Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

A. Hakikat Bahasa

Menurut Sutan Takdir Alisyahbana ( 1983: 5) “Bahasa adalah ucapan


pikiran manusia dengan teratur memakai alat bunyi”. Bahasa dipergunakan
manusia untuk menyampaikan hasil pemikiran dan pikirannya. Karena
perwujudan bahasa sebagai sisten yang teratur, sehingga hanya manusia yang
mungkin melakukan hal tersebut. Kepemilikan bahasa menjadi salah satu dasar
pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal dan pikirannya manusia
mempelajari sistem bahasa secara wajar dan alamiah.
Gorys Keraf (2004) menjelaskan bahwa “bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang arbitrer, yang dapat
diperbuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata”. Hampir sama dengan batasan
di atas, bahwa bahasa merupakan sistim komunikasi yang dapat dipergunakan
manusia dalam keperluan berbagai hal terkait dengan kehidupannya. Batasan ini
menjelaskan lebih luas, bahwa bahasa bukan hanya simbol vokal saja. Untuk
memperjelas makna bahasa diperlukan gerak-gerik badaniah secara nyata. Bahasa
berupa sistem yang arbitrer berarti, aturan bahasa tersebut ditentukan kelompok
pemilik bahasanya sesuai dengan konvensi masyarakat pemakainya (masyarakat
manusia) ( lihat juga, Ronald Wardaugh: 1977, Bruce L Pearson: 1977).
Pemahaman hakikat bahasa lebih luas lagi dijelaskan oleh Harimurti
Kridalaksana (2008) yang menjelaskan bahwa bahasa adalah “sistem lambang
yang arbitrer yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi
dan mengidentifikasikan diri”. Batasan ini menjelaskan bahwa bahasa
dipergunakan untuk menyampaikan berbagai terkait dengan kehidupan manusia

1
baik untuk keperluan dirinya sebagai individu ( mengidentifikasikan diri) dan
untuk keperluannya sebagai makhluk sosial (berinteraksi).
Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa bahasa sebagai sistem,
lambang, bunyi, arbitrer, konvensional, produktif, unik, universal, dinamis,
bervariasi, manusiawi. Sebagai suatu sistem bahasa berupa lambang dan bunyi
yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang maknanya dipertegas oleh gerak-
gerik badaniah serta ekspresi yang menyertainya. Sistem bahasa tersebut
didasarkan pada konvensi masyarakat pemiliknya yang memungkinkan setiap
kelompok yang berbeda dapat menentukan sistem yang berbeda pula (arbitrer atau
manasuka). Bahasa produktif, artinya bahasa dapat digunakan manusia untuk
menyampaikan berbagai hal terkait dengan kehidupannya. Kepemilikan bahasa
menjadi ciri universal yang dimiliki manusia yang membedakannya dengan
makhluk lainnya. Sistem bahasa itu bersifat dinamis dan unik sehingga
memungkinnya berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kepentingan
penggunanya. Dengan demikian, hanya manusialah dengan akal, budi dan
pikirannya yang akan mampu berbahasa.

B. Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

Kepentingan bahasa dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun


sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan. Berbahasa termasuk kebutuhan
dasar atau vital bagi kehidupan manusia. Sebagai kebutuhan dasar maka
keperluan menggunakan bahasa harus dipelajari karena dapat mempengaruhi
kebermaknaan kehidupannya. Dari bangun tidur, hingga tidur kembali, bahkan
ketika tidur pun manusia ada yang berbahasa; seperti ketika bermimpi serta
melakukan aktivitas berbicara ( mengigau). Lebih jauh dijelaskan, bahwa
kepentingan berbahasa bagi manusia sama dengan kepentingan air bagi ikan,
atau pentingnya bernapas bagi makhluk hidup. Hal ini menjelaskan bahwa
kemampuan berbahasa dapat mempengaruhi kebermaknaan dan keberhasilan
dalam kehidupan manusia.

2
Beberapa ahli menjelaskan fungsi bahasa bagi manusia. Fungsi bahasa yang
lebih umum dapat dilihat pada pendapat Bromley (1988 ) sebagai berikut: a)
mengidentifikasi kemauan dan kebutuhan, b) mengubah dan mengontrol tingkah
laku, c) mempermudah pengembangan kognitif manusia, d) memungkinkan
manusia dapat berinteraksi penuh dengan sesamanya, e) mengekspresikan
keunikan pribadi manusia ( lihat juga: Mary Finochiaro (1974, Masinambow
(1987, Halliday, Jakobson).
Secara pragmatik, bahasa dapat dipergunakan manusia untuk berbagai
fungsi: menyatakan informasi faktual, menyatakan sikap intelektual, menyatakan
sikap emosional, menyatakan sikap moral, menyatakan perintah, bersosialisasi.
Dengan bahasa dapat dikatakan semua kebutuhan utamanya kebutuhan
komunikasi terpenuhi.
Khusus bagi kaum intelektual, bahasa lebih lanjut dapat merupakan
gambaran kualitas intelektualnya. Hanya orang-orang memiliki intelektual
tinggilah yang akan mampu memperlihatkan kemampuan berbahasa yang baik.
Keterampilan berbahasa merupakan cerminan individu dan kepribadiannya.
Bahasa Indonesia memilki dua fungsi yakni sebagai bahasa nasional dan
sebagai bahasa negara. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
telah ditetapkan sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang berbunyi “ Kami
bangsa Indonesia menjoenjoeng bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, ditetapkan setelah termaktub dalam
batang tubuh UUD 1945 pada bab xv fasal 36 yang berbunyi “Bahasa negara
adalah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki
fungsi: 1). lambang kebanggaan nasional, 2). lambang identitas nasional, 3). alat
pemersatu berbagai suku bangsa, 4). sebagai sarana perhubungan antarbudaya
antardaerah. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai:
1). bahasa resmi kenegaraan, 2). Bahasa pengantar di lembaga-lembaga
pendidikan, 3). Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan

3
perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan
pemerintahan, 4). Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan
teknologi.

C. Ragam Bahasa

Ragam bahasa pada hakikatnya adalah variasi penggunaaan bahasa oleh


penutur bahasa tersebut. Bahasa baku merupakan salah satu ragam/variasi dari
bahasa Indonesia lainnya.
Menurut Alwi ( ragam bahasa Indonesia dibedakan berdasarkan penutur dan
jenis pemakaiannya. Berdasarkan penuturnya, ragam bahasa Indonesia dibedakan
menurut: 1) daerah, 2). pendidikan, dan 3). sikap penutur. Menurut jenis
pemakaian, bahasa Indonesia dibedakan berdasarkan: 1) bidang atau pokok
persoalan, 2). sarana, 3). gangguan pencampuran.
Berdasarkan daerah asal penutur, bahasa Indonesia yang digunakan oleh
orang Indonesia memiliki variasi yang disebut dengan logat. Dengan demikian
muncullah bahasa Indonesia logat Batak, Minangkabau, logat Sunda dll.
Berdasarkan pendidikan penutur, bahasa Indonesia dibedakan atas ragam orang
yang berpendidikan, dan tidak berpendidikan. Berdasarkan sikap penutur, bahasa
Indonesia dibedakan atas: ragam resmi, ragam akrab, ragam santai dan
sebagainya. Berdasarkan pokok persoalannya, maka bahasa Indonesia dibedakan:
ragam bahasa bidang agama, politik, militer, teknik, pendidikan dan sebagainya.
Berdasarkan sarana, bahasa Indonesia dibedakan atas: ragam lisan dan tulisan.
Ragam lisan dengan tulisan dibedakan berdasarkan: 1). Kosakata yang
dimilikinya, 2). Struktur kalimat yang digunakan. Berdasarkan gangguan
pencampuran, maka bahasa Indonesia dibedakan: ragam yang memilki
pencampuran dengan bahasa asing, dan yang tidak mengalami percampuran
dengan bahasa asing.
Klasifikasi ragam bahasa juga bisa dibedakan berdasarkan kreativitas yang
digunakan. Berdasarkan hal ini ragam bahasa dibedakan atas: ragam jurnalistik,

4
ragam literer, ragam filosofik, ragam akademik, dan ragam bisnis. Ragam
jurnalistik dipergunakan pada kegiatan jurnalistik (pemberitaan). Ragam literer
merupakan ragam yang dipergunakan para sastrawan untuk menyampaikan
imajinasi dengan gaya tertentu sehingga memiliki daya tersendiri bagi
pembacanya. Ragam filosofik dipergunakan para filosof menyampaikan dengan
arif daya pikir dan renungannya. Ragam akademik merupakan ragam yang
digunakan untuk menyampaikan penalaran seperti oleh pengajar ke peserta
didiknya atau oleh para ilmuwan pada saat melaksanakan diskusi ilmiah. Ragam
bisnis lebih mengacu pada cara yang dipergunakan oleh pelaksana bisnis dalam
memberikan persuasi dan sugesti pada pelanggannya.
Ragam bahasa dibedakan berdasarkan fungsi penggunaan: ragam baku,
ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, ragam akrab dan ragam keilmuan.
Ragam baku dipergunakan untuk menuliskan dokumen-dokumen resmi
kenegaraan, serta menuliskan karya ilmiah dan pengetahuan lainnya. Ragam
resmi dipergunakan pada upacara-upacara resmi kenegaraan, ragam usaha
dipergunakan dalam menjalankan suatu usaha tertentu. Ragam santai
dipergunakan ketika berkomunikasi dengan teman sebaya. Ragam akrab
dipergunakan ketika melaksanakan komunikasi dengan anggota keluarga. Ragam
keilmuan dipergunakan dalam mendiskusikan suatu bidang ilmu pengetahuan.

D. Bahasa Indonesia Baku

Bahasa Indonesia baku identik dengan penggunaan bahasa Indonesia yang


benar. Benar dalam pengertian, menerapkan kaidah-kaidah bahasa tersebut secara
tepat ( kaidah fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, serta kaidah bahasa
lainnya). Alwi (dalam Ermanto dan Emidar, 2010: 20) menjelaskan bahwa bahasa
Indonesia baku memiliki dua ciri yakni: 1) kemantapan dinamis dan 2)
kecendekiaan.
Ciri kemantapan dimanis berarti: bahasa Indonesia memiliki kaidah yang
mantap dan dinamis, sehingga tidak mudah diubah atau digoyahkan. Jika ada

5
pengubahan, itu dilakukan sesuai aturan yang jelas dengan kepentingan yang jelas
pula. Kemantapan yang dinamis juga bermaksud bersifat luwes, tidak harus kaku
dengan suatu aturan saja. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
atau perubahan zaman dapat menjadi pemicu sehingga suatu sistim yang ada pada
bahasa tersebut berubah dengan sistim yang baru.
Ciri kecendekiaan bahasa baku berkaitan dengan; bahasa itu mampu
mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis atau masuk akal.
Hal ini menyiratkan bahwa bahasa berkaitan dengan berpikir. Setiap kegiatan
berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) harus atau didahului proses
berpikir. Tidak akan berarti sebuah pemikiran seorang ilmuan jika tidak
disampaikan dengan bahasa yang dipami pembaca atau ilmuan lainnya. Ini
menghendaki sikap positif para cendekiawan untuk meningkatkan keterampilan
berbahasa untuk kepentingan pendistribusian pengetahuannya ke orang lain.
Ciri umum bahasa baku sebagai mana dijelaskan di atas mengharapkan
bahasa Indonesia baku mengemban beberapa fungsi. Fungsi dimaksud adalah: 1)
fungsi pemersatu, 2) fungsi pemberi kekhasan, 3). fungsi pembawa kewibawaan,
4). fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi pemersatu maksudnya, bahasa
Indonesia baku diharapkan mampu untuk menyatukan penutur yang berbeda
ragam bahasa Indonesia apalagi yang berbeda bahasa daerahnya. Fungsi pemberi
kekhasan maksudnya, bahasa Indonesia baku akan mampu membedakannya
dengan ragam bahasa Indonesia lainnya maupun dengan bahasa lain terutama
dengan bahasa negara tetangga. Fungsi pembawa kewibawaan maksudnya, bahasa
Indonesia baku yang digunakan penuturnya akan memperlihatkan wibawanya bila
dibandingkan dengan penutur lainnya. Fungsi bahasa baku sebagai kerangka
acuan maksudnya, bahasa Indonesia baku merupakan tolak ukur untuk
menentukan betul tidaknya pemakaian bahasa oleh penutur maupun golongan.
Hal ini didasarkan adanya norma atau kaidah yang jelas dalam bahasa baku.
Dengan demikian, hanya orang-orang yang mendapatkan pendidikan (kaum

6
akademisi) yang akan mungkin mampu mempergunakan bahasa baku, karena di
lembaga-lembaga pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, mata
ajaran bahasa Indonesia sebagai mata ajaran yang wajib diikuti oleh semua
peserta didik. Bahkan di sekolah, ketuntasan mata ajaran khususnya pada UN dan
UAS menjadi salah satu indikator kelulusan siswa.

E. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sistim bahasa telah mengatur bahwa suatu sistim digunakan dengan suatu
tujuan atau kepentingan tertentu. Ketaatazasan penerapan sistim menjadi ciri
seseorang dapat dikatakan mampu berbahasa yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa yang baik berkaitan dengan kemampuan
mempergunakan suatu ragam bahasa sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi
( konteks kebahasaan) yang dihadapi. Penggunaan bahasa yang baik menghendaki
penuturnya memahami hubungan dengan mitra tutur, masalah yang dibicarakan,
tempat pembicaraan berlangsung dengan jenis bahasa yang akan digunakannya.
Terkait dengan hubungan dengan mitra tutur antara lain yang harus
dipertimbangkan adalah: usia, hubungan kekerabatan, status sosial dsbmya.
Terkait dengan bidang atau masalah yang dibicarakan adalah penggunaan istilah-
istilah tertentu hanya untuk bidang keilmuan tertentu pula. Sedangkan terkait
dengan tempat, berhubungan dengan situasi: apakah pembicaraan dilaksanakan; di
luar kelas oleh guru dengan siswa atau di dalam kelas, misalnya. Ragam atau jenis
bahasa yang digunakan juga harus memperhatikan apakah: ragam baku, ragam
resmi, ragam usaha, ragam akrab, atau ragam santai yang akan digunakan
didasarkan pada pemahaman tujuan komunikasi yang akan dilaksanakan.
Penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan penerapan kaidah bahasa
secara tepat. Penerapan kaidah dengan tepat yang dimaksud identik dengan
bahasa baku. Di antara kemungkinan penggunaan bahasa baku adalah:
menuliskan dokumen-dokumen resmi negara, menuliskan karya-karya
pengetahuan atau karya ilmiah seperti penulisan makalah, skripsi, tesis atau

7
disertasi para mahasiswa, atau oleh para ilmuan lainnya ketika menyampaian
penelitian, buku dan karya pengetahuan lainnya. Kebenaran kaidah dapat dilihat
dari keterampilan penulisnya menggunakan semua kaidah bahasa ( fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, ejaan dan sebagainya)

F. Pengetahuan dan Keterampilan Berbahasa

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di lembaga pendidikan adalah, agar


peserta didik mampu mempergunakan/ terampil berbahasa Indonesia secara baik
dan benar. Penggunasan bahasa yang baik berkaitan dengan kemampuan
mempergunakan suatu ragam bahasa sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi
kebahasaan (konteks). Penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan
kemampuan menggunakan semua kaidah bahasa Indonesia secara tepat.
Untuk mewujudkan tujuan di atas, diperlukan pengetahuan tentang tiori-
tiori bahasa. Di antara pengetahuan berbahasa yang dimaksud adalah: fonologi,
morfologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan bidang kajian ilmu
bahasa yang membicarakan tentang bunyi bahasa ( lambang dan bunyi bahasa,
cara memproduksi bunyi bahasa dengan menggunakan alat ucap secara tepat, dan
fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda arti). Morfologi merupakan cabang ilmu
bahasa yang membicarakan tentang kata dan proses pembentukan kata. Sintaksis
merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan tentang penataan satuan-
satuan bahasa menjadi kalimat yang memiliki makna yang jelas. Semantik
membicarakan tentang makna satuan-satuan bahasa (kata, kelompok kata,
kalimat, paragraf dan wacana).
Peningkatan keterampilan berbahasa terkait dengan peningkatan
katerampilan menyimak, berbicara, membaca, dan keterampilan menulis.
Keempat keterampilan ini merupakan catur tunggal. Hal ini berarti, bahwa
keberhasilan dalam salah satu keterampilan, dipengaruhi oleh keberhasilan pada
keterampilan lainnya. Dengan kata lain, terdapat kaitan yang sangat erat antara
satu ragam keterampilan dengan tiga keterampilan lainnya.

8
BAB II

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

A. Hakikat dan Pentingnya Ejaan

Ejaan merupakan seperangkat aturan yang dibuat untuk dipedomani dalam


memindahkan bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Suatu tataran linguistik tidak
akan jelasnya maknanya, atau makna akan ambigu, jika tidak dilengkapi ejaan
secara tepat sesuai aturan yang ada. Aturan yang dimaksud adalah: pemakaian
huruf, penulisan kata, penggunaan huruf kapital dan huruf miring, penggunaan
tanda baca, dan penulisan unsur serapan.
Ejaan bahasa Indonesia telah dibakukan. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan eksistensi ragam bahasa Indonesia baku, yang salah satunya dilihat
dari kebakuan ejaannya. Namun harus diketahui, sebelum ejaan dibakukan
menjadi Ejaan yang Disempurnakan, selama pertumbuhan dan perkembangan
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia tercatat beberapa kali perubahan ejaan
sebagai berikut:
1). Ejaan Van Ophuysen; merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin.
Ejaan ini dirancang oleh Ch Van Ophuysen 1901 dengan bantuan Engku
Nawawi gelar Soetan Ma,moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
2). Ejaan Soewadhi; disusun dengan tujuan agar ejaan yang berlaku menjadi lebih
sederhana. Ejaan Soewandhi digagas oleh Soewandhi, sebagai menteri
Pendidikan dan Kebudayaan di awal kemerdekaan. Ejaan Soewandhi disebut
juga dengan ejaan Republik.
3). Ejaan Pembaharuan; merupakan perbaikan ejaan yang diajukan pada Kongres
bahasa Indonesia kedua di Medan 1956. Ejaan ini belum ditetapkan sebagai
ejaan bahasa Indonesia.
4). Ejaan Melindo; (Melayu – Indonesia) dimulai 1959. Tidak dapat diresmikan,
karena perkembangan politik yang lama.

9
5). Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan; 1966. Ejaan inilah yang menjadi
cikal bakal ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.
6. Ejaan Yang Disempurnakan, diresmikan penggunaannya pada pidato
kenegaraan oleh Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1972.

B. Kaidah Ejaan Yang Disempurnakan

Ejaan yang Disempurnakan mencakup lima kaidah yaitu: 1) pemakaian


huruf, 2) penulisan kata, 3) penggunaan huruf kapital dan huruf miring, 4)
penggunaan tanda baca, dan 5) penulisan unsur serapan. Selengkapnya, kaidah
pada masing-masing aspek dijelaskan berikut:

1). Pemakaian Huruf

Pemakaian huruf berkaitan dengan ketepatan penggunaan lambang dan bunyi


huruf (fonem) A --- Z (lihat buku EYD)

2). Penulisan Kata

Penulisan kata, berkaitan dengan penulisan kata dasar, kata turunan, kata
ulang, gabungan kata dan lainnya: Selengkapnya dapat dilihat berikut:

a. Kata Dasar

Kata dasar ditulis serangkai kecuali baris telah berbeda, berikan tanda hubung.

b. Kata Turunan

a). Imbuhan dengan kata dasar yang diikuti dan mengikutinya ditulis
serangkai, kecuali baris berbeda, dan berikan tanda hubung,
b). Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis
serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya
c). Jika bentuk dasar berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu dituliskan serangkai.

10
d). Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai

c. Kata ulang
Kata ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung. Tanda hubung
digunakan di antara kata pertama dengan kata kedua sebagai wujud
pengulangannya. Kata ulang dibedakan atas: kata ulang murni, kata ulang
berimbuhan, dan kata ulang berubah bunyi.

d. Gabungan Kata

a). Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
b). Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk
menegaskan pertalian di antara unsur-unsur yang bersangkutan
c). gabungan kata seperti: saputangan, segitiga, kepada, barangkali,
manasuka, sekalipun dsb.nya ditulis serangkai.

e. Penulisan Kata Ganti -ku, -mu, kau-, -mu, dan –nya


Dalam Ejaaan yang Disempurnakan, penulisan kata ganti ku-, dan kau-
ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Penulisan –ku, -mu, -nya,
juga ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Ku merupakan
bentuk ringkas dari kata aku. -Mu merupakan bentuk ringkas dari kata
kamu. Kau meruupakan bentuk ringkas dari kata engkau. -Nya merupakan
bentuk ringkas dari kata dia.

f. Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,
kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu
kata seperti kepada dan daripada.

11
g. Penulisan kata si dan sang

Penulisan kata si dan sang dalam Ejaan yang Disempurnakan ditulis


terpisah dari kata yang mengikutinya.

h. Penulisan Partikel

a). Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
b). Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
c). Partikel per yang berarti ‘mulai’ , ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

3). Penulisan Singkatan dan Akronim


Singkatan

a. singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti
tanda titik.
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan
atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal
kata, ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik.
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih, diikuti satu
tanda titik.
d. Lambang kimia, singkatan nama ukuran, takaran, timbangan, dan mata
uang, tidak diikuti tanda titik.

Akronim
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal, dari deret
kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan sukukata atau gabungan
huruf dan sukukata dari deret kata, ditulis dengan huruf awal huruf
kapital.

12
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf,
sukukata, ataupun gabungan huruf dan sukukata dari deret kata
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

4). Penulisan Angka dan Lambang Bilangan

Penulisan angka menurut EYD antara lain:

a. untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor

b. untuk menyatakan: ukuran panjang, berat, luas, dan isi, satuan waktu, nilai
uang, kuantitas

c. untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada


alamat

d. untuk melambangkan, menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

e. penulisan lambang bilangan dengan huruf

f. penulisan lambang tingkat

g. penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an.

h. lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara
berurutan.

i. lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf

j. angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah dibaca

k. bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekali gus dalam teks
kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi

l. jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisan harus tepat.

13
5). Penggunaan Huruf Kapital dan Huruf Miring

a. Penggunaan Huruf Kapital

Huruf kapital dipergunakan pada:


a). Huruf pertama pada awal kalimat
b). Huruf pertama petikan langsung
c). Huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama tuhan dan
kitab suci termasuk kata ganti untuk Tuhan
d). Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan
yang diikuti nama orang
e). huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama
orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama
instansi, atau nama tempat.
f). Huruf pertama unsur nama orang
g). Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa
h). Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah
i). Huruf pertama nama geografis
j). Huruf pertama semua unsur nama Negara, lembaga pemerintahan dan
ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan,
k). Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada
nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaran, serta dokumen
resmi
l). Huruf pertama semua kata ( termasuk semua unsur kata ulang
sempurna) dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan
kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak
terletak pada posisi awal.
m). Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

14
n). Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak,
ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang dipakai pada penyapaan
atau pengacuan.
o). Huruf pertama kata ganti Anda.

b. Penulisan Huruf Miring

Penulisan huruf miring sesuai dengan kaidah Ejaan yang Disempurnakan


dipakai:
a). Dalam cetakan, dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat
kabar yang dikutip dalam tulisan
b). Dalam cetakan, dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, atau kelompok kata
c). Dalam cetakan, dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan
asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

6). Penggunaan Tanda Baca

Dalam EYD, sejumlah tanda baca yang dijelaskan adalah:

a. Tanda Titik ( . )
Tanda titik antara lain digunakan:
1. Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
2. Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
3. Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan
waktu.
4. Di antara nama penulis, tahun terbit, judul tulisan yang tidak
berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam
daftar pustaka.
5. Untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya,

15
Tanda titik tidak dipakai:

1. untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya yang tidak


menunjukkan jumlah
2. pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi,
tabel dan sebagainya.
3. Di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan
alamat penerima surat.

b. Tanda Koma (, )

Tanda koma digunakan antara lain:


1. Di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan
2. Untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, jika anak
kalimat itu mendahului induk kalimat. Tetapi tidak dipakai untuk
memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu
mengiringi induk kalimatnya.
4. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang
terdapat pada awal kalimat termasuk di dalammya: oleh karena itu,
jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi.
5. Untuk memisahkan kata seperti: o, ya, wah, aduh, kasihan, dari
kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
6. Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
7. Di antara 1). nama dengan alamat, 2). bagian-bagian alamat, 3).
tempat dengan tanggal, 4) nama tempat dengan wilayah atau negeri
yang ditulis berurutan

16
8. Untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam
daftar pustaka.
9. Di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
10. Di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya,
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga atau marga.
11. Di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka
12. Untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
membatasi.
13. Untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang
terdapat pada awal kalimat.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain yang mengirinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan
tanda tanya dan tanda seru.

c. Tanda Titik Koma ( ; )

Pemakaian tanda titik koma sebagai berikut:


1. Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
2. Sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara
di dalam kalimat majemuk.

d. Tanda Titik Dua ( : )

Pemakaian tanda titik dua sebagai berikut:


1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau
pemerian
2. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
3. Dalam teks drama, sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam
percakapan
4. Di antara jilid atau nomor dengan halaman

17
5. Di antara bab (surat) dengan ayat dalam kitab suci.
6. Di antara judul dengan anak judul dalam suatu karangan.
7. Di antara nama kota dengan penerbit buku acuan dalam karangan.

e. Tanda Hubung (- )

Tanda hubung dipergunakan:

1. Menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian


baris. Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung
baris atau pangkal baris.
2. Menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau
akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris
3. Menyambung unsur-unsur kata ulang.
4. Menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian
tanggal
5. Untuk merangkaikan: i). se- dengan kata berikutnya yang dimulai
dengan huruf kapital, ii). Ke- dengan angka, iii). Angka dengan –an, iv).
Singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, v). nama jabatan
rangkap.
6. Untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan
dan penghilangan bagian kelompok kata.
7. Untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa
asing.

f. Tanda Pisah ( _ )

Tanda pisah digunakan:


1. Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
di luar bangun kalimat
2. Menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain
sehingga kalimat menjadi jelas

18
3. Di antara dua bilangan, tanggal atau tempat dengan arti sampai

g. Tanda Elipsis ( … )

Tanda elipsisi dalam EYD digunakan:

1. Dalam kalimat yang terputus-putus


2. Menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah, ada bagian
yang dihilangkan.

h. Tanda Tanya ( ? )

Tanda Tanya digunakan:


1. Pada akhir kalimat tanya
2. Di dalam tanda kurung, untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

i. Tanda Seru ( ! )

Dalam EYD bahasa Indonesia, tanda seru digunakan sesudah ungkapan


atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

j. Tanda Kurung (( ….))

Tanda kurung digunakan :


1. Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan
2. Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral
pokok pembicaraann .
3. Mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat
dihilangkan
4. mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.

k. Tanda Kurung Siku ( [….] )

19
Dalam EYD, tanda kurung siku digunakan:
1. Mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
2. Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.

l. Tanda Petik Dua ( “…”

Tanda petik dua pada EYD digunakan:


1. Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, dan
naskah atau bahan tertulis lainnya.
2. Mengapit judul syair, karangan atau bab buku yang dipakai dalam
kalimat.
3. Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang
mempunyai makna khusus.
4. Penutup yang mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan
langsung.
5. Penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang
tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti
khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

m. Tanda Petik Tunggal (‘….’ )

Tanda petik tunggal dipakai:


1. Untuk mengapit petikan yang tersusun dalam petikan lain.
2. Mengapit makna, terjemahan atau penjelasan kata yang berupa
ungkapan asing.

n. Tanda Garing Miring (/)

Dalam EYD, tanda garis miring dipakai:

20
1. Dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa
satu tahun yang terbagi dalam dua tahun.
2. Pengganti kata dan, atau atau tiap.

o. Tanda Penyingkat (apostrof) (‘)

Tanda penyingkat dalam EYD dipergunakan untuk menghilangkan bagian


kata atau bagian angka tahun.

5). Penulisan Unsur Serapan

Kosakata bahasa Indonesia bercikal bakal dari bahasa Melayu. Dalam


perkembangannya, terdapat serapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Unsur serapan sering dimaknai sebagai unsur atau kosakata asing yang
menjadi kosakata bahasa Indonesia.
Yang penting diperhatikan dalam penggunaan unsur serapan antara lain:
ketepatan unsur, ketepatan lafal, ketepatan makna. Ketepatan unsur berkaitan
ketepatan dan kelengkapan satuan-satuan linguistik yang membentuk kata
tersebut. Ketepatan lafal terkait dengan kemampuan penutur mempergunakan
alat ucap memproduksi satuan bunyi yang membentuk kata tersebut secara
benar. Ketepatan makna berkaitan dengan ketepatan acuan maksud atau
referensi yang dimaksudkan kata tersebut.

21
BAB III

PILIHAN KATA ( DIKSI)

A. Hakikat

Bahasa itu bersistem, karena bahasa itu merupakan suatu keutuhan yang
terjadi dari satuan-satuan yang lebih kecil, yang masing-masingnya berhubungan
secara khusus dengan fungsi-fungsi tertentu. Bunyi bahasa merupakan satuan
yang membentuk kombinasi yang disebut sebagai kata. Kata pada dasarnya
merupakan satuan yang bila disatukan secara bersistem dapat membentuk
rangkaian yang lebih besar dan bermakna. Dengan kata berbagai aktivitas
manusia dapat diwakilkan. Meski harus disadari bahwa kata tidak dapat
digunakan secara sembarangan.
Semua konsep dalam bahasa mana pun dinyatakan dengan kata atau
rangkaian kata. Kata merupakan salah satu unsur dasar bahasa yang sangat
penting. Dengan kata orang dapat menyampaikan pikiran, menyatakan perasaan
serta mengemukakan gagasannya. Dengan kata juga orang dapat menjalin
persahabatan, perjanjian serta kerja sama. Akan tetapi, dengan kata orang dapat
memulai pertengkaran atau peperangan. Hal ini berarti bahwa kata memiliki
makna atau kekuatan tersendiri (Keraf, 2004: 21).
Secara tersirat, sebuah kata mengandung makna. Kata dapat
mengungkapkan ide, pikiran atau gagasan tertentu. Kata-kata dapat dijadikan
sebagai sarana untuk mengemukakan gagasan yang akan disampaikan oleh
seseorang kepada orang lain. Hal ini berarti bahwa setiap kata memiliki jiwa,

22
yang menghendaki agar setiap penutur harus mengetahui jiwa tersebut sebelum ia
menggunakannya untuk suatu tindak komunikasi.
Finoza (1996 23 ) menjelaskan bahwa untuk mewujudkan kekuatan kata
atau bahasa dalam menyampaikan pesan atau kesan, penggunaan suatu kata
haruslah dipertimbangkan. Dalam kenyataannya, ada kata yang harus dihindari,
diutamakan atau yang diragukan ketepatan penggunaannya. Kata hendaknya
digunakan setepatnya sehingga terwujud suatu kekuatan. Dalam berbahasa,
seorang penutur hendaknya melakukan seleksi atas kata-kata yang akan
digunakannya untuk mengungkapkan gagasan tertentu untuk situasi tertentu pula.
Seseorang yang memiliki penguasaan kosakata yang luas akan dapat secara
cermat memilih kata-kata yang harus dipakainya untuk suatu tujuan atau konteks
tertentu. Pertimbangan akan penggunaan kata-kata disebut diksi.
Gorys Keraf (2004: 23), menjelaskan bahwa suatu kekhilapan yang besar
untuk menganggap bahwa persoalan pilihan kata adalah persoalan yang
sederhana, yang tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan
sendirinya secara wajar pada setiap manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ada
orang yang sering mengobralkan penggunaan katanya tanpa memperhatikan
keberadaan makna yang tersurat atau tersirat dalam kata-kata itu. Untuk
menghindari hasil yang demikian seharusnya setiap penutur mengetahui
pentingnya peranan kata dalam membentuk satuan arti.
Diksi atau pilihan kata dapat diartikan sebagai upaya memilih kata untuk
mendapatkan kata terpilih yang akan digunakan dalam suatu tuturan bahasa (Fino-
za, 1996: 24). Lebih lanjut Keraf (2000) mengemukakan pengertian diksi jauh
lebih luas dari yang dipantulkan oleh rangkaian kata-kata. Istilah diksi bukan saja
dipergunakan untuk menyatakan kata-kata yang akan dipergunakan untuk
mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi
dan gaya bahasa.

23
Persoalan penggunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan
pokok yaitu; ketepatan memilih kata dan kesesuaian dalam memilih kata.
Ketepatan pemilihan kata berkaitan dengan kegiatan mempertimbangkan
kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan interpretasi yang sama dengan
imajinasi penulis atau pembicara. Kesesuaian pilihan kata mempersoalkan kata
yang dipergunakan itu harus dengan nilai-nilai sosial yang mempertimbangkan
situasi, waktu dan sasaran bahasa tersebut (Akhadiah, 1993:21).
Diksi atau pilihan kata adalah pemilihan kata untuk mengungkapkan
gagasan (Sudjiman, 1984: 19). Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan
kata yang bermakna tepat dan selaras. Diksi juga berkaitan dengan penggunaan
kata yang cocok dengan pokok pembicaraan yang disampaikan.
Menurut Keraf (2004: 24), diksi tidak hanya mempersoalkan ketepatan
pemilihan kata, tetapi juga mempersoalkan kata yang dipilih itu dapat juga
diterima atau tidak merusak suasana yang ada. Suatu kata yang tepat untuk
menyatakan suatu maksud tertentu belum tentu dapat diterima hadirin atau
pendengar tuturan tersebut. Masyarakat yang diikat oleh berbagai norma
menghendaki pula agar setiap kata yang dipergunakan harus cocok, serasi dengan
norma-norma masyarakat atau harus sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diksi mencakup
pengertian, kata-kata yang akan dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan,
kata-kata yang tepat atau ungkapan-ungkapan yang tepat pula serta pertimbangan
gaya bahasa yang baik digunakan dalam suatu situasi. Diksi juga mencakup
kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang
ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan
situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Penggunaan
diksi yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar
kosakata atau perbendaharaan kata suatu bahasa. Dengan demikian, seseorang
yang banyak kosakatanya dan mengetahui secara tepat batasan-batasan pengertian

24
kata tersebut akan memungkinkannya untuk menggunakannya secara tepat /sesuai
dengan maksud yang diharapkan.
Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa ada beberapa alasan pentingnya
pemilihan kata khususnya dalam ragam forma. Alasan dimaksud adalah:
a. adanya kata-kata yang meniliki makna denonatif dan ada pula yang
sekali gus memiliki makna konotatif
b. Ada kata-kata yang memiliki makna umum dan makna khusus
c. Ada kata-kata yang memiliki relasi dalam makna
d. Ada kata-kata yang memiliki ragam baku (formal) dan ada pula
ragam percakapan (nonformal)
6. Adanya kepentingan mengunakan kata-kata secara benar
7. Adanya tuntutan penulisan kata secara benar khususnya pada
ragam baku (Ermanto dan Emidar, 2010: 88).

B. Kaidah

Pilihan Kata berkaitan dengan pertimbangan yang harus dilakukan dalam


penggunaan kata. Pertimbangan tersebut dengan ketepatan dan kesesuaian.
Ketepatan terkait dengan kemampuan kata mewakili pikiran atau gagasan
pembicara/penulis. Kesesuaian, berkaitan dengan kemampuan kata yang
dipergunakan memberikan pemahaman yang persis sama antara penutur
(pembicara atau penulis) dengan mitra tuturnya (pendengar atau pembaca). Untuk
keperluan ketepatan pilihan kata, seorang penutur atau penulis dapat dibantu
memahami makna kata sebagai mana yang terdapat pada kamus. Untuk keperluan
kesesuaian, maka seorang pembicara harus memperhatikan terlebih dahulu
konteks yang melingkupi peristiwa komunikasi tersebut.

1. Relasi Makna

Setiap kata dibentuk dari unsur yang jelas, yang membedakannya dengan
kata lainnya. Setiap kata memilki pelafalan yang. Kejelasan bentuk/ wujud dan

25
lafal suatu kata akan mempengaruhi makna kata tersebut. Namun harus didasari,
bahwa dalam relasi makna, ada kata yang meskipun tulisannya berbeda, dengan
lafal yang sama, ada pula kata yang sama dengan lafal yang berbeda sehingga
menimbulkan perbedaan makna. Selengkapnya pada tabel berikut, relasi istilah
relasi makna dapat dilihat:

Kaidah makna Bentuk Lafal Makna

Sinonim Beda Beda Sama atau hampir sama


Antonim Beda Beda Beda
Homonim Sama Sama Beda, dan tidak berkaitan
Homofon Beda Sama Beda
Homograf Sama Beda Beda
Polisemi Sama Sama Berbeda, tetapi berkaitan

Beberapa istilah lain yang harus dipahami dalam pilihan kata adalah adanya
perbedaan istilah-istilah berikut:
1. Kata populer dan kata kajian
2. Jargon, kata percakapan dan slang
3. Perubahan makna: generalisasi, spesifikasi, ameliorasi, peyorasi, sinestesia dan
asosiasi
4. Kata serapan dan kata asing
5. Kata umum dan kata khusus
6. Kata abstrak dan kata konkrit
7. Denotasi dan konotasi
8. Kata baku dan nonbaku

Penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut:

Kata populer adalah kata yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kata
popular bersinonim dengan kata percakapan, bersifat nonbaku. Pemilihannya
sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

26
Kata kajian, merupakan kata-kata yang penggunaannya terbatas dalam pengajian
bidang-bidang ilmu tertentu. Kata kajian disebut juga dengan kata istilah teknis
bidang ilmu. Misalnya: fonem, grafem dalam istilah linguistik. Dalam istilah
umum disebut dengan bunyi yang membedakan arti (fonem), lambang bunyi
(grafem).

Jargon, bersinonim dengan kata kajian

Kata percakapan bersinonim dengan kata populer

Slang, adalah kosakata yang dibentuk oleh kelompok tertentu dengan makna
tertentu, dan tidak bersifat umum. Penggunaan kata oleh kelompok tersebut
sebagai suatu yang rahasia dengan tujuan tertentu pula. Pada umumnya, ketika
kosakata dimaksud telah diketahui masyarakat umum, maka kelompok pemilik
akan menukarnya dengan istilah yang lain. Contoh, istilah khusus yang digunakan
para copet untuk melancarkan aksinya.

Generalisasi, adalah perubahan makna dari cakupan yang sebelumnya bermakna


khusus atau terbatas menjadi lebih umum atau meluas. Kata-kata sapaan pada
umumnya mengalami perluasan cakupan makna. Bapak dan ibu tidak hanya
sebagai sebutan untuk kedua orang tua, tetapi dapat dipergunakan untuk orang
lain seperti karena faktor usia, jabatan atau kelebihan yang dimiliki orang
tersebut.

Spesifikasi, adalah perubahan makna dari cakupan yang sebelumnya bermakna


umum, menjadi terbatas pada suatu makna tertentu pada penggunaan yang baru.
Kata ulama, sebelumnya sebutan untuk semua orang yang memiliki pengetahuan
agama yang luas. Pada masa kini, kata ulama dipakai sebagai sebutan bagi umat
Islam yang memiliki pengetahuan yang luas tentang agama.

Ameliorasi, yaitu perubahan makna yang disebabkan adanya perubahan nilai


rasa (konotasi) kata ke arah yang lebih baik, halus, santun, hormat atau lebih

27
tinggi dari kata yang bersinonim lainnya. Kata istri lebih lebih hormat dari bini.
Tuna karya lebih halus dari pengangguran.

Peyorasi, merupakan perubahan nilai rasa kata menjadi lebih rendah, jelek, atau
kasar dari makna sinonim lainnya. Kata gelandangan lebih kasar dari tuna wisma.
Kata pramu saji lebih terhormat dari pelayan rumah makan.

Sinestesia, perubahan makna yang disebabkan adanya perbedaan tanggapan dua


indera yang berbeda terhadap suatu kata. Contoh, kata hambar yang berkaitan
dengan indera pencecap dipergunakan dalam kalimat Pidatonya sangat hambar,
yang dalam konteks kalimat ini berkaitan dengan indera pendengaran. Pada
konteks kalimat di atas, kata hambar berarti tidak menarik karena tidak
disampaikan dengan cara yang tepat sesuai dengan minat dan perhatian
pendengar. Ketidakmenarikan tersebut dapat terkait dengan isi mau pun cara
menyampaikannya.

Asosiasi, adalah perubahan makna suatu kata yang disebabkan adanya penyaman
sifat benda, tumbuhan atau binatang untuk menggambarkan sifat manusia. Dalam
kalimat ‘Ia berkepala batu, sehingga tidak disenangi oleh teman
sepermainannya’. Kelompok kata berkepala batu bersinonim dengan keras
kepala. Batu merupakan benda yang keras yang sangat sulit untuk diubah atau
dibentuk sesuai keinginan kita. Oleh karena itu, kalimat di atas menggambarkan
sifat seseorang yang sulit diatur atau sulit menerima pendapat atau gagasan orang
lain.

Kata serapan adalah kosa kata asing dan daerah yang telah melalui proses
sehingga telah berterima menjadi kosakata bahasa tertentu. Contoh, kosakata
bahasa Inggris yang telah diserap oleh bahasa Indonesia activity ---- aktivitas,
active ---- aktif

28
Kata asing, adalah kosakata suatu bahasa di luar atau selain dari bahasa yang
diperbincangkan. Contoh, kosakata bahasa Belanda merupakan kosakata asing
bagi kosakata bahasa Indonesia.

Kata umum, digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat general,


mampu melingkupi atau mewakili sejumlah kata khusus. Contoh kata umum
adalah: pakaian, buah-buahan, makanan, pekerjaan dan sebagainya. Kata
pakaian dapat mencakup segala yang dapat dipakai seperti baju, celana, sepatu,
kain, dan sebagainya. Buah-buahan, mencakup: apel, jambu, pisang, salak,
mangga dan sebagainya. Makanan, tercakup ke dalamnya: nasi, kue, cemilan dan
sebagainya. Pekerjaan, tercakup ke dalamnya: guru, pegawai kantor, tukang, dan
sebagainya.

Kata khusus, digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat spesifik,


langsung menuju ke benda atau peristiwa yang dimaksud. Contoh, makanan,
dapat memberikan makna seperti nasi goreng, pisang goreng, tempe goreng dan
sebagainya. Kata pakaian (umum); bisa meliputi sejumlah kata khusus: sepatu,
baju kurung, celana panjang, sisir dan sebagainya. Sebaiknya untuk keperluan
komunikasi, dipergunakan kata khusus agar makna yang dimaksudkan lebih
mengacu secara langsung pada benda atau referensinya.

Kata abstrak, merupakan kosakata yang tidak menggambarkan atau mewakili


objek yang dapat dilihat, dirasa atau diraba. Kosakata abstrak objeknya tidak jelas
tapi dapat dirasakan. Contohnya, angin, aman, senang, dan sebagainya.

Kata konkrit, merupakan kosakata yang menggambarkan atau mewakili objek


yang dapat dilihat, dirasa atau diraba. Kosakata konkrit objeknya jelas.
Contohnya: batu, kampus, meja, dan sebagainya.

Kata yang bermakna denotatif disebut juga dengan kata yang bermakna
konseptual atau referensial. Kata dengan makna denotatif memiliki makna sesuai

29
dengan hasil observasi penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan
pengecapan. Kata denotatif maknanya menyangkut informasi-informasi faktual
dan ojektif. Istilah denotatif disebut juga dengan lugas atau kata yang memilki
makna harfiah. Kata dengan makna denotatif dipergunakan dalam penulisan karya
ilmiah.

Kata yang bermakna konotatif adalah kata-kata yang memiliki makna asosiatif,
dan timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, yang merupakan makna
tambahan dari makna konseptual atau denotatif. Semua kata memiliki makna
denotatif, tapi tidak semua kata memiliki makna konotatif. Konotasi berhubungan
dengan nilai rasa, sehingga dipengaruhi oleh apresiasi pengguna bahasa pada kata
tersebut. Kata dengan makna konotatif dapat dipergunakan pada situasi-situasi
tertentu. Dalam karya sastra, penggunaan kata-kata dengan konotasi memiliki
fungsi di antaranya untuk memberikan kesan indah.

Kata baku dipergunakan dalam ragam fomal. Kata baku dapat dilihat dari aspek
ketaatazasan dalam mempergunakan kaidah bahasa seperti fonologi, morfologi
dan leksikon. Kata baku dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah serta
penulisan dokumen-dokumen resmi kenegaraan.

Kata nonbaku merupakan antonim dari kata baku. Kata nonbaku dilihat dari
ketidaktaatazasan dalam penerapan kaidah formal. Kata nonbaku biasanya
dipergunakan dalam ragam percakapan.

30
BAB I V

KALIMAT EFEKTIF

A. Hakikat Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan maupun tulisan
yang telah mampu mengungkapkan pikiran yang utuh (Alwi, dkk,. 1998: 311).
Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik – turun, keras – lembut,
disela oleh jeda, dan diakhiri dengan intonasi final, berikutnya diikuti oleh
kesenyapan. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital, dan
diakhiri dengan tanda titik, atau tanda tanya, atau tanda seru.

B. Syarat Kalimat: - Unsurnya jelas


- intonasi jelas
- mimik dan gerak-gerik jelas
- polanya jelas
- makna jelas

C. Struktur Kalimat

Kalimat terdiri atas lapisan bentuk berupa kata-kata yang tersusun dengan
struktur yang jelas, dan lapisan yang disebut makna. Makna merupakan sesuatu
maksud yang disampaikan melalui satuan-satuan bahasa yang terlihat dengan
jelas.
Dalam penulisan karya ilmiah, kalimat yang digunakan haruslah mengikuti
struktur ragam baku. Ragam baku identik dengan ragam bahasa tulis, Oleh karena
itu, struktur kalimat ragam baku harus mengandung kelengkapan unsur-unsurnya,
tuntas maknanya, dan berterima dari segi nilai sosial budaya masyarakat

31
pemakainya. Dalam bahasa lisan, kelengkapan unsur kalimat diperjelas oleh
intonasi, mimik dan gerak-gerik yang menyertai pengujaran kalimat tersebut.
Sedangkan dalam bahasa tulis, diperlukan penggunaan kaidah EYD, pilihan kata
selain struktur yang jelas untuk memudahkan pemahaman makna oleh pembaca.
Dari segi unsurnya, kalimat dikatakan lengkap jika memiliki unsur yang
dibutuhkan untuk mengungkapkan pikiran penulisnya. Kalimat yang lengkap
minimal terdiri atas 2 unsur yaitu subyek dan predikat. Jika predikat kalimat
tersebut berupa kata kerja transitif, maka ia akan memerlukan kehadiran unsur
objek, sehingga strukturnya subyek – predikat –objek. Unsur keterangan juga
harus disertakan berdasarkan makna verba yang mengisi predikat. Penjelasan
tentang ciri-ciri setiap unsur-unsur kalimat dimaksud dapat dilihat sbb:

1. Subjek, memiliki ciri antara lain:


a. Umumnya berupa nomina atau frase atau frase nomina atau kelas
kata lain yang dapat menduduki fungsi subjek.
b. Merupakan jawaban atas pertanyaan apa atau siapa.
c. Dapat diperluas dengan kata ini, dan itu
d. Dapat diperluas menggunakan frase atau klausa dengan kata
penghubung yang

2. Predikat, merupakan unsur pokok yang menyertai subjek. Predikat memiliki


ciri sebagai berikut:
a. Berupa verba atau frase verbal, adjektif atau frase adjectival,
nomina atau frase nominal, numeral atau frase numeralia.
b. Merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana.
c. Dapat disertai pengingkar tidak dan bukan.
d. Dapat disertai kata-kata seperti sudah, belum, akan, sedang, ingin,
hendak atau mau.

32
3. Objek, adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang
berupa verba transitif pada kalimat aktif. Ciri-ciri objek sbb.:
a. Terdapat pada kalimat transitif.
b. Terletak langsung di belakang predikat.
c. Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif
d. Tidak didahului oleh preposisi
e. Dapat diganti dengan pronominal –nya.
f. Berwujud frase nomina atau klausa.

4. Pelengkap, memiliki ciri:

a. Berwujud nomina atau frase nomina, verba atau frase verba,


adjektiva atau frase adjektiva atau klausa.
b. Berada langsung di belakang predikat jika tidak ada objek, dan di
belakang objek kalau unsur objek ada.
c. Tidak dapat menjadi subjek akibat pemasifan kalimat
d. Terdapat pada kalimat yang berpredikat verba
e. Tidak dapat diganti dengan –nya, kecuali dalam kombinasi
preposisi selain di, ke, dari, dan akan.

5. Keterangan, merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut


tentang sesuatu yang dinyatakan dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia ciri
keterangan adalah:
a. Memberikan informasi tentang beberapa hal seperti: tempat,
waktu, cara, alat, sebab, atau akibat.
b. Memiliki keleluasaan posisi (penempatan ) dalam kalimat.
c. Didahului oleh kata depan seperti di, dari, pada, selama, dengan,
sebab.
d. Biasanya berupa frase preposisional

33
e. Pada umumnya, kehadiran keterangan bersifat manasuka dalam
kalimat. ( Alwi, dkk., 1998: 327-330).

D. Kalimat Efektif dan Kalimat Baku

1. Kalimat Efektif

Menurut Razak Sikumbang (1985: 35) kalimat yang baik adalah


kalimat yang mampu mewujudkan proses penyampaian dan penerimaan
pesan secara sempurna. Gagasan yang disampaikan dalam kalimat yang baik
dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca seperti pehamanan penulis
/pembicara. Kalimat yang baik tidak bermakna ganda. Kalimat yang baik
identik dengan kalimat efrektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu mewakili pikiran atau
perasan penulis atau pembaca. Kalimat efektif juga harus mampu
memberikan pemahaman yang persis sama antara yang dipikirkan oleh
pembicara/penulis dengan pemahaman pembaca/pendengar. Agar efektivitas
kalimat yang disampaikan terwujud harus memenuhi persyaratan:

- ada unsur yang dipentingkan


- pilihan kata tepat dan sesuai
- menggunakan EYD
- memiliki kesatuan/ kohesi

- memiliki kepaduan/ koherensi


- paralel
- kehematan
- kelogisan

34
- penekanan
- variasi

Untuk lebih jelasnya, ciri-ciri kalimat efektif dijelaskan berikut:


a. Unsur yang dipentingkan dalam suatu kalimat berkaitan dengan
kejelasan unsur subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan dalam
kalimat.
b. Kata merupakan unsur dari suatu kalimat. Suatu kalimat akan
diwakili oleh kata atau kelompok kata, tergantung pada gagasan yang
hendak disampaikan. Kata yang tepat dan sesuai akan mampu
menyampaikan semua pikiran yang akan disampaikan penulis/pembicara
serta mampu memberikan pemahaman yang persis sama dengan yang
dipikirkan atau dipahami oleh pendengar/ pembaca.
c. Kelengkapan makna dalam kalimat dipengaruhi banyak hal.
Penggunaan kaidah Ejaan yang disempurnakan mampu menyampaikan
makna secara lebih tepat, sehingga mudah dipahami oleh pembaca.
e. Kesatuan/ kohesi dalam kalimat dapat dilihat dari kemampuan
semua kata dalam kalimat tersebut menyampaikan ide pokok yang sama.
Semua kata memiliki fungsi tertentu dalam membentuk satu kesatuan
makna.
f. Kepaduan / koherensi dalam kalimat dapat dilihat dari adanya
keterkaitan antara unsur kata atau kelompok kata yang membangun
kalimat tersebut. Jika satu kata saja pun yang dihilangkan dapat
mempengaruhi keseluruhan makna yang disampaikan.
g. Paralel berarti sejenis. Penggunaan bentuk-bentuk kata yang
paralel pada suatu kalimat dapat membantu kemudahan pemahaman
kalimat tersebut. Hal ini dapat dilihat misalnya: jika dalam kalimat
tersebut terdapat beberapa kata kerja, sebaiknya kalau menggunakan
imbuhan, gunakanlah imbuhan sejenis. Contoh: Pedoman, penghayatan

35
dan pengamalan Pancasila. Kata penghayatan dan pengamalan
menggunakan konfiks peN- an.
h. Kehematan berkaitan dengan ekonomis dalam penggunaan kata
dalam kalimat. Hal ini menghendaki efisiensi dalam penggunaan kata.
Kalimat efektif tidak menghendaki penggunaan kata mubazir dan ambigu.
Jumlah kata yang dipergunakan hendaknya sesuai dengan kebutuhan
gagasan yang disampaikan. Dengan kata lain, dari segi kehematan, kalimat
yang efektif adalah kalimat yang singkat, padat, dan maknanya jelas.
i. Kelogisan berkaitan dengan ciri kalimat efektif yang harus
menyampaikan penalaran yang dapat diterima akal sehat/logis. Ciri ini
menghendaki penulis/ pembicara tidak hanya mementingkan aspek
kejelasan unsur, ketepatan struktur saja. Lebih jauh, aspek penalaran yang
disampaikan dalam kalimat tersebut harus diperhatikan, karena tidak
semua kalimat yang jelas unsurnya akan dapat dikatakan sebagai kalimat
efektif.
Contoh: Adik menyiram bunga (logis)
Bunga menyiram adik (tidak logis)
j. Penekanan, berkaitan dengan adanya unsur yang dipentingkan
dalam kalimat. Penekanan dapat diperlihatkan dengan:
1). Repetisi, pengulangan kata ditekankan,
2). Menempatkan kata yang ditekankan pada posisi depan.
3). Penambahan partikel –lah, -kah, dan –pun.
k. Variasi dalam kalimat bertujuan untuk lebih menghilangkan
kejenuhan/kemonotonan dalam menyampaikan informasi, sehingga tetap
tertarik membaca, yang pada akhirnya lebih mudah dipahami. Variasi
dalam kalimat dapat diperlihatkan pada:
1). Variasi dalam penggunaan kata yang bersinonim
2). Variasi struktur kalimat

36
3). Pengutamaan informasi
4). Variasi kalimat aktif –pasif
5) Variasi kalimat tunggal – majemuk.

2. Kalimat Baku

Kalimat baku adalah kalimat yang baik, dan lazim dipergunakan dalam
ragam formal. Kalimat baku dianggap dapat dengan tepat mengungkapkan
maksud penulis ke pembaca. Kalimat baku menyampaikan persoalan secara
langsung (lugas).
Kalimat baku haruslah berwawasan keilmuan. Kalimat baku memiliki ciri:
1. memiliki kejelasan struktur ( normatif)
2. memiliki kelogisan makna (logis)
3. memiliki kehematan (ekonomis)
4. memiliki kebakuan kata.

Kejelasan ciri di atas dapat dilihat berikut:

a. Kejelasan struktur (normatif) artinya, kalimat baku haruslah sesuai dengan


struktur kalimat bahasa Indonesia. Kejelasan struktur dalam kaitannya dengan
kalimat baku adalah: 1). Jelas, struktur aktif atau pasif, 2). Subjek tidak
berbentuk keterangan, 3). Predikat tidak hilang, 4). Keterangan tidak
berbentuk subjek, 5). Subjek tidak hilang. Struktur kalimat baku bahasa
Indonesia dapat memilih pola: 1). S –P. 2) S – P- O, 3) S – P- Pel, 4) S – P -
Ket., 5). S – P – O – Pel, 6). S – P - O - Ket. Setiap pola kalimat dasar dapat
ditambah dengan berbagai keterangan. Masing-masing fungsi dapat pula
diperjelas dengan frasa atau klausa tertentu yang menghasilkan berbagai
bentuk kalimat majemuk.
b. Logis berarti dapat diterima akal sehat. Kelogisan makna dalam kalimat
baku terkait dengan 1). Logis hubungan makna antara S dengan P, 2). Logis
hubungan makna rincian (paralel),

37
c. Kehematan kata maksudnya, 1). Menggunakan satu subjek dari subjek
yang sama, 2). Menggunakan satu kata dari beberapa kata yang bersinonim,
3). Menggunakan kata yang dibutuhkan untuk mengungkapkan maksud
penulis.
d. Kebakuan kata, berkaitan dengan penggunaan kata yang tepat dari segi
bentuk/unsur dan makna dalam bahasa tulis. Kebakuan dalam bentuk, lafal
dan makna diperlukan dalam bahasa lisan. Kebakuan unsur bentuk, lafal, dan
makna satuan-satuan bahasa dapat diacu ke kamus bahasa, seperti KBBI.
BAB V

PARAGRAF DAN POLA PENGEMBANGANNYA

A. Pengertian

Pada dasarnya, paragraf adalah satuan pikiran atau gagasan atau topik yang
pada umumnya disampaikan dalam beberapa kalimat. Paragraf merupakan bagian
dari suatu wacana.
Berikut pengertian paragraf menurut para ahli:
b. Harimurti Kridalaksana ( 1984: 40) menjelaskan bahwa
paragraf adalah satuan bahasa yang mengandung satu tema.
c. Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:
828) menjelaskan bahwa paragraf adalah bagian bab dalam suatu
karangan yang biasanya mengandung satu ide pokok, penulisannya
dimulai pada baris baru. Paragraf disebut juga alinea
d. M. Atar Semi ( 1989: 58) menjelaskan bahwa paragraf
merupakan kalimat atau seperangkat kalimat yang mengacu pada satu
topik.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa paragraf dapat berupa satu atau dua
kalimat (paragraf sederhana) dan beberapa kalimat (paragraf sempurna).

38
Penulisan paragraf dilakukan dengan menjorokkan ke arah dalam dari margin
sebelah kiri. Paragraf dari segi isinya menyampaikan satu topik tertentu.

B. Jenis paragraf;

Jenis paragraf dapat dibedakan berdasarkan beberapa aspek. Aspek yang


dimaksud adalah: kelengkapan, fungsi dalam karangan, dan teknik pemaparan.
Berdasarkan kelengkapan, paragraf dibedakan atas paragraf sederhana dan
paragraf sempurna. Berdasarkan fungsi paragraf dalam karangan, paragraf
dibedakan atas: Paragraf pembuka, paragraf penghubung atau peralihan, paragraf
pokok/pengembang, dan paragraf penutup. Berdasarkan teknik pemaparannya,
paragraf dibedakan atas: persuasif, argumentatif, naratif, deskriptif, dan
ekpositoris. Paragraf pada dasarnya juga dapat dibedakan berdasarkan posisi
kalimat topiknya: deduktif, induktif, deduktif-induktif, dan tersirat.
Untuk lebih jelasnya jenis paragraf dimaksud dapat dilihat berikut:
1. Berdasarkan kelengkapannya, paragraf dibedakan atas paragraf sederhada
dan paragraf sempurna. Paragraf sederhana adalah paragraf yang hanya terdiri
atas satu atau dua kalimat. Umumnya, paragraf sederhana hanya berisi
pengantar suatu topik bahasan, penutup topik bahasan, peralihan topik bahasan
dalam buku atau karangan ilmiah. Paragraf sederhana juga berisi rujukan
penutup dalam surat atau berupa teras dalam berita jurnalistik. Paragraf
sempurna adalah paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf
sempurna biasanya terdiri atas satu atau dua kalimat yang menyatakan topik
bahasan sedangkan beberapa kalimat lainnya menjelaskan topik bahasan
paragraf tersebut. Dalam suatu buku, paragraf inilah yang banyak ditemukan.

2. Menurut posisi kalimat topik/pola pengembangan:

Jenis paragraf berdasarkan posisi kalimat topik dibedakan atas: deduktif,


induktif, dedukti-induktif, dan tersirat. Paragraf deduktif yaitu paragraf yang
ide pokok atau kalimat topiknya berada di awal paragraf. Penyajian paragraf ini

39
dengan pola umum – khusus. Paragraf induktif adalah paragraf yang apabila
posisi kalimat topiknya di akhir paragraf. Paragraf induktiuf, mengikuti
penyajian khusus – umum. Paragraf deduktif – induktif disebut juga dengan
paragraf campuran. Ide pokok pada paragraf jenis ini terdapat pada awal dan
akhir paragraf. Paragraf tersirat, apabila kalimat topiknya tidak tergambar pada
salah satu kalimat dalam paragraf tersebut. Kalimat topik tersirat pada semua
kalimat yang membangun paragraf tersebut.
3. Menurut teknik pemaparannya: paragraf dibedakan atas narasi, eksposisi,
deskripsi, argumentasi, dan persuasi. Berikut adalah ciri paragraf dengan
pemaparannya:

Narasi:
1). Berupa cerita tentang suatu peristiwa atau pengalaman manusia
2). Peristiwa/ pengalaman tsb. ( benar terjadi, imajinasi semata atau gabungan
keduanya).
3). disusun berdasarkan konflik
4). memiliki estetika
5). Menekankan susunan kronologis
6). Biasanya memiliki dialog

Eksposisi
1). Tulisan yang memberikan pengetahuan dan pengertian
2). Menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan dan bagaimana
3). Disampaikan dengan lugas dan bahasa baku
4). Pada umumnya menggunakan susunan logis
5). Nada netral (tidak memihak dan memaksakan sikap penulis terhadap
pembacanya

DESKRIPSI
1). Berupaya untuk lebih memperlihatkan detail atau perincian tentang objek
2). Lebih bersifat memberikan pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi
pembaca

40
3). Disampaikan dengan gaya memikat dengan pilihan kata yang menggugah
4). Lebih banyak memperlihatkan sesuatu yang dapat didengar, dilihat dan
dirasakan
5). organisasi penyajian umumnya mengikuti susunan ruang
Argumentasi
1). Bertujuan meyakinkan orang lain
2). Berusaha membuktikan kebenaran suatu pendapat/pernyataan
3). Mengubah pendapat pembaca
4). Fakta yang ditampilkan merupakan bahan pembuktian

Persuasi : --- pada dasarnya adalah argumentasi, yang dipertegas dengan


fungsi lebih khusus yakni: berupaya mengajak pembaca /pendengar agar
mengikuti sesuatu yang dimaksud penulis/pembicara

4. Menurut Fungsinya dalam karangan, paragraf dibedakan atas:


a). Paragraf pembuka, b). Paragraf pokok/Paragraf pengembang, c.
Paragraf penutup, dan d. Paragraf penghubung. Paragraf pembuka adalah
paragraf yang berada di awal suatu tulisan. Paragraf pembuka merupakan
paragraf yang berisi pembuka untuk memulai suatu topik bahasa subbab,
bab atau karangan. Berbeda dengan pa ragraf pengantar, mengantarkan
untuk masuk ke suatu topik bahasan subbab, bab, atau karangan, dan tidak
selalu di awal topik bahasan. Paragraf pokok adalah paragraf inti yang
berisi satu topik bahasan yang secara bersama-sama dengan paragraf
pokok lainnya menjelaskan topik bahasan karangan. Paragraf pengembang
adalah paragraf yang mengembangkan topik bahasan karangan. Kesatuan
beberapa paragraf pokok/ pengembang dapat menunjang pengembangan
topik bahasan. Paragraf penghubung adalah paragraf yang terdapat di
dalam suatu karangan yang lazim dipergunakan untuk memperlancar
peralihan suatu topik bahasan dari topik bahasan sebelumnya. Paragraf
penutup adalah paragraf yang terdapat di akhir suatu karangan, bab atau

41
subbab. Paragraf penutup biasanya berisi tentang simpulan topik bahasan,
penegasan topik bahasan, atau pengharapan tentang topik bahasan.

C. Ciri Paragraf yang baik:

Paragraf yang baik memiliki empat ciri yaitu: 1). memiliki kohesi, 2).
memiliki koherensi, 3). kecukupan pengembangan, dan 4. pola yang jelas.

Ciri kohesi berkaitan dengan kesatuan. Kesatuan bermakna bahwa, suatu


paragraf hanya menjelaskan satu ide pokok. Meskipun paragraf tersebut
dibangun oleh beberapa kalimat, akan tetapi semuanya mengacu pada
penjelasan ide pokok yang sama. Secara substansi, sebuah paragraf hanya
mengemukakan satu topik bahasan. Semua kalimat harus mengacu pada
penjelasan satu topik tersebut.

Koherensi berari kepaduan. Ciri ini mengambarkan adanya kepaduan


bahasa pengungkapan antarkalimat. Setiap kalimat menunjukkan adanya
keterkaitan secara kebahasaan sehingga menunjukkan kepaduan dalam
mengungkapkan topik yang dibicarakan pada paragraf tersebut. Adanya
kepaduan diperlihatkan dengan penggunaan pengacuan, kata penghubung dsb.

Kecukupan atau ketuntasan pengembangan bermakna, semua ide yang


terkait dengan topik diuraikan atau dijelaskan sehingga jelas bagi pembaca.
Kalimat-kalimat penjelas, mampu memenuhi penjelasan yang dibutuhkan oleh
kalimat topik.

Pola yang jelas maksudnya, suatu paragraf harus memilih salah satu pola
pengembangan yang ada. Pola berkaitan dengan letak kalimat topik dalam
paragraf tersebut. Pola yang dimaksud adalah: deduktif, induktif, deduktif –
induktif, atau tersirat. Paragraf deduktif menempatkan kalimat topik pada awal
paragraf. Paragraf induktif menempatkan kalimat topik berada di akhir

42
paragraf. Paragraf dedukti-induktif menempatkan kalimat topik di awal dan di
akhir paragraf. Paragraf tersirat memperlihatkan kalimat topik tergambar pada
keseluruhan kalimat pada paragraf tersebut.

BAB VI

PENULISAN SURAT RESMI

Surat pada hakikatnya adalah suatu bentuk komunikasi tulis antara


seseorang dengan orang lain, atau antara suatu instansi /lembaga/organisasi, atau
antara suatu instansi/lembaga/organisasi dengan instansi/lembaga/organisasi
( Semi, 1989:202). Sebagai sarana komunikasi, melalui surat setidaknya terlibat
dua pihak. Pihak yang dimaksud adalah pengerim dan penerima surat.

Agar surat yang ditulis/dikirimkan memenuhi tujuan yang diharapkan maka


penulis harus memperhatikan sejumlah petunjuk. Hal ini disebabkan komunikasi
lewat surat merupakan komunikasi tidak langsung, sehingga sering terjadi
kesalahpahaman karena kurang pemahaman kaidah penulisan oleh penulis surat.
Berikut penjelasannya:

A. Pedoman Mengonsep Surat:

Ketika mengonsep surat, ada bebrapa hal yang harus diperhatikan agar
tujuan pembuatan dapat dicapai. Hal dimaksud adalah:

a. Tujuan yang hendak dicapai


b. Alamat Surat

43
c. Fakta yang diperlukan pembaca surat

B. Fungsi surat:
Sebagai suatu saran komunikasi, surat memiliki fungsi antara lain:
a. Pengganti diri
b. Bukti tertulis
c. Pedoman kerja
d. Sumber data pengingat atau berpikir
e. Bukti sejarah

C. Jenis surat, dapat dibedakan berdasarkan:

 Sifat isinya
 Bentuknya
 Prosedur
 Jangkauannya
 Isinya
 Jumlah penerima
 Keamanan isi
 Kegunaan
 Cara pengiriman

 Tujuan penulisan.

D. Ciri surat yang baik:

Surat yang baik memikili kualifikasi/ciri berikut:


o jelas maksudnya
o rapi dan menarik
o menggunakan perangkat kebahasaan yang tepat
o memperlihatkan kepribadian penulis
o akurat dan singkat

44
E. Langkah menulis surat

Di antara prosedur atau langkah dalam menulis surat yang dianggap efektif
adalah:

 menetapkan tujuan
 menentukan pokok-pokok isi surat
 mengumpulkan bahan pendukung
 menentukan alamat dan pengirim
 menetapkan dan menggunakan kelengkapan yang tepat.

1. Bagian Surat Resmi/ Lamaran Pekerjaan

Kepala surat
Tanggal
Perhatian surat
Alamat dalam
Penyapa
Tubuh/isi surat
Salam penutup
Tanda tangan
Keterangan tembusan

2. Bagian Surat pribadi:

Tempat dan tanggal surat


Penyapa
Tubuh/isi surat
Penutup
Tanda tangan.

45
F. Format Surat

Dalam buku surat menyurat Indonesia ditawarkan beberapa format surat


resmi. Format surat berkaitan dengan tempat masing-masing unsur surat dibuat.
Format surat Indonesia yang lazim di antaranya adalah: format lurus penuh,
format lurus, setengah lurus, dan format lekuk. Pada prinsipnya, antara format
yang satu dengan yang lainnya memiliki persamaan dan perbedaan. Pemilihan
salah satu format sering dikaitkan dengan kelaziman yang dipakai sebagai
konvensi oleh kelompok penggunanya. Untuk lebih jelasnya, berikut format
masing-masing jenis:

1 ---------------------------------------- 1 ------------------------------------

2 ------------------- 2-------

3 -------------------- 3 ------------------

-------------------- -------------------

--------------------- -------------------

4 ------------------------- 4 -------------------------

5 ----------------------------------------- 5----------------------------------

------------------------------------------ ------------------------------------

------------------------------------------ ------------------------------------

------------------------ -------------------------

------------------------------------------ ------------------------------------

------------------------- -------------------------

-------------------------------- ---------------------------

6 ---------------------------------- 6-----------------------------

46
7 ---------------------------------
7-----------------------------

1. Bentuk Lurus Penuh 2. Bentuk Lurus

1--------------------------------------------- 1 -----------------------------------
----------------------------------------------- -----------------------------------

2------------------ 2------- -------

3------------------ 3 ------------------

------------------ -------------------

------------------ -----------------

4 ------------------------- 4 -------------------------

5 ---------------------------------- 5----------------------------

----------------------------------------- ----------------------------------

----------------------------------------- ------------------------------------

-------------------- --------------------

------------------------------------- -------------------------------

------------------------- -------------------------

--------------------------- -------------------------------

47
6 -------------------- 6 ----------------

7 --------------------- 7
----------------

3. Bentuk Setengah Lurus 4. Bentuk Lekuk

Keterangan

1. Kepala surat 5. Isi surat


2. Tempat, tanggal dan bulan 6. Salam penutup
3. Alamat dalam 7. Penanggung jawab tulisan
4. Salam pembuka

BAB VII

MENULIS KARYA ILMIAH

A. Perbedaan Tulisan Ilmiah dengan Penulisan lainnya

Secara garis besarnya, jenis penulisan dibedakan atas 5 yakni: ilmih,


nonilmiah, semi ilmiah, ilmiah populer, dan fiksi sains. Dari kelima ragam
tersebut yang betul-betul berbeda adalah antara tulisan ilmiah dengan nonilmiah.
Akan tetapi antara semi ilmiah, ilmiah populer dan fiksi saling memiliki
persamaan dan perbedaan dengan tulisan ilmiah maupun nonilmiah. Untuk lebih
jelasnya, persamaan dan perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Nomor Jenis Tulisan Materi/Data Metode/Teknik


1 Ilmiah V V
2 Non Ilmiah X X
3 Semi Ilmiah X V
4 Ilmiah Populer V X
5 Fiksi Sains Campuran X

48
Perbedaan Tulisan Ilmiah dengan Nonilmiah

Nomor Unsur Pembeda Ilmiah NonIlmiah


1 Materi/masalah Emperis, rasional, Tidak terencana, ke-
terkait ilmu manusiaan dsb
pengetahuan
2. Bahasa Baku, tidak ambigu, Tidak selalu
jelas, denotatif, mengacu kepada
singkat, jujur konsep bahasa baku
3 Efek Merangsang Merangsang
kemampu-an emosional
berpikir
4 Pembahasan Emperis rasional imajinasi
5 Pola pengembangan Eksposisi logis Naratif- kronologis,
ruang
6 Jenis Karya tulis, Cerpen, novel,
makalah, skripsi dsb. roman, cerita fiksi
dsb.
7 Judul Judul masalah Judul masalah
Saling tidak selalu terkait
mencerminkan
8 Sistematika/struktur Sistematis dan pola Tidak selalu siste-
sajian jelas matis/ sesuai alur
pilihan
9 Sasaran Disiplin ilmu Masyarakat umum
tertentu

B. Jenis Penulisan Ilmiah

@. Cara Penulisan: Karya ilmiah Murni


Karya ilmiah Populer
@. Sumber Utama: Laporan Kasus
Laporan Penelitian
Studi Kepustakaan
@. Bentuk: Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian

C. Komponen Karya Tulis Ilmiah: isi/permasalahan/topik


Organisasi penyajian

49
Struktur
Gaya
Teknis/mekanis
Perwajahan

D. Ciri-ciri Penulisan Ilmiah

1. Menyajikan fakta objektif secara sistematis


2. Pernyataan cermat, tepat, tulus dan benar serta tidak memuat
terkaan
3. Penulis tidak mengejar keuntungan
4. Penyusunan dilaksanakan secara sistematis, konseptual dan
prosedural
5. Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa dukungan fakta
6. Tidak emotif menonjolkan perasaan
7. Tidak bersifat argumentatif, tetapi kesimpulannya terbentuk atas
dasar fakta.

E. Sumber Informasi:

- buku/media cetak
- pengalaman/pengamatan pribadi
- publikasi yang bukan media cetak: kuliah, seminar, ceramah
- hasil wawancara/diskusi yang tidak dipublikasikan

F. Prosedur Penulisan

Menulis adalah suatu proses. Sebagai sebuah proses, menulis karya ilmiah
harus mengikuti prosedur yang jelas. Pemahaman prosedur penting bagi
penulis agar ia memahami langkah kegiatan yang harus dilakukan secara
berkesinambungan.

50
Secara garis besarnya, prosedur penulisan tersebut dibedakan atas: a).
Prapenulisan, b). Penulisan awal, c). revisi/ perbaikan , dan d) penulisan
final/akhir. Kegiatan prapenulisan disebut juga kegiatan persiapan. Pada
tahapan ini penulis melakaukan berbagai kegiatan sebagai persiapan untuk
tahapan penulisan berikutnya (penulisan awal). Penulisan awal disebut juga
dengan penulisan konsep. Semua materi yang dipersiapkan pada tahap
persiapan dijadikan sebagai dasar bagi penulisan awal ini. Kegiatan revisi
penting dilakukan. Kegiatan ini dilakukan dengan membaca kembali naskah
yang diperbuat pada penulisan awal. Kegiatan revisi akan memberikan hasil
yang maksimal jika revisi memang atau dikerjakan oleh orang-orang yang
kompetensinya sesuai dengan bidang keilmuan penulis. Jika kegiatan ini
dikerjakan dengan serius akan menimilkan kesalahan dalan tulisan, kegiatan
penulisan final merupakan langkah terakhir dari suatu proses penulisan.

Kegiatan prosedur penulisan ilmiah dapat dilihat pada bagan berikut:

I. PRA PENULISAN
- Merencanakan Topik
- Menetapkan Topik
- Membatasi Masalah
- Merumuskan Masalah
- Menetapkan Tujuan
- Memperhitungan Calon Pembaca
- Membuat Kerangka
- Menjelaskan Kerangka
Konseptual
- Menuliskan Instrumen
- Mengumpulkan Data
- Menganalisis Data

PROSEDUR II. PENULISAN AWAL


ILMIAH

51
III. REVISI / PERBAIKAN

IV. PENULISAN FINAL

G. Stuktur/ Bagian Tulisan Ilmiah


Pada dasarnya truktur penulisan ilmiah dibedakan atas: 1). pelengkap
pendahuluan, 2). bagian utama, dan 3). bagian pelengkap penutup.
a). Bagian pelengkap pendahuluan terdapat pada bagian awal sebuah laporan
penulisan ilmiah. Bagian ini terdiri atas: halaman judul (dalam dan luar),
abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran (kalau ada), daftar tabel
(kalau ada), daftar istilah serta lainnya (kalau ada). Bagian ini
mempergunakan penanda halaman dengan angka Romawi kecil.
b). Bagian utama, terdiri atas beberapa bab. Pada umumnya karya ilmiah
membedakan bagian ini menjadi 5 bab. Bagian ini menggunakan penanda
nomor halaman dengan angka Latin. Pada bagian inilah penulis
menjelaskan topik tulisan secara rinci.
Bab 1, Pendahuluan. Bagian ini menjelaskan tentang latar belakang
masalah, masalah, tujuan serta manfaat penulisan.
Bab 2. Tinjauan Kepustaakaan, menjelaskan tentang beberapa tiori yang
dipergunakan oleh penulis dalam membicarakan topik tulisan. Bab
ini biasanya dilengkapi dengan kajian pembahasan yang relevan
dengan topik serta kerangka berpikir atau kerangka konseptual yang
mendasari penulisan tersebut.

52
Bab 3, Metode penelitian, pada prinsipnya menjelaskan data, sumber data,
metode dan teknik yang dipergunakan pada kegiatan pengumpulan
dan analisis data.
Bab 4, Hasil peneliatian dan Pembahasan, menjelaskan tentang deskripsi
data, dan analisis data. Biasanya bagian ini dilengkapi dengan
pembahahasan hasil analisis data dan implikasi temuan.
Bab 5, Penutup, terdiri atas dua bagian yaitu: simpulan dan saran.
Simpulan bisa berupa simpulan uraian bab 1 – 5. Simpulan dapat
juga berupa simpulan bab 4 ( hasil penelitian dan pembahasannya).
Saran berkaitan dengan ajakan atau himbahan yang berkaitan
dengan pihak-pihak yang terkait dengan. Untuk lebih jelasnya
struktur bagian utama ini dapat dilihat pada bagan berikut:

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah
3. Ruang Lingkup Penelitian
4. Tujuan Penelitian
5. Manfaat Penelitian

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
1.Tinjauan Teoritis
2. Penelitian Terkait
3. Kerangka Konseptual
4. Defenisi Operasional
5. Pertanyaan Penelitian

METODE PENELITIAN
1. Desaian Penelitian
2. Populasi dan Sampel
BAGIAN UTAMA 3. Cara Pengumpulan Data
4. Cara Pengolahan dan Anali-
sis Data
5. Tempat dan Waktu Peneli-tian 53
6. Etika Penelitian
HASIL
PENELITIAN/PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
2. Pembahasan

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
2. Saran

H. Laporan:

cara berkomunikasi dalam hal penulis menyampaikan informasi kepada


seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

a. Dasar pembuatan laporan harus memperhatikan: -----Pemberi laporan


Penerima laporan dan
Tujuan penulisan
laporan

b. Tujuan laporan:

1. Mengatasi suatu masalah


2. Mengambil kesimpulan yang lebih efektif
3. Mengetahui perkembangan suatu masalah
4. Pengawasan dan perbaikan
5. Menentukan teknik-teknik baru

54
c. Sifat-sifat Laporan

1. Bahasa baik dan benar


2. Isi dikembangkan sedemikian rupa sehingga masuk akal
3. Fakta menimbulkan kepercayaan
4. Mengandung imajinasi
5. Sempurna dan komplit
6. Tidak mengandung prasangka /hal yang menyimpang
7. Disajikan secara menarik

d. Macam-macam laporan

1. Laporan berbentuk formulir isian


2. Laporan berbentuk surat
3. Laporan berbentuk memorandum
4. Laporan perkembangan dan keadaan
5. Laporan berkala
6. Laporan laboratorium
7. Laporan formal dan semi formal

e. Ciri-ciri Laporan Formal

1. Harus ada halaman judul


2. Biasanya disertai surat penyerahan
3. Memiliki daftar isi
4. Diawali abstrak atau ikhtisar
5. Ada bagian pendahuluan
6. Disertai kesimpulan dan saran pada judul tersendiri
7. Isi laporan terdiri atas judul dalam tingkatan yang berbeda
8. Nada resmi dan gaya impersonal
9. Disertai tabel-tabel yang diberi penomoran dan nama(menyatu atau
tersendiri) jika perlu

55
10. Biasanya didokumentasi khusus.

f. Struktur Laporan Formal:

1. Halaman judul
2. Surat penyerahan
3. Daftar isi
4. Ikhtisar atau abstrak
5. Pendahuluan
6. Isi laporan
7. Kesimpulan
8. Saran (rekomendasi)
9. Apendiks
10. Bibliografi

BAB VIII

KONVENSI NASKAH, KUTIPAN

DAN DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. Konvensi Naskah

1. Pengetikan

a. spasi rangkap, jika kutipan langsung, tergabung dengan teks, diapit


tanda petik: jika kutipan terdiri atau berupa kata, frase, klausa atau kalimat
singkat lebih kecil dari empat puluh kata atau lebih kecil dari empat baris.
b. spasi rapat, berupa kutipan langsung, diketik pada paragraf khusus
jika jumlah kutipan lebih besar atau sama dengan 4 baris atau 40 kata.
c. spasi rangkap, jika kutipan tidak langsung, bergabung dengan teks.

56
2. Penomoran:
1). Nomor bab, menggunakan angka Romawi, ditulis secara simetris di bawah
judul bab, dicetak tebal seperti judul bab.
2). Nomor halaman, angka Arab, dapat ditulis di kanan atas, kanan bawah atau
tengah bawah kertas.
3). Khusus nomor halaman yang berisi judul bab, dapat tidak ditulis meski
dihitung, atau ditulis tetapi menempati posisi tengah bawah

3. Tabel /Grafik/ Gambar

a. Jika dapat, tabel, grafik maupun gambar dibuat pada halaman yang sama.
Tetapi jika tidak, dapat disambung pada halaman berikutnya dengan
memberitahukan bahwa tabel, gambar atau grafik tersebut bersambung.
b. Setiap tabel, grafik dan gambar harus diberi nomor dan nama.
c. Tulisan yang memiliki tabel, grafik dan gambar, harus membuat daftar
yang dimuat pada pelengkap pendahuluan, setelah daftar isi.

B. Teknik Mengutip

1. Pengertian:

Mengutip dala kegiatan penulisan ilmiah berarti mengambil pendapat para


ahli dari sumber lain, yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari penulisan kita.
Teknik pengutipan dimaksud dibedakan atas: 1) kutipan langsung, 2) kutipan
tidak langsung. Untuk jelasnya perbedaan, penanda, dan teknik pengutipan
tersebut dapat dilihat berikut:
Kutipan langsung: mengambil secara langsung kalimat, frase, atau klausa kalimat
orang lain yang dituangkan ke dalam kalimat pribadi penulis.

Kutipan tidak langsung: menggunakan ide, gagasan orang lain pada karya pribadi
mengutip secara tidak langsung dapat dilakukan dengan cara
memperjelas maksud kalimat yang ada pada sumber dengan kalimat

57
penulis, tanpa merubah isinya. Kutipan secara tidak langsung dapat pula
berupa menyimpulkan suatu naskah yang disampaikan dengan bahas
sendiri penulisnya.

2. Penanda Kutipan: nama penulis


tahun terbit
halaman sumber
3. Wujud Kutipan: Kalimat singkat
Seperangkat kalimat
Berupa bahasa asing
Bahan kuliah
Hasil wawancara
Kutipan pidato
Kutipan yang diambil dari kutipan pada suatu
sumber.

4. Teknik:

1) Penanda

a. Penanda tergabung dengan teks: Penanda ditempatkan di awal atau di


tengah kalimat. Nama penulis ditulis secara lengkap, dan bergabung
dengan teks, sedangkan penanda tahun dan halaman sumber di dalam
tanda kurung.
Contoh:
… Amran Halim (1975: 25) menyatakan bahwa….
Amran Halim
Soebronto (1990: 23) menyimpulkan bahwa ….

b. Penanda di luar teks:

58
- jika nama penulis satu kata, maka langsung seluruh
penanda ( nama, tahun terbit dan halaman sumber) ditempatkan di
akhir kutipan dan diapit tanda kurung.
- Jika nama penulis terdiri atas dua atau lebih kata, maka
yang dibuat adalah nama terakhir, seluruh informasi dalam tanda
kurung di akhir kutipan.
Contoh:
… mahasiswa tahun kedua lebih baik dari pada mahasiswa tahun
ketiga ( Salimim, 1990: 123).
… ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan
kemajuan belajar ( Halim, 2008: 15).

C. Daftar Kepustakaan, merupakan daftar yang berisi tentang informasi dari


berbagai sumber kutipan yang dipergunakan dalam suatu tulisan.
Daftar ini disusun sesuai kaidah yang jelas. Secara vertikal,
penyusunan daftar kepustakaan berdasarkan urutan alfabet nama
penulisnya.

1). Fungsi:

- Pengakuan bahwa informasi dalam tulisan bukan hanya pikiran


penulis tapi juga pemikiran para ahli
- Informasi lengkap tentang sumber kutipan
- Panduan penelusuran bagi pembaca
2). Sumber:

a. kualitas baik, sesuai masalah


b. pilih yang paling tepat
c. bacaan mutakhir

59
3). Unsur-Unsur dari berbagai sumber

a. Buku ajar

1. Penulis perorangan:
2. Kumpulan tulisan beberapa penulis/editor
3. Buku yang dikarang oleh lembaga
4. Buku terjemahan

b. Tulisan di Majalah:
1. Artikel yang ditulis penulis
2. Artikel yang ditulis badan/lembaga

c. Makalah yang dipresentasikan dalam seminar/simposium/kongres, tapi tidak


dipublikasi
d. Disertasi/tesis
e. Surat Kabar
f. Makalah informasi dari internet

4). Ururan Penanda Kepustakaan

Urutan penanda kepustakan yang dimaksud dalam uraian berikut adalah


urutan tentang informasi dari suatu sumber yang diurutakan secara horizontal
( ke samping) dari suatu kepustakaan.

Buku ajar

1). Buku (satu orang penulis)


a. nama penulis
b. tahun terbit
c. Judul buku ( cetak miring/garis bawah)
d. Edisi dan volume
e. Nama penerbit
f. Tempat terbit
g. Halaman sumber

60
2). Buku berupa kumpulan tulisan beberapa penulis/editor

a. nama penulis
b. tahun terbit
c. judul tulisan/ bab
d. judul buku
e. nama editor
f. edisi
g. nama penerbit
h. tempat terbit
i. halaman yang dibaca

3). Buku yang dikarang oleh lembaga


a. nama lembaga
b. tahun terbit
c. judul buku
d. edisi dan volume
e. nama penerbit
f. tempat terbit
g. halaman yang dibaca.

4). Buku terjemahan:


a. nama penulis
b. tahun terbit
c. judul buku
d. penerjemah
e. nama penerbit
f. tempat terbit
g. halaman sumber.

Tulisan di Majalah

1). Artikel yang ditulis penulis:


a. nama penulis
b. tahun penerbitan
c. Judul artikel
d. nama majalah
e. volume majalah
f. halaman sumber

2). Artikel yang ditulis badan/lembaga

61
Cara penulisan sama dengan di atas, hanya nama penulis diganti dengan
nama lembaga

Makalah yang telah dipresentasikan dalam seminar/ simposium /kongres,


tetapi tidak dipublikasikan

a. nama penulis
b. tahun penyajian
c. judul makalah
d. nama forum penyajian
e. kota
f. bulan dan tanggal penyajian.
Disertasi/tesis

a. nama penulis
b. tahun penerbitan
c. judul disertasi/tesis
d. tempat penerbitan
e. universitas
Tulisan di surat kabar

a. nama penulis
b. tahun penerbitan
c. judul tulisan
d. kata ‘dalam’ diikuti nama surat kabar dicetak miring/garis bawahi
e. hari diikuti tanda koma
f. tanggal
g. bulan
h. halaman
i. kolom.
Makalah/informasi dari internet

a. Ada nama penulis


a). nama penulis
b). tahun
c). judul artikel
d). situs
e). tanggal akses.
b. Tak ada nama penulis
a). judul artikel

62
b). situs
c). tanggal akses

Berikut adalah contoh penulisan daftar pustaka yang telah disesuaikan


dengan kaidah yang berlaku:
Akhadiah, Sabarti. 1993. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.

Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra; Teori dan Terapan. Padang: Yayasan Citra Budaya
Indonesia.

Alwasilah, A. Chaedar.1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Aminuddin. 1988. Semantik; Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar


Baru.

-----. 1995. Stilistika; Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.


Semarang: IKIP Semarang Press.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Ary, Donald. 1985. Introduction to Research in Educatian. New York: Halt


Richart and Winston.

Austin,J. L. 1962. How To Do Things with Words. Cambridge Mass. Harvard


University Press.

Bakar, Jamil dkk. 1981. Sastra Lisan Minangkabau: Pepetah, petitih dan Mantra.
Jakarta: P3B Depdikbud.

Bogdan dan Biklen.1982. Qualitative Research for Educatiaon an Introduction to


Theory and Method. Boston: Allyin and Bacan Inc.

Chaer, Abdul dan Leoni Agustin. .1995. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal.


Jakarta: Rineka Cipta.

63
BAB IX

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA

A. Metode Penyajian

Metode penyajian lisan secara garis besarnya dibedakan atas: 1). tanpa
persiapan ( impromtu, atau serta-merta), dan 2). Metode dengan persiapan.
Metode dengan persiapan memilki perwujudan yang berbeda yaitu: a). metode
menghapal, b). metode naskah, dan c). metode ekstemporan.
Masing masing metode memiliki keungulan dan kelemahan. Oleh
karena itu, seorang pembicara harus memilih metode yang tepat sesuai tujuan dan
sesuai dengan kemampuannya. Berikut akan dijelaskan karateristik penggunaan
metode tersebut:

64
a. Impromtu

Impromtu adalah metode penyajian lisan, tanpa persiapan sama sekali.


Pembicara tampil secara tiba-tiba. Oleh karena itu, keberhasilannya
disangsikan. Hanya orang-orang yang telah terbiasa berbicara dalam
berbagai kesempatan, serta topik yang disajikan telah dikuasai
sebelumnya- lah yang mungkin berhasil dengan metode ini.

b. Metode Menghapal

Metode menghapal adalah perwujudan metode yang dipersiapkan.


Pembicara tampil mengandalkan kemampuan mengingatnya. Jika daya
ingatnya tinggi ada kemungkinan memperoleh keberhasilan. Keunggulan
metode ini hanya jika daya ingat kuat serta situasi kondusif, bisa berhasil.
Metode ini memilki kelemahan antara lain: menjemukan bagi pendengar,
karena dengan metode ini pembicara kebanyakan tidak mengadakan
kontak pandang dengan pendengar. Ia konsentrasi dengan hapalan yang
kadang dia imajinasikan di dinding, loteng atau di papan tulis. Selama
pembicaraan berlangsung, pembicara tidak menghendaki adanya gangguan
dari pendengar, sehingga ia membuat aturan ketat sebelum pembicarraan
dimulai.

c. Metode Naskah

Pembicara dengan metode naskah akan mengkonsentrasikan mata serta


pikirannya ke naskah yang dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu,
menjadi kelemahan penggunaan metode ini, membosankan bagi
pendengar karena pembicara tidak mengadakan kontak langsung. Apa pun
reaksi pendengar terhadap pembicaraannya tidak dilihat pembicara,
sehingga situasi sangat kaku. Keunggulannya, jika naskah dipersiapkan
dengan baik, maka pendengar akan mendapatkan informasi yang tepat.
Untuk mengurangi kelemahan dengan penggunaan metode ini, sebaiknya

65
pembicara mesti berusaha menata intonasi, memperjelas lafal, menjaga
kelancaran serta volume sehingga ada daya tarik penggunaan metode ini.

4. Metode ektemporan

Metode ekstemporan/ektemporer dianggap lebih baik dari penggunaan


metode lainnya. Pembicara tampil dengan sebelumnya telah membuat
persiapan berupa naskah lengkap seperti halnya metode menghapal dan
naskah.. Selain itu, pembicara juga mempersiapkan uraian dalam bentuk
kerangka penyajian secara garis besar (power point). Inilah yang
ditampilakan oleh pembicara sebagai panduan dalam penyajiannya.
Dengan demikian, pembicara tampil tanpa harus terikat pada naskah yang
dipersipkan serta hapalannya. Pembicara bisa mengatur jalannya
pembicaraan sesuai situasi. Pembicara bisa menyampaikan topik tersebut
dengan bahasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan pendengar. dengan
demikian, metode ini lebih fleksibel dan tidak kaku.

B. Persiapan Penyajian Lisan

1. Meneliti Masalah:

a. Menentukan Maksud
b. Menganalisis Situasi dan Pendengar
c. Memilih dan Menyempitkan Topik

2. Menyusun Uraian :

3. Mengumpulkan Bahan
4. Membuat Kerangka Uraian
5. Menguraikan bahan secara Detail

3. Mengadakan latihan dengan suara nyaring.

66
C. Topik yang Menarik
a. Diketahui serba sedikit oleh pendengar
b. Menarik perhatian bagi pembicara
c. menarik perhatian bagi pendengar
d. tidak melampaui daya tangkap pendengar
e. dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan

D. Tujuan Berbicara:
a. Mendorong
b. Meyakinkan
c. Berbuat/bertindak
d. Memberitahukan
e. Menyenangkan

E. Faktor yang Mempengaruhi Penyajian Lisan


Keberhasilan suatu kegiatan berbicara/ berkomunikasi lisan dipengaruhi
oleh banyak faktor. Faktor tersebut bersumber dari antara lain: 1) Pembicara, 2),
Pendengar, 3). Lingkungan, 4) Materi yang disajikan, dan 5). Sarana atau media
yang digunakan. Berikut akan dijelaskan faktor yang mempengaruhi tersebut:
a). Pembicara
Keberadaan pembicara merupakan faktor yang dominan mempengaruhi
keberhasilan dari suatu kegiatan berkomunikasi lisan. Oleh karena pembiacara
yang baik akan selalu mengupayakan sedemikian rupa sehingga ia mendapat
tempat di hati pendengarnya yang memungkinkannya dapat melaksanakan
penyajian secara lancar dan teratur. Dari segi pembicara faktor yang
mempengaruhi dibedakan atas faktor utama dan pendukung sbb:

1. Faktor Utama:

67
- Penguasaan bahan
- Keberanian
- Kemampuan mengunakan bahasa yang baik dan benar
- Kemampuan menyajikan secara lancar dan teratur
- Ketenangan sikap di depan massa
- Kemampuan memperlihatkan gerak-gerik tidak kaku
- Kemampuan memberikan reaksi yang cepat dan tepat

2. Faktor Pendukung:

- Pembukaan
- Gerak-gerik
- Mimik
- Intonasi/ lafal
- Media/ alat bantu
- Teknik bicara
- Kecepatan dan transisi
- penampilan
b). Pendengar

Di antara faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari pendengar adalah


faktor fisik dan psychologis. Termasuk ke faktor fisik adalah keberadaan
telinga sebagai sarana utama pendengar yang dibantu oleh mata untuk
memperjelas pemahaman tentang mimik dan gerak-gerik yang menyertai
penuturan. Yang termasuk ke faktor psychologis adalah kebetahan mendengar,
gangguan emosional yang tak terkendali dan sebagainya. Yang tidak kalah
pentingnya, kemampuan memahami bahasa yang dipergunakan pembicara
sangat menentukan keberhasilan pemahaman materi pembicaraan.

c). Lingkungan

68
Lingkungan yang kondusif dapat menjadi faktor pendukung bagi
keberhasilan penyajian lisan. Oleh karena itu, sebelum pembicara mulai, maka
ia harus mengamati lingkungan apakah sudak kondusif atau belum. Jika
belum, harus diupayakan. Termasuk ke dalam faktor lingkungan adalah
tempat dan suasana pelaksanaan proses penyajian.

d). Sarana/Media

Penggunaan sarana yang tepat dapat mendukung bagi tercapainya


pelaksanaan kegiatan berkomunikasi yang efektif. Oleh karena itu penggunaan
suatu media/sarana harus memperhatkan efektivitas pencapaian tujuan.

e) Materi yang disajikan

Jika memungkinkan, seorang pembicara mesti melaksanakan seleksi


pada materi yang akan disampaikannya. Tentu saja, materi yang disajikan
harus menarik bagi pembicara dan pendengar. Ketertarikan pada materi yang
disampaikan pembicara merupakan daya rekat yang ampuh bagi upaya
mengikat perhatian pendengar selama pembicaraan berlangsung.

F. Penyesuaian Diri

1. Terhadap Sikap Bermusuhan:

a. Menunjukkan sikap bersahabat


b. Menunjukkan kesesuaian atau kesamaan pandangan
c. Menunjukkan sikap jujur, sopan, serta menciptakan humor yang
sehat dan menyenangkan
d. Menunjukkan pengalama-pengalaman umum yang juga dialami
pendengar
e. Menunjukkan penghargaan terhadap kesanggupan pendengar atas
hasil yang dicapainya atau sahabatnya.

69
2. Penyesuaian Diri terhadap Sikap Angkuh

a. Menunjukkan kepercayaan atas diri sendiri


b. Sifat santun dan sopan
c. Merebut pikiran pendengar dengan menguraikan
pikiran secara baik dan benar
d. Berusaha memperkuat atau mengkonkritkan
pembicaraan dengan fakta-fakta, bukan menonjolkan diri sendiri
seperti menggunakan berbagai ungkapan seperti: menghindari
penggunaan frase “saya rasa, saya kira, menurut hemat saya, saya
lebih berpendapat, menurut pemahaman saya”. Penggunaan ini
dihindari karena lebih bersifat subjektif.

3. Penyesuaian terhadap Sikap Apatis dapat dilakukan dengan selalu


berusaha mengaitkan pokok pembicaraan dengan persoalan pendengar
G. Diskusi

a). Pengertian:
Diskusi merupakan interaksi verbal yang dilakukan secara terpimpin,
dilaksanakan secara tatap muka dengan melibatkan individu-individu dalam
rangka mencari solusi /tujuan pemecahan suatu masalah.

b). Manfaat:

1. Pelaksanaan sikap demokratis.


2. Pengujian sikap toleransi
3. Pengembangan kebebasan pribadi.
4. Pengembangan latihan berpikir
5. Penambahan pengetahuan dan pengalaman.
6. Memperlihatkan sikap intelegensi yang tinggi dan kreatif.

70
c). Unsur-unsur:
1). Materi : tema dan topik yang dibicarakan
2). Manusia : pimpinan diskusi, pembicara, pemrasaran, penyanggah,
pendengar
3). Fasilitas : ruangan, tempat, alat tulis, alat pandang dengar.

d). Tugas Pimpinan Diskusi

1. menjelaskan tema atau masalah yang akan didiskusikan.


2. Menyodorkan pokok persoalan yang menarik dan konkrit.
3. Mengumpulkan pendapat serta pengalaman.
4. Memperluas diskusi melalui pertanyaan-pertanyaan yang terarah
untuk mengusulkan dan mengumpulkan fakta-fakta terlebih dahulu.
5. Mengemukakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan
masalah dan cara menyimpulkannya.
6. Menjamin pengikut ikut serta menilai kesimpulan atau
mengemukakan beberapa saran dan alternatif.
7. Mengambil kesimpulan dan ringkasan.

e). Tugas Ketua Diskusi

1). Membuka diskusi dengan uraian ringkas.


2). Menjadi motor penggerak diskusi.
3). Merundingkan masalah yang akan didiskusikan dengan peserta
4). Membuat rangkuman pokok masalah yang akan didiskusikan.
5). Menjamin setiap peserta memahami permasalahan yang akan didiskusikan
6). Menjamin pendapat seseorang peserta dipahami peserta lain
7). Bersikap netral atau tidak berat sebelah terhadap pendapat yang
bertentangan.
8). Memperingati peserta yang menyimpang dari masalah yang didiskusikan

71
9). Memberikan kesempatan berbicara terhadap peserta yang tidak mau
mengemukakan pendapat.
10). Mengatur lalu lintas pembiacaraan secra teratur dan sopan, tidak banyak
mengomentari.
11). Membuat rangkuman pembicaraan.
12). Menutup diskusi dan membacakan rangkuman diskusi, menampilkan
perbedaan pendapat jika ada.

f). Tugas Notulis Diskusi

1). Mencatat/menyediakan hal-hal pokok untuk kelancaran diskusi: hari/jam


diskusi, masalah diskusi, tanggapan peserta, saran atau usul.
2). Mencatat peserta yang akan mengemukakan pendapat menurut urutan dan
termen serta pokok pemibicaraan pembicara
3). Mengingatkan pimpinan diskusi kalau ada pembicaraan yang terlupa.
4). Mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan: daftar isi, bahan tertulis
yang diperlukan, blanko dan kertas.
5). Membantu pimpinan diskusi merumuskan secara tertulis kesimpulan dan
ringkasan.

g). Tugas Peserta Diskusi

1). Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan mencari informasi


yang bertalian dengan masalah yang didiskusikan sebelum diskusi dimulai
2). Ikut berbicara dengan semangat kerja sama dan rasa persaudaraan yang
tinggi.
3). Meminta penjelasan jika ada permasalahan yang belum jelas.
4). Mendukung atau menyatakan persetujuan terhadap suatu keputusan yang
diambil.
5). Menyimpulkan bersama.
6). Memusatkan tujuan diskusi, jika perlu mempertajam masalah.

72
7). Mencegah terjadinya perpecahan kelompok yang berpendapat benar dan
tidak benar.
8). Melaksanakan semua keputusan yang telah diambil dalam diskusi dengan
musyawarah.
9). Mendorong dan menyokong supaya diskusi berjalan dengan lancar dan
bermanfaat untuk semua peserta.

h). Hambatan-hambatan dalam Diskusi

1). Sikap agresif dan reaksioner


2). Sikap menutup diri dan tidak menghargai pendapat orang lain atau takut
mengeluarkan pendapat di muka umum
3). Berbicara terlalu banyak dan tidak menuju sasaran
4). Mementingkan pribadi dan melupakan kepentingan bersama
1. Berbisik-bisik dengan orang lain dan menilai orang lain yang
sedang berbicara
2. Bersikap tidak mau tahu.

73