Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

Ruang : Sendang Gile Nama mahasiswa : AMELIA


Tanggal : NIM/Kelompok :001SYE16
Inisial pasien : TN,A
Umur/No Reg : 60.10,90

I. Landasan Teori
A. Anfis
Menurut berdasarkan ( Syaifuddin. 2011 )
1. Tulang
a. Bagian-bagian utama tulang rangka
Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah jaringan hidup yang
akan suplai saraf dan darah. Tulang banyak mengandung bahan kristalin anorganik
(terutama garam-garam kalsium) yang membuat tulang keras dan kaku, tetapi sepertiga
dari bahan tersebut adalah jaringan fibrosa yang membuatnya kuat dan elastis.
Klasifikasi tulang pada orang dewasa digolongkan pada dua kelompok yaitu axial skeleton
dan appendicular skeleton.
Fungsi utama tulang-tulang rangka adalah :
a) Sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi bentuk tubuh
b) Untuk memberikan suatu system pengungkit yang digerakan oleh kerja otot-otot yang
melekat pada tulang tersebut; sebagai suatu system pengungkit yang digerakan oleh
kerja otot-otot yang melekat padanya.
c) Sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium, dan elemen-elemen lain
d) Untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum merah
tulang tertentu.
b. Struktur tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi :
a) Tulang panjang ditemukan di ekstremitas
b) Tulang pendek terdapat di pergelangan kaki dan tangan
c) Tulang pipih pada tengkorak dan iga
d) Tulang ireguler (bentuk yang tidak beraturan) pada vertebra, tulang-tulang wajah, dan
rahang.

c. Perkembangan dan pertumbuhan tulang


Perkembangan dan pertumbuhan pada tulang panjang tipikal :
a) Tulang didahului oleh model kartilago.
b) Kolar periosteal dari tulang baru timbul mengelilingi model korpus. Kartilago dalam
korpus ini mengalami kalsifikasi. Sel-sel kartilago mati dan meninggalkan ruang-ruang.
c) Sarang lebah dari kartilago yang berdegenerasi dimasuka oleh sel-sel pembentuk tulang
(osteoblast),oleh pembuluh darah, dan oleh sel-sel pengikis tulang (osteoklast). Tulang
berada dalam lapisan tak teratur dalam bentuk kartilago.
d) Proses osifikasi meluas sepanjang korpus dan juga mulai memisah pada epifisis yang
menghasilkan tiga pusat osifikasi.

2. Sendi
Artikulasi atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligament,
tendon, fasia, atau otot. Sendi diklasifikasikan sesuai dengan strukturnya.
a. Sendi fibrosa
Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak. Tulang-tulang dihubungkan oleh serat-
serat kolagen yang kuat. Sendi ini biasanya terikat misalnya sutura tulang tengkorak.
b. Sendi kartilaginosa
Permukaan tulang ditutupi oleh lapisan kartilago dan dihubungkan oleh jaringan
fibrosa kuat yang tertanam kedalam kartilago misalnya antara korpus vertebra dan
simfisis pubis. Sendi ini biasanya memungkinkan gerakan sedikit bebas.
c. Sendi synovial
Sendi ini adalah jenis sendi yang paling umum. Sendi ini biasanya memungkinkan
gerakan yang bebas ( lutut, bahu, siku, pergelangan tangan, dll.) tetapi beberapa
sendi sinovial secara relatif tidak bergerak

3. Otot Rangka
Otot (musculus) merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat
bergerak. Ini adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma
mengubah bentuk. Pada sel-sel, sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang
panjang disebut miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka miofibril akan
memendek. Dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya kearah tertentu
(berkontraksi).
Ciri-ciri Otot antara lain :
a. Kontraktilitas
Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau mungkin juga tidak
melibatkan pemendekan otot. Serabut akan terolongasi karena kontraksi pada setiap
diameter sel berbentuk kubus atau bulat hanya akan menghasilkan pemendekan yang
terbatas.
b. Eksitabilitas
Serabut otot akan merespon dengan kuat jika distimulasi oleh implus saraf.
c. Ekstensibilitas
Serabut otot memiliki kemampuan untuk meregang melebihi panjang otot saat relaks.
d. Elastilitas
Serabut otot dapat kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau meregang.

Struktur otot rangka


Otot rangka tersusun atas sejumlah besar serat-serat otot. Sel-sel silindris tidak bercabang.
Otot ini disokong oleh jaringan ikat dan mempunyai banyak suplai darah dan saraf. Setiap
sel mempunyai banyak nuklei dan mempunyai penampilan lurik. Dindingnya atau
sarkolema, mengandung myofibril yang dibungkus dengan rapat dalam sarkoplasma cair.
Kontraksi otot adalah karena reaksi filament aktin dan miosin satu sama lain, seperti ketika
mereka menyisip satu sama lain dan menarik ujung dari sel otot saling mendekat. Serat
otot memendek sampai dengan sepertiga dari panjangnya saat kontraksi.
Ada tiga jenis jaringan otot yang dapat dibedakan atas dasar strukturnya dan ciri fiologis
yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
a. Otot polos (smooth muscle/involuntary muscle)
Otot polos mengandung sel berbentuk spindle dengan panjang 40-200 µm dengan inti
terletak di tengah. Myofibril ini sukar diperlihatkan dan tidak mempunyai corak
melintang. Serabut reticular transversa menghubungkan sel-sel otot yang berdekatan
dan membentuk suatu ikatan sehingga membentuk unik fungsional. Otot polos tidak
dibawah pengaruh kehendak.
b. Otot lurik (skeleton muscle/voluntary muscle)
Otot lurik mengandung sel-sel otot (serabut otot) dengan ukuran tebal 10-100 µm dan
panjang 15 cm. Serabut otot lurik berasal dari myotom, inti terletak dipinggir, dibawah
sarcolema.memanjang sesuai sumbu panjang serabut otot. Beberapa serabut otot
bergabung membentuk berkas otot yang dibungkus jaringan ikat yang disebut
endomycium. Bebefrapa endomycium disatukan jaringan ikat disebut perimycium.
Beberapa perimycium dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut epimycium (fascia).
Otot lurik dipersyafi oleh system cerebrosfinal dan dapata dikendalikan. Otot lurik
terdapat pada otot skelet, lidah, diaphragm, bagian atas dinding oesophagus.
c. Otot Jantung
Terdiri dari serabut otot yang bercorak yang bersifat kontraksinya bersifat otonom.
Tetapi dapat dipengaruhi system vagal. Serabutnya bercabang-cabang, saling
berhubungan dengan serabut otot di dekatnya. Intinya berbentuk panjang dan terletajk di
tengah.Sarkosom jauh lebih banyak dari pada otot rangka.

B. Konsep gangguan pemenuhan kebutuhan


Aktivitasa dalah suatu energy atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukan untuk
dapat memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan
seseorang melakukan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Adapun system tubuh
yang berperan dalam kebutuhan aktivitas antara lain: tulang, ototdan tendon, ligamen, system
saraf dan sendi. (Engkus Kusnaidi S.kep, M.Kes.2013 )
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas,
mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan
kesehatannya. (A.Azis Alimul H. 2009 ).
Jenis-jenisimobilitasantara lain:
1. Imobilitasfisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
2. Imobilitas intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya
piker, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.
3. Imobilitas emosional, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara
emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
4. Imobilisasi sosial,keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaks
isosial Karen akeadaan penyakitnya sehingga mempengaruhi perannya dalam kehidupan
sosial.
5. Aktivitas penuh
merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat
melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
6. Aktivitas sebagian
merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mam.pu
bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada
area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan
pemasangan traksi.
a. Dampak dari imobilitas dalam tubuh dapat mempengaruhi system tubuh, seperti
perubahan pada metabolisme, ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, gangguan
pengubahan zat gizi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan system pernafasan,
perubahan kardiovaskular, perubahan system musculoskeletal, perubahan system
integumen, perubahan eliminasi, dan perubahan perilaku.
C. Klasifikasi
1. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas
sehingga dapat melakukan intraksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas
penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol
seluruh area tubuh seseorang.
2. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas
dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik
dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah
tulang dengan pemasangan traksi, pada pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas
sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik
Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversible pada
system musculuskletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
b. Mobilisasi permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan
yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang
reversible, contonya terjadi hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang
belakang , poliomilitis karena terganggu system saraf motorik dan sensorik.
D. Tanda dan gejala
Dampak fisiologisnya dari imobilitas, antara lain:
EFEK HASIL
1. Penurunan konsumsi 1. Intoleransi ortostatik
oksigen maksimum 2. Peningkatan denyut
2. Penurunan fungsi ventrikel jantung, sinkop
kiri 3. Penurunan kapasitas
3. Penurunan volume kebugaran
sekuncup 4. Konstipasi
4. Perlambatan fungus usus 5. Penurunan evakuasi
5. Pengurangan miksi kandung kemih
6. Gangguan tidur 6. Bermimpi pada siang hari,
halusinasi

E. Patofisiologi
Menurut ( A.Azis Alimul H. 2009 ), proses terjadinya gangguan aktivitas tergantung dari
penyebab gangguan yang terjadi. Ada tiga hal yang dapat menyebabkan gangguan tersebut,
diantaranya adalah :
1. Kerusakan Otot
Kerusakan otot ini meliputi kerusakan anatomis maupun fisiologis otot. Otot berperan
sebagai sumber daya dan tenaga dalam proses pergerakan jika terjadi kerusakan pada otot,
maka tidak akan terjadi pergerakan jika otot terganggu. Otot dapat rusak oleh beberapa hal
seperti trauma langsung oleh benda tajam yang merusak kontinuitas otot. Kerusakan
tendon atau ligament, radang dan lainnya.
2. Gangguan pada skelet
Rangka yang menjadi penopang sekaligus poros pergerakan dapat terganggu pada kondisi
tertentu hingga mengganggu pergerakan atau mobilisasi. Beberapa penyakit dapat
mengganggu bentuk, ukuran maupun fungsi dari sistem rangka diantaranya adalah fraktur,
radang sendi, kekakuan sendi dan lain sebagainya.
3. Gangguan pada sistem persyarafan
Syaraf berperan penting dalam menyampaikan impuls dari dank e otak. Impuls tersebut
merupakan perintah dan koordinasi antara otak dan anggota gerak. Jadi, jika syaraf
terganggu maka akan terjadi gangguan penyampaian impuls dari dank e organ target.
Dengan tidak sampainya impuls maka akan mengakibatkan gangguan mobilisasi.
F. Komplikasi
Berdasarkan Komplikasi menurut (Syaifuddin. 2011) :
a. Perubahan metabolisme
secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal, mengingat
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh. Hal tersebut
dapat menyebabkan menurunnya basal metabolisme rate (BMR) yang menyebabkan
berkurangnya energi untuk perbaikan sel-sel tubuh, sehingga dapat memengaruhi
gangguan oksigenasi sel. Perubahan metabolisme imobilitas dapat mengakibatkan proses
anabolisme menurun dan katabolisme meningkat keadaan ini dapat beresiko
meningkatnya gangguan metabolisme. Proses imobilitas dapat juga menyebabkan
penurunan ekskresi urine dan peningkatan nitrogen.
b. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan
mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang
sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Di samping itu, berkurangnya
perpindahan cairan dari intravaskuler ke interstisial dapat menyebabkan edema sehingga
terjadi ketidakseimbanagan cairan dan elektrolit. Imobilitas juga dapat menyebabkan
edema sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrilot. Imobilitas dapat
menyebabkan demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot, sedangkan
meningkatnya demineralisasi tulang dapat mengakibatkan reabsorsi kalium.
c. Gangguan perubahan zat gizi
Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan Protein dan
klori dapat mengakibatkan pegubahan zat-zat makanan pada Tingkat sel menurun, di
mana sel tidak lagi menerima glukosa, asam amino, lemak, dan oksigen dalam jumlah
yang cukup untuk melaksanakan aktivitas metabolisme
d. Perubahan eliminasi
Perubahan dalam eliminasi misalnya penurunan jumlah urine yang mungkin disebabkan
oleh kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine
berkurang.
e. Gangguan Fungsi Gastrointestinal
Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal, karena imobilitas dapat
menurunkan hasil makanan yang dicerna dan dapat menyebabkan gangguan proses
eliminasi.
f. Perubahan Sistem Pernapasan
Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernapasan. Akibat imobilitas, kadar
hemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot.
g. Perubahan Kardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas, yaitu berupa hipotensi ortostatik,
meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
h. Perubahan Sistem Integumen
perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena
menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas.
i. Perubahan Perilaku
perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas, antara lain timbulnya rasa bermusuhan,
bingung, cemas, dan sebagainya.

II. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Riwayat kesehatan
1. Riwayat Keperawatan Sekarang
Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alas an pasien yang menyebabkan terjadi
keluhan/gangguan dalam mobilitas dan imobilitas, seperti adanya nyeri, kelemahan otot,
kelelahan, tingkat mobilitas dan imobilitas, daerah terganggunya mobilitas dan imobilitas,
dan lama terjadinya gangguan mobilitas. ( A.Azis Alimul H. 2009 )
2. Riwayat Keperawatan Penyakit yang pernah Diderita
Pengkajian riwayat penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mobilitas,
misalnya adanya riwayat penyakit sistem neurologis (kecelakaan cerebrovaskular, trauma
kepala, peningkatan tekanan intrakranial, miastenia gravis, guillain barre, cedera medulla
spenalis, dan lain-lain), riwayat penyakit sistem kardiovaskular (infark miokard, gagal
jantung kongestif), riwayat penyakit sistem muskuloskeletal (osteoporosis, fraktur,
artritis), riwayat penyakit sistem pernapasan (penyakit paru obstruksi menahun,
pneumonia, dan lain-lain), riwayat pemakaian obat, seperti sedativa, hipnotik, depresan
sistem saraf pusat, laksansia, dll.
3. Kemampuan fungsi motorik
Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri dan
untuk menlai ada atau tidaknya kelemahan, kekuatan atau spatis.
4. Kemampuan Mobilitas
Pengkajian kemampuan mobilitas dilakukan dengan tujuan untuk menilai kemampuan
gerak ke posisi miring, duduk, berdiri, bangun, dan berpindah tanpa bantuan. Kategori
tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut:

Tingkat Aktivitas/Mobilitas Kategori


Tingkat 0 Mampu merawat diri sendiri secara
penuh
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan
orang lain
Tingkat 3 Memerlukan bantuan, pengawasan
orang lain, dan peralatan.
Tingkat 4 Sangat tergantung dan tidak dapat
melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan.
5. Kemampuan Rentang Gerak
Pengkajian Rentang gerak (Range Of Motion-ROM) dilakukan pada daerah seperti bahu,
siku, lengan, panggul dan kaki.

Gerak Sendi Derajat Rentang Normal


Bahu 180
Adduksi: Gerakan lengan ke lateral dari
posisi samping ke atas kepala, telapak
tangan menghadap ke posisi yang paling
jauh.
Siku 150
Fleksi: Angkat lengan bawah ke arah
depan dan ke arah atas menuju bahu.
Pergelangan Tangan 80-90
Fleksi: Tekuk jari-jari tangan ke arah
bagian dalam lengan bawah.
Ekstensi: Luruskan pergelangan tangan 80-90
dari posisi fleksi
Hiperekstensi: Tekuk jari-jari tangan ke 70-90
arah belakang sejauh mungkin

Abduksi: Tekuk pergelangan tangan ke 0-20


sisi ibu jari ketika tangan menghadap ke
atas.

Adduksi: Tekuk Pergelangan tangan kea 30-50


rah kelingking, telapak tangan
menghadap ke atas.
Tangan dan Jari 90

Fleksi: Buat Kepalan Tangan 90

Ekstensi: Luruskan Jari 30

Abduksi: Kembangkan jari tangan 20

Adduksi: Rapatkan jari-jari tangan dari 20


posisi abduksi
B. Masalah/ Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan mobilitas fisik akibat trauma tulang belakang, fraktur, dan nyeri
b. Intoleransi aktivitas akibat menurunnya tonus dan kekuatan otot
c. Kurangnya perawatan diri ( self care deficit ) : toileting, bathing, dressing, feeding
berhubungan dengan gangguan musculuskeletal dan kelemahan.
d. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik (neglected fraktur tibia fibula dekstra)
C. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Perencanaan Keperawatan
Tujuan:
a. Meningkatkan kekuatan, ketahanan otot dan fleksibilitas tinggi
b.Meningkatkan fungsi kardiovaskuler
c. Meningkatkan fungsi respirasi
d.Meningkatkan fungsi gastrointestinal
e. Meningkatkan fungsi system perkemihan
f. Memperbaiki gangguan psikologis
2. Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pengaturan posisi tubuh sesuai
kebutuhan pasien serta melakukan latihan ROM pasif dan aktif.
a. Pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi kebutuhan mobilitas dapat disesuaikan dengan
tingkat gangguan, seperti posisi fowler, sim, trendelenburg, dorsal recumbent, lithotomi,
dan genu pectoral.
1) Posisi Fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, di mana bagian kepala
tempat tidur lebih tinggi atau dinaikan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan
kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien.
2) Posisi Sim
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau miring ke kiri. Posisi ini dilakukan
untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat per anus (supositoria).
3) Posisi Lititomy
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas
bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan,
dan memasang alat kontrasepsi.
4) Posisi Trendelenburg
Posisi pasiom berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada
bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk mdancarkan perdaran darah ke otak.
5) Posisi Dorsal Recumbent
Pada posisi ini pasien berbaring tele;ntang dengan kedua lutut ficksi (ditarik atau
direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan
memeriksa genitalia scrta proses persalinan.
6) Posisi Genu Pectoral
Pada posisi ini pasien menungging dengan kcdua kaki ditekuk dan dada menempel
pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk mcmc;riksa daerah rektum
dan sigmoid.

D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi yang diharapkan dati haisl tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan
mobilitas adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan fungsi sistem tubuh
2. Peningkatan kekuatan dan ketahanan otot
3. Peningkatan fleksibilitas sendi
4. Peningkatan fungsi motorik, perasaan nyaman pada pasien, dan ekspresi pasien
menunjukan keceriaan.
DAFTAR PUSTAKA

A.Azis Alimul H. 2009, Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan,
Jakarta : Salemba Medika
Engkus Kusnaidi S.kep, M.Kes.2013, Askep Klien pada Gangguan Kebutuhan Dasar Manusia,
jakarta : In Media
Syaifuddin. 2011, Fisiologi Tubuh Manusia Untuk mahasiswa Keperawatan,Jakarta : Salemba
Medika