Anda di halaman 1dari 29

Malformasi Anorectal

MALFORMASI ANORECTAL

1.Anatomi dan Fisiologi Rektum & Anus


Rectum dan anus merupakan susunan saluran pencernaan yang paling akhir. Rectum terletak
di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam
rongga pelvis di depan os sakrum dan os. Koksigis.
Sedangkan anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan
dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter, yaitu:
Sfingter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak.
Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak.
Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekerja menurut kehendak.
(Syaifuddin, 1997)
Defekasi (buang air besar). Bila rectum bagian atas diregangkan oleh isinya, reseptor tekanan
merangsang sensasi defekasi yang mendesak. Aksi defekasi dimulai secara voluntar: otot
longitudinal rectum berkontraksi, kedua otot sfingter anal bagian dalam dan luar dan otot
puborektal relaksasi; rectum memendek; dan isi tersebut ditekan oleh kontraksi anular
dibantu oleh peningkatan tekanan abdomen.
Frekuensi defekasi sangat bervariasi, dari tiga kali sehari, sampai tiga kali seminggu, dan
tergantung pada bagian terbesar kandungan makanan (“serat”, terutama selulosa). Selulosa
dimetabolisis oleh bakteri usus menjadi metada dan gas lainnya yamg menimbulkan flatus
menyertai, misalnya kacang-kacangan. Diare (> 200 gr feses / hari), bila bila berlebihan dapat
mengakibatkan bahaya kehilangan air dan K, dan gangguan asam basa.
(Silbernagl, 2000)

Rectum dan anus merupakan lokasi dari penyakit-penyakit yang sering ditemukan pada
manusia. Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan rectum saat terjadi
peristaltic massa. Bila defekasi tidak sempurna, rectum relaksasi dan hasrat untuk defekasi
hilang. Air tetap harus diabsorpsi dari massa feses, menyebabkan feses menjadi keras,
sehingga defekasi selanjutnya menjadi lebih sukar. Akibat tekanan feses berlebihan
menyebabkan kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna yang merupakan salah satu
penyebab vena varikosa rectum. Inkontinensia feses dapat diakibatkan oleh kerusakan otot
sfingter ani atau kerusakan medulla spinalis. Daerah anorektal sering merupakan tempat
abses dan fistula. Kanker kolon dan rectum merupakan kanker saluran cerna yang sering
terjadi. Malformasi anorektal adalah kondisi dimana tidak terdapat anus atau anus abnormal.
(Price, 1995)

2.Definisi Penyakit
Malformasi anorektal (anus imperforata) adalah malformasi kongenital di mana rectum tidak
mempunyai lubang keluar. Anus tidak ada, abnormal atau ektopik. Kelainan anorektal umum
pada laki-laki dan perempuan memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan
tinggi diantara usus, muskulus levator ani, kulit, uretra dan vagina.
(Wong, 2003)
Klasifikasi:
Klasifikasi pada anorektal menurut insidennya, antara lain:
a.Yang sering pada laki-laki
1.Fistula pirenium (kutaneus)
Adalah cacat paling sederhana pada kedua jenis kelamin. Penderita mempunyai lubang kecil
terletak di perineum, sebelah anterior dari titik pusat, sfingter eksterna didekat skrotum pada
pria / vulva pada perempuan.
2.Fistula rektrovesika
Pada penderita dengan fistula rektrovesika, rektum berhubungan dengan saluran kencing
pada setinggi leher vesika urinaria.
3.Fistula rektrouretra
Pada kasus fistula rektrouretra, rektum berhubungan dengan bagian bawah uretra (uretra
bulbar) atau bagian atas uretra (uretra prostat).
4.Anus imperforate tanpa vistula
Mempunyai karakteristik sama pada kedua jenis kelamin
Rectum tertutup sama sekali dan biasanya ditemukan kira-kira 2 cm di atas kulit perineum
5.Atresium rektum
Adalah yang jarang terjadi, hanya 1% dari anomaly anorektum
Cacat ini mempunyai kesamaan karakteristik padakedua jenis kelamin. Tanda yang unik pada
cacat ini adalah bahwa penderita mempunyai kanal anul & anus yang normal.
Ada obstruksi sekitar 2 cm di atas batas kulit
b.Yang sering pada permpuan
1.Kloaka persisten
Pada kasus kloaka persisten ini , rectum, vagina dan saluran kencing bertemu dalam satu
saluran bersama. Perineum mempunyai satu lubang yang terletak sedikit di belakang klitoris.
2.Fistula vestibular
Adalah cacat yang sering ditemukan pada perempuan. Rectum bermuara ke dalam vestibula
kelamin perempuan sedikit diluar salaput dara.

Klasifikasi malformasi anorektal berdasarkan atas hubungan rektum dengan otot puborektal :
a.Kelainan letak rendah (low anomalies)
Pada letak ini rektum menyambung pada otot puborektal,spinter interna dan eksterna fungsi
berkembang normal, tidak ada hubungan dengan traktus genitourinaria.
b.Kelainan letak sedang (intermedieat anomalies)
Rektum terletak dibawah otot puborektal, terdapat cekungan anus, dan posisi spinter eksterna
normal.
c.Kelainan letak tinggi (high anomalies)
Akhir rektum terletak diatas otot puborektal, tidak terdapat spinter interna dan terdapat
hubungan dengan genitourinaria pada laki-laki fistula rektouretra, pada perempuan
rektovaginal.
Malformasi anorektal terdiri dari berbagai macam bentuk. Beberapa bentuk tersebut
diantaranya adalah:
Congenital anal stenosis
Anal membrane atresia.
Anal agenesis
Rectal atresia
Rectoperitoneal fistula
Rectovaginal fistula
(Nelson, )

Klasifikasi defek menurut Alberto Penan


Laki-Laki
Perempuan
Detek Komplek
Defek letak rendah
Fistel kutangus, stenosis anal
Membran anal dan malformasi bucket bulbar
Fistel rektouretra bulbar
Fistel rektouretra prostatika
Fistel rektovesika
Anus imferforata tanpa fistel
Atresia dan stenosis rektum
Fistel kutangus (perianal)
Fistel teostibular
Fistel vagina
Anus imferforata tanpa fistel
Atresia dan stenosis rektum
Kloaka persisten
Kelompok
Defek heterogen lain
(Mansjoer, 2000)

3.Etiologi
Penyebab dari penyakit ini adalah:
1.Malformasi Anus
Gangguan pertumbuhan dan fusi serta pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
2.Malformasi Rektum
Gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital serta gangguan
perkembangan septum anorektal yang memisahkannya (terjadi fistel).
(Mansjoer, 2000)

4.Manifestasi Klinis
Malformasi anorektal mempunyai manifestasi klinis sebagai berikut:
1.Perut kembung, sedang muntah timbul kemudian.
2.Cairan muntah mula-mula hijau kemudian bercampur tinja.
3.Kejang usus.
4.bising usus meningkat.
5.Distensi abdomen.
6.Keluar mekonium baik dari vagina atau bersama urine (tergantung letak fistel).
7.Mekonium keluar pada anus seperti pasta gigi.
(Betz, 2002 )

5.Patofisiologi
Kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi dan pembentukan anus
dari tonjolan embrionik. Begitu juga pada malformasi rektum berawal dari gangguan
pemisahan kloaka jadi rektum dan sinus urogenital dan perkembangan septum unorektal yang
memisahkannya. Kedua malforamsi membentuk fistel-fistel yang menghambat pengeluaran
mekonium kolon sehingga terjadi obstruksi usus yang nampak gambaran perut kembung,
distensi abdomen, muntah dengan cairan mula-mula berwarna hijau kemudian bercampur
tinja. Distensi abdomen yang terjadi menyebabkan penekanan intra abdomen ke torakal
sehingga klien mengalami gangguan pola nafas.
Kegagalan pengeluaran mekonium menimbulkan refluks kolon sehingga muntah-muntah
didukung ketidaknormalan anus serta rektum. Hal ini mengganggu pola eliminasi feses.
Malformasi harus segera ditangani yang pertama untuk tindakan sementara dengan kolostomi
baru kemudian dilakukan pembedahan definitif sesuai dengan letak defeknya. Pasca
pembedahan pasien tirah baring lama-kelamaan akan menyebabkan intoleransi aktivitas.
Adanya perlukaan pada jaringan akan menimbulkan nyeri serta resiko tinggi infeksi karena
luka merupakan part entry kuman. Selain itu juga menimbulkan kerusakan integritas kulit.
Anestesi yang diberikan juga mempengaruhi penurunan fungsi organ, misal penurunan sistem
pernafasan, penurunan fungsi jantung dan penurunan peristaltik usus.
(Nelson, 1999)
6.Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan colok dubur, pada atresia rektum jari tidak masuk lebih 1–2 cm.
2.Protosigmoidoskopi, anoskopi, radiografi lateral terbalik.
3.Urogram intravena; sistourethrogram: dilakukan pada waktu miksi harus dilakukan karena
seringnya malformasi traktuf urinarius menyertai anomali ini.
4.Rontgenologis kolumna vertebralis: untuk mengetahui kelainan yang menyertai yaitu
anomali vertebra.
5.Pemeriksaan inspeksi dan palpasi daerah perineum secara dini.
6.Ultrasound: dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rektal.
7.Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rektal dengan cara menusukkan jarum tersebut
sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm,
defek itu disebut defek tingkat tinggi.
8.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien dengan penyakit maformasi anorektal ada dua
macam yaitu dengan tindakan sementara dan tindakan definitive, sebagai berikut:
1.Tindakan Sementara
a.Tindakan spontan tergantung tinggi rendahnya atresia. Anak segera dipuasakan untuk
pembedahan. Bila diduga ada malformasi rektum, bayi harus segera dikirim ke ahli bedah
yaitu dilakukan kolostomi transversum akut. Ada 2 tempat yang kolostomi yang dianjurkan
dipakai pada neonatus dan bayi yaitu transversokolostomi dan sigmoidkolostomi. Khusus
untuk defek tipe kloaka pada perempuan selain kolostomi juga dilakukan vaginostomi dan
diversi urine jika perlu (setelah anak lebih besar 1 – 1,5 tahun).

b.Pada malformasi anus laki-laki tipe covered anal dilakukan insisi/ diiris hanya pada garis
hitam di kulitnya, kemudian diperlebar perlahan-lahan dan apabila ada lubang dilanjutkan
dengan kelingkin yang dilapisi vaselin didorong masuk sampai teraba/ menonjol ujung
rektum kemudian ujung rektum di insisi tanpa dijahit. Pada defek letak rendah langsung
dilakukan terapi definitif yaitu anorektoplasti posterior sagital (PSARP), sisanya dilakukan
kolostomi sementara.

2.Tindakan Definitif
a.Pembedahan definitif ini dimaksudkan untuk menghilangkan obstruksi dan
mempertahankan kontak kontinensi. Untuk malformasi rectum setelah bayi berumur 6 bulan
dilakukan ano-rekto-vagina-uretroplasti posterior sagital (PSAVURP).

b.Pada malformasi anus tindakan koreksi lebih lanjut tergantung pada defek ;
1)Pada malformasi anus yang tidak ada fistel tetapi tampak ada anal dimple dilakukan insisi
dianal dimple melalui tengah sfingter ani eksternus.
2)Jika fistel ano uretralis terapi anal dimple tidak boleh langsung ditembus tapi lebih dulu
fistel ano uretralis tersbeut diikat. Bila tidak bisa kasus dianggap dan diperlakukan sebagai
kasus malformasi rektum.
c.Pada agenesis anorektal pada kelainana tinggi setelah bayi berat badan mencapai 10 kg
tersebut harus diperbaiki dengan operasi sakroperineal atau abdomino perineal dimana kolon
distal ditarik ke aneterior ke muskulus puborektalis dan dijahitkan ke perinuem. Pada anomali
ini, sfingter ani eksternus tidak memadai dan tidak ada sfingter internus, sehingga kontinensi
fekal tergantung pada fungsi muskulus pubo rektalis. Sebagai hasil dari anak dengan kelainan
tinggi tanpa muskulatur atau muskolatur yang buruk, kontinensia mungkin didapat secara
lambat tetapi dengan pelatihan intensif dengan menggunakan otot yang ada, pengencangan
otot kemudian dengan levator plasti, nasihat tentang diet dan memelihara "neorektum" tetap
kosong, kemajuan dapat dicapai.
(Wong, 1999)

9.Komplikasi.
1.Asidosis hiperkloremia
2.Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
3.Kerusakan uretra ( akibat prosedur bedah )
4.Komplikasi jangka panjang :
a.Eversi mukosa anal
b.Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
c.Impaksi dan konstipasi (akibat dilatasinya sigmoid)
d.Masalah atau keterlambatan yg berhubungan dg toilet training
e.Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
f.Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
g.Fistula kambuhan (karena tegangan diarea pembedahan dan infeksi )
(Betz, 2002 )

10. Konsep Keperawatan


1.Pengkajian
a.Pengkajian Pre Operatif
1)Pemeriksaan fisik :
a)Daerah perineum
Inspeksi dengan cermat daerah perineum secara dini
untuk mencari hubungan fistula ke kulit
untuk menemukan muara anus ektopik atau stenatik
untuk memperbaiki bentuk luar jangka panjang
untuk melihat adanya mekonium (apakah keluar dari vagina atau keluar bersama urine ?)
untuk melihat adanya garis hitam yang menentukan letak fistel dan terapi segeranya.
b)Abdomen
Memeriksa tanda-tanda obstruksi usus (perut kembung)
Amati adanya distensi abdomen
Ukur lingkar abdomen
Dengarkan bising usus ( 4 koadran)
Perkusi abdomen
Palpasi abdomen (mungkin kejang usus)
c)Kaji hidrasi dan status nutrisi
Timbang berat badan tiap hari
Amati muntah proyektif (karakteristik muntah)
d)TTV
Ukur suhu badan (umumnya terjadi peningkatan)
Ukur frekuensi pernafasan (terjadinya takipnea atau dispnea)
Ukur nadi (terjadinya takikardia)
e)Observasi manifestasi malformasi anorektal
2)Pemeriksaan colok dubur pada anus yang tampak normal, tapi bila tidak dapat masuk lebih
1 – 2 cm berarti terjadi atresia rektum.
3)Pemeriksaan dengan kateter untuk membedakan fistel uretra dan fistel vesika.
b.Pengkajian Post Operatif
1)Kaji integritas kulit meliput tekstur, warna, suhu kulit.
2)Amati tanda-tanda infeksi
3)Amati pola eliminasi dan keadaan umum pasien.

2.Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan


a.Pra Operatif
1)Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah.
Tujuan : Klien menunjukan keseimbangan cairan elektrolit setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam, dengan kriteria hasil : keseimbangan jumlah input dan out
put, turgor kulit elastis, TTV normal (suhu:36,5 – 37,RR: 35x/menit),tidak didapatkan
distensi abdomen.
Intervensi :
a)Ukur jumlah Input –Output cairan.
Rasionalisasi : Mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan.
b)Inspeksi turgor kulit.
Rasionalisasi : Pada keadaan dejidrasi turgor kulit tidak elastis.
c)Ukur tanda- tanda vital.
Rasionalisasi : Keadaan dehidrasi diidentifikasi dg adanya perubahan TTV
:takikardi,hipotensi,peningkatan suhu.
d)Inspeksi adanya distensi abdomen.
Rasionalisasi : Peningkatan tekanan abdomen ditandai dengan adanya distenai abdomen
e)Kolaborasi berikan cairan IV.
Rasionalisasi : Menganti cairan dan elektrolit yang hilang.

2)Gangguan pola nafas berhubungan dengan penekanan torakal sekunder terhadap distensi
abdomen.
Tujuan : Pola nafas normal/ terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24
jam dengan kriteria hasil: RR normal (30 – 60 x/ menit), reguler, tidak menggunakan otot
bantu pernafasan, tidak ditujukkannya penggunaan cuping hidung dalam bernafas.
Intervensi :
a)Posisikan anak pada posisi yang nyaman dengan penggunaan bantal 30°.
Rasionalisasi : untuk efisiensi ventilasi maksimum
b)Catat TTV dan irama jantung
Rasionalisasi : takikardi, disritmia dan perubahan tekanan dapat menunjukkan efek hipoksia
sistemik pada fungsi jantung.
c)Berikan O2 sesuai dengan kebutuhan
Rasionalisasi : dapat memperbaiki dan mencegah hipoksia
d)Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas adventisius seperti : krekel,mengi .
Rasionalisasi : biasanya bunyi nafas menurun.
e)Inspeksi adanya sianosis.
Rasionalisasi : Mengindikasikan adanya kekurangan oksigen ke jaringan.

3)Ansietas pada orang tua berhubungan dengan tindakan / prosedur pembedahan.


Tujuan : Orang tua mengungkapkan penerimaan tindakan/prosedur (ansietas berkurang),
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, dengan kriteria hasil keluarga
mampu mengungkapkan rasa sakit,penerimaan atas pembedahan,dan memahami prosedur
pembedahan.
Intervensi :
a)Identifikasi ketidaktahuan.
Rasionalisasi : Dengan memberikan kejelasan dari keluarga agar sedikit tenang.
b)Peningkatan support terhadap keluarga “tindakan atau prosdur tsb tindakan tepat”.
Rasionalisasi : Dengan support akan menurunkan cemas.

c)Menjelaskan tentang prosedur tepat waktu.


Rasionalisasi : Meningkatkan rasa optimis dengan pembedahan.
b.Post Operasi
1)Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas paru sekunder terhadap
pemberian anestesi.
Tujuan : Pernafasan kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam dengan kriteria hasil: klien tidak mengalami sianosis, tidak ada hipoksia, respirasi rate
normal (30 – 60 x/ menit) dan reguler. Tidak ada suara ngorok.
Intervensi :
a)Catat kecepatan/ kedalaman pernafasan, auskultasi bunyi nafas, amati adanya pucat,
sianosis.
Rasionalisasi : pernafasan mengorok/ pengaruh anestesi menurunkan ventilasi dan dapat
mengakibatkan hipoksia.
b)Posisikan klien dengan meninggikan kepala 30°.
Rasionalisasi : Dapat mendorong ekspansi paru optimal dan meminimalkan tekanan isi ke
abdomen pada rongga thorak.
c)Ubah posisi secara periodik
Rasionalisasi : Meningkatkan pengisian udara seluruh segmen paru.
d)Berikan O2 sesuai kebutuhan
Rasionalisasi : Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran gas dan penurunan kerja
pernafasan.

2)Nyeri berhubungan dengan vasodilatasi pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.


Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam. Dengan kriteria hasil: klien tidak cemas dan tegang lagi, klien tidak menangis terus,
ekspresi wajah wajar (tidak menahan nyeri).
Intervensi :
a)Kaji dan catat adanya peningkatan nyeri
Rasionalisasi : Digunakan untuk mengetahui keadaan nyeri klien untuk menentukan tindakan
pengurangan nyeri.
b)Hindari palpasi area pembedahan kecuali jika diperlukan
Rasionalisasi : Agar terhindar dari peningkatan rasa nyeri pasca operasi.
c)Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang.
Rasionalisasi : Berkurangnya stimulus nyeri.
d)Kolaborasi pemberian analgesi sesuai ketentuan dan pantau keefektifannya.
Rasionalisasi : Digunakan untuk farmakoterapi untuk nyeri.

3)Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perlukaan jaringan pada pembedahan.


Tujuan : Tidak terjadi infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Dengan kriteria hasil: suhu normal; 36,5°C – 37°C, tidak ada tanda-tanda radang (merah,
bengkak, panas area luka), balutan kering dan bersih.
Intervensi :
a)Ukur suhu tubuh setiap 4 jam
Rasionalisasi : Peningkatan suhu tubuh menunjukkan terjadinya infeksi sistemik.
b)Gunakan teknik septik dan aseptik medik
Rasionalisasi : Mencegah terjadinya infeksi dan sepsis.
c)Lakukan perawatan luka dengan hati-hati agar luka tetap bersih
Rasionalisasi : Untuk meminimalkan resiko infeksi.
d)Ganti balutan luka setelah 3 hari post operasi secara "kering-kering" dengan cara; luka
dialas betadin dan tutup dengan kasa kering.
Rasionalisasi : Dengan balutan dapat meningkatkankelembaban dan memperlambat
penyembuhan luka.
e) Kolaborasi pemberian antimikrobial/ antibiotik sesuai kebutuhan.
Rasionalisasi : Digunakan untuk pencegahan infeksi secara sistemik.

4)Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penumpukan asam laktat sekunder terhadap tirah
baring.
Tujuan : Toleransi aktivitas meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam dengan kriteria hasil; setelah beraktivitas klien tidak mengalami kelelahan dibuktikan
dengan (RR: 30 – 60 x/ menit, Nadi: 120 – 140x/ menit).
Intervensi :
a)Periksa tingkat toleransi fisik anak
Rasionalisasi : Dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kelelahan anak.
b)Beri periode istirahat dan tidur yang sesuai dengan kondisinya
Rasionalisasi : Istirahat digunakan untuk menghemat energi dan kelelahan dapat berkurang.
c)Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
Rasionalisasi : Lingkungan yang tenang dapat meningkatkan rentang istirahat klien untuk
penghematan energi.

5)Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya perlukaan jaringan.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam tidak didapat kerusakan
integritas kulit, dengan kriteria hasil : meningkatnya persembuhan luka,bebas tanda-tanda
infeksi.
Intervensi :
a)Inspeksi warna ukuran luka.
Rasionalisasi : Kemerahan bengkak mengidentifikasi adanya kerusakan integritas kulit.
b)Bersihkan permukaan kulit dg menggunakan hydrogen/air dg sabun lunak/petrolatum.
Rasionalisasi : Petrolatum membersihkan feses yang menempel.
c)Gunakan balutan teknik aseptik.
Rasionalisasi : Menurunkan iritasi kulit.

6)Perubahan terhadap pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnya


kemampuan fisik dan proses hospitalisasi.
Tujuan : tumbang tercapai sesuai usia setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam dengan kriteria hasil : pasien memperlihatkan peningkatan karakteristik
fisik,perkembangan sensoris, perilaku sosialisasi, perkembangan kognitif.
Intervensi :
a)Kaji tingkat perkembangan anak dalam seluruh area fungsi .
Rasionalisasi : penting untuk mengetahui apakah anak sudah mencapai tumbangnya.
b) Ajarkan orang tua tentang tugas perkembngan normal anak sesuai kelompok usianya.
Rasionalisasi : keluarga (ibu ) menjadi perawat anak selama dirumah, diharapkan mampu
memantau perkembangan anak setiap waktu.
c)Berikan kesempatan bagi seorang anak sakit untuk memenuhi tugas perkambangan sesuai
kelompok usia.
Rasionalisasi: Mencegah terjadinya regresi karena proses shospitalisasi.
(Doengoes, 1999)

Penatalakanaan yang bisa dilakukan adalah :


1.Tindakan sementara tergantung jenis kelainan
a.Pada malforamsi anus dilakukan insisi pada tipe covered anal.
b.Pada malformasi rektum dilakukan kolostimi segera.
c.Pada defek letak rendah dilakukan PSAVRP baru sisanya dilakukan kolostomi sementara.
2.Tindakan definitif
a.Malformasi bila sudah berumur 6 bulan dilakukan pembedahan PSAVURP.
b.Malformasi anus tanpa fistel dengan insisi dianal dimple.
c.Agenesis anorektal kelainan tinggi dan bayi sudah 20 pon diperbaiki dengan operasi
sakroperineal atau abdominoperineal.
d.Bila kelainan tinggi muskulatur tidak ada atau buruk dapat dilakukan dulu pelatihan intensif
dengan menggunakan otot-otot yang ada, pengencangan otot kemudian dengan levatorplasti,
dan nasihat tentang diet serta memelhara "neorektum tetap kosong".

Masalah keperawatan yang muncul :


1.Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas paru sekunder pemberian
anestesi.
2.Nyeri berhubungan dengan vasodilatasi pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.
3.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya perlukaan jaringan pada pembedahan.
4.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya perlukaan jaringan.
5.Ansietas orang tua berhubungan dengan tindakan / prosedur pembedahan.
6.Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnya kemampuan
fisik dan proses hospitalisasi .

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta.
Ngastiyah. 1995. Perawatan Anak Sakit. EGC, Jakarta.
Nelson, 1999. Ilmu Kesehatan Anak. EGC, Jakarta.
Silbernagl, Stefan. Atlas Berwarna & Teks Fisiologi. 2000. Hipokrates, Jakarta.
Syaifuddin, 1997. Anatomi Fisiologi. EGC, Jakarta.
Syamsudin, R. Song. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC, Jakarta.
Wong, Dona L. 2003. Pedoman Keperawatan Pediatrik. EGC, Jakarta.

Definisi / Pengertian Malformasi Anorektal

Malformasi anorektal (anus imperforate) ialah suatu malformasi kongenital dimana rektum
tidak mempunyai jalan keluar. Jadi pada kasus ini anus tertutup sama sekali dan tebalnya
bagian yang tertutup ini bermacam-macam.
Klasifikasi Malformasi Anorektal
Terdapat 3 macam bentuk anus imperforate :

Anomali tinggi (Supralevator) : Rektum berakhir diatas M.Levat0r ani (M.Puborektalis)


dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum > 1 cm. Letak supralevator
biasanya disertai dengan fistel kesaluran kencing atau kesaluran genital
Anomali Intermediate : Rektum terletak pada M.Levator ani tapi tidak menembusnya
Anomali Rendah : Rektum berakhir dibawah >Levator ani sehingga jarak antara kulit dan
ujung rectum paling jauh 1 cm.

Etiologi Malformasi Anorektal

Penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada faktor resiko jelas yang mempengaruhi seorang anak
dengan anus imperforata. Tetapi, hubungan genetik terkadang ada. Paling banyak kasus anus
imperforata jarang tanpa adanya riwayat keluarga, tetapi beberapa keluarga memiliki anak
dengan malformasi.
Patofisiologi Malformasi Anorektal

Embriogenesis malformasi ini tidak jelas. Rectum dan anus berkembang dari bagian dorsal
usus atau ruang cloaca ketika mesenchym bertumbuh ke dalam membentuk septum
anorectum pada midline. Septum ini memisahkan rectum dan canalis anus secara dorsal dari
vesica urinaria dan uretra. Ductus cloaca adalah penghubung kecil antara 2 usus.
Pertumbuhan ke bawah septum urorectalis menutup ductus ini selama 7 minggu kehamilan.

Selama itu, bagian ventral urogenital berhubungan dengan dunia luar; membran analis
dorsalis terbuka kemudian. Anus berkembang dengan penyatuan tuberculum analis dan
invaginasi external, diketahui sebagai proctodeum, yang mengarah ke rectum tetapi terpisah
oleh membran anal. Membran pemisah ini akan terpisahkan pada usia 8 minggu kehamilan.

Gangguan perkembangan struktur anorectum pada tingkat bermacam-macam menjadi


berbagai kelainan, berawal dari stenosis anus, anus imperforate, atau agenesis anus dan
gagalnya invaginasi proctodeum. Hubungan antara tractus urogenital dan bagian rectum
menyebabkan fistula rectourethralis atau rectovestibularis.
Tanda dan Gejala Malformasi Anorektal

Secara klinik pada bayi ditemukan tidak adanya mekonium yang keluar dalam waktu 24-48
jam setelah kelahiran atau tidak tampak adanya lubang anus. Untuk mengetahui kelainan ini
secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui
anus.

Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah
terdapat anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan
yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam, berupa perut
kembung, muntah, tidak bisa buang air besar dan ada yang mengeluarkan tinja dari vagina
atau ureter.
Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Malformasi Anorektal

Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostic yang umum dilakukan
pada gangguan ini
Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium
Pemeriksaan sinar-X lateral inverse (teknik Wangensteen-Rice) dapat menunjukkan adanya
kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada atau di dekat perineum; dapat
menyesatkan jika rectum penuh dengan mekonium yang mencegah udara sampai keujung
kantong rectal
Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rectal
Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan cara menusukkan jarum tersebut
sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm,
defek tersebut dianggap sebagai defek tingkat tinggi

Komplikasi Malformasi Anorektal

Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas
mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah
pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah,
anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi
konstipasi.

Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat
ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90%
anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar,
66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan
fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus
imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.

Selain itu, komplikasi lain yang dapat muncul yaitu :

Asidosis hiperkloremia
Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
Komplikasi jangka pendek :
Eversi mukosa anal
Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).

Penatalaksanaan / Pengobatan Malformasi Anorektal

Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan defek. Semakin
tinggi lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan
kolostomi beberapa hari setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur
penarikan perineum abdominal), umumnya ditunda 9-12 bulan.

Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada
otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat
badannya dan bertambah baik status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong
rectal melalui sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek
membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal. Membran tersebut
dilubangi dengan hemostat atau scalpel.

Pada kebanyakan kasus, pengobatan malformasi anorektal memerlukan dua tahap tindakan
pembedahan. Untuk defek ringan sampai sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat
diperbaiki, peristalsis dan kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat
umumnya disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil
tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi sedang untuk
membuka pasase feses.

Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah anoplasti perineal atau
colostomy : prosedur operasi termasuk menghubungkan bagian atas colon dengan dinding
anterior abdomen, pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini
dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.

Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan terkumpul dalam
kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila perlu. Pengobatan pada anus
malformasi anorektal juga dapat dilakukan dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital
Anorectoplasy). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien.

Teknik ini merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT).
Teknik lama ini mempunyai resiko gagl tinggi karena harus membuka dinding abdomen

Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal


RENCANA Asuhan Keperawatan
Pengkajian Askep Malformasi Anorektal

Lakukan pengkajian kepatenan lubang anal pada bayi baru lahir


Observasi adanya pasase mekonium. Perhatikan bila mekonium tampak pada orifisium
yang tidak tepat.
Observasi feses yang seperti karbon pada bayi yang lebih besar atau anak kecil yang
mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi abdomen
Bantu dengan prosedur diagnostik mis : endoskopi, radiografi

Dioagosa Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan. intake tidak adekuat


Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan
rectum
Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi

Intervensi Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat


Tujuan : Mempertahankan Berat Badan stabil / menunjukkan kemajuan peningkatan
Berat Badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
Intervensi Keperawatan :
Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila
terjadi perubahan posisi.
Rasional : Memberikan istirahat pada traktus GI. Selama fase pasca operasi akut
sampai kembali berfungsi normal
Berikan perawatan oral secara teratur
Rasional : Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah
Kolaborasi pemberian cairan IV,
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai
Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.
Rasional : Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan terjadinya
konstipasi.
Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :
Menyatakan nyeri hilang
Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat
Intervensi Keperawatan :
Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
Rasional : Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi
Catat petunjuk nonverbal. Mis: gelisah, menolak untuk bergerak
Rasional : Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan fisiologis
dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah
Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri
Rasional : Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi
terjadinya komplikasi
Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan meningkatkan
koping
Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit
Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan
rectum
Tujuan :
Menormalkan fungsi usus
Mengeluarkan feses melalui anus
Intervensi Keperawatan :
Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
Rasional : Memperoleh informasi tentang kondisi usus
Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi defekasi hilang
Berikan enema jika diperlukan
Rasional : Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi
Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan: Pola nafas efektif, tidak ada gangguan pernafasan
Intervensi Keperawatan :
Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan
Rasional : Nafas dangkal, distress pernafasan, menahan nafas, dapat menyebabkan
hipoventilasi
Dorong latihan napas dalam
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru maksimal dan alat pembersihan jalan napas,
sehingga menurunkan resikoatelektasis
Berikan oksigen tambahan
Rasional : memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan peningkatan kerja nafas
Tinggikan kepala tempat tidur 300
Rasional : Mendorong pengembangan diafragma / ekspansi paru optimal dan
meminimalkan isi abdomen pada rongga thorax
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi
Intervensi Keperawatan :
Observasi luka, catat karakteristik drainase
Rasional : Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama,
dimana infeksi dapat terjadi kapan saja
Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik
Rasional : Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk
menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi
Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali
Rasional : Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi praap / post op
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
Tujuan:
Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi
Menerima perubahan kedalam konsep diri
Intervensi Keperawatan :
Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa
Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan
Rasional : Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan
terapi lebih kuat
Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan
perawatan
Rasional : Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki
kepercayaan diri
Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma
Rasional : Membantu dalam menerima kenyataan
Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien
Rasional : Meningkatkan kontrol dan harga diri
Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan
Rasional : Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi
Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / proses penyakit, tindakan dan
prognosis
Intervensi Keperawatan :
Tentukan persepsi anak tentang penyakit
Rasional : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar
individu
Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis
Rasional : Meningkatkan pemahaman dan kerjasama
Tekankan pentingnya perawatan kulit pada orang tua
Rasional : Menurunkan penyebaran bakter
.1 Latar belakang
Malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak
sempurna, sedangkan kloaka persisten diakibatkan karena pemisahan antara traktus urinarius,
traktus genitalia dan traktus digestivus tidak terjadi. Banyak anak-anak dengan malformasi ini
memiliki anus imperforata karena mereka tidak memiliki lubang dimana seharusnya anus
ada. Walaupun istilah ini menjelaskan penampilan luar dari anak, istilah ini lebih ditujukan
pada kompleksitas sebenarnya dari malformasi.
Malformasi anorektal terjadi setiap 1 dari 5.000 kelahiran. Malformasi ini lebih sering terjadi
pada pria dan pria dua kali lebih banyak mengalami malformasi anorektal letak tinggi atau
intermediet. Empat puluh sampai tujuh puluh persen dari penderita mengalami satu atau lebih
defek tambahan dari sistem organ lainnya. Manajemen dari malfomasi anorektal pada periode
neonatal sangatlah krusial karena akan menentukan masa depan dari sang anak. Keputusan
yang paling penting adalah apakah pasien memerlukan kolostomi dan diversi urin untuk
mencegah sepsis dan asidosis metabolik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang
anatominya, diagnosis yang lebih cepat dari malformasi anorektal dan defek yang berkaitan
dan bertambahnya pengalaman dalam memanajemen, akan didapatkan dengan hasil yang
lebih baik.
Oleh karena pernyataan diatas, membuat kami tertarik untuk mengangkat dan
membahas materi tentang asuhan keperawatan pada anak dengan malformasi anorektal.
Sehingga kita sebagai mahasiswa keperawatan dapat mengetahui dan memahami asuhan
keperawatan pada anak dengan malformasi anorektal.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca tentang asuhan
keperawatan pada anak dengan malformasi anorektal.

1.2.2 Tujuan Khusus


Penyusun diharapkan dapat memahami:
1. Konsep dasar penyakit MAR
2. Konsep asuhan keperawatan MAR
1) Pengkajian
2) Diagnosa keperawatan
3) Perencanaan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Pengertian
Malformasi anorektal adalah suatu kelainan malformasi congenital dimana tidak lengkapnya
perkembangan embrionik pada bagian anus atau tertutupnua anus secara abnormal atau
dengan kata lain tidak ada lubang secara tetap pada daerah anus. (Hidayat , A.Aziz
Alimul.2006:26)
Malformasi anorektal (anus imperforate) adalah malformasi congenital dimana rectum tidak
mempunyai lubang keluar. Anus tidak ada, abnormal atau ektopik. Kelainan anorektal umum
pada laki-laki dan perempuan memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan
tinggi diantara usus, muskulus levator ani, kulit, uretra dan vagina (Donna L.Wong,2004 :
520)
Malformasi anorektal adalah kelainan bawaan anus yang disebabkan oleh ganggan
pertumbuhan dan pembentukan anus dari tonjolan embrionik. (Manjoer Arif, dkk. 2003:379)
Dari pengertian diatas bisa dapat disimpulkan bahwa marformasi anorektal adalah suatu
kelainan congenital dan tidak lengkapnya perkembangan embrionik dimana rectum tidak
mempunyai lubang keluar yang disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan pembentukan
anus.

2.1.2 Embriologi
Secara embriologis, didalam saluran penceranaan berasal dari Foregut, midgut dan Hindgut.
Foregut akan membentuk faring, system pernafasan bagian bawah, esophagus, lambung,
sebagian duodenum, hati dan system bilier serta pancreas. Midgut membentuk usus halus,
sebagian duodenum, sekum, apendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon transversum.
Hindgut meluas dari Midgut hingga ke membrane kloaka, membrane ini terusun dari
endoderm kloaka, dan ectoderm dari protoderm/analpit. Usus terbentuk mulai minggu
keempat disebut sebagai primitive gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum
urorektalis menghasilkan anomaly letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomaly letak
rendah atau infra levator berasal dari efek perkembangan prokoderm dan lipatan genital. Pada
anomaly letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal, sedangkan otot sfingter
eksetrnus dan tidak ada atau rudimeter.

2.1.3 Anatomi dan Fisiologi Rektum dan Anus


2.1.3.1 Rectum
Rektum adalah bagian terminal dari saluran pencernaan bawah yang merupakan tabung
berongga sepanjang 10-15 cm dan sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar
(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sementeara feses. Biasanya rectum ini kosong karenea tinja disimpan di tempat
yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk
ke dalam rectum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya
dinding rectum karena penumpukan material di dalam rectum akan memicu system saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering
kali material akan dikembalikan ke usu besar, dimana penyerapan air akan kembali
dilakuakan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan
feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi
bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yahng
penting untuk menunda BAB.

2.1.3.2 Anus
Merupakan lubang di ujung slauran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh.
Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus.
Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphincter. Feses dibuang dari tubuh melalui
proses defekasi (buang air besar – BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

2.1.4 Etiologi
Secara pasti penyebab dari Malformasi Anorektal (MAR) belum diketahui. Namun para ahli
memperkirakan malformasi anorektal (MAR) ini merupakan anomaly gastrointestinal dan
genitourinaria yang bersifat congenital (suriyadi dan Rita yuliani. 2001 : 198)

2.1.5 Patofisiologi
Malformasi anorektal dapat terjadi karena kelainan congenital dimana saat proses
perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rectum. Dalam
perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan
berkembang jadi genitor urinary dan struktur anorektal. Malformasi anorektal terjadi karena
tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7-10 mingggu selama
perkembangan janin. Kegagalan migrasi tersebut juga karena gagalnya agenesis sacral dan
abnormalitas pada daerah uretra dan vagina atau juga pada proses obstruksi. Malformasi
anorektal dapat terjadi karena tida adanya pembukaan usus besar yang keluar anus sehingga
menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.

2.1.6 Klasifikasi
Klasifikasi malformasi anorektal menurut Wong 2004 : 520
Pada Malformasi Anorektal penanganan yang dilakukan tergantung dari letak ujung atresia
terhadap dasar panggul, sehingga anomaly tersebut dibuat menjadi tipe rendah, tipe
intermediate, dan tipe tinggi.
Perbedaan dari 3 tipe diatas dapat dilihat dibawah ini :
1. Tipe Bawah
Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puboorektalis. Terdapat sfingter
internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat
hubungan dengan saluran genitourinaius.

2. Tipe Intermediet
Rectum berada pada atau dibawah tingkat otot puborektalis, lesung anal dan sfingter
eksternal berada pada posisi yang normal.

3. Tipe tinggi
Ujung rectum diatas otot puborektalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya
berhubungan dengfan fistula genitourinarius rektouretal (pria) atau rektovaginal (wanita).

Klasifikasi malformasi anorektal menurut Wingspraad, 1981


Penggolongan anatomis malformasi anorektal:

Laki – laki
Golongan I : Tindakan :
1. Fistel urine Kolostomi neonatus pada usia 4-6
2. Atresia rekti bulan
3. Perineum datar
4. Tanpa fistel udara> 1cm dari kulit pada invertogram
Golongan II : Tindakan :
1. Fistel perineum Operasi definitif neonatus tanpa
2 Membran anal kolonostomi
3 Stenosis ani
4 Bucket handle
5 Tanpa fistel, udara < 1 cm dari kulit pada invertogram
Perempuan
Golongan I : Tindakan :
1 Kloaka Kolostomi neonatus pada usia 4-6 bulan
2 Fistel vagina
3 Fistel vestibulo ano
4 Atresia rekti
5 Tanpa fistel udara> 1cm dari kulit pada
invertogram
Golongan II : Tindakan :
1 Fistel perineum Operasi definitif neonatus tanpa kolonostomi
2 Stenosis ani
3 Tanpa fistel, udara < 1 cm dari kulit pada
invertogram

Gambaran kelainan anorektum


A Membran anal
1. Udara direktum
2. Tulang belakang sakrum
B Atresia ani letak rendah (mungkin dengan fistel keperineum anterior)
C Atresia ani letak tinggi (mungkin sekali dengan fistula ke uretra atau buli – buli)
D Atresia rectum
1. Udara direktum
2. Tulang belakang sakrum
3. Atresia rectum
4. Anus

Gambar atresia ani letak tinggi


A Fistula rektovesikal
1. Udara didalam rektum
2. Tulang belakang sakrum
3. Kandung kemih
4. Simpisis
5. Uretra
6. Fistula rektovesikal
B Fistula rektouretra

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik


1). Pemeriksaan radiologi Invertogram
Yaitu teknik pengambilan foto untuk menilai jarak pungtum distal rectum terhadap muara
anus di kulit peritoneum.
2). X-ray untuk memperlihatkan adanya gas dalam usus.
3). Pewarnaan Radiopatik dimuskan ke dalam traknus urinarius misalnya sistouretogram
mikturasi akan memperlihatkan hubungan rekto urinarius dan kelainan urinarius.
4). Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong.
5). Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut ke
sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm
defek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
6). Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostic yang umum
dilakuakan pada gangguan ini.

Pemeriksaan khusus pada perempuan


Neonatus perempuan perlu pemeriksaan khusus karena seringnya ditemukan fistel ke
vestibulum atau vagina (80%-90%).
Kelainan letak tinggi. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi
feses menjadi tidak lancer sehingga sebaiknya cepat dilakukan kolostomi. Pada fistel
vestibulum, muara fistel terdapat di vulva. Umumnya evakuasi mulai terhambat saat
penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam
keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius,
traktus genitalis, dan jalan cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehungga perlu
cepat dilakukan kolostomi. Pada atresia rectum, anus tampak normal tetapi pada pemeriksaan
colok dubur, jari tidak ddapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium
sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel dibuat invertogram. Jika
udara lebih dari 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.
Kelainan Letak Rendah. Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat
letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu ada diposteriornya. Kelainan ini
umumnya menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak ditempat yang
seharusnya tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidak lancer sehingga biasanya harus segera
dilakukan tetapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara kurang 1 cm dari
kulit, dapat segera dilakukan pembedahan definitive. Dalam hal ini evakuasi tidak ada,
sehingga perlu dilakukan kolostomi.

Pemeriksaan khusus pada laki-laki


Yang harus diperhatikan ialah adanya fistel atau kenormalan bentuk perineum dan ada
tidknya butir mekonium di urine. Dari kedua hal tadi pad anak laki-laki dapat dibuat
kelompok dengan atau tanpa fistel urine dan fistel perineum.
Kelainan letak tinggi. Jika ada fistel urin tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum
uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis untuk
menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urine. Bila kateter terpasang dan
urine jernih, berarti fistel terletak di uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter
urine mengandung mekonium berarti fistel ke vesika urinaria. Bila evakuasi feses tidak
lancer, penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama
dengan perempuan, harus dibuat kolostomi. Jika tidak ada fistel dan udara lebih dari 1 cm
dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakuakn kolostomi.
Kelainan letak rendah. Fistel perineum sama pada wanita : lubangnnya terdapat anterior dari
letak anus normal. Pada membrane anal biasanya tampak bayangan mekonium dibawah
selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definitive secepat mungkin.
Pada stenosis anus, sama dengan pada wanita, tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak
ada fistel dan udara kurang 1 cm dari kulit pada invertogram, perlu juga segera dilakukan
pertolongan bedah.
2.1.8 Komplikasi
Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas
mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah
pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah,
anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi
konstipasi.
Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat
ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90%
anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar,
66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan
fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus
imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.
Selain itu, komplikasi lain yang dapat muncul yaitu :
1. Asidosis hiperkloremia
2. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
3. Komplikasi jangka panjang
4. Eversi mukosa anal
5. Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
6. Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
7. Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
8. Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
9. Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).
(Cecily., 2009:294)

2.1.9 Penatalaksanaan Medis


Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan defek. Semakin
tinggi lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan
kolostomi beberapa hari setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur
penarikan perineum abdominal), umumnya ditunda 3-12 bulan.
Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada
otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat
badannya dan bertambah baik status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong
rectal melalui sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek
membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal. Membran tersebut
dilubangi dengan hemostat atau scalpel.
Pada kebanyakan kasus, pengobatan malformasi anorektal memerlukan dua tahap tindakan
pembedahan. Untuk defek ringan sampai sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat
diperbaiki, peristalsis dan kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat
umumnya disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil
tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi sedang untuk
membuka pasase feses.
Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah anoplasti perineal atau
colostomy : prosedur operasi termasuk menghubungkan bagian atas colon dengan dinding
anterior abdomen, pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini
dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.
Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan terkumpul dalam
kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila perlu. Pengobatan pada anus
malformasi anorektal juga dapat dilakukan dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital
Anorectoplasy). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien.
Teknik ini merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT).
Teknik lama ini mempunyai resiko gagal tinggi karena harus membuka dinding abdomen.

2.1.9.1 Kolostomi
Kolostomi pada kolon desendens merupakan prosedur yang ideal untuk penatalaksanaan awal
malformasi anorktal. Tindakan kolostomi merupakan upaya dekomprasi, diversi, dan sebagai
proteksi terhadap kemungkinan terjadinya obstruksi usus. Kolostomi pada kolon desendens
mempunyai beberapa keuntungan disbanding dengan kolostomi pada kolon asendens atau
transversum. Bagian distal dari kolostomi akan mengalami disfungsi dan akan terjadi atropi
karena tidak digunakan. Dengan kolostomi pada kolon desendens maka segmen yang akan
mengalami disfungsi menjadi lebih pendek. Atropi dari segmen distal akan berakibat
tejadinya diare cair sampai dilakukan peneutupan stoma dan hal ini dapat diminimalkan
dengan melakukan kolostomi pada kolon desendens. Pembersihan mekanik kolon distal lebih
mudah dilakukan jika kolostomi terletak di bagian kolon desendens.
Pada kasus dengan fistel anorektal, urin sering keluar melalui kolon, untuk kolostomi distal
akan keluar memalui stoma bagian distal tanpa danya absorbs. Bila stoma terletak di kolon
proksimal, urin akan keluar ke kolon dan akan diabsorbsi, hal ini akan meningkatkan resiko
terjadinya asidosis metabolic. Loop kolostomi akan menyebabkan aliran urin dari stoma
proksimal ke distal usus dan terjadi infeksi saluran kencing serta pelebaran distal rectum.
Distensi rectum yang lama akan menyebabkan kerusakan dinding usus yang irreversible
disertai dengan kelainan hipomotilitas dinding usus yang menetap, hal ini akan menyebabkan
konstipasi di kemudian hari. Double barrel transversocolostomy dextra dengan tujuan
dekomprasi dan diversi memiliki keuntungan antara lain :
1 Meninggalkan seluruh kolon kiri bebeas pada saat tindakan definitf tidak menimbulkan
kesulitan
2 Tidak terlalu sulit dikerjakan
3 Stoma distal dapat berlaku sebagaimana muara pelepasan secret kolon distal
4 Feses kolon kanan relative tidak berbau dibanding kolon kiri oleh karena pembusukan
feses.
5 Dimungkinkan irigasi dan pengosongan dari kantong rectum yang buntu

2.1.9.2 Posterosagital anorectoplasty (PSARP)


Metode ini diperkenalkan oleh Pena dan de Vries pada tahun 1982. Prosedur ini memebrikan
beberapa keuntungan seperti kemudahan dalam operasi fistel rektourinaria maupun
rektovaginal dengan cara membelah otot pelvis, sing, dan sfingter. PSARP dibagi menjadi
tiga yaitu minimal, limited, dan full PSARP.
Posisi penderita adalah prone dengan elevasi pada pelvis. Dengan bantuan stimulator
dilakukan identifikasi anal dimple. Insisi dimulai dari tengah sacrum ke bawah melewati
pusat sfingter eksterna ampai kedepan kurang lebih 2 cm. Insisi diperdalam dengan membuka
subkutis, lemak, parasagital fibre dan muscle complex. Tulang coccygeus dibelah sehingga
tampak dinding belakang rectum. Rektum dibebaskan dari dinding belakang dan jika ada
fistel dibebaskan juga, rectum dipisahkan dengan vagina yang dibatasi oleh common wall.
Dengan jahitan, rectum ditarik melewati otot levator, muscle complex, dan parasagital fibre
kemudian dilakukan anoplasty dan dijaga agar tidak tegang.
Untuk minimal PSARP tidak dilakukan pemitingan otot levator maupun vertical fibre, yang
penting adalah memisahkan common wall untuk memsahkan rectum dengan vagina dan
dibelah hanya otot sfingter eksternus. Untuk limited PSARP yang dibelah adalah otot sfingter
eksternus, muscle fibre, muscle complex, serta tidak memberlah tulang coccygeus. Penting
melakukan diseksi rectum agar tidak merusak vagina. Masing-masing jenis prosedur
mempunyai indikasi yang berbeda. Minimal PSARP dilakukan pada fistell perianal, anal
stenosis, anal membrane, bucket handle, dan atresia ani tanpa fistel yang akhiran rectum
kurang dari 1 cm dari kuit. Limited PSARP dilakukan pada atresia ani dengan fistel
rektovestibular. Full PSARP dilakukan pada atresia ani letak tinggi, dengan gambaran
invertogram akhir rectum lebih dari 1 cm dari kulit, pada fistelrektovaginalis, fistel rekto
uretralis, atresia rectum, dan stenosis rectum.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
A. Pengumpulan Data
1) Identitas
a) Identitas anak
Nama, umur, jenis kelamin, agama, kedudukan klien dalam keluarga, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis, nomor rekam medic, alamat.

b) Identitas Orang tua


Nama ayah, nama ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat.

2) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Pada pengkajian keperawatan dapat ditemukan penyumbatan anus (anus tidak normal), tidak
adanya mekonium, adanya kembung dan terjadi muntah pada 24-48 jam setelah lahir. Atau
pada bayi laki-laki dengan fistula urinaria didapatkan mekonium pada urin, dan pada bayi
perempuan dengan fistula urogenital ditemukan mekonium pada vagina.

b) Riwayat Kesehatan dahulu


1) Riwayat Parental
Kesehatan ibu selama hamil, kapan hari pertama haid terakhir (HPHT), imunisasi TT, nutrisi
selama ibu hamil dan kebiasaan atau perilaku ibu sewaktu hamil yang merugikan bagi
perkembangan dan pertumbuhan janin, seperti : kebiasaan merokok, minum kopi, minum
minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan obat obatan secara sembarang.

2) Riwayat intranatal
Lamanya kehamilan, jenis dan lamanya partus, jenis pertolongan persalinan, berat badan
lahir, keadaan bayi lahir awal, awal timbulnya pernafasan, tangisan pertama dan tindakan
khusus.

3) Riwayat neonatal
Skor APGAR (warna, sianosis, pucat, ikhterik), mucus yang berlebihan paralisis, konvulsi,
demam, kelainan congenital, kesulitan menghisap, kesulitan pemberian makan atau ASI.

c) Riwayat kesehatan Keluarga


Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga uang mengalami gangguan seperti yang
dialami klien atau gangguan tertentu yang berhubungan langsung dengan gangguan system
gastrointestinal.

3) Pemeriksaan Fisik
Pra Operatif
a) Daerah perineum dan
Inspeksi dengan cermat daerah perineum secara dini untuk mencari hubungan fistula ke kulit
untuk menemukan muara anus ektopik atau stenatik untuk memperbaiki bentuk luar jangka
panjang untuk melihat adanya mekonium (apakah keluar dari vagina atau keluar bersama
urine) untuk melihat adanya garis hitam yang menentukan letak fistel dan terapi segeranya.

b) Abdomen
- Memeriksa tanda-tanda obstruksi usus (perut kembung).
- Amati adanya distensi abdomen.
- Ukur lingkar abdomen.
- Dengarkan bising usus (4 kuadran).
- Perkusi abdomen
- Palpasi abdomen (mungkin kejang usus)

c) Kaji hidrasi dan status nutrisi


- Timbang berat badan tiap hari
- Amati muntah proyektif (karakteristik muntah)

d) TTV
- Pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui anus.
Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah
terdapat anus imperforata atau tidak.
- Ukur frekuensi pernafasan (terjadinya takipnea atau dispnea)
- Ukur nadi (terjadinya takikardia)

Post Operatif
a) Meliputi penampilan secara umum lemah, tingkat kesadaran berat badan, tinggi badan.
b) Tanda-tanda vital terdiri dari suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah
c) System pernapasan
Kaji adanya pernapasan cepat dan dangkal
d) Sistem Kardiovaskuler
Kaji adanya takhikardia, hipotensi, leukositosis
e) Sistem Pencernaan
Kaji adanya stoma pada abdomen, bising usus melemah atau menghilang. Adanya nyeri tekan
dan lepas pada daerah abdomen karena ada luka post kolostomi, pada anus terdapat post
operasi PSARP. Pemeriksaan pada Post Op yaitu infeksi terdapat kolostomi, warna pink
seperti cery atau merah kehitaman, adakah perdarahan stoma dan bagaimana jumlah dan tipe
feses. Bentuk abdomen datar, tekstur kulit lembut. Pada saat palpasi apakah adanya
pembesaran atau massa, kelembaban kulit kering, turgor kulit cepat kemali setelah dicabut,
tidak adanya pembesaran hepar dan limpa,pada saat auskultasi terdengar bising usus, pada
saat perkusi apakah terdapat bunyi timpani atau danles.
f) System endokrin
Pada system ini tidak ada gangguan spesifik yang menyertai MAR, kaji adanya pembesaran
kelenjar tiroid dan paratiroid.

g) Sistem Genitourinaria
Biasanya pasien dengan post op PSARP di pasang dower kateter, pada laki-laki bentuk
genetalia eksterna utuh, kaji apakah sudah disirkumisi, frekuensi BAK dan kelancarannya,
adanya fistula.
h) Sistem Muskuloskeletal
Pada system ini tidak ada gangguan spesifik yang menyertai MAR, kaji ROM, kekuatan otot,
dan reflex.
i) Sistem Integumen
Pada system ini tidak ada gangguan spesifik yang menyertai MAR, kaji adanya penurunan
turgor kulit dan peningkatan suhu tubuh.
j) Sistem persarafan
Kaji fungsi serebral dan cranial klien

4) Data Penunjang
Pada Pra operatif biasanya diperiksa hematologi diantaranya : haemoglobin, leukosit,
hematokrit dan trombosit.
Dan pada data laboratorium klien dengan post operasi (baru operasi) biasanya ditemukan
adanya peningkatan leukosit dari 10.000/mm3, hal ini menunjukan adanya infeksi oleh
mikroorganisme. Pada pemeriksaan Hb ditemukan adanya penurunan akibat adanya
perdarahan yang mlebih saat operasi atau nutrisi kurang dari kebutuhan namun setelah post
operasi yang lama tidak ditemukan adanya data laboratorium yang menyimpang dari harga
normal.

B. Analisis data
Merupakan proses berfikir secara ilmiah berdasarkan teori teori yang dihubungkan dengan
data-data yang ditemukan saat pengkajian, mengintreprastasikan data atau membandingkan
dengan standar fsiologi setelah dianalisa maka akan didapat penyebab terjadinya masalah
pada klien.
Data tersebut dapat diperoleh dari keadaan pasien yang tidak sesuai dengan standar criteria
yang sudah ada. Untuk itu perawat harus jeli memahami tentang standar keperawatan sebagai
bahan pembandingan, apakah keadan kesehatan klien sesuai atau tidak dengan standar yang
ada.
Pengelompokan data adalah mengelompokan data-data klien dimana klien mengalami
permasalahan kesalahan atau keperawatan berdasarkan criteria permasalahannya, setelah data
dikelompokan maka perawat dapat mengidentifikasi masalah keperawatan klien dan
merumuskannya.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Pra Operatif
1) Gangguan pola nafas berhubungan dengan penekanan torakal sekunder terhadap
distensi abdomen
2) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah
3) Ansietas pada orang tua berhubungan dengan tindakan / prosedur pembedahan

Post Operatif
1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas paru sekunder
terhadap pemberian anestesi.
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perlukaan jaringan pada pembedahan
3) Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
4) Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan. intake
tidak adekuat
5) Ganguan eliminasi berhubungan dengan …..
6) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya perlukaan jaringan
7) Perubahan terhadap pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnya
kemampuan fisik dan proses hospitalisasi
8) Kurang pengetahuan berhubungan pendidikan kesehatan tentang perawatan kolostomi

2.2.3 Perencanaan
Pra Operatif
No. Diagnosa Keperawatan Prencanaan
Tujuan Intervensi
1. Gangguan pola nafas Setelah dilakukan perawatan 1. Posisikan anak pada posis
berhubungan dengan selama 3x24 jam pola nafas nyaman dengan pengguanan banta
penekanan torakal sekunder efektif, dengan kriteria : 2. Catat TTV dan irama jantung
terhadap distensi abdomen - RR normal (30-60x/menit)
- Bunyi nafas regular 3. Berikan O2 sesuai d
- Tidak menggunakan otot kebutuhan
bantu pernafasan 4. Auskultasi bunyi nafas
- Tidak ada pernafasan adanya bunyi nafas adventisius se
cuping hidung krekel, mengi
5. Inpeksi adanya sianosis

2. Gangguan keseimbangan Setelah dilakukan perawatan 1. Ukur Jumlah Input output ca


cairan dan elektrolit selama 2x24 jam, klien 2. Inspeksi turgor kulit
berhubungan dengan muntah menunjukkan keseimbangan
cairan elektrolit, dengan kriteria: 3. Ukur tanda-tanda vital
- Keseimbangan jumlah
input dan output
- Turgor kulit elastic 4. Inspeksi adanya distensi abd
- TTV normal (suhu:36,5 –
37, RR: 35x/menit) 5. Kolaborasi berikan cairan IV
- Tidak didapatkan distensi
abdomen.
3. Ansietas pada orang tua Setelah dilakukan perawatan 1. Identifikasi ketidak tahuan
berhubungan dengan selama 1x24 jam, ansietas pada
tindakan / prosedur orang tua berkurang dengan 2. Peningkatan support te
pembedahan kriteria: keluarga “tindakan atu prosed
- Keluarga mampu tindakan tepat”
mengungkapkan rasa sakit, 3. Jelaskan tentang prosedur
penerimaan atas pembedahan, waktu
dan memahami prosedur
pembedahan.

Post Operatif
No. Diagnosa Keperawatan Prencanaan
Tujuan Intervensi
1. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan perawatan 1. Catat kecepatan/keda
berhubungan dengan selama 3x24 jam, pola nafas klien pernafasan, auskultasi bunyi nafas
penurunan kapasitas paru efektif, dengan kriteria: adanya pucat, sianosis,
sekunder terhadap - Klien tidak mengalami 2. Posisikan klien
0
pemberian anestesi. sianosi meninggikan kepala 30
- Tidak ada hipoksia
- Respirasi rate normal (30- 3. Ubah posisi secara periodic
60 x/menit) dan regular
- Tidak ada suara ngorok 4. Berikan O2 sesuai kebutuhan
2. Resiko tinggi infeksi Setelah dilakukan perawtan 1. Ukur suhu tubuh setiap 4 jam
berhubungan dengan selama 3x24 jam, tidak terdapat 2. Gunakan teknink septic dan
perlukaan jaringan pada infeksi, dengan kriteria: medic
pembedahan - Suhu normal : 36,50C – 3. Lakukan perawatan luka d
370C hati-hati agar luka tetap bersih
- tidak ada tanda-tanda 4. Ganti balutan luka setelah
radang (merah, bengkak, panas post operasi
area luka)
- balutan kering dan bersih. 5. Kolaborasi pem
antimicrobial / antibiotic
kebutuhan
3. Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan 1. Kaji dan catat adanya penin
terputusnya kontinuitas selama 3x24 jam, nyeri nyeri
jaringan berkurang, dengan kriteria:
- Klien tidak menangis
terus, ekspresi wajah wajar (tidak 2. Hindari palpasi area pemb
menahan nyeri). kecuali jika diperlukan
3. Berikan lingkungn yang n
dan tenang
4. Kolaborasi pemberian a
sesuai dan pantau keefektifannya
4. Gangguan pemenuhan Setelah dilakukan perawatan 1. Pertahankan potensi selang
nutrisi : kurang dari selama 3x24 jam, kebutuhan gastrik. Jangan mengembalikan
kebutuhan berhubungan nutrisi klien terpenuhi dengan selang bila terjadi perubahan posis
dengan. intake tidak adekuat kriteria: 2. Berikan perawatan oral
- BB klien naik teratur
- Hasil pemeriksaan 3. Kolaborasi pemberian cairan
laboratorium seperti Hb, Ht, dan 4. Awasi pemeriksaan laborat
elektrolit dalam keadaan normal Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.

5. Ganguan eliminasi Setelah dilakukan perawatan 1. Berikan penjelasan pada ke


berhubungan dengan ….. selama 2x24 jam, klien dapat tentang indikasi terpasangnya k
beradaptasi terhadap kolostomi
terpasangnya kantong kolostomi, 2. Kaji mengenai ke
dengan kriteria: karakteristik, dan konsistensi fece
- Aliran pengeluaran feces keluar
baik dengan konsistensi feces 3. Ganti kantong kolostom
yang keluar lembek sudah penuh
- Klien tampak nyaman dan 4. Pertahankan pemberian caira
tidak rewel akibat terpasangnya
kantung kolostomi
6. Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan perawatan 1. Inspeksi warna ukuran luka
berhubungan dengan adanya selama 4x24 jam tidak terdapat
perlukaan jaringan kerusakan integritas kulit, dengan 2. Bersihkan permukaan kulit d
kriteria : mengguanakna hydrogen/air
- Meningkatnya sabun lunat/ petrolatum
persembuhan luka dan bebas 3. Gunakan balutan teknik asep
tanda-tanda infeksi.
7. Perubahan terhadap Setelah dilakukan perawatan 1. Kaji tingkat perkembangan
pertumbuhan dan selama 2x24 jam tumbang dalam seluruh area fungsi.
perkembangan berhubungan tercapai sesuai usia, dengan 2. Ajarkan orang tua tentang
dengan melemahnya kriteria: perkembngan normal anak
kemampuan fisik dan proses - pasien memperlihatkan kelompok usianya.
hospitalisasi peningkatan karakteristik fisik, 3. Berikan kesempatan bagi s
perkembangan sensoris, perilaku anak sakit untuk memenuhi
sosialisasi, perkembangan perkambangan sesuai kelompok us
kognitif.

8. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan perawatan 1. Jelaskan dan demonstr


keluarga berhubungan selama 1x24 jam, keluarga perawatan stoma tahap demi tahap
pendidikan kesehatan mengetahui dan mengerti tentang
tentang perawatan perawatan kolostomi dengan
kolostomi kriteria:
1. klien dapat mengganti
kolostomi secara mendiri 2. Jelaskan peralatan yang di gun
2. klien dapat mengetahui tanda
– tanda iritasi pada kolostomi
3. klien dapat klien dapat 3. Jelaskan informasi t
mencegah terjadinya iritasi pada penatalaksanaan diit
colostomi makan diet rendah residu, tinggi
dan tinggi kalori

4. Jelaskan tanda- tanda iritas


stoma

5. Jelaskan cara mencegah agar


tidak terjadi iritasi
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Malformasi anorektal adalah kelainan kongenital yang relatif sering dan seringkali disertai
dengan kelainan kongenital lain. Kelainan-kelainan inilah yang seringkali bertanggung jawab
atas morbiditas dan mortalitas penderita MAR. Oleh karena itu, evaluasi yang seksama harus
dilakukan terhadap bayi penderita MAR untuk meminimalisir komplikasi-komplikasi ini.
Penyebab kasus MAR belum diketahui secara pasti, dan tindakan pembedahan pada Terapi
pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan. Semakin tinggi
lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan tinggi, dilakukan kolostomi
beberapa hari setelah lahir. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui
sfingter sampai lubang pada kulit anal, fistula, bila ada, harus ditutup. Defek membrane
mukosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal.

3.2 Saran
Bagi seorang perawat untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir
harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai
sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung
tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus
terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul
dalam 24-48 jam setelah lahir berupa perut kembung, muntah berwarna hijau.
Bagi seorang ibu lebih memperhatikan bila bayinya belum bab dalam waktu 24-48 jam, agar
segera datang kepusat pelayanan kesehatan untuk memeriksakan bayinya atau berkonsultasi
dengan tenaga kesehatan agar bisa dilakukan tindakan selanjutnya.