Anda di halaman 1dari 16

Tuberkulosis pada Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta 11510
Telp (021) 56942061 Fax (021) 5631731
e-mail: jovi_jovz@yahoo.com

Pendahuluan

Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium


tuberculosis. Organisme ini disebut pula sebagai basil tahan asam. Penularan terjadi melalui
udara dari droplet infeksi. Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.
Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina
dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia.

Anamnesis

Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis dapat


dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan terhadap orang
tua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut sebagai aloanamnesis.
Termasuk didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter yang merujuk, catatan rekam
medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. 1 Jika dokter
mencurigai adanya tuberkulosis ( TB ) pada pasien yang datang, terutama pasien anak,
hendaklah dokter lakukan anamnesis dengan baik dan kita harus menggali secara dalam
keterangan yang diperlukan untuk mendiagnosa TB. Diantaranya kita dapat melakukan
anamnesis sebagai berikut :

1
1. Nama : kita bertanya nama pasien, nama ayah dan ibu jika pasiennya anak kecil.
2. Alamat atau lokasi tempat tinggal.
3. Usia dan jenis kelamin pasien.
4. Berat dan tinggi badan; dihitung nilai berat badannya menurut usia, untuk melihat BB
anak normal atau kurang.
5. Lama penyakit yang diderita anak. Seperti sudah berapa lama anaknya batuk
6. Bila demam, ditanyakan bagaimana pola demam nya.
7. Keluhan lain dari orang tua tentang sakit anak yang diderita : batuk, keringat,
berkurangnya berat badan, nafsu makan atau gairah, jalannya timpang, perubahan
perilaku atau watak tersebut, sakit kepala, benjolan atau pembengkakan.
8. BCG: perlu kita tanyakan riwayat penyuntikan atau vaksin yang telah di dapat pada
anak tersebut, apakah ada jaringan parutnya atau tida.
9. Riwayat keluarga: kita bertanya apakah dikeluarga ada yang menderita tuberkulosis (
TB ), atau yang dicurigai TB. Jangan lupa juga ditanyakan apakah ada kakek-nenek
tinggal bersama di rumah dan apakah kakek-nenek ada yang menderita batuk kronis,
dan jangan lupa juga tanyakan tentang keluarga yang baru meninggal ( jika ada ) dan
apakah keluarga tersebut pernah mengalami batuk-batuk.
10. Riwayat kontak dengan penderita TBC : ditanyakan apakah anak baru saja kontak
dengan penderita yang mengalami TB atau bergejala batuk-batuk yang lama
(misalnya pada keluarga, pembantu rumah tangga ataupun tetangga).
11. Riwayat konsumsi makanan : ditanyakan apakah anak mengkonsumsi makanan yang
tidak bersih sebelumnya (untuk menyingkirkan DD)
12. Riwayat berpergian ke daerah endemik suatu penyakit, misal malaria. (untuk
menyingkirkan DD)

2
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada penderita tuberkulosis secara umum: 1,3


A. Inspeksi : Karena adanya penurunan berat badan drastis dan kehilangan nafsu makan,
biasanya penderita akan mengalami anemia. Dapat dilihat dari warna mata dan wajah yang
pucat. Bila mengenai pleura, dapat terjadi effusi pleura. Pada inspeksi, paru yang sakit
terlihat tertinggal dalam pernapasan.
B. Perkusi : Pada daerah infeksi terdengar suara redup. Biasanya ditemukan di bagian apeks
paru ataupun dengan infeksi yang memiliki infiltrat luas. Apabila sudah berlanjut memiliki
cavitas maka akan terdengar suara hipersonor. Pada effusi pleura ditemukan perkusi pekak.
C. Palpasi : sulit menilai dari palpasi dinding dada. Palpasi pada paru dapat di periksa secara
statis dan dinamis, yakni :
o statis : memeriksa adanya nyeri tekan dan kelainan dinding dada
(massa,tumor,krepitasi)
o dinamis : dengan melakukan fremitus taktil, dengan penilaian melemah, mengeras, atau
normal.
D. Auskultasi : Bila ada infiltrat yang luas, juga ditemukan suara nafas yang bronkovesikuler.
Selain itu terdengar suara krepitasi halus di bagian atas pada satu atau kedua paru.
Terdengar khususnya pada saat menarik nafas dalam ataupun setelah batuk. Kemungkinan
juga terdapat perkusi pekak atau pernapasan bronkial pada bagian atas kedua paru. kadang
etrdapat wheezing terlokaliasai disebabkan oleh bronkitis TB atau tekanan kelenjar limfe
pada bronkus. Terdengar bunyi pleural friction rub juga. Keadaan effusi pleura pada
auskultasi terdapat bunyi nafas melemah sampai tidak terdengar.
E. Perasaan subjektif lain : mual, tidak nafsu makan, kelihatan sakit, berat badan menurun,
kelihatan kurus, demam subfebris, anemia.

3
Pemeriksaan Penunjang

1. Test Tuberkulin
Tes tuberculin didasarkan pada kenyataan bahwa infeksi M.tuberculosis
menimbulkan kepekaan khas terhadap produk tertentu organisme yang ada dalam
ekstrak biakan. Suntikan tuberkulin secara intradermal pada individu yang tersensitisasi
menimbulkan daerah indurasi dengan eritema yang ukuran dan intensitasnya berbeda-
beda tergantung pada jumlah tuberkulin yang disuntikkan dan kepekaan individu. Tes
intradermal (Mantoux) dilakukan dengan suntikan intradermal 0,1 mL tuberkulin
dengan konsentrasi yang diinginkan. 4
Uji tusuk multipel mudah diaplikasikan tetapi mempunyai kerugian yang serius.
Tes Mantoux sangat dibutuhkan, terutama ketika tuberkulosis dicurigai. Tes harus
dibaca dalam 48-72 jam. Untuk tes Mantoux diameter transversal indurasi harus diukur.
Eritema tanpa indurasi tidaklah bermakna. Tes positif bila indurasi >5mm pada anak
yang kontak dengan pasien infeksius, mereka yang terinfeksi HIV atau penyakit
imunosupresan lain dan mereka yang foto toraks nya menunjukkan tuberkulosis.
Indurasi >10mm adalah positif pada sebagian besar grup anak yang mempunyai factor
resiko epidemiologi, seperti kemiskinan, lahir di Negara berprevalensi tinggi, dan tinggal
di daerah yang prevalensi tuberkulosisinya tinggi. Bagi mereka yang tidak mempunyai
factor risiko, positif bila indurasi >15mm. Pada anak yang mendapat imunisasi BCG,
indurasi 10mm atau lebih besar harus dipertimbangkan positif. 4
Tuberkulin tes positif menandakan bahwa ada infeksi, tetapi tidak membuktikan
bahwa penyakit aktif. Terjadinya sensitivitas tuberkulin memerlukan waktu 4-8 minggu
dan cenderung menetap. Bila dokter menduga tuberkulosis dan tes tuberkulin negative,
pasien mungkin mengalami penurunan atau tidak mempunyai kekebalan yang
diperantarai sel. Hal ini bisa terjadi pada berbagai penyakit, antara lain kortikosteroid. 4

4
2. Pemeriksaan radiologis
Saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk
menemukan lesi tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru
(segmen apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai
lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya
pada tuberkulosis endobronkial). Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-
sarang pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan
batas -batas penatalaksanaan tuberkulosis paru yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi
jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini
dikenal sebagai tuberkuloma.

3. Pemeriksaan bakteriologis
Merupakan diagnosis pasti bila ditemukan kuman basil tahan asam, tetapi sulit
pada bayi dan anak. Bahan pemeriksaan dapat diambil dari sputum (pada anak besar),
bilasan lambung pagi hari atau dari cairan lain, seperti LCS, Cairan pleura, cairan
pericard. Bilasan lambung harus dilakukan 3 hari berturut-turut, dini hari dan pasien
berpuasa serta berbaring terlentang. Kultur konvensional membutuhkan waktu 3-4
minggu untuk pertumbuhan yang dapat dideteksi. 4

Diagnosis

Petunjuk WHO untuk diagnosis tuberkulosis anak : 5


a. Dicurigai tuberkulosis
1. Anak sakit dengan riwayat kontak penderita tuberkulosis dengan diagnosis pasti
(BTA positif).
2. Anak dengan:
- Keadaan klinis tidak membaik setelah menderita campak atau batuk rejan
- Berat badan menurun, batuk dan mengi yang tidak membaik dengan
pengobatan antibiotik untuk penyakit pernafasan.
- Pembesaran kelenjar superfisialis yang tidak sakit.

5
b. Mungkin tuberkulosis
Anak yang dicurigai tuberkulosis ditambah:
- Uji tuberkulin positif (10 mm/lebih)
- Foto rontgen paru sugestif tuberkulosis
- Pemeriksaan histologis biopsi sugestif tuberkulosis
- Respons yang baik pada pengobatan dengan OAT
c. Pasti tuberkulosis (confirmed TB)
Ditemukan basil tuberkulosis pada pemeriksaan langsung atau biakan.
Identifikasi Mycobacterium tuberculosis pada karakteristik biakan.

Etiologi

Mycobacterium tuberculosis termasuk ke dalam genus Myobacterium, Family


Mycobacteriaceae, dalam ordo Actinomycetales. Semua mikobakteri memiliki sifat tahan asam,
resisten terhadap pewarnaan dengan pelarut organik yang diasamkan. Bakteri ini berbentuk
batang lurus atau sedikit melengkung dengan panjang 2-4 m dan lebarnya 0,2-0,5 m, tidak
berspora dan tidak berkapsul. Kuman ini merupakan aerob obligat dan dapat tumbuh pada
media buatan sederhana dengan gliserol atau senyawa lain sebagai sumber karbon serta garam
amonium sebagai sumber nitrogen. Pertumbuhan basil tuberkel khas lambat dengan waktu
generasi 12-14 jam. Organisme ini tumbuh paling baik antara suhu 37 dan 410 C. bakteri ini
memiliki bentuk koloni yang khas, tidak berpigmen, dan bereaksi dengan merah netral. Strain
yang virulen tumbuh pada permukaan media cairan atau padat sebagai tali serpentin yang
berpilin, serta memiliki aktivitas katalase dan peroksidase. 8
Komponen utama basil tuberkel adalah polisakarida, yang berada dalam bentuk
gabungan yang paling menonjol kimia dengan lipid di dalam dinding sel. Gambaran komposisi
yang paling menonjol adalah kandungan lipid yang sangat tinggi, sejumlah 20-40% dari berat
keringnya. Dinding sel yang kaya lipid berperan untuk sifat hidrofobik, tahan asam,
impermeabilitas relatif, dan resistensi terhadap kerja bakterisid antibodi dan komplemen.

6
LIlin D dan tuberkuloprotein yang ada pada dinding sel kuman diduga berperan pada
hipersensitivitas tuberculin dan reaktivitas tes kulit. 8

Epidemiologi

Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih tetap
merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health
Organization (WHO) Report 2005 dalam Global Tuberculosis Control menyatakan terdapat 22
negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TBC Indonesia termasuk
peringkat ketiga setelah India dan China dalam menyumbang TBC di dunia. Perkiraan insidensi
untuk pemeriksaan dahak didapatkan basil tahan asam (BTA) positif adalah 115 per 100.0001.
Sepanjang dasawarsa terakhir abad ke-20 ini, jumlah kasus baru meningkat di seluruh dunia,
TBC masih merupakan masalah salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian
baik di negara berkembang maupun di negara maju2. Demikian juga pada anak, TBC masih
merupakan penyakit mayor yang menyebabkan kesakitan pada anak, meskipun jumlah pastinya
tidak diketahui WHO memperkirakan 1 juta kasus baru dan 400.000 anak meninggal setiap
tahunnya karena TBC. TBC anak merupakan faktor penting dinegara-negara berkembang karena
jumlah anak berusia dibawah 15 tahun adalah 40-50% dari seluruh jumah populasi. Seperti
halnya dinegara-negara lain, besarnya kasus TBC pada anak di Indonesia masih relatif sulit
diperkirakan karena beberapa hal: 2
1. Sulitnya mendapatkan diagnosis pasti melalui tes sputum karena anak-anak biasanya
belum dapat mengeluarkan sputum.
2. Belum adanya panduan diagnosis yang jelas, sistem kesehatan dan surveilans yang
belum bisa mendapatkan data mengenai TBC pada anak.
3. Kesalahan diagnosis baik oleh dokter umum maupun dokter spesialis anak sehingga
pengobatan diberikan pada anak yang tidak menderita TBC atau sebaliknya, anak
penderita TBC tidak mendapatkan penanganan yang semestinya. Pemberian OAT pada
anak yang tidak menderita TBC selain akan memicu pengeluaran yang tidak diperlukan,
juga membuat berkurangnya persediaan obat untuk penderita TBC yang benar-benar
memerlukannya. 2

7
Patogenesis

Paru merupakan port dentre lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena ukurannya yang
sangat kecil ( <5 m ), kuman TB dalam droplet nuclei yang terhirup dapat mencapai alveolus.
Pada sebagian kasus, kuman TB dapat dihancurkan seluruhnya oleh mekanisme imunologis non
spesifik. Akan tetapi pada sebagian kasus, tidak seluruhnya dapat dihancurkan. Pada individu
yang tidak dapat menghancurkan seluruh kuman, makrofag alveolus akan memfagosit kuman
TB yang sebagian besar dihancurkan. Akan tetapi, sebagian kecil kuman TB yang tidak dapat
dihancurkan akan terus berkembang biak dalam makrofag, dan akhirnya menyebabkan lisis
makrofag. Selanjutnya kuman TB membentuk lesi ditempat tersebut, yang dinamakan focus
primer Ghon. Dari fokos primer Ghon, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional, yaituu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus
primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi disaluran limfe ( limfangitis ) dan di
kelenjar limfe ( limfadenitits ) yang terkena. Jika focus primer terletak di lobus bawah atau
tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus ( perihiler ), sedangkan
jika focus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal.
Gabungan antara focus primer, limfangitis, dan limfadenitis dinamakan kompleks primer. 9
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer
secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi. Masa inkubasi TB berlangsung selama 2-12
minggu, biasanya selama 4-8 minggu. Pada saat terbentuknya kompleks primer, infeksi TB
primer dinyatakan telah terjadi. Setelah terjadi kompleks primer, imunitas seluler tubuh
terhadap TB terbentuk, yang dapat diketahui dengan adanya hipersensitivitas terhadap
tuberkuloprotein, yaitu uji tuberkulin positif. Selama masa inkubasi uji tuberkulin masih
negative. Pada sebagian besar individu dengan sistem imun yang berfungsi baik, pada saat
sistem imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB terhenti. Akan tetapi sebagian kecil
kuman TB akan dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler telah terbentuk,
kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan oleh imunitas seluler
spesifik ( cellular mediated immunity, CMI ). 9

8
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer dijaringan paru mengalami resolusi
secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijauan
dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna focus primer dijaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini,
tetapi tidak menimbulkan gejala sakit TB. Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi.
Komplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh focus di paru atau di kelenjar limfe regional.
Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika
terjadi nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui
bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru ( kavitas ). Kelenjar limfe parahilus
atau paratrakeal yang mulanya berukuran normal, pada awal infeksi, akan membesar karena
reaksi inflamasi yang berlanjut, sehingga bronkus akan terganggu. Obstruksi parsial pada
bronkus akibat tekanan eksternal menimbulkan hiperinflasi di segmen distal paru melalui
mekanisme ventil. Obstruksi total dapat menyebabkan ateletaksis kelenjar yang mengalami
inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat merusak dan meinbulkan erosi dinding bronkus,
sehingga menyebabkan TB endobronkial atau membentuk fistula. Massa kiju dapat meinbulkan
obstruksi komplit pada bronkus sehingga menyebabkan gangguan pneumonitis dan ateletaksis,
yang sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi. 9

Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi penyebaran
limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke kelenjar limfe
regional membentuk kompleks primer atau berlanjut menyebar secara limfohematogen. Dapat
juga terjadi penyebaran hematogen langsung, yaitu kuman masuk ke dalam sirkulasi darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB
disebut sebagai penyakit sistemik. Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah
dalam bentuk penyebaran hematogenik tersamar. Melalui cara ini, kuman TB menyebar secara
sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian
mencapai berbagai organ diseluruh tubuh, bersarang di organ yang mempunyai vaskularisasi
baik, paling sering di apeks paru, limpa dan kelenjar limfe superfisialis. Selain itu, dapat juga
bersarang di organ lain seperti otak, hati, tulang, ginjal, dan lain-lain.

9
Pada umumnya, kuman di sarang tersebut tetap hidup, tetapi tidak aktif, demikian pula dengan
proses patologiknya. Sarang di apeks paru disebut dengan focus Simon, yang di kemudian hari
dapat mengalami reaktivasi dan terjadi TB apeks paru saat dewasa. 9

Pada ank, 5 tahun pertama setelah terjadi infeksi ( terutama 1 tahun pertama ) biasanya
sering terjadi komplikasi TB. Menurut Wallgren, ada tiga bentuk dasar TB paru pada anak, yaitu
penyebaran limfohematogen, TB endobronkial, dan TB paru kronik. Tuberkulosis paru kronik
adalah TB pascaprimer sebagai akibat reaktivasi kuman di dalam focus yang tidak mengalami
resolusi sempurna. Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak tetapi sering terjadi pada remaja dan
dewasa muda. Tuberkulosis ekstrapulmonal, yang biasanya juga merupakan menifestasi TB
pascaprimer, dapat terjadi pada 25-30% anak yang terinfeksi TB. Tuberkulosis sistem skeletal
terjadi pada 5-10% anak yang terinfeksi, paling banyak terjadi dalam 1 tahun, tetapi dapat juga
2-3 tahun setelah infeksi primer. Tuberkulosis ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah infeksi
primer. 9

Gejala klinik

Gejala penyakit TB dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul
sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secar klinis tidak terlalu khas terutama pada
kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik. 5
a. Gejala sistemik/umum tuberkulosis anak : 5
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas/tidak naik dalam 1 bulan dengan
penanganan gizi.
Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat ( failure
to thrive ).
Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas ( bukan tifus, malaria, atau infeksi
saluran nafas akut ), dapat disertai keringat malam.
Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multiple.
Batuk lama lebih dari 30 hari.
Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.

10
b. Gejala khusus : 5
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian
bronkus ( saluran yang menuju ke paru-paru ) akibat penenkanan kelenjar getah
bening yang membesar, akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah
yang disertai sesak.
Kalau ada cairan rongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu
saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini
akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak ( lapisan pembungkus otak ) dan disebut
sebagai meningitidis ( radang selaput otak ), gejalanya adalah demam tinggi, adanya
penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala TB, dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TB dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita
TB paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang
tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30%
terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah. 2

Penatalaksanaan

M. tuberculosis adalah organisme yang tumbuh lambat dan rentan terhadap obat-
obatan hanya pada saat bermultiplikasi. Seseorang harus selalu menggunakan obat-obatan
multipel untuk terapi, jangan pernah menggunakan obat tunggal. Semakin besar jumlah
organisme yang dicurigai (mis : pada kavitas) dan semakin besar infeksi dengan organisme
resisten, maka semakin banyak obat-obatan yang harus dimulai. Sangatlah penting untuk
memperoleh sensitivitas obat sebelum memulai terapi. Kepatuhan sangatlah penting dan terapi
yang diamati secara langsung harus dipertimbangkan. 4

11
Obat Antituberkulosis

a. Isoniazid (INH), obat yang dibentuk secara sintetik, merupakan obat tunggal yang paling
poten dan bernilai untuk mengobati tuberculosis. Efek samping INH yang utama adalah
neuritis perifer dan hepatitis. Neuritis perifer terjadi akibat inhibisi kompetitif metabolisme
piridoksin. Untuk profilaksis dosis INH yang dianjurkan adalah 10 mg/kg/hari, dengan dosis
maksimal 300 mg/hari. Pada penyakit yang memberi gejala klinis, tergantung pada berat
penyakit, INH bisa diberikan dengan dosis 20 mg/kg/hari, maksimal 500 mg/hari. Bila
terdapat perbaikan klinis dan keadaan penyakit stabil, dosis harus dikurangi menjadi lebih
rendah. INH tersedia dalam bentuk tablet 50 dan 100 mg serta dalam bentuk sirup dengan
dosis 10mg/mL, juga tersedia preparat parenteral. 4
b. Rifampisin , merupakan obat yang mempunyai aktivitas antimikroba luas terhadap virus,
bakteri, dan mikobakteri. Bahan ini mudah diserap dalam saluran cerna setelah pemberian
secara oral, dalam 3 jam. Rifampisin dan INH adalah dua obat yang paling efektif untuk
pengobatan tuberculosis. Rifampisin relatif tidak toksik, efek samping utama nya adalah
hepatitis, dengan frekuensi sekitar 1%. Pemberian rifampisin juga menimbulkan perubahan
warna tinja, urin, sputum, saliva, air mata, dan keringat menjadi merah-jingga. Rifampisin
harus dimasukkan ke dalam pengobatan untuk semua infeksi tuberculosis yang berat. Dosis
yang dianjurkan adalah 10-15 mg/kg/hari (maksimal 600 mg). Preparat bentuk cair tidak
dijual tetapi dapat dibuatkan oleh apotek. 4
c. Pirazinamid (PZA), merupakan obat bakterisidal yang mencapai kadar terapeutik dalam
cairan serebrospinal dan di dalam makrofag. Obat ini digunakan untuk mikobakteri yang
resisten terhadap obat multipel juga pada infeksi miliaris dan meningeal. Dosis obat 15-30
mg/kg/hari (dosis dewasa 2g/hari) ditoleransi dengan baik. 4
d. Streptomisin, diberikan secara intramuscular dan cepat diserap ke dalam aliran darah,
mencapai kadar puncak 50-100 kali lebih besar dari MIC, yaitu 0,2 g/mL. Streptomisin
mudah berdifusi ke dalam cairan pleura, tetapi tidak ke dalam cairan serebrospinal kecuali
bila meningen meradang. Efek toksik utama ialah kerusakan saraf kedelapan, terutama
pada cabang vestibularis, yang menimbulkan vertigo dan ataksia yang biasanya permanen.
Dosisnya 20-40 mg/kg sekali sehari, dengan dosis maksimal 1g. 4

12
e. Etambutol, adalah senyawa tidak berbau yang larut dalam air dengan kerja antituberkulosis
yang sangat efektif. Obat ini bersifat bakteriostatik, oleh karena itu jangan dipakai sebagai
obat primer. Efek toksik satu-satunya yang penting adalah neuritis retrobulbaris yang
menimbulkan kehilangan ketajaman penglihatan, defek lapangan pandang, dan ketidak
mampuan membedakan merah dan hijau. Etambutol digunakan sebagai obat ketiga atau
keempat pada regimen obat multipel. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg/hari. 4
f. Kortikosteroid, masih controversial dalam manajemen tuberculosis. Obat ini digunakan
hanya bila terapi antituberkulosis efektif. Indikasi yang diterima secara umum adalah
manajemen meningitis tuberculosis, efusi pleura tuberculosis, dan penyakit endobronkial. 4

Pencegahan

1. Perlindungan terhadap sumber penularan. Prioritas pengobatan sekarang ditujukan


terhadap orang dewasa. Akan tetapi seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa TBC
anak yang tidak mendapat pengobatan akhirnya menjadi TBC dewasa dan akan menjadi
sumber penularan. 9
2. Vaksinasi BCG. Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin yang mengandung kultur
strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC.
Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang hasil uji tuberculinnya
negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan
tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap isoniazid atau
rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja
dilingkungan dengan pasien infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG
(selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin
test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya posistif atau
telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk
pasien yang telah terinfeksi TBC. Vaksin BCG merupakan serbuk yang dikering-bekukan
untuk injeksi berupa suspensi. Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara injeksi intra
dermal/intrakutan (tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan

13
sebagai alternatif bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal.
Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut: 2
Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin BCG
sebanyak 0,05ml (0,05mg).
Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,1
ml (0,1mg).
Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10 15 tahun. Sehingga
revaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -15 tahun. 2
Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami gangguan pada kulit seperti
atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi lain (perlu ada interval waktu
setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak diberikan untuk pasien dengan gangguan
imunitas (immunosuppressed ) seperti pasien HIV, pasien yang mengkonsumsi obat-obat
kortikosteroid(immunosuppressan), atau baru saja menerima transplantasi organ, dan
wanita hamil dan menyusui. 4
3. Kemoprofilaksis primer maupun sekunder.
a. Kemoprofilaksis primer diberikan pada anak yang belum terinfeksi (uji tuberculin
negative), tetapi kontak dengan penderitaTBC aktif. Obat yang digunakan adalah INH 5-
10 mg/kgBB/hariselama 2-3 bulan. 2
b. Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak dengan uji tuberculin positif, tanpa gejala
klinis, dan foto paru normal, tetapimemiliki faktor risiko menjadi TBC aktif. Golongan ini
adalah balita, anak yang mendapat pengobatan kortikosteroid atauimuosupresan lain,
penderita dengan keganasan, terinfeksi virus (HIV, morbili), gizi buruk, masa akil balik,
atau infeksi baru TNC, konversi uji tuberculin kurang dari 12 bulan. Obat yang
digunakanadalah INH 5-10mg/kgBB/hari selama 6-12 bulan. 2
4. Penyuluhan dan pendidikan kesehatan.

Komplikasi

Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut. Komplikasi dini:

14
pleuritis, efusi pleura, empiema, dan larigitis. Komplikasi lanjut dapat berupa Obstruksi jalan
napas, kerusakan parenkim berat menjadi fibrosis paru, cor pulmonal, karsinoma paru,
sindroma gagal napas, dan sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB. 1

Prognosis

Pada pasien dengan sistem imun yang prima, terapi menggunakan OAT terkini
memberikan hasil yang potensial untuk mencapai kesembuhan. Jika kuman sensitive dan
pengobatan lengkap, kebanyakan anak sembuh dengan gejala sisa yang minimal. Terapi
ulangan lebih sulit dan kurang memuaskan hasilnya. 2

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima.


Hipotesis nya yaitu anak yang berusia 2 tahun, demam hilang timbul dengan berat badan 11 kg
menderita TB anak. Untuk memastikan diagnosis tersebut dapat dilakukan berbagai
pemeriksaan penunjang (Uji Mantoux, radiologi, dll). Hal tersebut harus segera dilakukan agar
dapat memberikan pengobatan yang tepat sehingga penyakit ini dapat sembuh tanpa
menimbulkan komplikasi apapun.

15
Daftar Pustaka

1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI ; 2006 .h.256-78
2. Hassan R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Jakarta : FKUI ; 2007 .h.573-84.
3. Bickley S. Lynn. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi ke-5.
Jakarta: EGC; 2008: h. 15
4. Alpers A. Buku ajar pediatric Rudolph. Edisi ke-20. Jakarta : EGC ; 2006 .h. 688-99
5. Mansjoer A, Suprohaita , dkk. Kapita selekta kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI ; 2009 .h. 459-61
6. Rende J . Ikhtisar penyakit anak. Edisi ke- 6. Jakarta : karisma ; 2008 .h. 130
7. Irawan H, Rezeki S, Anwar Z. Buku Ajar infeksi dan pediatrik tropis. Edisi ke-2. Jakarta :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI ; 2008 .h. 331 7.
8. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Esensi pediatri Nelson. Edisi ke-4. Jakarta : EGC, 2010
.h. 431-6
9. Crofton J, Horne N, Miller F. Tuberkulosis klinis. Edisi ke 2. Jakarta: Widya
Medika;2002.h.31-49

16