Anda di halaman 1dari 3

BAB 5

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Sebelum merencanakan dilakukan survey lapangan terlebih dahulu untuk melakukan
pendataan material yang digunakan. Dalam perencanaan pemilihan tiang yang
digunakan perlu diperhatikan beberapa hal penting dalam pemilihannya seperti jenis
tiang berupa tiang beton yang ukurannya disesuaikan dengan beban kerja mekanis
yang akan diterima tiang tersebut serta ketinggian tiang yang digunakan disesuaikan
dengan keadaan di lapangan terkait dengan jarak aman, kontruksi yang digunakan
sesuai dengan kegunaan tiang tersebut apakah menjadi tiang
awal/sudut/penegang/tiang akhir, penomoran tiang disesuaikan dimana penomoran
pada tiang diawali dengan 3 digit nama gardu induk yang tersambung dengan diikuti
nomor penyulang dilanjutkan dengan nomor urut tiang dan percabangan tiang yang
diikuti arah dan nomor percabangan. Sedangkan dalam perencanaan pemilihan
saluran udara yang digunakan perlu diperhatikan adalah menggunakan penghantar
AAAC (All Aluminium Alloy Conductor) yaitu jenis kabel dengan inti penghantar
dari aluminium campuran dengan standar mutu yang telah ditetapkan pada tabel 3.3.
Selain itu penggunaan penghantar juga perlu diperhatikan kekuatan mekanis dan
listriknya. Kekuatan listriknya (KHA) yang ditentukan dari luas penampangnya
tentunya harus mencukupi jumlah beban yang disuplai dengan memperhatikan
kemungkinan pertambahan beban dan besarnya losses yang terjadi.
2. Dalam perencanaan andongan yang dilakukan, untuk mempertimbangkan panjang
andongan digunakan metode panjang gawang (span) dimana panjang gawang (span)
dalam kota maksimum 40 m, luar kota maksimum 50 m, dan listrik desa maksimum
60 m. Pada rancang bangun jaringan tegangan menengah yang dibuat, panjang
gawang (span) kecil atau kurang dari standar jarak gawang rata-rata dikarenakan
terbatasnya ketersediaan lahan yang ada sehingga diperlukannya perhitungan dengan
rumus untuk menentukan panjang andonganRumus dasar dari metode panjang
gawang (span) yaitu:
2
= 0,3 ( )
40
Dimana S adalah panjang andongan (sag) jaringan, dalam satuan meter, dan L
adalah panjang gawang (span) kedua tiang, dalam satuan meter. Setelah menentukan
andongan jarak aman dapat ditentukan dengan pengamatan visual. Jika jarak aman
tidak sesuai dengan yang tercantum pada Tabel 2.18 dapat dilakukan perabasan pada
pohon, karena faktor yang banyak menyebabkan tidak tercapainya jarak aman adalah
gangguan dari pohon.
3. Material yang dibutuhkan dalam pemasangan tiang dan saluran udara pada jaringan
tegangan menengah adalah tiang beton C11 ukuran 200 dan dan 350 dan, penghantar
AAAC 35 mm2, Kabel LVTC 70 mm2, spool insulator ansi 53-4, cross arm steel
1.500 mm dan 2000 mm (UNP 10) galvanis, steel brace 550 mm2, pole band double
rack 7 atau 7 , bolt double arming 5/8 x 14, oval eye nut 5/8, lock nut, bolt
machine/bolt carriage x , washer square 2 , shackle anchor 5/8, loop
dead end clamp/LC 35 mm2, terminal lug, tie wire, schoen cable, primary dead end
clamp 70 mm2, guy attachment, anchor rod, anchor expanding, bare copper
conductor, joint sleeve, AL-CU. Selain material tadi juga ada material lain seperti
isolator, trafo, disconnecting switch, PHB TR, lightning arrester, dan FCO.
4. Sebelum memasang tiang dan saluran udara jaringan tegangan menengah dilakukan
penggalian lubang tiang dan angkur pada titik-titik lokasi yang telah ditentukan
kemudian dilanjutkan penanaman tiang tiang dengan bantuan kaki 2 (dua) dan katrol
yang sebelumnya diangkut dengan roda 2 (dua) serta penanaman angkur. Setelah
tiang berdiri dilakukan pemasangan kontruksi tiang beserta komponen-
komponennya sesuai dengan fungsi dari tiang tersebut sebgai tiang
awal/sudut/penegang/akhir. Dilanjutkan dengan pemasangan guy wire untuk
menahan tiang agar tetap lurus terhadap tanah. Lalu, dilakukan perabasan terhadap
pohon untuk mendapatkan jarak aman yang ideal. Setelah jarak aman didapat
dilakukan penarikan penghantar dan pengaturan andongan sesuai dengan ketentuan.
Pentanahan penghantar netral dibumikan pada setiap tiang karena sistem distribusi
Jawa Tengah menggunakan sistem multi grounded common netral. Jika semua
penghantar sudah terpasang dilakukan pemasangan trafo dengan sistem proteksinya
beserta kabel jumper ke komponen proteksi dan trafo tersebut. Langkah terakhir
adalah pemasangan PHB TR beserta jumper ke sisi sekunder trafo.
5. Pengaturan andongan dapat dilakukan setelah perabasan selesai diilakukan.
Sebelumnya dilakukan pengukuran penghantar terlebih dahulu dengan metode
merentangkan penghantar sepanjang jarak gawang dengan melebihkan panjang
penghantar dari panjang gawang sebagai pembentuk andongan dan sambungan
penghantar/jumper. Setelah itu penghantar dijepitkan pada strain clamp pada isolator
tarik dan selanjutnya penghantar dijepitkan dengan strain clamp pada isolator tarik
tiang selanjutnya. Kemudian andongan dapat diatur dengan come along yang
sebelumnya penghantar tersebut telah dijepit dengan hoist. Pengaturan andongan
dilakukan dengan metode visual dimana jika dirasa penghantar sudah tidak terlalu
tegang atau kendor maka andongan dirasa cukup. Ruang bebas dan jarak aman
diatur sesuai dengan Tabel 2.18. Jika jarak aman dan ruang bebas tidak tercapai
dapat dilakukan perabasan pada pohon, karena faktor yang banyak menyebabkan
tidak tercapainya jarak aman adalah gangguan dari pohon.

5.2 Saran
1. Dalam Perencanaan dan Pemasangan Tiang Dan Saluran Udara Pada Jaringan
Tegangan Menengah (JTM) Sebagai Media Praktik Outdoor JTM Politeknik Negeri
Semarang seharusnya penulis selalu mengacu dan menggunakan material bahan
yang telah ditentukan pada standar SPLN.
2. Mengingat kegiatan pemasangan tiang dan saluran udara jaringan tegangan
menengah memliki resiko kerja yang tinggi, hendaknya pihak Institusi memberikan
pengarahan terlebih dahulu kepada mahasiswa agar selama proses pekerjaan berjalan
dengan lancar dan selamat.
3. Dalam kegiatan pengerjaan, baik petugas pelaksana maupun pengawas lapangan
sekiranya selalu mengacu pada SOP dan prosedur yang berlaku agar kegiatan
berjalan dengan aman dan lancar.
4. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja sangatlah penting di dunia
pekerjaan, terlebih pada saat bekerja di lapangan. Oleh karena itu, peralatan K3 dan
P3K harus selalu tersedia saat bekerja.