Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Nomophobia

1. Pengertian

Nomophobia pertama kali diteliti pada tahun 2008 oleh post office di United

Kingdom yang menyelidiki tentang kecemasan penderita pengguna smartphone

(Secure envoy, 2012). Smartphone merupakan telepon genggam yang mempunyai

kemampuan tingkat tinggi dan memiliki fungsi yang menyerupai komputer (Sari

2016). Merujuk pada orang-orang yang mengalami nomophobia ada dua istilah

sehari-hari yang dapat digunakan yaitu nomophobe dan nomophobic.Nomophobe

merupakan kata benda dan mengacu pada seseorang yang menderita nomophobia.

Sedangkan nomophobic adalah kata sifat yang mengambarkan karakteristik

nomophobe atau perilaku yang berhubungan dengan nomophobia (Yildirim, 2014).

Beberapa ahli mendefinisikan nomophobiadiantaranya adalah Yildirim (2014)

yang berpendapat bahwa nomophobia merupakan rasa takut berada diluar kontak

ponsel dan dianggap sebagai fobia modern sebagai efek samping dari interaksi antara

manusia, teknologi informasi dan komunikasi khususnya smartphone(Yildirim,

2014). Nomophobia secara harafiah adalah “no mobile phone” yang merupakan

ketakutan berada jauh dari smartphone. Jika seseorang berada dalam suatu area yang

tidak ada jaringan, kekurangan saldo atau bahkan lebih buruknya kehabisan baterai,

11
12

orang tersebut akan merasa cemas, yang memberikan efek merugikan sehingga

memengaruhi tingkat konsentrasi seseorang. Penggunaan smartphone yang terus-

menerus dapat menyebabkan perubahan dari smartphone yang hanya sekedar simbol

menjadi sebuah kebutuhan dimana smartphone menyediakan berbagai fitur seperti

diari pribadi, email, kalkulator, video game player, kamera, dan pemutar musik

(Yildirim 2014).

King (2013) menjelaskan bahwa nomophobia bukan hanya mencakup ponsel

tapi juga komputer, dalam penelitiannya nomophobia didefinisikan sebagai

ketakutan dunia modern yang digunakan untuk menguraikan ketidaknyamanan atau

kecemasan yang diakibatkan oleh tidak tersedianya smartphone, komputer atau

perangkat komunikasi maya lainnya.Berbagai kemampuan smartphone memfasilitasi

komunikasi instan, membantu orang tetap terhubung disetiap saat dan menyediakan

akses langsung ke informasi sehingga orang-orang menjadi lebih tergantung terhadap

smartphonedan semakin menambah perasaan cemas ketika berada jauh dari

smartphone(Part dalam Yildirim, 2014).

King (2014) mendefinisikan nomophobia sebagai ketakutan zaman modern

yang membuat seseorang cemas karena tidak bisa berkomunikasi melalui

smartphone. Kata nomophobia berasal dari Inggris dan merupakan singkatan dari

“No Mobile Phone”, yang menunjukan fobia atau ketakutan berada jauh dari

smartphone. Nomophobia adalah sebuahistilah yang mengacu pada kebiasaan atau

gejala yang berhubungan dengan penggunasmartphone.

Menurut Pavithra, Madhukumar &Murthy (2015) nomophobia adalah rasa


13

takut berada diluar kontak ponsel yang mengacu pada ketidaknyamanan,

kegelisahan, gugup atau kesedihan yang disebabkan karena tidak terhubungan

dengansmartphone. Hardianti (2016) menjelaskahn bahwa nomophobia merupakan

suatu penyakit yang dialami individu terhadap smartphone, sehingga bisa

mendatangkan kekhawatiran yang berlebihan jika smartphone tidak ada

didekatnya.Menurut Wardanai (2016) nomophobia adalah jenis fobia yang ditandai

ketakutan berlebihan jika seseorang kehilangan smartphone. Orang yang menderita

nomophobia hidup dalam kekhawatiran dan selalu was-was dalam

meletakkansmartphone, sehingga selalu membawanya kemanapun pergi.

Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah peneliti paparkan dari

beberapa ahli diatas maka, disimpulkan bahwa nomophobia adalah sebagai rasa takut

berada diluar kontak ponsel dan dianggap sebagai fobia modern sebagai efek

samping dari interaksi antara manusia, teknologi informasi dan komunikasi

khususnya smartphone (Yildirim, 2014).

2. Aspek-aspek Nomophobia

Yildirim (2014) menjelaskan nomophobia memilki empat aspek, yakni:

a. Perasaan tidak bisa berkomunikasi

Aspek ini berhubungan dengan adanya perasaan kehilangan ketika secara tiba-

tiba terputus komunikasi dengan orang lain atau tidak dapat menggunakan layanan

pada smartphone disaat tiba-tiba membutuhkan komunikasi.


14

b. Kehilangan konektivitas

Aspek kedua ini, berhubungan dengan perasaan kehilangan konektivitas ketika

tidak dapat terhubung dengan layanan pada smartphone dan tidak dapat terhubung

pada identitas sosialkhususnya di media sosial.

c. Tidak mampu mengakses informasi

Aspek ini mengambarkan perasaan ketidaknyamanan ketika tidak dapat

mengambil atau mencari informasi melalui smartphone. Hal tersebut

dikarenakan, smartphone menyediakan kemudahan dalam mengakses informasi.

Seseorang juga merasakan dampaknya, semua informasi disebar melalui media

sosial. Ketika smartphone tidak dapat digunakan maka aliran informasi yang

diterima orang tersebut juga terganggu. Hal tersebut dapat membuat sebagian orang

menjadi panik atau cemas.

d. Menyerah pada kenyamanan

Aspek terakhir berhubungan dengan perasaan nyamaan saat menggunakan

smartphone dan keinginan untuk memanfaatkan kenyamanan dalam smartphone

tersebut. Ketika semua bisa dilakukan hanya dengan menatap layar ponsel, maka hal

tersebut membuat hidup terasa lebih.

Pradana, Muqtadiroh, dan Nisafani (2016) menyebutkan enam ciri-ciri dan

karakteristik orang mengidap nomophobia yaitu:


15

a. Menghabiskan waktu menggunakan telepon genggam, mempunyai satu atau lebih

smartphone dan selalu membawa charger.

b. Merasa cemas dan gugup ketika telepon genggam tidak tersedia dekat atau tidak

pada tempatnya. Selain itu juga merasa tidak nyaman ketika gangguan atau tidak

ada jaringan serta saat baterai lemah.

c. Selalu melihat dan mengecek layar telepon genggam untuk mencari tahu pesan atau

panggilan masuk. Oleh David Laramie ini disebut ringxiety. Ringxiety merupakan

perasaan menganggap telepon genggam bergetar atau berbunyi.

d.Tidak mematikan telepon genggam dan selalu sedia 24 jam, selain itu saat tidur

telepon genggam diletakkan di kasur.

e. Kurang nyaman berkomunikasi secara tatap muka dan lebih memilih

berkomunikasi menggunakan teknologi baru.

f. Biaya yang dikeluarkan untuk telepon genggam besar.

Gezgin, dkk (2016)menyebutkan gejala-gejala dari nomophobia yaitu

a. Merasa tidak cukup atau hampa tanpa ponsel

b. Memeriksa telepon genggamnya seperti obsesif

c. Merasa putus asa saatkehabisan baterai

d. Takut lupa meletakkanponselnya disuatu tempat dan tidak bisa digunakan.

Berdasarkan penjelasan diatas, disimpulkan bahwa nomophobia memiliki

beberapa aspek, yakni: tidak bisa berkomunikasi, kehilangan konektivitas, tidak

mampu mengakses informasi, menyerah pada kenyamanan menghabiskan waktu


16

menggunakan telepon genggam, mempunyai satu atau lebih gadget dan selalu

membawa charger, merasa cemas dan gugup ketika telepon genggam tidak tersedia

dekat atau tidak pada tempatnya, selalu melihat dan mengecek layar telepon genggam

untuk mencari tahu pesan atau panggilan masuk, tidak mematikan telepon genggam

dan selalu sedia 24 jam, kurang nyaman berkomunikasi secara tatap muka dan lebih

memilih berkomunikasi menggunakan teknologi baru, biaya yang dikeluarkan untuk

telepon genggam besar. Lebih lanjut, peneliti memilih untuk menggunkan aspek-

aspek nomophobia dari Yildirim(2014) yang terdiri dari empat aspek yakni: tidak

bisa berkomunikasi, kehilangan konektivitas, tidak mampu mengakses informasi, dan

menyerah pada kenyamanan, sebagai dasar penyusunan alat ukur untuk mengetahui

tinggi rendanya nomophobia pada mahasiswa. Peneliti memilih aspek-aspek dari

Yildirim karena aspek-aspeknya cenderung lebih lengkap.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nomophobia

Menurut Bianchi dan Philip (dalam Yildirim, 2014) faktor-faktor yang

mempengaruhi nomophobia sebagai berikut:

a. Jenis kelamin

Secara historis tampaknya ada perbedaan jenis kelamin dalam kaitannya dengan

serapan teknologi baru. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh bianchi & Philip

(2005) telah menemukan bahwa laki-laki lebih mungkin dibandingkan wanita untuk

memiliki sikap positif terhadap computer.Secara logis ini menunjukkan bahwa laki-
17

laki akan lebih banyak dari perempuan yang bermasalah dalam penggunaan

teknologi. Perbedaan gender adalah fungsi sosialisasi dan akses terhadap teknologi.

b. Harga diri

Harga diri adalah evaluasi yang relatif stabil yang membuat seseorang

mempertahankan dirinya sendiri, dan cenderung menjadi penilai diri. Harga diri

berkaitan dengan pandangan diri dan identitas diri. Orang-orang dengan panadangan

diri buruk atau negative memiliki kecenderungan yang besar untuk mencari

kepastian, telepon genggam memberikan kesempatan setiap orang untuk bisa

dihubungi kapan saja dari sinilah tidak mengherankan jika orang-orang dalam

mengunakan telepon genngam secara tidak tepat atau berlebihan (Bianchi & Philip,

2005).

c. Usia

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang tua kurang memungkinkan

dibanding orang muda untuk dalam pengunaan teknologi baru. Brickfield telah

menemukan bahwa sebagian alasannyaorang tua kurang positif terhadap berbagai

teknologi dari pada orang muda yang berarti mereka juga kurang cenderung

menggunakan produk teknologi baru.

d. Extraversi

Ekstraversi umumnya suka mengambil risiko, impulsif, dan sangat

membutuhkan kegembiraan.Ekstraversilebih rentan terhadap masalah penggunaan

telepon genggam dengan alasan bahwa mereka lebihcenderung mencari situasi


18

sosial. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ekstraversi lebih rentan

terhadap pengaruh teman sebaya.

e.Neurotisme

Neurotisme tinggi ditandai dengan kecemasan, mengkhawatirkan,

kemurungan, dan sering depresi. Individu neurotisme terlalu emosional, bereaksi kuat

terhadap banyak rangsangan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang

mempengaruhi nomophobia adalah jenis kelamin, harga diri,usia, dan kepribadian.

Lebih lanjut harga diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nomophobia,

untuk itu peneliti memilih harga diri menjadi variabel bebas pada penelitian ini.

B.Harga Diri

1. Pengertian

Menurut Coopersmith (1967) harga diri merupakan suatu bentuk evaluasi diri

dimana individu dapat menghargai dirinya sendiri. Hal ini mengandung arti

bagaimana individu dapat menerima ataupun menolak suatu kondisi yang dialami.

Coopersmith mengatakan bahwa harga diri juga diartikan sebagai bentuk penilaian

diri sendiri yang ditujukan dalam perilaku individu.

Santrock (2003) mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi individu terhadap

dirinya sendiri secara menyeluruh, baik positif maupun negatif. Evaluasi ini
19

memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya

kemampuan dan keberhasilan yang diperoleh. Penilaan tersebut terlihat dari

penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Individu yang

memiliki harga diri tinggi akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya.

Menurut Baron & Byrne (2004) harga diri adalah sikapindividu terhadap

dirinya sendiri dalam rentang dimensi negatif sampai positifatau rendah sampai

tinggi.Ghufron & Risnawita (2016)menggemukakan bahwa harga diri merupakan

aspek penting dalam kepribadian. Harga diri adalah salah satu faktor yang

memengaruhi perilaku seseorang. Setiap orang pasti menginginkan penghargaan

positif terhadap dirinya. Penghargaan positif akan membuat seseorang merasa bahwa

dirinya berharga, berhasil dan berguna bagi orang lain, meskipun dirinya memiliki

kelemahan atau kekurangan baik secara fisik maupun psikis. Setiawan (2005)

menyatakan bahwa harga diri merupakan tingkat individu terhadap kepuasan dirinya,

menerima dirinya, menghargai dirinya, dan mencintai dirinya, sehingga dapat

dikatakan bahwa harga diri merupakan tingkat kebanggaan individu terhadap dirinya

sendiri.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa harga diri merupakan

evaluasi yang dibuat individu terhadap dirinya sendiri secara positif, negatif, dan

merupakan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap dirinya sendiri dalam

keberartian, kebajikan, kekuatan, dan kompetensi yang di ekpresikan dalam sikap-

sikap dan perilaku individu. Individu dengan harga diri tinggi akan menerima dan
20

menghargai dirinya sendiri apa adanya. Sebaliknya individu dengan harga diri

rendah tidak bisa menerima dan menghargai segala sesuatu yang ada pada dirinya.

2. Aspek-aspek Harga diri

Coopersmith (1967)mengemukakan bahwa aspek-aspek harga diri ada empat

yaitu:

a. Keberartian

Keberartian diri diperoleh individu melalui perhatian, penerimaan, dan kasih

sayang dari lingkungan. Ekpresi penghargaan diri yang diterima individu terdiri dari

penerimaan dan penolakan dari lingkungan. Individu yang berharga diri yang tinggi

merupakan individu yang diterima, diperhatikan orang lain, dan disukai orang lain

sebagaimana adanya. Sebaliknya individu yang berharga diri rendah merupakan

individu yang kehadirannya ditolak, tidak didengarkan pendapatnya, dan tidak

disukai orang lain.

b. Kebajikan

Kebajikan merupakan kataatan individu terhadap nilai normal, etika dan

aturan-aturan dalam masyarakat. Aspek ini ditujukan dengan bagaimana individu

melihat persolan benar atau salah berdasarkan nilai moral, etika, n aturan-aturan yang

berlaku dalam lingkungan interaksinya.


21

c. Kekuatan

Kekuatan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengontrol atau

mengendalikan orang lain dan dirinya sendiri. Individu yang mampu mengontrol atau

mengendalikan orang lain dan dirinya dengan baik akan menunjukan sikap mandiri,

optimis, mampu berpendapat sendiri, dan tidak mudah ikut pendapat atau perilaku

orang lain. Sebaliknya, individu yang tidak mampu mengontrol orang lain dan dirinya

sendiri dengan baik akan menunjukan sikap pesimis dan tergantung pada orang lain.

d. Kompetensi

Kemampuan individu untuk mencapai apa yang dicita-citakan atau diharapkan.

Kemampuan yang tinggi akan membuat individu merasa yakin dan optimis dapat

mencapai apa yang dicita-citakan dan mampu mengatasi setiap masalahan yang

dihadapi.

Di sisi lain menurut Felker (dalam Citra, 2008) harga diri memiliki tiga aspek,

yaitu

a. Perasaan diterima

perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan

diterima serta dihargai oleh anggota kelompoknya. Kelompok ini dapat berupa

keluarga, kelompok teman sebaya atau kelompok apapun. Individu akan memiliki

penilaian positif tentang dirinya apabila individu tersebut merasa diterima dan
22

menjadi bagian dalam kelompoknya. Sebaliknya, individu akan memiliki penilaian

negatif tentang dirinya bila mengalami perasaan tidak diterima.

b. Perasaan mampu

Perasaan dan keyakinan individu akan kemampuan dirinya sendiri dalam

mencapai suatu hasil yang diharapkan, misalnya perasaan seseorang pada saat

mengalami keberhasilan atau kegagalan.

c. Penilaian berharga

Penilaian individu terhadap dirinya sendiri bahwa dirinya berharga dan berguna.

Sejauh mana individu menghargai dan menyukai keadaan dirinya sendiri dengan

segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek–aspek harga diri

terdiri dari keberartian diri, kebajikan, kekuatan, kompetensi perasaan diterima,

perasaan mampu, dan perasaan berharga. Lebih lanjut peneliti memutuskan untuk

mengunakan aspek-aspek dari Coopersmith (1967) yang meliputi keberartian diri,

kebajikan, kekuatan, dan kompetensi sebagai dasar penyusunan alat ukur untuk

mengetahui tinggi rendahnya tingkat harga diri pada mahasiswa. Pemilihan aspek-

aspek dari Coopersmith (1967) dikarenakan aspek-aspeknya cenderung lebih lengkap

dan menyeluruh untuk mengambarkan harga diri mahasiwa.


23

C. Harga diri dan Nomophobia pada Mahasiswa

Di zaman modern seperti sekarang ini smartphone bukan lagi benda asing

bagi anak-anak sampai orang dewasa. Smartphone adalah salah satu teknologi

komunikasi yang dihadirkan dan dirancang sedemikian rupa dengan fitur yang

sangat canggih. Tujuan utama dibuatsmartphoneyaitu untuk komunikasi.

Smartphonesudah dilengkapi dengan berbagai fitur seperti kamera, internet, televisi

hingga layanan messenger lainnya (Faisal & Yulianita, 2017).

Adanya media yaitu smartphone sebagai perantara untuk tetap berkomunikasi

ternyata tidak selalu benilai positif. Bagi sebagian orang, hadirnya smartphone

memberikan efek negatif yakni dengan sikap yang berlebihan dalam penggunaan

smartphone cenderung berdampak dalam kehidupan sehari-hari baik bagi dirinya

maupun orang disekitarnya, dari fenomena tersebut membuat orang cemas ketika jauh

dari smartphonenya yang dikenal dengan nomophobia (Hardianti, 2016).

Menurut Erikson( dalam Karuniawan & Cahyanti, 2013) pada masa remaja

menuju dewasa, seseorang belum memiliki identitas ego (mencari identitas jati diri),

cenderung berkelompok pada teman seusianya (peers) dan memiliki emosi yang

belum stabil. Pada masa tersebut sesuai dengan usia dalam strata pendidikan yang

pada mayoritas adalah sedang berada pada bangku perkuliahan (mahasiswa

perguruan tinggi), sehingga dapat dipastikan bahwa mahasiswa merupakan pengguna

aktif media smartphone (Chiu, 2014).

Menurut Juraman (dalam Susanto 2016) mahasiswa adalah generasi yang


24

peka terhadap teknologi-teknologi baru dan inovasi baru. Kaum muda dikenal sangat

dekat dengan hal-hal yang baru dan tidak menutup kemungkinan salah satunya adalah

smartphone. Smartphone sekarang menjadi kebutuhan tiap mahasiswa untuk bisa

terlihat “gaul” atau tidak ketinggalan zaman dengan hal–hal yang baru.

Berdasarkan hasil survai yang dilakukan oleh User Personal Report (SUPR)

atau laporan personal penguna smartphone di Indonesia untuk tahun 2015,

dilaporkan bahwa pengguna smartphone pada rentan usia di bawah 30 tahun lebih

besar dan menduduki sebesar 66% (Hasan, 2015). Ditambahkan lagi dalam penelitian

yang dilakukan oleh Secur envoy (2012) menemukan bahwa usia 18-24 tahun paling

rentan terhadap nomophobia.

Santrock (2003) memaparkan bahwa secara keseluruhan rentang usia remaja

berlangsung antara umur 12-21 tahun. Secara lebih spesifik masa remaja dibagi

menjadi 3 masa, yakni masa remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah (15-18

tahun),remaja akhir (18-21 tahun). Terkait dengan mahasiswa, Yusuf (dalam Agusta,

2013) menjelaskan bahwa mahasiswa terletak di rentang usia 18-25 tahun, sehingga

dapat dikategorikan sebagai periode remaja akhir.

Menurut Coopersmith (1967) harga diri merupakan suatu bentuk evaluasi diri

dimana individu dapat menghargai dirinya sendiri. Hal ini mengandung arti

bagaimana individu dapat menerima ataupun menolak suatu kondisi yang dialami.

Coopersmith mengatakan bahwa harga diri juga diartikan sebagai bentuk penilaian

diri sendiri yang ditujukan dalam perilaku individu. Lebih lanjut menurut Ghufron
25

& Risnawita (2011) setiap orang menginginkan pengharapan yang positif terhadap

dirinya. Penghargaan poisitif akan membuat seseorang merasakan bahwa dirinya

berharga, berhasildan berguna bagi orang lain, meskipun dirinya memilikikelemahan

atau kekurangan baik secara fisik maupun psikis.

Menyambung hal tersebut Coopersmith (1967) memaparkan bahwa harga diri

adalah evaluasi yang dibuat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan

penghargaan terhadap dirinya sendiri, hal ini mengekspresikan suatu sikap setuju dan

menunjukan tingkat dimana individu itu meyakini diri sendiri mampu, penting,

berhasil dan berharga.Seseorang dengan harga diri yang rendah menilai negatif

dirinya dan cenderung merasa tidak aman saat berinteraksi secara langsung dengan

orang lain dengan demikan menggunakan smartphone akan membuat dirinya merasa

nyaman saat berinteraksi dengan orang lain(Sari, 2016).

Berkaitan dengan salah satu aspek harga diri yaitu keberartian, individu yang

memiliki harga diri tinggi merupakan individu yang diterima diperhatikan orang lain

dan disukai orang lain sebagaimana adanya. Sebaliknya individu yang harga diri

rendah merupakan individu yang kehadirannya ditolak, tidak didengarkan

pendapatnya, dan tidak disukai orang lain (Coopersmith,1967). Hal tersebut

berhubungan dengan aspek nomophobia kehilangan koneksivitas perasaan

kehilangan koneksivitas atas layanan yang disediakan smartphone dan tidak bisa

terhubung dengan berbagai akun media sosial yang dimiliki. Terhubung satu sama

lain adalah faktor pendorong mahasiswa menggunakan smartphone ketika


26

smarphone tidak terhubung dengan konektivitas atau rusak. Maka tidak dapat

mengakses akun media sosial dan tidak dapat terhubung dengan teman-temannya.

Kehidupan sehari-hari mahasiswa banyak menerima evaluasi dari lingkungan sosial

terdekat, seperti keluarga, teman-teman, dan lain-lain. Telepon genggam dapat

memberikan akses untuk berhubungan dengan orang lain, harga diri dapat

mempengaruhi perilaku penggunaan telepon genggam dengan adanya relasi (Hong,

Chiu & Huang, 2012).

Pada aspek kekuatan, berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengontrol

atau mengendalikan orang lain dan dirinya sendiri (Coopersmith, 1967).

Ditambahkan oleh Baron, Byrne, & Branscombe (dalam Agusta, 2013) individu

dengan kekuatan (power) besar mempunyai kemampuan untuk mengendalikan

perilakunya. Sebaliknya, individu dengan kekuatan kecil akan mengalami kesulitan

untuk mengendalikan dirinya sendiri, termasuk kesulitan mengendalikan

perilakunya. Contoh sehari-hari mahasiswa yang memiliki harga diri tingggi maka

dapat mengontrol perilaku pengunaan smartphonenya. Individu dengan harga diri

yang rendah dapat memprediksi pengunaan telepon genggam yang bermasalah.

Orang-orang dengan pandangan diri yang buruk atau negatif memiliki kecenderungan

yang besar untuk mencari kepastian, telepon genggam memberikan kesempatan

setiap orang untuk bisa dihubungi kapan saja dari sinilah tidak mengherankan jika

orang-orang dalam menggunakan telepon genngam secara tidak tepat atau berlebihan

(Bianchi & Philips 2005).


27

Hong, Chiu & Huang (2012) menambahkan bahwa individu dengan harga

diri yang rendah lebih sering melakukan panggilan dan mengirim lebih banyak pesan

teks, sedangkan individu yang memiliki harga diri yang tinggi lebih memilih

melakukan komunikasi dengan tatap muka secara langsung. Hal tersebut juga

disampaikan oleh Ehrenberg (dalam Mayangsari & Ariana, 2015) bahwa individu

yang memiliki harga diri yang rendah akan lebih banyak mengirim pesan teks.

Berne & Savary (dalam Ghufron& Risnawita) menyebutkan bahwa orang

yang memiliki harga diri tinggi adalah orang yang mengenal dirinya sendiri dengan

segala keterbatasannya, merasa tidak malu atas keterbatasan yang di,iliki,

memandang keterbatasan suatu realitas, dan menjadikan keterbatasan itu sebagai

tantangan untuk berkembang. Ia juga menyebutkan bahwa harga diri tinggi ialah

kemampuan untuk melihat diri sendiri, berharga, berkemampuan, penuh kasih sayang

yang memiliki bakat pribadi yang khas serta kepribadian yang berharga dalam

hubungannya dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang merasa harga dirinya rendah

memiliki gambaran negatif pada diri, sedikit mengenal dirinya sehingga menghalangi

kemampuan untuk menjalin hubungan, merasa tidak terancam, dan berhasil.

Aspek yang selanjutnya yaitu kompetensi, berkaitan dengan sejauh mana

individu mempersiapkan diri dalam menghadapi segala masalah dan membuat

rencana terhadap masa depannya sebagai bekal hidup (Coopersmith,1967).

Mahasiswa dengan kompetensi tinggi dapat membuat rencana yang sistematis untuk

mencapai cita-citanya. Penggunaan smartphone secara berlebihan akan menyebabkan

seseorang melupakan tugas belajarnya, dan juga pemenuhan kebutuhan dasarnya


28

seperti makan, minum, atau mandi Tondok (dalam sutanto, 2016). Ditambahkan oleh

Yuwanto (dalam sutanto, 2016) dampak dari penggunaan smartphoneyaitu

berkurangnya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang penting dengan kata lain

berkurangnya produktivitas sehingga mengganggu akademis atau pekerjaan.

Nomophobia merupakan salah satu bentuk dari pengunaan telepon genggam

yang salah. Beberapa penelitian menunjukan adanya hubungan antara nomophobia

dengan harga diri (Bianchi& Philips, 2005). Berdasarkan penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa harga diri merupakan salah satu faktor yang turut andil dalam

memengaruhi nomophobia seseorang. Keberartian, kebajikan, kekuatan dan

kompetensi yang dimiliki individu akan membentuk tinggi atau rendahnya harga diri

individu.

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif

antara harga diri dengan nomophobia pada mahasiswa. Semakin tinggi harga diri

yang dimiliki mahasiswa maka semakin rendah nomophobia yang dialami

mahasiswa. Sebaliknya semakin rendah harga diri yang dimiliki mahasiswa maka

semakin tinggi nomophobia yang dialami mahasiswa.