Anda di halaman 1dari 20

Haryo Bimo Wicaksono

03415540000043
Geoteknik Kelas B
EAS GEOTEKNIK

Paper Coastal Engineering


Judul: Zonasi Penurunan Muka Air Tanah di Wilayah Pesisir Berdasarkan Teknik
Geofisika Gaya Berat Mikro 4D (Studi Kasus: Daerah Industri Kaligawe – Semarang)
Penulis : Dino Gunawan Pryambodo dan Supriyadi

Kekurangan air bersih menjadi masalah yang besar bagi kota besar yang berada di wilayah
pesisir. Pengurangan jumlah air tanah sebagai pengisi dari akuifer mengakibatkan terjadinya
penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah biasanya diikuti tejadinya penurunan muka
tanah untuk daerah pesisir semarang sebesar 15 cm/tahun. Karena hal tersebut, menyebabkan
masuknya air laut ke daratan (intrusi) yang menyebabkan kandungan air tanah menjadi semakin
asin sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Teknik geofisika dengan metode gaya berat mikro 4D
dipilih karena pengunaannya yang ramah lungkungan dalam hal pengambilan datanya dengan
memanfaatkan dimensi keempat yaitu waktu (time lapse).

Lokasi penelitian berada di daerah Industri Kaligawe – Semarang (gambar 1), secara
geografis daerah ini terletak pada koordinat 110°26’51,96314” - 110°27’50,66908” Bujur Timur
dan 6°57’17,74590” - 6°57’56,75530” Lintang Selatan. Lokasi daerah penelitian berada di
Semarang Utara yang termasuk dalam daerah alluvial pantai Semarang.

Gambar 1. Lokasi daerah penelitian


Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Pemantauan muka air tanah di daerah Semarang selama ini hanya diamati dengan sumur
bor pantau yang telah dilakukan sejak tahun 1952 oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan
Bandung (gambar 2). Dari hasil pemantauan menunjukkan kecenderungan terjadinyapenurunan
muka air tanah di daerah semarang mencapai 1,5 m/tahun. Adanya penurunan muka air tanah
memungkinkan untuk dibuat peta zonasi akibat dari penurunan muka air tanahnya di daerah
Semarang.

Gambar 2. Penurunan muka air tanah pada sumur pantau Karangturi, Simpanglima, Brumbangan
dan Rejosari dari tahun 1952-2000.

Pengukuran gayaberat-mikro 4D di daerah Industri Kaligawe – Semarang telah dilakukan


sebanyak 2 kali mulai Juni 2004 dan Nopember 2005 dalam jarak rentang waktu 16 bulan dengan
jumlah stasiun titik amat sebanyak 47 stasiun. Anomali gayaberat mikro 4D merupakan selisih
dari nilai pengukuran gayaberat periode Juni 2004 dan Nopember 2005 (gobs(2) – gobs(1)) yang
disebabkan oleh perubahan tinggi stasiun pengamatan akibat adanya amblesan tanah dan dinamika
densitas bawah permukaan akibat dari penambahan dan pengurangan air tanah, dengan asumsi
bahwatidak terjadi penambahan bangunan di sekitar titik stasiun pengamatan.

Dengan,

(gobs(2) – gobs(1))= gayaberat pengukuran (mGal)


G = Konstanta gayaberat universal (6.673 x 10-11 m3kg-1s-2-)
Δρ = kontras densitas (g/cm3)
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
(α,β,γ) = koordinat densitas (m)
(x, y,z) = koordinat stasiun pengamatan (m)

Anomali gayaberat mikro 4D selama selang waktu tersebut ada yang bernilai positif dan
negatif. Anomali positif (+) berhubungan dengan penambahan air tanah dan amblesan tanah (land-
subsidence) dalam selang waktu tersebut. Sedangkan anomali negatif (-) berhubungan dengan
pengurangan massa air tanah (penurunan muka air tanah).

Pada gambar 3, menunjukan bahwa hampir 80 % daerah penelitian memiliki anomali


gayaberat mikro 4D negatif, hal ini menunjukkan bahwa respon gayaberat akibat pengurangan
airtanah lebih besar dibandingkan dengan respon gayaberat akibat amblesan. Daerah dengan nilai
anomali gayaberat negatif besar terletak di sebelah utara dan di barat laut (warna hijau) daerah
penelitian (Gambar 3). Dikarenakan pada daerah penelitian adalah daerah industri dan melakukan
pengambilan air cukup banyak. Anomali gayaberat mikro 4D yang mendekati nol (0)
menunjukkan bahwa daerah tersebut stabil atau respon amblesan tanah hampir sama dengan
respon penurunan air tanah. Daerah dengan nilai anomali gayaberat mendekati nol amblesan, hal
ini bisa disebabkan oleh adanya rob (banjir genangan yang masuk dari arah laut (utara)).

Gambar 3. Peta Anomali gayaberat mikro antar waktu Periode Juni 2004 – Nopember 2005
daerah industri Kaligawe Semarang.

Anomali gradien vertical gaya berat 4D negative tinggi berwarna hijau ( -50 s/d -90
µGal/m) menunjukkan penurunan muka airtanah yang besar. Anomali gradien vertikal gayaberat
4D negative rendah berwarna biru (0 s/d -30 µGal/m), menunjukkan penurunan muka air sedang
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
terjadi disebelah tengah melebar ke utara dan kearah barat. Anomali gradien vertikal gayaberat
4D positif tinggi berwarna merah (+50 s/d +90 µGal/m) menunjukkan terjadi imbuhan air tanah.

Gambar 4. Peta Anomali gradien vertikal gayaberat antar waktu periode Juni 2004 – November
2005 daerah Industri Kaligawe Semarang.

Untuk lebih memperjelas zona-zona yang mengalami penurunan muka airtanah, imbuhan
airtanah, atau amblesan, maka dilakukan analisa dari peta gayaberat mikro 4D, peta gradien
vertikal gayaberat mikro 4D. Dengan menggunakan Tabel 1 maka akan dibuat peta kompilasi
antara peta gayaberat mikro 4D dan peta gradien vertikal gayaberat 4D akan menghasilkan suatu
peta zonasi yang akan menggambarkan perubahan – perubahan yang terjadi di daerah industry
Kaligawe – Semarang.

Tabel 1. Kombinasi anomali gayaberat mikro 4D dan anomaly gradien vertikal gayaberat 4D.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 5. Peta Zonasi penurunan muka air tanah periode Juni 2004 – November 2005 daerah
industry Kaligawe – Semarang
Dari peta zonasi yang telah dibuat dapat diketahui bahwa hamper 70 % daerah penelitian
mengalami penurunan muka air tanah dan amblesan tanah dengan waktu yang hamper bersamaan,
hal ini disebabkan karena perkembangan pengambilan air tanah yang pesat di daerah ini dan
mengakibatkan perubahan kondisi dan lingkungan air tanah, sebagai pencerminan terjadinya
kerusakan tata airtanah dengan beberapa kualitas air sumur penduduk yang berubah menjadi payau
Penggunaan gayaberat mikro 4D dan gradien vertikal gayaberat 4D secara bersamaan dapat
membantu dalam proses interpretasi sehingga dapat diketahui batas-batas anomaly dimana
memberikan informasi zona-zona penurunan muka air tanah dan amblesan, dan hamper 70%
daerah penelitian mengalami penurunan muka air tanah dan amblesan, hal ini didukung dengan
adanya penurunan muka airtanah dari beberapa sumur pantau yang ada di sekitar daerah penelitian.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Paper Tentang Dam

Judul: Contribution of the geophysical methods in characterizing the water leakage in


Afamia B Dam, Syria
Penulis: Walid Al-Fares
Syira merupakan salah satu negara yang saat ini mengalami kekurangan sumber daya air,
terutama pada beberapa cekungan hidrogeologi seperti Damaskus, Al Yarmauok, AlGab, dan
cekungan lainnya. Masalah yang terjadi yang paling umum adalah disebabkan oleh kebocoran
bendungan pada batuan dasarnya khususnya bendungan yang dibangun diatas sesar dan cacat
struktur. Salah satu teknik utama yang digunakan untuk menangani maslaah tersebut adalah
penyelidikan dengan menggunakan metode geofisika. Lokasi penelitian dilakukan di bendungan
Afamia B yang berada di 40 km barat laut kota Hama, dekat peradaban kuno Apamea (Kota
Afamia) yang bertujuan untuk menggambarkan kemungkinan jalur kebocoran dari bendungan
Afamia B dengan menggunakan beberapa metode geofisika antara lain low frequency (EM),
electrical sounding (ES), dan electrical resistivity tomography (ERT).

Struktur geologi umum dari daerah penelitian sebagian besar berupa sinklin yang terdiri
dari batuan karbonat kapur dan dolomit. Batuan tersebut termasuk batuan karst yang merupakan
batuan yang dapat membentuk suatu celah, gua dan saluran bawah tanah. Selain itu, bendungan
ini masuk dalam zona seismogenik dengan potensi bahaya gempa tinggi dan secara historis kota
Afamia pernah hancur akbiat gempa bumi.

Gambar 1. Peta Geologi daerah penelitian menunjukkan lokasi bendungan Afamia


Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Metode elektromagnetik dipilih untuk digunakan di seluruh cekungan utama bendungan
Afamia B karena dinilai salah satu yang paling praktis dan cepat untuk dilakukan pada medan
daerah penelitian.metode ini dipilih untuk mengidentifikasi nonhomogenous lapisan dengan
kedalaman 0-6 m seperti mendeteksi perbedaan objek bawah permukaan, saluran yang terkubur,
dan celah bawah permukaan. Grid pengukuran metode ini dipilih pada zona yang terdapat danau
kering dimana infiltrasi dan kebocoran kemungkinan besar terjadi. Lebih dari 6500 titik
pengukuran dilakukan pada situs dengan interval jarak 4 m. pengukuran meliputi luas area 70.000
m2 yang merupakan tiga zona besar (I, II, III) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Data yang
terkumpul aka menjadi model konduktivitas dari daerah penelitian.

Gambar 2. Peta konduktivitas survey elektromagnetik pada bendungan Afamia B.

Metode electrical sounding (ES) adalah salah satu metode geofisika yang sering digunakan
untuk mengukur resistivitas tanah. Metode ES digunakan banyak dalam investigasi hidrogeologi.
Electrical sounding digunakan bertujuan untuk memverifikasi geologi dari formasi bendungan dan
diintegrasikan dengan metode lain untuk mendapatkan penggambaran struktur danau bendungan.
Empat titik pengukuran ES dilakukan disisi kanan danau, dekat dengan bendungan (gambar 2) dan
terletak di dalam zona survey elektromagnetik. Konfigurasi Schlumberger digunakan dimana jarak
elektroda maksimum AB antara 300 dan 600 m tergantung pada kondisi topografi.
Metode Electrical Resistivity Tomography (ERT) digunakan untuk memperoleh lebih
banyak informasi dan rincian lebih lanjut dalam 2D tentang litologi dan struktur geologi dasar
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
danau. Lima lintasan ERT dilakukan didekat bendungan (Gambar 2). Tiga lintasan tegak lurus
lembah utama dan dua lintasan lainnya sejajar dengan lembah utama. Setiap lintasan ERT terdiri
dari 72 elektroda dengan interval 3 m. Panjang lintasan berkisar antara 320 dan 430 m
menggunakan konfigurasi Wenner – Schlumberger.

Pada gambar 3 menunjukkan hasil survei elektromagnetik pada ketiga zona. Zona I pada
bagian barat daya dimana nilai-nilai konduktivitas berkisar antara 60 dan 170 mS/m (5 – 17 Ωm)
dan terdapat zona anomaly yang berarah utara – selatan dan dikelilingi oleh zona yang kurang
konduktif, dimana nilai berkisar antara 30 dan 50 mS/m (20 – 35 Ωm). Nilai konduktivitas relatif
lebih tinggi didistribusikan secara lurus garis anomali dan memnajng ke barat laut seperti yang
ditunjukkan pada gambar 3. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan pipa metalik yang terletak di
kedalaman 2-3 m dibawah permukaan. Pipa ini terhubung dengan menara pengisian bendungan,
dan biasanya digunakan untuk lubang udara selama pengisian air. Selain itu terdapat anomali yang
dibedakan di bagian timur danau, dengan arah menuju NW-SE dengan nilai konduktivitas berkisar
antara 50 dan 80 mS/m (20 – 10 Ωm). Zona II tidak menunjukkan adanya anomali dan zona III
diperoleh data nilai konduktivitas tinggi terutama di sepajang bagian tengahnya yang mungkin
mencerminkan kebocoran parsial air yang tersisa dari danau utama.

Gambar 3. Peta Konduktivitas survei elektromagnetik pada bendungan Afamia B

Hasil inversi empat titik ES (S1, S2, S3, S4) ditunjukkan pada gambar 4. Didapatkan kurva
resistivitas terdiri dari tiga, empat dan enam lapisan. Nilai resisitivitas (kurang dari 15 Ωm) diduga
merupakan endapan lumpur dan endapan superfisial. Nilai lainnya diduga merupakan batupasir,
batukapur dan konglomerat. Perbedaan nilai resistivitas dari setiap lapisan dari sudut pandang
hidrogeologi mengarah pada infiltrasi lateral di seluruh formasi permeable dan mengakibatkan
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
kebocoran dan diduga adanya fraktur, sesar dan lubang bor yang menghubungkan formasi
permukaan dengan batuan berkapur karst.

Gambar 4. Interpretasi metode vertical electrical sounding bendungan Afamia B

Gambar 5 menunjukkan model hasil pengolahan metode ERT (BP2, BP3, dan BP5).
Rentang nilai resisitivitas rendah dengan nilai antara 5 dan 25 Ωm diduga merupakan lempung dan
endapan lumpur, dan nilai resisitivitas tinggi yang berkisar antara 30 dan 120 Ωm diduga
merupakan formasi marl dan batupasir. Didapat juga rentang nilai resistivitas antara 200 dan 350
Ωm dan diduga merupakan lapisan tipis batukapur lakustrin. Indikasi dari hasil pengamatan pada
metode ES adalah adanya gangguan struktural yang jelas sepajang jarak antara 30 dan 170 m
(gambar 3). Jarak ini sesuai dengan bagia tengah dari depresi danau bendungan, dan kemungkinan
besar terkait dengan adanya patahan pada lembah utama menuju saluran menara pengisian.
Terjadinya fraktur dapat dianggap sebagai faktor utama yang bertanggung jawab atas adanya
kebocoran.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 5. Interpretasi model ERT dari lintasan BP2, BP3, dan BP5 bendungan Afamia B

Pada model lintasan BP2, ketebalan lempung horizontal dan endapan lumpur mencapai 10-
12 m membentuk bagian daei endapan dasar danau (gambar 5). Beberapa anomaly resistif (200-
350 Ωm diamati pada penampang resistivitas masuk pada zona diskontinuitas. Satu dari anomaly
ini terletak pada kedalaman 6-7 m, hal ini telah dikonfirmasi oleh parit yang langsung dibor
ditemukan persis sesuai dengan penampang ERT (gambar 6).

Gambar 6. Pengerukan parit untuk konfirmasi struktur diskontinuitas yang dideteksi oleh ERT
lintasan BP2
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Gambar 7 menunjukkan kondisi litologi yang sama yang diamati oleh WS dan BP2, BP3,
dan BP 5. Bagigan BP1 adalah keberadaan struktur dimulai dari penampang dengan jarak antara
70-100 m. struktur anomaly didapatkan pada kedalaman 10 m dari permukaan. Struktur ini
memiliki bentuk yang memanjang ke bawah dan dikelilingi oleh formasi tanah liat tebal. Dimana
nilai resistivitasnya mencapai 1200 Ω.

Gambar 7. Interpretasi dari penampang ERT lintasan BP1 dan BP4 bendungan Afamia B
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Paper Tentang Tunneling
Judul: Two-dimensional pre-stack time imaging based on tunnel space
Penulis: Fei Cheng, Jiangping Liu, Niannian Qu, Mao Mao, Liming Zhou
Pembangunan infrastruktur di perkotaan dan pengembangan lalu lintas melibatkan
penggalian terowongan. Namun, masih banyak penggalian terowongan yang dilakukan dengan
tidak mengenali kondisi geologi seperti zona fraktur, patahan, gua dan akuider di sekitarnya.
Akibat hal tersebut menjadikan bahaya mulai dari penundaan kemajuan konstruksi dan kerusakan
yang memakan korban. Pengukuran permukaan dapat memberikan gambaran umum mengenai
informasi geologi dengan melakukan survei geofisika. Metode seismik dinilai paling efektif karena
jangkauan enetrasi yang relative dalam dan resolusi tinggi.

Pada gambar 1 menunjukkan geometri akusisi seismik pada terowongan. Terowongan ini
memiliki Panjang 100 menit dan 12 menit. 83 receiver dengan 35 di kedua sisi dinding samping
masing-masing dan 13 di muka terowongan pada posisi berlawanan dengan jarum jam pada 1
menit. Source 1 berjarak 16 menit dari pegophone pertama dan soure 2 yang juga terletak pada
kedalaman 1 m di persimpangan dinding samping dan muka terowongan. Simbol titik dan bintang
merupakan symbol dari masing masing receiver dan source.

Gambar 1. Geometri Akuisisi

Dua layout survei (Gambar 1) dibuat untuk menyelidiki respon hasil pemodelan reverse
time migration dari sistem layout survei yang berbeda. Salah satu system adalah menggunakan
common-receiver gather dengan shot pada sisi dinding, dimana source 1 dan geophone terletak di
sepanjang dinding samping. Sistem lainnya menggunakan common-source gather dengan shot
terletak di muka terowongan dimana source 2 dan geophone terletak di sepanjang dinding
samping.

Untuk menganalisa pengaruh layout dan interface reverse time migration, 3 model teoritis
dirancang dan ditunjukkan pada gambar 2, dimana model diilustrasikan oleh kecepatan gelombang
P. model-model tersebut dapat membantu memverifikasi keefektifan metode simulasi numerik
yang diusulkan dan untuk memahami karakteristik lapangan untuk model yang berbeda dengan
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
variasi sudut dipping angle terhadap interface. Model 2 dan model 3 dirancang dengan dipping
angle masing-masing 75° dan 60°. Kedalaman dari tunnel face (muka terowongan) pada ketiga
model adalah 65 m.

Gambar 2. Model teoritis. (a) interface dengan sudut kemiringan 90 °; (B) interface dengan sudut
kemiringan 75 °; (c) inteface dengan sudut kemiringan 60 °; (d) ganjalan tiga lapis
model; (e) model dua lapis dengan interface dengan sudut kemiringan 60 ° dan menganggap
terowongan sebagai medium homogen dengan fitur elastis yang sama dari lapisan yang
dikelilingi. Tanda bintang mewakili sumber.
Hasil Simulasi full wave model I dari terowongan merekam direct wave P, gelombang
Rayleigh, reflection wave P, reflection wave konversi P-S, reflection wave konversi S-P dan
reflection wave S (gambar 3a, b). gambar 4a dan b menunjukkan gelombang P dan gelombang S
model reverse time migration yang berkaitan dengan gambar 3a dan b. dengan membandingkan
gambar 4a dan b, dapat dilihat bahwa energi dari model migrasi gelombang S (gambar 4b) lebih
kuat daripada model migrasi gelombang P (gambar 4a) ini memberikan gambaran bahwa sumber
dengan shot pada dinding samping lebih baik untuk pencitraan gelombang S. energi gelombang
P pada gambar 3c dan d lebih kuat daripada gambar 3a dan b sedangkan energi gelombang S pada
gambar 3c dan d lebih lemah dari yang ditunjukkan pada gambar 3a dan b. hal ini dikarenakan
ketika merekam pada dinding samping, gelombang Rayleigh mengkonversi ke gelombang S di
persimpangan dinding samping dan muka terowongan dan diterima oleh receiver. Energi migrasi
gelombang P di gambar 4c lebih kuat dari pada gambar 4a sementara energi migrasi gelombang S
pada gambar 4d lebih lemah daripada gambar 4b dan semuanya dapat menunjukkan posisi
interface. Melalui Analisa tersebut, terbukti bahwa pre-satack yang diusulkan metode reverse time
migration dapat memberikan gambar yang baik interface dengan sudut kemiringan (dipping angle)
besar. Sedangkan sumber pada muka terowongan memberikan gambaran lebih baik untuk
pencitraan gelombang P dan sumber pada dinding samping terowongan memberikan gambaran
lebih baik untuk pencitraan gelombang S.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 3. Synthetic records dari model I-1

Hasil simulasi geombang model II menunjukkan komponen x dan z yang rumit dihasilkan
oleh sumber titik di (100.153). pada gambar 2, interface dapat ditemukan dengan sudut kemiringan
60° yang memotong sumbu terowongan di 165 dan interface kecil dengan sudut kemiringan 90 °
memotong sumbu terowongan pada 177 m. gambar 4d terdapat gangguan penggambaran
gelombang P dan lebih baik untuk pencitraan P wave. Gangguan tersebut dapat dihilangkan
dengan kontras model reverse time migration gelombang P (gambar 4c).

Gambar 4. Simulated records dan reverse time migration model II


Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Hasil simulasi gelombang pada model III ditunjukkan pada gambar 5. Gambar 5a dan b
menunjukkan komponen x dan reverse time migration model pencitraan yang dihasilkan oleh
sumber titik di (100.153). Tanpa mempertimbangkan ruang terowongan, rekaman direct wave
gelombang P, reflection wave P (PP), dan reflection wave konversi P-S (PS) seperti yang
ditunjukkan pada gambar 5a. tidak mempertimbangkan ruang terowongan menyebabkan masalah
bawah rekaman gelombang menjadi simetris dan waktu perjalanannya berpusat di titik sumber
simetris seperti ditunjukkan pada gambar 8a.

Metode pencitraan migrasi waktu mundur pre-stack yang diusulkan dapat memenuhi
gambar model yang benar termasuk interface geologi dengan dipping angle besar di muka
terowongan. Ketika mempertimbangkan ruang terowongan, common source gather dengan shot
di dekat muka terowongan lebih baik untuk penggambaran gelombang P sementara common
receiver gather dengan shot didinding sampan lebih baik untuk pencitraan gelombang S. untuk
common reciver gather dengan shot di muka terowongan, energi penggambaran gelombang P
meningkat sementara energi penggambaran gelombang S menurun. Dipping angle besar
bermanfaat bagi penggambaran gelombang S dan dipping angle kecil bermaanfaat untuk
penggambaran gelombang P.

Gambar 5. Rekaman praktis dan pencitraan reverse time migration. (a) gelombang seismic
dengan Panjang rekaman 400 ms dengan sampling interval 0,0625 (b) pencitraan reverse time
migration.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Paper Tentang hubungan empirs parameter geoteknik dengan geofisika

Judul: Korelasi empiris antara kecepatan gelombang geser (Vs) dengan nilai N-SPT (Studi
Kasus Bandung Site)
Penulis: Enden Mina

Kecepatan gelombang geser (Vs) merupakan salah satu parameter dinamis tanah yang
penting dalam analisis salah satunya site specific response gempa. Korelasi empiris Vs dengan
parameter penyelidikan tanah pada suatu lokasi tertentu perlu dikembangkan untuk memperbaiki
kualitas dan kekuatan prediksi Vs dari hasil korelasi para peneliti sebelumnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan korelasi empiris antara Vs dengan parameter tanah lain dari hasil
penyelidikan lapangan atau laboratorium.
Untuk kepentingan kepraktisan dan pertimbangan ekonomis penentuan Vs melalui
pendekatan korelasi mulai dikembangkan oleh beberapa peneliti sebelumnya dan telah banyak
pengembangan persamaan korelasi Vs dengan parameter tanah seperti nilai N-SPT. Penelitian
dilakukan dengan manganalisis data tanah untuk Vs dari survey SDH dan MASW dengan data
tanah dari hasil penyelidikan tanah dan uji laboratorium. Korelasi Vs dengan parameter tanah
seperti N-SPT, kekuatan geser undrained (Su) dan angka pori € dikembangkan dengan membuat
analisis regresi non-linier daei pasangan data Vs dengan parameter yang ditinjau.

Dengan mengunakan 96 pasang data Vs dengan N-SPT dari seluruh data yang
dikumpulkan. Analisis regresi non linier dilakukan untuk memperoleh korelasi antara Vs dengan
N SPT. Gambaran proses analisis regresi untuk pengembangan korelasi empiris studi ini dan
perbandingan hasilnya dengan hasil para peneliti sebelumnya disajikan pada Gambar 1 dan
dirangkum pada Tabel 1.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 1. Persamaan korelasi yang dihasilkan dari analisis regresi untuk semua jenis tanah
kohesif (a) semua jenis tanah (b) dan tanah non kohesif (c)
Tabel 1. Hasil persamaan korelasi yang dihasilkan dalam studi ini (2011)

Korelasi Jayasaputra dipilih sebagai pembanding karena korelasi yang dihasilkannya


merupakan pengembangan data dari lokasi kota Jakarta yang merupakan daerah yang berdekatan
dengan kota Bandung. Perbandingan hasil studi korelasi dalam penelitian ini dengan persamaan
korelasi dari penelitian sebelumnya (Jayasaputra, 2010) disajikan pada gambar 2 dapat dilihat
bahwa, terdapat perbedaan hasil persamaan tetapi tidak berbeda secara signifikan karena prediksi
Vs keduanya masih dalam rentang Vs yang sesuai dengan hasil dari ASCE7-10. Pada tanah kohesif
prediksi Vs dari sini dengan Jayasaputra tidak berbeda secara signifikan. Sedangkan untuk kategori
tanah non kohesif dan semua jenis tanah prediksi nilai Vs dari Jayasaputra lebih tinggi harganya
dibandingkan prediksi studi ini.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 2. Perbandingan hasil korelasi studi ini (2011) dengan hasil korelasi jayasaputra (2010)
untuk semua jenis tanah (a), tanah kohesif (b) dan tanah non kohesif (c)

Dalam studi ini juga dikembangkan korelasi antara Vs dengan kekuatan geser undrained
dan angka pori. Kekuatan geser undrained diperoleh dari hasil uji triaksial Cu di laboratorium.
Hasil pengembangan korelasi Vs dengan Su melalui analisis regresi non-linier dari data dalam
studi ini disajikan dalam gambar 3, sedangkan hasil pengembangan korelasi Vs dengan angka pori
(e) disajikan dalam gambar 4.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B

Gambar 3. Hasil persamaan korelasi Vs dengan kekuatan geser undrained untuk data Bandung
(2011)

Gambar 9. Hasil persamaan korelasi Vs dengan angka pori (e) untuk data tanah Bandung (2011)

Koefisien korelasi untuk persamaan korelasi Vs dengan Su memiliki nilai yang cukup baik
dan memenuhi syarat adanya suatu korelasi yang signifikan demikian juga dengan hubungan
antara Vs dengan angka pori (e) nilai koefisien korelasinya memiliki nilai yang memenuhi syarat
sehingga korelasi antara keduanya cukup baik. Hasil korelasi dirangkum dalam table 2.
Tabel 2. Persamaan korelasi antara Vs dengan Su dan e

Secara keluruhan pengembangan korelasi empiris Vs terhadap parameter yanah seperti N-


SPT, kekuata geser undrained (Su), angka pori (e) memberikan suatu hubungan yang cukup baik.
Haryo Bimo Wicaksono
03415540000043
Geoteknik Kelas B
Dapat disimpulkan bahwa korelasi empiris studi ini memiliki prediksi Vs yang cukup baik dan
masih berada pada rentang prediksi dari bebepada peneliti terdahulu. Walaupun memiliki prediksi
Vs yang cukup baik, untuk penerapan pada suatu lokasi tertentu sebaiknya disertai dengan
perbandingan dan verifikasi dengan hasil penentuan Vs yang lainnya untuk menjamin
keakuratnnya. Hal tersebut sejalan dengan beberapa kesimpulan dari beberapa peneliti sebelumnya
bahwa persamaan korelasi tidak serta merta diterapkan pada suatu lokasi perlu pengecekkan dan
verifikasi untuk hasil prediksinya.