Anda di halaman 1dari 5

Aisyatur Robia/150341600791/PBIO/Offering A

Kajian tentang Bioteknologi dari sudut Sosial dan Budaya /Etika

1. Pengertian etika dan bioetika


Menurut Van Potter (1970) dalam Muchtadi (2007), bioetika adalah suatu disiplin yang
menggabungkan pengetahuan biologi dengan pengetahuan mengenai sistem nilai manusia, yang
akan menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, membantu menyelamatkan
kemanusiaan, dan mempertahankan dan memperbaiki dunia beradab. Menurut Oxford (1995)
dalam Muchtadi (2007), bioetika adalah kajian mengenai pengaruh moral dan social dari teknik-
teknik yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu-ilmu hayati. Berdasarkan Kepmen Mensristek
Nomer 112 Tahun 2009 menyatakan bahwa bioetika adalah ilmu hubungan timbal balik sosial
yang menawarkan pemecahan terhadap konflik moral yang muncul dalam penelitian,
pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya hayati. Diperlukan rambu-rambu berperilaku
(etika) bagi para pengelola ilmu pengetahuan, ilmuwan dan ahli teknologi yang bergerak di
bidang biologi molekuler dan teknologi rekayasa genetika.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bioetika terkait
dengan kegiatan yang mencari jawab dan menawarkan pemecahan masalah dari konflik moral.
Konflik moral yang dimaksud meliputi konflik moral yang timbul dari kemajuan pesat ilmu-
ilmu pengetahuan hayati dan kedokteran, yang diikuti oleh penerapan teknologi yang terkait di
dalamnya.
Terdapat tiga etika dalam bioetika, yaitu sebagai berikut.
1. Etika sebagai nilai-nilai dan asas-asas moral yang dipakai seseorang atau suatu
kelompok sebagai pegangan bagi tingkah laku
2. Etika sebagai kumpulan asas dan nilai yang berkenaan dengan moralitas (apa yang
dianggap baik atau buruk). Contohnya: kode etik kedokteran, kode etik rumah sakit.
3. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dari sudut norma dan nilai-
nilai moral.

2. Pendekatan-pendekatan Terhadap Pembuatan Keputusan Etis pada Bioteknologi


Hipocrates dapat dianggap sebagai tokoh bioetik yang pertama. Beliau menekankan pada
pasien lebih daripada penyakit di dalam praktik pengobatan, memandang nilai individu dan
kesucian kehidupan manusia menjadi hal yang paling penting. Selama bertahun-tahun, para
dokter telah menetapkan aturan untuk mengikuti keyakinan pokok dari sumpah Hipocrates
jangan membunuh, untuk membantu, atau paling tidak, tidak membahayakan di dalam tugas
mereka kepada pasien dan profesi mereka.
Pemikiran dan metode teknis untuk mendekati masalah-masalah bioteknologi dapat dibagi
menjadi dua sudut pandang. Pertama pendekatan utilitarian menurut filosof Skotlandia Jeremy
Bentham dan John Stuart Mill yaitu pendekatan yang menyatakan bawha sesuatu adalah baik
jika ia berguna, dan bahwa suatu tindakan adalah bermoral jika ia memaksimalkan kesenangan
di antara manusia. Pendekatan kedua adalah pendekatan deontologi menurut filosof Jerman
Immanuel Kant. Pendekatan ini memfokuskan pada perintah tertentu, atau prinsip-prinsip yang
absolut, yang kita harus mengikutinya di luar keharusan. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan
keagamaan.
Pengambilan keputusan Etik dalam bioetika, setidaknya harus memahami enam prinsip
bioetika Islam (Mustofa, 2009 dalam Nugroho 2017), yaitu sebagai berikut.
1. Prinsip I : Keadaan Darurat: sesuatu menjadi diperbolehkan ketika darurat, yakni tidak
ada pilihan lain dan semata-mata hanya untuk menjaga dan melestarikan kehidupan.
2. Prinsip II : Menjaga dan Melestarikan Kehidupan: keputusan yang diambil semata-mata
hanya untuk menjaga dan melestarikan kehidupan, bukan untuk maksud yang lain.
3. Prinsip III : Untuk Kepentingan yang Lebih Besar: keputusan yang diambil harus
terkanding maksud untuk kepentingan yang lebih besar.
4. Prinsip IV : Peluang Keberhasilan: keputusan yang diambil, harus sudah
memperhitungkan kemungkinan atau peluang keberhasilannya.
5. Prinsip V : Manfaat dan Mudlarat: keputusan yang diambil harus sudah
memperhitungkan keuntungan dan kerugian, kemaslahatan dan kemudlaratannya.
6. Prinsip VI : Tidak Ada Pilihan Lain: keputusan yang diambil harus sudah
memperhitungkan ada tidaknya pilihan lain, sehingga akhirnya keputusan tersebut yang
harus diambil

3. Aturan Pemerintah Tentang Etika Bioteknologi


Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Undang-Undang terkait dengan Etika dalam
bioteknologi.
1. Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan; Pasal 13 yang mengantisipasi
produk pangan yang dihasilkan melalui rekayasa genetika. Pasal 13 memiliki 2 ayat
dengan bunyi sebagai berikut.
(1) Setiap orang yang memproduksi pangan atau menggunakan bahan baku, bahan
tambahan pangan, dan atau bahan bantu lain dalam kegiatan atau proses produksi
pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika wajib terlebih dahulu
memeriksakan keamanan pangan bagi kesehatan manusia sebelum diedarkan.
(2) Pemerintah menetapkan persyaratan dan prinsip penelitian, pengembangan, dan
pemanfaatan metode rekayasa genetika dalam kegiatan atau proses produksi pangan,
serta menetapkan persyaratan bagi pengujian pangan yang dihasilkan dari proses
rekayasa genetika.
2. Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman;
3. Keputusan Bersama Menristek, Menkes, dan Mentan Tahun 2004 Tentang
Pembentukan Komisi Bioetika Nasional;
4. UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan
Penerapan IPTEK; Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat, bangsa,
dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi
lingkungan hidup. (2) untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian,
pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi
dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku
secara internasional.
Komisi Bioetik Nasional memiliki tugas sebagaimana diatur dalam Pasal 3 dan Pasal 7 antara
lain:
a. memajukan telaah masalah yang terkait dengan prinsip-prinsip bioetika,
b. memberi pertimbangan kepada Pemerintah mengenai aspek bioetika dalam penelitian,
pengembangan, dan penerapan Iptek yang berbasis pada ilmu pengetahuan hayati,
c. menyebarluaskan pemahaman umum mengenai bioetika
d. penelaahan prinsip-prinsip bioetika dalam memajukan iptek serta mengkaji dampaknya
pada masyarakat
e. peninjauan etika terhadap arah perkembangan iptek, khususnya ilmu-ilmu hayati.

4. Etika dalam Bioteknologi Bidang Rekayasa Genetika pada Tanaman Transgenik


Salah satu manfaat dari adanya rekayasa genetika dan juga yang menyebabkan kontroversi
terbesar adalah adanya produksi dari organisme yang secara genetic dimodifikasi (GM
organism), terutama hasil panen tanaman GMO. Tujuan dari diciptakannya tanaman
transgenik adalah untuk mendapat tanaman yang tahan terhadap pestisida, penyakit, iklim
yang buruk, dan produksi panen yang lebih baik. Banyak hal yang perlu diperhatikan dengan
adanya tanaman yang dimodifikasi secara genetik. Area pertama yang perlu kita perhatikan
adalah dari sisi tanaman itu sendiri, apakah ia akan menjadi tanaman yang lebih baik atau
setidaknya tidak bertambah jelek. Kita yang harus menentukan apakah integritas spesies
tersebut penting atau tidak, atau dengan kata lain menciptakan tanaman yang lebih baik lebih
diinginkan dibandingkan mempertahankan tanaman lama. Hal lain yang perlu diperhatikan
adalah apakah dengan adanya tanaman transgenic tersebut akan mempengaruhi ekosistem dan
keseluruhan biodiversitas.
Contoh lain adalah tanaman jagung Bt yang dimodifikasi untuk memproduksi racun dari
bakteri Bacillus thuringiensis sehingga dengan kemampuan memproduksi racun itu tanaman
tersebut dapat membunuh larva corn borer yang sedianya sangat merusak bagi tanaman
jagung. Tanaman-tanaman transgenic tersebut berinteraksi dengan ekosistem dan interaksi
tersebut harus kita perhatikan. Dalam kasus jagung Bt tersebut, beberapa penelitian juga
menunjukkan bahwa tanaman jagung Bt juga memproduksi pollen yang beracun bagi kupu-
kupu Monarch. Di samping organisme target yaitu larva corn borer, racun tanaman ini juga
berdampak pada serangga non target yaitu kupu-kupu Monarch. Efek yang dapat ditimbulkan
oleh tanaman transgenic terhadap lingkungan juga harus diperhatikan, yaitu kemungkinan
terjadinya penyerbukan silang tanaman transgenic dengan tanaman lain, sehingga gen
penghasil racun dimiliki oleh tanaman yang baru dan membunuh lebih banyak serangga.
Terkait dengan sifatnya yang beracun bagi serangga, hal lain yang harus diperhatikan dengan
adanya tanaman transgenic adalah apakah tanaman tersebut berbahaya bagi hewan dan
manusia. Di samping perhatian pada aspek lingkungan dan kesehatan, juga ada aspek social
dan ekonomi. Adanya kemampuan memodifikasi tumbuhan yang lebih baik dengan biaya
yang lebih rendah akan mengubah industri agrikultur dengan drastis (Thieman, 2004).

5. Etika dalam Bioteknologi Bidang Stem Cell


Stem cell merupakan suatu sel prekursor yang berpotensi untuk berkembang menjadi
berbagai macam sel yang berbeda. Sel stem dapat dibedakan menjadi sel stem embrionik dan
sel stem dewasa. Sel stem embrionik adalah sel yang diambil dari inner cell mass - suatu
kumpulan sel yang terletak di satu sisi blastocyst yang berumur 5 hari dan terdiri dari 100 sel.
Sel stem ini mempunyai sifat dapat berkembang biak secara terus menerus dalam media kultur
optimal dan pada keadaan tertentu dapat diarahkan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai sel
yang terdiferensiasi seperti sel jantung, sel kulit, neuron, hepatosit dan sebagainya.
Sel stem dewasa (Adult stem cells) adalah sel stem yang terdapat di semua organ tubuh,
terutama di dalam sumsum tulang dan berfungsi melakukan regenerasi untuk mengatasi
berbagai kerusakan yang selalu terjadi dalam kehidupan. Sel stem dewasa dapat diambil dari
fetus (fetal stem cells), sumsum tulang (bone marrow stem cells), darah perifer atau tali pusat
(umbilical cord blood stem cells, UCB).
Sel stem embrionik sangat plastis dan mudah dikembangkan menjadi berbagai macam
jaringan sel, seperti neuron, kardiomiosit, osteoblast, fibroblast dan sebagainya., sehingga
dapat dipakai untuk transplantasi jaringan yang rusak. Lagipula immunogenicity nya rendah,
selama belum meng-alami diferensiasi. Sel stem dewasa juga bisa dipakai untuk mengobati
berbagai penyakit degeneratif, tetapi plastisitasnya sudah berkurang. Mengingat masalah etik,
maka banyak negara lebih mengutamakan penelitian pemanfaatan sel stem dewasa pada
berbagai penyakit degeneratif, sehingga tidak dihadapkan pada masalah dan kontroversi etika
(Setiawan, 2006).
Dilihat dari manfaatnya, sel stem memang sangat menjanjikan sebuah solusi bagi
kesehatan manusia. Namun, melihat dua proses stem sel tadi yaitu stem sel embrionik dan
stem sel dewasa. Stem sel embrioniklah yang sampai saat ini masih menjadi kontroversi
karena stem sel embrionik mengambil bagian sel dari embrio, dimana embrio merupakan calon
makhluk hidup. Pada penggunaan sel stem embrionik terdapat beberapa isu moral yaitu
pandangan agama yang menyatakan bahwa embrio dianggap sebagai kehidupan baru yang
harus dihormati. Penggunaan embrio untuk sel stem dapat disamakan dengan tindakan
membunuh atau aborsi. Embrio memiliki status sama dengan anak atau manusia karena
memiliki genom manusia secara lengkap, dan berpotensi untuk berkembang menjadi manusia.
Menurut Thieman (2004) sel stem embrio secara teoritis dapat digunakan untuk membentuk
jaringan lain, dengan transplantasi untuk memperbaiki atau mengganti jaringan yang rusak
atau sakit. Hal ini memberi kesan menggunakan sel stem embrio manusia untuk penelitian,
jika dari proses tersebut memungkinkan untuk melakukan penelitian yang potensial dapat
mengobati penyakit pasien.

6. Etika dalam Bioteknologi Bidang Kloning


Klon embrio dihasilkan dengan mentransfer embrio ke uterus, dianjutkan proses
implantasi dan penyempurnaan tubuh dengan resiko dan faktor keamanan dalam
perkembangan dan pertumbuhan, baik sebelum maupun sesudah kelahiran. Tingkat
keberhasilan hidup saat lahir dan ketahanan hidup organisme hasil kloning rendah dan tengah
diperdebatkan apakah hasil kloning manusia secara nyata dapat hidup secar sehat dan normal.
Jika suatu pasangan memutuskan untuk mendapatkan anak dengan teknik kloning, dengan
menggunakan sel donor dari istri, klonnya secara genetik tidak akan menjadi anak perempuan
melainkan menjadi saudara dari istri, seperti saudara kembar yang lahirnya terlambat, dan
bukan keluarga dari suami. Pemikiran secara etis tentang hubungan keluarga dari hasil klon
berisi tentang bagaimana dengan adanya ketiadaan hubungan keluarga dengan orang tua
mungkin akan mengubah hubungan keluarga.
Bagi pihak yang pro akan adanya kloning, kloning dianggap menguntungkan karena bagi
manusia yang ingin punya keturunan, tapi karena satu dan lain hal tidak bisa mendapat anak
dengan cara yang biasa. Memungut anak adalah satu solusi, tapi anak itu secara biologis adalah
anak orang lain. Dengan kloning, bisa dipastikan sang anak secara biologis berasal dari ayah
atau ibunya, yaitu orang yang menyumbangkan sel DNA-nya. Alasan kedua adalah dengan
kloning merupakan suatu cara sempurna untuk mendapatkan anak, sebab mereka tidak harus
menikahi seorang lain dari lawan jenis. Alasan ketiga adalah merupakan suatu anugrah besar
bagi masyarakat bila diciptakan kloning diri sendiri jika diri mereka begitu cerdas dan hebat.
Daftar Pustaka

Anonim. 1996. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan. Jakarta: Dewan
Ketahanan Pangan.
_______. 2000. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas
Tanaman. Jakarta:
_______. 2002. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan dan Penerapan IPTEK; Pasal 22 ayat 1 dan 2. Jakarta:
_______. 2004. Keputusan Bersama Menristek, Menkes, dan Mentan Tahun 2004 Tentang
Pembentukan Komisi Bioetika Nasional. Jakarta:
Muchtadi, T.R. 2007. Perkembangan Bioetika Nasional. Surabaya: Universitas Airlangga.
Nasution, A. H. 1999. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor: Litera Antar Nusa.
Nugroho, Endik Deni. 2017. Pengantar Bioteknologi (Teori dan Aplikasi). Sleman:
Deepublish.
Setiawan, Boenjamin. 2006. Aplikasi Terapeutik Sel Stem Embrionik pada Berbagai Penyakit
Degeneratif. Cermin Dunia Kedokteran 153: 5-8.
Thieman, Willian J. dan Michael A. Palladino. 2004. Introduction to Biotechnology. San
Fransisco: Pearson Education, Inc.