Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantong (pocket, pouch) yang tumbuh
abnormal di bagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah atau bahan-
bahan lain. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid yang
tumbuh pada atau sekitar ovarium5.

Kista ovarium adalah kantong berisi material cair atau semi cair yang berasal dari
ovarium. Kista ini dapat berkembang di berbagai usia, dari masa neonates sampai post
menopause. Kebanyakan kista ovarium muncul selama bayi dan remaja, dimana periode aktif
hormone terjadi. Kebanyakan muncul fungsional dan sembuh dengan tatalaksana
minimal2,3,4.

Kista Ovarium

Faktor Resiko

Beberapa faktor resiko kista ovarium adalah sebagai berikut4:


- Terapi infertilitas. Pasien yang di terapi dengan induksi ovulasi dengan gonadotropin
dan agen lainnya seperti clomiphene citrate atau letrozole, dapat menyebabkan
berkembangnya kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi ovarium.
- Tamoxifen. Obat ini dapat menyebabkan kista ovariu fuungsional benigna yang
biasanya dapat sembuh dengan pemberhentian obat tersebut.
- Hamil. Pada orang hamil, kista ovarii dapat terbentuk di trimester kedua ketika kadar
puncak hCG.
- Hipertiroid. Karena kesamaan antara subunit alfa dari TSH dan hCG, hipotiroid dapat
menstimulasi pertumbuhan kista dan ovarium.
- Gonadotropin maternal. Efek transplacenta gonadotropin maternal dapat
menyebabkan perkembangan kista ovarium pada neonates dan fetus.
- Merokok
- Ligasi tuba. Kista fungsional sering dikaitkan dengan ligasi tuba dan sterilisasi.
Faktor resiko untuk terjadinya kistoadenokarsinoma sebagai berikut:
- Riwayat keluarga mengidap keganasan tersebut
- Usia lanjut
- Ras putih
- Infertilitas
- Nulipara
- Riwayat kanker payudara
- Mutasi gen BRCA

Klasifikasi

Kista terbagi dua, yaitu nonneoplastik dan neoplastik. Kista nonneoplastik dalam hal
ini dibagi menjadi tumor akibat radang dan tumor lain, yaitu kista folikel, kista korpus
luteum, kista lutein, kista inklusi germinal, kista endometrium dan kista stein-leventhal. Kista
nonneoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan.
Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, tetapi hal itu pun tergantung pada
ukuran dan sifatnya6,7,8.
1. Kista Neoplastik
a. Kistoma ovarii simpleks

Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasa nya bertangkai, seringkali bilateral, dan
dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista jernih, serus dan berwarna
kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai,
dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dengan gejala-gejala yang mendadak. Diduga bahwa kista
ini suatu jenis kistadenoma serosum, yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan
tekanan cairan dalam kista. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi ovarium,
akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera di periksa secara histologik untuk
mengetahui apa ada keganasan6,7,8,9.

b. Kistadenoma ovarii musinosum

Asal tumor ini belum dapat diketahui dengan pasti. Menurut mayer, ia mungkin berasal dari
suatu teratoma dimana ada pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen-elemen lain.
Ada penulis yang beranggapan bahwa tumor berasal dari epitel germinativum, sedang penulis
lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama dengan tumor Brenner. Tumor ovarium
ini terbanyak diteukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor
merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum
merupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium4. Di Indonesia hariadi (1970)
menemukan frekuensi sebesar 27%; sedabgkan gunawan (1977) menukan angka 29,9%;
sedangkan Djaswadi 15,1%. Tumor paling sering terdapat pada wanita berusia 20-50 tahun,
jarang sekali pada masa prapubertas6,9.

Gambaran klinik

Tumor lazimnya berbentuk multilokuler ; oleh karena itu, permukaan berbagala


(labulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar, lebih-lebih pada
penderita yang atang dari pedesaan. Pada tumor yang besar tidak dapat lagi ditemukan
jaringan ovarium yang normal. Tumor biasa nya unilateral, namun ada juga dijumpai yang
bilateral6,7.

Kista menerima darah dari suatu tangkai ; kadang-kadang dapat terjadi torsi yang
mengakibatkan gangguan sirkulasi. Gangguan ini dapat menyebabkan pendarahan dalam
kista dan berubahan degenerative, yang memudahkan timbulnya perletakan kista dengan
omentum, usus-usus dan peritoneum parietale6.

Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan; yang terakhir ini khusus
nya bila terjadi pendarahan atau perubahan degenerative didalam kista. Pada pembukaan
terdapat cairan lender yang khas, kental seperti gelatin, melekat, dan berwarna kuning sampai
coklat tergantung dari percampurannya dengan darah. Pada pemeriksaan mikroskopik
tampak dinding kista dilapisi oleh epitel torak tinggi dengan inti pada dasar sel; terdapat
diantaranya sel-sel yang membundar karena terisi lender (goblet cells)6.

Sel-sel epitel yang terdapat pada suatu lapisan mempunyai potensi untuk tumbuh
seperti struktur kelenjar: kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista
menjadi multilokuler. Jika terjadi sobekan pada dinding kista, maka sel-sel epitel dapat
tersebar pada permukaan peritoneum rongga perut, dan dengan sekresinya menyebabkan
pseudomiksoma peritonei6,9.

Akibat pseudomiksoma peritonei timbulnya penyakit menahun dengan musin terus


bertambah dan menyebabkan banyak perlekatan. Akhirnya, penderita meninggal karena ileus
dan/atau inanisi. Pada kista kadang-kadang dapat ditemukan daerah padat, dan pertumbuhan
papiler. Tempat-tempat tersebut perl diteliti dengan seksama oleh karena disitu dapat
ditemukan tanda-tanda ganas. Keganasan ini tedapatdalam kira-kira 5-10% dari kistadenoma
dan musinosum6,8.

Penanganan

Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor. Jika pada operasi tumor sudah cukup
besar sehingga tidak tampak banyak sisa ovarium yang normal, biasanya dilakukan
pengangkatan ovarium beserta tuba (salpingo-ooforektomi). Pada waktu mengangkat kista
sedapat-dapatnya diusahakan mengangkatnya in toto tanpa mengadakan pungsi dahulu, untuk
mencegah timbulnya pseudomiksoma peritonei karena tercecernya isi kista. Jika berhubug
dengan besarnyakista perlu dilakukan pungsi untuk mengecilkan tumor, lubang pungsi harus
ditutup dengan rapi sebelum mengeluarkan tumor dari rongga perut. Setelah kista diangkat,
harus dilakukan pemeriksaan histologik di tempat-tempat yang mencurigakan terhadap
kemungkinan keganasan. Waktu operasi, ovarium yang lain perlu diperiksa pula6,7,8.

c. Kistoadenoma ovarii serosum

Pada umumnya, ahli berpendapat bahwa kista ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epitelium). Kista ini ditemukan dalam frekuensi yang hampir sam
adengan kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama. Agak lebih
sering ditemukan kista bilateral (10-20%)6.

Gambaran klinik

Kista ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan dengan kistadenoma
musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagala karena kista
serosum pun dapat bebentuk multilokuler, meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista
putih keabu-abuan. Cirri khas kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga
kista sebesar 50%, dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan
kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma)6,7.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa tidak mungkin membedakan gambaran


makroskopik kistadenoma serosum papiliferum yang ganas dari yang jinak, bahkan
pemeriksaan mikroskopikpun tidak selalu member kepastian. Pada pemeriksaan mikroskopik
terdapat dinding kista yang dilapisi oleh epitel kubik atau epitel thoraks yang rendah, dengan
sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal
dari epitel permukaan ovarium (germinal epitelium), maka bentuk epitel pada papil dapat
beraneka ragam, tetapi sebagian besar epitelnya terdiri atas epitel bulu getar, seperti epitel
tuba6.
Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya yang
dinamakan psamoma. Adanya psamoa biasanya menunjukkan bahwa kista adalah
kistadenoma ovarii serosum papiliferum, tetapi tidak bahwa tumor itu ganas6.

Apabila ditemukan pertumbuhan papilifer, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta


anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosm secara mikroskopik digolongkan ke
dalam kelompok tumor ganas. Akan tetapi, garis pemisah antara kistadenoma ovarii
papiliferum yang jelas ganas kadang-kadang sukar ditentukan. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan bahwa potensi keganasan yand dilaporkan sangat berbeda-beda. Walaupun
demikian, dapat dikatakan bahwa 30%-35% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan
keganasan. Bila pada suatu kasus terdapat implantasi pada peritoneum disertai dengan asites,
maka prognosis penyakit itu kurang baik, meskipun diagnosis histopatologisnya pertumbuhan
tersebut jinak (histopatologically benign). Klinis kasus tersebut menurut pengalaman harus
dianggap sebagai neoplasma ovarium yang ganas (clinically malignant)6.

Terapi

Terapi pada umumnya sama seperti pada kistadenoma musinum. Hanya, berhubung
dengan lebih besarnya kemungkinan keganasan, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih
teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa sediaan yang
dibekukan (frozen section) pada saat operasi, utnuk menentukan tindakan selanjutnya pada
waktu operasi6,9.

d. Kista endometrioid

Kista ini biasanya unilateral dengan permukaaan licin, pada dinding dalam terdapat satu
lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista ini, yang ditemukan oleh
sartesson dalam tahun 1969, tidak ada hubungannya dengan endometriosis ovarii6.

e. Kista dermoid

Merupakan suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur-struktur ektodermal


dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi, dan produk glandula sebasea
berwarna putih kuning menyerupai lemak yang nampak lebih menonjol daripada elemen-
elemen endoderm dan mesoderm6.

Tentang histogenesis kista dermoid, teori yang paling banyak dianut ialah bahwa
tumor berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis. Tumor ini merupakan 10% dari
seluruh neoplasma ovarium yang kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih
muda. Ditaksir 25% dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa
reproduksi walaupun kista dermoid dapat temukan pula pada anak kecil. Tumor ini dapat
mencapai ukuran yang sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram6,8.

Gambaran klinik

Tidak ada ciri-ciri khas pada kista dermoid, dinding kista kelihatan putih, keabu-
abuan, dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, dibagian lain padat. Sepintas
lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah, biasanya Nampak satu
kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam dindingnya. Pada umumnya terdapat satu
daerah pada dinding bagian dalam, yang menonjol dan padat6,7.

Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal, mesodermal, dan entodermal. Maka


dapat ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot
jaringan ikat (mesodermal), dan mukosa traktus gastrointestinal, epitel saluran pernapasan,
dan jaringan tiroid (entodermal). Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari
kelenjar sebasea berupa masa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut. Rambut ini
terdapat beberapa serat saja, tetapi dapat pula merupakan gelondongan seperti konde. Pada
kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak di eprut bagian
bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran
isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan agak jarang, kira-kira dalam 1,5%
dari semua kista dermoid, dan biasanya pada wanita lewat menopause. Yang tersering adalah
karsinoma epidermoid yang tumbuh dari salah satu elemen ektodermal. Ada kemungkinan
pula bahwa satu elemen tumbuh lebih cepat dan menyebabkan terjadinya tumor yang
khas4,6,9. Termasuk di sini:

1. Struma ovarium
Tumor ini terdiri terutama atas jaringan tiroid, dan kadang-kadang dapa menyebabkan
hipertiroid.
2. Kistadenoma ovarii musinosum dan kistadenoma ovarii serosum
Kista-kista dapat dianggap sebagai adenoma yang berasal dari satu elemen dari
epithelium germinativum.
3. Koriokarsinoma
Tumor ganas ini jarang ditemukan dan untuk diagnoss harus dibuktikan adanya
hormone koriogonadotropin.

Kista dermoid adalah suatu teratoma yang kistik. Umumnya teratoma solid ialah suatu
tumor ganas, akan tetapi biarpun jarang, dapat juga ditemukan teratoma solidum yang jinak.
Terapi pada kista dermoid terdiri atas pengangkatan, biasanya dengan seluruh ovarium6.

2. Kista Non Neoplastik

a. Kista Folikel
Kista ini berasal dari Folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh
terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah tumbuh di bawah
pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi
kista. Bisa didapati satu kista atau lebih, dan besarnya biasanya dengan diameter 1 – 1,5 cm6.
Kista folikel ini bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam dinding kista yang
tipis yang terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa, akan tetapi karena tekanan di dalam
kista, maka terjadilah atrofi pada lapisan ini. Cairan dalam kista berwarna jernih dan sering
kali mengandung estrogen. Oleh sebab itu, kista kadang-kadang dapat menyebabkan
gangguan haid. Kista folikel lambat laun dapat mengecil dan menghilang spontan, atau bisa
terjadi ruptur dan kista pun menghilang. Umumnya, jika diameter kista tidak lebih dari 5 cm,
maka dapat ditunggu dahulu karena kista folikel biasanya dalam waktu 2 bulan akan
menghilang sendiri6,9.
b. Kista Korpus Luteum
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans. Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan. Kadang-
kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus luteum persistens), perdarahan yang
sering terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang berwarna merah
coklat karena darah tua. Frekuensi kista korpus luteum lebih jarang dari pada kista folikel6,9.
Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang
berasal dari sel-sel teka. Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa
amenorea diikuti oleh perdarahan tidak teratur. Adanya kista dapat pula menyebabkan rasa
berat di perut bagian bawah dan perdarahan yang berulang dalam kista dapat menyebabkan
ruptur. Rasa nyeri di dalam perut yang mendadak dengan adanya amenorea sering
menimbulkan kesulitan dalam diagnosis diferensial dengan kehamilan ektopik yang
terganggu. Jika dilakukan operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum memudahkan
pembuatan diagnosis. Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu sampai kista hilang
sendiri. Dalam hal dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik terganggu, kista korpus
luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium6,8.
c. Kista Lutein
Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadang-kadang tanpa adanya kelainan
tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik. Kista biasanya bilateral dan bisa
menjadi sebesar ukuran tinju. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.
Sel-sel granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-sel
menghilang karena atresia. Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon
koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma,
ovarium mengecil spontan6,7.
d. Kista Inklusi Germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Kista ini lebih banyak terdapat pada wanita yang
lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara
kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi.
Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik
atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serus6,7,8.
e. Kista Endometriosis
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput
dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi
kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah
coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan
nyeri haid dan nyeri senggama. Kista ini berasal dari peritoneum. Penyebabnya bisa karena
infeksi kandungan menahun, misalnya keputihan yang tidak ditangani sehingga kuman-
kumannya masuk kedalam peritoneum melalui tuba falopii. Infeksi tersebut melemahkan
daya tahan peritoneum, sehingga mudah terserang penyakit. Gejala kista ini sangat khas
karena berkaitan dengan haid. Seperti diketahui, saat haid tidak semua darah akan tumpah
dari rongga uterus ke liang vagina, tapi ada yang memercik ke rongga perut. Kondisi ini
merangsang sel-sel rusak yang ada di selaput perut mengidap penyakit baru yang dikenal
dengan endometriosis. Karena sifat penyusupannya yang perlahan, endometriosis sering
disebut kanker jinak. Secara singkatnya, kista endometriosis merupakan endometriosis yang
berlokasi di ovarium6,7,8,9.

f. Kista Stein-Leventhal
Pada kista stein-leventhal biasanya kedua ovarium membesar dan bersifat polikistik,
permukaan rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Kelainan ini terkenal dengan
nama sindrom Stein-Leventhal dan kiranya disebabkan oleh gangguan keseimbangan
hormonal. Umumnya pada penderita terhadap gangguan ovulasi, oleh karena endometrium
hanya dipengaruhi oleh estrogen, hiperplasia endometrii sering ditemukan6,7.
Pada pemeriksaan mikroskopis akan tampak tunika yang tebal dan fibrotik.
Dibawahnya tampak follikel dalam bermacam-macam stadium, tetapi tidak ditemukan corpus
luteum. Secara klinis memberikan gejala yang disebut Stein-Leventhal Syndrom, yaitu yang
terdiri dari hirsutisme, infertilitas, obesitas dan oligomenorea sekunder. Kecenderungan
virilisasi pada jenis kista ini kemungkinan disebabkan hiperplasi dari tunika interna yang
menghasilkan zat androgenic. Kelainan ini merupakan penyakit herediter yang autosomal
dominan6,8.

Tanda dan Gejala Kista Ovarium


Biasanya kista ovarium asimptomatik dan ditemukan secara tidak sengaja selama
USG atau pemeriksaan pelvis rutin. Nyeri dapat muncul di perut bagian bawah. Pada
keganasan kista ovarium biasanya tidak menimbulkan gejala sampai mencapai stadium
lanjut4:
- Ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual, terutama saat penetrasi dalam.
- Pergerakan usus sulit, terjadi tekanan, menyebabkan keinginan untuk buang air besar.
- Miksturisi menjadi lebih sering karena tekanan pada kandung kemih
- Siklus menstruasi irregular dan perdarahan pervaginam dapat terjadi, interval
intermenstrual menjadi lebih panjang, diikuti dengan menoragia.
- Perut kembung dan sebah
- Endometrioma nyeri saat menstruasi, banyak dan dispareunia
- Ovarium polikistik pcos hirsutism, infertile, oligomenorea, obesitas, jerawat.
- Pada palpasi dapat ditemukan masa abdomen, nyeri tekan. Dan jika terjadi
peritonitis defans muskuler, distensi abdomen.
- Jika terjadi rupture kistaterjadi perdarahan tanda vital takikardia, hipotensi
- Jika terjadi torsi hiperpireksia
- Jika ada keganasan kakheksia, penurnan berat badan, limfadenopai, sesak, efusi
pleura.

Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Sebagian besar gejala dan tanda
di bagi menjadi akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor-tumor
tersebut6,7.

Akibat Pertumbuhan. Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan oleh besarnya tumor
dan posisinya didalam perut. Suatu kista dapat menekan kandung kencing dan menyebabkan
gangguan miksi atau terkadang hanya menimbulkan rasa berat diperut jika terletak bebas di
rongga perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi dan
edema pada tungkai karena tekanan pada pembuluh balik atau limf. Pada tumor yang besar
dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain6,7.

Akibat Aktivitas Hormonal. Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid,
kecuali jika tumor itu sendiri mengeluarkan hormon yang sering terjadi pada tumor ganas,
misalnya tumor sel granulose yang dapat menimbulkan hipermenorea dan arhenoblastoma
yang dapat menyebabkan amenorea6,7.

Akibat Komplikasi.
Perdarahan ke dalam kista. Biasanya terjadi sedikit-sedikit, sehingga berangsur-angsur
menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala klinik yang minimal.
Akan tetapi apabila perdarahan dalam jumlah banyak, akan terjadi distensi cepat dari kista
yang menimbulkan nyeri perut mendadak6,7.
Putaran Tangkai. Dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih
akan tetapi yang belum amat besar sehingga terbatas gerakannya. Kondisi yang
mempermudah terjadinya torsi adalah kehamilan, karena pada kehamilan uterus yang
membesar dapat mengubah letak tumor. Sesudah persalinan dapat terjadi perubahan
mendadak dalam rongga perut. Selain itu, putaran tangkai sering menyebabkan gangguan
sirkulasi walaupun gangguan ini jarang bersifat total, rasa nyeri, dan bila putaran tangkai
berjalan terus akan terjadi nekrosis hemoragik dalam tumor yang dapat menyebabkan
robekan dinding kista dengan perdarahan intraabdominal atau peradangan sekunder6,7.
Infeksi pada Tumor. Terjadi jika di dekat tumor terdapat sumber kuman pathogen, seperti
appendicitis, diverticulitis atau salpingitis akuta. Kista dermoid cenderung mengalami
peradangan disusul dengan pernanahan6,7.
Robek Dinding Kista. Terjadi pada torsi tangkai atau karena trauma. Apabila kista hanya
mengandung cairan serus, rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritoneum akan segera
berkurang. Tetapi, apabila robekan pada kista disertai perdarahan yang timbul secara akut dan
berlangsung terus ke dalam rongga peritoneum maka akan menyebabkan rasa nyeri yang
terus menerus disertai tanda-tanda abdominal akut. Robekan dinding kista pada kistadenoma
musinosum dapat menyebabkan terjadinya keadaan yang disebut pseudomiksoma peritonei6.
Perubahan Keganasan. Dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti kistadenoma
ovarii serosum, kistadenoma ovarii musinosum dan kista dermoid. Oleh karena itu, setelah
tumor diangkat pada operasi, perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik yang seksama
terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites dan anak sebar (metastasis)
memperkuat kecurigaan terhadap keganasan6.

Pemeriksaan Penunjang
Tidak jarang tentang penegakan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum
dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-
gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diferensial diagnosis3,4,6,7.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan