Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-
related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat
mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika
atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih zat yang
berinteraksi.

Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat berubah efeknya
secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi bisa bersifat potensiasi atau
antagonis efek satu obat oleh obat lainnya, atau adakalanya beberapa efek lainnya.

Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat lain, obat
herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya. Definisi yang
lebih relevan kepada pasien adalah ketika obat bersaing satu dengan yang lainnya, atau apa
yang terjadi ketika obat hadir bersama satu dengan yang lainnya.

Interaksi obat yang tidak diinginkan dapat dicegah bila kita mempunyai
pengetahuan farmakologi tentang obat-obat yang dikombinasikan. Tetapi haruslah diakui
bahwa pencegahan itu tidaklah semudah yang kita sangka, mengingat jumlah interaksi yang
mungkin terjadi pada orang penderita yang menerima pengobatan polypharmacy cukup
banyak.

Cara pemberian obat yang berbeda akan mempengaruhi cepat lambatnya obat
terabsorpsi, dengan kata lain juga akan mempengaruhi cepat lambatnya obat berefek.
Begitu pun makanan dan minuman, sangat mempengaruhi proses absorpsi obat.
Tergantung di mana obat diabsorpsi/tempat absorpsi obat, maka dengan menganalisis
makanan/minuman yang masuk bersama obat, maka kita akan mudah memprediksi
pengaruh keduanya kepada cepat lambatnya atau malah tidak terabsorpsinya obat.

1
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan
toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila
menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah),
misalnya glikosida jantung, antikoagulan, dan obat-obat sitostatik.

Ada beberapa mekanisme di mana obat dapat berinteraksi, tetapi kebanyakan dapat
dikategorikan secara farmakokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi),
farmakodinamik, atau toksisitas kombinasi. Pengetahuan tentang mekanisme di mana
timbulya interaksi obat yang diberikan sering bermanfaat secara klinik, karena mekanisme
dapat mempengaruhi baik waktu pemberian obat maupun metode.interaksi. Beberapa
interaksi obat yang penting timbul akibat dua mekanisme atau lebih.

B. TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah kepada


sesama mahasiswa farmasi khususnya dan masyarakat secara umum tentang pengertian
dari interaksi obat. Selain itu juga diharapkan dapat mengetahui interaksi obat secara
farmasetika, farmakokinetika, farmakodinamika, dan interaksi obat dengan makanan
berdasarkan informasi yang terdapat dalam makalah.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 DEFINISI INTERAKSI OBAT

Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-
efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang
tidak dimiliki sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh kita adalah antara satu obat dengan
obat lain. Tetapi, interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan
herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus.
Karena kebanyakan interaksi obat memiliki efek yang tak dikehendaki, umumnya
innteraksi obat dihindari karena kemungkinan mempengaruhi prognosis. Namun, ada juga
interaksi yang sengaja dibuat, misal pemberian probenesid dan penisilin sebelum penisilin
dibuat dalam jumlah besar.
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat
(drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang
dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika
farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu
atau lebih zat yang berinteraksi.

2.1.2. Mekanisme Interaksi Obat

Pemberian suatu obat (A) dapat mempengaruhi aksi obat lainnya (B)

3
dengan satu dari dua mekanisme berikut:

1. Modifikasi efek farmakologi obat B tanpa mempengaruhi konsentrasinya di

cairan jaringan (interaksi farmakodinamik).

2. Mempengaruhi konsentrasi obat B yang mencapai situs aksinya (interaksi

farmakokinetik).

a. Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena indeks terapi obat B sempit

(misalnya, pengurangan sedikit saja efek akan menyebabkan kehilangan

efikasi dan atau peningkatan sedikit saja efek akan menyebabkan toksisitas).

b. Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena kurva dosis-respon

curam (sehingga perubahan sedikit saja konsentrasi plasma akan

menyebabkan perubahan efek secara substansial).

c. Untuk kebanyakan obat, kondisi ini tidak ditemui, peningkatan yang

sedikit besar konsentrasi plasma obat-obat yang relatif tidak toksik seperti

penisilin hampir tidak menyebabkan peningkatan masalah klinis karena

batas keamanannya lebar.

d. Sejumlah obat memiliki hubungan dosis-respon yang curam dan batas

terapi yang sempit, interaksi obat dapat menyebabkan masalah utama,

sebagai contohnya obat antitrombotik, antidisritmik, antiepilepsi, litium,

sejumlah antineoplastik dan obat-obat imunosupresan.

Secara umum, ada dua mekanisme interaksi obat :

1. Interaksi Farmakokinetik

Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi,

distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau

4
mengurangi jumlah obat yang tersedia untuk menghasilkan efek farmakologisnya

(BNF 58, 2009).

Interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe :

a. Interaksi pada absorbsi obat

i. Efek perubahan pH gastrointestinal

Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung pada apakah

obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan. Absorpsi

ditentukan oleh nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan

sejumlah parameter yang terkait dengan formulasi obat. Sebagai contoh

adalah absorpsi asam salisilat oleh lambung lebih besar terjadi pada pH

rendah daripada pada pH tinggi (Stockley, 2008).

ii. Adsorpsi, khelasi, dan mekanisme pembentukan komplek

Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus

untuk pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun

lainnya, tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam

dosis terapetik. Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan.

Sebagai contoh, antibakteri tetrasiklin dapat membentuk khelat dengan

sejumlah ion logam divalen dan trivalen, seperti kalsium, bismut aluminium,

dan besi, membentuk kompleks yang kurang diserap dan mengurangi efek

antibakteri (Stockley, 2008).

5
iii. Perubahan motilitas gastrointestinal

Karena kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil,

obat-obatan yang mengubah laju pengosongan lambung dapat

mempengaruhi absorpsi. Propantelin misalnya, menghambat pengosongan

lambung dan mengurangi penyerapan parasetamol (asetaminofen),

sedangkan metoklopramid memiliki efek sebaliknya (Stockley, 2008).

iv. Induksi atau inhibisi protein transporter obat

Ketersediaan hayati beberapa obat dibatasi oleh aksi protein transporter obat.

Saat ini, transporter obat yang terkarakteristik paling baik adalah P-

glikoprotein. Digoksin adalah substrat P-glikoprotein, dan obat-obatan

yang menginduksi protein ini, seperti rifampisin, dapat mengurangi

ketersediaan hayati digoksin (Stockley, 2008).

v. Malabsorbsi dikarenakan obat

Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi dan dapat mengganggu

penyerapan sejumlah obat-obatan termasuk digoksin dan metotreksat

(Stockley, 2008).

b. Interaksi pada distribusi obat

i. Interaksi ikatan protein

Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh

sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak

yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan

sisanya terikat dengan protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan

protein plasma bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara

6
molekul-molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul tidak terikat

yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi (Stockley, 2008).

ii. Induksi dan inhibisi protein transport obat

Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh

aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif

membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat

yang termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat

obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping CNS (Stockley,

2008).

c. Interaksi pada metabolisme obat

i. Perubahan pada metabolisme fase pertama

Meskipun beberapa obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak

berubah dalam urin, banyak diantaranya secara kimia diubah menjadi

senyawa lipid kurang larut, yang lebih mudah diekskresikan oleh ginjal. Jika

tidak demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan terus

memberikan efeknya untuk waktu yang lama. Perubahan kimia ini disebut

metabolisme, biotransformasi, degradasi biokimia, atau kadang- kadang

detoksifikasi. Beberapa metabolisme obat terjadi di dalam serum, ginjal,

kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang

ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis

reaksi utama metabolisme obat. Yang pertama, reaksi tahap I (melibatkan

oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan menjadi senyawa yang lebih

polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat dengan zat

lain (misalnya asam glukuronat, yang dikenal sebagai glukuronidasi)


7
untuk membuat senyawa yang tidak aktif. Mayoritas reaksi oksidasi fase I

dilakukan oleh enzim sitokrom P450 (Stockley, 2008).

ii. Induksi Enzim

Ketika barbiturat secara luas digunakan sebagai hipnotik, perlu terus

dilakukan peningkatan dosis seiring waktu untuk mencapai efek hipnotik

yang sama, alasannya bahwa barbiturat meningkatkan aktivitas enzim

mikrosom sehingga meningkatkan laju metabolisme dan ekskresinya

(Stockley, 2008).

iii. Inhibisi enzim

Inhibisi enzim menyebabkan berkurangnya metabolisme obat, sehingga obat

terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan induksi enzim, yang mungkin

memerlukan waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk berkembang

sepenuhnya, inhibisi enzim dapat terjadi dalam waktu 2 sampai 3 hari,

sehingga terjadi perkembangan toksisitas yang cepat. Jalur metabolisme

yang paling sering dihambat adalah fase I oksidasi oleh isoenzim sitokrom

P450. Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi enzim tergantung

pada sejauh mana tingkat kenaikan serum obat. Jika serum tetap berada

dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting secara klinis (Stockley,

2008).

iv. Faktor genetik dalam metabolisme obat

Peningkatan pemahaman genetika telah menunjukkan bahwa beberapa

isoenzim sitokrom P450 memiliki polimorfisme genetik, yang berarti

bahwa beberapa dari populasi memiliki varian isoenzim yang berbeda

aktivitas. Contoh yang paling terkenal adalah CYP2D6, yang sebagian


8
kecil populasi memiliki varian aktivitas rendah dan dikenal sebagai

metabolisme lambat. Sebagian lainnya memiliki isoenzim cepat atau

metabolisme ekstensif. Kemampuan yang berbeda dalam metabolisme

obat-obatan tertentu dapat menjelaskan mengapa beberapa pasien

berkembang mengalami toksisitas ketika diberikan obat sementara yang

lain bebas dari gejala (Stockley, 2008).

v. Interaksi isoenzim sitokrom P450 dan obat yang diprediksi

Siklosporin dimetabolisme oleh CYP3A4, rifampisin menginduksi

isoenzim ini, sedangkan ketokonazol menghambatnya, sehingga tidak

mengherankan bahwa rifampisin mengurangi efek siklosporin sementara

ketokonazol meningkatkannya (Stockley, 2008).

d. Interaksi pada ekskresi obat

i. Perubahan pH urin

Pada nilai pH tinggi (basa), obat yang bersifat asam lemah (pKa 3-7,5)

sebagian besar terdapat sebagai molekul terionisasi larut lipid, yang tidak

dapat berdifusi ke dalam sel tubulus dan karenanya akan tetap dalam urin

dan dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5

sampai 10.5. Dengan demikian, perubahan pH yang meningkatkan jumlah

obat dalam bentuk terionisasi, meningkatkan hilangnya obat (Stockley,

2008).

ii. Perubahan ekskresi aktif tubular renal

Obat yang menggunakan sistem transportasi aktif yang sama di tubulus

ginjal dapat bersaing satu sama lain dalam hal ekskresi. Sebagai contoh,

probenesid mengurangi ekskresi penisilin dan obat lainnya. Dengan


9
meningkatnya pemahaman terhadap protein transporter obat pada ginjal,

sekarang diketahui bahwa probenesid menghambat sekresi ginjal banyak

obat anionik lain dengan transporter anion organik (OATs) (Stockley,

2008).

iii. Perubahan aliran darah renal

Aliran darah melalui ginjal dikendalikan oleh produksi vasodilator

prostaglandin ginjal. Jika sintesis prostaglandin ini dihambat, ekskresi

beberapa obat dari ginjal dapat berkurang (Stockley, 2008).

2. Interaksi Farmakodinamik

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat yang

memiliki efek farmakologis, antagonis atau efek samping yang hampir sama.

Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor atau terjadi antara obat-

obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang sama. Interaksi ini biasanya dapat

diprediksi dari pengetahuan tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi

(BNF 58, 2009).

a. Interaksi aditif atau sinergis

Jika dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan

bersamaan efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan SSP, jika

diberikan dalam jumlah sedang dosis terapi normal sejumlah besar obat (misalnya

ansiolitik, hipnotik, dan lain-lain), dapat menyebabkan mengantuk berlebihan.

Kadang-kadang efek aditif menyebabkan toksik (misalnya aditif ototoksisitas,

nefrotoksisitas, depresi sumsum tulang dan perpanjangan interval QT) (Stockley,

2008).
10
b. Interaksi antagonis atau berlawanan

Berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa pasang obat dengan kegiatan yang

bertentangan satu sama lain. Misalnya kumarin dapat memperpanjang waktu pembekuan

darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K. Jika asupan vitamin K

bertambah, efek dari antikoagulan oral dihambat dan waktu protrombin dapat kembali

normal, sehingga menggagalkan manfaat terapi pengobatan antikoagulan.

Contoh interaksi obat dalam proses absorbsi


Obat Objek Obat presipitan Mekanismei efek Solusi
nteraksi yangterjadi
Fe(diabsorbsi pa Antasid(mengurangi Perubahan p Penurunan Diberikan
ling baik jika keasaman lambung) H absorpsi Fe jarak waktu
cairan cairansaluran pemberianobat
lambungsangat cerna yang berinterak
asam) si minimal 2
jam
Digoksin(sukar Metoklopramid(memper Perubahanm Penurunanabs Diberikan
larutdalam pendek waktu pengosong otilitas usus orpsidigoksin jarak waktu
cairansalurancer anlambung) pemberianobat
na) yang berinterak
siminimal 2 jam

11
B. Interaksi dalam proses distribusi (Sewaktu Transport dalam Darah)
Interaksi dalam proses distribusi terjadi terutama bila obat obat denganikatan protein
yang lebih kuat menggusur obat obat lain dengan ikatan proteinyang lebih lemah dari tempat
ikatannya pada protein plasma. Akibatnya maka kadar obat bebas yang tergusur ini akan lebih
tinggi pada darah dengan segala konsekuensinya, terutama terjadinya peningkatan efek toksik.
Sebagai contoh,misalnya meningkatnya efek toksik dari antikoagulan warfarin atau obat
obathipoglikemik (tolbutamid, klorpropamid) karena pemberian bersamaan dengan fenilbutason,
sulfa atau aspirin. Hampir sama dengan interaksi ini adalah dampak pemakaian obat obat dengan
ikatan protein yang tinggi pada keadaan mal nutrisi (hipoproteinemia).
Karena kadar protein rendah, maka obat obatdengan ikatan protein yang tinggi akan lebih
banyak dalam keadaan bebas karena kekurangan protein untuk mengikat obat sehingga dengan
dosis yang sama akan memberikan kadar obat bebas yang lebih tinggi dengan akibat meningkatnya
efek toksik. Disamping itu interaksi dalam proses distribusi dapat terjadi bila terjadi perubahan
kemampuan transport atau uptake seluler suatu obat oleh karenaobat obat lain. Misalnya obat
obat antidepresan trisiklik atau fenotiasin akan menghambat transport aktif ke akhiran saraf
simpatis dari obat obatantihipertensif (guanetidin, debrisokuin), sehingga
mengurangi/menghilangkan efek hipertensi.

Contoh interaksi obat dalam proses distribusi


Obat Objek Obat Presipitan Mekanisme Efek yang Solusi
terjadi
Tolbutamid Fenilbutazon(dapat Penggusurani Hipoglikem Dosis
(ikatan protein menggeser antikoagulano katan ia antikoagulan
96%) ral dari ikatannya dengan proteintolbut diperkecil.
albumin plasma) amid oleh
fenilbutazon
Warfarin Fenilbutazon(dapat Penggusurani Perdarahan Dosis
(ikatan protein menggeser antikoagulano katan antikoagulan
99%) ral dari ikatannya dengan protein(ada diperkecil
albumin plasma) mekanismedi
namik lain)

12
C. Interaksi dalam proses metabolisme
Interaksi dalam proses metabolisme dapat terjadi dengan dua kemungkinan,yaitu
Pemacuan enzim (enzyme induction) Suatu obat (presipitan) dapat memacu metabolisme obat lain
(obat obyek) sehingga mempercepat eliminasi obat tersebut. Kenaikan kecepatan eliminasi
(pembuangan atau inaktivasi) akan diikuti dengan menurunnya kadar obat dalam darah dengan
segala konsekuensinya. Obat obat yang dapat memacu enzim metabolisme obat disebut sebagai
enzyme inducer.
Dikenal beberapa obat yang mempunyai sifat pemacu enzim ini yakni:
Rifampisin
Antiepileptika: fenitoin, karbamasepin, fenobarbital.

Dari berbagai reaksi metabolisme obat, maka reaksi oksidasi fase I yangdikatalisir oleh
enzim sitokrom P-450 dalam mikrosom hepar yang paling banyak dan paling mudah dipicu.
Penghambatan enzim (enzyme inhibitor).
Metabolisme suatu obat juga dapat dihambat oleh obat lain. Obat obatyang punya
kemampuan untuk menghambat enzim yang memetabolisir obat lain dikenal sebagai penghambat
enzim (enzyme inhibitor). Akibat dari penghambatan metabolisme obat ini adalah meningkatnya
kadar obat dalam darah dengan segala konsekuensinya, oleh karena terhambatnya proses eliminasi
obat.
Obat obat yang dikenal dapat menghambat aktifitas enzim metabolisme obat adalah:
kloramfenikol
isoniazid
simetidin
propanolol
eritromisin
fenilbutason
alopurinol, dll.

13
Tergantung dari jenis obat obyek yang mengalami interaksi, yakni terutama obatdengan
lingkup terapi yang sempit, maka interaksi metabolisme dapat membawa dampak merugikan. Pada
umumnya dapat dikatakan bahwa:
- Pemacuan enzim akan berakibat kegagalan terapi, karena kadar optimal tidak tercapai.
- Penghambatan enzim akan berakibat mengingkatnya kadar obat melampaui ambang
toksik, sehingga efek toksik meningkat. Contoh-contoh interaksi dalam metabolisme baik
berupa pemacuan enzim atau penghambatan enzim ditampilkan.

Contoh-contoh interaksi pada proses metabolisme :


Obat Objek Obat Presipitan Mekanisme Akibat Klinik Solusi
warfarin(banyak Fenobarbital(larut Mempercepat Penurunan Dosis
disimpan lemak dan dapat metabolisme efek antikoagu warfarin
dihati) menginduksi sintesis warfarin. lan diperbesar 2-
enzim metabolisme 10 kali,tetapi
dihati dan mukosa jikafenobarbi
saluran cerna) tal
dihentikan,
dosis
warfarin
diturunkan
kembali.
Estradiol Rifampisin(mengindu Mempercepat Kegagalan Diberikan
ksi sintesis enzim metabolisme kontrasepsi jarak waktu
metabolisme dihati estradiol. pemakaian.
dan mukosa saluran
cerna)

14
D.Interaksi dalam proses ekskresi
Interaksi obat atau metabolitnya melalui organ ekskresi terutama ginjal dapat dipengaruhi
oleh obat obat lain. Yang paling dikenal adalah interaksi antara probenesid dengan penisilin
melalui kompetisi sekresi tubuli sehingga proses sekresi penisilin terhambat, maka kadaar
penisilin dapat dipertahankan dalam tubuh. Interaksi probenesid dan penisilin adalah contoh
interaksi yang menguntungkan secara terapetik. Klinidin juga menghambat sekresi aktif digoksin
dengan akibat peningkatan kadar digoksin dalam darah, kira-kirasampai 2 kali, sehingga terjadi
peningkatan kejadian efek toksik digoksin.Salisilat menghambat sekresi aktif metotreksat. Obat
obat diuretikamenyebabkan retensi lithium karena hambatan pada proses ekskresinya.Furosemid
juga dapat meningkatkan efek toksik ginjal dari aminoglikosida,kemungkinan oleh karena
perubahan ekskresi aminoglkosida.
Contoh obat pada Interaksi obat pada proses ekskresi :
Obat objek Obat presipitan Mekanisme Akibat klinik Solusi
interaksi
Digoksin(ekskre Kinidin,(dapat Menghamb Menurunkan Menurunkan dosis
si melalui menghambat p- ats ekresi sekresi digoksin digoksin menjadi
ginjal) glikoprotein yaitu aktif di ditubulus ginjal separuhnya.
transporter diusus tubuli dan
dan tubulus ginjal) ginjal menaikkanabso
rbsi di usus
halus, sehingga
efek digoksin
meningkat
Metotreksat (di Salisilat (ekskresi Menghamb kadar metotreksat Dosis metotreksat
ekskresi hanya dalam at sekresi tinggi, sehingga diturunkan.
melalui ginjal) bentuk metabolitnya aktif di toksisitas
hebat(juga akibat
melalui ginjal) tubuli
kerusakkan
ginjal
ginjaloleh AINS)

15
C. Interaksi Obat dengan Makanan
Pada interaksi jenis ini efek suatu obat akan dipengaruhi oleh makanan atau
minuman. Interaksi jenis ini tidak mudah dikelompokkan, tetapi lebih mudah
diperkirakan dari efek farmakologi obat yang dipengaruhi. Dalam hal ini makanan
atau minuman dapat memberikan efek sinergisme ataupun antagonis ( berlawanan
). Akibat dari interaksi jenis ini adalah terjadinya peningkatan efek samping karena
terjadinya peningkatan obat atau manfaat obat dapat berkurang bahkan menghilang
jika makanan atau minuman yang dikonsumsi memberikan efek antagonis terhadap
obat. Gunakan obat berikut ini satu jam sebelum atau dua jam sesudah makan untuk
mencegah interaksi yang mungkin menurunkan efek obat:
Interaksi obat dengan makanan dapat terjadi karena:
Penundaan absorbsi karena perubahan pH lambung
Perubahan motilitas usus

Pengetahuan mengenai pengaruh obat terhadap makanan terhadap kerja


obat masih sangat kurang. Karena itu, pada banyak bahan obat, masih belum
jelas bagaimana pengaruh pemberian makanan pada saat yang sama terhadap
kinetika obat. Pada sejumlah senyawa makanan menyebabkan penundaan absorbsi
karena perubahan harga pH dalam lambung serta motilitas usus.
Misalnya,tuberkulostatika rifampisisn dan isoniazid , absorpsinya ditunda dan
diabsorpsidalam jumlah lebih kecil pada pemakaian setelah makan dibandingkan
denganapabila obat-obat ini digunakan pada waktu lambung kosong.

1.Kinidin
(Cardioquin, Duraquin, Quinaglute Dura-Tabs,Quinidex Extentabs,
Quinora)Kinidin digunakan untuk menormalkan kembali denyut jantung
yang tak beraturan. Makanan beralkali; seperti: amandel, susu mentega,
kastanye, sari buah jeruk, kelapa, kepala susu, buah-buahan (kecuali
jagung, miju-miju);dapat meningkatkan efek kinidin.

16
Dengan peningkatan efek tersebut dapatmengakibatkan
kemungkinan terjadinya efek samping merugikan karenaterlalu banyak
kinidin disertai gejala jantung berdebar, atau denyut jantungtidak teratur,
pusing, sakit kepala, telinga berdenging, dan gangguan penglihatan.

2.Golongan Teofilin
Obat asma golongan Teofilin bekerja sebagai stimulant system saraf
pusatdengan cara melebarkan jalan udara dan memudahkan pernapasan
penderita asma. Makanan yang mengandung kofein dapat meningkatkan
efek obatasma karena makanan berkofein dapat menstimulasi system saraf
pusatsehingga menyebabkan terjadinya rangsangan berlebihan.
Akibatnyamungkin terjadi efek samping merugikan karena terlalu banyak
teofilin(rangsangan berlebih), disertai gejala mual, pusing sakit kepala,
mudahtersinggung, tremor, insomnia, takikardia, denyut jantung tidak
teratur, danmungkin terjadi serangan. Contoh makanan yang merupakan
sumber kofeinadalah: kopi, teh, kola dan minuman ringan, coklat, beberapa
pil pelangsingyang dijual bebas, sediaan untuk flu/batuk; nyeri; dan sakit
yang menggangguakibat haid.

3.Tetrasiklin
Adalah antibiotik yang digunakan untuk melawan infeksi. Absorpsi
tetrasiklin akan berkurangoleh ion logam bervalensi banyak (misalnya
kalsium,magnesium atau ion besi) serta kloestiramin.Tetrasiklin akan
membentuk khelat dengan logam,sehingga pemberiannya tidak boleh
bersamaan dengan pemberian susu dan produknya, antasida, atau
ferrous sulfate

17
Untuk menghindari pengendapan dalam gigi atau tulang yang
sedang berkembang, tetrasiklin harusdihindarkan bagi ibu hamil, dan anak-
anak dibawahusia 8 tahun karena tetrasiklin dapat langsung terikat pada
kalsium dan mengakibatkan pendaran(fluorescence, pemudaran warna, dan
displasia enamel.Obat juga dapat tersimpan dalam tulang
danmengakibatkan kelainan bentuk atau hambatan pertumbuhan.

4.Litium
Litium digunakan untuk menaggulangi beberapa gangguan jiwa
yang berat.Makanan berkadar garam rendah dapat meningkatkan efek
litium, sedangkanyang berkadar garam tinggi dapat menurunkan efek
litium. Makanan yang terlalu sedikit mengandung garam dapat
menimbulkankeracunan litium dengan gejala pusing, mulut kering, lemah,
bingung, tak bertenaga, kehilangan selera makan, mual, nyeri perut, nanar,
dan bicara tidak jelas.

Contoh obat yang berinteraksi dengan makanan.


Obat objek Obat presipitan Mekanisme Akibat klinik Solusi
interaksi
Tetrasiklin Kalium,Kalsium Membentuk kelat Pendarahan Diberikan 1
denganlogam. sampai 2 jam
setelahmakan.

18
Interaksi farmakodinamik
Pada interaksi farmakokinetik terjadi perubahan kadar obat obyek oleh
karena perubahan pada proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat.
Pada interaksi farmakodinamik tidak terjadi perubahan kadar obat obyek dalam
darah.Tetapi yang terjadi adalah perubahan efek obat obyek yang disebabkan oleh
obat presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat . Interaksi
farmakodinamik dapat dibedakan menjadi Interaksi langsung (direct interaction)
dan interaksi tidak langsung (indirect interaction).
Interaksi langsung terjadi apabila dua obat atau lebih bekerja pada tempat
atau reseptor yang sama, atau bekerja pada tempat yang berbeda tetapi
dengan hasil efek akhir yang sama atau hampir sama. Sedangkan
Interaksi tidak langsung terjadi bila obat presipitan punya efek yang
berbeda dengan obat obyek, tetapi efek obat presipitan tersebut akhirnya
dapat mengubah efek obat obyek.

Obat Obat Mekanismeinteraksi Akibat klinik Solusi


objek presipitan
Digoksin Furosemida Peningkatan ekskresi Furosemid Penambahan
kalium dan menyebabkan diuretic hemat
magnesium sehingga gangguan kalium
mempengaruhi kerja keseimbangan dan pengukuran
jantung. elektrolit sehingga kadar kalium
mempengaruhi dan magnesium
digoksin yang dalam darah.
menyebabkan aritmia.
Warfarin Aspirin Menghambat agregasi Efek koagulan Diberikan jarak
Salisilat trombosit sehingga meningkat sehingga waktu pemakai
menyebabkan resiko pendarahan an
terhambatnya pembentu
meningkat.
kan thrombus terutama
ditemukan pada system
arteri

19
Interaksi Obat pada Kasus khusus
Interaksi obat pada kasus khusus misalnya pada kasus kardiovaskuler. Obat kardiovaskular
secara umum terbagi menjadi obat gagal jantung, antiaritmia,antiangina, antihipertensi dan
hipolipidemik. Golongan obat kardiovaskular oleh dokter penulis resep obat oral kardiovaskular
pada 138 sampel di apotek x adalah golongan obat ACE Inhibitors, golongan -Blocker,
golongan Ca Antagonis,Golongan Diuretik dan Digoxin. Frekuensi terbesar dan merek dagang
yang berjumlah paling banyak digunakan dalam sampel adalah golongan ACE Inhibitor,hal ini
seiring dengan cakrawala pengobatan gagal jantung mulai berubah setelah melalui penelitian klinis
lebih dari 15 tahun ACE Inhibitor yang ditemukan olehCushman dan Ondetti pada tahun 1977,
tidak saja bermanfaat sebagai obat untuk hipertensi, tapi juga efektif untuk pengobatan gagal
jantung.
Interaksi antara Capoten yang berisi captopril golongan ACE Inhibitor dengan KSR yang
mengandung Kalium. Kejadian hiperkalemia ini dapat diminimalisasi dengan menghentikan
pemberian diuretik atau dengan memberikan Natrium satu minggu sebelum pengobatan dengan
ACE Inhibitor. Penghambat ACE ini mengurangi pembentukan Angiotensin II sehingga terjadi
vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron yang menyebabkan terjadinya ekskresi natrium dan
air,serta retensi kalium. Bila obat ini diberikan bersama obat diuretik hemat kalium atau suplemen
kalium akan meningkatkan resiko terjadinya hiperkalemia.

Obat Obat presi Mekanisme Akibat klinik Solusi


objek pitan interaksi
Captopril Kalium Hiperkalemia memberikan Natrium satu
golongan minggu sebelum pengobatan
ACE dengan ACE Inhibitor.
Inhibitor

20
BAB III
PEMBAHASAN

Jumlah obat dalam tubuh kita harus cukup tinggi untuk membantu menyerang penyakit
yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar menghindari munculnya banyak efek samping. Over
dosis dapat mengakibatkan efek samping yang sangat parah. Dosis yang terlalu rendah dapat
berarti obat tersebut tidak berhasil.

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-
obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan
dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.

Ada obat yang memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan kadar bahan kimia yang
biasanya dikeluarkan oleh ginjal dalam darah. Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati.
Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan
perubahan besar pada kadar obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim
yang sama.

Beberapa jenis obat lain yang kemungkinan akan menimbulkan interaksi termasuk:
Obat antijamur dengan nama yang diakhiri dengan azol (mis. flukonazol)
Beberapa antibiotik dengan nama yang diakhiri dengan misin (mis. klindamisin)
Obat antiasam simetidin
Beberapa obat yang dipakai untuk mencegah konvulsi, termasuk fenitoin dan karbamazipin

21
Obat dengan indeks terapeutik yang sempit termasuk:
Beberapa antihistamin, termasuk astemizol
Obat yang mengendalikan denyut jantung
Beberapa obat penawar rasa nyeri yang berasal dari opium
Kisaprid, yang meningkatkan pengeluaran air besar
Beberapa obat sedatif (penenang), termasuk triazolam
Obat yang menipis darah

Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi beberapa golongan besar,
yaitu :

1. Interakasi Farmasetik
2. Interaksi Farmakokinetika
3. Interaraksi Farmakodinamika
4. Interaksi Obat dengan Makanan

Pada interaksi jenis ini efek suatu obat akan dipengaruhi oleh makanan atau minuman.
Interaksi jenis ini tidak mudah dikelompokkan, tetapi lebih mudah diperkirakan dari efek
farmakologi obat yang dipengaruhi. Dalam hal ini makanan atau minuman dapat memberikan efek
sinergisme ataupun antagonis ( berlawanan ).

22
1. INTERAKSI FARMAKOKINETIK
A. Interaksi dalam proses absorpsi (Dalam Gastrointestinal)
Interaksi gastrointestinal adalah interaksi dua atau lebih obat yang diberikan secara
bersama-samaan yang terjadi di dalam saluran pencernaan dan umumnya
mempengaruhi proses absropsi obat.

Contoh interaksi obat dalam proses absorbsi :


Obat Obat Mekanisme Efek Solusi
Objek
Presipitant Kerja
(A) (B)
Antasida Tetrasiklin Interaksi Absorbsi tidak boleh diberikan
dengan langsung, tetrasiklin bersama-sama karena
Kalsium menurun akan terjadi
pembentukan kompleks.

Tetrasiklin akan mengalami pembentukan khelat/kompleks (interaksi langsung)


apabila pemakaiannya di berikan bersama antasida dengan kalsium yang berefek
menurunnya absorpsi tetrasiklin sehingga kedua obat tersebut disarankan tidak boleh di
berikan bersama-sama karena asam empedu akan diturunkan oleh antasida dengan
kation bervalensi banyak.
B.Interaksi dalam proses distribusi

Interaksi dalam proses distribusi terjadi terutama bila obat obat dengan ikatan
protein yang lebih kuat menggusur obat obat lain dengan ikatan proteiny ang lebih
lemah dari tempat ikatannya pada protein plasma.

23
Contoh interaksi obat dalam proses distribusi

Obat A Obat B Mekanisme Efek Solusi


Warfarin Fenilbutazon, Penggusuran ikatan Perdarahan Dosis
antikoagulan
(ikatan protein protein (ada
diperkecil
99%) mekanisme dinamik
lain)
Fenilbutazon, akan menggeser ikatan protein warfarin sehingga mengakibatkan
perdarahan bagi konsumen, dan dianjurkan dalam pemakaiannya dosis antikoagulannya di
perkecil.

A. Interaksi dalam proses metabolism

Interaksi dalam proses metabolisme dapat terjadi dengan dua kemungkinan, yaitu
Pemacuan enzim (enzyme induction). Suatu obat (presipitan) dapat memacu
metabolisme obat lain (obat obyek) sehingga mempercepat eliminasi obat tersebut.

Obat A Obat B Mekanisme Akibat/Efek Solusi


(Obat yang Interaksi Interaksi
menginduksi)
Anti Alkohol Mengurangi/ Darah tetap Meningkatkan dosis
koagulan Barbiturat menurunkan membeku antikoagulan jika
(oral) Rifampisin efek walaupun telah pengobatan dengan
Griseofulvin antikoagulan diberi obat yang lain.
Kortikosteroid antikoagulan

Untuk meningkatkan dosis antikoagulan saat pengobatan dengan obat yang lain,
maka alkohol, barbiturat, Rifampisin, Griseofulvin, dan Kortikosteroid jangan diberikan
bersamaan dengan antikoagulan karena akan mengurangi/menurunkan efek antikoagulan
itu sendiri yang mengakibatkan darah akan tetap membeku walaupun telah diberi
antikoagulan.

24
D.Interaksi dalam proses ekskresi
Interaksi obat atau metabolitnya melalui organ ekskresi terutama ginjal dapat
dipengaruhi oleh obat obat lain.

Contoh obat pada Interaksi obat pada proses ekskresi :


Obat A Obat B Mekanisme Efek Solusi
Furosemida Gentamisin, Obat A Toksisitas Tidak boleh
sefaloridin menghambat meningkat, diberikan secara
eksresi obat B dapat bersamaan, jika
menimbulkan ingin diberikan
ototoksisitas seara bersamaan
sebaiknya
digunakan diuretic
yang lain. Mis:
Tiazid

Furosemid akan mengakibatkan toksisitas meningkat, bahkan dapat menimbulkan ototoksisitas,


apabila diberikan bersamaan dengan gentamisin,dan sefaloridin karena furosemid menghambat
eksresi gentamisin,dan sefaloridin. Maka tidak boleh diberikan secara bersamaan, jika ingin
diberikan seara bersamaan sebaiknya digunakan diuretic yang lain. Mis: Tiazid.

25
2. INTERAKSI FARMAKODINAMIK
Interaksi farmakodinamik dapat dibedakan menjadi Interaksi langsung (direct
interaction) dan interaksi tidak langsung (indirect interaction).

Obat A Obat B Mekanisme Efek Rekomendasi


Hipnotik/Sedatif Analgesik, Penghambatan Depresi SSP , Memberikan
Benzodiazepin narkotik, , pada sinaps menyebabkan jeda waktu
Barbiturat antihistamin, GABA-nergik, efek aditif pemakaian
antikonvulsi, sebagai agonis kedua obat
antipsikotik, GABA-nergik. minimal 2 jam.
antidepresi, Akibatnya efek

Obat golongan hipnotik/sedatif akan memberikan efek aditif (depresi SSP


meningkat) apabila diberikan secara bersamaan dengan obat golongan analgesik, narkotik,
antihistamin, dll. Ini dikarenakan adanya penghambatan pada sinaps GABA-nergik, pada dosis
yang lebih tinggi dapat bersifat sebagai agonis GABA-nergik. Akibatnya efek . Maka
sebaiknya diberikan jeda waktu pemakaian kedua obat minimal 2 jam.

26
3 INTERAKSI OBAT DENGAN MAKANAN
Contoh obat yang berinteraksi dengan makanan.
Obat Makanan Mekanisme Akibat Solusi
Makanan Levodopa cepat Kondisi Hindari atau
Levodopa berprotein tinggi diabsorpsi secara yang diobati makanlah
seperti produk aktif di usus halus. tidak dapat sesedikit mungkin
( Mengendali- susu (keju, Kecepatan terkendali makanan yang
kan tremor yoghurt) atau absorpsi sangat dengan baik berprotein tinggi.
pada penderita daging. dipengaruhi oleh karena efek
penyakit kecepatan levodopanya
Parkinson ) pengosongan berkurang.
lambung. Adanya
makanan
berprotein ini
menghambat
absorpsi levodopa
akibat dihambat
selain itu terjadi
kompetisi asam
amino dengan
levodopa dalam
absorpsi maupun
saat transport ke
otak.

Makanan berprotein tinggi seperti produk susu (keju, yoghurt) atau daging tidak boleh
diberikan secara bersamaan dengan obat Levodopa (mengendalikan tremor pada penderita
penyakit Parkinson ), karena Levodopa cepat diabsorpsi secara aktif terutama di usus halus.
Sementara itu kecepatan absorpsi sangat dipengaruhi oleh kecepatan pengosongan lambung.
Adanya makanan berprotein ini menghambat absorpsi levodopa akibat dihambat oleh fenilalanin
yang berasal dari makanan berprotein tinggi selain itu terjadi kompetisi asam amino dengan

27
levodopa dalam absorpsi maupun saat transport ke otak. Sehingga kondisi yang diobati tidak dapat
terkendali dengan baik karena efek levodopanya berkurang. Maka dari itu hindari makanan yang
berprotein tinggi sewaktu mengkonsumsi levodopa.

4 Interaksi Obat dengan Kasus Khusus Penangan pada kelainan Jantung

Contoh obat yang berinteraksi dengan kasus khusus pada jantung


Obat A Obat B Mekanisme Interaksi Efek Interaksi
Digoksin Antibiotik Meningkatkan efek Terjadi efek samping merugikan
(Lanoxin) tetrasiklin digoksin akibat terlalu banyak digoksin mual,
bingung, gangguan penglihatan, sakit
kepala, kurang tenaga, tak ada nafsu
makan, bradikardia, takhikardia, dan
aritmia jantung.

Apabila digoksin (Lanoxin) diberikan bersamaan dengan antibiotik tetrasiklin, maka akan
mengakibatkan peningkatan efek digoksin yang merugikan akibat terlalu banyak digoksin yaitu
mual, bingung, gangguan penglihatan, sakit kepala, kurang tenaga, tak ada nafsu makan,
bradikardia, takhikardia, dan aritmia jantung.

28
5 STUDY KASUS : INTERAKSI OBAT INSOMNIA

Contoh obat yang berinteraksi dengan study kasus


Obat objek Obat presi Mekanisme interaksi Akibat klinik
pitan
Barbiturat Antikoagu Antikoagulan digunakan untuk Darah membeku
lan mengencerkan darah dan mencegah
pembekuan

Antikoagulan mengakibatkan darah membeku karena diberikan barbiturat dimana


antikoagulan digunakan untuk mengencerkan darah dan mencegah pembekuan.

6 INTERAKSI OBAT DILUAR TUBUH MANUSIA

Contoh obat yang berinteraksi diluar tubuh manusia

Obat objek Obat presipi Mekanisme Akibat klinik Solusi


tan interaksi
Sulbacef Aminogliko Terjadi Dengan cara melarutkan
sida inkompatibilitas dengan larutan Ringer
laktat dan larutan
Lidokain 2%
Larutan Sulbacef dan Aminoglikosida tidak dapat dicampur secara langsung,
karena ada inkompatibilitas fisik diantara keduanya. Bila kombinasi kedua obat ini
diperlukan, maka obat-obat ini dapat diberikan melalui infus intravena berkala secara
berurutan dan terpisah dimana saluran infus harus dibilas dengan pelarut terlebih dahulu
pada saat pergantian obat.
Rekonstitusi awal dengan larutan Ringers Laktat atau larutan Lidokain 2% harus
dihindari karena campuran ini inkompatibel. Sehingga harus dilakukan dua langkah
pelarutan, yaitu pada awalnya dicampur dengan air untuk injeksi dimana akan
menghasilkan larutan yang kompatibel, kemudian dilarutkan dengan larutan Ringers
Laktat atau larutan Lidokain 2%.

29
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 KESIMPULAN
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi
obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.

Secara singkat dapat dikatakan interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek
obat lainnya. Kerja obat yang diubah dapat menjadi lebih atau kurang aktif. Dalam hal ini
obat pertama dapat memperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek
kerja obat kedua.

Reaksi perorangan sangat beragam. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain
sifat keturunan, fungsi hati, dan ginjal, usia (yang paling peka adalah bayi dan orang berusia
di atas 50 tahun), ada tidaknya sesuatu penyakit, jumlah obat yang digunakan, lama
pengobatan, jarak waktu antara penggunaan dua obat, dan obat mana yang digunakan mula-
mula. Karena itu efek yang terjadi mungkin saja tak berarti apa-apa bagi seseorang akan
tetapi sangat membahayakan bagi orang lain. Hal mendasar yang patut disadari adalah
bahwa bahaya mungkin dapat terjadi.

Tidak selalu sejumlah obat yang berinteraksi tidak dapat digunakan bersama-sama.
Biasanya dosis atau waktu pemberian obat dapat diubah untuk mencegah timbulnya efek
yang merugikan. Beberapa interaksi malahan menguntungkan dan sengaja dimanfaatkan.
Tentu saja ada sejumlah kasus yang menghendaki agar sejumlah obat tertentu pada keadaan
apa pun tidak boleh diberikan bersama-sama.

30
DAFTAR PUSTAKA

Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi,hal 88-93, Penerbit
ITB, Bandung.
Richard Harkness, Interaksi obat, penerbit ITB, Bandung.
Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta.
Internet, google.com / Interaksi Farmakodinamika Obat

31
32
33