Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN INDIVIDU

MAKALAH SGD DAN ASUHAN KEPERAWATAN

SKENARIO 1 “OM

...

GEMPA

..

OM”

Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Disaster Managemen In Nursing

Disusun oleh :

FINDRA ALFYANTI NIM. 4002130077

LAPORAN INDIVIDU MAKALAH SGD DAN ASUHAN KEPERAWATAN SKENARIO 1 “OM ... GEMPA .. OM” Diajukan Untuk

PROGRAM STUDI STRATA 1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG

2016

  • A. Kasus

BAB I

PENDAHULUAN

“Om

...

gempa om”

..

Pada tanggal 13 januari 2016 pokul 03.00 WIB terjadi gempa di Sumatra

Utara yang tepatnya di Kota Padang dengan kekuatan 7,9 SR dan berpotensi tsunami.

Banyak korban yang tertimpa reruntuhan ada beberapa keluarga yang kehilangan

keluarganya diantaranya keluarganya Tn.A terdiri dari Tn. A 45 tahun, Ny.Y 40 tahun,

Nn.T 15 tahun, An. S 5 tahun dan bayi O 17 bulan. Pada saat ditemukan oleh tim

penolong Ny.Y dalam kondisi tidak sadarkan diri, Tn.A ditemukan dalam kondisi

sadar dan tertimpa reruntuhan tembok rumahnya di bagian kaki kanan sehingga tidak

bisa bergerak. An.S ditemukan dalam kondisi nadi tidak teraba dan nafas tidak ada.

Bayi O hanya menangis sementara itu Nn.T ditemukan dalam kondisi lecet-lecet

diseluruh tubuh dan berteriak histeris melihat kondisi anggota keluarganya dan masih

banyak lagi korban lain yang ditemukan disekitar area gempa bahkan disinyalir

korban mencapai ratus ribuan orang yang sudah menjadi musibah masal bahkan

kegawat daruratan masal.

  • B. Daftar Pertanyaan

    • 1. Bagaimana sistem triase dalam kasus tersebut ?

    • 2. Bagaimana sistem pengorganisasian dalam kasus tersebut ?

    • 3. Bagaimana sistem manajemen bencana masal ?

    • 4. Dukungan fasilitas apa saja yang harus ada di pada saat bencana dalam kasus tersebut ?

    • 5. Antisipasi apakah yang harus dilakukan untuk menghadapi bencana tsunami ?

    • 6. Bagaimana menurut kalian tentang tanggap darurat (response), rehabilitasi (recovery), rekontruksi (pembangunan kembali), pencegahan (prevention), mitigasi (mitigation), kesiapsiagaan (preparedness) ? berikan contoh pada kasus

tersebut !

Bagaimanakah

  • 7. cara

untuk

mengaplikasikan menejemen bencana pada

masyarakat?

  • A. Kasus

BAB II

PEMBAHASAN

“Om

...

gempa om”

..

Pada tanggal 13 januari 2016 pokul 03.00 WIB terjadi gempa di Sumatra Utara

yang tepatnya di Kota Padang dengan kekuatan 7,9 SR dan berpotensi tsunami.

Banyak korban yang tertimpa reruntuhan ada beberapa keluarga yang kehilangan

keluarganya diantaranya keluarganya Tn.A terdiri dari Tn. A 45 tahun, Ny.Y 40 tahun,

Nn.T 15 tahun, An. S 5 tahun dan bayi O 17 bulan. Pada saat ditemukan oleh tim

penolong Ny.Y dalam kondisi tidak sadarkan diri, Tn.A ditemukan dalam kondisi

sadar dan tertimpa reruntuhan tembok rumahnya di bagian kaki kanan sehingga tidak

bisa bergerak. An.S ditemukan dalam kondisi nadi tidak teraba dan nafas tidak ada.

Bayi O hanya menangis sementara itu Nn.T ditemukan dalam kondisi lecet-lecet

diseluruh tubuh dan berteriak histeris melihat kondisi anggota keluarganya dan masih

banyak lagi korban lain yang ditemukan disekitar area gempa bahkan disinyalir

korban mencapai ratus ribuan orang yang sudah menjadi musibah masal bahkan

kegawat daruratan masal.

  • B. Jawaban pertanyaan

    • 1. Bagaimana sistem triase dalam kasus tersebut ? Jawab :

      • a. Ny.Y merah karena terjadi pendarahan kepala

      • b. Tn.A kuning karena fraktur dan tertimpa reruntuhan

      • c. An.S hitam karena kondisi nadi tidak teraba dan nafas tidak ada

      • d. Bayi O hijau karena hanya menangis

      • e. Nn. T hijau karena kondisi lecet-lecet diseluruh tubuh dan teriak histeris

Sistem triase masal biasanya dilakukan dengan cara komando memberikan

arahan jika yang masih bisa berjalan berkumpul ditempat yang ditentukan.

Sesudah para korban berkumpul disitu bisa terlihat mana yang keadaannya parah

dan tidak terlalun parah setelah itu diberikan triase dengan memberikan warna

hitam, merah, kuning, dan hijau.

  • 2. Bagaimana sistem pengorganisasian dalam kasus tersebut ? Jawab : Dalam kasus termasuk ke dalam pengorganisasian provinsi. Karena kekuatan gempa 7,9 SR maka getaran gempa tersebut dapat merambat ke sekitar Kota Padang dan gempa tersebut memiliki potensi tsunami.

  • 3. Bagaimana sistem manajemen masal ? Jawab : Daerah bencana terdiri dari pencarian, penyelamatan, pertolongan pertama. Sedangkan, komando terdiri dari triase, stabilisasi, dan evakuasi. Untuk puskesmas di wilayah terdekat yang siap untuk menampung para korban. Jika tidak bisa menampung korban bisa di alihkan ke Rumah Sakit Kota/Kabupaten ataupun ke Rumah Sakit pusat.

  • 4. Dukungan fasilitas apa saja yang harus ada di pada saat bencana dalam kasus tersebut ? Jawab :

    • a. Pembuatan sanitasi seperti WC, air bersih

    • b. Tranportasi seperti ambulan

    • c. Tempat penampungan

    • d. Dapur umum

    • e. Sarana pendidikan

    • f. Pelayanan kesehatan seperti Rumahsakit lapangan

  • 5. Antisipasi apakah yang harus dilakukan untuk menghadapi bencana tsunami ? Jawab :

    • a. Adanya early warning seperti sirine sebagai peringatan dini

    • b. Evakuasi masyarakat dengan memasang jalur evakuasi seperti rambu-rambu orang berlari, rambu-rambu titik kumpul

  • 6. Bagaimana menurut kalian tentang tanggap darurat (response), rehabilitasi (recovery), rekontruksi (pembangunan kembali), pencegahan (prevention), mitigasi (mitigation), kesiapsiagaan (preparedness) ? berikan contoh pada kasus tersebut !

  • Jawab :

    a.

    Tanggap bencana

    : evakuasi dan penyelamatan

    b.

    Pemulihan

    : melakukan rehabilitasi dan pengobatan

    c.

    Rekontruksi

    : membangun kembali apa yang mereka butuhkan

    d.

    Pencegahan

    : membuat hazard mapping daerah yang rawan bencana

     

    Dilakukan pelatihan manajemen bencana

    e.

    Kesiapsiagaan

    : memasang sirine untuk peringatan dini

    • 7. Bagaimanakah cara untuk mengaplikasikan menejemen bencana pada

    masyarakat?

     

    Jawab :

    a.

    Memberikan

    penyuluhan

    dengan

    memberikan video, mengundang ketua/

    tokoh atau orang yang berpengaruh, mendatangkan BPBD, mendatangkan

    narasumber yang pernah mengalami bencana

    b.

    Memberikan simulasi seperti bagaimana bagunan yang baik dan tahan gempa,

    saat lari harus berlari kemana, saat bencana kesiapsiagaan harus tau

    bagaimana cara evakuasi untuk menolong teman atau korban yang lain.

    • C. Learning Objective

      • 1. Bagaimana sistem pengorganisasian dalam kasus tersebut ?

      • 2. Bagaimana sistem manajemen bencana masal ?

    • D. Independen study

      • 1. Bagaimana sistem pengorganisasian dalam kasus tersebut ?

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi

    Kepala BPBD Sekertaris Daerah

    Unsur Pengarah Penaggulangan B

     

    Unsur Pelaksana Penanggulangan B

     

    Unit kesehatan sesuai SK Kepala

    Dinas Kesehatan

    Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis

    Kesehatan Akibat Bencana (Mengacu pada Standar Internasional),

    krisis/buku_pedoman_teknis_pkk_ab.pdf, diakses pada tanggal 11 Januari 2017.

    • 2. Bagaimana sistem manajemen bencana masal ? Penatalaksanaan di Lapangan

    Penatalaksanaan lapangan meliputi prosedur-prosedur yang digunakan untuk

    mengelola daerah bencana dengan tujuan memfasilitasi penatalaksanaan korban.

    1)

    Proses Penyiagaan

    Proses penyiagaan merupakan bagian dari aktivitas yang bertujuan untuk

    melakukan mobilisasi sumber daya secara efisien. Proses ini mencakup

    peringatan awal, penilaian situasi, dan penyebaran pesan siaga. Proses ini

    bertujuan untuk memastikan tanda bahaya, mengevaluasi besarnya

    masalah dan memastikan bahwa sumber daya yang ada memperoleh

    informasi dan dimobilisasi.

    • a) Penilaian Awal

     

    Di

    dalam

    penilaian

    awal

    dilakukan

    serangkaian

    aktivitas

    yang

    bertujuan untuk mengidentifikasi:

    (1) Lokasi kejadian secara tepat

    (2) Waktu terjadinya bencana

    (3) Tipe bencana yang terjadi

    (4) Perkiraan jumlah korban

    (5) Risiko potensial tambahan

    (6) Populasi yang terpapar oleh bencana.

    • b) Pelaporan ke Tingkat Pusat Penilaian awal yang dilakukan harus segera dilaporkan ke pusat komunikasi sebelum melakukan aktivitas lain di lokasi kecelakaan.

    • c) Penyebaran Informasi Pesan Siaga Segera setelah pesan diterima, pusat komunikasi akan mengeluarkan pesan siaga, memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan dan menyebarkan informasi kepada tim atau institusi dengan keahlian khusus dalam penanggulangan bencana massal.

    • a. Identifikasi Awal Lokasi Bencana Tugas kedua tim penilai awal adalah untuk mengidentifikasi lokasi penanggulangan bencana. Hal ini mencakup:

    1)

    Daerah pusat bencana

    2)

    Lokasi pos komando

    3)

    Lokasi pos pelayanan medis lanjutan

    4)

    Lokasi evakuasi

    5)

    Lokasi VIP dan media massa

    6)

    Akses jalan ke lokasi.

    • b. Tindakan Keselamatan Langkah-langkah penyelamatan yang dilakukan, antara lain:

    1) Aksi langsung yang dilakukan untuk mengurangi risiko seperti dengan

    memadamkan kebakaran, isolasi material berbahaya, penggunaan pakaian

    pelindung, dan evakuasi masyarakat yang terpapar oleh bencana.

    • a) Daerah pusat bencana—terbatas hanya untuk tim penolong profesional yang dilengkapi dengan peralatan memadai.

    • b) Area sekunder—hanya diperuntukkan bagi petugas yang ditugaskan untuk operasi penyelamatan korban, perawatan, komando dan kontrol, komunikasi, keamanan/keselamatan, pos komando, pos medis lanjutan, pusat evakuasi dan tempat parkir bagi kendaraan yang dipergunakan untuk evakuasi dan keperluan teknis.

    • c) Area tersier—media massa diijinkan untuk berada diarea ini, area juga berfungsi sebagai “penahan” untuk mencegah masyarakat memasuki daerah berbahaya. Luas dan bentuk area larangan ini bergantung pada jenis bencana yang terjadi (gas beracun, material berbahaya, kebakaran, kemungkinan terjadinya ledakan), arah angin dan topografi.

    • c. Langkah Pengamanan Langkah penyelamatan ini memengaruhi penyelamatan dengan cara:

    1)

    Melindungi tim penolong dari campur tangan pihak luar.

    2) Mencegah terjadinya kemacetan dalam alur evakuasi korban dan

     

    mobilisasi sumber daya.

    3)

    Melindungi masyarakat dari kemungkinan risiko terpapar oleh kecelakaan

    yang terjadi.

    Faktor keamanan ini dilaksanakan oleh Kepolisian, unit khusus (Angkatan

    Bersenjata), petugas keamanan sipil, petugas keamanan bandar udara, petugas

    keamanan Rumah Sakit, dan lain-lain.

    • d. Pos Komando Kriteria utama bagi efektifnya Pos Komando adalah tersedianya sistem komunikasi radio. Sistem ini dapat bervariasi antara peralatan yang sederhana seperti radiokomunikasi di mobil polisi hingga yang kompleks pos komando bergerak khusus, bertempat di tenda hingga yang ditempatkan dalam bangunan permanen.

    • e. Pencarian dan Penyelamatan Kegiatan pencarian dan penyelamatan terutama dilakukan oleh Tim Rescue (Basarnas, Basarda) dan dapat berasal dari tenaga suka rela bila dibutuhkan.

    Tim ini akan:

     

    1)

    Melokalisasi korban.

    2) Memindahkan korban

    dari

    daerah

    berbahaya

    ke

    tempat

     

    pengumpulan/penampungan jika diperlukan.

     

    3)

    Memeriksa status kesehatan korban (triase di tempat kejadian).

     

    4)

    Memberi pertolongan pertama jika diperlukan.

     

    Perawatan dilapangan

    • a. Triase

    • b. Pertolongan pertama Pertolongan pertama dapat diberikan di lokasi seperti berikut:

    1)

    Lokasi bencana, sebelum korban dipindahkan.

    2)

    Tempat penampungan sementara

    3)

    Pada “tempat hijau” dari pos medis lanjutan

    4)

    Dalam ambulans saat korban dipindahkan k

    e fasilitas kesehatan.

    • c. Pos Medis Lanjutan

    Pos medis lanjutan didirikan sebagai upaya untuk menurunkan jumlah

    kematian dengan memberikan perawatan efektif (stabilisasi) terhadap korban

    secepat mungkin. Upaya stabilisasi korban mencakup intubasi, trakeostomi,

    pemasangan drain thoraks, pemasangan ventilator, penatalaksanaan syok

    secara medikamentosa analgesia, pemberian infus, fasiotomi, imobilisasi

    fraktur, pembalutan luka, pencucian luka bakar. Fungsi pos medis lanjutan ini

    dapat disingkat menjadi “Three ‘T’ rule” (Tag, Treat, Transfer) atau hukum

    tiga (label, rawat, evakuasi).

    • d. Pos Penatalaksanaan Evakuasi Pos penatalaksanaan evakuasi ini berfungsi untuk:

    1)

    Mengumpulkan korban dari berbagai pos medis lanjutan

    2)

    Melakukan pemeriksaan ulang terhadap para korban

    3)

    Meneruskan/memperbaiki upaya stabilisasi korban

    4)

    Memberangkatkan korban ke fasilitas kesehatan tujuan

    Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan

    Akibat Bencana

    (Mengacu

    pada

    Standar Internasional),

    krisis/buku_pedoman_teknis_pkk_ab.pdf, diakses pada tanggal 11 Januari 2017.

    ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

    • A. Pasien Dengan Triase Merah
      1.

    Pengkajian

     

    a.

    Identitas Pasien

    Nama : Ny.Y

    Usia : 40 Tahun

     

    Alamat : Padang, Sumatera Utara

    b.

    Status Kesehatan:

     

    -

    Keluhan Utama : Tidak Terkaji

    -

    Riwayat Kesehatan Sekarang : Pada saat dilakukan pengkajian oleh

     

    perawat Findra didapatkan data dari evakuasi bencana gempa bumi oleh

    tim penolong pada tanggal 13 Januari 2016, korban ditemukan dalam

    kondisi tidak sadarkan diri, tertimpa reruntuhan dan terjadi pendarahan

    hebat di area kepala.

     

    -

    Riwayat kesehatan dahulu : Tidak Terkaji

    -

    Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak Terkaji

    c.

    Keadaan Umum :

     

    -

    Kesadaran : Pasien tidak sadarkan diri

    -

    TTV : tidak terkaji

    -

    Pemeriksaan Fisik : Terdapat pendarahan di kepala

    • 2. Analisa data

    No

    Data

    Etiologi

    Problem

    1

    Ds : -

    Cedera kepala

    Kekurangan volume

    Do :

    cairan

    • - Terjadi perdarahan

    Fraktur tulang tengkorak

    hebat.

    • - Korban tidak

    luka terbuka

    sadarkan diri.

    Perdarahan hebat

    Hypovolemia

    Kekurangan volume cairan

    • 3. Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan aktif akibat perdarahan hebat pada cedera kepala.

    • 4. Intervensi Keperawatan

    N

    Diagnosa

    Tujuan

    Intervensi

    Rasional

    o

    1

    Kekurangan

    Tupan: volume

    1.

    Pantau warna,

    • 1. Untuk

    volume cairan

    cairan terpenuhi

    jumlah dan

    mengetahui jenis

    b.d kehilangan

    dengan baik.

    frekuensi

    cairan dan

    volume cairan

    Tupen:

    kehilangan cairan.

    seberapa banyak

    aktif akibat

    Setelah dilakukan

     

    klien kehilangan

    perdarahan

    tindakan

    2.

    Pantau status

    cairan.

    hebat pada

    keperawatan selama

    hidrasi

    • 2. Untuk

    cedera kepala.

    3 x 24 jam volume

    (kelembapan

    mengetahui

    cairan kembali

    membrane mukosa,

    keseinbangan

    seimbang dengan

    kekuatan nadi,

    cairan dalam

     

    tubuh klien.

    kriteria hasil :

    • - Observasi

    Pasien sadar

    tekanan darah).

    3.

    • 3. Untuk

    (Composmentis).

     

    khususnya terhadap

    mengetahui

    • - Hidrasi cukup.

    kehilangan cairan

    seberapa banyak

    • - Perdarahan dapat terhenti.

    yang tinggi

    elektrolit (drainase

    cairan yang

    keluar saat

    luka).

    terjadi perlukaan.

    • 4. Untuk

    4.

    Pantau perdarahan.

     

    mengetahui

    seberaapa

    banyak darah

    yang keluar

    akibat trauma.

    • 5. Agar kebutuhan

    5.

    Kolaborasi dengan

    darah dan cairan

    tim medis lain

    klien terpenuhi

    dalam pemberian

    dengan baik.

    produk transfuse

    darah dan terapi IV.

    • 5. Implementasi Keperawatan dan Evaluasi

    No

    Diagnosa

    Implementasi

    Evaluasi

    Paraf

    1

    Kekurangan volume

    • 1. Memantau warna,

    evaluasi pada pukul 20.00

    Findra

    cairan

    b.d

    jumlah dan frekuensi

    WIB

    tanggal

    16 Januari

    kehilangan

    volume

    kehilangan cairan.

    2016.

    cairan

    aktif

    akibat

    • 2. Memantau status hidrasi

    S

    : klien mengatakan

     

    perdarahan hebat

    (kelembapan membrane

    kondisinya sudah lebih

     

    pada edera kepala.

    mukosa, kekuatan nadi,

    baik.

    tekanan darah).

    O :

    • 3. Memgobservasi

    • - Pasien mulai sadar

    khususnya terhadap

    • - terjadi

    Tidak

    kehilangan cairan yang

    pendarahan

    tinggi elektrolit

    • - Hidrasi cukup

    (drainase luka).

    A : masalah keperawatan

    • 4. Memantau perdarahan.

    kekurangan volume cairan

    • 5. Berkolaborasi dengan

    sudah teratasi.

    tim medis lain dalam

    P : hentikan intervensi.

    pemberian produk

    transfuse darah dan

    terapi IV.

    • B. Pasien Triase Kuning 1. Pengkajian

      • a. Identitas Pasien Nama : Tn.A Usia : 45 Tahun Alamat : Padang, Sumatera Utara

      • b. Status Kesehatan:

        • - Keluhan Utama : Tidak Terkaji

        • - Riwayat Kesehatan Sekarang : Pada saat dilakukan pengkajian oleh perawat Findra didapatkan data dari evakuasi bencana gempa bumi oleh tim penolong, pada 13 Januari 2016, klien ditemukan dalam keadaan sadar dan sedang tertimpa reruntuhan tembok rumahnya sehingga bagian kaki kanan tidak bisa bergerak.

        • - Riwayat kesehatan dahulu : Tidak Terkaji

        • - Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak Terkaji

  • c. Keadaan Umum :

    • - Kesadaran : Composmentis

    • - TTV : tidak terkaji

    • - Pemeriksaan Fisik : Kaki bagian kanan tidak bisa bergerak

  • d. Analisa Data

  • No

    Data

    Etiologi

    Masalah

    1

    Ds :

    Tertimpa Reruntuhan

    Tertimpa Reruntuhan

    Hambatan

    -

    Tidak terkaji

    Mobilitas Fisik

     

    Do :

    Diskontinuitas Jaringan

    Diskontinuitas Jaringan
     

    -

    Kaki kanannya

    Kerusakan Jaringan

    tidak dapat

    Tulang

    digerakkan karena

    Cedera Vaskuler

    Cedera Vaskuler

    tertimpa

    reruntuhan.

    Kerusakan Rangka

    Kerusakan Rangka
     

    Neuromuskular

    Hambatan Mobilitas

    Fisik

    • 2. Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik

    • 3. Diagnosa Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik b.d Cedera Muskuloskeletal

    • 4. Intervensi Keperawatan

    N

    Diagnosa

     

    Tujuan

    Intervensi

    Rasional

    o

     

    1

    Hambatan

    Tupan

    :

    Mobilitas

    • 1. Fasilitasi

    • 1. Agar klien

    Mobilitas

    Fisik

    Fisik Baik

    penggunaan postur

    terbantu dalam

    b.d

    Cedera

    Tupen

    :

    Setelah

    dan pergerakan

    beraktivitas

    Muskuloskeletal

    dilakukan

    tindakan

    dalam aktivitas

    sehari-hari.

    keperawatan selama

    sehari-hari untuk

    3 x 24 jam mobilitas

    mencegah

    fisik

    membaik

    keletihan dan

    dengan

    hasil :

    kriteria

    ketegangan atau

    cedera

    • 2. Agar otot klien tidak kaku saat

    -

    Pasien dapat

    musculoskeletal

    menggerakkan

    • 2. Fasilitasi pelatihan

    bergerak.

    kaki kanannya

    otot resistif secara

    rutin untuk

    mempertahankan

    • 3. Untuk

    atau meningkatkan

    meningkatkan

    kekuatan otot.

    dan membantu

    • 3. berjalan dan

    Tingkatkan dan

         

    bantu dalam

    berpindah

    berjalan untuk

    memperthahankan

    • 4. Untuk

    atau

    mempertahankan

    mengembalikan

    atau

    fungsi tubuh.

    meningkatkan

    • 4. Bantu individu

    kekuatan dan

    untuk mengubah

    ketahanan otot.

    posisi tubuh

    • 5. Untuk

    mempercepat

    proses pemulihan

    • 5. Gunakan aktivitas

    keadaan klien

    dan gerakan

    tertentu untuk

    mempertahankan

    dan

    mengembalikan

    fleksibilitas sendi.

    • 1. Implementasi Keperawatan & Evaluasi

    No

    Diagnosa

    Implementasi

    Evaluasi

    Paraf

    1

    Hambatan

    • 1. Memfasilitasi

    Evaluasi pada pukul

    Findra

    Mobiltas Fisik b.d

    penggunaan postur

    20.00 pada tanggal 16

    Cidera

    dan pergerakan

    Januari 2016

     

    Muskuloskeletal

    dalam aktivitas

    S:

    Pasien

    mengatakan

    sehari-hari untuk

    kakinya sudah bisa

    mencegah keletihan

    digerakkan meski

    dan ketegangan atau

    menggunakan alat bantu

    cedera

    dan bantuan orang lain

    O : Kaki kanan pasien

    muskuloskeletal

    • 2. Memfasilitasi

    sudah bisa digerakkan

    A: Masalah hambatan

    pelatihan otot

    mobilitas fisik teratasi

    resistif secara rutin

    keseluruhan

     

    untuk

    P: Intervensi dihentikan

       

    mempertahankan

       

    atau meningkatkan

    kekuatan otot.

    • 3. Meningkatkan

    dan

    bantu

    dalam

    berjalan

    untuk

    memperthahankan

    atau

    mengembalikan

    fungsi tubuh.

    • 4. Membantu individu

    untuk mengubah

    posisi tubuh

    Gunakan

    aktivitas

    dan gerakan tertentu

    untuk

    mempertahankan

    dan mengembalikan

    fleksibilitas sendi.

    • C. Pasien Triase Hijau 1. Pengkajian

      • a. Identitas Pasien Nama : Nn.A Usia : 15 Tahun Alamat : Padang, Sumatera Utara

      • b. Status Kesehatan:

        • - Keluhan Utama : Tidak Terkaji

        • - Riwayat Kesehatan Sekarang : Pada saat dilakukan pengkajian oleh perawat Findra didapatkan data dari evakuasi bencana gempa bumi di Padang, Sumatera Utara oleh tim penolong, pada 13 Januari 2016, korban ditemukan dalam kondisi sadarkan diri, lecet-lecet diseluruh bagian tubuh dan berteriak histeris melihat anggota keluarganya.

        • - Riwayat kesehatan dahulu : Tidak Terkaji

        • - Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak Terkaji

  • c. Keadaan Umum :

    • - Kesadaran : Composmentis

    • - TTV : tidak terkaji

    • - Pemeriksaan Fisik : Lecet-lecet diseluruh bagian tubuh

    • d. Analisa Data

    No

    Data

    Etiologi

    Masalah

    1

    Ds :

    Tertimpa Reruntuhan

    Kerusakan

    • - Tidak terkaji

    - Tidak terkaji Integritas Kulit

    Integritas Kulit

    Diskontinuitas Jaringan

    Do :

    • - Lecet-lecet

    Kerusakan Jaringan

    Kerusakan Jaringan

     

    diseluruh bagian

    kulit

    tubuh

    perubahan Perfusi

    Jaringan

    Jaringan

    Kerusakan Integritas

    Kulit

    2.

    Masalah Keperawatan

     

    Kerusakan Integritas Kulit

    3.

    Diagnosa Keperawatan

    Kerusakan Integritas Kulit b.d Faktor Mekanik ( Terkena reruntuhan )

     

    4.

    Intervensi Keperawatan

     

    N

    Diagnosa

    Tujuan

    Intervensi

    Rasional

    o

    1

    Kerusakan

    Tupan

    :

    Integritas

    • 1. Agar luka tidak

    Bersihkan dan

    1.

    Integritas

    Kulit

    Kulit membaik

    pantau serta

    bertambah parah

    b.d

    Mekanik

    (

    Faktor

    Terkena

    Tupen

    dilakukan

    :

    Setelah

    tindakan

    tingkatkan proses

    penyembuhan luka

    • 2. Agar luka tidak

    Minimalkan

    menjadi infeksi

    2.

    reruntuhan )

    keperawatan selama

    3 x 24 jam Integritas

    penekanan pada

    daerah tubuh

    bertambah parah

    Kulit

    membaik

    • 3. Cegah komplikasi

    3.

    Agar pasien

    dengan

    kriteria

    luka dan tingkatkan

    tidak mengalami

    hasil :

    penyembuhan luka.

    komplikasi lain

    -

    Tidak ada luka

    lecet di tubuh

    pasien

     

    No

    Diagnosa

    Implementasi

     

    Evaluasi

    Paraf

    1

    Kerusakan

    • 1. Membersihkan

    Evaluas pada pukul

    Findra

    Integritas Kulit

    dan

    pantau

    serta

    20.00 pada tanggal 16

    b.d

    Faktor

    tingkatkan

    proses

    Januari 2017

     

    Mekanik

    penyembuhan luka

    S : Pasien mengatakan

    ( Terkena reruntuh

    • 2. Meminimalkan

    bahwa luka lecetnya

    )

     

    penekanan

    pada

    sudah membaik

    daerah tubuh

    O

    : Luka

    Lecet sudah

     
    • 3. Mencegah

    mengering dan tidak

    komplikasi

    luka

    terjadi komplikasi

    dan

    tingkatkan

    pada luka pasien

    penyembuhan luka

    A:

    Masalah

    Keperawatan

    kerusakan Integrits

    Kulit teratasi

     

    P : Intrvensi dihentikan