Anda di halaman 1dari 13

PRESENTASI KASUS

HORDEOLUM

Disusun Oleh:
Reynaldi Fattah Zakaria
1102013246

Pembimbing:
dr. Agah Gadjali, Sp.M
dr. Henry A. W, Sp.M
dr. Hermansyah, Sp.M
dr. Gartati Ismail, Sp.M
dr. Mustafa K. Shahab, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA


PERIODE 20 NOVEMBER 22 DESEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI RS POLRI
JAKARTA
BAB I

1.1. Identitas Pasien


Nama : Nn. F
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 14 07 1993
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Kasir supermarket
Alamat : Jl. Batu Ampar 1 RT 02 RW 10. Kramat Jati, Jakarta
Timur
Status : Belum kawin
Tanggal Pemeriksaan : 28 November 2017

1.2. Anamnesis
Keluhan Utama
Bintitan di kedua kelopak mata atas sejak 6 hari pada mata kiri, dan mata
kanan sejak 3 hari.

Keluhan Tambahan
Mata sering keluar kotoran saat bangun tidur.

Riwayat Penyakit Sekarang


Nn. F, 23 tahun, datang ke poliklinik mata RS POLRI dengan keluhan bintitan
di kedua kelopak mata atas sejak 6 hari pada mata kiri, dan mata kanan sejak 3
hari. Pasien mengaku awalnya keluhan didahului dengan mata terasa ada yang
mengganjal dan pegal saat berkedip. Sekitar 2 hari berikutnya, pasien merasakan
kelopak mata kanan atas menjadi bengkak, merah, dan terasa nyeri. Pasien memberikan
tetes mata insto namun keluhan hanya berkurang sedikit. 3 hari berikutnya, pasien
merasakan keluhan yang sama timbul pada kelopak mata kiri atas sehingga pasien
berobat ke rumah sakit. Keluhan mata berair, penglihatan kabur, mata gatal, dan nyeri
kepala disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat alergi makanan atau obat (-).

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan serupa disangkal.

Riwayat Kebiasaan
Pasien sering mengucek mata tanpa mencuci tangan bila mata terasa pegal.

1.3. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
Tanda vital
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu : afebris

Status Oftalmologi
OD OS
Kedudukan bola mata Ortoforia Ortoforia

Gerakan bola mata

Visus 6/6 6/6


TIO N/ palpasi N/ palpasi
Palpebral Superior Edema (+), hiperemis (+), Edema (+), hiperemis (+)
teraba massa dengan teraba massa dengan
permukaan rata, batas permukaan rata, batas
tegas, ukuran 1x1x1 cm, tegas, ukuran 1x1x1 cm,
konsistensi kenyal, nyeri konsistensi kenyal, nyeri
tekan (+) tekan (+)
Palpebral inferior Edema (-), hiperemis (-), Edema (-), hiperemis(-),
massa (-), nyeri tekan (-) massa(-), nyeri tekan (-)
Konjungtiva Tarsal Hiperemis (-), papil (-), Hiperemis (-), papil (-),
Superior edema (-) edema (-)
Konjungtiva Tarsal Hiperemis (-), papil (-), Hiperemis (-), papil (-),
Inferior edema (-) edema (-)
Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (-), Injeksi konjungtiva (-),
injeksi siliar (-) injeksi siliar (-)
Kornea Jernih Jernih
Bilik Mata Depan Dalam, jernih Dalam, jernih
Iris Kripti (+), coklat Kripti (+), coklat
Pupil Bulat, isokor 3 mm, RCL Bulat, isokor 3 mm, RCL
(+), RCTL (+) (+), RCTL (+)
Lensa Jernih Jernih
Vitreus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
pemeriksaan pemeriksaan

Fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan


pemeriksaan pemeriksaan

1.4. Resume
Nn. F, 23 tahun, datang dengan keluhan bintitan di kedua kelopak mata atas sejak 6 hari
pada mata kiri, dan mata kanan sejak 3 hari. Pada awalnya pasien merasa mata mengganjal dan
pegal saat berkedip, kemudian mata menjadi bengkak, merah, dan nyeri.

Pemeriksaan Fisik
Visus OD : 6/6
Visus OS : 6/6

Palpebra Superior
Inspeksi dan palpasi : Edema (+), hiperemis (+), teraba massa dengan permukaan rata, batas
tegas, ukuran 1x1x1 cm, konsistensi kenyal, nyeri tekan (+).

1.5. Diagnosis Kerja


OD hordeolum interna palpebra superior stadium infiltrat
OS hordeolulm interna palpebra superior stadium supurasi

1.6. Diagnosis Banding


Kalazion, blefaritis.

1.7. Penatalaksanaan
Non-medikomentosa :
kompres air hangat selama 10 menit 3 x/hari sampai nanah keluar.
Medikamentosa :
- Tab Cefixime 200 mg No. X (S 2 dd tab I p.c.)
- Sol Cendo tobroson fls No. V (S 4 dd gtt II)

1.8. Prognosis
Quo Ad Vitam : Ad Bonam.
Quo Ad Fungsionam : Dubia Ad Bonam.
Quo Ad Sanactionam : Dubia Ad Malam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Palpebra


Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri atas kulit, otot, dan jaringan fibrosa, yang
berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan. Di bawah kulit terdapat jaringan
areolar longgar yang bisa mengembang pada edema masif. Muskulus orbikularis okuli melekat
pada kulit. Permukaan dalamnya dipersarafi nevrus kranialis fasialis (VII), dan fungsinya
adalah untuk menutup palpebra. Adapun membuka mata dipersarafi oleh nervus okulomotorius
(III) dengan muskulus levator palpebra superior.1

Gambar 1. Anatomi Palpebra2

Otot-otot levator berorigo di apeks orbita. Saat memasuki palpebra, otot ini membentuk
aponeurosis yang melekat pada sepertiga bawah tarsus superior. Pada palpebra inferior, fasia
kapsulopalpebra berasal dari muskulus rektus inferior dan beinsersio pada batas bawah tarsus.
Ia berfungsi menarik palpebra inferior saat melihat ke bawah. Muskulus tarsalis superior dan
inferior membentuk lapisan berikutnya, yang melekat pada konjungtiva. Otot-otot simpatis ini
juga merupakan refraktor palpebra. Konjungtiva melapisi permukaan dalam palpebra.
Konjungtiva palpebralis menyatu dengan konjungtiva yang berasal dari bola mata dan
mengandung kelenjar-kelenjar yang penting untuk pelumasan kornea.1
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Persarafan sensorik
kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh
cabang kedua nervus V (N. Trigeminus).

Gambar 2. Potongan Sagital Palpebra1

2.2. Hordeolum
2.2.1. Definisi
Hordeolum adalah infeksi kelenjar di palpebra. Bila kelenjar meibom terkena,
timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Hordeolum eksterna yang
lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi di kelenjar Zeis atau Moll.1

2.2.2. Etiologi
Hordeolum biasanya merupakan infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea
kelopak, sembuh sendiri dan dapat diberi hanya kompres hangat.3

2.2.3. Klasifikasi
a. Hordeolum Eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeis atau Moll,
hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit
kelopak. Pada hordeolum eksternum nanah dapat keluar dari pangkal rambut.3
b. Hordeolum Internum
Hordeolum internum atau radang kelenjar Meibom memberikan
penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal. Hordeolum internum
biasanya berukuran lebih besar dibandingkan hordeolum eksternum.3

Gambar 3. Hordeolum internum dan eksternum

2.2.4. Patofisiologi
Patogenesis terjadinya hordeolum eksterna diawali dengan pembentukan
nanah dalam lumen kelenjar oleh infeksi Staphylococcus aureus. Biasanya mengenai
kelenjar Zeis dan Moll. Selanjutnya terjadi pengecilan lumen dan statis hasil sekresi
kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus.
Terjadi pembentukan nanah dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak
gambaran abses, dengan ditemukannya PMN dan debris nekrotik. Hordeolum interna
terjadi akibat adanya infeksi sekunder kelenjar Meibom di lempeng tarsal. Obstruksi
dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya. Kedua
tipe hordeolum dapat timbul dari komplikasi blefaritis. Apabila infeksi pada kelenjar
Meibom mengalami infeksi sekunder dan inflamasi supuratif dapat menyebabkan
komplikasi konjungtiva. 4
2.2.5. Manifestasi Klinis
1) Bengkak pada kelopak atas atau bawah
2) Rasa sakit
3) Merah
4) Lunak
5) Keropeng pada tepi kelopak
6) Rasa panas
7) Gatal
8) Rasa silau
9) Mata berair
10) Berkedip tidak enak
11) Rasa kelilipan
12) Penglihatan tergangggu

2.2.6. Stadium Hordeolum


a. Stadium infiltrat
Ditandai dengan kelopak mata bengkak, kemerahan, nyeri tekan dan
keluar sedikit kotoran.

b. Stadium Supuratif
Ditandai dengan adanya benjolan yang berisis pus (core).

2.2.7. Diagnosis
Diagnosa hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
oftalmologis.

2.2.8. Diagnosis Banding


Kalazion : pada palpasi teraba lebih lunak.
Blefaritis : rasa gatal pada tepi palpebra, rasa terbakar, iritasi terutama
pada pagi hari.5

2.2.9. Penatalaksanaan
Non-medikamentosa
a. Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5 7 hari.
b. Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat diberikan kompres hangat
3-4 kali sehari selama 10-15 menit untuk membantu drainase. Dilakukan
dengan mata tertutup.4

Medikamentosa
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam
tidak ada perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah
hordeolum.4

1. Antibiotik topikal
Tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari. Dapat
juga diberikan eritromisin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan
hordeolum interna yang ringan.

2. Antibiotik sistemik
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda
pembersaran kelenjar limfe di preauricular Ciprofloxacin 250 500 mg.

Pembedahan
Apabila dalam 48 jam tidak ada perbaikan, maka dapat dilakukan insisi
atau drainase jika diketahui ada nanah.5
Pada insisi hordeolum terlebih dulu diberikan anestesia topikal dengan
pantokain tetes mata. Dilakukan anestesia filtrasi dengan prokain atau lidokain
di daerah hordeoulum dan dilakukan insisi yang bila:
Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fliktuasi pus, tegak lurus
pada margo palpebra.
Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.
Setelah dilakukan insisi dilakukna ekskohleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik.3
Gambar 5. Insisi Hordeolum Internum.

2.2.10. Komplikasi
Komplikasi dari hordeolum yaitu selulitis palpebra, yang merupakan radang jaringan
ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra.

2.2.11. Pencegahan
Pencegahan hordeolum dapat dilakukan dengan cara berikut :
1. Menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.
2. Mengusap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk
membersihkan ekskresi kelenjar lemak.
3. Menjaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh
kuman.
4. Menggunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

2.2.12. Prognosis
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan sendirinya, asalkan kebersihan daerah mata tetap
dijaga dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, Ausbury. 2010. Oftalmologi Umum, Edisi 17. Jakarta: Widya Medika

2. Snell, R. 2014. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta: EGC

3. Ilyas S, Yulianti S R. 2015. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI.

4. Michael ED. Hordeolum. 2009. Available from : http://emedicine.medscape.com/


article/1213080-overview

5. Oliver J, Cassidy L. 2005. Ophtalmology at a glance. London: Black-well Publishing.