Anda di halaman 1dari 10

JOURNAL READING

Pembimbing :
dr. Hasan basri, Sp.A

Disusun oleh:
Khoirunnisa (2010730056)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD R. SYAMSUDIN, SH - SUKABUMI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014
ABSTRAK

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN:


upaya kesehatan masyarakat terbaru yang fokus pada pengurangan penggunaan susu formula
untuk bayi selama dalam masa rawat inap pasca dilahirkan. Tidak ada laporan sebelumnya
yang membahas efek dari penggunanaan susu formula di awal masa kelahiran. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menentukan apakah volume susu formula yang sedikit sebelum
adanya ASI dapat mengurangi durasi penggunaan susu formula pada 1 minggu pertama dan
meningkatkan durasi pemberian ASI pada 3 bulan pertama untuk bayi yang baru lahir dan
memiliki risiko.

METODE:
Peneliti secara acak memilih 40 bayi yang berusia 24 sampai 48 jam, yang telah kehilangan
5% berat lahir. yang sebagian akan diberi ASI eksklusif, sampai awal pemberian susu
formula terbatas (ELF) dengan cara intervensi (10 mL formula oleh spuit setelah setiap
menyusui dan dihentikan pada saat produksi ASI matang dimulai) atau kontrol (lanjutan ASI
eksklusif). Penelitian ini di lakukan pada bayi yang menyusui dan diberi susu formula pada
minggu ke-1, bulan ke-1, bulan ke-2 dan bulan ke-3.

HASIL:
Di antara bayi yang secara acak menggunakan ELF selama perawatan pasca dilahirkan yaitu
pada usia 1 minggu, 2 dari 20 bayi (10%) yang menggunakan susu formula dibandingkan
dengan 9 dari 19 bayi (47%) yang menyusui secara eksklusif (kontrol) memiliki hasil P = .01.
Pada usia 3 bulan, 15 dari 19 bayi (79%) yang ditugaskan untuk ELF selama perawatan pasca
dilahirkan dibandingkan dengan 8 dari 19 bayi (42%)yang menyusui secara eksklusif
(kontrol) memiliki hasil P = .02.

KESIMPULAN:
Dari sampel yang diambil secara acak yaitu 40 pasangan ibu-bayi baik untuk menerima
jumlah susu formula secara terbatas setelah setiap menyusui (intervensi) atau untuk
melanjutkan eksklusif ASI (kontrol) didapatkan hasil :
ELF dapat mengurangi formula jangka panjang yang digunakan pada jangka 1
minggu dan meningkatkan pemberian ASI pada 3 bulan untuk beberapa bayi.
ELF merupakan strategi sementara yang dilakukan ibu untuk mempertahankan
pemberian susu pada bayi BBLR.
ELF memiliki potensi untuk meningkatkan tingkat pemberian ASI jangka panjang
tanpa suplementasi berdasarkan temuan dari RCT ini.

PEMBAHASAN :
Pemberian ASI dapat mengurangi risiko yang paling umum seperti infeksi dan alergi
penyakit pada infancy ,dan karena durasi menyusui berkaitan dengan manfaat kesehatan
yang lebih baik.WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan American
Academy of Pediatrics merekomendasikan ASI selama minimal 1 tahun dan pemberian ASI
eksklusif selama minimal 6 bulan. Saat ini, upaya kesehatan masyarakat untuk meningkatkan
durasi menyusui di Amerika Serikat termasuk penekanan yang kuat untuk mengurangi
penggunaan formula selama perawatan pasca kelahiran. The Baby Friendly Hospital
Initiative dan Joint Commissions Perinatal Care Core Quality Measures telah berupaya
untuk menghilangkan penggunaan susu formula selama rawat inap pasca dilahirkan agar bayi
dapat menyusui dengan baik. Namun, meskipun 74% dari bayi AS memulai menyusui, hanya
30% mempertahankan ASI eksklusif selama 3 bulan dan hanya 21% yang masih menyusui
pada usia 12 bulan. Mengoptimalkan klinis dan pendekatan kesehatan masyarakat untuk
meningkatkan durasi menyusui di Amerika mungkin memiliki efek yang besar pada bayi dan
kesehatan ibu.
Saat melahirkan, ibu tidak segera menghasilkan volume susu berlebihan, melainkan dimulai
dengan sekresi 1 sampai 5 mL kolostrum. Meskipun provider meyakinkan ibu bahwa volume
ASI sedikit itu adalah normal, namun ibu mungkin melihat bahwa bayi tampak rewel dan
lapar. Karena volume dari kolostrum cenderung sedikit, mungkin ibu mulai mengkhawatirkan
pasokan ASI tidsk cukup, dan kekhawatiran ini telah dibuktikan. Ini merupakan alasan yang
paling umum diberikan oleh ibu untuk menghentikan menyusui sebelum 3 bulan. Hipotesis
awal kami yaitu menambah volume pada susu formula di awal kehidupan di samping untuk
menyusui sebelum diproduksinya susu matang akan memiliki potensi yang tinggi untuk
mengurangi pemberhentian menyusui untuk beberapa ibu dengan tingkat pasokan susu yang
kecil.Volume 10 mL setelah setiap menyusui dipilih untuk penelitian karena volume tidak
akan mengganggu proses menyusui 8 sampai 12 kali per hari sebagai rekomendasi.
Saat ini, formula terbatas pendekatan (ELF) ini masih kontroversial untuk 2 alasan. Pertama,
penelitian telah menunjukkan bahwa ibu yang memberi makan bayinya baik oleh ASI dan
dengan susu formula selama perawatan pasca melahirkan, menghentikan menyusui lebih
awal dari ibu yang menyusui secara eksklusif selama perawatan pasca melahirkan. Namun,
penelitian ini telah diamati sejak sebelum persalinan. Demikian pula, ibu yang mengalami
masalah dengan memulai menyusui, dengan berbagai hal, misalnya tertunda produksi
susunya, atau nyeri puting, mungkin akan lebih cenderung menggunakan susu formula dan
mungkin tidak akan melanjutkan menyusui. 1 kuasi-acak percobaan di daerah ini tidak
menemukan manfaat untuk durasi menyusui dari kebijakan rumah sakit yang membatasi
penggunaan susu formula selama perawatan.
Alasan kedua dengan pendekatan ELF yang mungkin kontroversial adalah bahwa pengenalan
yang sedikit tentang susu formula sejak dini mungkin akan berdampak terhadap pengetahuan
tentang manfaat kesehatan dari ASI eksklusif. Tidak ada penelitian yang telah
membandingkan hasil kesehatan yang berhubungan dengan menggunakan susu formula
terbatas di awal lalu diikuti oleh kembali menggunakan ASI eksklusif dengan pemberian ASI
secara eksklusif sejak lahir terhadap kesehatan. Sebuah tinjauan sistematis terbaru oleh
Kolaborasi Cochrane tidak menemukan sebelumnya studi yang meneliti efek menggunakan
sedikit susu formula untuk waktu yang terbatas yang pada akhirnya berpengaruh terhadap
durasi dari menyusui atau hasil kesehatan lainnya. Bahkan jika menggunakan susu formula di
awal dapat mengurangi beberapa manfaat kesehatan pada ASI eksklusif, penggunaan yang
singkat di awal masa menyusui menggunakan susu formula masih mungkin memiliki
keseluruhan manfaat kesehatan bagi bayi yang baru lahir, jika total durasi menyusui
berkepanjangan dan diizinkan durasi lebih lama secara keseluruhan ASI tanpa susu formula.
Kelompok kami berhipotesis bahwa pemberian formula awal mungkin paling efektif di
bandingkan dengan bayi beresiko tinggi yang akhirnya diberikan suplementasi susu formula.
Dalam retrospektif studi kohort, kami menemukan bahwa bayi baru lahir yang kehilangan
lebih dari 5% dari berat badan mereka dalam 36 jam pertama menigkatkan resiko kelebihan
berat badan lebih dari 10% dari berat lahir mereka, dan oleh karena itu mungkin pada
peningkatan risiko ibu pada pasokan ASI. Kami melakukan uji coba terkontrol secara acak
untuk mengetahui pengaruh susu formula yang dibatasi yang disampaikan untuk waktu yang
terbatas pada hasil dari durasi menyusui untuk bayi yang baru lahir dengan berat badan lebih
dari 5% pada umur 36 jam. Untuk menghindari mengekspos bayi yang baru lahir terhadap
protein susu sapi utuh, kami memilih susu formula hidrolisis ekstensif.
METODE

Kami mendata tingkat kesehatan, pemberian ASI eksklusif pada aterm (lebih dari 37 minggu)
bayi yang lahir di University of California San Francisco Medical Center dan Lucille Packard
Children 's Hospital yang memiliki kehilangan 5% dari berat lahir mereka sebelum usia 36
jam dan 24 sampai 48 jam. Bayi yang masuk dalam kategori kriteria eksklusi yaitu jika
mereka telah kehilangan lebih dari 10% berat badan dari berat lahir, telah menerima susu
formula atau air, karena diperlukan perawatan yang lebih intensif atau memiliki ibu yang
umurnya kurang dari 18 tahun, tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris atau Spanyol, atau
yang memproduksi ASI. Bayi ditimbang di rumah sakit secara rutin sebagai syarat pendataan.
persetujuan diperoleh dari semua ibu dengan dokter atau perawat demi kepentingan studi ini.
Penelitian ini disetujui oleh komite dari University of California San Francisco pada Manusia
PenelitiaUniversity of California San Francisco Committee on HumanResearch dan the
Stanford University Administrative panel on Human Subjects in Medical Research.

Kami ambil secara acak 40 pasangan ibu-bayi baik untuk menerima jumlah susu formula
secara terbatas setelah setiap menyusui (intervensi) dan yang melanjutkan ASI eksklusif
(kontrol). Percobaan ini telah terdaftar di clinicaltrials.gov,. Ukuran sampel dipilih sebagai
pionir untuk menunjukkan kelayakan. Urutan alokasi untuk pengacakan dihasilkan oleh
biostatistician independen dan dikelompokkan pada lokasi; hasil tes ditempatkan ke dalam
amplop yang disegel oleh asisten administrasi independen. Segera setelah pendaftaran,
penyidik membuka amplop berurutan di hadapan kedua penyidik dan kumpulkan secara acak.
Sebuah penelitian buta dinilai pada 1 minggu dan pada bulan ke 1, 2, dan 3. Dengan
demikian kita memiliki alokasi lengkap dan penilaian hasil buta, meskipun data ibu dilakukan
secara tertutup dan mendaftarkan para peneliti studi itu tidak mungkin.

Segera setelah pendataan, semua ibu menyusui dengan dukungan dari dokter atau perawat.
Setelah menyusui, ibu secara acak dalam ELF (kelompok intervensi) diajarkan untuk
memberi makan bayi mereka 10 mL susu formula hidrolisis ekstensif (Nutramigen, Mead
Johnson, Inc, Evansville, IN) menggunakan spuit untuk makan. Mereka diinstruksikan untuk
memberikan makan melalui spuit sebanyak 10 mL susu formula setelah setiap menyusui
sampai produksi susu matang dimulai. Setelah menyusui diawasi, ibu secara acak
diinstruksikan untuk melanjutkan ASI eksklusif (kelompok kontrol) diajarkan teknik
menenangkan bayi selama 15 menit. Sesi pengajaran ini dirancang untuk mengendalikan
jumlah waktu peneliti agar dihabiskan dengan ibu pada kelompok intervensi untuk mengajari
memberikan makan melalui spuit. Segera setelah prosedur ini, asisten peneliti secara lisan
memberikan kuesioner untuk semua ibu yang dinilai menyusui secara mandiri dan telah
dimodifikasi. Setelah dimodifikasi, selanjutnya, bayi menerima perawatan biasa dari dokter
masing-masing. Untuk menilai kelompok secara acak, dan menilai ketika produksi susu
matang mulai, tekhnik pendampingan terhadap ibu dilakukan sehari-hari. Sebelum divalidasi
seorang asisten penelitian menilai semua kelompok melalui telepon pada minggu ke 1 dan
bulan ke 1, 2, dan 3. Variable utama yang diteliti dari penelitian ini adalah menggunakan
susu formula pada minggu ke 1. Variable sekunder yang diteliti pada penelitian ini adalah
menyusui ASI eksklusif pada 1 minggu dan bulan ke 1, 2, dan 3.

Menggunakan pendekatan intent-to-treat, kami menggunakan pengujian x2 untuk


membandingkan efek dari pengacakan lengan terhadap hasil dikotomis, termasuk menyusui
dan ASI eksklusif pada 1 minggu dan pada bulan ke 3. Kami menggunakan uji t untuk
membandingkan efek dari grup formulaterhadap berat badan bayi dan menyusui secara
mandiri dan untuk membandingkan usia bayi pada produksi susu yang matang terhadap
menyusui eksklusif di bulan ke 3. Untuk bayi yang ibunya telah menunda produksi susu
matang, kami menggunakan StatXact (Cytel, Inc, Cambridge, MA) untuk menghitung
binomial kepercayaan yang tepat (95% CI) untuk perbedaan risiko pada pemberian ASI
eksklusif pada minggu ke 1 pada bayi kami menggunakan stata 9.2 (Stata Corp, College
Station, TX) untuk semua analisis lainnya.

HASIL
Secara keseluruhan, 20 (50%) bayi ditempatkan untuk menerima ELF dan 20 (50%) bayi
yang ditempatkan untuk melanjutkan pemberian ASI eksklusif (Gambar 1). Pada saat
pendataan, penurunan berat badan adalah 6,0% 0,9% (rata-rata 6 SD) berat badan saat lahir
tidak berbeda dengan alokasi kelompok secara acak. Sebagian besar (62%) ibu direncanakan
untuk menyusui secara eksklusif dan tidak ada perbedaan kelompok. Perbedaan karakteristik
klinis dan demografi dari kelompok dasar juga serupa antara kelompok (Tabel 1).

Seperti yang terlihat pada Tabel 2, menyusui secara mandiri tidak berbeda dengan kelompok
studi. Lactogenesis II terjadi pada rata-rata 3,1 1,2 hari di kedua kelompok. Pada titik
terendah mereka, penurunan berat badan pada bayi adalah 6,8% 1.5% di kelompok ELF
dan 8,1% 2.3% di kelompok kontrol (P = .10). Lima kelompok bayi kehilangan lebih dari
10% dari berat lahir mereka, termasuk 1 (5%) dari 20 pada kelompok ELF dan 4 (21%) dari
19 pada kelompok kontrol (P = .15). Satu data mengenai bayi kontrol telah hilang.

Pada penilaian minggu ke 1, seluruh 39 bayi dengan ditindak lanjuti yang masih menyusui.
Namun, pada kelompok ELF, 2 (10%) dari 20 bayi telah menerima rumus di sebelumnya 24
jam, dibandingkan dengan 9 (47%) dari 19 bayi dalam kelompok kontrol (perbedaan risiko
37%, 95% CI 3,4% - 71,0%; P = .01). Selama minggu pertama setelah lahir, bayi yang baru
lahir ditugaskan untuk ELF menerima kurang lebih 116 110 mL susu formula, dan
kelompok kontrol menerima kurang lebih 262 411 mL. Lamanya waktu sampai timbulnya
lactogenesis II dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan penggunaan susu formula pada
minggu ke 1, dengan rasio tak tetap dalam menggunakan susu formula pada minggu ke 1 dari
2,0 (95% CI 1,02-3,88) untuk setiap tambahan hari sampai timbulnya lactogenesis II. Sebelas
bayi yang diteliti memiliki permulaan produksi susu matang setelah usia 72 jam (tertunda
permulaan laktasi). Di antara 11 bayi, 5 (83%) dari 6 selama kelahiran perawatan pasca
kelahiran untuk melanjutkan ASI eksklusif digunakan susu formula pada minggu ke 1,
dibandingkan dengan 1 (20%) dari 5 bayi dengan permulaan laktasi tertunda yang telah
secara acak ditugaskan untuk ELF selama perawatan pasca kelahiran (perbedaan risiko 63%,
95% CI -2% sampai 96%; P = .06). Hasil akhir dalam 3 bulan dihasilkan untuk 38 (95%)
bayi, dengan 2 (5%) bayi tidak dapat dihubungi. Lima belas (79%) dari 19 bayi secara acak
ditugaskan untuk ELF di pendataan yang menyusui secara eksklusif pada bulan ke 3,
dibandingkan dengan 8(42%) dari 19 kontrol (P = .02). Selain itu, 18 (95%) dari 19 bayi yang
ELF menyusui sampai batas tertentu di bulan ke 3, dibandingkan dengan 13 (68%) dari 18
bayi pada kelompok kontrol (P = .04). Dua (10%) dari bayi dalam intervensi kelompok dan 3
(15%) dari bayi dalam kelompok kontrol melaporkan penyakit demam (P. 30). Tidak ada
laporan dari alergi penyakit di antara bayi menjadi bahan penelitian. Permulaan laktasi yang
tertunda tidak mempengaruhi tingkat pemberian ASI di umur 3 bulan tetapi memiliki
pengaruh kuat terhadap mnyusui secara eksklusif pada usia 3 bulan (Tabel 3). Di antara 11
bayi dengan permulaan laktasi yang tertunda, 8 (73%) menggunakan susu formula pada usia
3 bulan, dibandingkan dengan 7 (27%) dari 26 bayi yang tidak menunda laktasi (P< ,01).
Diperkirakan pada 1 minggu tidak ada penerimaan susu formula atau menyusui apapun dan
ASI eksklusif pada usia 3 bulan. Di antara 11 bayi yang menerima susu formula di usia 1
minggu, hanya 2 (18%) yang secara eksklusif menyusui pada usia 3 bulan, sedangkan di
antara 26 bayi yang tidak menerima susu formula pada usia 1 minggu, 21 (81%) yang secara
eksklusif menyusui pada 3 bulan (P< .001).
DISKUSI :

Dalam uji coba secara acak ini, bayi yang baru lahir dengan kekurangan berat badan 5% l
yang menerima sejumlah kecil susu formula dimulai pada usia 24 sampai 48 jam dan berakhir
pada timbulnya produksi susu dewasa (grup ELF) lebih cenderung menjadi menyusui dan
harus menyusui tanpa susu formula pada usia 3 bulan dari kontrol yang dilakukan pada usia
24 sampai 48 jam untuk menyusui secara eksklusif. Intervensi kami menetapkan batas yang
jelas untuk durasi suplementasi dengan menghentikan susu formula pada awal produksi susu
matang. Pendekatan ini mengakibatkan penggunaan susu formula kurang dari usia 1 minggu,
yang mungkin telah mengakibatkan peningkatan dalam menyusui di usia 3 bulan.
Bertentangan dengan saat penekanan kesehatan masyarakat dalam pengurangan
menggunakan susu formula selama perawatan pasca melahirkan, penelitian ini menunjukkan
bahwa suplementasi awal terbatas volume susu formula sebelum produksi ASI dapat
membantu dukungan jangka panjang ASI bagi bayi dengan penurunan berat badan di awal
usianya.

Hasil yang kami temukan sangat penting karena menekankan pada pengurangan penggunaan
susu formula di saat perawatan pasca kelahiran. Beberapa kualitas diukur, khususnya komite
bersama yang mengukur kualitas menyusui secara eksklusif, yang dapat berpengaruh
terhadap hasil terhadap kesehatan bayi. Susu formula yang tidak perlu digunakan selama
perawatan pasca melahirkan di rumah sakit yang justru saat ini yang memiliki angka tinggi
penggunaannya akan meningkatkan durasi menyusui. Namun, ada kemungkinan bahwa
upaya saat ini untuk mengurangi penggunaan susu formula memiliki efek menghilangkan
manfaat susu formula di rumah sakit. Mungkin untuk mengidentifikasi peningkatan risiko
penghentian proses menyusui ada beberapa faktor seperti berat badan, dan menawarkan ELF
sebagai ukuran yang mendukung ibu yang punya niat yang tinggi untuk menyusui namun
mempertimbangkan penurunan berat badan. ELF menyediakan suatu strategi untuk
menggunakan jumlah yang terbatas dan durasi suplemen yang diberikan.

Penelitian kami memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, ukuran sampel kami kecil, yang
mengarah interval yang luas dan ketidakmampuan untuk melakukan melakukan penelitian
terhadap subkelompok yang dapat dianalisis menggunakan regresi atau multivariat. Jika
ukuran sampel memungkinkan, penyesuaian dalam sisi paritas akan menjadi penting, karena
ada kecenderungan untuk paritas lebih tinggi dalam kelompok intervensi dan multiparitas
yang merupakan bentuk prediksi kuat menyusui eksklusif di usia 3 bulan. Dan juga, di
kelompok yang diteliti, 50% dari ibu yang berpendidikan, dan sebagian besar berasal dari
kulit putih atau Asia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian
kami pada keragaman populasi dan dengan ukuran sampel yang cukup besar untuk
memungkinkan subkelompok dan analisis multivariat. Kedua, peserta dalam penelitian kami
direkrut di San Francisco Bay Area, dan durasi menyusui secara keseluruhan terhitung tinggi.

Ada kemungkinan bahwa intervensi kami mungkin kurang efektif antara populasi yang
menyusui dengan durasi yang lebih pendek, karena ibu pada populasi lebih sedikit dengan
rata-rata durasi menyusui dan menghentikannya mempunyai alasan yang berbeda-beda.
Ketiga, ibu yang memilih untuk mendaftar di penelitian kami terbuka, baik yang menyusui
secara eksklusif atau suplementasi dengan susu formula. Oleh karena itu, hasil kami mungkin
tidak dapat digeneralisasikan untuk ibu yang dengan baik niat yang kuat untuk menyusui
secara eksklusif atau niat yang mempunyai keinginan kuat untuk menggunakan susu formula.
Banyak ibu memiliki niat yang kuat untuk memilih jenis makanan, dan pengaruh ELF pada
bayi dapat disimpulkan dalam studi ini. Keempat, kita tidak memasukkan rincian penilaian
dari semua infeksi dan alergi sebagai bagian dari kesehatan bayi. Oleh karena itu, kami tidak
dapat mengatakan apakah volume yang kecil dari penggunaan susu formula ELF dapat
berpengaruh terhadap hasil kesehatan bayi dikemudian hari, dan jika demikian, apakah ada
pengaruh ELF yang merugikan terhadap kesehatan bayi atau mungkin efek yang
menguntungkan dari ELF terhadap total durasi menyusui. Penelitian lebih lanjut, termasuk
yang bersifat jangka panjang terhadap alergi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan penting.

KESIMPULAN

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pada bayi dengan kehilangan berat badan 5%
dalam usia 36 jam pertama, suplementasi dengan pemberian sedikit susu formula dengan
cara yang terjadwal mungkin dapat memberikan manfaat terhadap pemberian ASI eksklusif
pada usia 1 minggu dan usia 3 bulan. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
mengkonfirmasi hal ini dalam skala yang lebih besar dan dengan populasi yang beragam, dan
untuk menentukan apakah pengurangan tersebut dapat dikaitkan dengan total penggunaan
susu formula dan peningkatan kondisi kesehatan. Jika penelitian yang akan datang akan
membahas lagi, ELF bisa menjadi strategi untuk mengelola penggunaan susu formula di
rumah sakit untuk bayi yang dikategorikan populasi tertentu, dan pada saat yang sama,
meningkatkan kemungkinan menyusui tanpa suplementasi dalam kurun waktu yang panjang.