Anda di halaman 1dari 18

MATERI : BIO OPTIK

Pengertian Biooptik, tersusun atas kata bio dan optik. Bio berkaitan dengan
makhluk hidup/ zat hidup atau bagian tertentu dari makhluk hidup, Sedangkan
optik dikenal sebagai bagian ilmu fisika yang berkaitan dengan cahaya atau
berkas sinar.

Secara spesifik ada klasifikasi Optik geometri dan optika fisis. Fokus utama
dibiooptik adalah terkait dengan indera penglihatan manusia, yaitu mata.

Mata menjadi alat optik yang paling penting pada manusia atau makhluk hidup.

1. OPTIK GEOMETRI
Berpangkal pada perjalanan cahaya dalam medium secara garis lurus, berkas-
berkas cahaya di sebut garis cahaya dan gambar secara garis lurus. Dengan cara
pendekatan ini dapatlah melukiskan ciri-ciri cermin dan lensa dalam bentuk
matematika.

Misalnya untuk rumus cermin dan lensa : 1/f = 1/s + 1/s

f = focus = titik api

s= jarak benda

s = jarak bayangan
2. OPTIK FISIK
Gejala cahaya seperti dispersi, interferensi dan polasisasi tidak dapat di jelaskan
malui metode optika geometri. Gejala-gejala ini hanya dapat dijelaskan dengan
menghitung ciri-ciri fisik dari cahaya tersebut.

Teori kwantum (Plank (1858-1947)),


Cahaya itu terdiri atas kwanta atau foton-foton, tampaknya agak mirip dengan
teori Newton yang lama itu. Dengan menggunakan teori Max Plank dapat
menjelaskan mengapa benda itu panas apabila terkena sinar.

Huygens (1690)
Menganggap cahaya itu sebagai gejala gelombang dari sebuah sumber cahaya
menjalarkan getaran-getaran ke semua jurusan. Setiap titik dari ruangan yang
bergetar olehnya dapat dianggap sebagai sebuah pusat gelombang baru. Inilah
prinsip dari Huygens yang belum bisa menjelaskan perjalanan cahaya dari satu
medium ke medium lainnya.

Macam-macam Bentuk Lensa ..


Berdasarkan bentuk permukaannya, lensa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Lensa yang mempunyai permukaan sferis, dibagi menjadi dua macam pula,
yaitu:
a. Lensa Cembung/ Konvergen/ Positif
Sebuah lensa positif atau lensa pengumpul adalah lensa yang bagian tengahnya
lebih tebal dari bagian tepinya. Cahaya sejajar yang datang pada sebuah lensa
positif difokuskan pada titik focus kedua yang berada pada sisi transmisi lensa
tersebut.
b. Lensa Cekung/ Divergen/ Negatif
Sebuah lensa negative atau lensa menyebar adalah lensa yang bagian tepinya
lebih tebal daripada bagian tengahnya. Cahaya sejajar yang datang pada sebuah
lensa negative memancar seolah-olah dari titik focus kedua, yang berada pada
sisi datang lensa.

c. Lensa yang mempunyai permukaan silindris


Adalah lensa yang mempunyai silinder, lensa ini mempunyai fokus yang positif
dan ada pula yang mempunyai panjang fokus negatif.

Kekuatan Lensa (Dioptri)

Kekuatan lensa dinyatakan dengan satuan dioptri (m-1). Kekuatan lensa (P) sama
dengan kebalikan panjang fokusnya (1/f). Jika panjang fokus dalam meter,
kekuatan lensa adalah dalam dioptri (D):
P = = + dioptri

P = Kekuatan lensa (dioptri)

F = fokus lensa (m)

s = jarak benda dari lensa (m)

s = jarak bayangan dari lensa (m)

1D = 1 m-1
Kesesatan Lensa ..
Berdasarkan persamaan yang berkaitan dengan jarak benda, jarak bayangan ,
jarak focus, radius kelengkungan lensa seerta sinar-sinar yang dating paraksial
akan kemungkinan adanya kesesatan lensa.
Instrumen Optik
Banyak instrumen yang digunakan saat ini sangat canggih. Prinsip kerjanya
sering sangat sederhana, tetapi penggunaan imajinatif prinsip-prinsip ini telah
melipatgandakan kemampuan kita untuk melihat dan memahami dunia yang
melingkupi kita.

Mata merupakan alat optik yang paling dekat dengan kita dan merupakan sistem
optik yang paling penting.

Bagian-bagian Mata
Mata memiliki bagian-bagian yang memiliki fungsi-fungsi tertentu sebagai alat
optik, yaitu:

a) Kornea, merupakan selaput kuat yang tembus cahaya dan berfungsi


sebagai pelindung bagian dalam bola mata. Kornea memiliki inervasi saraf tetapi
avaskuler (tidak memiliki suplai darah).
b) Iris, merupakan selaput berbentuk lingkaran yang menyebabkan mata
dapat membedakan warna. Iris adalah diafragma yang melingkar dan berpigmen
dengan lubang yang agak di tengah yakni pupil. Iris terletak sebagian dibagian
depan lensa dan sebagian di depan badan siliaris. Iris terdiri dari serat otot polos.
Fungsi iris yakni mengendalikan jumlah cahaya yang masuk.
c) Pupil, merupakan celah lingkaran pada mata yang dibentuk oleh iris,
berfungsi mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke mata.
d) Lensa mata, merupakan lensa cembung yang terbuat dari bahan bening,
berserat dan kenyal, berfungsi mengatur pembiasan cahaya.
e) Retina, merupakan lapisan yang berisi ujung-ujung saraf yang sangat peka
terhadap cahaya. Retina berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk
oleh lensa mata. Retina merupakan bagian saraf pada mata, tersusun oleh sel
saraf dan serat-seratnya. Retina berperan sebagai reseptor rangsang cahaya.
Retina tersusun dari sel kerucut yang bertanggung jawab untuk penglihatan
warna dan sel batang yang bertanggung jawab untuk penglihatan di tempat gelap.
f) Aquaeuos humor, merupakan cairan mata.
g) Saraf optic, merupakan saraf yang menyampaikan informasi tentang kuat
cahaya dan warna ke otak.
Ada tiga komponen pada penginderaan penglihatan :

* Mata memfokuskan bayangan pada retina,

* System syaraf mata yang memberi informasi ke otak,

* Korteks penglihatan salah satu bagian yang menganalisa penglihatan

tersebut.

b. Pembentukan Bayangan Pada Mata


Mata bisa melihat benda jika cahaya yang dipantulkan benda sampai pada mata
dengan cukup, kemudian lensa mata akan membentuk bayangan yang bersifat
nyata, terbalik dan diperkecil pada retina.
Ada tiga komponen penginderaan penglihatan, yaitu:

1.Mata memfokuskan bayangan pada retina

2.Sistem saraf mata yang member informasi ke otak

3. Korteks penglihatan salah satu bagian yang menganalisa penglihatan

tersebut

Proses akomodasi..

Cahaya memasuki mata melalui bukaan yang berubah, lapisan serat saraf yang
menutupi permukaan belakangnya. Retina berisi struktur indra-cahaya yang
sangat luas yang disebut batang (rod) dan kerucut (cone) yang menerima dan
memancarkan informasi di sepanjang serat saraf optic ke otak. Bentuk lensa
kristal dapat diubah sedikit oleh kerja otot siliari. Apabila mata difokuskan pada
benda yang jauh, otot akan mengendur dan sistem lensa kornea berada pada
panjang fokus maksimumnya, kira-kira 2 cm, jarak dari kornea ke retina. Apabila
benda didekatkan, otot siliari akan meningkatkan kelengkungan lensa, yang
dengan demikian akan mengurangi panjang fokusnya sehingga bayangan akan
difokuskan ke retinaDalam hal memfokuskan objek pada retina, lensa mata
memegang peranan penting. Kornea mempunyai fungsi memfokuskan objek
secara tepat, demikian pula bola mata yang berdiameter 20-23 mm.

Kemampuan lensa mata untuk memfokuskan objek disebut daya akomodasi.


Selama mata melihat jauh, tidak terjadi akomodasi. Makin dekat benda yang
dilihat, semakin kuat mata/lensa berakomodasi. Daya akomodasi ini tergantung
kepada umur. Usia semakin tua daya akomodasi semakin menurun, hal ini
disebabkan kekenyalan/elastisitas lensa semakin berkurang.

Jika benda terlalu dekat ke mata, lensa mata tidak dapat memfokuskan cahaya
pada retina dan bayangannya menjadi kabur. Titik terdekat di mana lensa mata
memfokuskan suatu bayangan pada retina disebut titik dekat (punctum
proksimum).
Jarak dari mata ke titik dekat ini sangat beragam pada tiap orang dan berubah
dengan meningkatnya usia. Pada usia 10 tahun, titik dekat dapat sedekat 7 cm,
sementara pada usia 60 tahun titik dekat ini telah menjauh ke 200 cm karena
kehilangan keluwesan lensa akibat elastisitas lensa semakin berkurang, disebut
mata presbyop atau mata tua dan bukan merupakan cacat mata. Nilai standar
yang diambil untuk titik dekat ini adalah 25 cm, dan dianggap sebagai mata
normal.

i. Jenis-jenis Mata dan Teknik Koreksi


a) Mata Normal
Sering disebut juga mata emetrop. Mata normal memiliki titik dekat 25 cm dan
titik jauh tak terhingga. Apabila mata memiliki titik dekat tidak sama dnegan 25
cm dan titik jauh tidak sama dengan tak terhingga, maka dikatakan sebagai cacat
mata. Hal ini mengakibatkan mata sulit melihat benda yang jauh maupun dekat
karena bayangan tidak jatuh tepat pada retina.
b) Rabun Jauh (Miopi)
Disebut juga mata terang dekat, memiliki titik dekat kurang dari 25 cm (< 25 cm)
dan titik jauh pada jarak tertentu. Orang yang menderita miopi dapat melihat
dengan jelas benda pada jarak 25 cm, tetapi tidak dapat melihat benda jauh
dengan jelas.
Hal ini terjadi karena lensa mata tidak dapat menjadi piph sebagaimana mestinya
sehingga bayangan benda jatuh di depan retina, disebabkan karena mata
dibiasakan melihat benda dengan jarak dekat atau kurang dari 25 cm. cacat mata
ini dapat diatasi dengan memakai kacamata berlensa cekung (minus).
c) Rabun Dekat (Hipermetropi)
Rabun dekat memiliki titik dekat lebih dari 25 cm (> 25 cm), dan titik jauhnya
pada jarak tak terhingga. Penderita rabun dekat dapat melihat jelas benda-benda
yang sangat jauh tetapi tidak dapat melihat benda-benda dekat dnegan jelas. Hal
ini terjadi karena lensa mata tidak dapat menjadi cembung sebagaimana mestinya
sehingga bayangan benda jatuh di belakang retina, disebabkan karena mata
dibiasakan melihat benda yang jaraknya jauh. Cacat mata ini dapat diatasi
dengan kacamata berlensa cembung (plus).
d) Mata Tua (Presbiopi)
Jenis mata ini bukan termasuk cacat mata, disebabkan oleh daya akomodasi yang
berkurang akibat bertambah usia. Letak titik dekat maupun titik jauh telah
bergeser. Titik dekatnya lebih dari 25 cm dan titik jauhnya hanya pada jarak
tertentu. Pada penderita presbiopi tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas
serta tidak dapat membaca pada jarak baca normal. Jenis mata ini dapat ditolong
dengan kacamata berlensa rangkap (minus di atas dan plus di bawah) yang
disebut kacamata bifocal.
e) Astigmatisma
Cacat mata ini disebabkan oleh kornea mata yang tidak berbentuk sferis, tapi
lebih melengkung pada satu sisi daripada sisi yang lain. Akibatnya sebuah titik
akan difokuskan sebagai garis pendek. Penderita astagmatisma, dengan satu mata
akan melihat garis dalam satu arah lebih jelas daripada kea rah yang berlawanan.
Penderita astagmatisma dapat diatasi dnegan menggunakan kacamata berlensa
silindris.
f) Mata Campuran
Penderita yang matanya sekaligus mengalami prsesbiopi dan miopi, maka
memiliki titik dekat yang letaknya terlalu jauh dan titik jauh terlalu kecil, dapat
ditolong dengan kacamata berlensa rangkap atau bifocal (negatif di atas dan
positif di bawah).

REFERENSI :

http:/pendidikansains.blogspot.com/2008/04/bio-opttik dalam keperawatan.html

J.F, Gabriel,2003, fisika kedokteran,EGC,Jakarta

http://thefuturisticlovers .wordprees.co/2011/04/bio optic dalam keperawatan.html

http://thefuturisticlovers.wordpress.com/2011/05/28/fisika-bahasan-bio-optik
MATERI : BIOMKAMIKA

Biomekanika adalah suatu ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan


konsep keteknikan untuk mempelajari gerakan yang dialami oleh beberapa segmen
tubuh dan gaya-gaya yang terjadi pada bagian tubuh tersebut selama aktivitas normal.

Biomekanika dapat diterapkan pada:

1. Merancang kembali pekerjaan yang sudah ada.


2. Mengevaluasi pekerjaan.
3. Penyaringan pegawai.
4. Tugas-tugas penanganan manual.

Tujuan mempelajari ilmu biomekanika antara lain:

1. Untuk menjelaskan tiap komponen dari seluruh sistem tubuh dan interaksinya.
2. Untuk mensimulasikan kondisi berbahaya, sulit untuk diukur atau waktu dan
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan sebuah pekerjaan.
3. Untuk memperkirakan resiko yang mungkin muncul dari sebuah pekerjaan dan
memperkirakan beban maksimal yang aman untuk diangkat.

Hukum dasar Dalam Biomekanika

Dalam biomekanika memakai hokum dasar yang dirumuskan oleh Isaac Newton (1643-
1727) untuk mempelajari gerakan mekanik pada manusia dan hewan. Newton mula-
mula mengembangkan hokum gerakan dan menjelaskan gaya tarik gravitasi antara dua
benda.

Hukum Newton sangat memadai dan banyak penggunaannya di dalam bidang


astronomi, geologi, biomekanik dan teknik. Ada 3 hukum dasar mekanika yang
dicetuskan oleh Newton, yaitu :

1. Hukum Newton pertama


2. Hukum Newton kedua
3. Hukum Newton ketiga

- Hukum Newton Pertama : Hukum Newton ini dsebut pula hokum inersia (
kelembaman). Ini berarti setiap benda akan tetap berada dalam keadaan diam
atau bergerak lurus beraturan, kecuali jika dipaksa untuk mengubah keadan itu
oleh gaya-gaya yang berpengaruh padany a. Kelembaman melawan perubahan
gerak, dan benda yang pejal sangat lembam, sehingga diperlukan gaya yang
besar untuk mengubah geraknya. Hukum Newton pertama dipakai untuk
mengukur suatu pengamatan

- Hukun Newton Kedua : Apabila ada gaya yang bekerja pada suatu benda maka
benda akan mengalami suatu percepatan yang arahnya sama dengan arah gaya.
Percepatan (a) dan gaya (F) adalah sebanding dan searah. Apabila kedua besaran
ini sebanding maka salah satu adalah sama dengan perkalian bilangan konstan.
Maka hubungan gaya (F) adalah sebanding dalam besaran. Apabila kedua
besaran ini sebanding maka salah satu adalah sama dengan hasil perkalian
bilangan konstan. Maka hubungan gaya (F) dan percepatan (a) oleh Newton
dirumuskan :

F=ma , dimana F = gaya yang bekerja (N)

m = massa benda ( Kg )

a = percepatan ( m/dt2)

Jika yang bekerja pada benda lebih dari satu gaya, maka :

F = m a ; F = jumlah vektor gaya yang bekerja ( N )

Dalam komponen vektor :

Fx = max

Fy = ma y

Fz = maz

Massa benda berlainan dengan berat benda, massa benda adalah kuantitas sklar
sedangkan berat benda adalah gaya gravitasi yang bekerja pada benda tersebut dan
merupakan kuantitas vector
- Hukum Newton ketiga : Bilamana suatu benda A member gaya F pada suatu
benda B, pada waktu bersamaan benda BS memberi gaya R pada benda A.
Gaya R sama dengan gaya F tetapi mempunyai arah yang berlawanan

Hukum Newton ketiga sering dikatakan Faksi = F reaksi ( arah berlawanan)

Gaya yang bekerja pada tubuh bisa dibagi menjadi gaya internal dan eksternal> gaya
internal seperti gaya gesek, gaya normal dan gaya berat. Sedangkan gaya eksternal
adalah gaya luar yang bekerja pada tubuh, seperti gaya tarik atau gaya dorong

Gaya Pada Tubuh dan Di Dalam Tubuh

Gaya merupakan suatu konsep umum yang dapat dirasakan secara intuisi bagi fisikawan
atau seorang insinyur ataupun ahli kesehatan. Ada gaya yang bekerja pada tubuh dan
ada gaya yang yang berada dalam tubuh kita sendiri. Gaya yang bekerja pada tubuh ini
dapat diketahui apabila kita menabrak suatu objek. Sedangkan gaya yang berada dalam
tubuh, sering-sering tidak kita ketahui, padahal gaya itu ada, misalnya gaya otot yang
menyebabkan mengalirnya darah dan paru-paru yang memperoleh udara darai tarikan
nafas.

Newton telah membuat hokum gravitasi secara universal yang merupakan dasar asal
mula gaya yang dikenal dengan gaya gravitasi. Hukum ini merupakan gaya tarik antara
2 benda, misalnya berat badan, ini merupakan gaya tarik bumi terhadap badan kita,
terjadinya varises pada vena merupakan gaya tarik bumi terhadap aliran darah yang
mengalir secara berlawanan. Selain gaya gravitasi ada pula gaya listrik yaitu antara
electron dan proton pada atom hydrogen. Ada pula 2 gaya lain yang
fundamental/mendasar yaitu gaya inti kuat yang dihasilkan oleh proton dan gaya inti
lemah yang dihasilkan electron (beta) dari inti atom.

Apabila ditinjau dari segi statis dan dinamisnya tubuh manusia maka gaya yang
bekerja dalam tubuh manusia ini dibagi dalam dua tipe yaitu :

1. Gaya pada tubuh dalam keadaan statis


2. Gaya pada tubuh dalam keadaan dinamis

Gaya Pada Tubuh Dalam Keadaan Statis


Tubuh dalam keadaan statis/stasioner berarti tubuh dalam keadaan setimbang berarti
pula jumlah gaya dalam segala arah sama dengan nol, dan jumlah momentum terhadap
sumbu juga sama dengan nol. Sistem otot dan tulang dari tubuh manusia bekerja sebagai
pengumpil.

Ada 3 macam system pengumpil yang bekerja dalam tubuh manusia, yaitu :

a. Klas pertama system pengumpil, titik tumpuan terletak antar gaya berat dan gaya otot.
Contohnya pada kepala manusia, dimana pengumpil berada diantara gaya otot leher dan
gaya berat kepala.

b. Klas kedua system pengumpil, dimana gaya berat diantara titik tumpuan dan gaya
otot. Contohnya saat kaki menjinjit, maka ujug kaki sebagai pengumpil, gaya berat
tubuh di tengah telapak berada diantara pengumpil dan gaya tarik otot kaki ke atas.

c. Klas ketiga system pengumpil, dimana gaya otot terletak diantara titik tumpuan dan
gaya berat. Contoh pada lengan yang menggenggam bola dengan siku tegak lurus,
maka ujung siku sebagai pengumpil, dan gaya otot lengan keatas berada diantara
pengumpil dan gaya berat bola yang digenggam.

Dari ketiga klas ini, maka klas ketiga system pengumpil ini yang terumuj, kemudian
klas kedua dan klas pertama, Analisa Gaya dan Kegunaan Klinik Gaya yang bekerja
pada suatu benda/tubuh manusia bisa merupakan gaya vertical, gaya horizontal, dan
gaya bentuk sudut dengan bidang horizontal atau vertical.

Contoh soal : saat seorang atlit tolak peluru akan melempar bola dalam keadaan se -
timbang, maka tarikan otot deltoidus ( T) yang membentuk sudut 100 dan berjarak 20
cm dari ujung pusat rotasi, harus melawan gaya berat lengan W1 yang berjarak 2x dari
T dan gaya berat bola W2 yang berjarak 4x dari T. Jika W1 20 N dan berat bola 5 kg,
berapa T . ( g = 10 m/dt2 )

sJawab :
Dengan menggunakan hokum kedua Newton dan keseimbangan benda tegar maka
didapat persamaan :

T sin 100 x 0,2 Wlengan x 0,4 W bola x 0,8 = 0

Maka

2 Wlengan + 4 Wbola

T =

Sin 100
MATERI : STERILISASI

Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari
semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha
mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas
(kalor), gas-gas seperti formaldehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh bermacam-
macam larutan kimia; oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma. Mikroorganisme
juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh
filtrasi (Curtis, 1999).
Macam-macam sterilisasi (Machmud, 2008):
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi.
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat
kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut.
Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim
dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat :
jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk
alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh
mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV.
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain
alkohol.

Sterilisasi dengan panas adalah unit operasi dimana bahan dipanaskan dengan
suhu yang cukup tinggi dan waktu yang cukup lama untuk merusak mikrobia dan
aktivitas enzim. Sebagai hasilnya, bahan yang disterilkan akan memiliki daya simpan
lebih dari enam bulan pada suhu ruang. Contoh proses sterilisasi adalah produk olahan
dalam kaleng seperti kornet, sarden dan sebagainya. Perkembangan teknologi prosesing
yang memiliki tujuan mengurangi kerusakan nutrien dan konponen sensoris dan juga
mengurangi waktu prosesing menjadikan teknik serilisasi terus dikembangkan.
Lamanya waktu sterilisasi yang dibutuhkan bahan dipengaruhi oleh: resistensi
mikroorganisme dan enzim terhadap panas, kondisi pemanasan, pH bahan, ukuran
wadah atau kemasan yang disterilkan, keadaan fisik bahan (Machmud, 2008).
Sterilisasidengan udara kering, alat yang umum dikenal adalah oven. Alat ini dipakai
untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti erlenmeyer, petridish, tabunng reaksi dan alat gelas
lainnya. bahan-bahan seperti kapas, kain dan kertas dapat disterilkan dengan alat ini. pada
umunhya suhu yang digunakan pada sterilisasi secara kering adalah 170 - 180 C selama palinng
sedikit 2 jam. Lama isterilisasi tergantung pada alat dan jumlahnya (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap air panas, bahan yang mengandung cairan tidak dapat
didterilkan dengan oven sehingga digunakan alat ini. alat ini disebut Arnold steam sterilizer
dengan suhu 1000Cdalam keadaan lembab. Secara sederhana dapat pula digunakan dandang.
Mula-mula bahan disterilkan pada suhu 1000C selama 30 menit untuk membunuh sel-sel
vegetatif mikrobia. kemudian disimpan pada suhu kamr 24 jam untuk memberi kesempatan
spora tumbuh menjadi sel vegetatif, lalu dipanaskan lagi 1000C 30 menit. dan diinkubasi lagi 24
jam dan disterilkan lagi, jadi ada 3 kali sterilisasi. Banyak bakteri berspora belum mati dengan
cara ini sehingga dikembangkan cara berikutnya yaitu uap air bertekanan (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan, alat ini disebut autoklaf (autoclave)
untuk steriliasasi ini alat dilengkapi dengan katup pengaman. Alat diisi dengan air kemudian
bahan dimasukkan. Panaskan sampai mendidih dan dari katup pengaman kelaur uap air dengan
lancar lalu ditutup. Suhu akan naik sampai 1210C dan biarkan selama 15 menit (untuk industri
pengalengan ada perhitungan tersendiri), lalu biarkan dingin sampai tekanan normal dan klep
pengaman dibuka, cara ini akan mematikan spora dengan cara penetrasi panas ke dalam sel atau
spora sehingga lebih cepat. Cara mana yang dipilih tergantung bahan, biaya dan ketersediaan
alat, untuk bahan yang tidak tahan panas, maka cara diatas tidak dapat dipakai (Machmud,
2008).
Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
a. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan
selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur
atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat bejana/ruang panas (oven
dengan temperatur 170o 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk
peralatan gelas).
b. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan
formalin).
c. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau
tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja
filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat
(dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).
Macam-macam sterilisasi
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi :
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat
kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut.
Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim
dan antibiotik.

2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.


Pemanasan :
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat :
jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk
alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf