Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi yang sering dialami oleh
pasien diabetes yang sulit sembuh sehingga dilakukan amputasi. Banyak penelitian
yang menyatakan bahwa sekitar 4-10% akan mengalami masalah pada kaki diabetisi
dan sebagian besar diantaranya (40-70%) harus menjalani amputasi pada organ kaki
yang memiliki luka diabetik (Hardiman, Sutedjo, dan Salim, 2013). Sari (2015 dalam
Forozandeh, 2005) mengemukakan risiko penderita DM untuk terkena luka kaki DM
sepanjang hidupnya adalah sebesar 15% dan risiko luka kaki DM dan amputasi
meningkat 2-4 kali seiring dengan peningkatan usia dan lamanya menderita DM. Setiap
tahun lebih dari 1 juta orang penderita diabetes mellitus kehilangan salah satu kakinya
sebagai komplikasi diabetes mellitus. Ini berarti bahwa setiap 30 detik, satu tungkai
bawah 40-70 % berkaitan dengan diabetes pada banyak studi, insiden amputasi tungkai
bawah diperkirakan 5 sampai 25 per 100.000 orang pertahun, sedangkan diantara
penderita diabetes, jumlah penderita yang diamputasi sebanyak 6 sampai 8 per 1000
orang,sebagian besar amputasi ini didahului kejadian ulkus kaki (Semer, 2013). Oleh
karena itu, sebagian penderita diabetes mellitus ditemukan memiliki ulkus diabetik,
ulkus dapat berkembang dan apabila tidak ditangani dengan baik secara intensif dapat
berakibat fatal hingga amputasi pada daerah luka.
Peningkatan prevelensi DM tentunya akan diikuti oleh peningkatan risiko
terjadinya komplikasi kronik DM, yaitu ulkus kaki diabetic (UKD) yang merupakan
masalah kesehatan yang terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat di dunia.
Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2015 terdapat 415
juta penduduk di dunia yang menyandang DM dan diprediksi 25 tahun mendatang akan
meningkat menjadi 642 juta jiwa (55%). Peringatan Hari Diabetes Sedunia yang
dimulai oleh international diabetes federation (IDF) dan World Health Organitation
(WHO) menyebutkan sekitar 15% pasien akan mengalami ulkus diabetik yang sering
kali berakhir dengan amputasi dengan stadium lanjut (Maryunani, 2013). Menurut
Awan (2017 dalam Desalu et al, 2011) prevalensi luka kaki diabetik di Amerika (1,0%-
4,1%), Kenya (4,6%), Nigeria (19,1%), dan Iran (20%). Oleh karena itu, penderita
diabetes mellitus didunia diperkirakan akan bertambah, sehingga 15% dari jumlah
penderita diabetes mellitus sangat rentan terhadap terjadinya ulkus diabetikum dan
beresiko untuk diamputasi, dan masalah ini bukan hanya terjadi pada Negara
berkembang tetapi juga terjadi pada Negara maju.
Di Indonesia penderita diabetes mellitus cukup banyak sehingga sangat beresiko
tinggi adanya ulkus diabetikum . Prevalensi DM tahun 2015 di Indonesia yaitu sekitar
10 juta jiwa sehingga dari hasil survey tersebut menempatkan Indonesia berada
diperingkat ke-7 dari 10 negara dengan penyandang DM terbesar diseluruh dunia (IDF,
2015). Menurut Infodatin, 2014 prevalensi DM di Indonesia jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Hal ini dibuktikan
dengan temuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007 (1.1 %) dan 2013
(2.1 %). Pravelensi ulkus diabetik para penderita DM di Indonesia sebesar 15% dengan
angka kematian 32,5% dan amputasi sebesar 23,5%, serta merupakan penyebab
terbanyak perawatan penderita DM di rumah sakit yakni 80% (Wagiu, 2016). Maka dari
itu, angka kejadian diabetes mellitus di Indonesia terus meningkat dan akan
menyebabkan peningkatan jumlah presentase kejadian ulkus diabetik dan apabila tidak
diberikan perawatan secara cepat dan tepat maka akan diamputasi sehingga angka
kematian pun semakin meningkat.
Di Sulawesi Utara, diabetes mellitus merupakan salah satu masalah kesehatan
yang banyak diderita oleh masyarakat sehinggga resiko komplikasi terjadinya ulkus
diabetes semakin besar. Hasil survey yang dipaparkan melalui riset kesehatan dasar
RISKESDAS (2013) didapatkan proporsi DM pada usia 15 tahun keatas, Sulawesi
Utara menempati urutan ke dua setelah Sulawesi Selatan dengan presentase 3,6 %.
Sekitar 1,69 juta jiwa penduduk di Sulawesi Utara yang berusia 15 tahun ke atas,
terdapat 40,772 ribu jiwa yang pernah di diagnosis oleh dokter mengalami DM dan
20,386 jiwa yang belum pernah di diagnosis oleh dokter mengalami gejala sering lapar,
sering haus, sering buang air kecil dengan jumlah banyak dan berat badan menurun
(Depkes, 2013). Oleh karena itu, berdasarkan hasil survey menunjukkan penderita
diabetes mellitus di Sulawesi utara sudah mencapai 2,4% dari jumlah penduduk yang
berusia 15 tahun ke atas dan memiliki resiko tinggi mendapatkan ulkus diabetik sebagai
komplikasi dari diabetes mellitus.
Begitu banyak usaha dan upaya yang dilakukan untuk menangani ulkus diabetik,
antaranya upaya promotif (edukasi tentang perawatan kaki), preventif (senam kaki
untuk sensitivitas kaki), kuratif (perawatan luka, support nutrisi), dan rehabilitative
(Kontrol gula darah, diet rendah karbohidrat). Salah satu upaya yang dilakukan adalah
perawatan luka yang bertujuan untuk membuang jaringan mati, mengontrol infeksi, dan
mempercepat proses penyembuhan luka. Melalui upaya ini diharapkan ulkus
diabetikum dapat menunjukkan adanya pemulihan.
Meskipun upaya upaya seperti perawatan luka sudah dilakukan, namun kejadian
amputasi pada penderita ulkus diabetikum masih saja meningkat. Salah satu faktor yang
mempengaruhi penyembuhan ulkus diabetikum adalah perawatan luka. Penyembuhan
luka pada ulkus diabetik sangat bergantung pada perawatan luka yang diberikan,
dimana teknik perawatan luka yang tepat dapat membantu proses penyembuhan luka
lebih cepat, dan penanganan luka diabetik secara efektif dapat mencegah terjadinya
amputasi (Ismail & Irawaty, 2009 dalam Lutfi Wahyuni 2017). Metode konvensional
telah diterapkan sejak dahulu dengan menggunakan antiseptik dosis tinggi, dan
pembalutan dengan menggunakan bahan yang menyerap. Cara yang telah
dikembangkan untuk membantu penyembuhan luka, seperti dengan menjahit luka,
menggunakan antiseptic dosis tinggi, dan juga pembalutan dengan menggunakan bahan
yang menyerap ketika diteliti lebih lanjut, ternyata cara penyembuhan seperti ini sama
sekali tidak membantu bahkan berisiko memperburuk luka. menggunakan antiseptic
pada luka dengan tujuan menjaga luka tersebut agar menjadi ‘steril’, bahkan antiseptic
seperti hydrogen peroxide, povidone iodine, acetic acid, dan chlorohexadine selalu
digunakan untuk menangani luka. Masalah utama yang timbul adalah antiseptic tersebut
tidak hanya membunuh kuman-kuman yang ada, tapi juga membunuh leukosit yaitu sel
darah yang dapat membunuh bakteri pathogen dan jaringan fibroblast yang membentuk
jaringan kulit baru. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada proses penyembuhan
luka (Rohmayanti, 2015). Selain itu, tidak sesuainya penanganan luka pada ulkus
diabetikum juga dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka yang terjadi (Ekaputra,
2013).
Perkembangan yang signifikan dalam dunia kesehatan memunculkan penelitian
yang dilakukan Winter (1962), tentang keadaan lingkungan yang baik untuk proses
penyembuhan luka menjadi dasar diketahuinya konsep “Moist Wound Healing”
(Stevano 2016 dalam Morrison, 2004). Metode ini di lakukan untuk mempertahankan
kelembaban dari luka dengan cara menggunakan balutan agar kelembaban tetap terjaga
yaitu dengan beberapa dressing yang disediakan untuk beda beda jenis luka. Cara ini
dilakukan agar penyembuhan luka dan pertumbuhan jaringan dapat terjadi secara alami.
Hal ini yang menjadi dasar munculnya pembalut luka modern dengan memakai alat
ganti balut yang lebih modern atau juga dikenal dengan moisture balance (Mutiara,
2009 dalam Stevano 2016). Perawatan luka dengan metode moisture balance dilakukan
untuk mempercepat proses pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Persiapan
dasar luka dilakukan dengan cara ; tissue management, inflammation and infection
control, moisture balance serta epithelial (edge) advancement (Saad et al, 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi Wahyuni yaitu pengaruh teknik moist wound
healing pada pasien diabetes melitus dengan ulkus diabetikum yang dilaksanakan di
Ruang Dhoho RSUD Prof Dr. Soekandar Mojosari menunjukkan bahwa seluruh
responden (100%) mengalami luka regenerasi setelah dilakukan rawat luka selama 7
hari.
Mengingat pentingnya penerapan moist wound healing untuk mempercepat
penyembuhan luka sehingga dapat mengurangi angka amputasi pada penderita ulkus
diabetik. Dan karena penelitian ini masih sangat terbatas di Sulawesi Utara maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Efektifitas penerapan moist wound
healing terhadap penyembuhan ulkus diabetik”. Penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai acuan dalam perawatan luka nantinya sehingga dapat menurunkan
angka amputasi akibat ulkus diabetik. Ataupun penelitian ini bisa dijadikan sebagai
sumber penelitian bagi peneliti lain.
1.2 Tujuan Penelitian
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas penerapan moist wound healing terhadap
penyembuhan ulkus diabetik
1.2.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui
- Untuk m
1.3 Pertanyaan Penelitian
Apakah ada pengaruh yang signifikan antara penerapan moist wound healing dengan
penyembuhan ulkus diabetik di..

1.4 Ringkasan BAB


Bab 1 dalam penelitian ini mencantumkan dan mendeskripsikan latar belakang dari
masalah yang diangkat. Isi dari latar belakang memuat masalah utama di dukung oleh
data data penunjang internasional maupun nasional