Anda di halaman 1dari 25

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang dapat

menimbulkan kejadian luar biasa/wabah. Nyamuk penularnya ( Aedes Aegypti ) yang tersebar
luas sehingga penularannya dapat terjadi di semua tempat. Karena banyaknya kasus demam
berdarah yang terjadi negara Indonesia, maka Indonesia berencana meluncurkan hari demam
berdarah se-ASEAN (ASEAN Dengue Day) yang disepakati setiap tanggal 15 Juni. Tujuan dari
peluncuran ASEAN Dengue Day ini adalah meningkatkan komitmen nasional dan antarnegara
anggota ASEAN pada upaya pengendalian demam berdarah, baik pencegahan, penanggulangan,
hingga tata laksana sehingga angka kejadian dan kematian akibat DBD bisa
ditekan. Kasus DBD di Kaltim, tahun 2007 mencapai 5.244 kasus meninggal dunia
102 orang. Tahun 2008 sebanyak 5.777 kasus meninggal 105 orang dan tahun 2009 sebanyak
5.244 kasus meninggal sebanyak 68 orang. Terbanyak penderitanya adalah di Samarinda,
Balikpapan dan Kukar dengan angka kematian sebesar 1,9 persen. Berdasarkan dana Dinkes
Samarinda tahun 2009 terdapat 1.138 kasus dengan angka kejadian 26/10.000 penduduk.
Sedangkan di Indonesia, Dengan jumlah kematian sekitar 1.317 orang tahun 2010, Indonesia
menduduki urutan tertinggi kasus demam berdarah dengue di ASEAN. Untuk itu, Indonesia
bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN dalam membasmi penyakit DBD.
Berdasarkan data P2B2, jumlah kasus DBD di Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus. Menurut
Rita, potensi penyebaran DBD di antara negara-negara anggota ASEAN cukup tinggi mengingat
banyak wisatawan keluar masuk dari satu negara ke negara lain.
Bila pada kasus anak dengan DHF ini lambat penanganannya, maka akan dapat terjadi
komplikasi seperti efusi pleura karena adanya kebocoran lambung akibat meningkatnya
permeabilitas membrane, perdarahan pada lambung karena anak mengalami mual dan muntah
serta kurangnya nafsu makan, terjadi pembesaran pada hati, limpa dan kelenjar getah bening
karena bocornya plasma yang mengandung cairan, dan dapat terjadi syok hipovolemik karena
adanya peningkatan nilai hematokrit.
Berdasarkan angka kejadian diatas dan masalah-masalah yang terjadi akibat lambatnya
penanganan, maka kelompok akan memberikan asuhan keperawatan pada klien An. W dengan
diagnose medis DHF sehingga penulisan dalam makalah ini mengambil judul Asuhan
Keperawatan Pada Klien An. W dengan Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ).
Konsep Dasar Dengue Hemorrhagic Fever
2.1.1 Pengertian
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain
yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik.
(Sir,Patrick manson,2001).
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
(arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi &
Yuliani, 2001). Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili
Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang
dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai
tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue. (Saroso, 2007)

2.1.2 Etiologi
DHF disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus dan ditularkan
oleh nyamuk Aedes Aegypti. Di Indonesia, virus tersebut sampai saat ini telah diisolasi menjadi
4 serotipe virus dengue yang termasuk dalam grup B dari arthropedi borne viruses ( Arbovirus ),
yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi oleh salah satu serotype menimbulkan
antibody seumur hidup terhadap serotype bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipr lain. Virus dengue ini terutama ditularkan melalui vector nyamuk aedes aegypti.
Nyamuk aedes albopictus,

aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini terdapat hampir
di seluruh Indonesia kecuali di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.
Perkembangan hidup nyamuk Aedes Aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar
10-12 hari. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih dari
manusia untuk memotong telurnya. Sedangkan nyamuk jantan tidak dapat menghisap darah,
melainkan hidup Dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk Aedes Aegypti betina sekitar
2 minggu. ( Hadinegoro, 1999 )

2.1.3 Patofisiologi
Virus dengue masuk pertama kali ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk,
terinfeksi oleh virus dengue untuk pertama kalinya atau mendapat infeksi berulang virus dengue
lainnya. Saat virus masuk kedalam peredaran darah melalui gigitan nyamuk, terjadi infeksi virus

,
dengue yang akan merangsang endotoxin selanjutnya merangsang zat pyrogen dan endogen,
mengakibatkan interleukin 1, menggeser set point dari titik normal, sehingga terjadi menggigil,
demam, dan terjadi hipertermia mendadak. Dari hipertermi akan meningkatkan stress,
merangsang keluarnya histamine, menyebabkan peningkatan HCI, mengiritasi lambung, terjadi
mual dan penurunan nafsu makan, masukan yang tidak adekuat sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan nutrisi yaitu kurang dari kebutuhan tubuh.

2.1.4 Pemeriksaan penunjang


a. Darah
Pada demam dengue terdapat leucopenia pada hari ke 2 atau ke 3 pada DBD
dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi
b. Air Seni
Mungkin ditemukan albuminuria ringan

2.1.5 Tanda dan gejala


a. Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari ( tanpa sebab jelas )
b. Manifestasi pendarahan, paling tidak terdapat uji tourniquet positif dan adanya salah
satu bentuk pendarahan yang lain, misalnya : ptekiae, ekimosis, epistaksis, pendarahan
gusi, melena atau hematemesis
c. pembesaran hati
d. mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, dan konstipasi
e. Nyeri ulu hati karena adanya pendarahan di lambung, nyeri otot, nyeri tulang sendi.
f. Syok yang ditandai nadi lemah dan cepat disertai dengan tekanan nadi yang menurun
( 20 mmHg atau kurang ), tekanan darah yang menurun ( tekanan sistolik menurun
sampai 80 mmHg atau kurang ), dan kulit yang teraba dingin dan lembab, terutama
pada ujung hidung, jari dan kaki. Penderita gelisah serta timbul sianosis di sekitar
mulut.
2.1.6 Penatalaksanaan
Bila anak diduga atau sudah didiagnosa medis DHF, maka hal yang harus dilakukan adalah :
a. Tirah baring
b. Beri makanan yang lunak. Apabila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum
banyak 1, - 2 liter dalam 24 jam ( susu, air, dengan gula atau sirup ). Atau air tawar
yang ditambahkan dengan garam saja.
c. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Hiperpireksia dapat diberikan kompres es
di kepala, ketiak dan inguinal. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminoferen,
eukinin, atau dipiron. Hindari pemberian asetol karena bahaya pendarahan.
d. Pemberian cairan intravena pada anak tanpa renjatan dilakukan bila anak terus
menerus muntah, sehingga tidak mungkin diberi makanan peroral atau didapatkan
nilai hematokrit yang terus meningkat ( >40vol% ). Jumlah cairan yang diberikan
tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa
5 % dalam 1/3 larutan NaCl 0,9% dengan jumlah tetesan 16 x/ menit.
2.1.7 Prognosis
Kasus DBD di Kaltim, tahun 2007 mencapai 5.244 kasus meninggal dunia 102
orang. Tahun 2008 sebanyak 5.777 kasus meninggal 105 orang dan tahun 2009 sebanyak
5.244 kasus meninggal sebanyak 68 orang. Terbanyak penderitanya adalah di Samarinda,
Balikpapan dan Kukar dengan angka kematian sebesar 1,9 persen. Berdasarkan dana
Dinkes Samarinda tahun 2009 terdapat 1.138 kasus dengan angka kejadian 26/10.000
penduduk. Sedangkan di Indonesia, Dengan jumlah kematian sekitar 1.317 orang tahun
2010, Indonesia menduduki urutan tertinggi kasus demam berdarah dengue di ASEAN.
Untuk itu, Indonesia bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN dalam
membasmi penyakit DBD. Berdasarkan data P2B2, jumlah kasus DBD di Indonesia
tahun 2010 ada 150.000 kasus.
2.1.8 Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia.
b. Biologis
Pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik ( ikan cupang )
c. Kimiawi
Pengendalian kimiawi antara lain :
1) Pengasapan/fogging berguna untyk mengurangi kemungkinan penularan
sampai batas waktu tertentu.
2) Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air seperti
gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

1.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan
pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat
diketahui kebutuhan klien tersebut. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan
membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan
dalam perumusan diagnosa keperawatan. ( Doenges : 2000 ).
Tahap pengkajian adalah sebagai berikut :
a. Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan
klien dengan cara wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik melalui keluarga,
orang terdekat, masyarakat, maupun rekam medic.
b. Identitas klien dan keluarga, terdiri dari :
1) Nama klien, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, agama.
2) Nama ayah, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat.
3) Nama ibu, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat.
4) Tanggal anak masuk rumah sakit, diagnose medis, dan segala sumber informasi
yang diperoleh.
c. Keluhan utama, yaitu alas an yang paling menonjol pada pasien dengan DHF untuk
datang ke rumah sakit
d. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dengan
kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan
keadaan anak semakin lemah. Kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan,
mual, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, serta adanya manifestasi
pendarahan pada kulit
2) Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita klien, apa pernah mengalami serangan
ulang DHF.
3) Pemeriksaan fisik, terdiri dari :
Inspeksi, adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan klien
( inspeksi adanya lesi pada kulit ). Perkusi, adalah pemeriksaan fisik dengan jalan
mengetukkan jari tengah ke jari tengah lainnya untuk mengetahui normal atau
tidaknya suatu organ tubuh. Palpasi, adalah jenis pemeriksaan fisik dengan
meraba klien. Auskultasi, adalah dengan cara mendengarkan menggunakan
stetoskop ( auskultasi dinding abdomen untuk mengetahu bising usus )
e. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindari
f. Riwayat gizi
Status gii anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status
gizi baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat factor predisposisinya. Anak
yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan
menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi
yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status
gizinya menjadi kurang.
g. Pola kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolism : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan
nafsu makan menurun.
2) Eliminasi alvi ( buang air besar ). Kadang-kadang anak mengalami
diare/konstipasi. Sementara DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
3) Eliminasi urine perlu dikaji apakah sering buang air kecil, sedikit/banyak,
sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria
4) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami
sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun
istirahatnya kurang.
5) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk.
h. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah klien DHF akan dijumpai :
1) Hb dan PCV meningkat ( 20%)
2) Trambositopenia (100.000/ml)
3) Leukopenia
4) Ig.D. dengue positif
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia, hipokloremia,
dan hiponatremia.
6) Urium dan Ph darah mungkin meningkat
7) Asidosis metabolic : Pco2<35-40 mmHg
8) SGOT/SGPT mungkin meningkat

1.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggambarkan respons actual atau
potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawata mempunyai lisensi dan kompeten
untuk mengatasinya. ( Perry Potter, 2005 )
Nursalam ( 2001 ) menyatakan diagnosa keperawatan yang dapat timbul pada klien
dengan DHF adalah :
a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan
d. Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan perdarahan
e. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi
Menurut Nanda, diagnose keperawatan dinyatakan dengan benar adalah sebagai
berikut :
a. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolism
Batasan Karakteristik
- Konvulsi
- Kulit kemerahan
- Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal
- Kejang
- Takikardi
- Takipnea
- Kulit terasa hangat
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
Batasan Karakteristik
- Perubahan status mental
- Penurunan tekanan darah
- Penurunan tekanan nadi
- Penurunan volume nadi
- Penurunan turgor kulit
- Penurunan turgor lidah
- Pengeluaran haluaran urine
- Penurunan pengisian vena
- Membrane mukosa kering
- Kulit kering
- Peningkatan hematokrit
- Peningkatan suhu tubuh
- Peningkatan frekuensi nadi
- Peningkatan konsentrasi urine
- Penurunan berat badan tiba-tiba
- Haus
- Kelemahan
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan
Batasan Karakteristik
- Kram abdomen
- Nyeri abdomen
- Menghindari makanan
- Berat badan turun 20 % atau lebih di bawah berat badan ideal
- Kerapuhan kapiler
- Diare
- Kehilangan rambut berlebihan
- Bising usus hiperaktif
- Kurang makanan
- Kurang informasi
- Kurang minat pada makanan
- Penurunan berat badan denagn asupan makanan adekuat
- Kesalahan konsepsi
- Kesalahan informasi
d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi
Batasan Karakteristik
- Perilaku hiperbola
- Ketidakakuratan mengikuti perintah
- Ketidakakuratan melakukan tes
- Perilaku tidak tepat
- Pengungkapan masalah

1.2.3 Perencanaan Keperawatan


Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada
klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai
tujuan tersebut. ( Perry Potter, 2005 )
a. Menetapkan prioritas bukan semata-mata memberikan nomor pada diagnose
keperawatan dengan dasar keparahan atau kepentingan fisiologis. Prioritas
diklasifikasikan sebagai tinggi, menengah, atau rendah. (Perry Potter, 2005 )
b. Merumuskan tujuan dan criteria hasil, pedoman penulisan criteria hasil berdasarkan
SMART
S : Spesifik ( tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda )
M : Measurable ( tujuan harus dapat diukur )
A : Achievable ( tujuan harus dapat dicapai )
R : Reasonable ( tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah )
T : Time ( waktu keperawatan )

Nanda ( 2009 ) dan Doenges ( 2000 ), menyatakan bahwa rencana tindakan keperawatan yang
dapat disusun untuk setiap diagnose adalah :
a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
Tujuan : Mempertahankan suhu tubuh normal dengan criteria hasil suhu tubuh
35,50-37,00c
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 370 c, membrane mukosa basah, nyeri otot
hilang
Rencana :
1) Ukur tanda-tanda vital ( suhu )
Rasional : Suhu 38,90c-41,10c, menunjukkan proses penyakit infeksi akut
2) Berikan kompres hangat
Rasional : Kompres hangat akan terjadi perpindahan panas konduksi
3) Tingkatkan intake cairan
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi dengan criteria hasil mata tidak cekung,
membrane mukosa tetap lembab, turgor kulit baik
Kriteria hasil : Turgor kulit baik, kulit tidak kering, membrane mukosa tetap lembab
Rencana :
1) Observasi tanda-tanda vital paling sedikit setiap tiga jam
Rasional : Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi dari peningkatan kehilangan
cairan mengakibatkan hipotensi dan takikardia

2) Observasi dan cata intake dan output


Rasional :Menunjukkan status volume sirkulasi,terjadinya/perbaikan perpindahan
cairan, dan respon terhadap terapi
3) Timbang berat badan
Rasional : Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal
4) Monitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mencerna makanan
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat dengan criteria hasil berat badan stabil
atau meningkat
Rencana :
1) Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan
kualitas intake nutrisi
Rasional : Mengganti kehilangan vitamin karena malnutrisi/anemia
2) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi
kecil tapi sering secara bertahap
Rasional : Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan
3) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang
sama
Rasional : Mengawasi penurunan berat badan
4) Pertahankan kebersihan mulut klien
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan selera makan dan pemasukan oral
5) Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
Rasional : Meningkatkan motivasi klien untuk makan
d. Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : Perfusi jaringan perifer adekuat dengan criteria hasil tanda-tanda
vital stabil, nadi 8-100x/menit, pernapasan 15-25 x/menit, suhu tubuh
aksila 35,5-37,0 c, tekanan darah 95-1a20/50-70 mmHg
Rencana :
1) Kaji dan catat tanda-tanda vital
Rasional : Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi dari peningkatan kehilangan
cairan mengakibatkan hipotensi
2) Nilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin,
nyeri, pembengkakan kaki
Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, dan immobilisasi

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi


Tujuan : Klien mengerti dan memahami proses penyakit dan pengobatan
Rencana :
1) Tentukan kemampuan dan kemauan untuk belajar
Rasional : Adanya keinginan untuk belajar memudahkan penerimaan informasi
2) Jelaskan rasional pengobatan, dosis, efek samping dan pentingnya minum obat
sesuai resep
Rasional : Dapat meningkatkan kerjasama dengan terapi obat dan mencegah
penghentian pada obat dan atau interkasi obat yang merugikan

3) Beri pendidikan kesehatan mengenai penyakit DHF


Rasional : Dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan dapat mengurangi
kecemasan

1.2.4 Pelaksanaan Keperawatan


Implementasi, yang merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah kategori dari
perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang
diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. (Perry & Potter, 2005 )
a) Tindakan Keperawatan Mandiri
Tindakan yang dilakukan Tanpa Pesanan Dokter. Tindakan keperawatan mendiri
dilakukan oleh perawat. Misalnya menciptakan lingkungan yang tenang, mengompres
hangat saat klien demam.
b) Tindakan Keperawatan Kolaboratif
Tindakan yang dilakukan oleh perawat apabila perawata bekerja dengan anggota
perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertahan
untuk mengatasi masalah klien

1.2.5 Evaluasi Keperawatan


Langkah evaluasi dari proses keperawatan mengukur respons klien terhadap tindakan
keperawatan dan kemajuan klien kea rah pencapaian tujuan. Evaluasi terjadi kapan saja perawat
berhubungan dengan klien. Penekanannya adalah pada hasil klien. Perawat mengevaluasi apakah
perilaku klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnose keperawatan.
( Perry Potter, 2005 )
Pada saat akan melakukan pendokumentasian, menggunakan SOAP, yaitu :
S : Data subyektif merupakan masalah yang diutarakan klien
O : Data obyektif merupakan tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan diagnose
keperawatan
A : Analisis dan diagnose
P : Perencanaan merupakan pengembangan rencana untuk yang akan datang dari
intervensi

2.1.6 Dokumentasi Keperawatan


Dokumentasi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat
diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang. ( Perry Potter, 2005 )
Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan Intervensi Keperawatan Rasional
Keperawatan
Peningkatan Klien akan dapatUkur tanda-tanda vitalSuhu 38,90c-41,10c,
suhu tubuh melaporkan suhu( suhu ) menunjukkan proses
berhubungan tubuh normal dalam penyakit infeksi akut
dengan waktu 1 x 24 jam
peningkatan laju dengan criteria hasil :
metabolism 1. Badan hangat
2. Kulit normal Berikan kompres hangat Kompres hangat akan
3. Tidak terjadi terjadi perpindahan
kejang panas konduksi
Untuk mengganti
Tingkatkan intake cairan cairan tubuh yang
hilang akibat evaporasi
Observasi tanda-tanda vital
paling sedikit setiap tiga jam Penurunan sirkulasi
darah dapat terjadi dari
peningkatan
Defisit volume kehilangan cairan
cairan Observasi dan cata intakemengakibatkan
berhubungan Klien akan dapatdan output hipotensi dan
dengan melaporkan takikardia
kehilangan kebutuhan cairan
cairan aktif terpenuhi dalam Menunjukkan status
waktu 2 x 24 jam volume sirkulasi,
dengan criteria hasil : Timbang berat badan terjadinya/perbaikan
Volume cairan perpindahan cairan,
adekuat Monitor pemberian cairandan respon terhadap
Kekuatan tubuhmelalui intravena setiap jam terapi
kembali normal
Klien tenang Timbang berat badan setiapMengukur
hari atau sesuai indikasi keadekuatan

Kebutuhan penggantian cairan


nutrisi kurang Ciptakan lingkungan yangsesuai fungsi ginjal
dari nyaman Mempertahankan
kebutuhan tubuh keseimbangan
berhubungan Berikan makanan yangcairan/elektrolit
dengan Klien akan dapatdisertai dengan suplemen
ketidakmampuan melaporkan nutrisinutrisi untuk meningkatkanMemberikan informasi
untuk mencerna terpenuhi dalamkualitas intake nutrisi tentang kebutuhan
makanan waktu 2 diet/keefektifan terapi
Anjurkan kepada orang tua
x 24 jam denganuntuk memberikan makananLingkungan yang
nyaman menurunkan
criteria hasil : dengan teknik porsi kecil
stress dan lebih
1. Nutrisitapi sering secara bertahap kondusif untuk makan
adekuat
Memberikan masukan
BAB Anjurkan kebersihan oral nutrisi yang adekuat
yang diperlukan tubuh
normal
2. TidakTimbang berat badan setiap
ada hari pada waktu yang sama
sariawa dan dengan skala yang sama
n
Tentukan kemampuan dan
kemauan untuk belajar
Porsi lebih kecil dapat
meningkatkan
Jelaskan rasional masukan
pengobatan, dosis, efek
samping dan pentingnya
minum obat sesuai resep

Beri pendidikan kesehatan


mengenai penyakit DHF Mulut yang bersih
dapat meningkatkan
nafsu makan
Mengawasi penurunan
berat badan

Adanya keinginan
untuk belajar
memudahkan
penerimaan informasi

Dapat meningkatkan
kerjasama dengan
Defisiensi terapi obat dan
pengetahuan mencegah penghentian
berhuibungan pada obat dan atau
dengan tidak interkasi obat yang
familiar dengan merugikan
sumber
informasi
Dapat meningkatkan
pengetahuan pasien
dan dapat mengurangi
kecemasan

Klien akan dapat


melaporkan mengerti
dan memahami proses
penyakit dan
pengobatan dalam
waktu 1 x 45 menit
dengan criteria hasil :
1. Ibu klien
tenang, tidak
cemas
2. Informasi
adekuat

3.1.8 Implementasi Keperawatan


Hari/Tanggal DX Implementasi Keperawatan Hasil
Selasa, 21 september I 1. Mengukur tanda-tanda vital 5. Suhu tubuh 37,5
2012 ( suhu )
08.00
09.00 2. Memberikan kompres hangat 6. Badan klien
3. Meningkatkan intake cairan Panas
10.00 7. Cairan tubuh yang
hilang tidak
1. Mengobservasi tanda-tanda adekuat
Selasa, 21 september II vital paling sedikit setiap tiga 1. Suhu tubuh 37,5 c
2012 jam
11.00 2. Mengobservasi dan catat 2. Intake dan output
12.50 intake dan output tidak adekuat
3. Menimbang berat badan 3. Berat badan klien
08.30 16 kg
4. Menonitor pemberian cairan 4. Cairan tubuh klien
12.05 melalui intravena setiap jam tidak adekuat
5. Nafsu makan klien
5. Memberikan makanan yang belum ada
12.10 disertai dengan suplemen Klien makan 1/4
nutrisi untuk meningkatkan dari porsi yang
kualitas intake nutrisi disediakan

6. Ibu klien
6. Menganjurkan kepada orang menerapkan saran
13.00 tua untuk memberikan perawat
makanan dengan teknik porsi
kecil tapi sering secara
bertahap 7. Tidak terjadi
7. Menimbang berat badan peningkatan berat
14.00 setiap hari pada waktu yang badan
sama dan dengan skala yang Berat badan klien
sama 16 kg

1. Berat badan klien


1. Menimbang berat badan 16 kg
Selasa, 21 september III setiap hari atau sesuai indikasi
2012 2. Menganjurkan istirahat 2. Klien terlihat
08.30 sebelum makan Tenang
11.30 3. Mmberikan kebersihan mulut 3. Klien makan 3-4
terutama sebelum makan sendok
12.00 4. Menciptakan lingkungan yang
nyaman 4. Klien terlihat
5. Mengkolaborasi dengan tim tenang
12.30 ahli gizi 5. Klien diberi
vometa sendok
12.45 makan dan klien
masih mual setelah
minum obat
1. Menententukan kemampuan 1. Ibu klien mau
dan kemauan untuk belajar untuk belajar
Selasa, 21 september IV 2. Menjelaskan rasional 2. Keluarga klien
2012 pengobatan, dosis, efek mengerti tentang
09.45 samping dan pentingnya rasional
09.55 minum obat sesuai resep pengobatan

3. Memberi pendidikan 3. Ibu klien dapat


kesehatan mengenai penyakit menjelaskan dan
DHF mengulang
10.05 mengenai penyakit
DHF

1. Mengukur tanda-tanda vital 1. Suhu tubuh klien


( suhu ) 37,0 c

Rabu, 22 september I 2. Memberikan kompres hangat 2. Badan klien masih


2012 hangat
3. Meningkatkan intake cairan
08.00
3. Intake cairan tidak
09.00
adekuat

1. Mengobservasi tanda-tanda
1. Suhu tubuh klien
10.00
vital paling sedikit setiap tiga
37 c
jam
Nadi 116 x/menit
2. Mengobservasi dan cata
2. Intake dan output
Rabu, 22 september II
intake dan output
tidak adekuat,
2012
minum 3-4 gelas
11.00
perhari
12.50
3. Menonitor pemberian cairan
3. IV RL 28 tetes /
melalui intravena setiap jam
menit

1. Menimbang berat badan


12.05 setiap hari atau sesuai indikasi 1. Berat badan klien
2. Mmberikan kebersihan mulut 17 kg
terutama sebelum makan
Rabu, 22 september III 3. Mengkolaborasi dengan tim 2. Nafsu makan
2012 ahli gizi klien belum ada
08.30
12.00 1. Mengukur tanda-tanda vital 3. Klien mual

2. Memberikan kompres hangat


12.45 1. Suhu tubuh 36,5 c
3.Meningkatkan intake cairan

Kamis, 23 September I 2. Badan sudah tidak


2012 panas lagi
08.00 3. Intake cairan
1. Mengobservasi tanda-tanda
09.00 terpenuhi
vital setiap tiga jam atau sesuai
indikasi
10.00
2. Mengobservasi dan catat
4. Suhu tubuh normal
intake output
36,5 c

Kamis, 23 September II 5. Intake dan output


4. Intake dan output adekuat,
2012 adekuat, klien
klien minum -6 gelas / hari
11.00 minum -6 gelas / hari
12.50 6. IV RL 20
1. Menimbang berat badan
tetes/menit
setiap hari atau sesuai indikasi
2. Memberikan kebersihan
1. Berat badan 18 kg
mutut terutama sebelum
12.05
makan
3. Mengkolaborasi dengan tim
2. Nafsu makan
Kamis, 23 September III ahli gizi kembali normal
2012
08.30 3. Klien tidak mual
12.00 atau muntah saat
diberikan vometa 1/2

12.45

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) : Demam Yang


Mematikan
By DokterCare Team April 1, 2012 Post a comment
Filed Under ciri-ciri gejala Demam Berdarah Dengue, DB, DBD, Demam tinggi, kematian,
nyamuk Aedes, panas badan, Penanganan demam berdarah infeksi Virus Dengue, Penyebab
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Perdarahan

Saat musim hujan seperti sekarang ini, kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang
sering disebut juga penyakit Demam Berdarah (DB) cenderung meningkat..

Penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue adalah Virus Dengue. Virus Dengue ditularkan
oleh nyamuk Aedes, nyamuk bertubuh hitam dengan titik-titik putih diseluruh tubuhnya..

Nyamuk penyebar virus penyebab Demam Berdarah Dengue mempunyai sifat yang unik, yakni
hanya terbang mencari makan pada pagi dan sore hari hingga matahari terbenam. Nyamuk aedes
juga hanya bertelur di air jernih yang tergenang dan tidak mengalir..

Nyamuk Aedes mempunyai jangkauan terbang sekitar 100 meter, jadi bila ada yang sedang
menderita penyakit Demam Berdarah Dengue dan ada nyamuk aedes di Lingkungannya, orang
di sekitar pasien Demam Berdarah Dengue dengan rasio jarak 100 meter beresiko terinfeksi
Virus dengue..

Bila orang digigit nyamuk yang membawa virus dengue, orang itu akan tertular virus dengue.
Namun, bila nyamuk Aedes yang menggigit seseorang tidak mengandung virus, orang itu tidak
akan tertular virus dengue..

Virus Dengue sendiri terdiri dari 4 jenis: Den 1, 2, 3, 4. Hal inilah yg menyebabkan sakit Demam
Berdarah Dengue bisa terjadi berulang kali..

Bila tertular virus dengue, ada 2 macam jenis penyakit yang bisa diderita: penyakit Demam
Dengue atau Dengue Fever (DD atau DF) dan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)..
Demam Dengue adalah infeksi virus Dengue yang ringan dan tidak mengancam nyawa..

Demam Berdarah Dengue atau Demam Berdarah merupakan infeksi dengue yang parah dan bisa
mematikan..

Perbedaan apakah itu Penyakit Demam Dengue atau Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa kita
lihat saat panas badan mulai turun..

Bila saat panas turun pada hari ke 4-7 dari hari pertama panas, pasien menjadi makin segar, nafsu
makan timbul dan gejala hilang, ini termasuk ciri-ciri demam dengue (DD)..

Bila saat panas turun pada hari ke 4-7 panas, pasien jadi tambah lemas, teler dan tampak makin
sakit, waspadalah merupakan ciri-ciri Demam Berdarah Dengue..

Gejala umum infeksi virus dengue (Gejala Demam Berdarah Dengue dan Demam Dengue) :

1. panas badan: Demam tinggi timbul mendadak, berlangsung selama 2-7 hari. Panas kadang
naik turun seperti pelana kuda (panas tinggi, turun, kemudian panas lagi)..

2. Nyeri seluruh badan: nyeri kepala, nyeri belakang mata, nyeri sendi, nyeri otot..

3. Kemerahan/ruam: Pada awal sakit bisa timbul kemerahan di badan. Saat mau sembuh, bisa
timbul ruam seperti campak diujung tangan dan kaki..

4. Perdarahan: Tidak harus ada, Lebih banyak terjadi pada jenis DBD (Penyakit demam berdarah
dengue). Perdarahan bisa berupa titik merah dikulit, mimisan, perdarahan gusi, berak
hitam/darah, kencing berwarna merah dll..

5. Gejala umum infeksi virus, seperti: lemas, badan pegal dan tidak enak badan..

6. Gejala saluran cerna: mual, muntah, nafsu makan turun, diare, namun gejala ini tidak selalu
muncul..

Bila ada gejala penyakit Demam Berdarah dengue (DBD), HARUS dibawa ke UGD Rumah
Sakit terdekat. Penanganan Demam Berdarah Dengue yang tepat di Rumah Sakit bisa mencegah
kematian..

Infeksi Virus Dengue bisa menyerang siapapun, umur berapapun, status sosial apapun, bahkan
dokter sekalipun..
Demam Berdarah Dengue (baca : Denggi), atau disingkat DBD, atau dalam bahasa Inggris
disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina.

Virus DBD ini terdiri dari 4 macam dan saling terkait satu sama lain, yaitu tipe DEN-1, DEN-2,
DEN-3 dan DEN-4.
Jika seseorang pernah mengidap DBD karena 1 tipe virus, bukan berarti orang ini menjadi
kebal/imun dengan tipe virus yang lain. Jadi, seseorang bisa terkena DBD hingga 4 kali.

Gejala DBD kadang mirip dengan penyakit lainnya yaitu adanya demam tinggi yang mendadak
sekitar 39-40 derajat Celcius. Demam ini akan turun pada hari ketiga atau keempat dimana
penderita akan merasa lebih baik padahal sebenarnya inilah fase-fase kritis, dan akan muncul
kembali pada hari keenam dan ketujuh.
Pada hari ketiga akan terjadi pengeluaran plasma darah yang ditandai dengan tubuh loyo dan
panas tubuh yang menurun. Inilah kondisi kritis pasien dan jika tidak ditangani secara tepat dapat
menyebabkan kematian karena kondisi tubuh yang semakin menurun serta pendarahan yang
semakin hebat. Oleh karena itu, kenali dengan jelas ciri-ciri DBD sehingga anda dapat
memberikan pertolongan yang tepat kepada penderita.

Namun yang patut diwaspadai adalah bila demam itu diikuti dengan nyeri di bagian belakang
mata, nyeri pada otot dan persendian dan timbul bercak-bercak merah pada kulit. Gejala ini
umumnya timbul 4-6 hari setelah terinfeksi oleh virus. Untuk kondisi yang lebih parah, pasien
bisa mengalami nyeri perut dan muntah-muntah. Pada sebagian besar penderita, akan muncul
juga pendarahan yang terjadi di gusi, kulit, hidung dan juga pendarahan besar.

Perlu diingat bahwa sampai saat ini penyakit DBD belum ada obatnya. Vaksin DBD kabarnya
pun masih dalam proses pengembangan. Yang bisa dilakukan hanyalah merawat pasien agar
kondisi tubuhnya jangan terus menurun dengan cara istirahat, minum obat penurun panas
(Paracetamol) 3 x sehari selama badan penderita masih panas dan hentikan bila sudah tidak
panas lagi, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan minum sebanyak-banyaknya untuk
mengurangi pengentalan darah akibat plasma darah yang banyak keluar saat terjadi pendarahan.

Berikan pula oralit atau cairan elektrolit untuk mencegah dehidrasi dan jus buah jambu untuk
memperbanyak pembentukan trombosit darah sebagai ganti trombosit darah yang hilang akibat
dari pendarahan atau pecahnya pembuluh darah. Pemberian Vitamin atau multivitamin juga
dianjurkan untuk menambah kuat daya tahan tubuh dan juga menambah nafsu makan.

Makin kuat daya tahan tubuh, makin besar kemungkinan seseorang dapat menghambat
perkembangan virus DBD dalam tubuh.

DBD dapat timbul pada orang yang tinggal di daerah pinggiran terutama yang hidup di daerah
kumuh. Umumnya menyerang anak-anak karena sistim imun pada anak-anak tidaklah sekuat
orang dewasa. Namun virus tersebut tidak akan mempengaruhi orang-orang yang memiliki daya
tahan tubuh yang prima yang akan menghambat perkembangbiakan virus Dengue dalam tubuh.

Oleh karena itu, istirahat yang cukup, makan teratur dan olahraga dapat membantu kita untuk
menghindar dari penyakit. Jangan lupa pula untuk menjaga kebersihan dan menutup semua
lubang yang berair untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk pembawa virus Dengue
tersebut.