Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan oleh Bayu Ravik Nugraha (NIM 161411069)

Percobaan Cooling Tower ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja cooling tower
yang dapat diketahui melalui massa yang teruapkan dan efisiensi cooling tower. Cooling
tower adalah alat yang digunakan untuk mendinginkan air proses dengan cara
mengontakkan air dengan udara. Fungsi dari cooling tower adalah mendinginkan air atau
media kerja lainnya sampai bertemperatur mendekati temperatur bola basah udara sekitar.
Cooling tower beroperasi menurut prinsip difusi dimana adanya perubahan temperatur
dapat mengakibatkan perbedaan besarnya laju perpindahan massa dan panas yang terjadi.
Air panas yang masuk ke dalam cooling tower berasal dari proses pendinginan pada
beberapa alat yang beroperasi di Laboratorium Pilot Plant kemudian masuk ke dalam
cooling tower dan terjadi perpindahan panas melalui kontak langsung antara air yang
mempunyai suhu lebih tinggi ke udara yang mempunyai suhu lebih rendah kemudian
keluar sebagai air dingin yang akan digunakan lagi sebagai air pendingin. Air
dikontakkan dengan udara dan secara otomatis massa air berpindah ke udara. Karena air
dikontakkan terus menerus dengan udara, udara menjadi jenuh secara adiabatis dan suhu
air mengalami penurunan.

Evaluasi kinerja cooling tower dilakukan dengan mengamati dan mengukur


terlebih dahulu efisiensi dan massa yang teruapkan pada cooling tower. Pengukuran dan
pengamatan dilakukan selama 300 menit setiap 120 menit sekali. Beberapa data yang
diamati adalah laju alir air masuk dan keluar, laju alir udara masuk dan keluar, suhu air
masuk dan keluar, suhu bola basah dan bola kering udara masuk dan keluar. Pada
praktikum dilakukan perawatan terhadap menara pendingin untuk menghindari
tumbuhnya lumut, pada umumnya suasana lingkungan yang sesuai dengan syarat
hidupnya yang mengakibatkan mikroorganisme (lumut) dapat tumbuh didalam cooling
tower sehingga perlu ditambahkan zat biosida yang berupa metil karbamat sebagai zat
anti lumut. Perawatan untuk mengurangi kekeruhan pada air dapat dilakukan dengan
memberikan tawas dengan dosis 50 ppm, dosis tersebut diberikan berdasarkan instruksi
yang diberikan oleh pembimbing. Nilai kekeruhan pada aliran air pendingin sebelum
ditambah tawas adalah 2,94 NTU dan setelah ditambah tawas adalah 2,22 NTU pada run
ke 3 (akhir).
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh nilai kalor yang dilepas pada run 1 sebesar
2,6105395 x 105 kcal/h dan diperoleh nilai approach sebesar 10C dengan efektivitas dari
menara pendingin pada Laboratorium Pilot Plant adalah 80% sedangkan pada run 2 dan
run 3 nilai kalor yang dilepas sebesar 2,848377 x 105 kcal/h dan diperoleh nilai approach
sebesar 30C dengan efektivitas dari menara pendingin sebesar 66,67%. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin rendah nilai approach maka semakin besar efektivitas
pendinginan. Artinya cooling tower mampu mendinginkan air hingga 66,67% - 80%
mendekati range suhu maksimal atau jarak antara suhu wet bulb dan air masuk menara
pendingin. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa efisiensi menara pendindin bernilai
cukup tinggi atau > 50% hal ini menunjukan bahwa cooling tower di Laboratorium Pilot
Plant masih dapat bekerja dengan cukup baik dilihat dari kemampuan mendinginkan suhu
dialiran masuk dan massa air yang teruapkan pada cooling tower.