Anda di halaman 1dari 79

PEDOMAN

USAHA KESEHATAN
GIGI SEKOLAH
(UKGS)
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2014
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

617
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat
P Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Pedoman usaha kesehatan gigi sekolah
(UKGS),-- Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2012

ISBN 978-602-235-191-7

1. Judul I. DENTISTRY
II. ORAL HEALTH III. CHILD HEALTH
SERVICES
@]

17
Ind
p

PEDOMAN
USAHA KESE,HATAN
GIG I SE,KOLAH (UKGS)

Dlrektorat Bina Upaya Kesehatan Dasar

Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan

Kementerlan Kesehatan RI

2014
Cetakan Kedua
KEMENTERIAN KESEHATAN RI

DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA ,KESEHATAN


Jalan H.R. Rasuna Said Blok X5 Kilvlin[ 4-9 Kotak Pos 3097, 1196 Jakarta 12950

Telepon: (021) 5201590 (Hunting) Faximile : (021) 52618 !14, 5203872

Sural Elekrronik : yanmcd@dcpkcs.go.id. scyanrncd@dcpkes.go.id. mailing list: buk3@yahoogrollp,com

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYAKESEHATAN

NOMOR: HK.02.04/1I/963/2012

TENTANG

PEDOMAN USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS)

DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN,

Menimbang : a. bahwa Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)


adalah upaya kesehatan masyarakat yang
ditujukan untuk memelihara, meningkatkan
kesehatan gigi dan mulut seluruh peserta didik
di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya
kesehatan perorangan berupa upaya kuratif
bagi individu (peserta did'ik) yang memerlukan
perawatan kesehatan gigi dan mulut.
b. bahwa pokok program UKS/UKGS yaitu pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan
lingkungan kehidupan sekolah sehat, sehingga
dapat dicapai derajat kesehatan gigi dan mulut
yang optimal bagi anak sekolah.
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan b perlu menetapkan
Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)
dengan Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya
Kesehatan.
Mengingat 1. Undang-Undang RI Nemor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
2. Undang-Undang RI Nemor 25 tahun 2009 tentang
Petayanan Publik (Lernbaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 112);
3. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan (Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Kabupaten/Kota (Lembaran Negara
RepubHk Indonesia Tahun 2007 NomOr 82);
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/
Menkes/Per/X/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Keselhatan Di Kabupaten/Kota;
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1144/
Menkes/Per/V111/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan;
7. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional,
Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Meteri
Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1/U/
SKB/2003, Nomor 1067/Menkes/SKB/VII/2003,
Nomor MA/230 A/2003, Nomor 26 Tahun 2003
tentang Pembinaan Dan Pengembangan Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS);
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/
Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar
Pusat Kesehatan Masyarakat.

ii
MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA


KESEHATAN TENTANG PEDOMAN USAHA KESEHATAN
GIGI SEKOLAH (UKGS)

KESATU Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)


sebagaimana terlampir dalam Surat Keputusan ini.

KEDUA Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)


dipergunakan sebagai acuan dalam pelaksanaannya.
KETIGA Keputusan ini ber laku sejak tanggal ditetapkan, apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diperbaiki
sebagaimana mestinya .

Ditetapkan di JAKARTA
Pada tanggal 14Juni2012

DIREKTUR JENDERAL
/

SUPRIYANTORO
NIP 195408112010061001

iii
iv

KATAPENGANTAR

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut


me1alui jalur sekolah, serta memperhatikan perkembangan program dan
kegiatan serta struktur organisasi di berbagai jenjang yang ada, maka
diperlukan penguatan pe1aksanaan di usaha kesehatan gigi sekolah pada
tingkat lanjut, dengan disusunnya Buku Pedoman Usaha Kesehatan Gigi
Sekolah (UKGS) dengan memasukan inovasi-inovasi program kesehatan
gigi dan mulut yang bam.

Buku Pedoman ini disusun sebagai pegangan bagi tim pembina dan penge10la
usaha kesehatan sekolah (UKS)/usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) pada
jenjang sekolah dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan memperhatikan
tiga pokok program UKSIUKGS yaitu pendidikan keschatan, pelayanan
kesehatan dan pembinaan liogkungan kehidupan sekolah sehat, schingga
dapat dicapai derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal bagi anak
sekolah.

Tujuan penyusunan buku ini adalah memberikan suatu araban atau pedoman
bagi tim pembina, petugas kesehatan sekolah, petugas lintas program dan
sektor terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan UKGS guna
mewujudkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berrnutu, merata
dan terjangkau.

Akhir kata diucapkan terimakasih kepada para penyusun dan kontributor


yang telah memberikan masukan sampai dengan tersusunnya buku ini,
saran dan kritikan sangat kami harapkan guna menyempumakan buku ini
dikemudian hari.

Jakarta,
Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar

dr. H.R. Dedi Kuswenda, M.Kes

v
vi

SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
karunia dan rahmat-Nya yang telah diberikan, sebingga tersusunnya Buku
Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS).

Usaba Kesebatan Gigi Sekolab (UKGS) adalab upaya kesebatan masyarakat


yang ditujukan untuk memelibara, meningkatkan kesehatan gigi dan mulut
selurub peserta didik di sekolab binaan yang ditunjang dengan upaya
kesehatan perorangan berupa upaya promotif dan preventif bagi peserta
didik.

Tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan derajat kesehatan gigi dan
mulut peserta didik di sekolah dasar (SD) / madrasab ibtidaiyah (MI) secara
optimal melalui pengetahuan sikap dan tindakan peserta didik dalam
memelihara kesehatan gigi dan mulut, meningkatkan peran serta guru,
dokter kecil, orang tua dalam upaya promotif dan preventif, serta teIpenuhinya
kebutuhan pelayanan medik gigi dan mulut bagi peserta didik.

Penyusunan buku ini didasarkan pada tiga pokok program UKSfUKGS


yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan
kebidupan sekolah sehat, dengan harapan dapat dicapai derajat kesehatan
gigi dan mulut yang optimal bagi anak sekolah.

Saya menyambut baik dengan telah tersusunnya Buku Pedoman Usaha


Kesehatan Gigi Sekolab dan menyampaikan penghargaan serta ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi terhadap
penyusunan buku ini.

Jakarta,
Direktur Jenderal Bina Uoaya Kesebatan
/

dr. Supriyantoro, Sp. P, MARS

vii
TIM PENYUSUN

drg. Kartini Rustandi, M.Kes

dr. Bambang Sardjono, MPH

drg. Sudono, M.Kes

drg. Dewi Kartini Sari, M. Kes

drg. Indra R. Dharmawan

Dr. drg. Irene Adyatmaka

drg. Rr. Nurindah K., M. Kes

drg. Aditia Putri

drg. Leslie Nur Rahmani

KONTRIBUTOR
dr. H.R. Dedi Kuswenda, M.Kes

drg. Saraswati, MPH

drg. Diah Handaryati

drg. Harry Agung Cahyadi, M.Kes

drg. Sri Susilawati, M. Kes

drg. Dewi Sodja Laela, M.Kes

Zaeni Dahlan, MPH

dr. Ariani SpKO

Natsir, SKM, Mkes

viii
DAFTARISI

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA

KESEHATAN NOMOR: HK.02.041II/963/2012.. ......................... 1

KATAPENGANTAR ............................................................................ V

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA


KESEHATAN ........................................................................................... VB

DAFTAR lSI .... ......................... .. .. .. ........................ ..................... . I..X

BAB I PENDAIIlJLUAN ............................................................ 1

A. LATAR BELAKANG .............................. ............... 1

B. MAKSUD DAN TUJUAN ..................................... 3

C. DASAR HUKlTM .... .. ................ .... ..................... 3

BAB IT ANALISIS SITUASI DAN KECENDERUNGAN

UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT ................. 5

A. STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULlIT ............... 5

B. PERILAKU MASYARAKAT ..................................... 7

1. Perilaku Menyikat Gigi ................................. .... 7

2. Motivasi Berobat Gigi ...... ........ .. ..................... 8

C. KEADAAN LINGKUNGAN ..................................... 9

BAB ill UPAYA KESEHATAN GIGI SEKOLAH ........ .. ......... 11

A. PENGERTIAN .............................................................. 11

B. TUJUAN .......... ...... ......... .................. ........... .......... ...... 12

C. SASARAN ........... .. ....................... ................... ... 12

D. RUANG LINGKUP ....................................................... 13

C. KEBIJA.KAN" ..... ......................... ............................. 13

BAB IV STRATEGI DAN LANGKAH-LANGKAH ..... ............. 15

A. STRATEGI ................................................................ 15

B. LANGKAH - LANGKAH ................. .................... 17

BABV UKGS INOVATIF .......................................... .............. 22

A. DONUT IRENE ......................... ......................... ....... 22

1. Program Donut Irene .......... ........................ ... .... 22

ix
2. Terapi Mineralisasi CPP - ACP ............................ 27

3. Surface Protection (pre fissure sealant / fissure

protection) ............. ...... ... ... ............................... 30

B. PAKET PELAYANAN KESEHATAN DASAR PADA

ANAK-ANAK DI SEKOLAH ..................................... 33

1. Latar Belakang ........................................ ..... ...... 33

2. Evidencefibased intervention ..................................... 34

3. Pendampingan teknis dan pembentukan

kapasitas ............................................................ 35

BAB VI SISTEM PEMBIAYAAN ............................................... 38

A. DANA SEHAT ........................................................... 38

B. DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN

(BOK) ....................................................................... 38

C. DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAHI

BOS (UKS) ..................................................... ........ 40

BAB VII PENUTUP .......................................................................... 41

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 42

LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 PERANAN TENAGA YANG DILIBATKAN

DALAM UKGS .................................................... 44

LAMPIRAN 2 SUSllNAN ANGGOTA TIM PEMBINA UKGS ..... 47

LAMPIRAN 3 DAFTAR TILIK PENGAMATAN PELAKSANAAN

USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH ... .............. 50

LAMPIRAN 4 DAFTAR TILIK PELAKSANAAN USAHA

KESEHATAN GIGI SEKOLAH ............................. 51

LAMPIRAN 5 FORMAT PENILAIAN PELAKSANAAN

PROGRAM UKGS DI SEKOLAH DAN

PUSKESMAS PEMBINAAN DALAM RANGKA

LOMBA UKGS ........................................................ 53

LAMPIRAN 6 DEKLARASI BALI ........... ..... ...... ............ ...... ...... 59

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambaran pelaksanaan UKGS di Puskesmas .............. . 2


Gambar 2. Fenomena gunung es karies gigi ................................ . 6
Gambar 3. Perilaku menyikat gigi penduduk umur 5 tahun
keatas ..... .................................................................... . 8
Gambar 4. Need, potential demand dan effective demand ........... 9
Gambar 5. Program donut Irene ....... ................ ..... .......... ... .... ........ 23
Gambar 6. Pemberdayaan orangtua murid oleh tenaga kesehatan
di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ................... 24
Gambar 7. Konsultasi menggunakan Donut Irene versi komputer
ditanggapi positif oleh anak dan orangtuanya ... ............... 26
Gambar 8. Pengambilan sample plak pada permukaan gigi ............ 26
Gambar 9. Pemeriksaan derajat keasaman plak ..... ............... ..... ... 27
Gambar 10. White spot ............. ............................................................. 28
Gambar 11. Aplikasi sediaan calcium-phosphate pada pennukaan
gigi .......... .. .............................................................. 30
Gambar 12. Sikat gigi dan cuci tangan bersama .............................. 34
Gambar 13. Sikat gigi bersama sebelum pelajaran dimulai ....... .... ... 35
Gambar 14. Satu anak peserta didik satu sikat gigi .......................... 36
Gambar 15. Pasta gigi berfluor sebesar kacang polong ....................... 36
Gambar 16. Tidak berkumur setelah menyikat gigi ...... .. ......... ..... 36
Gambar 17. Sarana dan prasarana kegiatan sikat gigi dan cuci
tangan Bersama .................... .. ..................... ..... 37

xi
DAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR DELAKANG

Tujuan pembangunan kesehatan adalah terciptanya masyarakat


Indonesia yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan sehat dan
mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. Di pihak
lain pelayanan kesehatan yang diberikan di seluruh wilayah Indonesia
harus dilakukan secara adil, merata, dan optimal.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, telah ditetapkan 4 (empat)


misi pembangunan kesehatan, yaitu: (1) Menggerakkan pembangunan
nasional berwawasan kesehatan.(2) Mendorong kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat. (3)Memelihara dan meningkatkan
pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau. (4)
Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga,
masyarakat beserta lingkungannya.

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian integral dari


pelayanan kesehatan secara keseluruhan telah menetapkan indikator
status kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang optimal pada tahun
2010, yang mengacu pada Oral Health Global Goal Indicator 2010
dari WHO. Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkan Pengalaman
penyakit karies (DMF-T) tidak lebih dari 1 pada anak usia 12 tahun.

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah selain


dilaksanakan melalui kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di
Puskesmas juga diselenggarakan secara terpadu dengan kegiatan
pokok UKS dalam bentuk program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah
(UKGS) yang juga dilaksanakan oleh swasta.

1
Program UKGS sudah beIjalan sejak tahun 1951, status kesehatan
gigi pada anak usia 12 tahun masih belum memuaskan . Hasil Riset
Kesehatan Dasar 2013 , menunjukkan prevalensi karies gigi dalam 12
bulan terakhir di Indonesia adalah 72,3%. Prevalensi karies aktif
kelompok umur 12 tahun sebesar 42,6% sedangkan pengalaman karies
50,2%. Besamya kernsakan gigi yang belum ditangani dan memerlukan
penumpatan/pencabutan (RTI) pada usia 12 tahun sebesar 73,6 %
sedangkan persentasi dari jumlah gigi tetap yang sudah di tumpat
(PTI) pada usia ini barn mencapai 24,5%.

Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah salah satu


pendekatan strategis promotif-preventif kesehatan gigi dan mulut
yang berbasis sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah.
Program UKGS berintegrasi dengan program UKS. Data Rifaskes
20 II melaporkan bahwa dari 8981 Puskesmas yang disurvey, sebanyak
74,2% Puskesmas melaksanakan program UKGS dengan frekuensi
kegiatan yang bervariasi , 14,0% tidak melaksanakan. Gambar berikut
adalah gambaran persentase Puskesmas yang melaksanakan pelayanan
UKGS berdasarkan data Rifaskes 20 II .

PERSENTASEPUSKESMAS
MELAKSANAKAN UKGS

Melaksanakan
Setiap hari
Tidak Melaksanakan
2 -4 x seminggu
Tidak Menjawab . 1 x seminggu

Gambar I. Gambaran Pelaksanaan UKGS di Puskesmas

2
Standar Pelayanan Minimal (SPM)Bidang Kesehatan
Kabupaten/Kota Permenkes RI No. 7411Menkes/PerNII/2008
menunjukkan bahwa cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan
setingkat sebesar 100% pada tabun 2010, sedangkan pada Petunjuk
Teknis SPM Bidang Kesehatan di KabupateniKota Kepmenkes RI
No. 828IMenkes/SKIIXI2008 disebutkan langkah-langkah kegiatan
UKGS . Oleh karena itu kegiatan UKGS harus dilaksanakan dan
dianggarkan oleh Pemerintah Daerah setempat.

Kementerian Kesehatan RI Direktorat lenderal Bina Upaya


Kesehatan perlu menerbitkan buku Pedoman Penyelenggaraan Usaha
Kesehatan Gigi Sekolah untuk dapat menjadi pedoman bagi peJaksana
kesehatan gigi dan mulut di daerah yang pelaksanaannya di scsuaikan
dengan kemampuan dan kebutuhan daerah tanpa mengabaikan target
Indonesia Sehat.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Pedoman ini disusun dengan maksud memberikan arahan bagi petugas


kesehatan dan petugas lintas sektor terkait dalam pelaksanaan program
UKGS guna mewujudkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang
bermutu, merata dan terjangkau.

C. DASAR HUKUM

1. Undang-Undang 17 - 2007 tentang RPJPN 2005 - 2025


2. Undang-Undang 36 - 2009 ten tang Kesehatan
3. Perpres 72 - 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
4. Perpres 5 - 2010 tentang RPJMN 2010 -2014
5. Kepmenkes 375 - 2009 tentang RPJP-K 2005 - 2025
6. Undang-Undang RI nomor 23 tabun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
7. Peraturan Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota.

3
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 574/Menkesl
SKJIV12000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju
Indonesia Sehat 2010.
9. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri
Kesehatan, Menteri Agama dan Meteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor lIU/SKB/2003, Nomor 10671Menkesl
SKBN1I/2003, Nomor MAf230 AJ2003,Nomor 26 Tahun
2003, tanggal 23 Juli tentang Pembinaan Dan Pengembangan
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
10. Keputusan Bersama Menteri Pendididkan Nasional, Menteri
Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 2/P/SKB/2003, Nomor 1068/Menkes
SKB/SKBNW2003, Nomot MAf230 B/2003, Nomor 4415
404 Tahun 2003 Tanggal 23 Juli 2003 Tentang Pembina Us aha
Kesehatan Sekolah (UKS) Pusat.
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 741IMenkes/PerNll/2008,
tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota
12. Keputusan Menteri Kesehatan RI no. 828IMenkes/SKIIXI2008
ten tang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di KabupatenIKota
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1 tahun 2014 tentang
Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan Undang-Undang
RI nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional.
14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 101 tahun
2013 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional
Sekolah Tahun Anggaran 2014
15. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat.

4
BABII

ANALISIS SITUASI DAN KECENDERUNGAN

UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI INDONESIA

A. STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit masyarakat yang


dapat menyerang semua golongan umur yang bersifat progresif dan
akumulatif.
Hasil studi morbiditas SKRT-Surkesnas 200 I menunjukkan dari
prevalensi 10 (sepuluh) kelompok penyakit yang dikeluhkan
masyarakat, penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama
dengan angka prevalensi 61 % penduduk, dengan persentase tertinggi
pada golongan umur lebih dari 55 tahun (92%). Penyakit gigi dan
mulut yang terbanyak dialami masyarakat di Indonesia adalah karies
gigi dan penyakit periodontal. Mengacu pada Indikator Oral Health
Global Goal 2010 dari WHO status kesehatan gigi dan mulut penduduk
Indonesia pada tahun 1995,2007 dan 2013 adalah sebagai berikut :

No Indikator Target Hasil


Derajat Kesehatan Gigl & Mulut 2010 SKRT Rlskes Riskes
I
KEM J995 das das
KES 2007 2013
.. _. --.-

1. Anak umur 5-6 tahun


- Bebas karies 90% -

2. Anak umur 12 Tabun


- DMF-T index J 2,21 0,88* 1,4
- PTI (F:DMF-T) 50 0/0 4.52%** 0,73% 24,5%

3. Remaja umur 18 Tahun


- Komponen M =0 0 0;91 0,57% 2,8%

5
4. Dewasa umur 35 - 44 Tahun
- Penduduk dgn minimal 20 gigi berfungsi 90% 85 , 1%
- Penduduk tanpa gigi (edentulous) 2% 0,5% 0,4% 0,3%

5. Tua umur > 65 tahun


- Penduduk dgn minimal 20 gigi bergungsi 75% 29%
- Pcnduduk tanpa gigi (edentulous) 5% 22,6% 17.9% 17, 1%

*Deteksi karies gigi menurut RISKESDAS 2007 adalah D3 keatas


merupakan puncak gunung es. Keadaan sebenamya dari karies yang
tidak terditeksi jauh lebih berat.

rn_cno<ttc threshold
detl!mllMS who! Is recorded
Threshold used in
OS dl....... or lOund

cla ssiu l epidem ic/osle.1


sa..rvevexamination

Thre.holdund in
manyplilctlte &
re... arch &~~

" 1"'0,
........ . . ..
+1"""", d NK1db",only _lh
le... FOTla~
_d .~-~
lr~i!oon.ald""l"c>S1 ic ~Id$

1 . "'bchnlC;jJI ""I+;jJIIHOOI\.in;jJ ~_lJOof~ Threshold


~w al!!!:by w
1
~ .......stic!ooIs
now & .. lhe futur1!

G mOOr 2. Fenomena /.!unung es karies gigi

Masing-masing hasil penelitian tidak bisa diperbandingkan karena


menggunakan metode penelitian yang berbeda. Meskipun angka DMF
T kecil namun angka perbandingan antara gigi yang telah ditumpat
terhadap gigi yang belum ditangani sangat besar yaitu baru 0 ,7%
kasus yang sudah ditangani oleh tenaga kesehatan gigi. Selebihnya

6
sebesar 99,3% kasus yang belum tertangani. Apabila dibiarkan maka
gigi-gigi tersebut bertambah parah sehingga indikasi untuk pencabutan.
Berarti komponen target WHO 2010 untuk komponen M di usia 18
th sebesar 0 hanya dapat dicapai bila ada upaya memutus mata rantai
karies dengan melakukan pencegahan dan perlindungan gigi pada
generasi muda seawal mungkin. Bila tidak dilakukan maka target
tidak akan pernah tercapai, yang berarti secara etikolegal telah teIjadi
pembiaran secara sistematik oleh layanan kesehatan gigi mulut di
Indonesia yang menyebabkan generasi muda kehilangan giginya.
Sehubungan dengan situasi terse but diatas menjadi kebutuhan
yang mendasar untuk memenuhi pelayanan kesehatan gigi pada anak
sekolah terutama pada aspek menyelamatkan apa yang masih bisa
diselamatkan pada gigi anak bangsa disamping upaya edukatif untuk
mempertahankan gigi yang sehat. Oleh karena itu komponen KlE dan
deteksi dan penanganan dini pada program UKGS merupakan upaya
wajib untuk dilaksanakan. Dengan demikian tanpa kedua komponen
tersebut maka UKGS sulit untuk dikatakan sebagai program yang
efektif, efisien dan bermutu.
Dari indikator diatas tampak jelas bahwa status kesehatan gigi
masyarakat yang optimal bisa dicapai dengan meningkatkan upaya
promotif - preventif sejak usia dini, sampai dengan usia lanjut.
Kebijakan paradigma sehat yang mengutamakan upaya promotif
preventif disamping upaya kuratif - rehabilitatif sangat tepat untuk
mencapai sasaran tersebut.

B. PERILAKU MASYARAKAT

1. Perilaku Menyikat Gigi

Setiap orang perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara
menyikat gigi dengan benar untuk mencegah teIjadinya karies gigi.
Pertanyaan tentang perilaku menyikat gigi dalam Riskesdas 2013
bertujuan untuk mengetahui kebiasaan dan waktu menyikat gigi.

7
Definisi berperilaku benar dalam menyikat gigi adalah kebiasaan
menyikat gigi setiap hari sesudah makan pagi dan sebelum tidur
malam. Proporsi penduduk umur.2 10 tahun sebagian besar (93,8%)
menyikat gigi setiap hari . Provinsi dengan proporsi tertinggi adalah
DKI Jakarta (98,1%) dan terendah Papua (49,6%). Sebagian besar
pendudukjuga menyikat gigi pada saat mandi sore, yaitu sebesar 79,7
persen dengan urutan tertinggi di Bengkulu sebesar 94,2 persen, dan
yang terendah di Sulawesi Selatan sebesar 43,2 persen.

Proporsi penduduk ~ 10 tahun dengan Berperilaku


benar sikat gigi menu rut Provinsi, 2007 & 2013
so

10

. 2.0)1 . 1013

Gambar 3. Perilaku menyikat gigi penduduk umur 5 tahun keatas,

RISKESDAS 2013

2. Motivasi Berobat Gigi

RISKESDAS 2013 berdasarkan hasil wawancara sebesar 25,9 persen


penduduk Indonesia mempunyai masalah gigi dan mulut dalam 12
bulan terakhir (potential demand). Diantara mereka, terdapat 31,1
persen yang menerima perawatan dan pengobatan dari tenaga medis
gigi (perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesiali s),

8
sementara 68,9 persen lainnya tidak dilakukan perawatan. Secara
keseluruhan keterjangkauan/kemampuan untuk mendapatkan
pelayanan dari tenaga medis gigilEMD hanya 8,1 persen.

Proporsi Penduduk semua umur bermasalah


Gigi & Mulut, mendapat perawatan, & EMD*), 2013
8.1%
(EMD)

. Oirawat TIdak dirawal

Bermasalah a Tidak bermasalah

*) EMD = Effective Medical Demand:

menggambarkan kemampuan atau keterjangkauan untuk mendapat pelayanan dari tenaga medis

gigi

Gambar 4. Need, Potential Demand dan Effective Demand

C. KEADAAN LINGKUNGAN

Keadaan fluor yang optimal dalam air minum (0,7 ppm) akan
memperkuat daya tahan email gigi terhadap karies. Penelitian di
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan lambi menunjukkan bahwa
kadar fluor dalam air minum di daerah tersebut (0,00 ppm), sehingga
prevalensi karies di daerah tersebut cukup tinggi , sedangkan daerah
Cipatat, Situbondo, Madiun, Donggala, Buoi, Toli-toli, Palu, Poso
dan Bangai kadar fluornya tinggi (0,75 - 3,4 ppm) sehingga banyak
ditemukan gigi yang mengalami fluorosis. Pada penduduk yang
berbeda letak geografisnya terlihat ada perbedaan prevalensi karies.
Banyak faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tersebut,
salah satu faktor adalah perbedaan kadar fluor dalam air minum. Bila

9
kadar fluor sekitar I ppm maka akan menyebabkan prevalensi karies
gigi yang rendah. Penelitian di 10 desa Asembagus dengan kadar fluor
(0,2 - 2,7 ppm) rata-rata sebesar 5% dengan rata-rata DMF-T 1,00
yang diikuti adanya penderita fluorosis sebanyak 83%. Rai (1983)
yang meneliti di Asembagus menemukan adanya hubungan antara
tingginya nilai kadar fluor dengan turunnya karies dan naiknya
penderita fluorosis.
Heriandi dan Suwelo (1988) di Cipatat, Bandung menemukan
kadar fluorida cukup tinggi (0,75 ppm) dengan prevalensi karies yang
rendah (56,46%) dan DMF-T 1,34. Data air minum (air sumur, kali,
sumber PAM, dsb) yang di kumpulkan Suwelo (1991) baik di pulau
Jawa maupun di luar pulau Jawa menunjukkan kadar fluor yang rendah
(kurang dari 0,3 ppm).
Hasil penelitian pada air yang di perdagangkan sebagai air
mineral (lebih dari 12 merek dagang), menunjukkan kadar fluomya
rata-rata 0,07 ppm. Beberapa gambaran keadaan tersebut diatas dapat
merupakan salah satu faktor tingginya prevalensi karies di Indonesia.

10
BABm
UPAYA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

A. PENGERTIAN

Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan


masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan
gigi dan mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang
dengan upaya kesehatan perorangan berupa upaya kuratifbagi individu
(peserta didik) yang memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut.
Upaya Kesehatan Masyarakat pada UKGS berupa kegiatan yang
terencana, terarah dan berkesinambungan.

a. Intervensi perilaku yaitu:


Penggerakan guru, dokter kecil, orang tua murid melalui
lokakarya/pelatihan.
Pendidikan kesehatan gigi oleh guru, sikat gigi bersama,
penilaian kebersihan mulut oleh guru/dokter kecil.
Pembinaan oleh tenaga kesehatan.

b. Intervensi lingkungan
Fluoridasi air minurn (hila diperlukan)
Pembinaan keIjasama lintas program/1intas sektor melalui
TPUKS.

Upaya kesehatan perorangan pad a UKGS berupa intervensi


individu pada peserta didik yang membutuhkan perawatan kesehatan
gigi dan mulut meliputi kegiatan skeling, penambalan, pencabutan,
fissure sealentlfissure protective, aplikasi fluor atau kumur-kurnur
dengan larutan yang mengandung fluor, bisa dilaksanakan di sekolah,
di klinik gigi Puskesmas atau di praktek dokter gigi perorangan/dokter
gigi keluarga.

11
B. TUJUAN

Tujuan Umum :

Tercapainya derajat kesehatan gigi dan mulut peserta didik yang

optimal.

Tujuan Khusus:

a. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan tindakan peserta didik


dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut.
b. Meningkatnya peran serta guru, dokter kecil , orang tua dalam
upaya promotif-preventif.
c. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan medik gigi dan mulut bagi
peserta didik yang memerIukan.

C. SASARAN

Sasaran pelaksanaan dan pembinaan UKGS meliputi:

l. Sasaran primer: peserta didik (murid sekolah) TK-SD-SMP


SMA dan sederajat
2. Sasaran sekunder: guru, petugas kesehatan, pengelola pendidikan,
orang tua murid serta TP UKS disetiap jenjang.
3. Sasaran tertier:
1) Lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai
pada sekolah lanjutan tingkat atas, termasuk perguruan
agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya.
2) Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan
kesehatan.

3) Lingkungan, yang meliputi:

a) Lingkungan sekolah

b) Lingkungan keluarga

c) Lingkungan masyarakat

12
D. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup program UKGS sesuai dengan Tiga Program


Pokok Usaha Kesehatan Sekolah (TRIAS UKS) yang meliputi ;
pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan
kehidupan sekolah sehat maka ruang lingkup UKGS yaitu :

1. Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan gigi dan mulut yang


meliputi :
a. Pemberian pengetahuan tentang keschatan gigi dan mulut
b. Latihan atau demonstrasi cara memelihara kcbersihan dan
kesehatan gigi dan mulut.
c. Penanaman kebiasaan pola hidup sehat dan bersih agar
dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari .

2. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut dalam


bentuk:
a. Pemeriksaan dan penjaringan kesehatan gigi dan mulut
peserta didik;
b . Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut perorangan ;
c. Pencegahan penyakit gigi dan mulut;
d. Perawatan kesehatan gigi dan mulut;
e. Rujukan kesehatan gigi dan mulut.

3. Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah kerjasama antara


masyarakat sekolah (guru, murid, pegawai sekolah, orang tua murid,
dan masyarakat).

E. KEBIJAKAN

I. Untuk mencapai derajat kesehatan gigi dan mulut anak sekolah


yang optimal, Usaha Kesehatan Gigi Sekolah harus diutamakan
pada upaya meningkatkan kemampuan self care (pelihara diri)
melalui kegiatan UKGS.

13
2. Upaya kesehatan masyarakat berupa upaya promotif - preventif
dilaksanakan oleh tenaga non-professional terutama oleh guru/
dokter kecil sebagai bagian integral dari UKS.
3. Upaya kesehatan perorangan dilaksanakaan oleh tenaga
profesional (dokter gigi, perawat gigi)
4. UKGS diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, di
bawah binaan Puskesmas dan TP UKS.

14
BABIV

STRATEGI DAN LANGKAH-LANGKAH

A. STRATEGI

Untuk pemerataan jangkauan UKGS dan adanya target kesehatan gigi


dan mulut yang harus dicapai tahun 2020 :
a. Angka bebas karies (gigi bercampur) umur 6 tahun = > 50%
b. Angka bebas karies kelas 6 = > 70%
c. DMF-t usia 12 tahun = < 1
d. PTI = 50%
e. Angka Dentally Fit kelas 6 = > 85%
maka diterapkan strategi pentahapan UKGS yang disesuaikan dengan
paket-paket UKS sebagai berikut :

I. UKGS TAHAP I (SATU)/ Paket minimal UKGS


Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI
yang belum terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi .
Tim Pelaksana UKS di SD dan MI melaksanakan kegiatan yaitu :
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil
tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara
terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh dinas pendidikan
dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan
oleh guru penjaskes / guru pembina UKS/ dokter kecil
sesuai dengan kurikulum yang berlaku .(Buku Pendidikan
Olahraga dan Kesehatan ) untuk semua murid kelas 1-6,
dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan
kegiatan sikat gigi bersama minimal untuk kelas 1, 2, dan
3 dibimbing oleh guru dengan memakai pasta gigi yang
mengandung fluor minimal satu kali seminggu.

15
IT. UKGS TAHAP IT (DUA)/Paket Standar UKGS
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI
sudah teIjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi yang
terbatas , kegiatannya adalah;
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil
tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara
terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh dinas pendidikan
dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan
oleh guru penjaskes / guru pembina UKS/ dokter kecil
sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Buku Pendidikan
Olahraga dan Kesehatan ) untuk semua murid kelas 1-6,
dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan
kegiatan sikat gigi bersama minimal untuk kelas 1, 2, dan
3 dibimbing oleh guru dengan memakai pasta gigi yang
mengandung fluor minimal satu kali tiap minggu.
4. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh
guru.
5. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas 1 pada
awal tahun ajaran diikuti dengan pencabutan gigi sulung
yang sudah waktunya tanggal, dengan persetujuan tertulis
(informed consent) dari orang tua dan tindakan dilakukan
oleh tenaga kesehatan gigi.
6. Fissure sealant pada gigi molar (surface protection pada
gigi molar yang sedang tumbuh) pada murid kelas 1 yang
membutuhkan, dilakukan di sekolah atau dirujuk.
7. Rujukan bagi yang memerlukan.

m. UKGS Tabap III / Paket Optimal UKS


Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid yang sudah

16
terjangkau tenaga dan fasilitas kesehatan gigi yang sudah
memadai, adalah :
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil
ten tang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara
terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh dinas pendidikan
dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan
oleh guru penjaskes / guru pembina UKS/ dokter kecil
sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Buku Pendidikan
Olahraga dan Kesehatan ) untuk semua murid kelas 1-6,
dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan.
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan
kegiatan sikat gigi bersama minimal untuk kelas 1, 2, dan
3 dibimbing oleh guru dengan memakai pasta gigi yang
mengandung fluor minimal satu kali tiap minggu.
4. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh
guru.
5. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada
awal tahun ajaran diikuti dengan pencabutan gigi sulung
yang sudah waktunya tanggal, dengan persetujuan tertulis
(informed consent) dari orang tua dan tindakan dilakukan
oleh tenaga kesehatan gigi.
6. Fissure sealant pada gigi molar (surface protection pada
gigi molar yang sedang tumbuh) pada murid kelas 1 dan
2 yang membutuhkan dilakukan di sekolah atau dirujuk.
7. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada murid
kelas 1 sampai dengan kelas 6 ( care on demand)
8. Rujukan bagi yang memerlukan.

B. LANGKAH-LANGKAH

1. Persiapan
Kegiatan dijalankan dalam rangka mempersiapakan suasana
yang mendukung kelancaran program, mencakup:
a. Pengarahan dan forum komunikasi berjenjang, dengan unit

17
unit lintas program dan lintas sektoral yang ada kaitannya
dengan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di SD dan MI,
diselenggarakan di bawah koordinasi atau koordinator
kesehatan gigi dan mulut di Tingkat Pusat, Dinas Kesehatan
Propinsi, Dinas Kesehatan KabupateniKota.
b. Pada tingkat Puskesmas
1) Penjelasan dan pengarahan kepada plmpman
Puskesmas serta staf pelaksanaan teknis, oleh
koordinator kesehatan gigi dan mulut Dinas Kesehatan
KabupateniKota.
2) Penjelasan kepada unit Diknas dan unit Komite Sekolah
Kecamatan oleh Pimpinan Puskesmas/Pelaksanaan
Teknis.
3) Perencanaan bersama menentukan SD dan MI sasaran
operasional.
4) Pendekatan kepada para guru SD dan MI sebagai
sasaran operasional, karen a guru merupakan orang
yang berpengaruh (key person) dalam proses merubah
perilaku murid. Karena itu hubungan baik dengan para
guru harus dibina terlebih dahulu oleh pelaksana teknis.
5) Penjelasan kepada orang tua muridIKomite Sekolah
melalui Kepala Sekolah dan atau guru kelas.

2. Pelaksanaan Lapangan
Pelaksanaan lapangan mencakup perangkat kegiatan yang
dilaksanakan pada tingkat Puskesmas, yang terdiri atas:
a. Pengumpulan data
1) Data dasar untuk keperluan perencanaan operasional,
meliputi:
a) Jumlah SD dan MI, murid dan guru
b) Data tentang situasi pelaksanaan UKS berdasarkan
paketUKS

18
c) Data tentang situasi pelayanan kesehatan gigi dan
mulut di SD dan MI khususnya sehubungan dengan
persentase sekolah menurut pentahapan UKGS.
2) Data untuk evaluasi dampak program terhadap profil
kesehatan gigi dan mulut murid
a) Oleh tenaga kesehatan
b) Oleh guru

b. Intervensi perilaku
1) Penggerakan peran serta guru melalui lokakaryal
pelatihan
2) Penyuluhan kepada murid berupa:
a) Latihan menggosok gigi
b) Pengajaran formal tentang kesehatan gigi dan mulut
c) Penilaian kebersihan mulut oleh guru, melalui
pemeriksaan rutin
d) Penyuluhan oleh tenaga kesehatan secara insidental.

c. Intervensi medis teknis/perorangan


1) Pembuangan karang gigi
2) Pemeriksaan mulut, pengobatan sementara
3) Aplikasi fluor
a) Melalui pasta gigi yang memenuhi persyaratan
b) Untuk daerah khusus intensifikasi melalui kumur
kumur dengan larutan yang mengandung fluor aktif
atau pemberian tablet fluor.
4) Penambalan, pencabutan, rujukan

d. Manajemen
1) Supervisi dan bimbingan teknis
a) Kunjungan pembinaan ke SD dan MI, minimal IX
sebulan

19
b) Kunjungan supervisi dan pembinaan ke Puskesmas
oleh koordinator kesehatan gigi Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota atau kunjungan supervisi oleh
penanggung jawab program kesehatan gigi dan
mulut Dinas Kesehatan Propinsi ke KabupatenlKota
minimal 1x dalam 1 triwulan, dan supervisi dari
penanggung jawab program kesehatan gigi dan
mulut pusat ke daerah minimal 1 x 1 tahun.
2) Pelaporan
3) Penilaian (Evaluasi)
Penilaian (evaluasi) UKGS ini dilaksanakan beberapa
komponen:
a) Komponen kegiatan (Proses)
Meliputi penilaian tentang pelaksanaan lapangan,
antara lain frekuensi pelaksanaan intervensi perilaku,
frekuensi pelaksanaan supervisi dan bimbingan
teknis per minggu (bulan).
b) Komponen karya cipta (Output)
Meliputi penilaian volume pelayanan antara lain
jumlah murid yang diberi pelayanan medik gigi,
jumlah murid yang diben penyuluhan, per minggu
(bulan)
c) Komponen hasil antara (Outcome)
Meliputi penilaian tentang perubahan sikap dan
perilaku antara lain jumlah murid yang melakukan
sikat gigi dengan benar, jumlah murid
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan gigi
dan mulut sesuai kebutuhan.
d) Komponen dampak (Impact)
Meliputi penilaian survei perubahan dalam status
kesehatan gigi dan mulut murid.
1) Kebersihan gigi dan mulut murid (OHIS)
2) Pengalaman karies gigi (DMF-T)
3) Kondisi gusi

20
4) Pembinaan
Pembinaan mencakup :
a) Pembinaan untuk mempertahankan dan
perbaikan status kesehatan gigi dan mulut
yang telah dicapai, kegiatan berupa:
1) Penjaringan (screening) oleh guru dan
atau tenaga kesehatan gigi atau pelaksana
UKS untuk menentukan jumlah murid
yang perlu perawatan.
2) Kegiatan menggosok gigi di sekolah
dilakukan secara teratur di bawah
koordinasi guru.
3) Kegiatan perawatan kesehatan gigi dan
mulut bagi murid yang memerlukan.
b) Pembinaan peran serta melalui forum
komunikasi tatap muka, latihan ketrampilan
guru dan sebagainya.

21
BABV

UKGS INOVATIF

UKGS Inovatif adalah penerapan IPTEKS terkini yaitu teknologi motivasi


untuk membangkitkan peran serta masyarakat dan teknologi pencegahan
dan perlindungan gigi untuk memo tong mata rantai karies. Teknologi
pencegahan dan perlindungan utamanya adalah teori karies terkini, khususnya
dalam pengertian demineralisasi versus reminerasisai, dan "Minimum
Intervention", khususnya dalam rangka proteksi gigi yang rawan karies.
Pada dasamya prinsip perawatan "Minimum Intervention" dan intervensi
seawal mungkin terbukti memiliki nilai tambah, dalam arti lebih efektif
dan terukur.

A. DONUT IRENE

1. Program "Donut Irene"


Program InteraktifSimulator Risiko Karies "Donut Irene" sebagai
pengejawatahan teknik motivasi-wawancara (Motivational
interviewing - Miller and Rollnick 1991) dalam bentuk singkatan
FRAMES sebagai unsur konseling sederhana (Brief Counseling
Element)yaitu :
Feedback-Responsibility -Advice -Menu
Empathy
Self-efficacy
(berdasarkan disertasi DR.drg. Irene Adyatmaka)
Program ini dimaksud menyadarkan orang tua murid atau murid
tentang faktor risiko karies; memberikan menu ten tang cara
mengatasi penyakit karies. Dengan demikian diharapkan dapat
memberdayakan masyarakat untuk mandiri.

22
Ap.k. h . n .k . uk. ngemut
permen tl. p herl?

Tlde k x

SRI< DONUT .RE N E M anu.' v ..... 1 .. 3

Gambar 5. Program Donut Irene

a. Simulator Irene Donut

Pengertian

Simulator Risiko Karies (Donut Irene) adalah suatu program


interaktif dalam bentuk program komputer atau versi
manualnya. Dengan mengisi faktor-faktor risiko terkait
perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak, kondisillingkungan
ibu dan anak, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu (orang
tua anak), maka program akan menampilkan gambaran besar
risiko anak terhadap kemungkinan karies gigi. Program juga
akan menawarkan "menu" apa yang dapat dilakukan orang
tua anak/anak untuk mengurangi risiko karies, dan dapat
dibawa sebagai pegangan untuk tindak lanjut dirumah.

23
Tujuan:
1. Memberikan pemahaman ten tang faktor-faktor risiko
karies sejak dini.
2. Memberikan pemahaman tentang cara mencegah karies
gig!.
3. Memberikan gambar visual besar risiko karies yang
dihadapi dan kemungkinan perbaikannya.
4. Memberdayakan orang tua anak (masyarakat sekolah)
untuk pemeliharaan kesehatan gigi anak.

Gambar 6. Pemberdayaan orang tua murid oleh tenaga kesehatan


di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

Indikasi
1. Untuk dipresentasikan kepada orang tua murid TKI SD
kelas 1 pada awal pelajaran barn sebagai pengenalan
program UKGS Inovatif.
2. Untuk menggerakkan peran serta orang tua murid secara
individual (atau kelompok 5 orang) pada anak dengan

24
kondisi karies parah (misalnya 5% dari kondisi anak
terparah atau dengan ketentuan anak tersebut gigi tetapnya
telah ada yang karies atau anak tersebut mempunyai karies
gigi susu lebih dari 8 gigi). Pada dasarnya peran orang
tua terhadap kesehatan gigi anaknya seusia TK / SD kelas
I sangat menentukan.

Instrumen simulator risiko karies


1. Flipchart Simulator Risiko Karies "Donut Irene" versi
manual / versi Komputer
2. Formulir / status pemeriksaan kesehatan gigi anak
3. Lembar kerja / raport gigi
4. Set pemeriksaan pH biofilm
5. Kaca mulut

b. Penatalaksanaan simulator risiko karies dan posisi


operator.

Persiapan

Tabulasi hasil pemeriksaan gigi anak kelas I

Pilih anak dengan kriteria "parah" (anak dcngan gigi tetapnya

telah ada yang karies atau anak yang mempunyai karies gigi

susu 1ebih dari 8 gigi).

Siapkan Instrumen simulator risiko karies / alat tulis

Pelaksanaan

Untllk konsultasi secara individual / kelompok 5 ibu:

Ibu dan anak serta operator dllduk menghadap komputerl


flipchart

25
Gambar 7. Konsultasi menggunakan Donut Irene versi
komputer ditanggapi positif oleh anak dan orangtuanya.

lalankan program dan lakukan seperti yang diminta


program dengan mengisi data yang diperlukan .
Mengambil sampel plak untuk diperiksa derajat
keasamannya (lihat prosedur dan panduan praktek
pemeriksaan biofilm)

Gambar 8. Pengambilan sample plak pada pennukaan gigi

26
Gambar 9. Pemeriksaan derajar keasaman plak

Tanyakan setiap pertanyaan yang ditampilkan program


Pada saat memeriksa white spotl fisur hitam ajak ibu
melihat juga kondisi gigi anaknya (lihat prosedur dan
panduan praktek pemeriksaan AAPB)
Bila semua telah selesai diisi tunjukkan gambaran tingkat
risiko karies.
Tawarkan antisipasi (menu) yang dapat dilakukan dan
tunjukkan perubahan risiko yang tergambar
Pada hasil wawancara tunjukkan apa yang harus dilakukan
sebagai pekerjaan rumah.

Penyelesaian
Catat I kompilasi hasil is ian SRK Donut Irene (faktor
yang jadi bermasalah , faktor yang dapat diantisipasi,
besar risiko sebelum dan sesuadah antisipasi).
Lakukan tindakan surface protection I terapi remineralisasi
(dilakukan di sekolah atau dirujuk sesuai kemampuan)
Lakukan evaluasi pengisian PR dan analisis
keberhasilannya.
Lakukan diskusi untuk meningkatkan peran serta orang
tua dalam pemeliharaan gigi anaknya.

2. Terapi Remineralisasi (CPP-ACP)


Suatu cara terapi pencegahan karies dengan mcngoleskan asein
PhosphoPeptide - Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP)

27
pada gigi dalam kondisi awal karies yang bermanivestasi sebagai
"White Spot". IPTEKS terkini menunjukkan bahwa KARlES
GIGI bukan sekedar gigi berlubang, tetapi adalah proses
Deminerailisasi versus Remineralisasi yang tetjadi dalam struktur
gigi. "White spot" (bercak putihpada gigi) adalah proses karies
masih reversible dan dapat disembuhkan dengan memasukkan
kembaliion Calcium dan ion Phosphate ke dalam struktur gigi
yang telah hilang, melalui sediaan CPP-ACP.

Gambar 10. White Spot

a. Terapi Remineralisasi (CPP-ACP)

Pengertian
Terapi remineralisasi adalah suatu tindakan dengan
memberikan sediaan calcium-phosphate khusus agar terjadi
proses kembalinya calcium dan phosphate ke dalam email
gigi yang mengalami demineralisasi, yaitu hilangnya mineral
gigi dalam proses karies pada gigi. Dengan terapi
remineralisasi proses karies dapat dihentikan bahkan
dikembalikan seperti semula (disembuhkan)

Tujuan
Mencegah terjadinya proses karies dengan memberikan
suplemen calcium-phosphate khusus untuk mcnjaga

28
keseimbangan proses demin-remin menjadi positifl

menguntungkan.

Menyembuhkan proses karies awal (white spot)

Indikasi
Digunakan pada gigi yang ada tanda tanda white spot.
Digunakan sebagai realisasi rek.omendasi Simulator Risiko
Karies (Donut Irene)
Digunakan pada individu yang rawan karies (anak yang
pempunyai risiko karies tinggi, anak dengan gigi beIjejal,
pasien dalam perawatan menggunakan obat jangka
panjang, pasien dalam perawatan ortodonsi, anak
cacat,orang tua)

Bahan sediaan
CPPACP (Casein PhosphoPeptide-Amorphous Calcium
Phosphate nano-complexes) CPP-ACP (RecaldentTM)
produk paten dari Australia
GC Tooth-mousse (tut-mus) dalam bentuk krem
(dipasarkan di Indonesia terbatas kepada tenaga kesehatan)

b. Penatalaksanaan

Persiapan
Sortir anak yang mempunyai risiko karies tinggi.
Beri penjelasan manfaat dan cara penggunaan CPP-ACP.
Siapkan Krem Tut-mus (tube atau pot) sesuai kebutuhan.

Pelaksanaan
Latih anak I orang tua anak untuk mengoleskan krem
CPP-ACP pada pennukaan gigi yang rawanlwhite-spot.
Oles krem pada gigi yang rawan denganjari/ sikat gigi,
dan gunakan lidah untuk membagi keseluruh pennukaan
gIg I

29
Sisanya boleh diludahkan, tetapi jangan berkumur-kumur
sedikitnya selama 30 menit agar tetjadi transfer Calcium
Phosphate.
Gunakan pagi hari setelah sikat gigi dan atau mal am hari
setelah sikat gigi sesuai keparahnnya .

Gambar II. Aplikasi sediaan calcium-phosphate pada permukaan gigi

3. Surface Protection (pre fissure sealant I fissure protection)

Melapisi gIgi molar baru tumbuh I fisur hitam dengan bahan


GIC* kaya Fluor. Gigi molar baru tumbuh struktur emailnya
belum matang, karena masih banyaknya ikatan karbonat -C03
yang menyebabkan email mudah larut sehingga gigi menjadi
rawan karies . GIC* mengganti -C03 menbentuk ikatan
Fluorapatite yang lebih tahan asam sehingga mempunyai daya
melindungi Gigi dari karies .( *Glassionomer Protection &
Stabilization Material)

c. Surface Protection (tindakan PRE Fissure Sealant)

Pengertian
Surface Protection adalah tindakan melapisi permukaan
oklusal dengan Glass-ionomer Protection and Stabilization
material, yaitu glassionomer kaya fluoride dan mempunyai
kemampuan mengalir (flow able), agar pada email terjadi

30
pematangan dengan terbentuknya ikatan Fluorapatite yang
tahan asaro. Dengan demikian walaupun kemudian lapisan
lepas, email gigi telah terproteksi.

Tujuan
1. Mematangkan pennukaan email yang barn erupsi, yang
masih banyak mengandung carbonat, agar terjadi
pematangan email karena teIjadinya ikatan Fluar-apatit
yang tahan asam.
2. Melindungi pennukaan oklusal gigi yang ada fisur
hitamnya yang rawan karies menjadi ikatan Fluor-apatit
yang tahan asam.

Indikasi
1. Untuk gigi molar yang baru erupsi, terutama pada
anaklpasien yang raw an karies (sesuai rekomendasi
Simulator Risiko Karies)
2. Untuk gigi molar yang memunyai fisur hitam terutama
pada anaklpasien yang rawan karies (sesuai rekomendasi
Simulator Risiko Karies)

Kontra indikasi
tidak untuk gigi dengan pennukaan oklusal dengan fisur
yang dangkal yang tergerus oleh gigi antagonisnya.

Instrumen Surface Protection

Set "Glass-ionomer Protection and Stabilization Material


- Paper pad
- Spatula plastik
- Kaca mulut
- Sonde
- Pinset
- Plastis instrument (aplikator + trimer)

31
Kapas

Cawan berisi air bersih

Vaseline

d. Penatalaksanaan Surface Protection

Persiapan
Baca petunjuk penggunaan Glassionomer protection and
stabilization material
Atur set Surface protection & stabilization material beserta
peralatan lainnya pada meja kerja dan cukup cahaya.

Pelaksanaan

Anaklpasien diminta untuk membuka mulutnya.

Bersihkan permukaan gigi yang a kan

diproteksi dengan butiran kapas dijepit

dengan pinset. Gunakan kapas kering

dan di selingi butiran kapas basah untuk

mencuci. Lakuikan sedikitnya 2 kali atau

hingga oklusal gigi cukup bersih dari

debris I plak.

Isolasi gigi yang akan diaplikasi dengan

cotton-roll, Permukaan oklusal

dikeringkan dengan butiran kapas

kering, kemudian oleskan conditioner 20

detik , cuci dengan butiran kapas basah,

dan keringka dengan butiran kapas

kering

sendok powder dan satu tetes liquid

sesuai peraturan yang berlaku, oleskan

secara merata pada. permukaan oklusal

termasuk pit dan fissure dengan plastls

instrument, tekan dengan. jari yang

terlindungl sarung karet, trim dengan

plastls Intrumen dan laplsl dengan

Vaseline I c o coa butter

32
Penyelesaian
Catat tindakan ke dalam formulirlstatus kesehatan gigi
anak!pasien
Instrusikan anak! pasien tidak makan/minum selama 1 jam.

Pengendalian infeksi silang


Instrumen setelah digunakan dilakukan sterilisasi sesuai
peraturan yang berlaku.

e. Catatan
Bahan fissure sealant berbasis Resin, tidak dapat dipergunakan
sebagai surface protection, karena sifat resin fissure sealant
yang menutup permukaan oklusal semata-mata secara
mekanis saja tanpa ada kemampuan proses persenyawaan
kimia. Bila kemudian sealant lepas, temyata ikatan karbonat
pada email, yang tidak tahan asam tidak diubah menjadi
ikatan fluor apatit, sehingga gigi tetap rawan karies.

B. Paket Pelayanan Kesehatan Dasar pada anak-anak di


Sekolah (Upaya integrasi program sikat gigi bersama
dengan program cuci tangan dan pemberian obat cacing
di Sekolah).

1. Latar Belakang
Upaya promotif dan preventif yang berhubungan dengan
kebersihan dan kesehatan harns diperkenalkan kepada
anak-anak sejak usia dini. Penyakit yang saat ini memiliki
tingkat prevalensi tertinggi pada anak usia sekolah di
Indonesia adalah penyakit gigi dan mulut 74,4%, penyakit
cacingan 60-80%, penyakit pernapasan dan diare 30%.

Penyakit diakibatkan karena kurangnya kebersihan:


Hampir seluruh anak mengalami karies gigi yang
tidak dirawat.

33
Infeksi cacingan yang ditularkan melalui tanah
memiliki prevalensi tinggi pada anak usia sekolah
dan pra-sekolah; dan
Diare serta infeksi pemapasan merupakan salah satu
penyakit terbanyak yang teIjadi pada anak usia sekolah
dan pra-sekolah.

2. Evidence-based intervention
Fokus dari program ini adalah pada penerapan intervensi
evidence-based yang berbiaya rendah, seperti :
1. Mencuci tangan dengan sabun
2. Menyikat gigi dengan menggunakan pasta glgl
berfluorsetiap hari di tiap sekolah
3. Pemberian obat cacing dua kali setahun sebagai
aktivitas (reguler) sekolah.

Penggunaan sistem sekolah telah terbukti di seluruh dunia


dapat menghasilkan perbaikan yang bcrmakna tcrhadap
indikator outcome kesehatan dengan biaya yang sangat
rendah. Program ini dapat diimplementasikan hampir di
setiap sekolah, bahkan pada sekolah dengan keadaan
sumberdaya yang sangat kurang. Cara ini bukan
merupakan program baru, melainkan suatu konsep yang
dapat mendukung dan memperkuat implementasi nyata
dari kebijakan-kebijakan serta program-program
Kesehatan Sekolah yang telah ada di Indonesia.

Gambar 12. Sikat gigi dan cuci tangan bersama

34
Program berbiaya sangat rendah

Biaya materi per anak per tahun hanya sebesar lima ribu
rupiah untuk paket dasar (termasuk sabun, sikat dan pasta
gigi). Sebagai hasilnya, indikator kunci kesehatan
berkurang, seperti menurunnya tingkat penyakit menular
sebanyak 30-50%, berkurangnya karies gigi sebesar 40
50%; perbaikan kesehatan ini dapat meningkatkan angka
kehadiran dan performa di sekolah dan karenanya
membantu pemerintah dalam mencapai Millenium
Development Goals.

3. Pendampingan Teknis dan Pembentukan Kapasitas


Pembentukan kapasitas, kemahiran teknis dan materi
untuk mengawali program ini pada pilot area diperoleh
dari German Development Cooperation. Distribusi
peran yang jelas dibutuhkan untuk dapat
mengembangkan pendekatan inter-sektor. Pemerintah
Indonesia harus mau berkomitmen dalam
mengalokasikan dana untuk mempertahankan serta
memperluas program.

Teknis pelaksanaan sikat gigi bersama tiap hari

Gambar 13 . Sikat gigi bersama sebelum pelajaran dimulai

35
Tersedianya sikat gigi di sekolah satu anak peserta
didik satu sikat gigi

Gambar 14. Satu anak peserta didik satu sikat gigi

Penggunaan pasta gigi berfluor sebesar kacang


polong dan menyikat gigi selama dua menit secara
berurutan

Gambar 15. Pasta gigi berfluor sebesar kacang polong

Tidak berkumur setelah menggosok glgl

Gambar 16. Tidak berkumur setelah menggosok gigi

36
Tersedia lingkungan yang mendukung

Gambar 17. Sarana dan prasarana kegiatan sikat gigi dan cuci tangan bersama

37
BABVI
SISTEM PEMBIAYAAN

Dalam pelaksanaan program UKGS, biaya pelaksanaannya dapat


diperoleh dari Pemerintah dan sumber lain yang tidak mengikat berupa
dana sehat, Coorporate Social Responsibility dan swadana dari
masyarakat.

A. DANA SEHAT/SWADANA MASYARAKAT

Bersumber dari orang tua murid, bantuan sponsor dari perusahaan


pasta gigi dan perusahaan sikat gigi, merupakan suatu promosi
produk perusahaan tersebut ke SD dan MI sasaran. Sumber
pembiayaan dari masyarakat ini dapat dilaksanakan dengan
membuat perencanaan atau proporsal ,tentang program promotif
preventif (penyuluhan pendidikan kesehatan gigi dan mulut,
dan sikat gigi bersama di sekolah) yang ditawarkan kepada
pihak swasta dalam bentuk kerja sarna. Khusus promosi program
UKGS dengan dana sehat dari orang tua murid dapat dilaksanakan
dengan bekerja sarna dengan Guru, Kepala sekolah dan Komite
Sekolah serta Dinas Pendidikan setempat, dengan pendekatan
pada saat tahun ajaran baru kepada orang tua murid kelas 1. Hal
ini dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga dapat dicapai
sasaran dan target program yang di inginkan.

B. DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN I BOK


( PROMOTIF DAN PREVENTIF )

Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1 tahun 2014 tentang Petunjuk


Teknis Bantuan Operasional Kesehatan bahwa BOK merupakan
bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk
percepatan pencapaian MDGs bidang kesehatan tahun 2015,
melalui peningkatan kineIja puskesmas dan jaringannya serta

38
Poskesdes/polindes, Posyandu dan UKBM lainnya dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif
dan preventif.

Tujuao Umum :

Meningkatkan upaya kesehatan yang bersifat promotif dan

preventif dalam upaya mencapai target MDGs bidang kesehatan

tahun 2015.

Tujuao Khusus :

Tersedianya alokasi anggaran operasionalo untuk upaya


kesehatan promotif dan preventif di Puskesmas dan
jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu.
Tersusunya perencanaan tingkat Puskesmas untuk
penyelenggaraan upaya kesehatan di wilayah kerja.
Terselenggaranya lokakarya mini sebagai forum penggerakan
pelaksanaan upaya kesehatan di Puskesmas.
Terlaksananya kegiatan upaya kesehatan promotif dan
preventif di Puskesmas dan jaringannya serta
PoskesdeslPolindes dan Posyandu serta UKBM dan temp at
pelayanan kesehatan lainnya
Meningkatnya peran serta masyarakat dalam kegiatan upaya
kesehatan promotif dan preventif.
Terselenggaranya dukungan manajemen di Kabupaten/kota
dan provinsi

Rincian ruang lingkup kegiatan BOK tahun 2014


1. Upaya Kesehatan
a. Upaya Kesehatan Prioritas
b. Upaya Kesehatan Lainnya termasuk kesehatan sekolah
dan kesehatan gigi dan mulut
2. Manajemen Puskesmas

39
C. DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH / BOS (UKS)
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R1 No. 101 tahun
2013 ten tang Petunjuk Teknis Penggunaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional
Sekolah Tahun Anggaran 2014 dapat dimanfaat antara lain untuk
kegiatan :
Kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler peserta didik
o PAKEM (SD)
o Pengembangan pendidikan karakter
o Pembelajaran remedial
o Pembelajaran pengayaan
o Pemantapan persiapan ujian
o Olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka dan
palang merah remaja,
o Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Biaya lainnya : salah satunya untuk peralatan UKS

40
BAB VII

PENUTUP

Keberhasilan Program UKGS dapat terwujud apabila dilaksanakan secara


terintegrasi baik lintas program maupun !intas sektoral, terarah dan
berkesinambungan.

Harapan kami agar buku pedoman ini dapat dijadikan penuntun


penyelengaraan program UKGS di daerah, khususnya untuk pelaksanaan
Tim Pe'laksana UKS di SD dan MI dimana sebagai Ketua adalah Kepala
Sekolah / Kepa'la Madrasah dan Sekretaris I adalah Guru Penjaskes / Guru
Pembina UKS , Tim Pembina UKS Kecamatan dimana Ketua II adalah
KepaJa Puskesmas dan anggotanya unsur UKS / UKGS di Puskesmas, baik
Puskesmas yang ada sarana kesehatan gigi maupun yang tidak ada sarana
kesehatan gigi .

Akhirnya diucapkan terima kasih pada semua pihak yang ikut terlibat
hingga tersusunnya buku ini. Semoga buku ini bermanfaat.

41
OAFTAR PUSTAKA

1. Acs G., Lodolini G., Kaminski S., Cisneros GJ., 1992, Effect of Nursing
Caries on Body Weight in a Pediatric Population, Pediatr Dent 14:302
5.
2. Acs G., Shu lmann R., Ng 'MW et aI., 1999, The Effect of Denta l
Rehabilitation on the Body Weight of Children w ith Early Chilhood
Caries, Pediatr Dent 21:109-113
3. Adyatmaka A., Sutopo U., Carlsson P., Bratthall D., School-Based
Primary Preventive Programme for Children Affordable Toothpaste
as a Component in Primary Oral Health Care. Experiences from a field
trial in Kalimantan Barat, Indonesia, http://www.whoco''ab.od.mah.
se/searo/indonesia/afford/whoafford.html.
4. Adyatmaka I., 2011, Donut Irene "Simulator Risiko Karies",
Kementerian Pendidikan Nasional, CHAMPS-FKM-Universitas
Indonesia, Jakarta
5. Departemen Kesehatan, 1997, Pedoman Penyelenggaraan Usaha
Kese hatan Sekolah, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Jakarta
6. Departemen Kesehatan, 2004, Pedoman Penyelenggaraan Usaha
Kesehatan Sekolah, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Jakarta
7. Departemen Kesehatan, 2008, Riset Kesehatan Dasar 2007, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta
8. Departemen Kesehatan, 2007, Usaha Kesehatan Sekolah di Tingkat
Sekolah 'Oasar, lDirektorat Jenderal Komunitas, Jakarta
9. Fit for Schooll, 2009, Manual for Teachers for the Implementation of
Essential
10. Health Care Package in Schools, Fit for School Inc, Manila
11. Low W., Tan S." Schwartz S., 1999, The Effect of Severe Caries on the
Quality of Life in Young Children, Pediatr Dent 21:325-326

42
12. Marinho VCC, Higgins JPT, Logan S et al., 2003, Fluoride Gels for
Preventing Dental Caries in Children and Adolescents (Cochrane
Review). In : The Cochrane Library, Issue 3.
13. Monse B, Heinrich-Weltzein R, Mulder J, Holmgren CJ, Palenstein
Halderman W., Caries Preventive Efficacy of Silver Diamine Fluoride
(SDF) and ART Seallants in School Based Daily Fluoride Tooth Brushing
Program in Philippnes. Submitted BMC Oral Health.
14. Monse B, Heinrkh-Weltzein R, Benzian H, Holmgren C, van Pallenstein
Halderman W., 2010, PUFA - An Index of Clinical Consequences of
Untreated Detal Caries, Community Dent Oral Epidemiol 38:77-82
15. World Health Organization, Beijing Declaration, 2007, Call to action
to promote oral health by using fluoride in China and Southeast Asia,
http ://www.who.int/oral_health/events/oral%20healthc.pdf.

16. Kementerian Kesehatan, 2012, Pedoman Usaha iKesehatan Gigi Sekolah


(UKGS), Jakarta

17. Kementerian Kesehatan, 2014, Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013,


Jakarta

43
LAMPIRAN 1

PERANAN TENAGA YANG DILIBATKAN DALAM UKGS

No Jenis Tenaga Peranannya Sarana Penunjang


I Puskesmas Sebagai koordinator
Sebagai pcmbimbing &
motivator
Bersama dokter gigi melakukan I
mclakukan perencanaan
kesehatan gigi da!l mulut
2 Dokter Gigi Penanggung j a wab pe laksanaan
operasionai
Bcrsama perawat gigi mcnyusun Buku Pedoman
rene ana kcgiatan, mcncntukan
target tahunan serta jadwai
kegiatan bulanan, memonitoring
program dan evaluasi
Melaporkan serta Microplanning /
mengkoordinasikan ke Kepala Perencanaan Tingkat
Puskesmas dan petugas UKS Puskesmas (PTP)

Membina integrasi dengan unit- Kebijakan Provinsi


unit yang terkait di tingkat Atau Pusat dan data
Kecamatan, Lurah, PKK, Cabdin kepenyakitan (Epid)
Pcndidikan Kecamatan

' Memberi bimbingan dan Buku Pedoman UKS,


pengarahan kepada tenaga UKGS
perawat gigi, UKS, guru SD dan
Dokter Kecil

Bila tidak ada perawat gigi, Buku Pedoman


dokter gigi dapat sebagai UKGS
pelaksanan UKGS
IMelakukan kegiatan analis teknis Buku Pedoman
& edukatif UKGS
,
.P engarahan kepada tenaga UKS,
guru SD, dokter Kecil dan orang
tua mood

44
3 Perawat gigi Betsama dokter gigi menyusun Buku Petunjuk
rencana UKGS dan pemantauan Pereo<:Jloaan Tingkat
SO Puskesmas (PTP)
Melakukan persiapan lokakarya
mini untuk menyampaikan
renCMa kegiatiln
Membina kerjasama dengan I

tenaga UKS, guru SO dan MI


Me1akukan persiapan lokakarya ~encana Program
mini untuk menyampaikan UKGS
rencana kegiatan pelaksana
terkait
Pengumpul~ an data UKGS Formula
Epidemiologi
Melakukan K.egiatan Teknis :
Pembersihan karang gigi
Pelayanan medik gigi dasar
(menerima rujukan dan tenaga
petugas kesehatan lainnya)
Me laksanakanpencatatan dan Buku monitoring
pelaporan form peneatatan dan
pelaporan form
survey
Evaluasi cakupan program,
pencapaian target untuk menjadi
dasar Rencana Kegiatan Tahunan
berikutnya
Membuat dasar UKS dan UKGS
4 PetugasUKS Terlibat secara penuh dalam
penentuan SD, pembinaan guru,
dokter kecil, monitoring program
dan hubungan dengan Oiknas
Pemeriksaan murid (screening) Form screening U KS
Membuat grafik pencapaian
jumlah SO UKGS dengan
promotif preventi f setiap tahun
Melaksanakan rujukan Form Rujukan
Menunjang tugas perawat gigi Buku penuntun
dalam penyuluhan dan untuk guru
pendidikan kesehatan gigi

45
5 Guru SD Membantu tenaga kesehatan gigi Flipchart Donut
Idalam pengumpulan Irene
data/screening
Memberikan pendidikan
I
kesehatan gigi pada murid,
jadwal pelajaran Orkes
I
Pembinaan Dokter Keeil
Latihan menggosok gigi
Rujukan bila menemukan murid I
dengan keluhan penyakit gigi
Membina kerjasama dengan
petugas kesehatan dalam
memelihara kesehatan
Iingkungan, jajan, warung
sekolah.
Membantu guru dalam sikat gigi
bersama I
I
6 Dokter Keeil Mcmbantu guru dalam Memberi
dorongan / motivasi agar murid
berani utntuk periksa giginya !

Memberi penyuluhan keschatan


gigi ( membantu guru ) kcpada
mUTid yang lain

- Mendampingi pada mund yang


dirujuk ke tempat berobat gigi
(klinik gigi)

46
LAMPIRAN 2

SUSUNAN ANGGOTA TIM PEMBINA UKS

1. Tingkat Pusat

Ketua I Dirjen Dikdasmen, Depdiknas


Ketua II Dirjen Bina Kesmas, Depkes
Ketua III Dirjen Baga Islam, Depag
Ketua IV Dirjen PUM, Depdagri
Sekretaris I Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani,
Depdiknas
Sekretaris II Sekretaris Ditjen, Dikdasmen, Depdiknas
Sekretaris III Direktur Kesga, Ditjen Bina Kesmas, Depkes
Sekretaris IV Direktur Mapenda Ilam, Ditjen Baga Islam, Depag
Sekretaris V Direktur Wilayah Administrasi, Ditjen PUM,
Depdagri
Anggota 1) Depdiknas
- Unsur Ditjen Dikdasmen
- Pusat Pengembangan Kualiatas Jasmani
- Unsur Ditjen PLP
2) Depkes
- Unsur Ditjen Bina Kesmas
- Pusat Promosi Kesehatan
- Unsur Ditjen Pelayanan Medik
- Unsur Ditjen PPM dan Penyehatan Lingkungan
- Unsur Badan POM
3) Depag
- Un sur Ditjen Baga Islam
4) Depdagri
- Un sur Ditjen Pemerintahan Umum

2. Tingkat Pembina UKS Provinsi

Pembina Gubemur
Ketua Wakil Gubemur
Ketua I Kepala Dinas Pendidikan

47
Ketua II Kepala Dinas Kesehatan
Ketua III Kepala Kanwil Depag
Ketua Harian Asisten yang relevan
Sekrataris Kepala Biro yang menangani Pendidikan dan
Kesehatan
Anggota 1) Unsur Dinas Pendidikan
2) Unsur Dinas Kesehatan
3) Un sur Kanwil Agama
4) Un sur Dinas / Instansi yang dianggap relevan

3. Tingkat Kabupaten / Kota

Pembina Bupati / Walikota


Ketua Wakil Gubemur
KetuaI Kepala Dinas Pendidikan
Ketua II Kepala Dinas Kesehatan
Ketua III Kepala Kantor Depag
Ketua Harian Asisten yang membidangi Pendidikan dan Kesehatan
Sekretaris Kepala Bagian di Pernda yang menangani Pendidikan
dan Kesehatan
Anggota 1) Unsur Dinas Pendidikan
2) Unsur Dinas Kesehatan
3) Unsur Kandepag
4) UnsurPKK
5) Unsur PMI
6) Unsur lain yang dianggap relevan

4. Tiogkat Kecamatan
Ketua Camat
Ketua I Kepala Cabang Dinas Pendidikan
Ketua II Kepala Puskesmas
Ketua III Pengawas Pendais Depag
Ketua N Ketua PKK
Sekretaris Sekretaris Kecamatan
Anggota 1) Unsur Dinas Pendidikan
2) Unsur Puskesmas

48
3) Unsur Pengawas Pendais
4) Unsur PKK.
1) UnsurPM1
2) Unsur Dinas / Instansi terkait lainnya

5. Tim Pelaksana UKS di TK dan RA; SD dan MI

Pembina Lurah / Kepala Desa


Ketua Kepala Sekolah / Kepala Madrasah
Sekretaris I Guru Pembina UKS / Pembina UKS
Sekretaris II Ketua Komite Sekolah / Majelis Madrasah
Anggota 1) Unsur Penggurus Komite Sekolah
1) Petugas UKS Puskesmas / Bidan Desa
2) Unsur Guru dan unsur siswa

6. Tim Pelaksana UKS di SMP dan MTS, SMA, SMK, MA dan


Po spes

Pembina Camat
Ketua Kepala Sekolah / Kepala Madrasah / Pimpinan Ponpes
Sekretaris I Guru Pembina UKS / Pembina UKS
Sekretaris II Ketua Komite Sekolah / Majelis Madrasah
Anggota 1) Unsur Pengurus Komite Sekolah
2) Petugas UKS Puskesmas / Bidan Desa
3) Ketua OSIS
4) Unsur Sekolah

49
LAMPIRAN3

DAFTAR TILIK PENGAMATAN

PELAKSANAAN USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

PUSKESMASI SEKOLAH : Petugas :


NAMA PENGAMAT Tanggal:

Ke~rangan :
I. Dallar tilik digunakan untuk mengamati pelakJ>anaan pelayanan kesehatan gigi di sekolah.
2. Isilah kolom jawaban dengan tanda (V)pada kolomjawaban yang sesuai.
.3. Kolom Jawaban "Y" (Y=ya) bila sesuai dengan Daftar Tilik
4. Kolom jawaban '1"" (l'=tidak) bila tidak sesuai dengan Daltar Tilik
5. Kolom jawaban "TB" TB= Tidak Bcrlaku

Pcngamatan Pelayanan UKGS

A. Apakah guru! tenaga kesehatan mela.kukan dan mencatat


l. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
2. Membimbing murid mclakukan sikat gigi massal pada mllsir kelas 1,2 dan 3
3. Pcmbcrian obat pada murid untuk mcnghilangkan rasa sakit
4. Mclakukan rujukan bagi murid yang memcrlukan pcngobatan

B. Apakab tcnaga kcschatan gigi mclakukan dan mencalat


I. Membimbing guru mclakukan kegiatan sikat boigi massal
2. Pembersihan karang gigi pada murid
3. Pencabutan gigi susu pada murid-murid yang membutuhkan
4. Mclakuklln rujukan bagi murid yang mcmcrlukan pcngobatan
5. Penambalan pada murid kcJas 3 dan 5 dan murid kclas lainnya dengan ART
6. Penambalan pada murid kelas 3 dan 5 dan mudd kclas lainnya dengan Amalgam
7. Pencabutangigi telap pada !!lurid
8. Pemberian obat Wltuk mengbilangkan rasa sakit gigi
9. Menunjuk pasien yang tidak dapal ditangani di sekolah

Pengamat,

"( .......................... )

50
LAMPIRAN4

DAFTAR TILIK MONITORING

PELAKSANAAN USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

PUSKESMAS Petugas :
NAMA PENGAMAT Tanggal:

Keterangan :
I. Daftar tilik digunakan untuk rnemantau pelaksanaan UKGS.
2. lsi lah kolom jawaban dengan tanda (V) pada kolorn jawaban yang sesuai.
3. Kolom jawaban "Y" (Y=ya) bila kegiatan Pelayanan UKGS dilakukan dan
dicatat ke dalam catatan kegiatan UKGS sesuai dengan Daftar Tilik
4. Kolom jawaban "T" (T=tidak) bila tidak dilakukan atau tidak dieatat ke
dalarn eatatan kegiatan UKGS sesuai dengan Daftar Tilik.
F. INPUT

Apakah ada
I. Reneana kerja kegiatan UKGS
2. Reneana kerja pelatihan dokter keeil
3. Reneana kerja pelatihan guru
4. Daftar inventaris peralatan kegiatan UKGS
5. Daftar inventaris bahan dan obat untuk kegiatan UKGS
6. Penjadwalan perternuan lintas sek"1or dan !iotas program dalarn pelaksanaan
UKGS

PROSES
I, 7. Apakah petugas rnelakukan pemeriksaan dan meneatat data dasar rnurid
I
kelas terpilih pada sekolah yang akan rnendapat pelayanan UKGS
8. Apakah berdasarkan data dasar tersebut dibuat rencana kegiatan!
peJaksanaan UKGS pada SD yang bersangkutan
9. Apakah dilakukan pencatatan bagi rnurid-rourid yang menerima perawatan
10. Apakah pad a masing-masing rourid dibuat rencana terapy

51
OUTPUT

Apakah ada
11. Realisasi pelaksanaan UKGS sesuai dengan rencana kerja
12. Fasilitas pelaksanaan UKGS sesuai dengan kebutuhan
13. Hasil pelaksanaan UKGS dilaporkan pada Pimpinan SD
\4. Cakupan SD yang mendapat pe\ayanan kesehatan gigi
I
15. Cakupan SD yang melaksanakan kegiatan UKGS optimal
I
16. Cakupan SD kelas selektif yang mendapat perawatan kesehatan gigi dan I

mulut

Pengamat,

( .......................... )

52
LAMPIRAN5
FORMATPEML~PELAKSANAANPROGRAMUKGS

DI SEKOLAH DAN PUSKESMAS PEMBINA

DALAM RANGKA LOMBA UKGS

Tanggal penilaian
Sekollih yang dinilai
Puskesmas Pembina
KabIKota

Materi Penilaian :
I. Upaya Kesehatan Masyarakat pada UKGS (Bobot nilai 45 %)
2. Upaya Kesehalan Perorangan pada UKGS (Bobot nilai 35 %)
3. Manajemen UKGS pada program UKS (Bobot nilai 20 %)

SkaT tiap variabeI Kegiatan UKM UKGS, antata 10 -100, dengan ketentuan sbb :
Skor 0 - 25 = Kegiatan tidak dilaksanakan, cakupan 0%
Skor 25 - 50 .- Kegiatan' kadang-kadang dilaksanakan. cakupan <50%
Skor 50 - 75 = Kcgiatan sering dilaksanakan, cakupan antara 50-5%
Skor 75 - 100 = Kegiatan secara rutin dilaksanakan,cakupan > 75%

Nilai variabel : Skor x bobot


Nilai per Materi : L Nilai variabel x % Bobot nilai
Total nilai : Nilai materi UKM + Nilai materi UKP + Nilai Manajemen

I. UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


Robot

I. Frekuensi Kunjungan Frekuensl....... 10


Petugas Kesehatan ke Kegiatan ........
Sekolah (min 2x selahun
2. Pembinaan oleh lintas Frekuensi....... 10

53
sektor mll Tim Pembina Kegiatan ........
UKS Keeamatan
KEGIAT AN UKGS
Guru yang mengikuti Ada ITidak .10
pelatihan UKGS/UKS
2 Murid yang mengikuti ' Ada I Tidak 10
pelatihan dokter keeil
3 Pendidikan dan penyuluhan Ada I 10

kesehatan gigi dan mulut .. .. .. % kelas


oleh guru penjakes/guru (wawaneara
pembina OKS sesuai & bukti buku)
kurikulum (buku
Pendidikan Olahraga dan
Kesehatan)
4 Sikat gigi massal kelas I sid Ada I Tidak IS
lIT dg pasta gigi bcrfluor Frekuensi
minimal I kalil sebulan
(UKGS tahap I dan 11 )
5 Sikat gigi massal kelas I sid Ada ITidak IS
VI dg pasta gigi bertluor Frekuensi
minimall kalil sebulan
(UKGS tahap III )
6 Kegiatan tluoridasi (tablet Adal 10

fluor dan kumur-2 )


7. Survei DMF-T, PH dan Ada I Tidak 10

OHI-S rourid kIas VI I usia (bukti survei)


12 tahun

54
n. UPAYA KESEHATAN PEROR ANGAN

menghilangkan rasa sakit

2 Penjaringan dan 10
pencabutan gigi sulung (Bukti
yang sudah waktunya pellcatatan)
tanggal pada mood kelas I
3 ayahan medik gigi Ada/Tidal< 10
dasar aras pennintaan (Bukti
pacta mund Ktas I sid VI peneatatan)
(care on demand)
4 Pelayanan medik gtgi I I Ttdak 10
dasar pada kelas terpilih Prosentase keg.
sesuai kebuttihan untuk ........%
klas 1, III & IV (Bukti
pencatatan)
5 bagi yang Ada I Tidak 10
memerlukan (Bukti
pencatatan)
PELAYANAN
KESGILUTDI
PUSKESMAS
Jumlah perawatan gigi 10
yang ditangani : (Bukli
Balita peJaporan)
Murid TKI Apras
Murid SD/MI ...........................

55
.........................

.........................

2 Iumlah mood SDIMI yang 1Q


mendapat pelayanan Kes. Pelaporan)
Gigi paripuma
.........................

3 Rasio gigi tetap yang 10


ditambal thd gigi yang ................

dicabut (target 1 : 1)

PENINGKATAN

MUTU PELAYANAN

Tiogkat kepatuhan

provider terhadap Dokwnen,

prosedur pelayanan SOP, dan

kesgilut observasi

2 Ketersediaan alatlbahan AdaJTidak 10


pelayanan gigi (Drg. Kit Data
& Perawat Gigi Kit) inventarisasi
dan observasi

56
In. MANAJEMEN UKGS

3. SKIST pelaks.a na UKGS di Ada/TIdal< S

sekolah Dokumen
4. Rencana Tim Ada/ S

Pc;:laksana Dokumen
5. Struktur/Jadwal kcgiatan Ada 10
Dokumen

MANAJEMEN SUMBER
DAYA
Sarana, Prasarana dan
Alkes
Kartu inventaris peralatan Ada / Tidak
Dokumen
UKGS Kit Ada / Tidak
Observasi
Alkes gigi dan mulut dasar Ada / Tidak
Observasi
Pcralatan Demo gilut Ada / Tidak
Observasi
Sarana penyuluhan gilut Ada / Tidak
Observasi
Ada runngan khuslIS & Ada / Tidak
perabotan _ Observas i

Ada / Tidak
Observasi
Ada / Tidak
Observasi

57
2. Kader murid Ada/Tidak
4 Dana
Sumberdana Ada /Tida.k
Dokumen
2 Dana sehat Ada / Tidak
Dokumen
3 Jml operasional dim sebulan Ada/Tidak
Dokumen

FORMAT PENILAIAN UKGS TlNGKAT NASIONAL


Kelengkapan ruang UKS
Kelengkapan Peralatan UKGS: Kaca Mulut, Sonde, Pinset

Pclaksanaan Program UKGS DI TK;


a. Penyuluhan
b. Penyuluhan dan pemeJiharaan kesehatan gigi
c. Penyuluhan, pemeliharaan kesehatan gigi, dan perawatan
.d. Penyuluhan. perneliharaahkesehatan gigi, perawatan dan
Pembinaan

Pelaksanaan Program UKGS


a. Penyuiuhan
b. a + sikat gigi bersama ] bulan sekaJi
c. b + pemeriksaan gigi dan penjaringan
d, c+ pembinaan guru

58
LAMPTRAN6

Ae Ne-;

Asien Confere""" of
Ood tI.... .llb Promo_
' I

'
lor SchoOl Chiklton

Bali Declaration - Good Oral Health as Invesbnent of Children's Future


The 7th Asian Conference of Oral Health Promotion for School Children
(ACOHPSC), September 12-14, 2013, Bali, Indonesia

PeserU! the 7th Asian Conference of Oral Health Promotion for School Children,
berasal dari 22 negara

DEKLARASI BALI

Para peserta Konferensi 7th ACOHPSC yang berasal dari 21 negara menyepakati:
Bahwa penyakit gigi dan mulut, pada khususnya ,k aries gigi, merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang utama di kawasan Asia dan bahwa beban penyakit
pada anak-anak berdampak negatif yang signiflkan terhadap kesehatan,
pertumbuhan serta kesejahteraan sosial d'an emosional ;
Bahwa sumber daya dan kapasitas untuk ik esehatan mulut di sekolah bervariasi
diantara negara-negara di wilayah Asia, dan
Bahwa kesehatan mulut merupakan bagian integral dari kesejahteraan dan
kesehatan pada umumnya dan ;

Rekomendasi :
Integrasi kegiatan promotif dan preventif kesehatan gigi mulut dan mulut dalam
semua kebijakan dan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan sekolah serta di
lingkungan sekolah yang lebih Il uas, termasuk pra sekolah dan taman kanak
kanak serta peran serta masyarakat sekitar;
Mengintensifkan kerjasama lintas prafesi dan lintas sektor untuk mengatasi
karies gigi, pada anak-anak sejak usia dini yang mengarah ke perilaku bersih dan
sehat dan perbalkan kesehatan gigl dan mulut;

59
- Integrasi promotif dan preventif kesehatan gigl, dan mulut di sekolah dalam
konteks rencana aksi di daerah dan nasional dalam hubungannyan dengan
pencegahan dan pengendalian PTM, dan
- Pengembangan tenaga kesehatan gigi dan mulut yang melaksanakan kegiatan
promotif yang inovatif dengan melibatkan dental therapist atau perawat gigl
dengan peran dan tanggung jawab yang jelas bagi sektor kesehatan, pendidikan
dan sektor terkait lainnya, terrnasuk orang tua dan masyarakat;

Mendesak pemerintah, organisasi profesi, LSM dan stakeholder lain:


- Untuk sedapat mungkin memprioritaskan kesehatan gigi dan mulut anak-anak
dalam perencanaan program kesehatan;
- Untuk menggunakan pendekatan berbasis bukti yang terbaik dan efektivitas
biaya dalam kegiatan pro motif dan preventif kesehatan gigi dan mulut;
- Untuk fokus pada pend'ekatan yang sedemana, berkelanjutan, dan terukur untuk
kesehatan gigi dan mulut di sekolah;
- Untuk meningkatkan jumlah populasi penerima fluor dengan jumlah yang tepat,
khususnya melalui upaya produksi pasta gigi berfluor yang berkualitas tinggi
sehingga dapat tersedia dan te~angkau bagi semua;
- Untuk mempromosikan menyikat gigi dengan pasta gigi berfluor dua kali sehari
segera setelah gigl sulung perlama erupsi, dan
- Untuk mengembangkan indikator kesehatan gigi dan mulut yang terintegrasi
dalam sistem surveilans kesehatan nasional dan berkontribusi pada pencapaian
tujuan kesehatan nasional.

60
Ball Declaration - Good Oral Health as Invesbnent of Children's Future
The 7th Asian Conference of Oral Health Promotion for School Children
(ACOHPSC), September 12-14, 2013, Ball, Indonesia

The participants of the 7th Asian Conference of Oral Health Promotion for School

Children, coming from 22 countries.

Recognize:

- That oral diseases, particularly dental caries, are major public health problems in

the Asian region and that the burden of disease in children results in significant
negative impacts on their health an growth, as well as their social and emotional
wellbeing ;
- That available resources and capacities for school oral health vary among
countries of the region ; and
- That oral health is an integral part of general health and wellbeing;

Recommend:
- The integration of oral health promotion and prevention in all policies and
activities related to school, health, in the wider school setting . including pre
schools/kindergartens, as well as within the surrounding communities;
Intensified interprofessional and intersectoral collaboration to address dental
caries in children from an early age, leading to healthy lifelong behaviours and
improvements in oral health;
- The integration of oral health promotion and prevention in schools in the context
of emerging regional and national action plans for prevention and control of
NCDs; and
- The development and promotion of innovative wor1<force models using a team
approach and involving mid-level providers, such as dental therapists or dental

61
nurses, as well as clear roles and responsibilities of the health, education and
othet related sectors, as well as parents and communities;

Urge governments, professional organisations, NGOs and other stakeholders:


- To prioritise oral health of children wherever possible in planning for health
program;
- To use approaches with best-possible evidence and cost-effectiveness in oral
health promotiOn and prevention;
- To focus on simple, sustainable, and scalable approaches to school oral health;
- To increase the population exposure to appropriate fluorides, in particular through
efforts to make high quality fluoride toothpaste available and affordable for all;
- To promote lifelong twice-daily brushing with fluoride toothpaste starting as soon
as the first primary teeth erupt; and
- To develop oral health indicators that are integrated in national health
surveillance systems and contribute to the achievement of national health goals.

Adopted by the participants of the 7th Asian Conference of Oral Health Promotion for
School Children, held in Bali, Indonesia, on 14 September 2013.

62