Anda di halaman 1dari 4

Latar Belakang Menurut Ferlazzo et al.

(2012)
pelepasan endorfin juga bisa diregulasi
Latihan fisik adalah aktivitas yang oleh adenohypophysis yang bergantung
dilakukan secara terencana, teratur dan pada rangsangan adrenergik. Penelitian
berulang - ulang dalam intensitas tertentu yang dilakukan terhadap hewan coba
untuk meningkatkan taraf kesehatan. berupa kuda pacu menyebutkan bahwa,
Latihan fisik terprogram selain endorfin dapat digunakan sebagai
meningkatkan kesehatan jasmani juga dapat parameter dalam pemantauan stres latihan
meningkatkan kadar endorfin yang fisik dan kebugaran. Penelitian lainnya
berpengaruh terhadap perubahan mood, yang dilakukan terhadap hewan coba kuda
seperti yang ditulis oleh McGowan, et al juga didapatkan terjadi peningkatan kadar
(1993). endorfin sesuai dengan peningkatan
Penelitian pada hewan coba yang intensitas dan lamanya durasi latihan (Mehl
dilakukan oleh Stein (1991) menunjukkan et al., 2000).
bahwa endorfin terlibat dalam respon Berbagai penelitian menyebutkan
mengurangi rasa nyeri dan menekan stress adanya peningkatan kadar Endorfin
pada hewan coba. Endorfin membantu plasma pada latihan fisik. Akan tetapi
mengurangi rasa sakit dengan menekan penelitian yang berkaitan dengan
stress serta menghasilkan efek pengeluaran Endorfin di jaringan otak
menenangkan. Selain itu diketahui bahwa pada latihan fisik aerobik dan anaerobik
endorfin juga mampu menciptakan perilaku terprogram masih sangat terbatas. Oleh
adiktif terhadap latihan fisik (Pierce et al., karena itu perlu dilakukan penelitian lebih
1993; Griffiths, 1997; dan Hausenblas et lanjut, untuk mengetahui apakah terdapat
al., 2002). perbedaan kadar Endorfin jaringan otak
Endorfin berfungsi meregulasi stres, pada latihan fisik aerobik dan anaerobik
menekan rasa nyeri, meningkatkan imunitas terprogram. Penggunaan hewan coba pada
tubuh, menghambat proses penuaan, penelitian ini sangat diperlukan, agar
mengontrol nafsu makan, menurunkan perbedaan kadar Endorfin di jaringan
tekanan darah, memberikan reward otak pada latihan fisik aerobik dan
sistem (memberikan rasa senang) di otak anaerobik terprogram dapat diukur dengan
dan mood. Fungsi utama endorfin untuk jelas.
menghambat transmisi sinyal rasa sakit;
endorfin juga bisa menghasilkan perasaan Metode Penelitian
euforia seperti yang dihasilkan oleh opioid Jenis penelitian ini adalah penelitian
lainnya (Stefano et al., 2011) eksperimental laboratorium dengan
Endorfin bertanggung jawab rancangan Post Test Control Group Design
menciptakan keadaan psikologis yang yang dilakukan di animal house Bio Sains
dikenal sebagai runners high. Beberapa Riset Palembang pada bulan April sampai
penelitian menunjukkan peningkatan dengan Juni 2017.
Endorfin yang signifikan selama atau Hewan coba pada penelitian ini
setelah latihan latihan fisik berat. Akan menggunakan tikus Wistar jantan yang sehat,
tetapi beberapa penelitian yang meneliti umur 6-8 minggu dengan rentang berat badan
tentang hubungan antara latihan fisik berat 60-80 gram, yang dibagi secara random
dan kadar plasma darah endorfin menjadi 3 kelompok yaitu :
menunjukkan hasil yang bertentangan P1 : Kelompok kontrol, tidak diberi
(Stefano et al., 2011). perlakuan latihan fisik
P2 : Kelompok tikus latihan anaerobik 5. Masukkan larutan PBS dengan
3 kali seminggu konsentrasi 0,01 M dengan PH 7,4
P3 : Kelompok tikus latihan aerobik 3 sebanyak 1000microlite menggunakan
kali seminggu micropippete ke dalam microtube yang
berisi jaringan hipokampus.
Masing-masing kelompok berjumlah 6. Selanjutnya dilakukan penghancuran
10 ekor tikus, sehingga total sampel yang jaringan menggunakan homogenizer
diperlukan dalam penelitian untuk 3 selama 1 menit dengan kecepatan 8000
kelompok sebanyak 30 ekor tikus. rpm.
Perlakuan latihan fisik anaerobik 7. Setelah jaringan hipokampus hancur,
diberikan dengan cara menempatkan tikus dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan
perlakuan kedalam animal treadmill dan 5000 rpm selama 5 menit (berdasarkan
menjalankan treadmill dengan kecepatan manual book Elisa).
35m/menit selama 20 menit. interval 8. Setelah selesai dilakukan sentrifugasi,
diberikan setiap 4 menit dengan kecepatan supernatan diambil dan dipisahkan ke
20m/menit selama 1 menit. Sebaliknya dalam microtube baru.
perlakuan latihan fisik aerobik diberikan
dengan cara menempatkan tikus perlakuan Pengukuran Kadar ENDORFIN
kedalam animal treadmill dan menjalankan Kadar ENDORFIN hipokampus diukur
treadmill dengan kecepatan 20m/menit dengan metode ELISA mengggunakan
selama 30 menit secara kontinu (Flora et al, ELISA Kit for Rat ENDORFIN
2016). ELABSCIENCE. Kadar ENDORFIN ini
Aklimatisasi hewan coba dilakukan diperoleh dengan cara membuat kurva
selama 1 minggu, dengan menempatkan tikus standar dengan menggunakan sederetan
ke dalam animal treadfmill dan kadar ENDORFIN mulai dari konsentrasi
menjalankannya dengan kecepatan 5-10 500 pg/mL, 250 pg/mL, 125 pg/mL, 62,5
m/mnt. Sebelum dan sesuadah perlakuan pg/mL, 31,25 pg/mL, 15,63 pg/mL, 7,81
dilakukan penimbangan BB dan pengukuran pg/mL dan 0 pg/mL. Hasilnya diperoleh
suhu rectal. hubungan linear antara absorbansi pada
Perlakuan dilakukan selama 4 minggu. panjang gelombang 450 nm dengan berbagai
Pada hari terakhir perlakuan, dilakukan kadar Endorfin .
dekapitasi segera setelah tikus berlari di atas
treadmill dan diukur suhu rectal serta BB Analisis Data
nya. Penelitian ini mendapat persetujuan etik Data dianalisis dengan menggunakan sistem
dari komisi etik Fakultas Kedokteran komputerisasi program SPSS versi 19 for
Universitas Sriwijaya. windows dengan tingkat signifikansi < 0,05.
Dilakukan uji ANOVA untuk mengetahui
Pembuatan Homogenat Jaringan Otak perbedaan rerata pada masing-masing
1. Otak tikus yang telah diambil dari proses kelompok.
pembedahan diletakkan diatas objek glass
yang dibawahnya diletakkan gel ice untuk HASIL
menjaga agar otak tetap segar. Karakteristik Subyek Penelitian
2. Lakukan pemisahan otak. Karakteristik subyek penelitian
3. Lakukan penimbangan jaringan otak meliputi berat badan (BB) dan suhu tubuh
4. Masukkan jaringan otak ke dalam yang diukur sebelum latihan fisik dan setelah
mikrotube ukuran 1,5 ml latihan fisik. Selanjutnya untuk mengetahui
apakah terdapat perubahan BB dan suhu dengan kelompok akut dan kontrol. Hasil uji
sebelum dan sesudah perlakuan, dilakukan Anova menunjukkan bahwa, terdapat
penghitungan BB dan Suhu, yaitu : BB perbedaan yang bermakna rerata kadar
yang ditimbang setelah perlakuan dikurangi Endorfin jaringan otak kelompok kontrol
BB pada awal perlakuan begitupun pada suhu dibandingkan kelompok aerobik dan
tubuh yang diukur setelah perlakuan anaerobik terprogram (p=0,00) (Tabel 3).
dikurangi suhu pada awal perlakuan. Hasil Selanjutnya untuk mengetahui apakah
pengukuran ditampilkan pada Tabel 1 dan 2. terdapat perbedaan rerata kadar Endorfin
jaringan otak pada kelompok aerobik dan
Kadar Endorfin Jaringan Otak anaerobik baik akut maupun kronik
Berdasarkan hasil pengukuran rerata dilakukan ujit. Hasil uji statistik
kadar Endorfin jaringan otak, didapatkan menunjukkan bahwa, terdapat perbedaan
peningkatan kadar Endorfin jaringan otak yang bermakna (p<0,05) rerata kadar
pada kelompok perlakuan. Rerata kadar Endorfin jaringan otak kelompok aerobik
Endorfin jaringan otak lebih tinggi pada dan anaerobik terprogram (Tabel 4)
kelompok latihan fisik kronik dibandingkan

Tabel 1
Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Berat Badan
Kelompok N BB Sebelum + SD BB Sesudah+ SD BB
(gram) (gram)
Kontrol 10 77,56 8.74 176,53 25,86 98,9
Terprogram Anaerobik 10 91,57 13,31 185,20 18,53 82,3
Terprogram Aerobik 10 103,47 13,54 176,62 25,07 90,4
Jumlah 30

Tabel 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan pada hewan coba kelompok
kontrol. Sebaliknya pada kelompok perlakuan latihan fisik akut maupun kronik terjadi penurunan
berat badan.
Tabel 2
Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Suhu Tubuh
Kelompok N Suhu Tubuh Suhu Tubuh Suhu
Sebelum + SD Sesudah + SD
(celcius) (celcius)
Kontrol 10 35,82 + 0,53 36,81 + 0,63 0,98
Terprogram Anaerobik 10 35,1 + 1,09 38,05 + 0,54 2,22
Terprogram Aerobik 10 36,41 + 0,63 38,42 + 0,55 2,04
Jumlah 30

Tabel 2 menunjukkan bahwa, terjadi peningkatan suhu tubuh pada seluruh kelompok
perlakuan setelah dilakukan latihan fisik.