Anda di halaman 1dari 2

A.

Latar Belakang

Tanah sangat dibutuhkan dalam kehidupan sebab tanah dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-
tumbuhan untuk pertumbuhan. Sedangkan manusia sangat membutuhkan tanaman baik dalam
pemenuhan makanan, pakaian dan lain-lain. Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral
dan organik di muka daratan bumi yang terbentuk dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan
yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Komponen tanah (mineral, organik, air, dan
udara) tersusun antara satu dengan yyang lainnya membentuk tubuh tanah. Kenampakan dan
sifat-sifat tanah didaerah tertentu berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh proses
gabungan anasir alami yaitu bahan induk, iklim, topografi, dan organisme yang bekerja pada
waktu tertentu. Dengan kata lain, oleh karena intensitas faktor-faktor pembentuk tanah daerah
satu dengan yang lain berbeda maka tanah yang terbentuk juga berbeda.

Untuk mempelajari tanah telah dilakukan melalui beberapa disiplin ilmu yaitu ilmu kimia tanah,
fisika tanah, mineralogi tanah, klasifikasi tanah, mikrobiologi tanah, pedologi dan sebagainya.
Oleh karena memiliki fungsi yang multidimensional sering timbul masalah yang berkaitan
dengan tanah yaitu ketersediaan tanah terbatas sedangkan penggunaan semakin luas sehinnga
terjadi penurunan kualitas tanah. Karakteristik tanah yang utama bahwa dalam mempelajari
masalah tanah dibatasi oleh satuan pewakil pedosfer dalam bentuk pencuplikan dan analisis
tanah. Analisis tanah dapat berupa pengukuran secara kimiawi, fisika dan biologi yang bertujuan
untuk memahami sifat tanah dan kesesuaiannya untuk pertumbuhan tanaman.

II.TINJAUN PUSTAKA

Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai
kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor genetis lingkungan, yakni bahan induk,
iklim,organisme hidup (mikroorganisme dan makroorganisme),topografi, dan waktu yang sangat
panjang. Tanah dapat dibedakan dari ciri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia,
biologi, maupun morfologinya.(Rodriquez-Iturbe and Amilcar, 2004)

Tanah memiliki kualitas yang berbeda disetiap wilayah. Pada tahun 1994 Soil Science Society of
America (SSSA) telah mendefinisikan kualitas tanah sebagai kemampuan tanah untuk
menampilkan fungsi-fungsinya dalam penggunaan lahan atau ekosistem untuk menopang
produktivitas biologis, mempertahankan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan
manusia, hewan, dan tumbuhan (Agehara and Wameke,2005).

Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat dalam pori
tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen
volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas
tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan; (b) air
tanah(soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap air, (c) air tanah
dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian dalam
(Handayani, 2009).

Di Indonesia banyak tanah marginal yang berkandungan pasir tinggi seperti tanah vulkan
berpasir kasar dan tanah berpasir pantai. Tanah berpasir seperti itu memiliki struktur yang jelek,
berbutir tunggal lepas, berat volumenya tinggi, serta kemampuan menyerap dan menyimpan air
rendah sehingga kurang mendukung dalam usaha bercocok tanam. Disamping itu, tanah jenis ini
peka terhadap pelindian unsur-unsur hara dan peka terhadap erosi air maupun angin. Dalam
kaitannya dengan daya menyimpan air, tanah berpasir memiliki daya pengikatan terhadap lengas
tanah yang relatif kecil karena permukaan kontak antartanah pasiran ini didominasi oleh pori-
pori mikro. Oleh karena itu, air yang jatuh ke tanah jenis ini akan segera mengalami perlokasi
dalam air kapiler akan mudah lepas karen evaporasi (Mukhid, 2007).

Beberapa faktor yang memepengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain anasir iklim,
kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan adanya bahan penutup tanah baik
organik maupun anorganik (Walker and Paul, 2002).

Bahan organik dalam tanah dapat didefinisikan sebagai sisa-sisa tanaman dan hewan di dalam
tanah pada berbagai pelapukan dan terdir dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah
mati. Didalam tanah, bahan organik bisa berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi
tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki
fungsi yang tak tergantikan (Sutanto, 2005).

Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi mempunyai kapasitas penyangga tyang rendah
apabila basah. Kemampuan tanah untuk menyimpan air salah satunya air hujan menentukan juga
spesies apa yang tumbuh. Kadar lengas merupakan salah satu sifat fisika tanah untuk mengetahui
kemampuan penyerapan air dan ketersediaan hara pada setiap jenis tanaman (Anonim, 2007).