Anda di halaman 1dari 10

Jurusan Sipil

Fakultas Teknik dan Perencanaan


Universitas Mercu Buana
9
MODUL 9

PERENC. GEOMETRIK JALAN (3SKS)

MATERI KULIAH :
Pengertian tentang struktur perkerasan jalan, jenis-jenis lapis perkerasan

POKOK BAHASAN :

Pengertian tentang struktur perkerasan jalan,


jenis perkerasan jalan.

Oleh Ir. Nunung Widyaningsih,Pg.Dip.(Eng)

9. PENGERTIAN DASAR STRUKTUR JALAN.

9.1. Jalan

· dikenal/ dibutuhkan sejak adanya kendaraan darat beroda (lalu lintas)


· dapat melayani/memberikan pelayanan yang optimal kepada lalu lintas yang aman,
nyaman dan cepat
· perkerasan jalan merupakan konstruksi utama daripada jalan

9.2. Persyaratan umum jalan

Segi ekonomis : mudah dikerjakan dan konomis


Segi pelayanan : geometrik memadai, rata, tidak licin
Segi Konstruktip : kuat, kedap air, sesuai umur rencana

9.3. Pavement

· sebagai lapisan atas badan jalan


· menggunakan bahan khusus yang lebih baik daripada badan jalan
· persyaratan bahan: kuat, awer, kedap air, rata, tidak licin dan mudah dikerjakan
· digunakan bahan dari: pasir, kerikil, batu dan bahan pengikat (aspal, semen)

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


2

· dari segi jenis bahan pengikat dikenal: Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
menggunakan aspal dan Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) menggunakan semen.

rigid pavement flexible pavement

load load

9.4. Sifat-sifat perkerasan

Perkerasan Lentur (Flexible) Perkerasan Kaku (Rigid)


1.Biasanya terdiri dari 3 lapis yaitu: 1.Secara struktural terdiri dari satu lapis dari
·Lapis Permukaan (Surface): aggregat + selapis beton semen mutu tinggi (K 375)
aspal
·Lapis Pondasi (Base): aggregat + aspal 2.Lapis Subbase tidak terlalu berperan
(bonded) atau tanpa aspal sebagai struktur
·Lapis Pondasi Bawah (Subbase): bahan
berbutir kasar dan tanpa bahan pengikat 3.Bersifat Kaku karena nilai modulus
elastisitasnya (E) cukup tinggi (+250.000
2.Bersifat fleksibel karena nilai modulus kg/m2 ) sehingga penyebaran beban roda

elastisitasnya (E)=+10.000 kg/m2 sehingga lalu lintas ketanah dasar cukup luas.
penyebaran beban roda lalu lintas ketanah
dasar tidak terlalu lebar/luas. 4.Peranan daya dukung tanah dasar tidak
terlalu penting, tetapi sangat peka terhadap
3.Peranan daya dukung tanah dasar sangat setlement.
penting.

9.5. Gambar Konstruksi Perkerasan

a. Pekerasan Lentur

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


3

Aspal Surface

Batu pecah Base

Sirtu Subbase

Tanah Dasar Subgrade

U.K. Description of layers (alternative international description)

Surfacing
Wearing Course

Pavement
Base Course
(Binder Course)

Foundation
Sub-Base

Capping Layer (if required)

Subgrade

b. Perkerasan Kaku

Beton K-375 Surface

Sirtu Subbase

Tanah Dasar Subgrade

9.6. Pembebanan

a. Beban Lalu lintas (beban hidup), sangat bervariasi sehingga perlu


satuan/standard dalam perhitungan

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


4

b. Standard beban dalam perhitungan adalah: 18.000 Lbs, 18 Kips, 8,16 Ton as
Tunggal, 15,0 Ton as Tandem, 20,0 Ton as Triple
c. Beban Standard as tunggal tesebut mempunyai damage factor (daya
pengrusak=ekivalen faktor) sebesar satu.
d. Angka Ekivalen Beban (AE):

4
 beban sumbu tunggal 
· As tunggal = 
 8.160 

4
 beban sumbu tandem 
· As tandem =  8.160   0.086
 

Karena dalam kondisi normal jalan akan bercampur antara as tunggal dan as
tandem maka digunakan suatu konversi dengan angka ekivalen beban
(equivalent loading system) antara American Association of State Highway
Officials (AASHO) dan U.K dengan Road Note 29, 1970 maka:

4
W
Equivalent factor =  
 80 
dimana :
W = axle load weight (dalam kN)
80 kN = standard axle weight (8.16 kg)

e. Untuk perencanaan perkerasan jalan digunakan beban ban sebesar 0.5 MPa
(commercial vehicle) dimana untuk perencanaan lapangan terbang dipakai 3
MPa.

9.7. SUBGRADE (tanah dasar)

· adalah tanah asli yang merupakan dasar meletakkan bagian-bagian perkerasan lainnya
· terletak pada daerah timbunan, daerah galian
· merupakan bagian yang memikul beban perkerasan (lalu lintas)
· sangat tergantung pada daya dukung tanah dasar (CBR=California Bearing Ratio)

Syarat bahan:

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


5

· klasifikasi tanah: AASHO, USCS


· tidak terlalu plastis, PI<25%
· berkohesi (kekuatan melawan gaya geser) cukup, 0.5 kg/cm2
· tidak mudah mengembang, swell 20%
· tidak banyak mengandung bahan organik

Pelaksanaan:

Pemadatan tanah
· makin padat makin mampu menahan beban
· tanah padat maka air masuk terhambat
· kadar air tanah (w) <<< sukar dipadatkan
· kadar air tanah (w) > > >sukar dipadatkan
· syarat kepadatan (90-100%) gk lab

Jenis alat pemadatan tergantung pada jenis/sifat tanah:


· tanah lempung : sheep foot roller
· tanah berpasir : vibratory compactor
· tanah lanau : pneumatic roller

Jumlah lintasan tergantung pada:


· jenis tanah dan kepadatan yang diminta
· jenis dan berat alat penggilas
· jumlah lintasan yang baik 6 - 10 lintasan

Spesifikasi kepadatan dinyatakan dalam "degree of compaction" yaitu:

gk lap = gk lap / gk lab * 100%

Pada kondisi khusus mis. tanah jelek maka penanganan khusus dilakukan: pengaturan PI
(plastisity index), mengadakan subdrain dll.

Quality controll dilakukan:


kadar air, kepadatan, CBR, elevasi dan kemiringan, perbaikan jumlah lintasan pemadatan
dll.

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


6

9.8. SUBBASE (pondasi bawah)

· terletak antara subgrade dan base berfungsi sebagai penyebar gaya


· berupa material berbutir kasar (aggregate) padat: bounded atau unbounded dengan
ketebalan
10 - 35 cm
· dipilih material lokal (kalau ada), lebih baik dari subgrade, biasanya tanpa diolah (dicuci,
disaring dan dipecah)
· bila CBR subgrade > 20% maka tidak diperlukan subbase

Syarat bahan:

· bersih dari kotoran dan bahan organik


· bergradasi baik
· dibagi dalam beberapa klas:A,B,C.

Pelaksanaan:

· dicampur terlebih dahulu


· ditebarkan, diratakan, lapis demi lapis dengan alat grader tebal maksimum 25cm
· dipadatkan sampai kepadatan maksimum ditandai dengan tercapainya gk dan CBR.

Bila tanah jelek (tidak ada) atau ingin mendapatkan kekuatan yang lebih tinggi maka:
digunakan bounded subbase mis: soil cement stabilization, soil lime stabilization, cement
treated subbase, asphalt treated subbase dll.

Quality controll dilakukan:


kadar air, gradasi, kepadatan, CBR, sand equivalent, soundness, proff rolling, elevasi,
kemiringan, lebar dan tebal dll.

9.9. BASE (pondasi)

· terletak antara surface dan subbase, menahan gaya lintang


· berupa material berbutir kasar dari bounded dan unbounded dengan tebal 15 - 25 cm
· lebih baik mutunya dari subbase
· biasanya perlu diolah (dicuci, dipecah, disaring).

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


7

Jenis bahan:

Untreated base, tidak distabilkan, unbounded subbase:


1. Kons. Tellford, bahan batu besar (15 - 20 cm) yang disusun berdiri diatas selapis pasir (10
- 15 cm).

batu belah

pasir

kelemahan: bila ada salah satu batu pecah maka lainnya akan ikut.

2. Kons.Macadam base, campuran batu pecah dan pasir lempung dengan air (water Bound
Macadam) atau tanpa air (Dry Bound Macadam).

Treated subbase, distabilisasikan dengan semen, lime atau aspal:


· Cement Treated Base (CTB)
· Lime Treated Base (LTB)
· Asphalt Treated Base (ATB)

Pelaksanaan:

· sama dengan subbase, tergantung dari base yang digunakan


· pelaksaan untreated base berbeda dengan treated base

Quality controll:
kepadatan, compresive strength, stability , CBR, gradasi, kadar semen, lime dan aspal,
temperatur, penggilasan, elevasi, kemiringan, lebar, tebal dan kerataan dll.

9.10. SURFACE (lapis permukaan)

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


8

· merupakan bagian paling atas dari perkerasan sehingga berkontak langsung dengan
roda kendaraan
· harus memenuhi persyaratan:
struktural : awet, kuat, kedap air
kenyamanan : rata, tidak licin
· menahan gaya lintang, harus kuat
· sebagai lapisan kedap air, melindungi lapisan dibawahnya
· sebagai lapisan aus, harus mudah dilapisi kembali
· sebagai drainase permukaan, mempunyai kemiringan melintang (cross fall)

Jenis surface

· Untreated surface, tidak dstabilkan/tanpa bahan pengikat; misal gravel road/ jalan krikil
· Treated surface, distabilkan/dengan bahan pengikat:
dengan aspal, merupakan perkerasan flexible
dengan semen, merupakan perkerasan kaku/rigid

Lapis permukaan klas I :


Hot-mix asphaltic concrete
Cold-mix asphaltic concrete

Lapis permukaan klas II :


Single asphalt surface treatment termasuk seal coat
Multiple course asphalt surface treatment
Penetratin macadam

Hot-mix asphaltic concrete (Asphaltic Concrete =AC)

· merupakan tipe asphalt surface klas tinggi


· berupa campuran aggregat bergradasi baik (well atau dense graded), filler (semen, abu
batu), aspal (150 °C)
· temperatur penggelaran dan pemadatan sekitar 100 °C , bila digunakan aspal cair
temperatur campuran 110 °C
· pencampuran digunakan AMP (Asphalt Mixing Plant)
· karena pencampuran dilakukan pada temperatur tinggi maka disebut Hot mix.

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


9

Cold-mix asphaltic concrete

· merupakan klas lebih rendah daripada Hot mix


· berupa campuran aggregate, filler (semen, abu batu) dan aspal cair yang dicampur pada
temperatur normal
· bisa disimpan selama 6 - 8 bulan
· sangat cocok untuk pemeliharaan, pekerjaan dengan tonnase kecil
· karena penggelaran dan pemadatan dilakukan pada temperatur normal maka disebut
cold asphaltic concrete.

Hot mix cold laid asphaltic concrete

· mirip dengan hot mix laid asphaltic concrete


· dapat disimpan sampai 6 - 8 bulan
· dipakai untuk pekerjaan tonnase besar
· aggregate yang dipanaskan dalam proses pengeringan sebelum dicampur aspal perlu
didingikan dulu sampai 65 °C
· penggelaran dan pemadatan dilakukan pada temperatur > 10 °C

Seal coat, Color coat dan Non skid coat

· adalah lapis aspal dan aggregate yang diletakkan diatas permukaan perkerasan aspal
yang lama dan dipadatkan secukupnya
· ketiga jenis lapis permukaan tersebut berbeda dalam jumlah pemakaian aspal dan
aggregate, serta kegunaan/tujuannya
· Seal coat digunakan diatas perkerasan lama yang sudah mulai retak dan kurang rata
· Color coat digunakan untuk memberikan warna tertentu lapisan permukaan dengan
memilih warna batu tertentu, mis pada hard shoulders
· Non skid coat digunakan untuk meningkatkan skid resistance (kekasaran/penahan slip)
dari perkerasan lama yang sudah mulai licin
· Pemilihan bahan tergantung:
· kondisi permukaan perkerasan yang akan dilapis
· cuaca, volume, berat lalu lintas, ukuran maksimum aggregate yang digunakan
· tujuan daripada pelapisan
· Keperluan aggregate dan aspal adalah sebagai berikut:

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9


10

· Seal coat : agregate maks. 3/4" ,perlu aspal 2.45 l/m2


· Color coat : perlu aspal 0.82 l/m2
· Non skid coat : perlu aspal 1.35 l/m2

Penetrasi Macadam

· aspal yang digunakan dengan penetrasi 85 - 100 atau 120 - 150 dengan aspal semen
atau dengan aspal emulsi dengan grade RS-1, RS-2, RS-2K, RS-3K
· dengan tiga ukuran batuan:
· batu pokok: 3 - 5 cm
· batu kunci : 1 - 2 cm
· batu split : 0.4 - 0.8 cm
· batuan yang lebih besar diletakkan dibawah batuan yang lebih kecil dst dengan
konstruksi selalu terdiri dari 3 lapis dengan disemprotkan aspal diantaranya.

Perenc. Geometrik Jalan/Jurusan Sipil/FTSP/Universitas Mercu Buana/Modul ke 9