Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Hakikat Bahasa

Menurut Sutan Takdir Alisyahbana ( 1983) “Bahasa adalah ucapan pikiran


manusia dengan teratur memakai alat bunyi”. Bahasa dipergunakan manusia
untuk hasil pemikiran dan pikirannya. Karena perwujudan bahasa sebagai sisten
yang teratur, sehingga hanya manusia yang mungkin melakukan hal tersebut.
Kepemilikan bahasa menjadi salah satu dasar pembeda manusia dengan makhluk
lainnya. Dengan akal dan pikirannya manusia mempelajari sistem secara wajar
dan alamiah.
Gorys Keraf (2004) menjelaskan bahwa bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang arbitrer, yang dapat
diperbuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Hampir sama dengan batasan
di atas, bahwa bahasa merupakan sistim komunikasi yang dapat dipergunakan
manusia dalam keperluan berbagai hal terkait dengan kehidupannya. Batasan ini
menjelaskan lebih luas, bahwa bahasa bukan hanya simbol vokal saja. Untuk
memperjelas makna bahasa diperlukan gerak-gerik badaniah secara nyata. Bahasa
berupa sistem yang arbitrer, yang berarti aturan bahasa tersebut ditentukan
kelompok pemilik bahasa tersebut sesuai dengan konvensi masyarakat
pemakaianya (masyarakat manusia) ( lihat juga, Ronald Wardaugh: 1977, Bruce L
Pearson: 1977).
Pemahaman hakikat bahasa lebih luas lagi dijelaskan oleh Harimurti
Kridalaksana (2008) “sistem lambang yang arbitrer yang dipergunakan oleh
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri”.
Batasan ini menjelaskan bahwa bahasa dipergunakan untuk menyampaikan
berbagai terkait dengan kehidupan manusia.

1
Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa bahasa sebagai sistem,
lambang, bunyi, arbitrer, konvensional, produktif, unik, universal, dinamis,
bervariasi, manusiawi. Sebagai suatu sistem bahasa berupa lambang dan bunyi
yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang maknanya dipertegas oleh gerak-
gerik badaniah serat ekspresi yang menyertainya. Sistem bahasa tersebut
didasarkan pada konvensi masyarakat pemiliknya yang memungkinkan setiap
kelompok yang berbeda dapat menentukan sistem yang berbeda pula. Bahasa
produktif, artinya bahasa dapat digunakan manusia untuk menyampaikan berbagai
hal terkait dengan kehidupannya. Kepemilikan bahasa menjadi ciri universal yang
dimiliki manusia yang membedakannya dengan makhluk lainnya. Sistem bahasa
itu bersifat dinamis dan unik sehingga menungkinnya berubah sesuai dengan
tuntutan perkembangan dan kepentingan penggunanya. Dengan demikian, hanya
manusialah dengan akal, budi dan pikirannya yang akan berbahasa.

B. Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

Kepentingan bahasa dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun


sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan. Berbahasa termasuk kebutuhan
dasar atau vital bagi kehidupan manusia. Sebagai kebutuhan dasar maka
keperluan menggunakan bahasa harus dipelajari karena dapar mempengaruhi
kebermaknaan kehidupannya. Dari bangun tidur, hingga tidur kembali, bahkan
ketika tidur pun manusia ada yang berbahasa; seperti ketika bermimpi serta
melakukan aktivitas berbicara ( mengigau). Lebih jauh dijelaskan, bahwa
kepentingan berbahasa bagi manusia sama dengan kepentingan air bagi ikan,
atau pentingnya bernapas bagi makhluk hidup. Hal ini menjelaskan bahwa
kemampuan berbahasa dapat mempengaruhi kebermaknaan dan keberhasilan
dalam kehidupan.
Beberapa ahli menjelaskan fungsi bahasa bagi manusia. Fungsi bahasa yang
lebih umum dapat dilihat pada pendapat Bromley (1988 ) sebagai berikut: a)

2
mengidentifikasi kemauan dan kebutuhan, b) mengubah dan mengontrol tingkah
laku, c) mempermudah pengembangan kognitif manusia, d) memungkinkan
manusia dapat berinteraksi penuh dengan sesamanya, e) mengekspresikan
keunikan pribadi manusia ( lihat juga: Mary Finochiaro (1974, Masinambow
(1987, Halliday, Jakobson). Secara pragmatik, bahasa dapat dipergunakan
manusia untuk berbagai fungsi: menyatakan informasi faktual, menyatakan sikap
intelektual, menyatakan sikap emosional, menyatakan sikap moral, menyatakan
perintah, bersosialisasi.
Khusus bagi kaum intelektual, bahasa lebih lanjut dapat merupakan
gambaran kualitas intelektualnya. Hanya orang-orang memiliki intelektual
tinggilah yang akan mampu memperlihatkan kemampuan berbahasa yang baik.
Keterampilan berbahasa merupakan cerminan individu dan kepribadiannya.
Bahasa Indonesia memilki dua fungsi yang sebagai bahasa nasional dan
sebagai bahasa negara. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
telah ditetapkan sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 kedudukan sebagai
bahasa negara, setelah termaktub dalam batang tubuh UUD 1945 pada bab xv
fasal 36. Sebagai Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki fungsi: 1).
lambang kebanggaan nasional, 2). lambang identitas nasional, 3). alat pemersatu
berbagai suku bangsa, 4). sebagai sarana perhubungan antarbudaya antardaerah.
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai: 1). bahasa
resmi kenegaraan, 2).

C. Ragam Bahasa

Ragam bahasa pada hakikatnya adalah variasi penggunaaan bahasa oleh


penutur bahasa tersebut. Bahasa baku merupakan salah satu ragam/variasi dari
bahasa Indonesia lainnya.
Menurut Alwi ( ragam bahasa Indonesia dibedakan berdasarkan penutur
dan jenis pemakaiannya. Berdasarkan penuturnya, ragam bahasa Indonesia

3
dibedakan menurut: 1) daerah, 2). pendidikan, dan 3). sikap penutur. Menurut
jenis pemakaian, bahasa Indonesia dibedakan berdasarkan: 1) bidang atau pokok
persoalan, 2). sarana, 3). gangguan pencampuran.
Berdasarkan daerah asal penutur, bahasa Indonesia yang digunakan oleh
orang Indonesia memiliki variasi yang disebut dengan logat. Dengan demikian
muncullah bahasa Indonesia logat Batak, Minangkabau, logat Sunda dll.
Berdasarkan pendidikan penutur, bahasa Indonesia dibedakan atas ragam orang
yang berpendidikan, dan tidak berpendidikan. Berdasarkan sikap penutur, bahasa
Indonesia dibedakan atas: ragam resmi, ragam akrab, ragam santai dan
sebagainya. Berdasarkan pokok persoalannya, maka bahasa Indonesia dibedakan:
ragam bahasa bidang agama, politik, militer, teknik, pendidikan dan sebagainya.
Berdasarkan sarana, bahasa Indonesia dibedakan atas: ragam lisan dan tulisan.
Ragam lisan dengan tulisan dibedakan berdasarkan: 1). Kosakata yang
dimilikinya, 2). Struktur kalimat yang digunakan. Berdasarkan gangguan
pencampuran, maka bahasa Indonesia dibedakan: ragam yang memilki
pencampuran dengan bahasa asing, dan yang tidak mengalami percampuran
dengan bahasa asing.
Klasifikasi ragam bahasa juga bisa dibedakan berdasarkan kreativitas yang
digunakan. Berdasarkan hal ini ragam bahasa dibedakan atas: ragam jurnalistik,
ragam literer, ragam filosofik, ragam akademik, dan ragam bisnis. Ragam
jurnalistik dipergunakan pada kegiatan jurnalistik (pemberitaan). Ragam literer
merupakan ragam yang dipergunakan para sastrawan. Ragam filosofik
dipergunakan para filosof menyampaikan dengan arif daya pikir dan renungannya.
Ragam akademik merupakan ragam yang digunakan untuk menyampaikan
penalaran. Ragam bisnis lebih mengacu pada cara yang dipergunakan oleh
pelaksana bisnis dalam memberikan persuasi dan sugesti pada pelanggannya.

Ragam Bahasa dibedakan berdasarkan fungsi penggunaan: ragam baku,


ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, ragam akrab dan ragam keilmuan.

4
Ragam baku dipergunakan untuk menuliskan dokumen-dokumen resmi
kenegaraan, serta menuliskan karya ilmiah dan pengetahuan lainnya. Ragam
resmi dipergunakan pada upacara-upacara resmi kenegaraan, ragam usaha
dipergunakan dalam menjalankan suatu uisdaha tertentu. Ragam santai
dipergunakan ketika berkomunikasi dengan teman sebaya. Ragam akrab
dipergunakan ketika melaksaakan komunikasi dengan anggota keluarga. Ragam
keilmuan dipergun akan dalam mendiskusikan suatu bidang ilmu pengetahuan.

D. Bahasa Indonesia Baku

Bahasa Indonesia baku identik dengan penggunaan bahasa Indonesia yang


benar. Benar dalam pengertian, menerapkan kaidah-kaidah bahasa tersebut secara
tepat ( kaidah fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, serta kaidah bahasa
lainnya). Alwi (dalam Ermanto dan Emidar, 2010: 20) menjelaskan bahwa bahasa
Indonesia baku memiliki dua ciri yakni: 1) kemantapan dinamis dan 2)
kecendekiaan.
Ciri kemamtapan dimanis berarti: bahasa Indonesia meiliki kaidah yang
mantap dan dinamis, sehingga tidak mudah diubah atau digoyahkan. Jika ada
pengubahan, itu dilakukan sesuai aturan yang jelas dengan kepentingan yang jelas
pula. Kemantapan yang dinamis juga bermaksud bersifat luwes, tidak harus kaku
dengan suatu aturan saja. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
atau perubahan zaman dapat menjadi pemicu sehingga suatu sistim yang ada pada
bahasa tersebut berubah dengan sistim yang baru.
Ciri kecendekiaan bahasa baku berkaitan dengan bahwa bahasa itu mampu
mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur logis atau masuk akal. Hal
ini menyiratkan bahwa bahasa berkaitan dengan berpikir. Setiap kegiatan
berbahasa ( menyimak, berbicara, membaca, menulis) harus atau didahului
berpikir. Tidak akan berarti sebuah pemikiran seorang ilmuan jika tidak
disampaikan dengan bahasa yang dipami pembaca, ilmuan lainnya. Ini

5
menghendaki sikap positif para cendekiawan untuk meningkatkan keterampilan
berbahasanya.
Ciri umum bahasa baku sebagai mana dijelaskan di atas mengharapkan
bahasa Indonesia mengemban beberapa fungsi. Fungsi dimaksud adalah: 1) fungsi
pemersatu, 2) fungsi pemberi kekhasan, 3). fungsi pembawa kewibawaan, 4).
fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi pemersatu maksudnya, bahasa Indonesia
baku diharapkan mampu untuk menyatukan penutur yang berbeda ragam bahasa
Indonesia apalagi yang berbeda bahasa daerahnya. fungsi pemberi kekhasan
maksudnya, bahasa Indonesia baku akan mampu membedakannya dengan ragam
bahasa Indonesia lainnya maupun dengan bahasa lain terutama dengan bahasa
negara tetangga. Fungsi pembawa kewibawaan maksudnya, bahasa Indonesia
baku yang digunaakan penuturnya akan memperlihatkan wibawanya dengan
penutur lainnya. Fungsi sebagai kerangka acuan maksudnya, bahasa Indonesia
baku merupakan tolak ukur untuk menentukan betul tidaknya pemakaian bahasa
oleh penutur maupun golongan. Hal ini didasarkan adanya norma atau kaidah
yang jelas dalam bahasa baku.

E. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sistim satu telah mengatur bahwa suatu sistim digunakan dengan suatu
tujuan atau kepentingan tertentu. Berdasarkan ketaatazasan penerapan sistim
menjadi ciri seseorang dapat dikatakan mampu berbahasa yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa yang baik berkaitan dengan kemampuan
mempergunakan suatu ragam bahasa sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi
( konteks kebahasaan) yang dihadapi. Penggunaan bahasa yang baik menghendaki
penuturnya memahami hubungan dengan mitra tutur, masalah yang dibicarakan,
tempat pembicaraan berlangsung dengan jenis bahasa yang akan digunakannya.
Terkait dengan hubungan dengan mitar tutur antara lain yang harus
dipertimbangkan adalah: usia, hubungan kekerabatan, status sosial dsbmya.

6
Terkait dengan bidang atau masalah yang dibicarakan adalah pengggunaan istilah
istilah tertentu hanya untuk bidang keilmuan tertentu pula. Sedangkan terkait
dengan tempat, berhubungan dengan situasi: apakah pembicaraan dilaksanakan di
luar kelas oleh guru dengan siswa atau di dalam kelas, misalnya. Ragam atau jenis
bahasa yang digunakan juga harus memperhatikan apakah: ragam baku, ragam
resmi, ragam usaha, ragam akrab, atau ragam santai yang akan digunakan
didasarkan pada pemahaman tujuan komunikasi yang akan dilaksanakan.

Penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan penerapan kaidah bahasa


secara tepat. Penerapan kaidah dengan tepat yang dimaksud identik dengan
bahasa baku. Di antara kemungkinan penggunaan bahasa baku adalah:
menuliskan dokumen-dokumen resmi negara, menuliskan karya-karya
pengetahuan atau karya ilmiah seperti penulisan makalah, skripsi, tesis atau
disertasi para mahasiswa, atau oleh para ilmuan lainnya ketika menyampaian
penelitian, buku dan karya pengetahuan lainnya. Kebenaran kaidah dapat dilihat
dari keterampilan penulisnya menggunakan semua kaidah bahasa ( fonologi,
morfologi, sintaksis, mau pun semantik, ejaan dan sebagainya)

F. Pengetahuan dan Keterampilan Berbahasa

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di lembaga pendidikan adalah,


agar peserta didik mampu mempergunakan/ terampil berbahasa Indonesia secara
baik dan benar. Penggunasan bahasa yang baik berkaitan dengan kemampuan
mempergunakan suatu ragam bahasa sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi
kebahasaan (konteks). Penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan
kemampuan menggunakan semua kaidah bahasa Indonesia secara tepat.

Untuk mewujudkan tujuan di atas, diperlukan pengetahuan tentang tiori-


tiori bahasa. Di antara pengetahuan berbahasa yang dimaksud adalah: fonologi,
morfologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan bidang kajian ilmu

7
bahasa yang membicarakan tentang bunyi bahasa ( lambang dan bunyi bahasa,
cara memproduksi bunyi bahasa dengan menggunakan alat ucap secara tepat, dan
fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda arti). Morfologi merupakan cabang ilmu
bahasa yang membicarakan tentang kata dan proses pembentukan kata. Sintaksis
merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan tentang penataan satuan-
satuan bahasa menjadi kalimat yang memiliki makna yang jelas. Semantik
membicarakan tentang makna satuan-satuan bahasa ( kata, kelompok kata,
kalimat, paragraf dan wacana.
Peningkatan keterampilan berbahasa terkait dengan peningkatan
katerampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat
keterampilan ini sebagai catur tunggal. Keberhasilan dalam salah satu aspek,
dipengaruhi oleh keberhasilan pada aspek lainnya.