Anda di halaman 1dari 15

METODE PELAKSANAAN BANGUNAN

PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)


Dosen Pengampu : Ibu Atika Ulfah Jamal S.T., M.Eng., M.T.

Oleh:
Fildzah Adhania J. Paransa / 13 511 178 / Kelas B

JURUSAN TEKNK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Pondasi
Rakit (Raft Foundation) ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga
kami berterima kasih pada Ibu Atika Ulfah Jamal S.T., M.Eng., M.T. selaku Dosen mata
kuliah Metode Pelaksanaan Bangunan yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai pondasi rakit. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
di masa depan.

Yogyakarta, April 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER................................................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI........................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................... 4
1.1.LATAR BELAKANG.................................................................................................... 4
1.2.RUMUSAN MASALAH............................................................................................... 4
1.3.TUJUAN......................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 6
2.1. PENGERTIAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)...................................... 6
2.2. PENGGUNAAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION).................................... 6
2.3. JENIS-JENIS PONDASI RAKIT................................................................................ 7
2.4 METODE PELAKSANAAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)................. 8
2.4.1. Tahapan Pekerjaan Pelaksanaan Pondasi Rakit......................................................... 8
2.4.2. Alat-alat yang Digunakan Dalam Metode Pelaksanaan Raft Foundation.................. 10
2.4.3. Kebutuhan Sumber Daya............................................................................................ 10
2.4.4. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Pekerjaan Pondasi Rakit........................... 10
2.5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION).. 11
BAB III PENUTUP............................................................................................................. 12
3.1. Kesimpulan.................................................................................................................... 12
LAMPIRAN GAMBAR... 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 15

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pondasi bangunan adalah kontruksi yang paling terpenting pada suatu bangunan.
Karena pondasi berfungsi sebagai penahan seluruh beban (hidup dan mati ) yang berada di
atasnya dan gaya gaya dari luar. Pondasi merupakan bagian dari struktur yang berfungsi
meneruskan beban menuju lapisan tanah pendukung dibawahnya. Dalam struktur apapun,
beban yang terjadi baik yang disebabkan oleh berat sendiri ataupun akibat beban rencana
harus disalurkan ke dalam suatu lapisan pendukung dalam hal ini adalah tanah yang ada di
bawah struktur tersebut. Pada pondasi tidak boleh terjadi penurunan pondasi setempat
ataupun penurunan pondasi merata melebihi dari batas batas tertentu.
Banyak faktor dalam pemilihan jenis pondasi, antara lain beban yang direncanakan
bekerja, jenis lapisan tanah dan faktor non teknis seperti biaya konstruksi, dan waktu
konstruksi. Jenis pondasi yang dipilih harus mampu menjamin kedudukan struktur terhadap
semua gaya yang bekerja. Selain itu, tanah pendukungnya harus mempunyai kapasitas daya
dukung yang cukup untuk memikul beban yang bekerja sehingga tidak terjadi keruntuhan.
Bentuk pondasi ditentukan oleh berat bangunan dan keadaan tanah disekitar
bangunan, sedangkan kedalaman pondasi ditentukan oleh letak tanah padat yang mendukung
pondasi. Jika terletak pada tanah miring lebih dari 10%, maka pondasi bangunan tersebut
harus dibuat rata atau dibentuk tangga dengan bagian bawah dan atas rata. Jenis pondasi
dibagi menjadi 2, yaitu : Pondasi dangkal, dan Pondasi dalam. Pondasi dangkal adalah
pondasi yang digunakan pada kedalaman 0.8 1 meter, karena daya dukung tanah telah
mencukupi.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang disebut dengan pondasi rakit (raft foundation)?
2. Bagaimana pondasi rakit (raft foundation) digunakan?
3. Apa saja jenis-jenis pondasi rakit (raft foundation)?
4. Bagaimana metode pelaksanaan pondasi rakit (raft foundation)?
5. Apa kelebihan dan kekurangan pondasi rakit (raft foundation)?

4
1.3. TUJUAN
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita
semua tentang pondasi rakit, penggunaannya, jenis-jenisnya, metode pelaksanaannya, beserta
kekurangan dan kelebihannya.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)


Pondasi rakit (raft foundation) adalah salah satu tipe pondasi bangunan gedung
bertingkat. Jika pada umumnya, pondasi gedung merupakan gabungan antara tiang pancang /
bored pile, pile cap / poor dan tie beam, maka sistem raft foundation menghilangkan pile cap
dan tie beam diganti dengan sebuah pondasi masif yang menyatukan seluruh pile cap atau
bored pile yang ada. Jika disederhanakan, raft foundation bisa juga disebut sebagai pile cap
raksasa, yang menggabungkan bukan hanya 4/5 tiang pancang / bored pile, melainkan semua
bagian gedung.
Pondasi rakit (raft foundation) adalah pelat beton yang berbentuk rakit melebar
keseluruh bagian dasar bangunan, yang digunakan untuk meneruskan beban bangunan ke
lapisan tanah dasar atau batu-batuan di bawahnya. Sebuah pondasi rakit bisa digunakan untuk
menopang tangki-tangki penyimpanan atau digunakan untuk menopang beberapa bagian
peralatan industri. Pondasi rakit biasanya digunakan di bawah kelompok silo, cerobong, dan
berbagai konstruksi bangunan.

2.2. PENGGUNAAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)


Sebuah pondasi rakit bisa digunakan di mana tanah dasar mempunyai daya dukung
yang rendah dan/atau beban kolom yang begitu besar, sehingga lebih dari 50 % dari luas
bangunan diperlukan untuk pondasi telapak sebar konvensional agar dapat mendukung
pondasi. Disarankan penggunaan pondasi rakit sebab lebih ekonomis karena dapat
menghemat biaya penggalian dan penulangan beton.
Pondasi rakit biasanya juga dipakai untuk ruang-ruang bawah tanah (basement) yang
dalam, baik untuk menyebarkan beban kolom menjadi distribusi tekanan yang lebih seragam
dan untuk memberikan lantai buat ruang bawah-tanah. Keuntungan khusus untuk ruang
bawah-tanah yang berada pada atau di bawah muka air tanah ialah karena merupakan
penyekat air.
Bangunan bawah tanah yang lantainya terletak beberapa meter di bawah tanah,
dibangun dengan cara menggali tanah sampai kedalaman dasar pondasi. Berat tanah yang
digali untuk ruang tanah ini, untuk setiap pengurangan tekanan per satuan luas sebesar 0,5
kg/cm2 (50 kN/m2) kira-kira setara dengan bangunan kantor berlantai 3 sampai 4. Jadi

6
bangunan sebesar ini dapat didukung oleh ruang bawah tanah yang tanah dasarnya berupa
lempung sangat lunak dan muda mampat, yang secara teoritis beban tersebut tidak akan
mengakibatkan penurunan.
Pondasi rakit bisa ditopang oleh tiang-pancang, di dalam keadaan seperti air tanah
yang tinggi (untuk mengontrol gaya apung) atau di mana tanah dasar mudah terpengaruh oleh
penurunan yang besar. Perencana harus memperhatikan bahwa sebagian dari tegangan sentuh
pondasi telapak yang akan menembus tanah ke kedalaman yang lebih besar, atau mempunyai
intensitas yang lebih besar pada kedalaman yang lebih dangkal.

2.3. JENIS-JENIS PONDASI RAKIT


Pondasi rakit terbagi lagi dalam beberapa jenis yang lazim atau sering digunakan,
yaitu:
1. Pelat rata
2. Pelat yang ditebalkan di bawah kolom
3. Balok dan pelat
4. Pelat dengan kaki tiang
5. Dinding ruang bawah tanah sebagai bagian pondasi telapak

Gambar 1 Jenis-jenis pondasi rakit

Pada gambar pondasi rakit di atas menggambarkan pondasi rakit yang mungkin dapat
dibuat. Perancangan rakit yang paling lazim terdiri dari sebuah pelat beton rata dengan tebal
0,75 - 2 m, dan dengan alas serta dengan penulangan dua arah atas dan bawah yang menerus.

7
2.4. METODE PELAKSANAAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)
Pondasi rakit dapat dipakai pada tanah dengan kapasitas dukung rendah atau jika jarak
kolom atau beban lain sangat dekat dalam kedua arah sehinggan seluruh telapak bersentuhan
satu sama lain sehingga jika menggunakan pondasi telapak luasan besar (tidak ekonomis)..
Pondasi rakit sangat bermanfaat untuk mengurangi perbedaan penurunan dalam berbagai
tanah. Pondasi rakit merupakan bagian bawah struktur yang berbentuk rakit melebar
keseluruh bagian dasar bangunan.
2.4.1. Tahapan Pekerjaan Pelaksanaan Pondasi Rakit
1. Persiapan Peralatan
a. Menentukan peralatan apa saja yang akan digunakan dalam pekerjaan pengecoran,
peralatan tersebut harus memiliki daya jangkau dan daya angkut yang memadai.
b. Semua peralatan harus telah diperiksa dan diinspeksi secara rutin dan ketika akan
melakukan pengecoran.
c. Pipa penghubung harus dipasang dengan jarak 2 meter dengan spesi 1 meter
terhadap tumpuan.
d. Menyediakan penerangan yang baik di lokasi pengecoran apabila pekerjaan
dilakukan di malam hari.
e. Menyiapkan terpal (tarpaulin) penutup untuk mengantisipasi bila terjadi hujan dan
mengarahkan air hujan ke luar lokasi pengecoran.
f. Pompa beton harus berada dekat dengan lokasi pengecoran untuk menghindari
terlalu banyaknya sambungan pipa.
2. Persiapan Pengecoran Beton
a. Sebelum memulai pekerjaan, persetujuan dan izin kerja harus diberikan oleh Sub
Kontraktor dan semua inspeksi harus sudah dilaksanakan dan disetujui oleh
Supervisor Sub Konsultan.
b. Ketinggian beton yang akan dituangkan harus diberi tanda dengan jelas di sekitar
formwork.
c. Lokasi pengecoran selanjutnya dibersihkan menggunakan udara terkompresi dan
membuang sisa-sisa kawat pengikat serta disiram dengan air bersih yang kemudian
dialirkan keluar lokasi pengecoran.
d. Pagar pengaman atau barikade pengaman harus sudah terpasang agar proses
pengecoran tidak mengganggu pekerjaan yang lain.
e. Untuk pemesanan beton, jumlah beton dihitung berdasarkan shop drawing yang
telah disetujui. Untuk pengecoran skala kecil, pemesanan dilakukan sesuai
8
perhitungan. Untuk pengecoran skala besar, jumlah pemesanan ditambah 3% dari
total beton yang dibutuhkan dan harus dikalkulasi berulang kali untuk mencegah
pemesanan berlebih.
f. Peralatan cadangan harus siap di posisi yang ditentukan dan telah diperiksa serta
telah disetujui oleh Sub Konsultan sebelum pengecoran berlangsung.
3. Pengecekan Beton
a. Surat pengantaran beton harus dicek untuk memastikan mix design, kuantitas, dan
slump tepat.
b. Waktu pembuatan beton harus dicek dan dipastikan pengecoran sebelum 2 jam
setelah pembuatan.
c. Tes slump harus dikerjakan menurut sampel kubus yang diambil.
d. Metode pengambilan sampel :
Pondasi rakit, pelat lantai dan balok = setiap 25m3 harus diambil 1 set sampel (3
silinder). Bila jumlah beton melebihi 100m3 1 set sampel diambil setiap 100m3.
Kolom dan dinding = setiap truk mixer harus diambil 1 set sampel. 1 set sampel
berisi 3 silinder. 1 silinder untuk pengujian kuat tekan beton 7 hari, 1 silinder
untuk pengujian kuat tekan beton 28 hari, dan 1 silinder untuk cadangan.
4. Pelaksanaan Pengecoran Pondasi Rakit
a. Tidak boleh ada penambahan air pada beton.
b. Memastikan semua platform dan jalan pekerja telah terpasang di sekitar lokasi
pengecoran.
c. Pengecoran harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pengecoran
tidak rata, segregasi, terbuangnya material, serta rusaknya formwork.
d. Beton haruslah terbentuk sedekat mungkin dengan hasil akhir sehingga tidak
membutuhkan pekerjaan lain setelahnya.
e. Beton haruslah dicor secara berlapis sesuai ukuran vibrator, kecuali untuk area
basemen yang dicor langsung hingga level final.
f. Beton tidak boleh digerakkan secara lateral oleh vibrator.
g. Beton harus digetarkan sesuai pola yang ditentukan untuk memastikan kepadatan
beton.
h. Ketukan ataupun getaran lain dari luar tidak diperbolehkan.
i. Beton tidak boleh jatuh bebas, lebih dari 1,5m untuk pekerjaan tertutup dan 0,9m
untuk pekerjaan terbuka.

9
j. Lapisan beton horizontal yang telah dipadatkan tidak boleh melebihi 0.3m spasi
harus diatur agar tidak terjadi segregasi.
k. Setelah ketinggian beton mencapai batas yang diinginkan, dilakukan pengukuran
level dan finish dibuat sesuai standar desain.
l. Bila beton akan dituang ke lokasi yang bersinggungan dengan beton yang sudah
ada sebelumnya, tembok beton yang telah ada akan disiram air atau dilapisi cairan
pengikat yang telah disetujui.
m. Setelah beton mengeras dan formwork telah dilepas, beton diselimuti dengan
karung goni basah dengan overlap 100mm dan tidak dibuka setidaknya selama 7
hari.

2.4.2. Alat-alat yang Digunakan Dalam Metode Pelaksanaan Raft Foundation


1. Beton ready mix
2. Pagar pembatas = dia. 2 inch, tinggi 1100 mm.
3. Perlengkapan curing = karung goni
4. Truk mixer = sesuai volume beton
5. Pompa beton = disesuaikan
6. Mobile crane = disesuaikan (biasanya cukup 1 unit)
7. Converter 2-3 sockets = disesuaikan (biasanya 1-2 unit)
8. Dumper = 1unit
9. Theodolit dan perlengkapan leveling = disesuaikan
10. Penyemprot air = 1 unit
11. Kompressor : disesuaikan
12. Bucket beton = 1 unit
13. Vibrator : disesuaikan

2.4.3. Kebutuhan Sumber Daya


Untuk keseluruhan pengecoran digunakan sumber daya tenaga kerja berupa tenaga
kerja untuk leveling (survei), tenaga kerja untuk pekerjaan jidar, tenaga kerja untuk vibrator,
tenaga kerja untuk pengecoran, dan tenaga kerja untuk curing.

2.4.4. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Pekerjaan Pondasi Rakit


1. Izin kerja alat dan pekerja
2. Pengawasan pengujian slump
10
3. Pengawasan pengujian tekan
4. Perlengkapan K3 yang digunakan
5. Pengawasan K3 dalam pekerjaan
6. Alur keluar-masuk truk mixer

2.5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PONDASI RAKIT (RAFT


FOUNDATION)
2.5.1. Kelebihan Pondasi Rakit (Raft Foundation)
1. Pondasi ini lebih murah bila dihitung dari sisi biaya.
2. Galian tanah lebih sedikit karena hanya berada di titik yang terdapat kolom
strukturnya.
3. Penggunaannya pada bangunan bertingkat lebih handal disbanding pondasi batu
belah, baik sebagai penopang beban vertikal maupun gaya horizontal seperti gempa,
angin, ledakan, dan lain-lain.
2.5.2. Kekurangan Pondasi Rakit (Raft Foundation)
1. Harus dipersiapkan bekisting atau cetakan terlebih dulu (persiapan lebih lama).
2. Diperlukan waktu pengerjaan lebih lama (harus menunggu beton kering/sesuai umur
beton).
3. Tidak semua tukang bisa mengerjakannya.
4. Diperlukan pemahaman terhadap ilmu struktur.
5. Pekerjaan rangka besi dibuat dari awal dan harus selesai setelah dilakukan galian
tanah.

11
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Pondasi rakit (raft foundation) adalah pelat beton yang berbentuk rakit melebar
keseluruh bagian dasar bangunan, yang digunakan untuk meneruskan beban bangunan ke
lapisan tanah dasar atau batu-batuan di bawahnya.
Raft foundation digunakan untuk menyebarkan beban dari struktur atas area yang luas,
biasanya dibuat untuk seluruh area struktur. Pondasi raft digunakan ketika beban kolom atau
beban struktural lainnya berdekatan dan pondasi pad saling berinteraksi. Pondasi raft
biasanya terdiri dari pelat beton bertulang yang membentang pada luasan yang ditentukan.
Pondasi raft memiliki keunggulan mengurangi penurunan setempat dimana plat beton akan
mengimbangi gerakan diferensial antara posisi beban. Pondasi raft sering dipergunakan pada
tanah lunak atau longgar dengan kapasitas daya tahan rendah karena pondasi radft dapat
menyebarkan beban di area yang lebih besar.

12
LAMPIRAN GAMBAR

Bagian-bagian pondasi rakit :

Contoh proyek yang menggunakan raft foundation :

13
Metode pelaksanaan pondasi rakit :

14
DAFTAR PUSTAKA

Scribd (YUDHA PONDASI I) https://www.scribd.com/doc/220962793/Yudha-


Pondasi-i , April 2015

Dmercy Corporation (PENGERTIAN RAFT FOUNDATION YANG


MEMBUTUHKAN MASS CONCRETE DI DALAM PROYEK KONSTRUKSI)
http://www.dmercy-corporation.com/2012/02/apakah-itu-raft-foundation.html , April 2015.

Sang Pencari (PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)) http://bit.ly/1Huvo13 ,


April 2015.

Jefri Hutagalung (METODE PELAKSANAAN MAT FOUNDATION (PONDASI


RAKIT)) http://bit.ly/1Go7b9D , April 2015.

15

Anda mungkin juga menyukai