Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Stroke

2.1.1. Pengertian

Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh

gangguan aliran darah ke otak yang dapat timbul secara mendadak

atau secara cepat dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan

daerah yang terganggu (Rosjidi, 2007). Stroke adalah gangguan

neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau

terhentinya suplai darah ke otak (Price, 2005). Stroke adalah suatu

gangguan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di

otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak

sehingga mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan atau

kematian .

2.1.2. Klasifikasi Stroke

Menurut Corwin (2009), stroke dapat diklasifikasikan

menjadi 2 yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik.

a. Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik terjadi apabila pembuluh darah di otak

pecah sehingga menyebabkan iskemia (penurunan aliran) dan

hipoksia di sebelah hilir. Penyebab stroke hemoragik adalah

hipertensi, pecahnya aneurisma, atau malformasi arteriovenosa

(hubungan yang abnormal). Hemoragi dalam otak secara

1
signifikan meningkatkan tekanan intrakranial, yang

memperburuk cedera otak yang dihasilkannya.

b. Stroke Non Hemoragik

Menurut Price (2006) definisi dari stroke non hemoragik

adalah gangguan serebral yang dapat timbul sekunder dari

proses patologis pada pembuluh darah misalnya trombus,

embolus, atau penyakit vaskuler dasar seperti arterosklerosis

atau arteritis yang mengganggu aliran darah serebral sehingga

suplai nutrisi dan oksigen ke otak menurun yang menyebabkan

terjadinya infark.

Corwin (2009) menyebutkan penyumbatan arteri yang

menyebabkan stroke iskemik dapat terjadi akibat trombus

(bekuan darah di arteri serebri) atau embolus (bekuan darah

yang berjalan ke otak dari tempat lain di tubuh). Ada dua

penyebab stroke non hemoragik.

1) Stroke Trombotik

Stroke trombotik terjadi akibat oklusi aliran darah,

biasanya karena aterosklerosis berat. TIA adalah gangguan

fungsi otak singkat yang reversibel akibat hipoksia serebral.

TIA mungkin terjadi ketika pembuluh darah arterosklerotik

mengalami spasme, atau saat kebutuhan oksigen otak

meningkat dan kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi karena

arterosklerosis yang berat. Berdasarkan definisi, TIA

2
berlangsung kurang dari 24 jam. Stroke trombotik biasanya

berkembang dalam 24 jam. Selama periode perkembangan

stroke, individu dikatakan mengalami stroke in evolution.

Pada akhir periode tersebut, individu dikatakan mengalami

stroke lengkap (completed stroke)

2) Stroke Embolik

Stroke embolik berkembang setelah oklusi arteri oleh

embolus yang terbentuk di luar otak. Sumber umum

embolus yang menyebabkan stroke adalah jantung setelah

infark miokardium atau fibrilasi atrium, dan embolus yang

merusak arteri karotis komunis atau aorta.

2.1.3. Etiologi Stroke

Menurut Brunner and Suddarth dalam (Suzanne C.

Smeltzer B. G., 2001) etiologi stroke ada empat yaitu:

a. Trombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau

leher.

b. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang

dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain.

c. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak.

d. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan

perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.

3
2.1.4. Faktor Risiko Stroke

Menurut Rosjidi (2007) faktor risiko stroke dapat dibagi

menjadi :

a. Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor risiko

mayor/utama/potensial. Hipertensi dapat mengakibatkan

pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak.

Pecahnya pembuluh darah otak akan menimbulkan perdarahan,

dan ini sangat fatal karena akan terjadi interupsi aliran darah ke

bagian distal disamping itu darah ekstravasal akan tertimbun

sehingga akan menimbulkan tekanan intra kranial yang

meningkat sedangkan menyempitnya pembuluh darah otak

akan menimbulkan terganggunya aliran darah ke otak dan sel-

sel otak akan mengalami kematian

b. Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus akan berakibat menebalkan pembuluh

darah otak yang berukuran besar. Penebalan ini akan berakibat

terjadinya penyempitan lumen pembuluh darah sehingga akan

mengganggu aliran darah serebral dengan akibat terjadinya

iskemia dan infark.

c. Penyakit Jantung

Penyakit jantung pada umumnya akan melepas gumpalan

darah atau sel-sel jaringan yang telah mati ke dalam aliran

4
darah menuju ke otak. Emboli ini akan menyumbat aliran

pembuluh darah atau ditempat-tempat terjadinya trombosis.

Salah satu faktor risiko yang paling penting adalah Fibrilasi

Atrium. Fibrilasi Atrium yang tidak diobati akan

mengakibatkan risikro stroke lebih tinggi.

d. Gangguan Aliran Darah Sepintas (Transient Iskemic

Attack/TIA)

Berbagai faktor risiko stroke yang ada pada seseorang,

dapat mengakibatkan gangguan aliran darah otak sepintas, yang

akan menimbulkan gejala-gejala sementara (kurang dari 24

jam). Gejala yang sering muncul seperti: Hemiparesis, disartria,

kelumpuhan otot-otot mulut, kebutaan mendadak,

hemiparestesi, afasia. Makin sering seseorang mengalami

serangan sepintas ini maka akan semakin besar pula

kemungkinan terkena serangan stroke

Sepersepuluh pasca setangan TIA jika tidak mendapatkan

pengobatan yang tepat akan mengalami stroke dalam tiga bulan

dan sepertiga akan mengalami stroke dalam lima tahun pasca

serangan TIA yang pertama. Terus akan meningkat

kemungkinan serangan stroke seiring bertumbuhnya usia dan

akan lebih tinggi lagi bagi mereka yang sering mengalami TIA.

e. Hiperkolesterolemi

5
Meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, terutama

LDL (Low Density Lipoprotein), merupakan faktor risiko

penting terjadinya aterosklerosis. Peningkatan kadar lemak

darah merupakan masalah pada masyarakat modern.

Peningkatan kadar lemak darah merupakan cerminan dari

tingginya asupan lemak dalam makanan.

Tiga Hipotesis menjelaskan proses terjadinya

arterosklerosis pada pembuluh darah dan memperlihatkan

bagaimana peran lemak yang sangat besar pada proses tersebut.

1) Hipotesis reaksi terhadap cidera, terjadinya injury pada

lapian endotelium pembuluh darah arteri secara berulang

akan menimbulkan lesi secara perlahan-lahan yang

berkembang mengakibatkan kenaikan sel otot polos,

jaringan pengikat dan lipid secara bertahap. Lesi-lesi ini

akan terus berkembang dan akibatnya lumen pembuluh

darah menjadi menyempit karena intima menebal.

2) Hipotesis monoklonial, menjelaskan bahwa terjadinya

kegagalan dalam menahan ateroma sejalan dengan

bertambahnya usia seseorang karena sel-sel yang

mengontrol ini hilang atau mati dan tidak diganti secara

cukup.

3) Hipotesis lipid, menjelaskan peran serum lipid terutama

serum kolesterol sebagai penyebab ateroma.

6
a. Infeksi

Tuberkulosis, malaria, lues, lepstospirosis dan infeksi cacing merupakan

faktor risiko terjadinya serangan stroke.

b. Obesitas

Kelebihan berat badan atau obesitas akan meningkatkan risiko stroke

15% karena meningkatnya penyakit hipertensi, penyakit jantung, DM tipe dua dan

arterosklerosis. Indeks Massa Tubuh (IMT) digunakan untuk menetapkan ukuran

berat badan seseorang, apakah individu mengalami overweight atau kelebihan

berat badan. IMT dihitung dengan cara membagi berat badan individu dalam

kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.

c. Merokok

Merokok meningkatkan risiko stroke empat kali lipat, hal ini berlaku

untuk semua jenis rokok, sigaret, pipa atau cerutu (Feign, 2004). Merokok dapat

meningkatkan konsentrasi fibrinogen, peningkatan ini akan mempermudah

terjadinya penebalan dinding pembuluh darah juga peningatan viskositas darah.

Disamping rokok merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung

koroner.

Rokok dapat merangsang proses arterosklerosis karena efek langsung

karbon monoksida pada dinding arteri, kemudian nikotin dapat menyebabkan

mobilisasi katokolamin juga menyebabkan kerusakan endotel arteri. Rokok juga

dapat memicu penurunan HDL, meningkatnya fibrinogen dan memacu agregasi

7
trombosit, dan yang lebih berbahaya daya angkut oksigen ke jaringan perifer

menjadi berkurang.

d. Kelainan Pembuluh Darah Otak

Pada umumnya kelainan pembuluh darah otak bersifat bawaan atau

karena infeksi dan ruda paksa. Pembuluh darah yang abnormal tadi dapat pecah,

robek atau mengganggu aliran darah spontan sehingga akan menimbulkan

perdarahan otak atau infark.

e. Lanjut usia

Proses degenerasi akan selalu mengiringi proses menua, termasuk

pembuluh darah otak.

f. Penyakit paru-paru menahun terutama asma bronkial.

Yang menjadi faktor risiko stroke yang berhubungan dengan paru-paru

terutama adalah asma bronkial.

g. Penyakit darah tertentu

Polisetamia dapat menghambat aliran darah ke otak, leukimia dapat

mengakibatkan perdarahan otak.

h. Asam urat yang berlebihan

Asam urat yang berlebih akan menimbulkan masalah pada persendian

dan ginjal. Tidak sedikit penderita stroke yang kadar asam uratnya sangat tinggi.

8
2.1.5. Patofisiologi Stroke

Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi darah

pada otak akan menyebabkan keadaan hipoksia. Hipoksia yang

berlangsung lama dapat menyebabkan iskemik otak. Iskemik yang

terjadi dalam waktu yang singkat kurang dari 10-15 menit dapat

menyebabkan defisit sementara dan bukan defisit permanen.

Sedangkan iskemik yang terjadi dalam waktu lama dapat

menyebabkan sel mati permanen dan mengakibatkan infark pada

otak.

Setiap defisit fokal permanen akan bergantung pada daerah

otak mana yang terkena. Pembuluh darah yang paling sering

mengalami iskemik adalah arteri serebral tengah dan arteri karotis

interna. Defisit fokal permanen dapat tidak diketahui jika klien

pertama kali mengalami iskemik otak total yang dapat teratasi.

Jika aliran darah ke tiap bagian otak terhambat karena

trombus atau emboli, maka mulai terjadi kekurangan suplai

oksigen ke jaringan otak. Kekurangan oksigen dalam satu menit

dapat menunjukkan gejala yang dapat pulih seperti kehilangan

kesadaran. Sedangkan kekurangan oksigen dalam waktu yang lebih

lama menyebabkan nekrosis mikroskopik neuron-neuron. Area

yang mengalami nekrosis disebut infark.

Gangguan peredaran darah otak akan menimbulkan

gangguan pada metabolisme sel-sel neuron, dimana sel-sel neuron

9
tidak mampu menyimpan glikogen sehingga kebutuhan

metabolisme tergantung dari glukosa dan oksigen yang terdapat

pada arteri-arteri yang menuju otak.

Peredaran intrakranial termasuk peredaran ke dalam ruang

subarakhnoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Hipertensi

mengakibatkan timbulnya penebalan dan degeneratif pembuluh

darah yang dapat menyebabkan rupturnya arteri serebral sehingga

peredaran menyebar dengan cepat dan menimbulkan perubahan

setempat serta iritasi pada pembuluh darah otak.

Peredaran biasanya berhenti karena pembentukan trombus

oleh fibrin trombosit dan oleh tekanan jaringan. Setelah 3 minggu,

darah mulai direabsorbsi. Ruptur ulangan merupakan risiko serius

yang terjadi sekitar 7-10 hari setelah perdarahan pertama.

Ruptur ulangan mengakibatkan terhentinya aliran darah

bagian tertentu, menimbulkan iskemik fokal, dan infark jaringan

otak. Hal tersebut dapat menimbulkan gegar otak dan kehilangan

kesadaran, peningkatan tekanan cairan serebrospinal (CCS), dan

menyebabkan gesekan otak (otak terbelah sepanjang serabut).

Perdarahan mengisi ventrikel atau hematoma yang merusak

jaringan otak.

Perubahan sirkulasi CCS, obstruksi vena, adanya edema

dapat meningkatkan tekanan intrakranial yang membahayakan jiwa

dengan cepat. Peningkatan tekanan intrakranial yang tidak diobati

10
mengakibatkan herniasi unkus atau serebellum. Di samping itu,

terjadi bradikardia, hipertensi sistemik, dan gangguan pernafasan.

Darah merupakan bagian yang merusak dan bila terjadi

hemodialisa, darah dapat mengiritasi pembuluh darah, meningen,

dan otak. Darah dan vasoaktif yang dilepas mendorong spasme

arteri yang berakibat menurunnya perfusi serebral. Spasme serebri

atau vasospasme biasa terjadi pada hari ke-4 sampai ke-10 setelah

terjadinya perdarahan dan menyebabkan konstriksi arteri otak.

Vasospasme merupakan komplikasi yang mengakibatkan

terjadinya penurunan fokal neurologis, iskemik otak, dan infark

(Batticaca, 2008)

3. Akibat Stroke

Stroke dapat mengakibatkan berbagai defisit neurologis bagi

penderitanya, bergantung pada lokasi lesi, ukuran area yang perfusinya tidak

adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral. Beberapa gangguan yang ditimbulkan

oleh stroke antara lain (Suzanne C. Smeltzer B. G., 2001) :

a. Kehilangan Motorik

Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan

kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron motor atas melintas,

gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan

kerusakan pada neuron motor atas pada sisi berlawanan dari otak. Disfungsi motor

11
paling umum adalah hemiplegia karena lesi pada sisi otak yang berlawanan.

Hemiparesis, atau kelemahan salah satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain.

b. Kehilangan Komunikasi

Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan

komunikasi. Stroke adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi bahasa

adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi bahasa dimanifestasikan oleh tiga

hal yaitu disartia (kesulitan bicara), disfasia atau afasia (bicara detektif atau

kehilangan bicara), dan apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan

yang telah dipelajari sebelumnya).

c. Gangguan Persepsi

Persepsi adalah ketidakmampuan untuk menginterpretasikan sensasi.

Stroke dapat mengakibatkan disfungsi persepsi visual, gangguan dalam hubungan

visual-spasial dan kehilangan sensori.

Gangguan persepsi visual seperti homonimus yaitu kehilangan setengah

lapang pandang, dapat permanen atau sementara. Pada kasus ini klien hanya

mampu melihat setengah ruangan, sering mengabaikan sisi yang tidak terlihat.

Gangguan hubungan visual-spasial, gangguan mendapatkan hubungan

antara dua hal atau objek dalam area spasial. Sering terlihat pada klien yang

mengalami hemiplegia kiri. Klien mungkin tidak dapat memakai pakaian tanpa

bantuan karena ketidakmampuan mencocokan pakaian ke bagian tubuhnya.

Kehilangan sensori, ketidakmampuan untuk merasakan, seperti

ketidakmampuan untuk merasakan sentuhan ringan , atau mungkin sentuhan

12
berat, kehilangan propriosepsi (ketidakmampuan untuk merasakan posisi dan

gerakan bagian tubuh), serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual,

taktil, dan auditorius.

d. Disfungsi Kandung Kemih

Inkontinensia dapat terjadi karena konfusi, ketidakmampuan

mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal

karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kandung kemih menjadi atonik

dengan kerusakan sensasi dalam merespon pengisian kandung kemih.

e. Kerusakan Fungsi Kognitif dan efek psikologik

Bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal, mempelajari kapasitas,

memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak.

Disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam

pemahaman, lupa, dan kurang motivasi, yang menyebabkan pasien ini

menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka. Depresi umum

terjadi dan mungkin diperberat oleh respons alamiah pasien terhadap penyakit

katastrofik ini. Masalah psikologik lain juga umum terjadi dan dimanifestasikan

oleh labilitas emosional, bermusuhan, frustasi, dendam, dan kurang kerja sama.

B. Fungsi Kognitif

1. Pengertian

13
Menurut Stuart and Sundeen (1987), kognitif adalah kemampuan berfikir

dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi

dan memperhatikan.

2. Rentang Respon Kognitif

Respon kognitif maladaptif mencangkup ketidakmampuan untuk

membuat keputusan, kerusakan memori dan penilaian, disorientasi, salah persepsi,

penurunan rentang perhatian, dan kesulitan berfikir logis. Respon tersebut dapat

terjadi secara episodik atau terjadi terus menerus. Suatu kondisi dapat reversibel

atau ditandai dengan penurunan fungsi secara progresif, bergantung pada stresor.

Rentang respon kognitif dapat digambarkan sebagai berikut:

Rentang Respon Kognitif

Respon adaptif Respon maladaptif


Tegas Ketidaktegasan periodik Ketidakmampuan untuk

Memori utuh Mudah lupa membuat keputusan

Orientasi lengkap Kebingungan sementara Kerusakan memori dan

Persepsi akurat yang ringan penilaian

Perhatian terfokus Kadang salah persepsi Disorientasi

Pikiran koheren dan logis Distraksibilitas Salah persepsi serius

Kadang berfikir tidak Ketidakmampuan untuk

jelas memfokuskan perhatian

Kesulitan untuk berfikir

logis

14
Gambar 1

Rentang respon fungsi kognitif (Stuart and Sundeen 1995)

3. Faktor Predisposisi

Menurut Stuart (2006), respon kognitif pada umumnya merupakan akibat

dari gangguan biologis pada fungsi sistem saraf pusat. Faktor yang mempengaruhi

individu mengalami gangguan kognitif termasuk:

a. Gangguan suplai oksigen, glukosa, dan zat gizi dasar yang penting lainnya ke

otak. Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan vaskular arteriosklerotik,

serangan iskemik sementara, hemoragi serebral, dan infark otak kecil

multipel.

b. Degenerasi yang berhubungan dengan penuaan.

c. Penyakit Alzheimer.

d. Virus imunodefisiensi manusia (HIV).

e. Penyakit hati kronik.

f. Penyakit ginjal kronik.

g. Defisiensi vitamin (terutama tiamin).

h. Malnutrisi.

i. Abnormalitas genetik.

Gangguan jiwa mayor, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan

ansietas, dan depresi, juga dapat mempengaruhi fungsi kognitif.

4. Faktor Presipitasi

15
Setiap serangan mayor pada otak cenderung mengakibatkan gangguan

fungsi kognitif. Berikut ini merupakan faktor presipitasi (Stuart, 2006):

a. Hipoksia.

b. Gangguan metabolik, termasuk hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipoglikemia,

hipopituitarisme, dan penyakit adrenal.

c. Toksisitas dan infeksi.

d. Respon yang berlawanan terhadap pengobatan.

e. Perubahan struktur otak, seperti tumor atau trauma.

f. Kekurangan atau kelebihan sensori.

5. Gambaran Klinis Aspek Kognitif

Menurut Kemenkes (2010), aspek kognitif meliputi:

a. Orientasi merupakan kemampuan untuk mengaitkan keadaan sekitar dengan

pengalaman lampau. Orientasi terhadap waktu dan tempat dapat dianggap

sebagai ukuran memori jangka pendek, yaitu kemampuan pasien memantau

perubahan sekitar yang kontinue. Bila orientasi pasien terganggu, hal ini

dapat merupakan pentunjuk bahwa memori jangka pendeknya mungkin

terganggu.

b. Registrasi menggunakan perhatian untuk menduplikasi informasi, dan bagian

dari kemampuan mengingat dengan mengulang kembali apa yang telah

disebutkan.

16
c. Atensi merupakan kemampuan untuk memfokuskan (memusatkan) perhatian

pada masalah yang dihadapi. Konsentrasi merupakan hal yang penting dalam

belajar. Hal ini memberikan kemampuan untuk memproses hal penting yang

dipilih dan mengabaikan yang lainnya. Visuospasial merupakan fungsi

kognitif yang kompleks mengenai kemampuan tata ruang, termasuk

menggambar 2 maupun 3 dimensi. Pada gangguan visuospasial penderita

mudah tersesat di lingkungannya.

d. Memori menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Memori membuat kita

mampu menginterpretasi dan bereaksi terhadap persepsi yang baru dengan

mengacu kepada pengalaman lampau. Evaluasi yang akurat dan tepat dari

fungsi memori merupakan salah satu bidang yang paling penting dalam

evaluasi fungsi kognitif. Mereka mungkin lupa tanggal, lupa rincian

pekerjaan atau gagal mengingat janji di luar kegiatan rutin.

e. Bahasa merupakan fungsi kognitif dasar bagi komunikasi pada manusia. Bila

terdapat gangguan pada bahasa, penilaian faktor kognitif yang lain agak sulit

untuk diperiksa. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa

merupakan hal yang sangat penting. Bila terdapat gangguan, hal ini akan

mengakibatkan hambatan yang berarti bagi seseorang.

6. Penurunan Fungsi Fognitif Pada Pasien Stroke

Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan

mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan yang terganggu yaitu (Stuart and

Sundeen, 1995):

17
a. Gangguan pada lobus frontalis, akan ditemukan gejala-gejala kemampuan

memecahkan masalah berkurang, hilang rasa sosial dan moral, impilsif,

regresi.

b. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala amnesia dan

demensia.

c. Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala yang

hampir sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi.

d. Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi

seperti gangguan daya ingat, memori, dan disorientasi.

7. Prinsip Dasar Stimulasi/Rehabilitasi Kognitif

Menurut Kemenkes (2010), prinsip dasar stimulasi/rehabilitasi kognitif

adalah menilai gangguan yang berkaitan dengan fungsi dan struktur otak tertentu

dengan cara menganalisis proses kognitif. Adapun prinsip dasar

stimulasi/rehabilitasi kognitif adalah sebaggai berikut:

a. Stimulasi/rehabilitasi kognitif berkaitan erat dengan proses belajar dengan

penekanan pada penguatan fungsi-fungsi yang hilang, kemampuan diri, dan

kontrol diri.

b. Stimulasi/rehabilitasi kognitif dilaksanakan dengan melakukan diagnostik

medis dan diagnostik neuropsikologis, untuk melihat gangguan yang terjadi

dan penyebabnya meliputi perspektif fisik, kognitif, emosi, dan sosial.

c. Sesi stimulasi/rehabilitasi kognitif selalu terstruktur dan terencana dengan

membangun aktivitas dengan referensi dari kedua pengukuran (pengukuran

18
gangguan kognitif dan gangguan aktivitas sosial/sehari-hari) dengan data

yang ada dan merespon kebutuhan evaluasi objektif untuk menilai efektivitas

terapi.

d. Rehabilitasi kognitif bersifat fleksibel dan memberikan pemahaman penderita

untuk lebih memahami kondisi saat ini sehingga dapat beradaptasi dengan

memunculkan kemampuan-kemampuan baru yang adaptif serta

memodifikasi/merubah pemikiran, perasaan dan emosi negatif.

e. Pendekatan stimulai/rehabilitasi sosial dilakukan dengan dukungan dari

terapis, klien, dan anggota keluarga yang menyembuhkan. Pendekatan

dilakukan dengan melalui partisipasi aktif dan berorientai pada tujuan yang

terfokus untuk mengatasi problem pasien agar dapat membangun

kepercayaan diri.

8. Hubungan Fungsi Kognitif Dengan Usia Pada Pasien Stroke

Stroke telah terbukti menjadi penyebab utama kecacatan kronik di semua

lapisan masyarakat. Penderita yang selamat dari stroke dapat mengalami

kecacatan fungsi kognitif akibat kerusakan otak. Pada dasarnya semua kelainan

yang mengenai otak dapat menimbulkan gangguan fungsi kognitif.

Terminologi fungsi kognitif biasa digunakan untuk menjelaskan berbagai

kemampuan mental dan intelektual termasuk memori, perhatian, penalaran, dan

kondisi kesadaran secara umum. Pada stroke tahap awal hampir 50% kerusakan

menyebabkan perubahan tingkat kesadaran. Ada yang tidak sadar untuk jangka

19
waktu panjang (koma); kebingungan, diorientasi atau tampak aphatheic dan

lethargeic untuk beberapa jam atau hari (Djohan, 2006).

Menurut Kemenkes (2010), faktor-faktor yang berpengaruh pada fungsi

kognitif penderita stroke adalah faktor usia dan tingkat pendidikannya. Usia lanjut

merupakan salah satu faktor risiko utama akan timbulnya berbagai penyakit yang

berhubungan denggan proses penuaan. Sebagai contoh adalah demensia

merupakan penyakit yang sering ditemukan pada usia lanjut. Pada awal penyakit

demensia dapat ditemukan gejala mudah lupa yang menyebabkan penderita tidak

mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda

dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang

termudah. Gejala gangguan kognitif ini dapat diikitu gangguan perilaku seperti

waham (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barang), halusinasi

pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan

tidur, nafsu makan dan berkelana. Gejalanya antara lain, disorientasi, gangguan

bahasa (afasia), penderita mudah bingung, penurunan fungsi memori lebih berat

sehingga penderita tidak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak

mengenal anggota keluarganya dan tidak dapat mengingat tindakan yang sudah

dilakukan sehingga dapat mengulanginya lagi. Selain itu penderita dapat

mengalami gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di

lingkungannya.

Issue menganai penurunan kognitif selama tahun-tahun masa dewasa

merupakan suatu hal yang propokatif (Santrock, 2004). David Wechsler (2000)

yang mengembangkan skala inteligensi menyimpulkan bahwa masa dewasa

20
dicirikan dengan penurunan kognitif karena adanya proses penuaan yang dialami

setiap orang pada hal ini stroke. Dari banyak penelitian diterima secara luas

bahwa kecepatan memproses informasi, mengingat dan memecahkan masalah,

mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Penelitian lain membuktikan

bahwa penderita stroke pada dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali

informasi yang telah disimpan dalam ingatannya. Ini berarti fungsi kognitif pada

pasien stroke sangat erat hubungannya dengan faktor usia. Semakin bertambahnya

usia, fungsi kognitif pada pasien stroke semakin menurun.

9. Hubungan Fungsi Kognitif Dengan Tingkat Pendidikan Pada Pasien

Stroke

Selain umur, tingkat pendidikan juga diketahui sebagai salah satu faktor

yang mempengaruhi dalah hasil pemeriksaan fungsi kognitif. Pendidikan

merupakan komponen penting yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif individu

berusia lanjut. Fasilitas pendidikan semakin tahun memang semakin meningkat,

sehingga generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan

yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Hal ini tentu sangat berdampak pada uji

tes MMSE (Mini Mental State Examination) untuk penderita stroke yang berusia

lanjut. Kemampuan intelektual seseorang berkorelasi positif dengan hasil skor

pada test fungsi kognitif yaitu tes MMSE.

10. Hubungan Fungsi Kognitif Dengan Waktu Terjadinya Stroke

Gangguan fungsi kognitif juga dipengaruhi dari lama stroke itu terjadi

yaitu pada fase akut dan sub akut.

21
a. Gangguan fungsi kognitif pada stroke akut

Kerusakan pada lokasi otak tertentu menyebabkan gangguan kognisi yang

sesuai. Stroke pada hemisfer dominan menyebabkan gangguan berbahasa (afasia)

dan apraksia. Pada hemisfer non dominan gangguan kognitif dapat berupa neglect

(pengabaian) pada salah satu sisi obyek atau ruang. Gangguan kognisi tidak hanya

terjadi pada kerusakan di kortikal, namun dapat juga pada subkorteks karena

mengenai sirkuit-sirkuit yang ikut mengatur fungsi kognitif antar bagian-bagian di

otak. Gangguan kognisi juga dapat sekunder akibat gangguan sensorik, visual dan

motorik.

b. Gangguan fungsi kognitif pada stroke subakut

Kebanyakan gangguan kognitif pasca stroke membaik setelah periode

subakut (sampai 3 bulan setelah stroke) atau lebih awal. Pada fase subakut,

proporsi gangguan kognitif berkisar antara 50-90%, tergantung populasi dan

metode penelitian yang dipakai. Pada fase ini menentukan perkembangan fungsi

kognitif adaah perbaikan sirkulasi serebral karena rekanalisasi spontan,

neuroplastisitas, dan adanya ppenyulit yang menyertai. Kebanyakan daerah

penumbra mengalami reperfusi dalam waktu 3 bulan stroke. Setelah 3 bulan

ukuran kerusakan dan defisit kognitif cenderung stabil. Rehabilitasi juga ikut

menentukan perbaikan kognitif pada fase ini.

22
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep adalah konsep yang dipakai sebagai landasan berpikir

dalam kegiatan ilmu (Nursalam, 2003). Adapun kerangka konsep untuk penelitian

ini adalah sebagai berikut:

Etiologi: Faktor-faktor risiko:


1. Trombosis 1. Hipertensi 8. Merokok
2. Embolisme serebral 2. Diabetes Mellitus 9. Kelainan
3. Iskemia. 3. Penyakit Jantung Pembuluh Darah Otak
4. Hemoragi serebral 4. Gangguan Aliran Darah 10. Lanjut usia
Sepintas 11. Penyakit paru-paru
5. Hiperkolesterolemi menahun terutama
Stroke
6. Infeksi asma bronkial.
7. Obesitas 12. Penyakit darah
tertentu
13. Asam urat yang
berlebihan
SH SNH

1. Kehilangan motorik 1. Orientasi


2. Kehilangan komunikasi 2. Registrasi
3. Gangguan persepsi 3. Perhatian dan
4. Disfungsi kandung kemih Kalkulasi
4. Mengingat
5. Kerusakan kognitif 5. Bahasa

Gambar 2

Kerangka Konsep Gambaran Harga Diri Pada Pasien Stroke

Keterangan:

: Variabel diteliti

: Variabel tidak diteliti

23
B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel penelitian

Raffi dalam (Nursalam, 2003) menyatakan, variabel adalah suatu ciri yang

dimiliki oleh anggota suatu kelompok (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan

yang dimiliki oleh kelompok tersebut.

Dalam penelitian ini akan diteliti satu variabel yaitu fungsi kognitif pada

pasien stroke.

2. Definisi operasional

Variabel yang telah didefinisikan perlu didefinisikan secara operasional,

sebab setiap istilah (variabel) dapat diartikan secara berbeda-beda oleh orang yang

berlainan (Nursalam, 2003). Definisi Operasional adalah seperangkat instruksi

yang lengkap untuk menetapkan apa yang akan diukur dan bagaimana cara

pengukurannya yang dibuat menurut pemikiran peneliti.

Tabel 2

Definisi Operasional Fungsi Kognitif Pasien Stroke

Cara
Definisi Skala
Variabel Parameter Mendapatkan Alat Ukur
Operasional Pengukuran
data
1 2 3 4 5 6
Fungsi Fungsi kognitif Orientasi, Wawancara MMSE Skala

kognitif adalah skor Registrasi, dan Observasi (Mini Ordinal

24
pasien yang terkait Perhatian dan Mental 24 -30:

stroke dengan fungsi Kalkulasi, State fungsi

otak yang Mengingat, Examinati kognitif

meliputi Bahasa on) normal

penilaian 17-23 :

orientasi, Mungkin

registrasi, terdapat

perhatian dan gangguan

kalkulasi, fungsi

mengingat, kognitif

serta bahasa. (probable

gangguan

kognitif )

0-16 :

Fungsi

kognitif

terganggu

(definite

gangguan

kognitif)

25
26
LAMPIRAN I

MINI-MENTAL STATE EXAM (MMSE)

(modifikasi FOLSTEIN)

Nama Pasien:………………..( Lk / Pr )

Umur:………………Pendidikan……...........……Pekerjaan:........…………

Pemeriksa:………………

Tgl………………

Item Tes Nilai Nilai

maks.
ORIENTASI

1 Sekarang (tahun), (musim), (bulan), (tanggal), (hari) 5 -

apa?

2 Kita berada dimana? (negara), (propinsi), (kota), 5 -

(rumah sakit), (lantai/kamar)

REGISTRASI

3 Sebutkan 3 buah nama benda ( garputala, reflek 3 -

hummer, tongue spatel), tiap benda 1 detik, pasien

disuruh mengulangi ketiga nama benda tadi. Nilai 1

untuk tiap nama benda yang benar. Ulangi sampai

pasien dapat menyebutkan dengan benar dan catat

27
jumlah pengulangan

ATENSI DAN KALKULASI

4 5 -

Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban

yang benar. Hentikan setelah 5 jawaban. Atau disuruh

mengeja terbalik kata “ WAHYU” (nilai diberi pada

huruf yang benar sebelum kesalahan; misalnya

uyahw=2 nilai)

MENGINGAT KEMBALI (RECALL)

5 Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di 3

atas

BAHASA

6 Pasien diminta menyebutkan nama benda yang 2

ditunjukkan ( buku,pulpen)

7 Pasien diminta mengulang rangkaian kata :” tanpa 1

kalau dan atau tetapi ”

Pasien diminta melakukan perintah: “ Ambil kertas -

8 ini dengan tangan kanan, lipatlah menjadi dua dan 3

letakkan di lantai”.

28
-

9 Pasien diminta membaca dan melakukan perintah 1

“Angkatlah tangan kiri anda”

10 Pasien diminta menulis sebuah kalimat (spontan) 1

11 Pasien diminta meniru gambar di bawah ini 1

Sskor 30

Total

Pedoman Skor kognitif global (secara umum):

Nilai: 24 -30: normal

Nilai: 17-23 : probable gangguan kognitif

Nilai: 0-16:definite gangguan kognitif

Catatan: dalam membuat penilaian fungsi kognitif harus diperhatikan tingkat

pendidikan dan usia responden

Dikutip dari: Kolegium Psikiatri Indonesia. Program pendidikan dokter spesialis

psikiatri. Modul psikiatri geriatri. Jakarta (Indonesia): Kolegium Psikiatri

Indonesia; 2008.

29
30