Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Tentang Asma Bronkial

1. Definisi

Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel

dimana trakea dan brokhi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli

tertentu (Smeltzer & Bare, 2012).

Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan

bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya

penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah ubah, baik

secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (Muttaqin, 2008).

Asma adalah wheezing berulang dan atau batuk persisten dalam keadaan

dimana asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih

jarang telah disingkirkan (Mansjoer, 2008). Asma Bronkhial adalah penyakit

pernafasan objektif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkus. Hal ini

menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.

2. Anatomi Fisiologi

a. Anatomi fisiologi sistem pernapasan

Organ pernapasan

1) Hidung

Hidung atau naso atau nasal merupakan saluran udara yang pertama,

mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung

8
(septum nasi). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk

menyaring udara, debu, dan kotoran yang masuk ke dalam lubang

hidung.

2) Faring

Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan

pernapasan dan jalan makanan, terdapat di bawah dasar tengkorak, di

belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.

Hubungan faring dengan organ-organ lain adalah ke atas berhubungan

dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama

koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan

ini bernama istmus fausium, ke bawah terdapat 2 lubang (ke depan

lubang laring dan ke belakang lubang esofagus).

3) Laring

Laring atau pangkal tenggorokan merupakan saluran udara dan

bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di depan bagian faring

sampai ketinggian vertebra servikal dan masuk ke dalam trakhea di

bawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang

tenggorokan yang biasanya disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang

tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan

menutupi laring.

4) Trakea

Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjutan dari laring yang

dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang

9
rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C) sebelah dalam

diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia,

hanya bergerak ke arah luar. Panjang trakea 9 sampai 11 cm

dan di belakang terdiri dari jarigan ikat yang dilapisi oleh otot polos.

5) Bronkus

Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trakea, ada

2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V,

mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set

yang sama. Bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah

tampuk paru-paru.Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari

pada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang.

Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri

dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang.Bronkus bercabang-cabang,

cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli

tidak terdapat cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat

gelembung paru atau gelembung hawa atau alveoli.

6) Paru-paru

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri

dari gelembung (gelembung hawa atau alveoli). Gelembung alveoli ini

terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas

permukaannya kurang lebih 90 m². Pada lapisan ini terjadi pertukaran

udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.

Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah

10
(paru-paru kiri dan kanan) Paru-paru dibagi dua yaitu paru-paru kanan,

terdiri dari 3 lobus (belahan paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus

media, dan lobus inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobulus. Paru-paru

kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferior. Tiap-

tiap lobus terdiri dari belahan yang kecil bernama segmen. Paru-paru

kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior,

dan 5 buah segmen pada inferior. Paru-paru kanan mempunyai 10

segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada

lobus medialis, dan 3 buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap

segmen ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama

lobulus. Di antara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi oleh

jaringan ikat yang berisi pembuluh darah getah bening dan saraf, dan

tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus

ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang ini disebut duktus

alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang

diameternya antara 0,2-0,3 mm. Letak paru-paru di rongga dada

datarannya menghadap ke tengah rongga dada atau kavum

mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau

hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus

oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2 yaitu, yang

pertama pleura visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru

yang langsung membungkus paru-paru. Kedua pleura parietal yaitu

selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara keadaan

11
normal, kavum pleura ini vakum (hampa) sehingga paru-paru dapat

berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang

berguna untuk meminyaki permukaanya (pleura), menghindarkan

gesekan antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gerakan

bernapas

Proses terjadi pernapasan

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar

yang mengandung oksigen serta menghembuskan udara yang banyak

mengandung karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.

Penghisapan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut

ekspirasi. Jadi, dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang

ditarik dan udara masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah

secara osmosis. Kemudian CO2 dikeluarkan melalui traktus respiratorius

(jalan pernapasan) dan masuk kedalam tubuh melalui kapiler-kapiler vena

pulmonalis kemudian massuk ke serambi kiri jantung (atrium sinistra)

menuju ke aorta kemudian ke seluruh tubuh (jaringan-jaringan dan selsel),

di sini terjadi oksidasi (pembakaran). Sebagai sisa dari pembakaran adalah

CO2 dan dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung

(serambi kanan atau atrium dekstra) menuju ke bilik kanan (ventrikel

dekstra) dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan paru-

paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses

pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan

sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus

12
urogenitalis dan kulit. Setelah udara dari luar diproses, di dalam hidung

masih terjadi perjalanan panjang menuju paru-paru (sampai alveoli). Pada

laring terdapat epiglotis yang berguna untuk menutup laring sewaktu

menelan, sehingga makanan tidak masuk ke trakhea, sedangkan waktu

bernapas epiglotis terbuka, begitu seterusnya. Jika makanan masuk ke

dalam laring, maka akan mendapat serangan batuk, hal tersebut untuk

mencoba mengeluarkan makanan tersebut dari laring. Terbagi dalam 2

bagian yaitu inspirasi (menarik napas) dan ekspirasi (menghembuskan

napas). Bernapas berarti melakukan inpirasi dan eskpirasi secara

bergantian, teratur, berirama, dan terus menerus. Bernapas merupakan

gerak refleks yang terjadi pada otot-otot pernapasan. Refleks bernapas ini

diatur oleh pusat pernapasan yang terletak di dalam sumsum penyambung

(medulla oblongata). Oleh karena seseorang dapat menahan,

memperlambat, atau mempercepat napasnya, ini berarti bahwa refleks

bernapas juga dibawah pengaruh korteks serebri. Pusat pernapasan sangat

peka terhadap kelebihan kadar CO2 dalam darah dan kekurangan dalam

darah. Inspirai terjadi bila muskulus diafragma telah mendapat rangsangan

dari nervus frenikus lalu mengerut datar. Muskulus interkostalis yang

letaknya miring, setelah ,mendapat rangsangan kemudian mengerut dan

tulang iga (kosta) menjadi datar. Dengan demikian jarak antara sternum

(tulang dada) dan vertebra semakin luas dan melebar. Rongga dada

membesar maka pleura akan tertarik, yang menarik paru-paru sehingga

tekanan udara di dalamnya berkurang dan masuklah udara dari luar.

13
Ekspirasi, pada suatu saat otot-otot akan kendor lagi (diafragma akan

menjadi cekung, muskulus interkostalis miring lagi) dan dengan demikian

rongga dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali, maka

udara didorong keluar. Jadi proses respirasi atau pernapasan ini terjadi

karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.

Pernapasan dada, pada waktu seseorang bernapas, rangka dada terbesar

bergerak, pernapasan ini dinamakan pernapasan dada. Ini terdapat pada

rangka dada yang lunak, yaitu pada orang-orang muda dan pada

perempuan.

Pernapasan perut, jika pada waktu bernapas diafragma turun naik,

maka ini dinamakan pernapasan perut. Kebanyakan pada orang tua,

Karena tulang rawannya tidak begitu lembek dan bingkas lagi yang

disebabkan oleh banyak zat kapur yang mengendap di dalamnya dan

banyak ditemukan pada laki-laki.

b. Fisiologi system pernafasan

Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia

sangat membutukan okigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan

oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang

tidak dapat diperbaiki lagidan bisa menimbulkan kematian. Kalau

penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan

anoksia serebralis.

14
1) Pernapaan paru

Pernapasan paru adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida yang

terjadi pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan

eksterna, oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu

bernapas yang oksigen masuk melalui trakea sampai ke alveoli

berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar. Alveoli

memisahkan okigen dari darah, oksigen menembus membran, diambil

oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dari jantung dipompakan

ke seluruh tubuh. Di dalam paru-paru karbondioksida merupakan hasil

buangan yang menembus membran alveoli. Dari kapiler darah

dikeluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai pada mulut dan

hidung.

2) Pernapasan sel

Transpor gas paru-paru dan jaringan

Selisih tekanan parsial antara O2 dan CO2 menekankan bahwa kunci

dari pergerakangas O2 mengalir dari alveoli masuk ke dalam jaringan

melalui darah, sedangkan CO2 mengalir dari jaringan ke alveoli melalui

pembuluh darah.Akan tetapi jumlah kedua gas yang ditranspor ke jaringan

dan dari jaringan secara keseluruhan tidak cukup bila O2 tidak larut dalam

darah dan bergabung dengan protein membawa O2 (hemoglobin).

Demikian juga CO2 yang larut masuk ke dalam serangkaian reaksi kimia

reversibel (rangkaian perubahan udara) yang mengubah menjadi senyawa

lain. Adanya hemoglobin menaikkan kapasitas pengangkutan O2 dalam

15
darah sampai 70 kali dan reaksi CO2 menaikkan kadar CO2 dalam darah

mnjadi 17 kali.

Pengangkutan oksigen ke jaringan

Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-paru dan

sistem kardiovaskuler. Oksigen masuk ke jaringan bergantung pada

jumlahnya yang masuk ke dalam paru-paru, pertukaran gas yang cukup

pada paru-paru, aliran darah ke jaringan dan kapasitas pengangkutan O2

dalam darah.Aliran darah bergantung pada derajat konsentrasi dalam

jaringan dan curah jantung. Jumlah O2 dalam darah ditentukan oleh

jumlah O2 yang larut, hemoglobin, dan afinitas (daya tarik) hemoglobin.

Transpor oksigen melalui beberapa tahap yaitu :

a) Tahap I : oksigen atmosfer masuk ke dalam paru-paru. Pada waktu

kita menarik napas tekanan parsial oksigen dalam atmosfer 159

mmHg. Dalam alveoli komposisi udara berbeda dengan komposisi

udara atmosfer tekanan parsial O2 dalam alveoli 105 mmHg.

b) Tahap II : darah mengalir dari jantung, menuju ke paru-paru untuk

mengambil oksigen yang berada dalam alveoli. Dalam darah ini

terdapat oksigen dengan tekanan parsial 40 mmHg. Karena adanya

perbedaan tekanan parsial itu apabila tiba pada pembuluh kapiler yang

berhubungan dengan membran alveoli maka oksigen yang berada

dalam alveoli dapat berdifusi masuk ke dalam pembuluh kapiler.

Setelah terjadi proses difusi tekanan parsial oksigen dalam pembuluh

menjadi 100 mmHg.

16
c) Tahap III : oksigen yang telah berada dalam pembuluh darah

diedarkan keseluruh tubuh. Ada dua mekanisme peredaran oksigen

dalam darah yaitu oksigen yang larut dalam plasma darah yang

merupakan bagian terbesar dan sebagian kecil oksigen yang terikat

pada hemoglobin dalam darah. Derajat kejenuhan hemoglobin dengan

O2 bergantung pada tekanan parsial CO2 atau pH. Jumlah O2 yang

diangkut ke jaringan bergantung pada jumlah hemoglobin dalam

darah.

d) Tahap IV : sebelum sampai pada sel yang membutuhkan, oksigen

dibawa melalui cairan interstisial lebih dahulu. Tekanan parsial

oksigen dalam cairan interstisial 20 mmHg. Perbedaan tekanan

oksigen dalam pembuluh darah arteri (100 mmHg) dengan tekanan

parsial oksigen dalam cairan interstisial (20 mmHg) menyebabkan

terjadinya difusi oksigen yang cepat dari pembuluh kapiler ke dalam

cairan interstisial.

e) Tahap V : tekanan parsial oksigen dalam sel kira-kira antara 0- 20

mmHg. Oksigen dari cairan interstisial berdifusi masuk ke dalam sel.

Dalam sel oksigen ini digunakan untuk reaksi metabolism yaitu reaksi

oksidasi senyawa yang berasal dari makanan (karbohidrat, lemak, dan

protein) menghasilkan H2O, CO2 dan energi. Reaksi hemoglobin dan

oksigen Dinamika reaksi hemoglobin sangat cocok untuk mengangkut

O2.Hemoglobin adalaah protein yang terikat pada rantai polipeptida,

dibentuk porfirin dan satu atom besi ferro. Masing-masing atom besi

17
dapat mengikat secara reversible (perubahan arah) dengan satu

molekul O2. Besi berada dalam bentuk ferro sehingga reaksinya

adalah oksigenasi bukan oksidasi.

Transpor karbondioksida

Kelarutan CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2 sehingga

terdapat lebih banyak CO2 dari pada O2 dalam larutan sederhana. CO2

berdifusi dalam sel darah merah dengan cepat mengalami hidrasi menjadi

H2CO2 karena adanya anhidrase (berkurangnya sekresi kerigat) karbonat

berdifusi ke dalam plasma. Penurunan kejenuhan hemoglobin terhadap O2

bila darah melalui kapiler-kapiler jaringan.Sebagian dari CO2 dalam sel

darah merah beraksi dengan gugus amino dari protein, hemoglobin

membentuk senyawa karbamino (senyawa karbondioksida). Besarnya

kenaikan kapasitas darah mengangkut CO2 ditunjukkan oleh selisih antara

garis kelarutan CO2 dan garis kadar total CO2 di antara 49 ml CO2 dalam

darah arterial 2,6 ml dalah senyawa karbamino dan 43,8 ml dalam HCO2.

3. Etiologi

Sampai saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum diketahui. Suatu hal

yang yang menonjol pada penderita Asma adalah fenomena hiperaktivitas

bronkus. Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi

maupun non imunologi. Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering

menimbulkan Asma adalah:

18
a. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen

atau alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulu bulu

binatang.

b. Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen, seperti

common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan polutan

lingkungan dapat mencetuskan serangan.

c. Asma gabungan

Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari

bentuk alergik dan non-alergik (Smeltzer & Bare, 2012).

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi

timbulnya serangan Asma Bronkhial yaitu :

a. Faktor predisposisi

Genetik

Faktor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum

diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan

penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita

penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah

terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus.

Selain itu hipersensitivitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.

b. Faktor presipitasi

1) Alergen, Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

a) Inhalan : yang masuk melalui saluran pernapasan Contoh : debu,

bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi

19
b) Ingestan : yang masuk melalui mulut Contoh : makanan dan obat-

obatan

c) Kontaktan : yang masuk melalui kontak dengan kulit Contoh :

perhiasan, logam dan jam tangan

2) Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering

mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan

faktor pemicu terjadinya serangan Asma. Kadang kadang serangan

berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.

3) Stres

Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan Asma,

selain itu juga bisa memperberat serangan Asma yang sudah ada.

Disamping gejala Asma yang timbul harus segera diobati penderita

Asma yang mengalami stres atau gangguan emosi perlu diberi nasehat

untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum

diatasi maka gejala belum bisa diobati.

4) Lingkungan kerja

Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan

Asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang

yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes,

polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

20
5) Olah raga atau aktifitas jasmani

Sebagian besar penderita Asma akan mendapat serangan jika

melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat

paling mudah menimbulkan serangan Asma. Serangan asma karena

aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

4. Patofisiologi

Suatu serangan Asma merupakan akibat obstruksi jalan napas difus

reversible. Obstruksi disebabkan oleh timbulnya tiga reaksi utama yaitu

kontraksi otot-otot polos baik saluran napas, pembengkakan membrane yang

melapisi bronki, pengisian bronki dengan mukus yang kental. Selain itu, otot-

otot bronki dan kelenjar mukusa membesar, sputum yang kental, banyak

dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap

didalam jaringan paru.Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang

sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan

ikatan antigen dengan antibody, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast

(disebut mediator) seperti histamine, bradikinin, dan prostaglandin serta

anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A).

Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos

dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan

membran mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat banyak. Selain itu,

reseptor α- dan β- adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak dalam bronki.

Ketika reseptor α- adrenergic dirangsang, terjadi bronkokonstriksi,

bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β- adrenergik yang dirangsang.

21
Keseimbangan antara reseptor α- dan β- adrenergik dikendalikan terutama

oleh siklik adenosine monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor α-

mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator

kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi

reseptor β- mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP yang menghambat

pelepasan mediator kimiawi dan menyebabakan bronkodilatasi. Teori yang

diajukan adalah bahwa penyekatan β- adrenergik terjadi pada individu dengan

Asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator

kimiawi dan konstriksi otot polos (Smeltzer & Bare, 2012).

5. Manifestasi Klinik

Gejala-gejala yang lazim muncul pada Asma Bronkhial adalah batuk,

dispnea, dan wheezing. Serangan seringkali terjadi pada malam hari. Asma

biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai

dengan pernapasan lambat,wheezing. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang

dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan

menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. Jalan napas yang

tersumbat menyebabkan dispnea. Serangan Asma dapat berlangsung dari 30

menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meskipun

serangan asma jarang ada yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih

berat, yang disebut “status asmatikus”, kondisi ini mengancam hidup

(Smeltzer & Bare, 2012).

22
6. Komplikasi

Berbagai komplikasi menurut Mansjoer (2008) yang mungkin timbul adalah :

a. Pneumothoraks

Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura yang

dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada. Keadaan ini dapat

menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat menyebabkan

kegagalan napas.

b. Pneumomediastinum

Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma “udara”, juga dikenal

sebagai emfisema mediastinum adalah suatu kondisi dimana udara hadir

di mediastinum. Pertama dijelaskan pada 1819 oleh Rene Laennec,

kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang

mengarah ke udara keluar dari paru-paru, saluran udara atau usus ke

dalam rongga dada.

c. Atelektasis

Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat

penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat

pernafasan yang sangat dangkal.

d. Aspergilosis

Aspergilosis merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur

dan tersifat oleh adanya gangguan pernapasan yang berat. Penyakit ini

juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya, misalnya pada

23
otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk menunjukkan adanya

infeksi Aspergillus sp.

e. Gagal napas

Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap karbodioksida

dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan

pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh.

f. Bronkhitis

Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan bagian

dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronkhiolis)

mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi peningkatan produksi

lendir (dahak). Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang

dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan, atau merasa sulit

bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit oleh adanya

lendir.

g. Fraktur iga

B. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Berdasarkan

pengalaman penelitian terbukti bahwa prilaku yang didasarkan oleh

pengetahuan akan lebih langgeng dari pada prilaku yang tidak didasarkan oleh

pengetahuan (Notoatmodjo, 2012). Penelitian Rogers (1974) dalam

24
Notoatmodjo 2012 mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi

perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses

yang berurutan, yakni :

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebh dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation (menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik.

d. Trial, dimana orang telah mencoba perilaku baru.

e. Adoption (adaptasi), dimana subyek telah berperilaku baru sesuai

dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012),

yaitu :

a. Tingkat Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka dia akan lebih mudah

dalam menerima hal-hal baru sehingga akan lebih mudah pula untuk

menyelesaikan hal-hal baru tersebut.

b. Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan

memberikan pengetahuan yang jelas.

25
c. Budaya

Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang,

karena informasi-informasi baru akan di saring kira-kira sesuai dengan

kebudayaan yang ada dan agama yang dianut.

d. Pengalaman

Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu,

maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan luas sedang umur

semakin banyak (bertambah tua).

e. Sosial Ekonomi

Tingkatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup disesuaikan

dengan penghasilan yang ada, sehingga menuntut pengetahuan yang

dimiliki harus dipergunakan semaksimal mungkin. begitupun dalam

mencari bantuan ke sarana kesehatan yang ada, mereka sesuaikan dengan

pendapatan keluarga.

3. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012) Pengetahuan yang dicakup dalam domain

kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

a. Tahu

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya.

26
b. Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

c. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

d. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau

suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu

struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.

f. Evaluasi

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek.

4. Kategori Tingkat Pengetahuan

a. Tinggi

Tinggi diartikan seseorang mampu mempengaruhi, memahami,

mengaplikasikan, menganalisis dan menghubungkan antara suatu materi

27
dengan materi lainnya serta kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu objek.

b. Rendah

Pengetahuan rendah diartikan apabila individu tidak mampu untuk

mengetahui, memahami, mengaplikasikan, dan mengevaluasi suatu materi

atau objek lain.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang bertujuan untuk mengetahui atau menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden

(Notoatmodjo, 2010). Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang bertujuan untuk mengetahui atau menanyakan

tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden

(Notoatmodjo, 2010). Hasil ukur pada pengetahuan akan dinilai tinggi jika ≥

mean/median dan rendah jika < mean/median. Untuk menentukan

mean/median akan dilakukan Standar Skewnees dengan Uji One Sample

Kolmogrorov-smirnov dimana untuk mengetahui apakah mean/ median

berada pada suatu titik. Jika p>0,05 kurva normal maka menggunakan

mean, jika p<0,05 kurva tidak normal maka menggunakan median

(Notoadmojo, 2010).

28
C. Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau obyek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung

dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang

tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi

terhadap stimulus tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau

aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku

(Notoatmodjo, 2012).

2. Faktor Pembentuk Sikap

a. Pengalaman Pribadi

Apa yang dialami seseorang akan mempengaruhi penghayatan dalam

stimulus sosial.

b. Orang lain

Seseorang cenderung akan memiliki sikap yang disesuaikan atau sejalan

dengan sikap yang dimiliki orang yang dianggap berpengaruh antara lain

adalah ; Orang tua, teman dekat, teman sebaya, rekan kerja, guru, suami

atau istri.

c. Kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup akan mempengaruhi pembentukan sikap

seseorang.

29
d. Media Massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio,

surat kabar, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap

pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Lembaga pendidikan serta lembaga agama suatu sistem mempunyai

pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan keduanya meletakkan

dasar dan pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

f. Faktor Emosional

Kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari

oleh emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau

pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

3. Komponen Sikap

Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2012) mengatakan sikap itu mempunyai 3

komponen pokok, yakni :

a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu obyek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu obyek.

c. Kecenderungan untuk bertindak

Ketiga komponen ini bersama–sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan

emosi memegang peranan penting. (Notoatmodjo, 2012).

30
4. Tingkatan Sikap

a. Menerima (Receiving)

Subyek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan obyek.

b. Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan.

c. Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu

masalah.

d. Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya merupakan

tingkat sikap yang paling penting.

5. Klasifikasi sikap

Menurut Notoadmodjo (2012), sikap dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Sikap positif

Sikap positif adalah sikap yang menunjukkan penerimaan, pengakuan,

menyetujui, menyenangi suatu objek tertentu.

b. Sikap negatif

Sikap negatif adalah sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak

menyetujui suatu objek tertentu, yang mengarah pada tindakan yang salah.

Pengukuran sikap dapat menggunakan skala likert. Bentuk jawaban

pernyataan atau pernyataan yang masuk dalam kategori skala likert adalah

sebagai berikut (Arikunto, 2012) :

31
Tabel 2.1
Kategori Skala Likert

Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai


Sangat setuju : ST 4 Sangat setuju : ST 1
Setuju :S 3 Setuju :S 2
Tidak setuju : TS 2 Tidak setuju : TS 3
Sangat tidak setuju : SS 1 Sangat tidak setuju : SS 4

D. Kerangka teori

Bagan 2.1
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan upaya
penanggulangan penyakit asma bronkial

Prilaku menurut Bloom :


1. Pengetahuan Upaya penanggulangan
2. Sikap penyakit asma bronkial
3. Tindakan

Sumber : Smeltzer & Bare (2010), Bloom dalam Notoadmojo (2012)

32