Anda di halaman 1dari 3

Salam sejahtera bagi kita semua

yang terhormat kepala dinas kesehatan, para pegawai dan staf yang
saya hormati, dan para hadirin sekalian. pertama tama marilah kita
panjatkan puji syukur sehingga kita bisa berkumpul dalam acara
rapat tahunan tanpa ada halangan satu apapun.

pada kesemptan kali ini saya akan menyampaikan pidato tentang


meningkatkan gizi yang belakangan ini menjadi salah satu penyebab
timbulnya berbagai penyakit diantaranya:
1. kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan bagi anak anak
2. kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan tubuh
3. kekurangan gizi juga bisa berdampak pada ibu hamil yang
mengakibatkan bayi prematur
dan masih banyak lagi masalah yang di timbulkan akibat kekurangan
gizi.

Maka dari itu orang tua harus perhatian pada asupan gizi
keluarganya terutama anak anak dan ibu hamil. dinas kesehatan
telah mengupayakan untuk menjaga kebutuhan gizi bagi semua
keluarga melalui Posyandu yang ada di setiap daerah dan beberapa
pelayanan juga digratiskan.

Biasanya banyak orang yang engga pergi ke Posyandu atau dokter


setempat karena takut untuk membayar. Sebenarnya pemerintah
juga sudah menyiapkan program untuk membantu keluarga miskin
dalam bidang kesehatan agar tidak terlalu banyak mengeluarkan
uang untuk kesehatn mereka.

mungkin cukup sekian pidato yang bisa saya sampaikan, saya sangat
berharap semua kalangan tidak enggan lagi untuk memeriksakan
kecukupan gizi mereka ke dokter atau Posyandu terdekat. Kurang
lebih saya mohon maaf dan terima kasih.
Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama
Sub Thema : Penguatan Pangan Keluarga

Salam sejahtera bagi kita semua. Terima kasih atas kesempatan yang
diberikan kepada saya untuk menyampaikan pidato ini.
Sebelum saya menyampaikan pidato ini, ada pepatah yang mengatakan
“tak kenal maka tak sayang.” oleh karena itu, ada baiknya saya
memperkenalkan diri. Nama saya Theofani, saya duduk di bangku kelas VIII.
Saya adalah perwakilan dari SMP BUDI MURNI-3. Sekali lagi terimalah salam
saya, salam sejahtera bagi kita semua.
Sudah layak dan sepantasnya, kita mengucap syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa, atas nafas kehidupan yang masih diberi pada kita, atas berkat hari
ini, serta karunia-Nya yang masih bisa kita rasakan, sehingga kita dapat
berkumpul di tempat ini dalam acara lomba pidato untuk memperingati Hari
Pangan Sedunia tahun 2016.
Yang terhormat Bapak/Ibu dewan juri, yang terhormat panitia
penyelenggara acara, yang terhormat Bapak/Ibu guru pendamping, dan yang
saya sayangi serta banggakan teman-teman peserta lomba.
Saya bangga sekali dapat berpidato di acara HPS tahun ini, dengan tema
“Penguatan Pangan Keluarga”.
Saya awali pidato ini dengan kutipan dari Bung Karno “Soal pangan
adalah soal hidup matinya bangsa.” Yang artinya, kita bisa hidup jika kita
memilki pangan, dan kita akan mati jika kita tidak memiliki pangan. Sebegitu
besarnya dampak dari pangan ini. Yang perlu dipertanyakan adalah apa
sebenarnya pangan itu?
Para hadirin sekalian, pangan dapat kita artikan yaitu ; segala sesuatu
yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah,
yang diperuntukkan oleh manusia. Dengan singkatnya, pangan adalah
makanan dan minuman yang sangat kita butuhkan. Itulah sebabnya Bung
Karno mengatakan soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa. Bagaimana
kita bisa hidup tanpa makan dan minum? Itu mustahil !!!
Bapak/Ibu guru, serta teman-teman sekalian, kita tahu dan sadar,
bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam,
dan mampu untuk menghidupi masyarakatnya. Betapa beruntungnya kita
tinggal dan hidup di Negara ini. Namun alam yang kaya ini janganlah kita rusak.
Kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Pertanyaannya, apakah dengan kekayaan alam yang melimpah ini
masyarakat Indonesia sudah sejahtera? Apakah setiap keluarga sudah dapat
memenuhi pangannya? Tentu jawabannya adalah belum! Karena masyarakat
kita masih banyak yang gelandangan dan busung lapar.
Lalu yang perlu dipertanyakan, apa permasalahan yang terjadi? Banyak
permasalahan yang dialami bangsa Indonesia yang juga berdampak pada
pangan keluarga. Salah satunya adalah
1. Masyarakat Indonesia sangat tergantung pada beras dan merupakan
makanan utama.
2. Terjadinya perubahan iklim/bencana alam yang mengakibatkan petani gagal
panen dan kurangnya persediaan pangan masyarakat.
3. Produksi makanan dari bahan-bahan berbahaya seperti : pemakaian
formalin, dan zat kimia lainnya.
4. Dan yang paling utama adalah kurangnya SDM yang tidak mampu mengolah
/memanfaatkan kekayaan alam Indonesia.
Dari permasalahan tersebut, siapakah yang harus bertanggung jawab?
Apakah presiden/pemerintah saja? Apakah yang membutuhkan makanan dan
minuman hanya Pak Jokowi beserta staf-stafnya? TIDAK ! semua orang
membutuhkan makanan dan minuman. Oleh karena itu, semua
orang/masyarakat Indonesia yang harus bertanggung jawab. Begitu juga sama
halnya dengan penguatan pangan keluarga yang bertanggung jawab bukan
hanya orang tua tetapi semua keluarga. Sebab “siapa yang makan daan minu
hendaklah ia bekerja keras”.
Lalu dengan permaslahan yang ada, bagaimana kita agar dapat
memenuhi kebutuhan pangan ? khususnya pangan keluarga ?
1. Mulailah dengan hal sederhana, sebaiknya setiap keluarga memulai
mengkonsumsi ubi/gandum sebagai pengganti beras 2 kali dalam satu minggu.
Sehingga dapat mengurangi pemakaian beras dan ketersediaan beras masih
ada.
2. Cobalah untuk menanam sayur-mayur di lingkungan tempat tinggal.
Memanfaatkan lahan yang ada atau dengan menggunakan pot/polibet. Seperti
: sayuran sawi, tomat, cabai, bawang dan lain-lain. Sehingga dapat memenuhi
langsung kebutuhan dalam keluarga dan tidak bergantung pada petani dan
terjamin sehat. Bahkan kami juga sudah menanam sayur di lingkungan sekolah
dengan lahan seadanya, untuk menggerakkan mari menanam sayur kepada
siswa/I, dan agar dapat dipraktekkan di rumah.
3. Saat Ayah dan Ibu berusaha mencari uang/bekerja, sebaiknya semua
aanggota keluarga belajar hidup hemat dengan : tidak membuang makanan,
membeli pangan yang secukupnya serta mengolah pangan itu sendiri sehingga
terjamin aman dari zat-zat kimia.
4. Makanlah makanan yang sehat bukan makanan yang cepat saji yang
menggunakan pengawet dan pewarna. Sebaiknya dimasak/diolah sendiri.
Virgina Woolf beerkata “Seorang tiidak akan bias berpikir dengan benar,
mencintai dengan benar, dan tidur dengan baik jika ia belum makan.” Kutipan
tersebut mengartikan bahwa, makanan dan minuman adalah kebutuhan
primer bagi manusia ! maka dari itu, penguatan pangan keluarga merupakan
tanggung jawab seluruh anggota keluarga.
Hadirin sekalian, demikian pidato ini saya sampaikan. Semoga dari paparan
saya, hadirin sekalian mendapatkan informasi yang sangat bermanfaat dan
termotivasi untuk meningkatkan produksi pangan untuk Negara khususnya di
dalam keluarga. Sehingga tercipta keluarga yang sejahtera.
Selamat Hari Pangan Sedunia, Tuhan Yesus Memberkati.