Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab
(banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis
atau "deteriorating = memburuk") yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar
(inappropiate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear
consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun
kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara
bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten dengan angka tersebut,
penelitian Epidemyologycal Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh
National Institute of Mental Health (NIMH) melaporkan prevalensi seumur
hidup sebesar 1,3 %.
Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita.
Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan
perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia
puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia
puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau
sesudah 50 tahun adalah sangat jarang.
Penanganan pasien skizofrenia dibagi secara garis besar menjadi:
1. Terapi somatik: terdiri dari obat anti psikotik.
2. Terapi psikososial.
3. Perawatan rumah sakit (Hospitalisasi).
Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia,
penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat
perbaikan klinis. Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat ke
dalam regimen obat dan harus mendukung regimen tersebut. Sebagian besar
pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan
antipsikotik dan psikososial.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab
(banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis
atau "deteriorating = memburuk") yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.

2.2 Pedoman Diagnostik


Berikut ini merupakan pedoman diagnostik untuk skizofrenia:
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
(a) - Thought echo: isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal: isi pikiran yang asing dari luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan
- Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya.
(b) - Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence: waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap sesuatu kekuatan dari luar.
- Delusional perception: pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
(c) Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku
pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara), atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

3
(d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau komunikasi dengan
makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(e) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus berulang.
(f) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau
neologisme.
(g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor.
(h) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi
(personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed
atitude), dan penarikan diri secara sosial.
2.3 Penatalaksanaan
Penderita skizofrenia perlu ditatalaksana secara integrasi, baik dari aspek
psikofarmakologis (terapi somatik) dan aspek psikososial. Hal ini berkaitan

4
dengan tiap penderita skizofrenia merupakan seseorang dengan sifat individual,
memiliki keluarga dan social psikologis berbeda-beda, sehingga menimbulkan
gangguan bersifat kompleks karena itu perlu penanganan dari beberapa modalitas
terapi.
Penatalaksanaan yang diberikan secara komprehensif pada penderita
skizofrenia menghasilkan perbaikan yang lebih optimal dibandingkan
penatalaksanaan secara tunggal. Penatalaksanaan psikososial umumnya lebih
efektif diberikan pada saat penderita berada dalam fase perbaikan dibandingkan
pada fase akut. Penatalaksanaan ini meliputi psikoterapi individual, terapi
kelompok, terapi keluarga, rehabilitasi psikiatri, latihan keterampilan social, dan
manjemen kasus.
Salah satu cara dalam memperbaiki keadaan penderita skizofrenia adalah
dengan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pasien dengan mempertimbangkan
kemampuan pasien dan penyesuaian diri pasien dalam kehidupan yang akan
pasien kembali jalani. Terdapat 10 hal yang harus diperhatikan dalam
pengembangan dalam perjalanan pengobatan pasien hingga mencapai
pengobatan yang komprehensif.

1. Gejala (Symptoms).
Gejala psikotik dan masalah kognitif pada skizofrenia bisa menekan dan
mengganggu kenyamanan hidup, mengganggu fungsi, dan merusak kualitas
dan kedekatan hubungan sosial. Intervensinya fokus pada penanganan masalah
gejala dengan mengurangi tekanan dan meminimalkan gangguan yang
menyebabkan timbulnya gejala. Strategi yang dapat dicapai, yaitu dengan
minum obat dapat memiliki efek yang kuat pada gejala, mengurangi gejala
yang paling mencolok dari psikotik, dan pada gejala negatif dan kognitif.
Strategi coping juga bisa sangat efektif dalam mengurangi tingkat keparahan
gejala dan gangguan dalam fungsi dan hubungan.

2. Perasaan/Emosi yang terbentuk dengan baik (Emotional Well-Being).


Emotional Well-Being ditentukan oleh keadaan hidup seseorang serta
pengalaman emosi positif dan negatif. Tempat tinggal (rumah) dan tempat

5
kerja merupakan kontributor penting dalam membentuk perasaan/emosi
dengan baik. Orang akan mengalami kepuasan hidup lebih rendah ketika
mereka tunawisma atau di penjara, dan kepuasan hidup lebih tinggi ketika
mereka memiliki stable housing dan menerima dukungan yang cukup untuk
hidup mandiri. Orang yang mengalami rasa kepuasan yang lebih besar ketika
mereka bekerja atau terlibat dalam beberapa jenis kegiatan yang bermakna.

3. Memiliki Peran dalam Kehidupan Sehari-hari (Role Functioning).


Fungsi peran mengacu pada kemampuan untuk memenuhi peran sosial,
seperti di tempat kerja, sekolah, sebagai orangtua, atau sebagai
partner/pasangan. Gangguan fungsi peran adalah salah satu masalah yang
menentukan evaluasi area mana yang fungsi perannya memiliki kesulitan dan
area mana yang paling diinginkan untuk berubah sehingga membantu dalam
mengembangkan makna, tujuan, dan pemenuhan kebutuhan yang lebih besar
dalam hidup. Strateginya dengan supported employment, yaitu sebuah
pendekatan rehabilitasi dan pada model pelatihan keterampilan sosial.

4. Hubungan sosial (Social Relationship).


Salah satu masalah yang paling umum pada skizofrenia adalah hubungan
sosial. Tingginya konflik dalam hubungan dekat, seperti tidak ada atau hanya
sedikit hubungan dekat. Ada banyak pilihan untuk membantu meningkatkan
hubungan sosial, yaitu pelatihan keterampilan sosial (salah satu pendekatan
yang efektif untuk meningkatkan kualitas interaksi sosial dan keterlibatan
dalam kegiatan rekreasi).

5. Aktifitas yang Menyenangkan dan Melakukan Rekreasi (Leisure and


Recreational Activities).
Kurangnya sebagian kegiatan rekreasi adalah fakta bahwa skizofrenia
biasanya muncul pada akhir masa remaja atau dewasa awal, ketika sedang
dalam proses pengembangan minat. Tujuan umum pada skizofrenia adalah
untuk meningkatkan bagaimana cara menghabiskan waktu luang.
6. Kemampuan Merawat Diri dan Bertahan Hidup (Self-Care and Living
Skills).

6
Hidup secara mandiri adalah tujuan umum dari banyak orang dengan
skizofrenia. Grooming, higiene, manajemen uang, penggunaan transportasi,
belanja, perawatan pakaian, keamanan, dan perawatan diri penyakit mental
dan fisik semua aspek hidup mandiri yang perlu dipertimbangkan. Kualitas
keterampilan perawatan diri seseorang memiliki pengaruh penting pada fungsi
di banyak tempat, termasuk pemeliharaan kesehatan dan kenyamanan
kehidupan sehari-hari. Banyak program kesehatan mental memiliki kelas yang
dirancang untuk mengajarkan bertahan hidup dan kemampuan merawat diri.
Pelayanan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka,
sambil mempertahankan independence mereka, disediakan oleh tim assertive
community treatment (ACT), yang menyediakan layanan penjangkauan
intensif untuk orang yang hidup di masyarakat dan mengajari mereka
keterampilan hidup dasar sehingga mereka bisa mendapatkan kebutuhan
praktis. Dalam kasus di mana bantuan tersebut tidak tersedia, anggota
keluarga, teman, atau anggota masyarakat lainnya (misalnya, pendeta)
mungkin terlibat dalam membantu orang dengan skizofrenia memenuhi
kebutuhan hidup dasar sehari-hari mereka.

7. Kesehatan Fisik (Physical Health).


Orang dengan skizofrenia sering mengalami masalah kesehatan yang
inadekuat terdeteksi, monitoring, dan pengobatannya. Dua dari kesulitan
dalam mengenali kondisi medis mereka bahwa (1) mereka mungkin kurang
melaporkan gejala fisik, dan (2) tenaga medis profesional dapat
menyimpulkan keluhan fisik mereka kurang serius. Hasilnya adalah bahwa
penyakit yang tidak diobati memberikan kontribusi untuk peningkatan
kecacatan dan kematian dini. Orang dengan skizofrenia sering memiliki
kebutuhan medis karena merokok, penyakit menular (seperti hepatitis C dan
HIV), diabetes, masalah jantung, dan kesehatan gigi yang buruk. Merokok
merupakan masalah besar bagi orang-orang dengan skizofrenia; sekitar 80%
dari individu yang merokok. Tingginya tingkat penyakit menular pada orang
dengan skizofrenia berhubungan terutama dengan tingginya tingkat
penyalahgunaan narkoba. Siapapun yang telah memiliki masalah
penyalahgunaan narkoba harus dievaluasi untuk kemungkinan penyakit
menular. Penyakit lain, termasuk diabetes, masalah jantung, dan masalah gigi,

7
yang umum pada orang dengan skizofrenia karena kebiasaan diet mereka yang
buruk, gaya hidup sedentary, dan kurangnya keterampilan merawat diri.

8. Penggunaan Alkohol dan Obat-obatan (Alcohol and Drug Use).


Penyalahgunaan zat pada skizofrenia dikaitkan dengan perjalanan penyakit
jiwa yang lebih parah, serta masalah-masalah kesehatan, hukum, ekonomi, dan
sosial. Dengan demikian, menangani penyalahgunaan zat merupakan prioritas
penting pada orang dengan skizofrenia.

9. Kebutuhan Spiritual (Spiritual Needs).


Orang dengan skizofrenia, sama seperti orang lain, memiliki kebutuhan
spiritual. Namun, karena kekhawatiran tentang kebutuhan spiritual yang
membingungkan dengan tema-tema keagamaan yang banyak delusi,
kebutuhan ini sering diabaikan. Banyak orang dengan skizofrenia mendukung
pentingnya kepercayaan kepada Tuhan, atau koneksi transeden lain, seperti
yoga atau meditasi. Keterlibatan dalam kegiatan spiritual dapat membantu
hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang lain.

10. Penyembuhan (Recovery).


Tidak pernah melupakan pentingnya penyembuhan/pemulihan sebagai
tujuan menyeluruh dari semua pengobatan. Pemulihan berarti hal yang
berbeda untuk orang yang berbeda, dan setiap orang dengan penyakit mental
dapat mengembangkan pemahaman sendiri tentang apa artinya pemulihan.
Tujuan ini harus selalu berada di garis depan dari perencanaan pengobatan.
Keterlibatan dan partisipasi aktif dalam perawatan paling efektif dicapai
ketika orang melihat bagaimana mengobati penyakit mental akan
meningkatkan kemampuannya untuk mencapai tujuan pribadi.

Psikoterapi diberikan kepada pasien jika pasien telah memiliki tilikan


(insight). Psikoterapi individual yang diberikan pada penderita skizofrenia
bertujuan sebagai promosi terhadap kesembuhan penderita atau mengurangi
penderitaan pasien. Psikoterapi ini terdiri dari fase awal difokuskan pada
hubungan antara stres dengan gejala, fase menengah difokuskan pada relaksasi
dan kesadaran untuk mengatasi stres, kemudian fase lanjut difokuskan pada

8
inisiatif umum dan keterampilan di masyarakat dengan mempraktekkan apa yang
telah dipelajari.

Terapi Psikoanalisa
Terapi psikoanalisa adalah metode terapi berdasarkan konsep Freud.
Tujuan psikoanalisa adalah menyadarkan individu akan konflik yang tidak
disadarinya dan mekanisme pertahanan yang digunakannya untuk
mengendalikan kecemasannya . Hal yang paling penting pada terapi ini adalah
untuk mengatasi hal-hal yang direpress oleh penderita. Metode terapi ini
dilakukan pada saat penderita skizofrenia sedang tidak kambuh. Macam
terapi psikoanalisa yang dapat dilakukan, adalah Asosiasi Bebas. Pada teknik
terapi ini, penderita didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan dan
mengucapkan apa saja yang ada dalam pikirannya tanpa penyuntingan atau
penyensoran.
Pada teknik ini, penderita disupport untuk bisa berada dalam kondisi
relaks baik fisik maupun mental dengan cara tidur di sofa. Ketika penderita
dinyatakan sudah berada dalam keadaan relaks, maka pasien harus
mengungkapkan hal yang dipikirkan pada saat itu secara verbal. Pada saat
penderita tidur di sofa dan disuruh menyebutkan segala macam pikiran dan
perasaan yang ada di benaknya dan penderita mengalami blocking, maka hal
itu merupakan manifestasi dari keadaan over-repression. Hal yang direpress
biasanya berupa dorongan vital seperti sexual dan agresi. Repressi terhadap
dorongan agresi menyangkut figur otorotas yang selalu diwakili oleh father
and mother figure. Repressi anger (pemarah) dan hostile (bermusuhan)
merupakan salah satu bentuk intrapsikis yang biasa menyebabkan blocking
pada individu. Akibat dari blocking tersebut, maka integrasi kepribadian
menjadi tidak baik, karena ada tekanan ego yang sangat besar.
Menurut Freud, apabila terjadi blocking dalam proses asosiasi bebas,
maka penderita akan melakukan analisa. Hasil dari analisanya dapat
menimbulkan insight pada penderita. Analisa pada waktu terjadi blocking
bertujuan agar penderita mampu menempatkan konfliknya lebih proporsional,
sehingga penderita mengalami suatu proses penurunan ketegangan dan
penderita lebih toleran terhadap konflik yang dialaminya.
Seperti yang telah diungkapkan terdahulu bahwa penderita diberi
kesempatan untuk dapat mengungkapkan segala traumatic events dan

9
keinginan-keinginan yang direpressnya. Waktu ini disebut dengan moment
chatarsis. Disini penderita diberi kesempatan untuk mengeluarkan uneg-uneg
yang ia rasakan, sehingga terjadi pengurangan terhadap pelibatan emosi dalam
menyelesaikan masalah yang dialaminya. Dalam teknik asosiasi bebas ini,
juga terdapat proses transference, yaitu suatu keadaan dimana pasien
menempatkan therapist sebagai figur substitusi dari figur yang sebenarnya
menimbulkan masalah bagi penderita.
Terdapat 2 macam transference, yaitu:
(1) Transference positif, yaitu apabila therapist menggantikan figur yang
disukai oleh penderita.
(2) Transference negatif, yaitu therapist menggantikan figur yang dibenci oleh
penderita.

Terapi Kelompok
Psikoterapi dapat dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya itu
psikoterapi kelompok dimana meliputi terapi suportif, terstruktur dan
anggotanya terbatas, umumnya antara 3-15 orang. Kelebihan terapi kelompok
ini adalah kesempatan untuk mendapatkan umpan balik segera dari teman
kelompok, dan dapat mengamati respons psikologis, emosional, dan perilaku
penderita skizofrenia terhadap berbagai sifat orang dan masalah yang timbul.
Banyak masalah emosional menyangkut kesulitan seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain, yang dapat menyebabkan seseorang berusaha
menghindari relasinya dengan orang lain, mengisolasi diri, sehingga
menyebabkan pola penyelesaian masalah yang dilakukannya tidak tepat dan
tidak sesuai dengan dunia empiris. Dalam menangani kasus tersebut, terapi
kelompok akan sangat bermanfaat bagi proses penyembuhan klien, khususnya
klien skizofrenia.
Terapi kelompok ini termasuk salah satu jenis terapi humanistik. Pada
terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapis
berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Di antara
peserta terapi tersebut saling memberikan feedback tentang pikiran dan
perasaan yang dialami oleh mereka.
Klien dihadapkan pada setting sosial yang mengajaknya untuk
berkomunikasi, sehingga terapi ini dapat memperkaya pengalaman mereka
dalam kemampuan berkomunikasi. Di rumah sakit jiwa, terapi ini sering

10
dilakukan. Melalui terapi kelompok ini iklim interpersonal relationship yang
konkrit akan tercipta, sehingga klien selalu diajak untuk berpikir secara
realistis dan menilai pikiran dan perasaannya yang tidak realistis.

Terapi Keluarga
Terapi keluarga bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai
skizofrenia. materi yang diberikan berupa pengenalan tanda-tanda
kekambuhan secara dini, pernakaian dari pengobatan, antisipasi dari efek
samping pengobatan, dan peran keluarga terhadap penderita skizofrenia.
Karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi
parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan
manfaat dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap hari). Pusat
dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan
menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah
memang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat terapi harus pada
pemecahan masalah secara cepat.
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas di dalam
terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya.
Sering sekali, anggota keluarga, di dalam cara yang jelas, mendorong sanak
saudaranya yang menderita skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur
terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari
ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang
keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien
mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati.
Terapi keluarga selanjutnya dapat diarahkan kepada berbagai macam
penerapan strategi menurunkan stres dan mengatasi masalah dan pelibatan
kembali pasien ke dalam aktivitas. Sejumlah penelitian telah menemukan
bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps.

Rehabilitasi Psikiatri
Rehabilitasi psikiatri bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
penderita skizofrenia dalam hal merawat diri sendiri, bekerja, menikmati
kesenangan, berhubungan dengan orang lain dan keluarga. Dengan demikian
dapat meningkatkan kemandirian penderita dalam masyarakat. Rehabilitasi
psikiatri diharapkan terjadi perubahan menuju perbaikan dari

11
ketidakmampuan, meningkatkan kemampuan baru yang menjadi penyebab
kelemahan, memanipulasi lingkungan agar dapat lebih memberi dukungan
serta meningkatkan fungsi.

Penatalaksanaan terapi psikososial lainnya pada penderita skizofrenia berupa


pelatihan keterampilan sosial dan hidup mandiri, manajemen diri terhadap
pengenalan gejala dan medikasi, fungsi penderita dalam kehidupan sehari-hari,
dukungan dari lingkungan sekitar baik di tempat tinggal maupun di tempat kerja
pasien.
Pelatihan keterampilan sosial bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
performance dalam menghadapi situasi kehidupan sehari-hari, sehingga
penderita memiliki kemampuan untuk melakukan hubungan interpersonal,
perawatan diri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Mengenal
dan memahami manajemen medikasi sehingga dapat mengoptimalkan kualitas
hidup penderita skizofrenia. Pelatihan keterampilan sosial menekankan pada
aspek edukasi, pembelajaran yang unik pada setiap situasi dan mengambil
kesimpulan bahwa setiap individu selalu melakukan yang terbaik. Pelatihan ini
memfokuskan pada stresor-stresor lingkungan, dan defisit yang karakteristik
dari setiap pasien.
Komponen keterampilan sosial meliputi keterampilan dalam hal komunikasi,
persepsi sosial, dan mengatasi masalah dalam situasi yang khusus. Keterampilan
dalam hal berkomunikasi yang diberikan berupa kemampuan untuk memulai,
memelihara, dan mengakhiri pecakapan. Keterampilan persepsi sosial yang
diberikan berupa kemampuan seseorang untuk mempersepsikan situasi sosial
secara akurat, melaksanakan keterampilan interpersonal dan menganalisa situasi.
Sedangkan keterampilan untuk mengatasi masalah yang khusus dalam bentuk
keterampilan saat wawancara mencari pekerjaan, menciptakan kehidupan yang
memuaskan, serta melakukan interaksi heterososial.
Ada tiga model pelatihan keterampilan sosial pada penderita skizofrenia,
yaitu model keterampilan sosial dasar, model pemecahan masalah sosial, dan
cognitive remediation. Prinsip kerja model keterampilan sosial dasar atau sering
juga disebut dengan keterampilan motorik adalah mengidentifkasikan disfungsi
perilaku sosial, kemudian dipilah menjadi tugas-tugas yang lebih sederhana,
dipelajari melalui pengulangan dan elemen-elemen tersebut dikombinasikan
menjadi perbendaharaan fungsional yang lebih lengkap. Tujuan utamanya

12
adalah untuk memampukan pasien yang menderita penyakit serius dalam
mengembangkan keterampilan sosial untuk kehidupan yang mandiri.
Model pemecahan masalah sosial dilaksanakan melalui modul-modul
pembelajaran seperti manajemen medikasi, manajemen gejala, rekreasi,
percakapan dasar, dan pemeliharaan diri. Manajemen medikasi berupa
mendapatkan informasi mengenai manfaat pengobatan antipsikotik, mengetahui
cara pemakaian antipsikotik yang tepat, mengetahui efek yang tidak
menguntungkan dari pengobatan, dan membicarakan masalah pengobatan
dengan tenaga medis.
Manajemen gejala seperti mengidentifikasi secara dini tanda-tanda
kekambuhan, mengenali tanda-tanda kekambuhan dan mengembangkan rencana
pencegahan kekambuhan, coping terhadap gejala psikotik yang menetap, serta
menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang.
Pada modul rekreasi diharapkan penderita skizofrenia dapat
mengidentifikasikan manfaat kegiatan rekreasi, memberikan informasi tentang
kegiatan rekreasi, menemukan hal-hal yang diperlukan untuk kegiatan rekreasi,
dan melakukan evaluasi dari manfaat rekreasi secara berkala. Pada percakapan
dasar meliputi latihan keterampilan untuk dapat mendengar secara aktif dalam
percakapan, melakukan percakapan bersama-sama, memulai, memelihara, dan
mengakhiri pembicaraan. Sedangkan pada pemeliharaan diri meliputi
bagaimana cara untuk menjaga kebersihan dan perawatan diri, berpakaian,
merawat lingkungan tempat tinggal, makan dan minum secara teratur,
pengaturan keuangan, dan mencari pekerjaan.
Terapi ini melatih penderita mengenai keterampilan atau keahlian sosial,
seperti kemampuan percakapan, yang dapat membantu dalam beradaptasi
dengan masyarakat. Social Skills Training menggunakan latihan bermain
sandiwara. Para penderita diberi tugas untuk bermain peran dalam situasi-situasi
tertentu agar mereka dapat menerapkannya dalam situasi yang sebenarnya.
Bentuk terapi seperti ini sering digunakan dalam panti-panti rehabilitasi
psikososial untuk membantu penderita agar bisa kembali berperan dalam
masyarakat. Mereka dibantu dan didukung untuk melaksanakan tugas-tugas
harian seperti memasak, berbelanja, ataupun utnuk berkomunikasi, bersahabat,
dan sebagainya. Meskipun terapi ini cukup berhasil, namun tetap ada persoalan
bagaimana mempertahankan perilaku bila suatu program telah selesai, dan
bagaimana dengan situasi-situasi yang tidak diajarkan secara langsung.

13
Penatalaksanaan gangguan kognitif pada penderita skizofrenia bertujuan
meningkatkan kapasitas individu untuk mempelajari berbagai variasi dari
keterampilan sosial dan dapat hidup mandiri. Strategi penatalaksanaan meliputi
langsung pada defisit kognitif yang mendasari dan terapi kognitif perilaku
terhadap gejala psikotik. Penatalaksanaan langsung terhadap deficit kognitif
yang mendasari meliputi pengulangan latihan, modifikasi instruksi berupa
instruksi lengkap dengan isyarat dan umpan balik segera selama latihan.
Terapi kognitif perilaku terhadap gejala psikotik bertujuan mengidentifikasi
gejala spesifik dan menggunakan strategi coping kognitif untuk mengatasinya.
Contoh strategi distraksi, reframing, self reinforcement, tes realita, atau
tantangan secara verbal. Penderita skizofrenia menggunakan strategi ini untuk
menemukan dan menguji kualitas disfungsi dari keyakinan yang irasional.

BAB III
KESIMPULAN

Sistem support pasien skizofrenia bisa dari berbagai sumber, termasuk didalamnya
keluarga, tenaga medis profesional, teman, dan lingkungan sosial. Karena banyak
pasien tinggal dengan keluarganya, maka keluarga adalah system support primer pada
pasien dengan skizofrenia ini.

14
Kebanyakan pasien skizofrenia tidak mengalami remisi sempurna dari simptom-
simptom yang dialaminya. Tetapi, symptom ini dapat diatasi dengan penanganan
terapi psikososial dan terapi psikofarmakologi.
Kesulitan dalam kemampuan bersosialisasi dapat diterapi dengan terapi group
atau aktifitas berkelompok yang berisi kegiatan interaksi dalam bersikap dan
membincangkan topik-topik yang dapat dibicarakan sehingga pasien belajar atau
kembali belajar bagaimana untuk lebih produktif, dan bagaimana untuk bersikap dan
berperilaku yang semestinya.
Aspek pengobatan lainnya adalah beradaptasi dengan kehidupan pribadi,
kemampuan-kemampuan untuk menjalani hidup, mengatur keuangan dan hal-hal
praktikal lainnya. Sangat diperlukan juga untuk pasien skizofrenia mencatat, merekam
atau menuliskan gejala seperti apa yang muncul pada dirinya, apa obat-obatan yang
diterima dan dikonsumsi (termasuk dosis-dosis obat tersebut), dan apa efek samping
dari pengobatan yang pasien tersebut rasakan. Dari mengetahui gejala apa yang terjadi
sebelumnya, keluarga dapat lebih tahu dan memahami untuk kedepannya. Keluarga
dapat mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini dari potensial relaps atau
kekambuhan skizofrenia, seperti peningkatan withdrawal, perubahan pola tidur, dan
lainnya. Jadi, jika gejala psikotik dapat dideteksi lebih dini maka pengobatan dapat
mencegah full-blown relaps. Juga, dengan mengetahui obat-obatan apa yang
dikonsumsi, obat mana yang menimbulkan ketidaknyamanan atau berefek samping di
masa lalu, keluarga dapat membantu pasien skizofrenia untuk mendapatkan
pengobatan tercepat dan terbaik.

DAFTAR PUSTAKA

Bengston M. 2006. Overview of Treatment for Schizophrenia. [online] available from


URL: http://www.ehow.com/way_528942_overview-of-treatment-for-
schizophrenia.html
Grohol JM. 2006. Psychosocial Treatment for Schizophrenia. [online] available from
URL: http://www.ehow.com/way_5289422_psychosocial-treatment-
schizophrenia.html
Kane JM, Stroup TS, and Marder SR. 2007. Schizophrenia: Pharmacological
Treatment in Kaplan and Sadocks Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9 th
Edition, Volume I. Philadelphia: Lippincott William and Wilkins; hal. 1547-1556

15
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2007. Skizofrenia dalam Kaplan dan Sadocks
Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10 th Edition.
Philadelphia: Lippincott William and Wilkins, a Wolters Kluwer Business; hal.
685-729
Loebis B. 2007. Skizofrenia: Penanggulangan Memakai Antipsikotik. Diunduh dari:
http://www.usu.ac.id/id/files/pidato/ppgb/2007/ppgb_2007_bahagia_loebis .pdf
Maramis WF, Maramis AA. 2009. Pengobatan dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa,
Edisi Kedua. Surabaya: Airlangga University Press; hal. 276-281
Maslim R. 2001. Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham dalam
Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh
Jaya; hal. 46- 47
NIMH. 2010. Schizophrenia Psychosocial Treatment. [online] available from URL:
http://www.enotalone.com/article/6884.html
NIMH. 2006. Helpful Hints about Schizophrenia for Family and Others. [online]
available from URL: http://psychcentral.com/lib/2006/helpful-hints-about-
schizophrenia-for-family-members-and-others/
Sadock BJ, Sadock VA. Treatment in Kaplan and Sadocks Concise Textbook of
Clinical Psychiatry, 2nd Edition. Philadelphia: Lippincott William and Wilkins;
hal. 150-153

. 2007. Treatment in Kaplan dan Sadocks Synopsis of


Psychiatry, Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. Philadelphia:
Lippincott William and Wilkins, a Wolters Kluwer Business; hal. 488-497
Tenhula WN, Bellack AS, and Drake RE. 2007. Schizophrenia: Psychosocial
Approaches in Kaplan and Sadocks Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th
Edition, Volume I. Philadelphia: Lippincott William and Wilkins; hal. 1556-1572

16
Tugas Referat

1. Apa yang dimaksud dengan strategi coping ?

Yang dimaksud dengan strategi coping adalah strategi untuk memperbaiki


keadaan pasien menjadi lebih baik. Ada berbagai teknik yang dapat dilakukan, antara
lain strategi distraksi, reframing, self reinforcement, tes realita, atau tantangan secara
verbal. Penderita skizofrenia menggunakan strategi ini untuk menemukan dan
menguji kualitas disfungsi dari keyakinan yang irasional.
Pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Tehnik distraksi
dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat
stimulus nyeri. Jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat
menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak. Stimulus yang menyenangkan dari
luar juga dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan
oleh klien menjadi berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung
dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan
minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran

17
dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding
stimulasi satu indera saja.
Reframing merupakan salah satu dari tools NLP (Neuro-Linguistic
Programming) yang sangat jitu untuk mengubah perilaku atau emosi negatif dengan
mengubah sudut pandang. Sesuai dengan namanya, reframingmerupakan teknik
membingkai ulang suatu peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif. Teknik
ini bermain di area persepsi seseorang untuk mengubah emosi dan perilaku negatif.
Reinforcement adalah konsekuensi dari tin-dakan yang membuat tindakan tersebut
cenderung akan diulangi. Reinforcement sama dengan kata re-ward. Idenya
sederhana tetapi ragam jenis dan tekniknya kadang kompleks dan me-ngejutkan. Ini
dalah salah satu kompleksitasnya: Apakah sesuatu direinforce atau tidak bergantung
pada orangnya dan ini bisa beragam dari waktu ke waktu pada orang yang sama.
Seseorang tak bisa begitu saja mendaftar obyek, aktivitas, perasaan, atau hubungan
yang merupakan reinforcer atau bukan. Bukti dari reinforcement dalam adonan
behavioural adalah : Apakah behavior subsekuennya berubah ?
Tes realita adalah sebuah tes yang dapat meyakinkan kamu apakah kamu sedang
bermimpi atau tidak. Poin dari tes realita ini adalah membiasakan diri untuk
membedakan mana mimpi dan mana bukan. Kebiasaan melakukan tes realita akan
membangun 'kesadaran' yang lebih kuat dalam diri.

18
2. Mengapa tempat tinggal dan tempat kerja memberikan pengaruh dalam perbaikan
selama proses pengobatan?

Selama proses penyembuhan pasien, yang terpenting adalah membangun perasaan


percaya diri yang telah hilang. Memiliki tempat tinggal layak dengan keadaan
didalam tempat tinggal yang baik akan membangun percaya diri pasien yang akan
memperlancar proses penyembuhan. Sama halnya dengan memiliki pekerjaan yang
tetap dan layak akan membangun kepercayaan diri pasien.

19
3. Bagaimana hubungan skizofrenia dengan rekreasi ?

Kurangnya sebagian kegiatan rekreasi adalah fakta bahwa skizofrenia biasanya


muncul pada akhir masa remaja atau dewasa awal, ketika sedang dalam proses
pengembangan minat. Tujuan umum pada skizofrenia adalah untuk meningkatkan
bagaimana cara menghabiskan waktu luang.
Pada pasien skizofrenia memiliki kecenderungan menutup diri hingga tidak bisa
menggambarkan dirinya dengan baik. Dengan melakukan rekreasi dan menyenangkan
diri, diharapkan pasien menjadi lebih terbuka dan dapat berkomunikasi dengan santai
dengan sekitar pasien.

20
4. Bagaimana hubungan skizofrenia dengan menjaga kesehatan fisik?

Orang dengan skizofrenia sering mengalami masalah kesehatan yang inadekuat


terdeteksi, monitoring, dan pengobatannya. Dua dari kesulitan dalam mengenali
kondisi medis mereka bahwa (1) mereka mungkin kurang melaporkan gejala fisik,
dan (2) tenaga medis profesional dapat menyimpulkan keluhan fisik mereka kurang
serius. Hasilnya adalah bahwa penyakit yang tidak diobati memberikan kontribusi
untuk peningkatan kecacatan dan kematian dini.
Hidup secara mandiri adalah tujuan umum dari banyak orang dengan skizofrenia.
Grooming, higiene, manajemen uang, penggunaan transportasi, belanja, perawatan
pakaian, keamanan, dan perawatan diri penyakit mental dan fisik semua aspek hidup
mandiri yang perlu dipertimbangkan. Kualitas keterampilan perawatan diri seseorang
memiliki pengaruh penting pada fungsi di banyak tempat, termasuk pemeliharaan
kesehatan dan kenyamanan kehidupan sehari-hari.

21
5. Bagaimana menangani keadaan Transference negatif?

Yang harus segera dilakukan jika Transference negatif terjadi adalah mengganti
terapis pasien sesegera mungkin. Ini menunjukkan bahwa terapi yang saat ini sudah
tidak dapat menangani pasien karena akan menghambat proses terapi.

22
6. Kepada siapa terapi keluarga ditujukan ? Apakah tujuan dari terapi keluarga?

Terapi keluarga ditujukan pada keluarga pasien. Terapi keluarga bertujuan untuk
memberikan pengetahuan mengenai skizofrenia. materi yang diberikan berupa
pengenalan tanda-tanda kekambuhan secara dini, pernakaian dari pengobatan,
antisipasi dari efek samping pengobatan, dan peran keluarga terhadap penderita
skizofrenia. Karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi
parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat
dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap hari). Pusat dari terapi harus
pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang
kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien di
dalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat.

23