Anda di halaman 1dari 27

5.

1 Tujuan Instruksional

5.2 Tujuan Kepustakaan

A. Pengenalan Dasar Sistem Scada Distribusi

Sistem Scada sebagai pendukung operasi jaringan distribusi merupakan


kompleksitas Jaringan Yang Berkembang di karenakan Ferformace Operasi
Jaringan Distribusi Real Time sehingga dalam sistem ditribusi tenaga listrik Data
HIS belum terpusat, akurasi dan real time. Kondisi awal perubahan proses bisnis
operasi distribusi berbasis scada bisa dioperasikan secara optimal untuk
memenuhi standar mutu dan keandalan yang diinginkan oleh pelanggan dan
ditargetkan oleh manajemen sehingga pemasukan pemasok vendor dapat area
pengatur distribusi jasa switching /pengatur sistem distribusi 20 kv + layanan data.
Scada memiliki 6 peran dalam operasi Distribusi:

a. Saidi
b. Saifi
c. Efisiensi operasi & pemeliharaan
d. Loss reduction
e. Power quality
f. Analisa & evaluasi data

Sasaran sistem didtribusi tenaga listrik Deteksi Simpatitik Trip, Data gangguan
bisa terakses secara Real Time, Kecepatan Manuver / Lokasir lokasi gangguan,
Informasi Gangguan Penyulang bisa langsung terakses oleh Managemen terkait
secara Real Time, Aksesibility, kecepatan dan akurasi terhadap data-data Jika ada
DMS Lokasi gangguan bisa terdeteksi & Manuver sistem bisa lebih efisien.
Perbedaan Operasi distribusi dengan scada dan tanpa scada

Waktu Yang Diperlukan (


Menit)
No JENIS KEGIATAN
Tanpa Scada Dengan
Scada
1 Menerima panggilan akibat adanya
pemadaman, serta waktu yg diperlukan 25 1
untuk perjalanan ke Gardu

2 Waktu yang ditempuh antara Gardu ke


25 0.5
gardu

3 Waktu yang diperlukan untuk


30 0.5
memeriksa Indikator ganguan

4 Waktu yang dibutuhkan untuk 5 1


Open\Close PMT

5 Waktu yang diperlukan untuk open close 10 1


Saklar Pemisah\Beban

Waktu Total Untuk melakukan Recovery 95 4

Perbedaaan Waktu 94,95 %

Manfaat peralatan scada pada pengaturan sistem tenaga listrik sebagai berikut:

1. Mendapatkan sistem pengoperasian yang optimum, Mempercepat proses


pemulihan gangguan (Recovery)
2. Meningkatkan kehandalan sistem
3. Kecepatan memperoleh data/informasi yang akurat
4. Memperkecil tingkat gangguan (PUTT)
5. Memetakan sistem jaringan yang ada menjadi bentuk mikro dan dapat
dipantau secara luas
6. Memudahkan pemantauan unjuk kerja jaringan untuk menyusun perbaikan
atau pengembangan system jaringan 20 Kv ke depan
7. Memperkecil KWh padam akibat gangguan atau pemadaman
8. Lebih ekonomis
Pengenalan Sistem Scada

1. Pengertian Scada
SCADA adalah sebuah singkatan yang memiliki kepanjangan
pengawasan (Supervisory), pengendalian (Control), dan pengambilan data
(Data Acquisition). Scada adalah sistem yang dapat memonitor dan
mengontrol suatu peralatan atau system dari jarak jauh secara real time dan
melakukan pengumpulan data dari peralatan yang diperlukan untuk
selanjutnya data tersebut dapat diolah Selain pada jaringan di PT. PLN
(Persero) sebenarnya aplikasi SCADA ini telah dipergunakan untuk
kepentingan lainnya seperti : operasional industri, pengaturan kecepatan
gas, pendistribusian air minum, pengaturan lalu lintas kereta api dan
penerbangan dari bandara, dan termasuk monitoring operasional
pembangkit listrik serta pengaturan jaringan listrik pada area yang luas
pada Perusahaan Listrik baik swasta atau Negara.
2. Fungsi Scada
Sacada memiliki 3 fungsi dalam distribusi tenaga listrik sebagai berikut:
a) Telemetering adalah Untuk mengumpulkan data besaran ukur tenaga
listrik (Ampere, Tegangan, Daya Aktif, Frekuensi dll) semua peralatan
yang berada dilapangan
b) Telesignaling adalah Untuk mengumpulkan data status dan alarm
(Open, Close, power, Supply fault, indikasi relay atau parameter
lainnya) yang dianggap perlu yang dapat dimembantu disptcher dalam
memonitor peralatan yang berada dilapangan (posisi CB, posisi
disconnecting switch, anomali kenormalan, status gangguan,
Local/Remote)
c) Telecontrol adalah Untuk melalukan perintah Remote Control (Open /
Close) terhadap peralatan yang berada dilapangan
Konfigurasi Sistem Scada

Gambar diatas merupakan Proses Telemeter, Telesignal, Telecontrol

3 Fungsi bagian scada terdiri dari RTU (Remote Terminal Unit) / Remote
Station, Tele Transmission System / Media Komunikasi , Control Centre /
Master Station
a) Pengenalan Master Station
Fungsi Master Station adalah mengumpulkan data-data dari Remote
Sation, memproses data-data sesuai aplikasi data dan selanjutnya
menampilkan hasil proses melalui VDU(Visual Display Unit), Mimic,
Printer,logger,horn dll Perangkat keras (hardware) pada Master
Station adalah Main Computer/Server, Front End Computer, Mimic,
UPS + Diesel dan Peripheral / HMI. Fungsi HMI adalah sarana untuk
menampilkan hasil proses data dari Master Station dan sarana
penghubung antara operator (dispatcher) dengan Master Station dan
Remote Station untuk melakukan pengaturan pada sistem tenaga listrik
yang dikelolanya. Fungsi Front End adalah melakukan polling
terhadap RTU dan sebagai interface antara Main Computer dengan
Sistem Transmisi data RTU. Konfigurasi master station distribusi level
1 dapat dilihat digambar sebagai berikut

01 02 03

04 05
SD

PROLIANT
8000

ESC

SD

DLT

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

SD

09
CONSOLE

LOOP
OK

BRI DSU
B1
B2

LP

S/T CPU

06
S3

WIC 0 OK FDX 100 LNK WIC 1 OK


AUX

Cisco 1720

07

08
A B C D E F G H
SELECTED
Inter Center Link
( IEC 870-6 (ICCP) )
ON-LINE

RTU
IEC 870-5-104
Ethernet
RTU
IEC 870-5-101, DNP 3.0
Serial
Keterangan Gambar :

1. Workstation dispatcher & enjiner (1 set)


2. Server SCADA, historikal data, sub sistem komunikasi (1 set
redundant)
3. GPS (1 set redundant)
4. Projection multimedia (1 set)
5. Switch 10/100 Mbps Ethernet LAN
6. Switch 100 Mbps ethernet LAN
7. Printer laser hitam putih (1 buah)
8. Printer laser berwarna (1 buah)
9. Router + Firewall (1 set)

Konfigurasi master station distribusi level 2 dapat dilihat digambar sebagai


berikut
01 02 03 04

05
SD

PROLIANT
8000

ESC

SD

DLT

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

SD

13
CONSOLE

LOOP
SD
OK

BRI DSU
B1
B2

LP

S/T CPU
S3

CONSOLE

WIC 0 OK FDX 100 LNK LOOP


AUX WIC 1 OK
OK

BRI DSU
B1
B2

LP

Cisco 1720 S/T CPU


S3

WIC 0 OK FDX 100 LNK WIC 1 OK


AUX

11
Cisco 1720

07

LCD 1 bh 12
Inter Center Link 06
( IEC 870-6 (ICCP) )
08
A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

10
A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

RTU
IEC 870-5-101, DNP 3.0 PROLIANT
8000
SD

Serial
ESC

14 15
SD

RTU DLT

IEC 870-5-104
Ethernet 09
Keterangan Gambar
1. Workstation dispatcher (2 set)
2. Workstation enjiner & update database (1 set)
3. Server SCADA dan historikal data (1 set redundant)
4. GPS (1 set redundant)
5. Projection multimedia (1 set)
6. Switch 10/100 Mbps Ethernet LAN
7. Server sub sistem komunikasi (1 set redundant)
8. Switch 100 megabit ethernet LAN
9. Workstation di luar control center
10. Static display
11. Printer laser hitam putih (1 buah)
12. Printer laser berwarna (1 buah)
13. Router + Firewall (1 set)
14. Kinerja SCADA, Operasi (1 set)
15. Offline database server (1 set)

Master station distribusi level 3 dapat dilihat digambar sebagai berikut

01 02 03 04 05 06 07

SD

PROLIANT
8000

ESC

SD

DLT

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

SD

15
CONSOLE

LOOP
SD
OK

BRI DSU
B1
B2

LP

S/T CPU
S3

CONSOLE

LOOP

08
WIC 0 OK FDX 100 LNK WIC 1 OK
AUX
OK

BRI DSU
B1
B2

LP

Cisco 1720 S/T CPU


S3

WIC 0 OK FDX 100 LNK WIC 1 OK


AUX

Cisco 1720

13
09

LCD 3 bh 14
Inter Center Link
( IEC 870-6 (ICCP) )

10
A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE 10

11 12
A B C D E F G H
SELECTED
ON-LINE

RTU
IEC 870-5-101, DNP 3.0 PROLIANT
8000
SD

Serial
ESC

SD

RTU DLT

IEC 870-5-104
Ethernet

16 17
Keterangan Gambar:

1. Workstation dispatcher (2 set)


2. Workstation enjiner & update database (1 set)
3. Server SCADA (1 set redundant)
4. GPS (1 set redundant)
5. Server DMS (1 set redundant)
6. Server historikal data dan update database (1 set redundant)
7. Projection multimedia (1 set)
8. Switch Gigabit Ethernet LAN
9. Server sub sistem komunikasi (1 set redundant)
10. Switch 100 Megabit Ethernet LAN
11. Workstation di luar control center
12. Static display
13. Printer laser hitam putih (1 buah)
14. Printer laser berwarna (1 buah)
15. Router + Firewall (1 set)
16. Kinerja SCADA, Operasi (1 set)
17. Offline database server (1 set)

b) Remote Terminal Unit


Secara Umum RTU Adalah suatu perangkat komputer yang dipasang
di remote station atau dilokasi jaringan yang dipantau oleh control
centre. RTU berfungsi sebagai pengumpul data dan melaksanakan
perintah control centre.
c) Remote Station
Pengertian RTU adalah Pengolah data. Fungsi utama rtu sebagai
berikut komunikasi dgn master station, mengolah input output,
komunikasi dgn ied, local data logging, management database. Jenis
RTU sebagai berikut rtu simple, rtu konsentrator , rtu data konsentrator
, rtu satelite , rtu automation. Jenis Card RTU untuk Pengolah Data,
Modul CPU, Modul Communication, Modul Power Supply, Modul
DI,DO,AI & AO . Kongfigurasi remote terminal unit (RTU) dapat
dilihat di gambar sebagai berikut
B. Pengoperasian Sistem Distribusi Dengan Scada

1. Sistem Tenaga Kelistrikan


Kumpulan/gabungan dari komponen-komponen atau alat-alat listrik seperti
generator , transformator, saluran transmisi, saluran distribusi dan beban
yang saling berhubungan merupakan kesatuan sehingga membentuk suatu
sistem. Proses pengelolaan tenaga listrik mulai dari pembangkitan di mana
tenaga listrik dihasilkan, kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi
baik tegangan ektra tinggi (500 kV) maupun melalui tengangan tinggi (70
kV dan 150 kV), dan pendistribusian ke pelanggan pada tegangan rendah
220 V atau 110 V setelah melalui suatu sistem distribusi dengan tegangan
kerja 20 kV atau 6 Kv.

Gambar pengusahaan tenaga listrik

Gambar Sistem Tenaga Listrik Di Indonesia


Sitem Tenaga Listrik di Sumatera ter bagi 3 bagian: Sumbagut,
Sumbagteng, Sumbagsel dapat dilihat digambar sebagai berikut:

2. Teknik Jaringan Distribusi Tenaga Listrik


Unit distribusi tenaga listrik merupakan salah satu bagian dari suatu
sistem tenaga listrik yang terdiri dari unit pembangkit, unit penyaluran /
transmisi dan unit distribusi yang dimulai dari PMT incoming di Gardu
Induk sampai dengan Alat Penghitung dan Pembatas (APP) di instalasi
konsumen. Rangkaian dari semua ini dapat di ilustrasikan seperti pada
gambar.1 seperti berikut

Unit Unit Gardu Induk


Unit Distribusi
Pembangkitan Transmisi distribusi
Distribusi Distribusi


sekunder Primer

PMT
G Trf PMT
Transformator
Generator


Pemutus
Tenaga


Konsumen Besar Konsumen Umum

3. Sistem Distribusi
Sistem Distribusi terbagi 2 bagian
a) Distribusi Primer, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan
Menengah (JTM) dengan tegangan operasi nominal 20 kV/ 11,6
kV
b) Distribusi Sekunder, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan
Rendah (JTR) dengan tegangan operasi nominal 380 / 220 volt
4. Konfigurasi Dan Pola Sistem Distribusi – Tm.
Konfigurasi dan pola system pada distribusi disesuaikan dengan kondisi
sumber pembangkit serta Keandalan yang direncanakan pada system
tersebut. Adanya factor Ekonomis dan Teknis yang akan
mempengaruhi tingkat sistim distribusi. Diantaranya :
Faktor Teknis
1) Kemampuan sistem menahan arus gangguan tanah
2) Kemampuan isolasi peralatan terhadap tegangan lebih
3) Kerusakan peralatan akibat arus gangguan tanah
4) Besar/luasnya jaringan distribusi
Faktor ekonomi
1) Ketersediaan peralatan proteksi
2) Kebijakan manajemen
5. Sistem Jaringan
Tegangan nominal : 20 kV. Sistem Pentanahan : Netral Kumparan TM
yang dihubungkan secara bintang dari trafo utama ditanahkan melalui
tahanan dengan nilai 12 ohm (arus hubung singkat ke tanah maksimum
1000 A ) dan 40 ohm (arus hubung singkat ke tanah maksimum 300 A)
untuk sistem SUTM atau sistem campuran. Konstruksi jaringan : Pada
dasarnya adalah saluran udara terdiri dari : Saluran Utama ( Main lines
) : Kawat jenis AAAC 150 mm2 fasa tiga 3-kawat untuk saluran
cabang: kawat AAAC 70 mm2, Sistem pelayanan : radial dengan
kemungkinan saluran utama antara jaringan yang berdekatan dapat
saling berhubungan dalam keadaan darurat
6. Struktur jaringan dipengaruhi beberapa aspek
a) Aspek pentanahan netral
1. Dengan tahanan tinggi (500 Ω)
2. Dengan pentanahan langsung
3. Dengan tahanan rendah (12 atau 40 Ω)
4. Tidak ditanahkan.
Pentanahan Netral Langsung (Solid)

b) penggunaan penghantar.
1. Saluran udara dan saluran kabekl udara / kabel tanah,
2. Sistem fasa yang digunakan satu fasa / tiga fasa.
3. Sistem empat kawat / tiga kawat.
c) Aspek hubungan antara sumber pengisian dan pemakaian.
1. Jaringan Radial.
2. Jaringan lingkaran / loop / open loop.
3. Jaringan Spindel.
4. Jaringan ayaman.
7. Kongfigurasi Gardu Induk
C. Pengoperasian Sistem Distribusi Dengan Scada

1. Pengertian peralatan jaringan distribusi


Peralatan jaringan distribusi Adalah semua Peralatan yang digunakan
untuk penyaluran / pendistribusian tenaga listrik dari Gardu Induk 20 KV
sampai pada instalasi pemakaian.
2. Macam- macam peralatan jaringan distribusi
a) Trafo distribusi
Trafo merupakan seperangkat peralatan / mesin listrik statis yang
berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik, mentransformasikan
tegangan dan arus dari listrik bolak balik diantara kedua belitan atau
lebih pada frekwensi yang sama dan pada nilai arus dan tegangan yang
berbeda.

Konstruksi utama dari trafo terdiri dari kumparan primer, kumparan


sekunder dan inti. Trafo dapat digunakan untuk menaikkan dan
menurunkan tegangan .Turun atau naiknya tegangan pada sisi sekunder
tergantung pada perbandingan jumlah lilitan kumparan
Bila jumlah lilitan kumparan pada sekunder = ns, pada primer = np,
tegangan pada kumparan primer = Up maka pada sisi sekunder timbul

ggl Dengan rumus persamaan


Daftar Vektor Trafo

Karakteristik Trafo satu fasa


Uraian Satuan Spesifikasi

Daya pengenal kVA 25 50


Jumlah fasa - 1 1
Frekuensi pengenal Hz 50 50
Tegangan primer pengenal kV 20,20 20,20
V3 V3
Tegangan sekunder pengenal (beban nol) V 462/231 462/231
Kelompok vektor - Lio Lio
Tegangan uji impuls kV 125 125
Tegangan uji terapan kV 50 50
Kelas isolasi kV 24 24
0
Kenaikan suhu maksimum tembaga C 60 60
0
Kenaikan suhu maksimum minyak C 55 55
Cara pendinginan -
Penyadapan primer % 5, 10 5, 10
Impedans % 1,6 1,4
Rugi besi watt 165 275
Rugi tembaga pada beban pengenal watt 385 600
Arus beban nol % 4,5 4,5
Efisiensi pada 75 0C -
Faktor daya 1,0 beban 100% - 97,84 98,28
beban 75% - 98,00 98,39
beban 50% - 97,95 98,33
beban 25% - 97,06 98,56
Faktor daya 0,8 beban 100% - 97,32 98,86
beban 75% - 97,51 98,00
beban 50% - 97,45 97,91
beban 25% - 96,35 96,97
Pengaturan tegangan pada beban penuh -
faktor daya 0,8 % 1,49 1,39
faktor daya 1,0 % 1,54 1,20
Konstruksi trafo dan peralatan bantunya

Metoda dan media Peredam Busur Listrik

a. Pemutus cepat
b. Peredam busur api listrik dengan magnet

c. Peredam busur api listrik dengan tanduk

d. Pole stop switch (PTS)


e.peredam busur api dengan udara

e. Peredam busur listrijk dengan minyak


1. Konstruksi Pemutus dengan media peredam menggunakan minyak
banyak

2. Konstruksi Pemutus dengan media peredam menggunakan minyak


sedikit

f. Peredam busur api dengan ruang hampa udara


g. Peredam busur api dengan menggunakan gas

MACAM-MACAM PERALATAN HUBUNG BERDASARKAN


FUNGSINYA
DERAJAT PERLINDUNGAN (INDEX OF PROTECTION / IP )

ANGKA
PENJELASAN ANGKA II PENJELASAN
I

0 Tanpa proteksi 0 Tanpa Proteksi

1 Proteksi terhadap masuknya benda 1 Proteksi terhadap


padat lebih dari 50 mm tetesan air vertikal
2 2
Proteksi terhadap masuknya benda Proteksi terhadap
3 3
padat lebih dari 12 mm tetesan air vertikal dan
4 4 membuat < 150
Proteksi terhadap masuknya benda
terhadap horisontal
5 padat lebih dari 25 mm 5
Proteksi terhadap
6 Proteksi terhadap masuknya benda 6
semprotan air sampai <
padat lebih dari 1,0 mm
7 600 terhadap horisontal
Proteksi terhadap masuknya debu
8
Debu tidak bisa masuk (Dost
Proteksi terhadap
Tght)
semburan air dari
semua arah

Proteksi terhadap air


bertekanan
Proteksi thd banjir
temporer

Proteksi terhadap
pengaruh peredaman

Proteksi terhadap
pengaruh bawah air.

PERALATAN HUBUNG PASANG LUAR

a. Pole top switch


b. Pole Top – Load Break Switch

c. Fuse Cut Out ( FCO )

d. Recloser
e. Sectionalizer

Cara kerja recloser


Fungsi buka cepat adalah untuk menghilangkan gangguan temporer (buka
cepat
Pertama ± 80% dan kedua ± 10%)
Buka lambat untuk koordinasi dengan pengaman lain

CONTOH:
1. INST, 2 detik, 2 detik atau 2 detik, 2 detik , 2 detik
2. INST, 2 detik, 5 detik atau 2 detik, 2 detik, 5 detik
3. INST, 2 detik, 15 detik

KOORDINASI ANTARA PBO (recloser) DAN PSO (sectionalizer)

1. Bila terjadi gangguan sisi hilir dari PSO, maka PBO hulu bekerja dengan
membuka
tutup cepat pertama sampai kedua untuk menghilangkan gangguan yang
bersifat
temporer
2. PSO mengindera arus gangguan dan menghitung banyaknya buka tutup
dari PBO
(berapa kali arus gangguan terputus)
3. Bila gangguan bersifat permanen, maka sesuai penyetelan hitung dari
PSO, PSO
akan membuka pada saat PBO membuka, sebelum buka tutup terakhir
dan
mengunci (lock out)
4. Jadi seksi yang terganggu dapat dibebaskan dengan terbukanya PSO,
kemudian
PBO masuk dan terpasang normal kembali (reset).

PRINSIP KOORDINANASI SECTIONALIZER

1. Sectionalizer diset lockoutnya yang disesuaikan dengan setelan recloser


2. Penyetelan arus harus melihat besarnya arus gangguan 3 fasa
3. Minimum arus sectionalizer sebaiknya 1,6 kali rating coil sectionalizer
atau
di koordinasikan dengan minimum trip recloser

TOTAL WAKTU SECTIONALIZER SEBAGAI BACK UP

L = Arus beban
F1 = waktu trip I
R1 = waktu reclose I
F2 = waktu trip II
R2 = waktu reclose II
F3 = waktu trip III
R3 = waktu reclose III

SETTING:
1. Setelan sectionalizer diset setelah 3 x arus
gangguan: (lockout) Waktu R1 + F2 + R2 + F3 detik
2. Setelan sectionalizer diset setelah 2 x arus
gangguan: (lockout) Waktu R1 + F2 detik