Anda di halaman 1dari 9

PENENTUAN KONSENTRASI KALIUM DALAM URIN MENGGUNAKAN FLAME

ATOMIC EMISSION SPECTROSCOPY

Ayu Apriliani, 78 Putri Raraswati, 79 Ummi Habibah, 80 Anggia D. Amaliah, 82


Siti Nurrohmah,83 Ai Siti Rika,84 Nisa Maulani,85 Tiffany Sabilla,86 Nurmalia Saraswati87
Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor
Sumedang

ABSTRAK

Kalium adalah kation utama yang terdapat pada cairan intraseluler yang berfungsi sebagai buffer
utama bersama bikarbonat. Sekitar 80% - 90% kalium dikeluarkan dalam urin melalui ginjal.
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk menentukan kadar kalium dalam urin menggunakan
metode flame atomic emission spectroscopy. Prinsip dari metode ini yaitu eksitasi electron ke
tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan api pada logam-logam yang memerlukan energy
yang relative rendah untuk beremisi seperti logam golongan 1A. Energi yang dirilis (emisi)
sebanding dengan konsentrasi kalium dalam sampel. Dari hasil pengujian 9 sampel urin didapat
kadar kalium untuk masing-masing urin adalah 20.577 mmol/L, 7 mmol/L, 13.246 mmol/L,
22.615 mmol/L, 22.943 mmol/L, 10.782 mmol/L, 6.931 mmol/L, 13.392 mmol/L dan 9.595
mmol/L secara berurutan.

Kata kunci: kalium, urin, kadar, flame atomic emission spectroscopy

ABSTRACT

Potassium is the main cation that present in intracellular fluid that serves as the main buffer
with bicarbonate. About 80% - 90% of potassium is excreted in the urine through the kidneys.
The purpose of this research is to determine potassium levels in urine using atomic fire emission
spectroscopy method. The principle of this method is the excitation of electrons to a higher level
by using fire on metals that require relatively low energy for emissions such as metal group 1A.
The energy released (emissions) is proportional to the concentration of potassium in the sample.
From the test results of 9 urine samples obtained potassium levels for each urine were 20,577
mmol / L, 7 mmol / L, 13,246 mmol / L, 22,615 mmol / L, 22,943 mmol / l, 10,782 mmol / l, 6,931
mmol / L, 13392 mmol / L and 9,595 mmol / L respectively.
Key words: potassium, urine, concentration, flame atomic emission spectroscopy

PENDAHULUAN jam jam

Elektrolit merupakan senyawa di Normal 25-125 25-125

dalam larutan yang berdisosiasi menjadi dewasa mEq/24 mmol/24

partikel yang ionnya bermuatan positif atau jam jam

negatif. Ion bemuatan positif disebut kation


Atomic Emission Spectroscopy
dan ion bermuatan negatif disebut anion.
(AES) adalah metode pengukuran secara
Keseimbangan keduanya disebut sebagai
kuantitatif dari emisi optic suatu atom yang
elektronetralitas[1].
Kalium merupakan kation utama tereksitasi untuk diketahui konsentrasinya.

yang terdapat di dalam cairan intraseluler, Analit atom dalam larutan yang ditarik ke

(bersama bikarbonat) berfungsi sebagai wilayah eksitasi mengalami pelarutan

buffer utama. Lebih kurang 80% - 90% kembali, penguapan, dan atomisasi oleh api
[4]
kalium dikeluarkan dalam urin melalui .
Spektrofotometer emisi nyala
ginjal. Aktivitas mineralokortikoid dari
digunakan untuk pengukuran kadar natrium
adrenokortikosteroid juga mengatur
dan kalium. Penggunaan spektrofotometer
konsentrasi kalium dalam tubuh. Hanya
emisi nyala di laboratorium berlangsung
sekitar 10% dari total konsentrasi kalium di
tidak lama, selanjutnya penggunaannya
dalam tubuh berada di ekstraseluler dan 50
dikombinasi dengan elektrokimia untuk
mmoL berada dalam cairan intraseluler,
mempertahankan penggunaan dan keamanan
karena konsentrasi kalium dalam serum
prosedurnya [5].
darah sangat kecil maka tidak memadai Prinsip dari pemeriksaan
untuk mengukur kalium serum. Konsentrasi spektrofotometer emisi nyala adalah sampel
kalium dalam serum berkolerasi langsung diencerkan dengan cairan pengencer yang
dengan kondisi fisiologi pada konduksi berisi litium atau cesium, kemudian dihisap
saraf, fungsi otot, keseimbangan asam-basa dan dibakar pada nyala gas propan. Ion
[2]
dan kontraksi otot jantung . natrium, kalium, litium, atau sesium bila

Nilai kalium normal dalam urin [3]: mengalami pemanasan akan memancarkan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu
Normal 10-60 10-60
(natrium berwarna kuning dengan panjang
anak anak mEq/24 mmol/24
gelombang 589nm, kalium berwarna ungu
dengan panjang gelombang 768 nm, litium mrnggunakan air deionisasi sebelum sampel
671 nm, sesium 825 nm). Pancaran cahaya berikutnya diukur pada alat.
akibat pemanasan ion dipisahkan dengan
filter dan dibawa ke detektor sinar (Scott & Persiapan alat
Klutts, 2006). Flame photometry digunakan Flame fotometer diaktifkan distabilkan
untuk penentuan secara kualitatif dan ditunggu hingga 15 menit. Disiapkan air
kuantitatif dari beberapa kation, khususnya deionisasi dalam beaker glass untuk blanko.
logam yang mudah tereksitasi ke tingkat Masukkan air deionisasi dengan selang
energy yang lebih tinggi pada suhu api yang sampai stabil sekitar 30-90 detik. Tekan
relative rendah (misalnya Na, K, Rb, Cs, Ca, tombol nol untuk mengatur ke 0.00,
Ba, Cu). Perbandingan intensitas emisi dari kemudian diatur aspirasi standar tertinggi
sampel terhadap larutan standar digunakan (16 ppm) sampai pembacaan meter stabil.
sebagai analisis kuantitatif [6]. Gunakan tombol sensitivitas untuk mengatur
pembacaan meter.
METODE
Pembuatan dan pengukuran sampel
Alat
Kalibrasi tabung reaksi sebanyak 10 ml.
Beaker glass, botol semprot, Corning 400 Kemudian dimasukkan urin sebanyak 1 ml
Flame Photometer, gelas ukur, mikro pipet, dengan menggunakan mikro pipet dan
pipet, tabung reaksi, timbangan analitik. ditambahkan air deionisasi hingga tanda

Bahan batas 10 ml. Sampel diukur pada alat FES


dan diatur sensitivitasnya. Ulangi seluruh
Air deionisasi, KCl grade, urin
proses kalibrasi dengan mrnggunakan air
Pengukuran larutan baku deionisasi sebelum sampel berikutnya
Dibuat larutan standar dengan konsentrasi 4, diukur pada alat.
8, 16, 32, dan 64 ppm dengan volume akhir
10 ml yang diperoleh dari larutan stok 100
ppm. Larutan baku yang ada siap untuk
diukur dengan menggunakan alat FES.
Ulangi seluruh proses kalibrasi dengan
HASIL

Kurva Baku

Emisi
Konsentrasi Emisi
Standar
4 4 0.4
8 5 0.5
16 6 0.6
32 16 1.6
64 33 3.3

Tabel 1. Kurva baku

KURVA BAKU
3.5
3 f(x) = 0.05x + 0.04
2.5 R = 0.98
2
Axis Title 1.5
Linear ()
1
0.5
0
0 10 20 30 40 50 60 70

Axis Title

Intensitas Sampel

No sampel Intensitas sampel


Sampel 1 (078) 67
Sampel 2 (079) 10
Sampel 3 (080) 24,5
Sampel 4 (082) 91
Sampel 5 (083) 95
Sampel 6 (084) 16,5
Sampel 7 (085) 10
Sampel 8 (086) 24,5
Sampel 9 (087) 14,6

Tabel 2. Intensitas Sampel

Emisi = 24.5

Penentuan Kadar K Sampel

y = 0.0499x + 0.0417

R = 0.9847 y = 0.0499x + 0.0417

Sampel 1 24.5 = 0.0499x + 0.0417

Emisi = 67 24.50.0417
x= 0.0499 = 490.687 x fp x 0.1 =
y = 0.0499x + 0.0417
490.687 mikrogram/mL
67 = 0.0499x + 0.0417
Sampel 4
670.0417
x= 0.0499 = 1341.849 x fp x 0.1 = Emisi = 91

1341.849 mikrogram/mL y = 0.0499x + 0.0417

Sampel 2 91 = 0.0499x + 0.0417

Emisi = 10 910.0417
x= 0.0499 = 1823.352 x fp x 0.1 =
y = 0.0499x + 0.0417
1823.352 mikrogram/mL
10 = 0.0499x + 0.0417
Sampel 5
100.0417
x= 0.0499 = 199.565 x fp x 0.1 = Emisi = 95

199.565 mikrogram/mL y = 0.0499x + 0.0417

Sampel 3 95 = 0.0499x + 0.0417


950.0417
x= 0.0499 = 1901.971 x fp x 0.1 =
Sampel 8
1901.971 mikrogram/mL
Emisi = 24.5
Sampel 6
y = 0.0499x + 0.0417
Emisi = 16.5
24.5 = 0.0499x + 0.0417
y = 0.0499x + 0.0417
24.50.0417
16.5 = 0.0499x + 0.0417 x= 0.0499 = 490.687 x fp x 0.1 =

16.50.0417 490.687 mikrogram/mL


x= 0.0499 = 329.825 x fp x 1 =
Sampel 9
3298.25 mikrogram/mL
Emisi = 14.6
Sampel 7
y = 0.0499x + 0.0417
Emisi = 10
14.6 = 0.0499x + 0.0417
y = 0.0499x + 0.0417
14.60.0417
10 = 0.0499x + 0.0417 x= 0.0499 = 291.749 x fp x 0.1 =

100.0417 291.749 mikrogram/Ml


x= 0.0499 = 199.565 x fp x 0,1 =

199.565 mikrogram/mL

Kadar K sampel dalam mmol/L yaitu sebagai berikut:

Sam Em Fak Faktor C C


pel isi tor pengenc (mg/ (mmol/
Skal eran L) L)
a
1 67 0.1 10 1341. 34.4063
849 8462
2 10 0.1 10 199.5 5.11705
65 1282
3 24. 0.1 10 490.6 12.5817
5 87 1795
4 91 0.1 10 1823. 46.7526
352 1538
5 95 0.1 10 1901. 48.7638
791 7179
6 16. 1 10 3298. 84.5705
5 25 1282
7 10 0.1 10 199.5 5.11705
65 1282
8 24. 0.1 10 490.6 12.5817
5 87 1795
9 14. 0.1 10 291.7 7.48074
6 49 359

Tabel 3. Kadar K dalam sampel

PEMBAHASAN Nilai Kalium dalam sampel diuji


secara spektrometri menggunakan alat flame
Praktikum kali ini untuk mengetahui
atomic emission spectrometer. Prinsip dari
kandungan Kalium dalam sampel biologis
flame atomic emission spectrometer adalah
(urin). Pengukuran kadar kalium ini perlu
terjadinya eksitasi pada elektron dari suatu
dilakukan untuk memastikan bahwa urin
atom yang berada di orbital paling luar yang
yang terkandung di dalam sampel urin yang
semula berada di keadaan dasar menuju ke
diuji berada dalam nilai normal atau tidak
tingkat energi yang lebih tinggi. Hal ini
yang dapat menjadi salah satu indikasi
terjadi ketika suatu unsur ditempatkan dalam
bahwa terjadi proses keseimbangan atau
suatu sumber energi / sumber pengeksitasi.
ketidakseimbangan elektrolit di dalam
Pada saat tereksitasi ini, elektron menjadi
tubuh. Kalium merupakan mineral yang
tidak stabil sehingga electron akan berusaha
dibutuhkan oleh tubuh. Makanan yang
kembali ke tingkat energi dasar, ketika inilah
merupakan sumber kalium adalah daging
kelebihan energy yang dimiliki saat masih
sapi, daging ayam, dan ikan. Sayuran dan
dalam keadaan tereksitasi akan diemisi
buah juga merupakan sumber kalium seperti
berupa emisi sinar dengan panjang
brokoli, kacang polong, tomat, kentang,
gelombang yang khas untuk kalium.
jeruk, melon, pisang, dan kacang-kacangan.
intensitas emisi ini dipengaruhi oleh
Pada umumnya setiap orang membutuhkan
konsentrasi dari kalium dan dari sinilah
kalium 4700 mg per hari..
dapat dianalisis secara kuantitatif kadar
kalium yang terdeteksi. Namun pada metode barulah dilakukan running sampel yang
ini dapat diperoleh hasil yang kurang akurat telah dibuat encer sepuluh kalinya.
dikarenakan tidak semua atom yang
Dalam tahap ini, FES bekerja dengan
tereksitasi dapat berelaksasi bersamaan
prinsip terjadinya eksitasi di mana electron
menuju ke tingkat dasarnya.
di orbital paling luar atom dari suatu unsur
Pada praktikum ini, dilakukan yang smeula berada di keadaan dasar akan
penentuan konsentrasi kalium dalam urin terkesitasi ke tingkat energy yang lebih
menggunakan flame atomic emission tinggi. Karena keadaan ini merupakan
spectroscopy . Dalam proses penyiapan keadaan yang tidak stabil makan elekron
bahan, kalium dibuat larutan stok 100 ppm yang tereksitasi akan berusah untuk kembali
dan dilarutkan menggunakan aqua destilasi ek tingkat dasarnya.
deionisasi. Penggunaan aqua destilasi
Setelah running sampel selesai,
deionisasi adalah untuk menjaga agar
seluruh peralatan dibersihkan dengan air
larutan kalium tidak terkontaminasi oleh ion
suling deionisasi untuk mengeliminasi sisa
ion lain. Kemudian dibuat juga larutan
sisa ion yang terlekat pada peralatan kerja.
kalibrasi standar kalium dengan konsentrasi
4 ppm, 8 ppm, 16 ppm, 32 ppm, dan 64 Berdasarkan pengukuran yang telah

ppm. dilakukan, sembilan sampel urin diketahui


memiliki kandungan kalium seperti yang
Sebelum dilakukan pengujian,
tertera pada table 3 di atas. Berdasarkan nilai
peralatan yang digunakan dibilas dengan air
rujukan kadar kalium dalam urin yang
deionisasi untuk membilas dan
dikumpulkan secara acak (random
mengeliminasi ion-ion yang mungkin masih
sampling) tiga sampel menunjukkan nilai
terlekat pada peralatan kerja. Kemudian
kadar yang sangat kecil yakni 5.11 mmol/L,
dilakukan pemastian terhadap stabilitas
12.58 mmol/L 5.11 mmol/L, 12.58 mmol/L,
flame fotometer dengan mengaktifkan flame
dan 7.48 mmol/L. Nilai rujukan untuk kadar
tersebut selama lima belas menit. Sebelum
kalium sewaktu menurut CML Healtcare
running sampel urin, dilakukan pembuatan
pada tahun 2012 berada pada rentang 17
blanko terlebih dahulu dengan diletakkannya
sampai 80 mmol/L. Kadar kalium dapat
selang flame fotometer ke dalam air suling
bervariasi pada tiap individu bergantung
deionisasi pada gelas beker. Setelah itu
pada asupan kalium dan natrium. Ketika
kadar natrium tinggi, maka kadar kalium Philadelphia : Lippincott Williams
akan rendah, sebaliknya ketika kadar and Willkins.
natrium rendah maka kadar kalium tinggi. [4]
Brian M. Tissue. 1996. Atomic Emission
Hal ini karena dipengaruhi oleh kerja horon
Spectrocopy. Available online at
aldosterone yang mengatur resorpsi pada
http://elchem.kaist.ac.kr/vt/chem-
tubulus ginjal.
ed/spec/atomic/aes.html [Diakses
pada 20 Maret 2017]

[5]
KESIMPULAN Scott, M.G., LeGrys, V.A. & Klutts, J.,
2006. Electrochemistry and
Sembilan sampel yang diukur memiliki
Chemical Sensors and Electrolytes
kadar kalium urin sewaktu antara lain
and Blood Gases' In : Tietz Text
34.406 mmol/L, 5.117 mmol/L, 12.582
Book of Clinical Chemistry and
mmol/L, 46.752 mmol/L, 46.764 mmol/L,
Molecular Diagnostics, 4th Ed. Vol
84.57 mmol/L, 5.117 mmol/L, 12.582
1. Philadelphia: Elsevier Saunders
mmol/L dan 7.48 mmol/L secara berurutan.
In.

DAFTAR PUSTAKA
[6]
Amrutkar R. D., Thube A.E., Kulkarni
[1]
Rismawati, Y. & Ferwati, I., 2012. S.C. 2013. Determination of
Fisiologi dan Ganggua Sodium and Potassium Content
Keseimbangan Natrium, Kalium Present Water Sample Collected
dan Klorida serta Pemeriksaan from Girna and Godavari River By
Laboratorium. Jurnal Kesehatan Flamephotometry. Journal of
Andalas, 1, p.2. Pharmaceutical Science and
[2]
Kemenkes RI. 2011. Pedoman Interpretasi Bioscientific Research. Vol. 3 (105-

Data Klinik. Jakarta: Kemenkes 107).

RI.

[3]
Fischbich, FT., Dunning MB III, eds.
2009. Mannual of Laboratory and
Diagnostic Tests, 8th ed.