Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Pengolahan Limbah Industri

FILTRASI

Dosen Pembimbing:

Ir. Emma Hermawati Muhari, MT

Kelompok/Kelas : 8/3B D3 Teknik Kimia

Nama : 1. Tantri Prasetyani (151411061)

2. Wulandari (151411063)

3. Yaumi Istiqlaliyah (151411064)

Tanggal Praktikum : 10 November 2017

Tanggal Penyerahan : 14 November 2017

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
I. TUJUAN
Setelah praktikum dilakukan di laboratorium, mahasiswa dapat :
a. Menentukan efisiensi penurunan kekeruhan.
b. Menentukan waktu tinggal dengan efisiensi terbaik.

II. DASAR TEORI


Kusnaedi (2010: 25-29) berpendapat bahwa filtrasi merupakan proses
pemisahan antara padatan/koloid dengan cairan. Proses penyaringan bisa dilakukan
pada proses awal (primary treatment) atau penyaringan pada proses sebelumnya,
misalnya penyaringan hasil proses koagulasi.
Padatan yang akan difiltrasi tentunya beragam. Apabila air olahan mempunyai
padatan dengan ukuran seregam, maka saringan yang digunakan adalah single
medium. Sementara apabila ukuran padatan beragam, digunakan saringan dual
medium atau three medium.
Untuk merancang sistem penyaringan, perlu diperhatikan faktor-faktor berikut.
a. Jenis limbah padat (terapung atau tenggelam)
b. Ukuran padatan : (ukuran yang terkecil dan ukuran yang terbesar)
c. Perbandingan ukuran kotoran padatan besar dan kecil
d. Debit air olahan yang akan diolah
Bahan untuk penyaringan kasar dapat terbuat dari logam tahan karat seperti
stainless steel, kawat tembaga, batu kerikil, batu bara, karbon aktif (arang batok
kelapa). Penyaringan untuk padatan yang halus dapat menggunakan kain polyester
atau pasir. Saringan pasir biasanya menggunakan batu kerikil dan pasir. Pasir yang
baik untuk penyaringan adalah pasir kuarsa.

Kecepatan penyaringan dikelompokkan menjadi tiga , yaitu.

a. Filtrasi lambat (0.2 2 liter/menit/ft2)


b. Filtrasi cepat (4 8 liter/menit/ft2)
c. Filtrasi sangat cepat (12 60 liter/menit/ft2)
Sementara ukuran pasir menurut klasifikasi USDA (1938) dibagi menjadi :

a. Pasir sangat kasar (very coarse sand) : 2.0 -1.0 mm,


b. Pasir kasar (coarse sand) : 1.0 -0.5 mm,
c. Pasir sedang (medium sand): 0.5 -0.25 mm,
d. Pasir halus (fine sand) : 0.25-1.0 mm. dan
e. Pasir sangat halus (very fine sand): 0.1 0.05 mm
Berikut beberapa jenis aliran dalam sistem filtrasi

Gambar 1.Tipe penyaringan pasir berdasarkan ukuran padatan dalam air

(Sumber : Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum)

Gambar 2. Model aliran pada Sistem filtrasi

(Sumber : Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum)


Gambar 3. Konstruksi filtrasi pasir lambat

(Sumber : Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum)

Pada suatu saat media filter akan mengalami kejenuhan (saturated), seingga
perlu diregenerasi dengan menggunakan air bersih (aliran dari bawah ke atas).

Tabel 1. Macam Ukuran Partikel

Ukuran Partikel 25 150 um 0.2 4 mm 2 6 mm


Nama Microstraining Macrostraining Fine screening
Gravitasi atau
Operasi Gravitasi Gravitasi
vakum

Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktor
faktor yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi,
efisiensinya, dan sebagainya. Faktorfaktor tersebut adalah debit filtrasi,
konsentrasi kekeruhan, temperature, kedalaman media, ukuran dan material, serta
tinggi muka air dan kehilangan tekanan (Qikuk.com, 2015).
a. Debit filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara
efisien. Sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat adanya
aliran air yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara butiran media pasir.
Hal ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan butiran media
penyaring dengan air yang akan disaring. Kecepatan aliran yang terlalu tinggi saat
melewati rongga antar butiran menyebabkan partikelpartikel yang terlalu halus
yang tersaring akan lolos.
b. Konsentrasi kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi.
Konsentrasi kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan
tersumbatnya lubang pori dari media atau akan terjadi clogging. Sehingga dalam
melakukan filtrasi sering dibatasi seberapa besar konsentrasi kekeruhan dari air
baku (konsentrasi air influen) yang boleh masuk. Jika konsentrasi kekeruhan yang
terlalu tinggi, harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu, seperti misalnya
dilakukan proses koagulasi flokulasi dan sedimentasi.
c. Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi,
menyebabkan massa jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis
dari air akan mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik
menarik diantara partikel halus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan
dalam ukuan besar partikel yang akan disaring. Akibat ini juga akan mempengaruhi
daya adsorpsi. Akibat dari keduanya ini, akan mempengaruhi terhadap efisiensi
daya saring filter.
d. Kedalaman media, ukuran, dan material
Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam
perencanaan bangunan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya
pengaliran dan daya saring. Media yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya
saring yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang lama.
Lagipula ditinjau daris segi biaya, media yang terlalu tebal tidaklah
menguntungkan dari segi ekonomis. Sebaliknya media yang terlalu tipis selain
memiliki waktu pengaliran yang pendek, kemungkinan juga memiliki daya saring
yang rendah. Demikian pula dengan ukuran besar kecilnya diameter butiran media
filtrasi berpengaruh pada porositas, laju filtrasi, dan juga kemampuan daya saring,
baik itu komposisisnya, proporsinya, maupun bentuk susunan dari diameter butiran
media.
Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan
variasi dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya
tingkat porositas dan kemampuan menyaring partikel halus yang terdapat dalam air
baku. Lubang pori yang terlalu besar akan meningkatkan rate dari filtrasi dan juga
akan menyebabkan lolosnya partikel halus yang akan disaring. Sebaliknya lubang
pori yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan menyaring partikel dan juga
dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh partikel halus yang
tertahan) terlalu cepat.
e. Tinggi muka air di atas media dan kehilangan tekanan
Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit
atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media
akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan muka air
yang tinggi akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka
air diatas media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada
saat filter kotor.
Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan aliran yang memiliki tekanan yang
cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas media dengan yang ada didasar media
akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung. Perbedaan inilah yang sering
disebut dengan kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan tekanan akan meningkat
atau bertambah besar pada saat filter semakin kotor atau telah dioperasikan selama
beberapa waktu. Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah
besar, hal ini dapat diakibatkan karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat)
sehingga terjadi clogging.
III. ALAT dan BAHAN
Bahan dan Peralatan Analisis
a. Bahan yang digunakan : bentonit (powder), pasir silica, karbon aktif, zat organic
(berwarna) dan flokulant (polimer).
b. Peralatan analisa : Turbidity-meter dan TDS-meter
SKEMA KERJA

Mengisi bak umpan dengan air yang mengandung zat/bahan tersuspensi atau zat organik
tertentu sekitar 10 liter.

Posisi umpan berada di atas kolom filtrasi atau dapat dilengkapi dengan pompa umpan.

Memastikan semua kran dalam keadaan terbuka.

Mengalirkan cairan yang mengandung zat/bahan tersuspensi atau zat organik


(konsentrasi tertentu) kedalam kolom bagian atas dengan debit tertentu.

Mencatat waktu yang diperlukan pada saat cairan melalui media filter sampai saat
cairan keluar dari kolom.

Mengukur volume filtrate (efluen) dan konsentrasi zat organik pada setiap periode
tertentu.

Mencatat konsentrasi efluen pada setiap periode tertentu.

Menghentikan percobaan bilamana konsentrasi dalam aliran efluen mulai meningkat.

Menggambarkan kurva hubungan antara terhadap volume efluen konsentrasi efluen.


Menentukan konsentrasi dan volume breaktrough secara grafis.

Menghitung kpasitas media filter dari percobaan tersebut.

Menganalisa dan membahas hasil percobaan yang telah dilakukan.

Memberikan saran untuk percobaan yang telah dilakukan.


IV. SKEMA KERJA

START

Bak umpan diisi


sejumlah air yang
telah mengandung
bahan tersuspensi
sekitar 10 liter

Posisi umpan di
atas kolom filtrasi
atau dapat
digunakan pompa.
Semua kran
dipastikan dalam
keadaan terbuka

Cairan yang
mengandung
zat/bahan tersuspensi
dialirkan ke dalam
kolom bagian atas
dengan debit tertentu

Waktu yang diperlukan


saat memasuki media
filter hingga keluar
kolom dicatat.

Volume filtrat
dan konsentrasi
bahan organik
diukur pada
periode waktu
tertentu

A
A

Konsentrasi
dalam aliran
effluent
meningkat

END
V. DATA PENGAMATAN

5.1 Data Media Filter


Tinggi media filter = 12 cm
Panjang bak = 61 cm
Lebar bak = 24 cm
5.2 Data Umpan
Air limbah yang digunakan berasal dari air selokan MKU
Volume air limbah = 16.5 Liter
Kekeruhan Awal = 36.64 NTU
Tabel 2. Data pengamatan yang diperoleh selama proses filtrasi

Waktu Kekeruhan Konsentrasi, TDS Efisiensi Penurunan


No.
(menit) (NTU) (mg/l) Konsentrasi
1. 0 36.64 218 -
2. 10 19.46 224 46.88
3. 20 15.31 235 58.22
4. 30 14.29 220 60.99
5. 40 13.40 215 63.43
6. 50 14.72 197 59.82
7. 60 15.57 239 57.51
8. 70 14.89 225 59.36
9. 80 13.33 229 63.62
10. 90 14.51 224 60.40
11. 100 14.72 208 59.82
12. 110 13.01 225 64.50
13. 120 12.41 235 66.13
14. 130 12.13 228 66.90
15. 140 12.06 219 67.08
16. 150 9.47 230 74.15
Rata-rata 61.92

VI. PENGOLAHAN DATA

6.1 Efisiensi Penurunan Konsentrasi



Efisiensi = 100%

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan proses filtrasi terhadap air sampel, yaitu air
selokan MKU. Proses filtrasi yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan
kekeruhan pada air selokon. Selama praktikum berlangsung dilakukan pengamatan
terhadap kekeruhan serta TDS air sampel setiap 10 menit selama satu setengah jam.
Pengamatan terhadap nilai tersebut dapat menentukan besarnya efisiensi penurunan
kekeruhan pada air sampel serta mengamati kinerja media filter.

Sebelum memulai proses filtrasi, dilakukan terlebih dahulu proses


regenerasi. Proses regenerasi dilakukan karena dikhawatirkan media filter sudah
jenuh akibat pemakaian terus menerus oleh kelompok-kelompok praktikum
sebelumnya. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah memastikan valve terbuka dan
melakukan pengujian nilai TDS dan kekeruhan awal limbah.

Berdasarkan data yang diperoleh teramati bahwa kekeruhan pada sampel


cenderung mengalami penurunan (gambar 4 ) . Kekeruhan awal sampel sebesar
36.64 NTU. Pada 10 menit pertama terjadi penurunan kekeruhan yang sangat
drastis, yaitu sebanyak 17,18 NTU. Penurunan konsentrasi yang besar ini
dikarenakan pada bagian dasar kolom filtrasi masih terdapat sisa air regenerasi yang
lebih jernih dibandingkan air limbah. Air limbah yang telah melalui media filtrasi
tertampung dan bercampur dengan air tersebut. Sehingga nilai kekeruhan 19,46
NTU bukanlah murni nilai kekeruhan air limbah setelah mengalami proses filtrasi
selama 10 menit.

Berdasarkan hasil percobaan, dapat dilihat bahwa kekeruhan mengalami


penurunan seiring dengan bertambahnya waktu filtrasi. Namun di beberapa titik
terjadi kenaikan kekeruhan, yaitu pada menit ke -60 dan ke-90 . Hal ini dapat
disebabkan oleh media filter yang sudah terlalu jenuh dan proses regenerasi yang
dilakukan di awal praktikum terlalu singkat, sehingga proses filtrasi tidak berjalan
secara maksimal.

Selain itu, naiknya kembali kekeruhan dapat disebabkan oleh


ketidakhomogenan sampel dimana pada saat sampel masuk ke bak filtrasi
seharusnya dilakukan pengadukan terus menerus. Pengambilan sampel terakhir
dilakukan pada menit ke-150 dengan kekeruhan sebesar 9.47 NTU.
Berdasarkan nilai kekeruhan yang diperoleh maka dapat dilakukan
perhitungan efisiensi. Nilai kekeruhan yang naik turun mempengaruhi besarnya
efisiensi sehingga diperoleh efisiensi yang naik turun. Efisiensi terbaik sebesar
74,15 %.

Selain mengamati kekeruhan, pada praktikum ini juga dilakukan


pengamatan terhadap jumlah padatan yang terlarut atau TDS. Berdasarkan gambar
5 teramati bahwa TDS selama pengambilan sampel mengalami perubahan yang
fluktuatif. Jumlah padatan yang terlarut atau TDS dapat kembali meningkat karena
padatan yang terlah terfiltrasi di media filter kembali terlarut dalam keluaran air
sampel sehingga kelarutannya kembali naik.

VIII. SIMPULAN
Berdasarkan data selama praktikum diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Alat filtrasi di laboratorium pengendalian limbah industri memiliki efisiensi
penurunan kekeruhan sebesar 74,15% .
2. Waktu tinggal yang tepat untuk memperoleh efisiensi terbaik tersebut adalah
150 menit.
DAFTAR PUSTAKA

Ghozali, Mukhtar.t.t., Filtrasi, Politeknik Negeri Bandung

Kusnaedi, 2010, Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum,Jakarta: Penebar Swadaya

Qikuk.com. 2015. Penjelesan Tentang Filtrasi (Penyaringan) http://www.qikuk.com/2015/


09/penjelesan-tentang-filtrasi-penyaringan.html [Diakses pada tanggal 12 November
2017].
LAMPIRAN

A. Penentuan Efisiensi

t=10
36.64 19.49
Efisiensi = 100% = 46.88%
36.64

t=20
36.64 15.31
Efisiensi = 100% = 58.22%
36.64

t=30
36.64 14.29
Efisiensi = 100% = 60.99%
36.64

t=40
36.64 13.40
Efisiensi = 100% = 63.43%
36.64

t=50
36.64 14.72
Efisiensi = 100% = 59.82%
36.64

t=60
36.64 15.57
Efisiensi = 100% = 57.51%
36.64

t=70
36.64 14.89
Efisiensi = 100% = 59.36%
36.64

t=80
36.64 13.33
Efisiensi = 100% = 63.62%
36.64

t=90
36.64 14.51
Efisiensi = 100% = 60.40%
36.64

t=100
36.64 14.72
Efisiensi = 100% = 59.82%
36.64

t=110
36.64 13.01
Efisiensi = 100% = 64.50%
36.64

t=120
36.64 12.41
Efisiensi = 100% = 66.13%
36.64

t=130
36.64 12.13
Efisiensi = 100% = 66.90%
36.64

t=140
36.64 12.06
Efisiensi = 100% = 67.08%
36.64

t=150
36.64 9.47
Efisiensi = 100% = 74.15%
36.64

B. Grafik

Kekeruhan vs Waktu
40
35
30
Kekeruhan (NTU)

25
20
15
10
5
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160
Waktu (menit)

Gambar 4. Grafik Kekeruhan terhadap Waktu

TDS vs Waktu
250

240

230
TDS (mg/liter)

220

210

200

190

180
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160
Waktu (menit)

Gambar 5. Grafik TDS terhadap waktu


Efisiensi vs Waktu
80

70

60

50
Efisiensi

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160
Waktu (menit)

Gambar 6. Grafik Efisiensi terhadap Waktu

C. Gambar Alat

Gambar 7. Rangkaian Alat Filtrasi yang digunakan