertanyaan efektifkah penggunaan CM Data yang didapatkan dari artikel atau jurnal tersebut
antara lain : Penggunaan CM , subjek penelitian yang diteliti, Outcome yang diperiksa berupa
tampakan secara histologi, radiologi, dan fungsi klinis. Data ini dicatat dan disajikan dalam
bentuk tabel.

Tabel 2. Keseluruhan data yang didapatkan dari berbagai studi


Ref Sumber CM Subjek Outcome yang Diperiksa Proses CM
8 Bone Marrow Tikus 1.Radiologi - 2 ml cm diambil dan
mesenchymal 2. Evaluasi Histologi dicentrifuge selama 15 m
stem cells 3.Invitro Analysis (2380 g) dan di
ultracentrifuge selama 70 m
(180.000 g), supernatant
diambil sebagai sumber
exosomes. 100 l exosomes
diinjeksikan ke bagian
fracture selama hari ke 1 dan
hari ke 8 post fracture
9 Human fetal Tikus 1. Radiologi -CM diambil dan
mesenchymal 2. Histologi dicentrifuge selama 10
stem cell 3. Invitro Analysis 0
menit, dalam suhu 4 C, 4000
g. Kemudian 15 ml CM
dicentrifuge kembali selama
3
60 menit pada suhu 40C,
4000 g. 300-400 l
supernatant diambil sebagai
secretome, pada minggu ke
6 diinjeksikan ke tempat
fracture, dan tiap 3 hari
menjelang terminasi
(disctraction osteogenesis)
10 Human Bone Tikus 1. Histology CM diambil dari Medium
Marrow 2. Invitro Analisis Kultur disentrifuse selama
MSCs and 4-5 menit pada suhu 40 C,
human skin
setelah itu diresentrifuse
fibroblasts
(FBs) kembali hingga didapatkan
CM, CM diinjeksikan ke
tempat fracture selama hari
ke 3, 5 dan ke7
11 Rat Bone Tikus 1. Radiologi CM diambil setelah MSC
Marrow MSC 2. Histologi diperlakukan secara hipoksia
dalam 3. Invitro Analisis selama 12 jam. CM diambil
keadaan
setelah 48 jam inkubasi dan
hipoksia
disentifuse 1000 g, 4OC
selama 30 menit

III.Hasil
Hasil survey menunjukkan bahwa penelitian mengenai pengaruh dan penggunaan CM
dalam proses regenerasi fraktur belum cukup banyak dilakukan, pencarian dilakukan
berdasarkan pedoman yang sudah dibuat dan ditentukan artikel yang digunakan sesuai dengan
kriteria inklusi dan eksklusi, pertama kali kata kunci dimasukkan di search engine yang
didapatkan 23 artikel , kemudian direview kembali berdasarkan kriteria Ekslusi dan Inklusi
didapatkan 10 rtikel atau jurnal yang sesuai, sesuai dengan kriteria inklusi, artikel yang dapat
digunakan adalah artikel berupa full text, artikel yang berupa abstrak tidak dimasukan,
didapatkan sejumlah 4 artikel full text yang membahas penggunaan CM dalam proses
penyembuhan fraktur. Perbandingan antara penggunaan Variasi CM dari berbagai jenis stem cell,
subjek yang diteliti, dan outcome atau hasil yang dinilai dapat dilihat dalam Tabel 2. Artikel ini
mempelajari penggunaan CM dalam regenerasi fraktur tulang. Penggunaan CM yang

4
didapatkan dari berbagai stem cell dan kontrol dibandingkan satu sama lain.. Outcome atau hasil
yang dinilai mengenai gambaran histologi, radiologi dan fungsi klinis

III.A Perbandingan Outcome Histologi

Dari 4 studi outcome semua menampilkan outcome secara histologi, evaluasi histologi
yang disajikan secara umum serupa. Sebagian besar studi mengevaluasi berdasarkan gambaran
umum mikroskopik proses osteogenik dan satu studi mengevaluasi histologi dengan menghitung
jumlah sel-sel yang terlibat dalam proses osteogenik (sel osteoblast, osteosit, dan jaringan
kolagen). Dari evaluasi histologi semua studi memberikan dampak yang positif ketika
menggunakan CM , gambaran sel-sel osteogenik terlihat lebih banyak dibandingkan dengan
kelompok yang tidak diberikan CM . Enam studi memberikan dampak yang lebih baik apabila
PRP diberikan secara kombinasi dengan senyawa lain[8,13,15,16,17], satu studi menunjukkan
hasil yang cenderung lebih buruk apabila dikombinasikan dengan senyawa tersebut[12], dan satu
studi membandingkan dosis optimum terbaik dari PRP hasil menunjukkan bahwa dosis PRP
sedang memberikan hasil terbaik dibandingkan dengan dosis rendah dan tinggi[11]. Hasil lebih
baik ditunjukkan apabila PRP dikombinasikan dengan Autobonegraft (Cangkok tulang yang
berasal dari individu pasien tersebut)[8] karena auto bone graft bersifat osteoinductive yaitu
membantu proses osteogenesis dalam regenerasi tulang. Penggunaan material biologis lebih
diutamakan hal ini terbukti dari penelitian-penelitian sebelumnya yang memperlihatkan hasil
proses regenerasi tulang yang terbentuk akan lebih baik dengan sedikitnya darah yang hilang dan
kecilnya angka kejadian infeksi dan nyeri8. PRP mengandung factor pertumbuhan yang terdiri
dari PDGF , TGF-B, Platelet Factor (PF4), interleukin 1(IL1) EGF, Platelet Derived
Angiogenesis Factor (PDAF) , VEGF. Sekresi protein seperti PDGF akan mengakibatkan
kondisi bioaktif diaktifkan dengan penambahan protein histon dan rantai karbohidrat yang
selanjutnya akan berikatan dengan sel target sepert osteoblast dan sel stem mesenkimal, hal ini
akan mengaktifkn sinyal intraselluer yang akan mengarahkan sel secara langsung untuk
menambah proliferasi selnya, menambah formasi matriks, sintesis kolagen dan diferensiasi sel,
dengan hadirnya faktor pertumbuhan ini proses regenerasi fraktur akan berlangsung lebih baik.
Penelitian berikutnya penggunaan PRP bersama Bioglass menunjukan hasil yang sinergis ,
merangsang laju pertumbuhan karena sifatnya sama seperti autobonegraft yaitu osteokonduktive
terhadap proses regenerasi fraktur.15 Suatu terapi terbaru menyebutkan penggunaan bersama PRP

5
dengan hiperbarik oksigen menunjukkan proses regenerasi tulang lebih baik dibandingkan
dengan penggunaan PRP tunggal mungkin hal ini disebabkan Oksigen Hiperbarik dapat
memperbanyak pembuluh darah baru (neovaskularisasi), yang akan memperbanyak aliran darah
ke formasi tulang sehingga akan menginduksi proliferasi dan diferensiasi sel osteogenik menjadi
sel osteoblast secara langsung.17 Satu studi menunjukan hasil berbeda dibanding studi lainnya
dimana penggunaan PRP dengan senyawa Demineralized Bone Matrix (DBM) memiliki hasil
lebih buruk proses osteogeniknya dalam sajian histologi dibanding penggunaan PRP secara
tunggal. Hal ini mungkin berkaitan dengan thrombin yang diaktifkan oleh PRP akan
menghambat efek dari DBM dan menghambat proses kondrogenesis dan osteogenesis. Satu hal
yang menarik dari studi berikutnya adalah mengenai dosis optimal dari PRP, ternyata dosis
optimal PRP bukan dosis tinggi, dosis PRP yang menunjukan hasil maksimal dalam evaluasi
histologi adalah dosis menengah. Dosis menengah PRP (2,65x10^9/ml) akan mempromosikan
diferensiasi osteogenesis dan menghambat differensiasi adipogenic dari sel mesenkim, Dosis
tinggi PRP (8.21x10^9/ml) akan menghambat osteogenesis sel mesenkimal.11

Tabel 3. Outcome evaluasi Histologi

Reff Perbandingan Evaluasi Histologi

8 Kontrol (PBS) Frakture Healing score berdasarkan kriteria histologi Stell Dwass test
mendapatkan nilai 3 lebih buruk dari penggunaan MSC-CM, tetapi lebih
baik dibandingkan dengan penggunaan HOS

HOS (Human Frakture Healing score berdasarkan kriteria histologi Stell Dwass test
osteosarcoma mendapatkan nilai 1, lebih buruk dibandingkan penggunaan CM dan
cells) control

MSC- CM Frakture Healing score berdasarkan kriteria histologi Stell Dwass test
Exosomes mendapatkan nilai 8 paling baik dibandingkan control dan HOS

11 PBS (Kontrol) Dilakukan perwarnaan menggunakan Trichome Goldner, Condrosite


lebih banyak tampak dibandingkan dengan grup secretome, menunjukan
bahwa proses mineralisasi tulang tidak berlangsung sempurna

Medium Dilakukan perwarnaan menggunakan Trichome Goldner, Condrosite


(Eagle lebih banyak tampak dibandingkan dengan grup secretome, menunjukan
Medium of bahwa proses mineralisasi tulang tidak berlangsung sempurna
Alpha)
6
HFMSC-CM Tampak bentukan tulang baru yang telah berkonsolidasi dan
pembentukan korteks yang sedang berlangsung, terlihat gambaran bone
marrow yang sedang terbentuk

12 Media Dari analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


(DMEM) sebesar 30 %, paling kecil dibandingkan dengan angka yang lain

Fibroblas-CM Dari analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


sebesar 40 %

MSC-CM Dari Analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


sebesar 80%, paling besar diantara yang lain

13 Serum Free Jumlah jaringan tulang dan jaringan ikat yang terbentuk lebih sedikit
Medium dibandingkan dengan dua kelompok lainnya
(SFM)

Normo MSC Jumlah jaringan tulang dan jaringan ikat yang terbentuk lebih
CM banyak dari kelompok SFM tetapi lebih sedikit dari HipoMSC CM

Hipo MSC Jumlah jaringan ikat yang terbentuk paling banyak dibandingkan dengan
CM dua kelompok lainnya.

7
Gambar 2 Contoh Perbandingan Histologi[8].
Contoh dari gambaran histologi yang ditampilkan dengan perwarnaan Alizarin Red.
Grup A merupakan grup kontrol terlihat gambaran histologi; tidak ada jaringan
granulasi yang terbentuk, tidak terlihat kalus atau permulaan proses regenerasi
tulang, proses regenerasi tulang tidak berjalan. Grup B Merupakan terapi PRP
tunggal terdapat gambaran aktifitas osteogonik yang baik ditunjukan
mendominasinya sel osteoblast di daerah korteks disertai dengan hadirnya jaringan
fibrous dan matriks kartilago. Grup C merupakan grup yang menggunakan
Autobonegraft tampak adanya soft callus yang terdiri dari sel sel kondrosit dan
fibroblast, hadir juga sel inflamasi yang menunjukan terjadinya proses regenerasi,
tetapi interaksi antara graft dan tulang sedikit terbentuk terlihat adanya jarak yang
lebar. Grup D adalah Grup yang menggunakan terapi kombinasi PRP dan Autobone
graft, Aktivitas Osteogenik terbaik ditunjukkan oleh kelompok ini, terlihat dari
tingginya aktifitas osteoblast dan terbentuksnya mineral matriks tulang Terbentuk

8
juga hard callus yang berhasil menyambung celah fraktur

III.B Perbandingan Outcome Radiologi

Dari 10 studi yang didapatkan, evaluasi gambaran radiologi terdiri dari 9 studi.(Tabel 3)
Evaluasi radiologi menggunakan berbagai metode antara lain dangan melihat secara langsung
terjadi atau tidak terjadinya union dan pemeriksaan lebih spesifik dengan mengukur densitas
tulang melalui Computed Tomography (CT) melalui berbagai software yang ada. Dari 9 studi
didapatkan gambaran positif dalam pemberian PRP tunggal ataupun PRP dikombinasikan dengan
faktor pertumbuhan lain terdiri dari 7 studi [8,10,11,12.13.15,16] 1 studi menunjukan tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam pengukuran densitas dalam pemberian PRP dan non PRP[9], 1
studi menunjukkan hasil berbeda dibandingkan yang lain yaitu hasil pemberian PRP lebih
rendah skor densitasnya dibanding dengan tidak diberi PRP [14]. Autobonegraft yang berasal
dari subjek penderita ternyata memiliki efek yang positif dibandingkan dengan Allobonegraft,
Autobonegraft yang digunakan bersama dengan PRP memiliki outcome yang lebih baik
dibandingkan dengan pemakaian PRP tunggal evaluasi berdasarkan score cheung et all,
sedangkan penggunaan Allograft bersama dengan PRP dibandingkan dengan penggunaan PRP
tunggal tidak memiliki perbedaan yang bermakna, hal ini terjadi karena alasan yang sudah
dibahas sebelumnya bahwa penggunaan material biologis lebih memiliki efek sinergis hal ini
terbukti dari penelitian-penelitian sebelumnya karena proses regenerasi tulang yang terbentuk
akan lebih baik dengan sedikitnya darah yang hilang dan kecilnya angka kejadian infeksi dan
nyeri8.

9
sebelumnya [9] yang menunjukan hasil kombinasi PRP dengan Allograft bone tidak
menunjukkan hasil yang positif, selain itu belum adanya panduan yang pasti dalam penyiapan
PRP kemungkinan konsentrasi PRP terlalu tinggi atau terlalu rendah, seperti yang sudah
disebutkan dalam penelitian yang lainnya [11] dosis yang terlalu rendah tidak dapat
menginduksi proses osteogenesis yang optimal, dosis yang terlalu tinggi dapat menghambat
osteogenesis dan menghambat aktivitas osteoblast, terlihat hasil optimal dari gambaran radiologi
menunjukan kelompok yang menggunakan dosis PRP sedang menunjukan gambaran radiologi
yang sempurna yang ditunjukan dengan gambaran radiologi celah fraktur telah terisi oleh kalus
(union), tidak terlihat gambaran gap atau celah fraktur. Dalam penelitian lain yang
membandingkan PRP dengan Bone Marrow Concentrate (BMC) menunjukan hasil PRP lebih
unggul dibandingkan dengan BMC dimana kelompok yang menggunakan PRP menunjukkan
gambar konsolidasi tulang baru, sedangkan kelompok yang menggunakan BMC gambaran
radiologinya tidak menunjukkan tulang baru, tidak optimalnya penggunaan BMC kemungkinan
disebabkan BMC membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses kondensasi tulang
dibandingkan PRP. Tidak selamanya kombinasi PRP dengan faktor pertumbuhan lainnya
memiliki efek sinergis dalam penelitian ini PRP yang dikombinasikan dengan DBM tidak
menunjukkan efek sinergis gambaran radiologi PRP dan DBM menunjukan masih ada celah
fraktur terbentuk sedangkan kelompok yang menggunakan PRP sebagai terapi tunggal
memperlihatkan hasil celah fraktur sudah tertutup sempurna dengan terbentuknya tulang baru.

Tabel 4. Outcome Evaluasi Radiologi

Ref Perbandingan Evaluasi Radiologi

8 Kontrol Waktu penyatuan tulang (bone union) yang sempurna terjadi pada
(PBS) minggu ke 3

CM Exo Waktu penyatuan tulang (bone union) yang sempurna terjadi pada
minggu ke 2 hari ke 4

CM Waktu penyatuan tulang (bone union) yang sempurna terjadi pada


minggu ke 2 hari ke 2

Exo Waktu penyatuan tulang (bone union) yang sempurna terjadi pada
minggu ke 2

10
11 PBS Masih terlihat gap (celah) ketika akhir waktu konsolidasi
(Kontrol)

Medium Masih terlihat gap (celah) ketika akhir waktu konsolidasi


(Eagle
Medium of
Alpha)

HFMSC-CM Gap (Celah) tidak terlihat lagi, kalus sudah terlihat jelas menutupi celah
fraktur ketika akhir waktu konsolidasi

13 Serum Free Dari pemeriksaan CT Scan pada hari ke 14 jaringan tulang baru yang
Medium terbentuk sebesar 5%, pada hari ke 28 jaringan tulang baru yang
(SFM) terbentuk sebesar 8%, pada hari ke 42 jaringan tulang baru terbentuk
sebesar 10%, pada hari ke 56 jaringan tulang baru terbentuk sebesar
35%.

Normo MSC Dari pemeriksaan CT Scan pada hari ke 14 jaringan tulang baru yang
CM terbentuk sebesar 8 %, pada hari ke 28 jaringan tulang baru yang
terbentuk sebesar 10 %, pada hari ke 42 jaringan tulang baru terbentuk
sebesar 25 %, pada hari ke 56 jaringan tulang baru terbentuk sebesar
28%.

Hipo MSC Dari pemeriksaan CT Scan pada hari ke 14 jaringan tulang baru yang
CM terbentuk sebesar 9 %, pada hari ke 28 jaringan tulang baru yang
terbentuk sebesar 14%, pada hari ke 42 jaringan tulang baru terbentuk
sebesar 28 %, pada hari ke 56 jaringan tulang baru terbentuk sebesar
36%.

11
Gambar 3. Contoh Perbandingan Outcome Radiologi [12] . (a) Grup control.
Tidak ada perubahan yang terlihat setelah dilakukan evaluasi Post operasi (b) Grup
yang menggunakan PRP. Celah fraktur telah ditutupi oleh tulang baru, ujung dari
korteks fraktur tidak terlihat lagi (c) Grup yang menggunakan PRP dan DBM. Terlihat
ada gambaran peningkatan radiodensitas, tapi hanya satu ujung korteks fraktur
saja yang terbentuk fraktur (d) Grup yang menggunakan DBM. Celah fraktur telah
tertupi dari sisi medial dan lateral dengan densitas yang seragam, tetapi ujung
salah satu fraktur masih terlihat, celah fraktur tidak tertutup sempurna.

III.C Perbandingan Analisis Invitro

Dari 10 studi yang didapatkan, hanya 4 kelompok yang mengevaluasi secara klinis,
umumnya penilaian berdasarkan skor yang sudah ditetapkan, parameter ini berupa penilaian
fungsional setelah operasi, penilaian skala nyeri (VAS), dan penilaian biomekanik. Dari penilaian
Post Surgical Functional Score [9] yang dilakukan 24 bulan dan 72 bulan post operasi digunakan
skor yang ditetapkan AOFAS (American Orthopaedic Foot and Angkle Society) yang dinilai
adalah derajat nyeri, aktifitas berjalan, sudut kaki dan engkel, ternyata outcomenya tidak ada
perbedaan yang bermakna antara grup yang memakai PRP kombinasi Bone Allograft dan yang
tidak memakai PRP, seperti yang sudah dibahas di atas PRP lebih sinergis kerjanya apabila
dipakai bersama dengan Autograft dibandingkan dengan Allograft. Penelitian yang lain berupa
penilaian derajat nyeri VAS (Visual Analog Scale) dan hasilnya menunjukan perbedaan yang
bermakna, kelompok yang menggunakan PRP merasakan angka kesakitan yang lebih rendah
dibanding kelompok kontrol[10] hal ini mungkin berkaitan dengan waktu penyembuhan
kelompok PRP terjadi lebih cepat dibandingkan terapi non PRP. Dua penelitian lainnya menilai
12
fungsi klinis dengan proses biomekanika dengan memberikan beban maksimal pada tulang yang
sudah mengalami union dan hasilnya menunjukkan perbedaan yang bermakna, kelompok yang
menggunakan PRP mencapai beban maksimal yang tertinggi.

Tabel 5 Analisis Invitro

Reff Perbandingan Analisis Invitro

9 Rat Bone
Marrow
MSC-CM

Human Bone
Marrow
MSC-CM

Human Fetal
MSC-CM

10 Media Dari analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


(DMEM) sebesar 30 %, paling kecil dibandingkan dengan angka yang lain

Fibroblas-CM Dari analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


sebesar 40 %

MSC-CM Dari Analisis histomorphometric didapatkan angka pembentukan kalus


sebesar 80%, paling besar diantara yang lain

11 Serum Free Jumlah jaringan tulang dan jaringan ikat yang terbentuk lebih sedikit
Medium dibandingkan dengan dua kelompok lainnya
(SFM)

Normo MSC Jumlah jaringan tulang dan jaringan ikat yang terbentuk lebih
CM banyak dari kelompok SFM tetapi lebih sedikit dari HipoMSC CM

Hipo MSC Jumlah jaringan ikat yang terbentuk paling banyak dibandingkan dengan
CM dua kelompok lainnya.

Diskusi

Kesimpulan
13
Sebagian besar penelitian yang dilakukan memiliku dampak yang positif ketika diberikan
PRP, Kombinasi PRP dengan Healing Promotive Agent lainnya memiliki efek yang sinergis
terutama Healing Promotive Agent yang berasal dari individu itu sendiri adapun yang tidak
memiliki dampak postif terhadap pemberian PRP kemungkinan akibat waktu observasi yang
terlalu singkat

Referensi
1. Wang HL, Avila G. Platelete Rich Plasma Myth or Reality. European Journal of Dentistry
[Serial online] 2007 Oct [Cited 29 July 2016] ; 1(1). Avaible From
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2609914/pdf/dent1_p192.pdf.

2. El-Sharkawy H, Kantarci A, Deady J, Haturk H, Liu H, Alshahat, et al. Platelet-Rich


plasma: growth factors and pro and anti-inflammatory properties. J Periodontal 2007;
78;661-669. Avaible From http://www.joponline.org/doi/pdf/10.1902/jop.2007.060302.

3. Lenza M, Ferraz SD, Viola MC, Fernando O, Neto CM, Ferreti M, Platelete Rich Plasma
for Long Bone Healing. Einstein J. 2013 Feb ; 11(1);122-7 Avaible From
http://www.scielo.br/pdf/eins/v11n1/en_a23v11n1.pdf.

4. Anitua E.Plasma rich in growth factors; preliminary results of use in the preparation of
future sites for implants. Int J Oral Mazillofac Implants 1999; 14:529-525 Avaible From
http://www.dentalxp.com/vendors/1/PRGF-%20Preliminary%20Results.pdf

5. Weibrich G, Kleis WK, Kunz-Kostomanolakis M, Loos AH, Wagner W. Correlation of


Platelet Concentration in Platele Rich Plasma to the extraction method, age, sex, and
platelet count of the donor. Int J Oral Maxillofac Implants 2001; 16:693-699 Avaible
From http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11669252.

6. Axelrad. Autologous Platelet Derived Wound Healing Factors for Treatment of : Non
Healing Cutaneus Wound Non Healing Fractures and The Associated GEM21STM
Device Platelet Rich Plasma Injections for The Treatment of Tendinopathy. Clinical
Review Criteria GroupHealth 2007. Avaible From https://provider.ghc.org/all-
sites/clinical/criteria/pdf/procuren.pdf.

14
7. Alsoussou J, Thompson M, Hulley P, Noble A, Willett K. The Biology of Platelete Rich
Plasma and its application in trauma and orthopaedic surgery. The Journal of Bone &
Joint Surgery. 2009 Aug ; 91(8) 987-995 Avaible From
http://www.institutoallende.com.ar/backend/UploadFiles/PdfClaseYAteneo/46.pdf

8. Kanthan S.R, Kavitha G, Addi S, Choon D.S. Platetelet Rich Plasma (PRP) enhances
bone healing in non united critical sized defects: A preliminary study involving rabbit
models. Injury International Journal. 2011 January ; 42 782-789. Avaible From
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0020138311000246

9. Wei Cheng L, Lei GH, Sheng PY, GAo GS, Xu Mai. Efficay of Platelet-Rich Plasma
Combined With Allograft Bone in the management of displaced Intra Articular Calcaneal
Fractures: A Prospective Cohort Study. Journal of Orthopaedic Research 2012 October 42
1570-1577. Avaible from http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/jor.22118/pdf

10. 10. Ghaffarpasand F, Shahrezai M, Dehghankhalili M. Effects of Platelet Rich Plasma on


Healing Rate of long bone non union fractures : A Randomized Double Blind Placebo
Controlled Clinical Trial. Bulletin of Emergency and Trauma, 2016 Juni 4(3) 134-140
Avaible from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4989039/pdf/bet-4-134.pdf

11. Chen L, Yang X, Song D, Ye XS. Platelet rich plasma promotes healing of osteoporotic
fractures Orthopedics Heallo.com Jurnal. 2013 June 6(36) 687-694 Avaible from
http://www.healio.com/orthopedics/journals/ortho/2013-6-36-6/%7Be5ca56ba-7e81-
4531-86e9-2dc207e9ab96%7D/platelet-rich-plasma-promotes-healing-of-osteoporotic-
fractures

12. Turhan E, Kemal M, Bayar A, Songur M, Keser S. The comparison of the effect of
platelet rich plasma and memineralized bone matrix on critical bone defects: an
experimental study on rats. Ulus Travma Aci Cerrahi Derg Journal. 2016 Avaible from
http://www.journalagent.com/travma/pdfs/UTD-68249-RESEARCH_ARTICLE-
TURHAN.pdf

13. Sarvestani SZ, Oryan A, Parizi MA, Sadegh BA. Histological, Biomechanical, and
Radiological Evaluation of Bone Repair with human platelet rich plasma in Rabbit Model

15
Zahedan Journal of research in Medical Sciences 2014 Januari 17(2) 1-6 Avaible from
http://www.journalagent.com/travma/pdfs/UTD-68249-RESEARCH_ARTICLE-
TURHAN.pdf

14. Joost C, Anita A, Daniel J. No Positive bone healing after using platelet rich plasma in a
skeletal defect. An Observational prospective cohort study International Orthopaedics
(SICOT) Journal. 2012 April 36 2113-2119 Avaible From
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3460096/pdf/264_2012_Article_1603.pd
f.

15. Penteado LM, Colombo DC, Penteado PM. Evaluation of bioactive glass and platelet-
rich plasma for bone healing in rabbit calvarial defect. Journal of Oral Science . 2013
July 55(3) 225-232. Avaible From
https://www.jstage.jst.go.jp/article/josnusd/55/3/55_225/_pdf.

16. Batista MA, Leivas PT, Rodrigues CJ, Guarniero R. Comparison between the effects of
platelet-rich plasma and bone marrow concentrate on defect consolidation in the rabbit
tibia. Journal of Clinics. 2011 March 66 (10) 1787-1794 Avaible from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3180168/pdf/cln-66-10-1787.pdf

17. Neves FC, Abib Vieira CS, Neves FR, Pirzchio K, Saad F. Effect of Hiperbaric oxygen
therapy combined with autologous platelet concentrate applied in rabbit fibula fraction
healing. Journal of clinics. 2013 April 68 (9) 1293-1246 Avaible
fromhttps://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3782723/pdf/cln-68-09-1239.pdf

16