Anda di halaman 1dari 5

MANUAL PLASENTA

No. Dokumen No. Revisi Halaman 1/2

Ditetapkan Direktur
PROSEDUR TETAP
Tgl. Terbit
OBSTETRI 2017
GINEKOLOGI
Pengertian Melepaskan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding
uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual.

Tujuan Sebagai acuan petugas dalam melakukan langkah langkah


prosedur pelepasan plasenta.
Kebijakan Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu akibat HPP karena
retensi plasenta
Prosedur 1. Tindakan Penetrasi Ke Kavum Uteri.
a. Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan
analgesic melalui karet infuse.
b. Lakukan katerisasi kandung kemih
- Pastikan kateter masuk ke dalam kandung kemih
dengan benar.
- Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan.
c. Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegangkan tali
pusat sejajar lantai.
d. Secara obstetric masukkan satu tangan (punggung
tangan ke bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri
tali pusat bagian bawah.
e. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta
asisten untuk memegang kocher, kemudian tangan lain
penolong menahan fundus uerti.
f. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam
ke kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi
plasenta.
g. Buka tangan osbtetrik menjadi seperti memberi salam
(ibu jari m,erapat ke pangkal jari telunjuk).
2. Melepas Plasenta Dari Dinding Uterus.
a. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta
yang paling bawah.
- Bila dibelakang, tali pusat tetap di sebelah atas. Bila di
bagian depan, pindahkan tngan ke bagain depan tli
pusat dengan punggung tangan menghadap ke atas.
- Bila plasenta di bagian belakang, lepaskan plasenta
dari tempat implantasinya dengan jalan menyelipkan
ujung jari di antara plasenta dan dinidng uterus,

- dengan punggung tangan menghadap ke dinding


dalam uterus.
- Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama
(punggung tangan pada dinidng kavum uteri) tetapi
tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan.
b. Kemudian gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan
sambil bergeser ke kranial sehingga semua permukaan
maternal plasenta dapat dilepas.
3. Mengeluarkan Plasenta.
a. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri,
lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak
ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding
uterus.
b. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk
menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkna.
c. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk
menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik
plsaenta keluar (hinari percikan darah).
d. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah
disediakan.
e. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan
luar) ke dorsokranial setelah plsaenta lahir.
4. Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang
keluar.

Penentuan Faktor Resiko Tinggi Untuk Ibu Hamil

No. Dokumen No. Revisi Halaman 1/2

Ditetapkan Direktur
PROSEDUR TETAP
Tgl. Terbit
OBSTETRI 2017
GINEKOLOGI
Pengertian Menentuka ibu dengan factor resiko tinggi

Tujuan Sebagai acuan dalam menentukan factor resiko dan resiko tinggi
pada ibu hamil
Kebijakan Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu
Prosedur Faktor Resiko Ibu Hamil diantaranya
1 Primi muda, hamil ke-1 umur kurang dari 16 tahun
2 Primi tua, hamil ke-1 umur lebih dari 35 tahun, atau terlalu lambat
hamil ke-1 kawin
lebih dari 4 tahun.
3 Terlalu lama hamil lagi, lebih dari 10 tahun.
4 Terlalu cepat hamil lagi, kurang dari 2 tahun
5 Terlalu banyak anak, Anak lebih dari 4
6 Terlalu tua, umur lebih dari 35 tahun
7 Tinggi badan kurang dari 145 cm
8 Pernah gagal kehamilan
9 Pernah melahirkan dengan tarikan tang / vakum
10 Pernah melahirkan dengan Uri dirogoh
11 Pernah melahirkan dengan diberi infuse/transfusi.
12 Pernah operasi seksio
13 Adanya penyakit pada ibu hamil : kurang darah, Malaria, TBC paru,
Payah
jantung, kencing manis dan penyakit menular seksual.
14 Adanya bengkak pada muka/tungkai dan tekanan darah tinggi.
15 Hamil kembar 2 atau lebih.
16 Hamil kembar air (Hydramnion).
17 Bayi mati dalam kandungan.
18 Kehamilan lebih bulan.
19 Hamil letak sungsang.
20 Hamil letak lintang.
21 Hamil dengan perdarahan.
22 Pre eklamsi berat (kejang)
23 HB kurang dari 8 gr %
24 Tekanan darah tinggi (Sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg)
25 Eklampsia
26 Oedema yang nyata
27 Perdarahan pervaginam
28 Ketuban pecah dini
29 Letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu
30 Letak sungsang pada primigravida
31 Infeksi berat / sepsis
32 Persalinan premature
33 Kehamilan ganda
34 Janin yang besar
35 Penyakit kronis pada ibu ; Jantung, paru, ginjal, dll
36 Riwayat obstetric buruk, riwayat bedah sesar dan komplikasi
kehamilan.

Penatalaksanaan sesuai kelompok Resiko :


37. Jumlah skor 2, termasuk kelompok Bumil resiko rendah (KRR),
pemeriksaan kehamilan bisa dilakukan bidan, tidak perlu dirujuk, tempat
persalinan bisa dipolindes, penolong bisa bidan.
38. Jumlah skor 6-10, termasuk kelompok Bumil resiko Tinggi (KRT),
pemeriksaan kehamilan dilakukan bidan atau dokter, rujukan ke bidan
dan puskesmas, penolong persalinan bidan atau dokter.
39. Jumlah skor lebih dari 12, termasuk kelompok Resiko Sangat Tinggi
(KRST), pemeriksaan kehamilan harus oleh dokter, penolong harus
dokter

Versi Ekstraksi

No. Dokumen No. Revisi Halaman 1/2

Ditetapkan Direktur
PROSEDUR TETAP
Tgl. Terbit
OBSTETRI 2017
GINEKOLOGI

Pengertian Versi yang dilakukan dengan satu tangan penolong di dinding


perut ibu, dan yang lain didalam cavum uterus , serta segera
disusul dengan ekstraksi kaki untuk melahirkan janin.
Tujuan Sebagai acuan dalam melahirkan letak lintang, letak kepala dengan
prolaps tali pusat, dan presentasi dahi
Kebijakan Syarat :
1. Janin dapat lahir pervaginam
2. Bag terendah masih dapat didorong
3. Pembukaan serviks lengkap.
4. Sel ketuban dipecah
5. Dinding rahim harus rileks ok perlu narkosis.
Prosedur 1. Persiapan ibu dan janin sama persalinan bedah obstr lain, ibu diberi
narkosis
2. Tangan penolong yang berdekatan dengan bag kecil janin
dimasukkan kedalam jalan lahir secara obstr, sedangkan tangan lain
sebelum membuka vulva.
3. Pd let li, tangan yang dimasukkan sesuai let bo , setelah tangan
masuk kejalan lahir , tangan yang lain difundus uteri untuk
mendekatkan dengan bagian bagian kecil janin. Tangan penolong
yang didalam mencari kaki dan membawa keluar.
4. Cara mendapatkan kaki : secara langsung ( yang dipegang pd pglg
kaki dg jari telunjuk dan jari tengah ) maupun tak langsung.
5. Setelah rotasi , diperiksa apakah v berhasil cara : apakah kaki tidak
masuk kembali kejalan lahir, dengan palpasi apakah kepala
difundus. Dalam hal ini djj tak perlu di cek
6. Setelah berhasil janin dilahirkan dgn ekstraksi kaki. Caranya :
7. Tangan yang didalam mencari kaki dep dg menyusuri bo, pangkal
paha sp lutut, kemudian dlkk abd dan fleksi pd paha janin kaki
bawah mjd fleksi. Tangan yg diluar mendorong fu kebawah. Setelah
kaki bawah fleksi pglg kaki dipegang oleh jari ke 2 dan 3 dan
dituntun sp batas lutut diluar vag , bersaman dengan itu tangan
penolong yang berada diluar memutar kepala janin kearah fundus
uteri.
8. Ke 2 tangan penolong memegang betis janin , yi ke 2 ibu jari
diletakkan di bel betis sejajar sb panjang betis dan jari jari lain
didepan betis . Dg peg ini kaki janin ditarik curam kebawah sp
pangkal paha lahir.
9. Peg dipindahkan pangkal paha setinggi mungkin.
10. Pangkal paha ditarik curam kebawah sp trokh dep lahir. Kemudian
pangkal paha dg peg yang sama di elev keatas shg trokh bel lahir.
Bila kedua trokh lahir berarti bo telah lahir.
11. Sebaliknya bila kaki bel yang dilahirkan lebih dulu adalah trokh bel
dan utk melahirkan trokh dep maka pangkal paha ditarik terus curam
kebawah.
12. Setelah bo lahir , utk melahirkan janin dipakai tehnik peg femuro
pelvik. Dengan peg ini janin ditarik curam kebawah sp pusar lahir.
13. Selanjutnya spt man aid.

Nb :
1. Tangan yang dimasukkan dalam vag sesuai dg kaki.
2. Kaki yg dipegang diturunkan diusahakan agar punggung memutar
kedepan, pd :
Dorso inf dipegang kaki belakang.
Dorso sup dipegang kaki depan.
Dorso ant dipegang kaki bawah.
Dorso post dipegang kaki atas.

3. Cara mencari kaki dapat secara langsung maupun tak langsung.


4. Setelah mendapatkan kaki , lalu dilakukan versi dimana pd versi
tangan yg aktif adalah tangan yang diluar.
5. Dievaluasi , lalu dilakukan ekstraksi kaki.

Ve pd let li dengan tangan menumbung.


Pd lengan yang menumbung tsb diikat dg tali.
Karena tangan menumbung tsb akan masuk kedalam cav uteri maka
dilakukan desinfeksi.
Selanjutnya spt pd let li.