Anda di halaman 1dari 6

NAMA : RIRIN MAIRANI

NIM : SRP173140066

STRATEGI PELAKSANAAN

RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. Kondisi Klien

DO :

 Klien mengatakan pernah melakukan tindakan kekerasan

 Klien mengatakan sering merasa marah tanpa sebab

DS :

 Klien tampak tegang saat bercerita

 Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya

 Mata melotot

 Nada suara tinggi

 Tangan mengepal

 Berteriak

B. Diagnosa Keperawatan : resiko perilaku kekerasan


C. Tujuan Tindakan Keperawatan

a. Tujuan Umum

Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan secara fisik

b. Tujuan Khusus

 Klien dapat membina hubungan saling percaya

 Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

 Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan

 Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan

 Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan yang

dilakukan

 Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan

fisik 1yaitu dengan cara teknik nafas dalam

 Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

D. Tindakan Keperawatan

 Bina hubungan saling percaya

 Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya

 Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan

 Bantu klien mengungkapkan tanda dan gejala perilaku kekerasan yang

dialaminya

 Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini


 Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara yang dilakukan

pada diri sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan

 Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara

fisik yaitu dengan cara teknik napas dalam.

SP 1 : Membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab marah,

tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat

perilaku kekerasan yang dilakukan, dan cara mengendalikan perilaku

kekerasan secara fisik yaitu dengan cara tarik napas dalam.

E. Strategi Komunikasi

a. Fase Orientasi

a) Salam Teraupetik

“Selamat pagi Pak, perkenalkan nama saya Ririn Mairani,

panggil saja saya Ririn. Saya perawat dari STIK Muhammadiyah

Pontianak. Hari ini saya dinas pagi dari jam 7 sampai jam 2 siang

nanti. Saya yang akan merawat Bapak selama Bapak di rumah sakit

ini. Kalau boleh saya tahu nama Bapak siapa, senangnya dipanggil

apa?”

b) Evaluasi/Validasi

“Bagaimana perasaan Bapak saat ini? Saya lihat Bapak sering

tampak marah dan kesal, Apakah sekarang Bapak masih merasa kesal

atau marah?”
c) Kontrak

“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang hal yang

membuat Bapak marah dan bagaimana cara mengontrolnya? Berapa

lama Bapak maunya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 10

menit saja? Bapak senangnya kita berbicara dimana?”

b. Fase kerja

“Apa yang menyebabkan Bapak marah? Apakah sebelumnya pada

saat masih dirumah Bapak pernah marah? Terus, apa penyebabnya?

Samakah dengan yang sekarang? O iya begitu yaah pak, jadi istri Bapak

penyebab marah Bapak.”

“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti yang tadi Bapak

sebutkan bahwa penyebab marah Bapak yaitu pada saat Bapak pulang

dari kerja tetapi istri Bapak belum menyediakan makanan, apa yang

Bapak rasakan? Apakah Bapak merasa kesal kemudian dada Bapak

berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan

mengepal? Setelah itu apa yang Bapak lalukan? Ohh, jadi Bapak

memukul istri Bapak dan memecahkan piring? Apakah dengan cara ini

makanan terhidang? Yaa, tentu tidak Pak. Apa kerugian cara yang Bapak

lakukan tadi? Betul sekali Pak, jadi istri Bapak jadi sakit dan takut dan

juga piring-piring pecah.”


“Menurut Bapak, adakah cara lain yang lebih baik? Maukah Bapak

belajar cara mengungkapkan kemarahan Bapak dengan baik tanpa

menimbulkan kerugian? Ada beberapa cara untuk mengendalikan

kemarahan, Pak. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi, melalui

kegiatan fisik, rasa marah disalurkan. Ada beberapa cara fisik untuk

mengendalikan rasa marah, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu,

Pak? Begini Pak, kalau tanda-tanda marah Bapak tadi sudah Bapak

rasakan, Bapak berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu

keluarkan atau tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan

kemarahan Bapak. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus Pak…, tahan,

dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali ya Pak. Oke bagus sekali Pak,

Bapak sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaanya sekarang, Pak?

Sebaiknya latihan ini Bapak lakukan secara rutin sehingga bisa sewaktu-

waktu rasa itu muncul Bapak sudah terbiasa melakukannya.”

c. Fase terminasi

“Bagaimana perasaan Bapak setelah berbincang-bincang tentang

kemarahan Bapak? Iya, jadi penyebab Bapak marah…..(klien

menyebutkan) dan yang Bapak rasakan…..(klien menyebutkan) serta

akibatnya…..(klien menyebutkan).”

“Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah

Bapak yang lalu, apa yang Bapak lakukan kalau marah yang belum kita

bahas dan jangan lupa latihan napas dalam, ya Pak. Sekarang kita buat
jadwal latihannya ya Pak, berapa kali sehari Bapak mau latihan napas

dalam?”

“Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang kesini dan kita

latihan cara yang lain untuk mencegah atau mengendalikan marah.

Tempatnya disini saja, ya Pak? Selamat pagi.”