Anda di halaman 1dari 13

236 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No.

4, September 2012

Komunikasi Keluarga dalam Pengambilan Keputusan


Perkawinan di Usia Remaja
Lestari Nurhajati, Damayanti Wardyaningrum*

Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Al Azhar Indonesia, Jl. Sisingamangaraja, Jakarta 12110
*
Penulis untuk korespondensi: damayanti@uai.ac.id

Abstrak – Penelitian ini bertujuan untuk are family communication and psychology for
mengetahui bagaimana komunikasi yang teenager. The result indicate that the decision
dilakukan oleh orangtua dan anak dalam making in early marriage determine by some
menentukan perkawinan di usia dini terutama aspect related to the relationship between
dari perspektif komunikasi keluarga, khususnya teenagers and parents. Most of the teenagers
komunikasi antara orangtua dan anak yang has lack of communication or intimate
menginjak usia remaja. Latar belakang relationship with their parents, closer
penelitian tentang perkawinan diusia dini relationship with friends and close friend than
(remaja) adalah undang-undang perkawinan, with parents, and there is not enough
dan tingkat perceraian pada perkawinan di usia information for teenagers regarding marriage
dini. Metodologi penelitian yang digunakan concept event from their parents. Some earlier
adalah kualitatif deskriptif dengan informan marriage are unexpected conditions for the
remaja yang menikah pada usia 18-19 tahun teenagers.
dan sudah menjalani perkawinan antara 2-5
tahun. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Keywords – family communication, decision
keputusan menikah diusia remaja banyak making, early marriage.
ditentukan oleh peran orangtua. Selain itu latar
belakang informan yang mengalami
permasalahan dalam relasi dengan orangtua I. PENDAHULUAN
juga turut menentukan relasi anak sebagai
remaja yang cenderung lebih dekat dengan
orang-orang diluar keluarga seperti teman dan
pacar. Komunikasi yang dibutuhkan anak dari
P erkawinan merupakan bentuk komitmen yang
paling populer untuk pasangan heteroseksual.
Henry A. Ozirney (2007), menyebutkan bahwa
orang tua seperti kebutuhan untuk kehangatan perkawinan merupakan wujud menyatunya dua
dan fungsi kontrol ditemukan cenderung tidak individu ke dalam satu tujuan yang sama, yakni
diperoleh para remaja. Beberapa kondisi ini kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan
menjadi elemen penentu pada keadaan yang hidup. Hubungan interpersonal memainkan peran
menyebabkan anak berada pada kondisi yang penting dalam perkawinan dan tentunya jauh lebih
harus menikah diusia remaja meskipun rumit bila dibandingkan dengan hubungan
sebagian diantaranya tidak menghendaki. persahabatan atau bisnis. Semakin banyak
pengalaman yang dimiliki seseorang dalam
hubungan interpersonal antara pria dan wanita,
Abstracts – This research focuses in familiy maka semakin besar pengertian wawasan sosial
communication in early marriage decision yang telah mereka kembangkan, dan semakin besar
making. The objects of the research are teenager kemauan mereka untuk bekerja sama dengan
that has married in 18-19 years old and has been sesamanya, serta semakin baik mereka
runing their marriege for 2-5 years. The menyesuaikan diri satu sama lain dalam
methode use in these reand use qualitative perkawinan.
decriptive method to analize some aspect that
determine the decision making for early Diharapkan perkawinan akan memberikan nilai-
marriage. The concept uses in these researchers nilai positif seperti uraian diatas, sehingga
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 237

diperlukan syarat-syarat yang diatur dalam Penduduk usia remaja adalah aset demografi
ketentuan agama maupun hukum. Hal ini tidak lain nasional. Dari hasil sensus penduduk tahun 2010
adalah agar setiap perkawinan akan memberikan jumlah remaja umur 10 hingga 24 tahun sangat
manfaat baik bagi individu maupun lingkungan besar yaitu sekitar 64 juta atau 27,6 persen dari
sosialnya. Idealnya maka perkawinan dilakukan jumlah total penduduk Indonesia.
pada saat seseorang berada dalam kondisi yang (http://id.berita.yahoo.com/bkkbn-peringatan-hari-
mapan baik fisik maupun mental. Namun demikian kependudukan-ditujukan-bagi-remaja).
terdapat beberapa kasus dimana perkawinan
dilakukan pada kondisi yang belum siap seperti Sementara data BPS 2010 tentang usia perkawinan
pernikahan dibawah umur atau pada usia remaja. pertama di Indonesia menunjukkan sebanyak 12
persen perempuan ternyata sudah/pernah menikah
Beberapa hal yang terkait dengan fenomena diusia 10 hingga 15 tahun. Selain itu, sebanyak 32
mengenai jumlah pernikahan remaja diantaranya persen perempuan yang pernah menikah melakukan
dikemukakan Deputi Bidang Advokasi pernikahan pertamanya di usia 16-18 tahun.
Penggerakan Informasi BKKBN, Hardiyanto, Artinya sekitar 45 persen perempuan Indonesia
bahwa peningkatan angka kehamilan dan sudah/pernah menikah pada usia 19 tahun (Kompas
pernikahan dini pada usia remaja merupakan 11 Juli 2013).
pekerjaan rumah bagi BKKBN, khususnya Petugas
Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Dengan jumlah penduduk remaja yang cukup besar,
Berencana (PLKB/PKB) di setiap Desa dan maka bangsa ini akan berkembang dimasa datang
Kelurahan. (Republika On Line, 05 September dengan optimal karena penduduk remaja
2013) merupakan asset negara. Sehingga kualitas remaja
amat penting dan harus ada upaya untuk
Sementara menurut United Nations Development memberikan pemahaman pada kelompok remaja
Economic and Social Affairs (UNDESA), mengenai hal-hal yang penting bagi kualitas
Indonesia merupakan negara ke-37 dengan jumlah kehidupan mereka. Salah satu yang dilakukan
perkawinan dini terbanyak di dunia. Untuk level untuk mendukung hal tersebut adalah pembekalan
ASEAN, Indonesia berada di urutan kedua mengenai perkawinan. Kepala Badan
terbanyak setelah Kamboja. Deputi Bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (BKKBN) Fasli Jalal mengatakan bahwa
BKKBN Sudibyo Alimoeso juga, mengungkapkan, peringatan Hari Kependudukan Dunia yang jatuh
akibat tren menikah dini yang meningkat, kini rata- setiap tanggal 11 Juli ditujukan bagi para remaja.
rata kelahiran pada remaja (Age Specific Fertility Hal ini juga sesuai dengan peringatan Hari
Rate/ASFR) usia 15-19 tahun di Indonesia Kependudukan Dunia pada tahun 2013 dengan
meningkat dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada mengangkat tema yang diangkat ditujukan bagi
2007 menjadi 45 per 1.000 di 2012. (Metro para remaja, mahasiswa, dan berbagai pihak terkait
News.com, 12 Juli 2013). dengan pembinaan remaja atau pemuda,
diantaranya adalah mengenai perkawinan.
Meningkatnya kelahiran pada usia remaja yaitu
diusia 15-19 tahun dalam rentang waktu lima tahun Satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam
terakhir mengalami lonjakan tajam. Makin mempersiapkan perkawinan adalah berapa usia
'suburnya' remaja yang melahirkan dilatarbelakangi yang tepat bagi seorang pria maupun seorang
oleh peningkatan fenomena menikah dini di perempuan untuk melangsungkan pekawinan.
sejumlah daerah. Kepala Pusat Pelatihan Undang-undang negara kita telah mengatur batas
Internasional BKKBN, Novrizal, pada diskusi usia perkawinan. Dalam Undang-undang
tentang Hari Kependudukan Dunia 2013, di Perkawinan tahun 1974 bab II pasal 7 ayat 1
Yogyakarta mengemukakan bahwa budaya disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika
menikah dini di negara kita belakangan ini semakin pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas)
sulit dibendung. Hal ini selaras dengan hasil Riset tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 yang 16 (enam belas) tahun. Kebijakan pemerintah
menyatakan 46% perempuan Indonesia menikah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan
sebelum berusia 20 tahun. (MetroNews.com, 12 tersebut tentunya melalui proses dan berbagai
Juli 2013: Jumlah Remaja Melahirkan Semakin pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua
Banyak) belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi
fisik, psikis dan mental.
238 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

Namun tentu saja pelaksanaan undang-undang pasangan yang merencanakan pernikahan dapat
tersebut tidak bisa dimaknai dan dilaksanakan memahami hakekat sebuah pernikahan bukan
secara langsung begitu saja, karena dalam hanya dari sisi biologis, namun termasuk
prakteknya usia 19 tahun bagi pria dan perempuan, didalamnya terdapat aspek psikologis, spiritual dan
masih masuk dalam kategori usia dewasa muda finansial.
(lead adolescent). Pada usia ini, biasanya mulai
timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa Dengan uraian diatas maka tim peneliti
dan memasuki tahapan proses penemuan jati diri. menganggap perlu dilakukan suatu penelitian yang
Sehingga perkawinan dengan batasan usia 19 berkaitan dengan keputusan pernikahan di usia dini
tahun untuk pria atau bahkan 16 tahun untuk khususnya dengan meninjau keputusan tersebut
perempuan agak kurang relevan lagi jika dari sisi hubungan anggota keluarga terutama
dikategorikan sebagai pernikahan yang cukup hubungan antara orang tua terhadap anak dalam
matang, meski secara hukum dianggap tidak keputusan tentang perkawinan. Anak sebagai
melanggar UU Perkawinan. bagian dari anggota keluarga biasanya memiliki
pola pikir yang dipengaruhi oleh lingkungan
Perkawinan dan kehamilan remaja mengandung terdekatnya terutama keluarga. Selain teman
sejumlah risiko buruk dalam jangka panjang. sekolah, teman bermain atau orang dewasa yang
Pertama, dengan rentang usia reproduksi yang terdapat dilingkungan anak seperti guru, atau
masih panjang (umumnya hingga 49 tahun), pemuka masyarakat umumnya keluarga
perempuan yang menikah dan hamil diusia remaja mendominasi kehidupan seseorang.
akan memiliki peluang untuk memiliki anak dalam
jumlah banyak pada akhir usia reproduksinya. Penting kiranya untuk dilakukan penelitian tentang
Melahirkan anak dengan jumlah banyak akan perkawinan di usia dini dengan meninjau dari segi
beresiko kematian ibu yang lebih tinggi. komunikasi antara anggota keluarga terutama orang
tua dan anak terkait dengan keputusan perkawinan.
Kedua, kehamilan dan persalinan bagi perempuan Penelitian ini bermaksud mengetahui bagaimana
dibawah 20 tahun beresiko kematian yang jauh komunikasi dalam keluarga khususnya komunikasi
lebih tinggi dibandingkan dengan usia 20 tahun dari orang tua terhadap anak terutama dalam
keatas. Tak hanya sang ibu, juga anak yang keputusan untuk melangsungkan perkawinan di
dilahirkan memiliki resiko kematian atau cacat usia remaja. Selain itu diharapkan diperoleh
yang tinggi. temuan-temuan lain yang melengkapi penelitian
yang dapat memberikan analisa yang lebih dalam
Ketiga, perkawinan dan kehamilan diusia remaja mengenai aspek komunikasi dalam keluarga. Selain
menghambat perempuan menempuh pendidikan itu dari penelitian ini juga diperoleh temuan
lebih tinggi. indikasi atas bahagia atau tidaknya pasangan-
pasangan yang melakukan pernikahan di usia
Keempat, karena belum dewasa dan matang remaja.
sepenuhnya secara psikologis maka kemungkinan
terjadinya perceraian pada perkawinan usia muda
akan sangat tinggi. Perceraian akibat pernikahan II. KERANGKA TEORI
usia muda menjadi salah satu riset utama yang
dilakukan Kierna (1986), dari hasil risetnya terlihat 2.1 Konsep Keluarga
bahwa resiko perceraian sangat tinggi terjadi pada
pasangan yang menikah di usia muda dibandingkan Individu tumbuh dan berkembang dari sebuah
pada mereka-mereka yang menikah di usia matang. keluarga. Selanjutnya masyarakat akan terbentuk
dari komponen keluarga. Keluarga seperti menurut
Oleh karenanya penting peran pendidikan untuk kamus umum seperti yang dikutip oleh Ranjabar
menekan angka dan perkawinan di usia dini atau (2006) adalah Kelompok orang yang ada hubungan
usia remaja, khususnya di negara yang didominasi darah atau perkawinan. Orang-orang yang
penduduk usia muda. termasuk keluarga ialah ibu, bapak dan anak-
anaknya. Sekelompok manusia (ibu, bapak dan
Di Indonesia Program Keluarga Berencana yang anaka-anaknya) disebut keluarga nuklir atau
pada era orde baru dilaksanakan dengan sistematis keluarga inti. Dalam kehidupannya manusia tidak
pada saat ini kurang terdengar gaungnya. Padahal dapat berdiri sendiri, oleh sebab itu manusia
melalui program Keluarga Berencana setiap dikategorikan sebagai mahluk sosial yang perlu
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 239

mengadakan komunikasi dengan manusia lainnya, yang lain seperti nenek, kakek, adik, keponakan
ataupun menyatakan pendapat, perasaan, kemauan dan sebagainya.
dan keinginan agar orang lain dapat memahami
keinginan kita, begitupula kita dapat memahami Dari pendekatan sosiologi dikemukakan oleh
keinginan orang lain. Dengan kodratnya demikian Charles Cooley dalam Henslin (2006) bahwa
secara tidak langsung manusia akan membuat suatu keluarga merupakan kelompok primer atau
komunitas yang lebih besar yang disebut kelompok pertama yang memberikan dasar bagi
masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kehidupan seseorang. Dengan adanya interaksi
terkecil masyarakat yaitu keluarga. Sehingga dapat tatap muka yang intim, kelompok primer
dikatakan keluarga merupakan sistem sosial memberikan perasaan kepada seseorang tentang
terkecil yang ada di dalam masyarakat. Hal ini siapa dirinya. Selain itu keluarga penting bagi
terjadi, sebab di dalam keluarga terjalin hubungan kesejahteraan emosional seseorang, dan
yang kontinyu dan penuh keakraban, sehingga jika memunculkan rasa harga diri karna didalamnya
diantara anggota keluarga itu mengalami peristiwa menawarkan rasa kebersamaan, rasa dihargai, dan
tertentu maka, anggota keluarga yang lain biasanya dicintai.
ikut merasakan peristiwa itu.
Keluarga menjadi penting karena nilai dan sikapnya
Definisi lain dari keluarga adalah jaringan orang- menyatu dalam identitas seseorang. Seseorang akan
orang yang berbagi kehidupan mereka dalam menginternalisasikan pandangan keluarganya yang
jangka waktu yang lama, yang terikat oleh menjadi suatu lensa melalui mana ia memandang
perkawinan, darah, atau komitmen, legal atau kehidupan. Bahkan sebagai orang dewasa, tidak
tidak, yang menganggap diri mereka sebagai peduli sejauh apapun masa kanak-kanak telah
keluarga, dan yang berbagi pengharapan- meninggalkan seseorang, keluarga sebagai
pengharapan masa depan mengenai hubungan kelompok primer awal tetap berada dalam dirinya.
yang berkaitan (Galvin and Bromel dalam Moss & Oleh karenanya sangat sukar bagi seseorang bahkan
Tubbs; 2005). Dari definisi tersebut maka keluarga barangkali tidak mungkin, untuk memisahkan diri
adalah kelompok orang yang secara bersama saling dari kelompok primer seseorang, karena diri dan
berbagi kehidupan dalam jangka waktu yang lama keluarga melebur kedalam suatu konsep “kita”.
baik dalam ikatan perkawinan maupun tidak dan
saling berbagi harapan tentang masa depan mereka. Dalam penelitian ini peneliti menentukan jenis
Sehingga bentuk keluarga menurut definisi tersebut keluarga yang akan diteliti adalah keluarga yang
ini tidak selalu dalam bentuk ikatan perkawinan. terbentuk dalam ikatan perkawinan yang terdiri dari
Selanjutnya definisi tentang keluarga yang lain ayah, ibu dan anak, serta jika ada anggota keluarga
disebutkan sebagai berikut: An organized, yang lain tinggal bersama keluarga tersebut seperti
relational transactional group, usually occupying a nenek, kakek, adik, keponakan dan sebagainya.
common living space over an extended time period,
and possessing a confluence of interpersonal Perkembangan keluarga terbentuk dari siklus yang
images that evolve through the exchange of dialami oleh anggotanya. Siklus hidup keluarga
meaning over time. (Person dalam De Vito:2001) dimulai dengan masa ketika seseorang menikah,
memiliki anak, membesarkan anak, anak-anak
Dari beberapa uraian definisi mengenai keluarga pindah, orang tua sendiri tanpa anak, dan pasangan
terdapat beberapa bentuk keluarga yang diakui tua. Memahami siklus keluarga juga membawa
masyarakat. Hal ini sangat tergantung dari konteks implikasi penting bagi pemahaman terhadap pola
masyarakat dimana teori atau konsep tentang komunikasi dalam keluarga dan bagaimana suatu
keluarga dilahirkan. Ada beberapa konsep keluarga keluarga mengambil keputusan.
yang sedikit berbeda misalnya di masyarakat Barat
keluarga bisa terbentuk baik dengan atau tanpa Bentuk komunikasi keluarga akan berubah pada
ikatan perkawinan yang sah, di budaya Timur yang saat anak mulai beranjak besar. Anak biasanya
disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam mulai memiliki pendapat sendiri dan bahkan bisa
ikatan perkawinan yang sah. Selain itu jumlah memberikan saran pada orang tuanya. Konsep
anggota keluarga di masyarakat barat biasanya keterbukaan dalam satu keluarga dengan keluarga
hanya terdiri dari anggota keluarga inti yaitu ayah, lainnya bisa berbeda. Pada beberapa keluarga
ibu dan anak. Sedangkan di masyarakat Timur ditemukan bahwa orang tua tidak melibatkan anak
konsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari dalam keputusan besar seperti pembelian mobil
keluarga inti namun termasuk anggota keluarga atau rumah. Sebaliknya dibeberapa keluarga
240 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

tertentu orang tua melibatkan anak dalam Dari definisi tersebut maka dapat diuraikan bahwa
penentuan pembelian produk atau jasa yang keluarga merupakan suatu sistem yang terdiri dari
nilainya besar. Bentuk komunikasi keluarga juga sekelompok orang yang saling berhubungan satu
akan menentukan tingkat kepuasan anggota sama lain, individu didalamnya bisa mengalami
keluarga. Pasangan atau anak yang dilibatkan perubahan dan mempengaruhi sistem dalam
dalam pengambilan keputusan biasanya merasa keluarga. Komunikasi yang dilakukan dalam
lebih nyaman dan lebih puas dengan lingkungan keluarga adalah suatu proses pertukaran arti dan
keluarganya. bahwa keluarga dapat mengembangkan
kapasitasnya sebagai wadah saluran emosi bagi
2.2 Pola Komunikasi Keluarga anggotanya. Karena anggota keluarga saling
berinteraksi dalam frekuensi yang tinggi dan
Komunikasi keluarga memiliki tingkat berulang-ulang, maka komunikasi yang dilakukan
ketergantungan yang sangat tinggi dan sekaligus cenderung dapat diprediksi dan satu sama lain
sangat kompleks (Ruben:2006). Seperti telah berinteraksi dengan cara yang khusus. Selain itu
diuraikan sebelumnya bahwa keluarga adalah kehidupan keluarga tidak statis. Didalamnya dapat
termasuk kelompok primer sehingga dalam terjadi hal yang dapat diprediksi, ada perubahan
komunikasi kelompok menurut Charles Horton atau dapat terjadi krisis. Pada umumnya kondisi
Cooley dalam Rohim (2009) komunikasi pada tersebut dapat membuat anggota keluarga memiliki
kelompok primer memiliki karakteristik sebagai ketergantungan satu sama lain.
berikut: pertama, kualitas komunikasi pada
kelompok primer bersifat dalam dan meluas, dalam Konsep lain dikemukakan oleh peneliti Olson,
arti menembus kepribadian kita yang paling dalam Sprenkle and Russel dalam Galvin and Brommel
dan tersembunyi, menyingkap unsur-unsur (1986) yang memfokuskan pada penyatuan
backstage. Sedangkan meluas artinya sedikit sekali beberapa konsep yang berkaitan dengan
kendala yang menentukan rintangan dan cara perkawinan dan interaksi dalam sistem keluarga.
berkomunikasi. Pada kelompok primer, kita Kelompok peneliti tersebut mengembangkan
mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi circumplex model dari perkawinan yang kemudian
dengan menggunakan berbagai lambang verbal berkembang menjadi tiga dimensi yaitu:
maupun non-verbal.Kedua, pada kelompok primer 1) cohesion (penyatuan), 2) adaptability
bersifat personal. Dalam komunikasi primer, yang (penyesuaian) dan 3) communication (komunikasi).
penting buat kita adalah siapa dia, bukan apakah Dimensi ketiga yaitu komunikasi adalah unsur yang
dia. Hubungan dengan kelompok primer sangat menjadi syarat terwujudnya penyatuan dan
unik dan tidak dapat digantikan. Misalnya penyesuaian dalam sebuah keluarga.
hubungan antara ibu dan anak. Ketiga, pada
kelompok primer, komunikasi lebih menekankan Keberhasilan suatu keluarga untuk saling bersatu
pada aspek hubungan, daripada aspek isi. dan menyesuaikan diri dengan anggota lainnya
Komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan sangat tergantung dari cara mereka berkomunikasi.
baik, dan isi komunikasi bukan sesuatu yang amat Melalui komunikasi, anggota keluarga saling
penting. Berbeda dengan kelompok sekunder yang mengetahui bagaimana satu sama lain harus
lebih dipentingkan adalah aspek isinya bukan pada beradaptasi dengan anggota keluarga lainnya.
aspek hubungan. Keempat, pada kelompok primer Selain itu juga dapat mengukur seberapa jauh
pesan yang disampaikan cenderung lebih bersifat kemampuan mereka untuk saling berbagi
ekspresif, dan berlangsung secara informal. Jika pemahaman melalui pesan-pesan yang
membahas tentang keluarga sebagai kelompok disampaikan. Olson dan kawan-kawan juga
primer maka komunikasi adalah salah satu aspek menguraikan lebih lanjut bahwa keberhasilan
penting yang digunakan untuk menilai hubungan keluarga dalam menciptakan hubungan yang
antara anggota keluarga. Galvin and Brommel seimbang dan stabil sangat tergantung dari gaya
(1986) menggunakan kerangka berikut untuk komunikasi yang cenderung bersifat saling
membahas tentang komunikasi keluarga: We view assertive, adanya negosiasi, saling berbagi peran
the family as a system in which communication dan adanya keterbukaan dalam membuat aturan
regulates cohesion and adaptability by a flow of dalam rumah tangga.
message patterns through a defined network of
evolving interdependent relationships. Ahli lain yaitu Anne Fitzpatrick mengembangkan
serangkaian riset dan teori mengenai hubungan
keluarga yang memberikan penjelasan tentang
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 241

berbagai tipe keluarga serta pengaruh tipe keluarga merupakan kombinasi dari orientasi terpisah dan
tersebut dalam cara mereka berkomunikasi. Adapun independen atau kombinasi lainnya.
empat tipe keluarga yang diidentifikasi oleh
Fitzpatrick yaitu: 1) Konsensual, 2) Pluralistis, Pentingnya komunikasi keluarga dipahami oleh
3) Protektif, dan 4) Laissez Faire (Morisan dan masyarakat luas menjadikan penelitian di bidang ini
Wardhani: 2009). Pada tipe konsensual, anggota terus diperlukan. Menurut Dumlao (2005) dengan
keluarga sangat sering melakukan percakapan, banyaknya penelitian di bidang komunikasi
namun juga memiliki kepatuhan yang tinggi. keluarga akan menambah pemahaman bagaimana
Keluarga tipe ini suka sekali ngobrol bersama, sebuah keluarga berjalan,bagaimana anggota
tetapi pemegang otoritas keluarga, dalam hal ini keluarga memaknai berbagai aspek dalam
orang tua adalah pihak yang membuat keputusan. kehidupan mereka.
Keluarga jenis ini menghargai komunikasi secara
terbuka, namun tetap menghendaki kewenangan Littlejhon (2001) menguraikan dalam konsep
orang tua yang jelas. Orang tua kemudian membuat komunikasi keluarga sebagai sebuah sistem yang
keputusan, tetapi keputusan itu tidak selalu sejalan terdiri dari elemen-elemen. Orang tua yang terdiri
dengan keinginan anak-anaknya, namun mereka dari ayah dan ibu serta anak merupakan objek dari
selalu berupaya menjelaskan alasan keputusan itu sebuah sistem. Jika salah satu elemen dari sistem
agar anak-anak mengerti alasan suatu keputusan. keluarga terganggu maka akan mempengaruhi
anggota keluarga lainnya. Sebagai sebuah sistem,
Keluarga dengan tipe pluratistis sangat sering keluarga juga merupakan bagian dari suatu sistem
melakukan percakapan, namun memiliki kepatuhan yang lebih besar misalnya, keluarga besar dan
yang rendah. Anggota keluarga sering sekali lingkungan sosial. Sebagai sebuah sistem yang
berbicara secara terbuka, tetapi sering sekali orang menjadi bagian dari sistem yang lebih besar sistem
dalam anggota keluarga membuat keputusannya memiliki kelenturan sehingga mampu beradaptasi
masing-masing. Orangtua tidak merasa perlu dengan perubahan yang terjadi disekitarnya. Dalam
mengontrol anak-anak mereka karena setiap keluarga juga berlaku aturan dan kontrol bagi
pendapat dinilai berdasarkan pada kebaikannya, anggotanya. Biasanya orang tua yang memegang
yaitu pendapat mana yang terbaik, dan setiap orang peranan tersebut.
turut serta dalam pengambilan keputusan.
Terkait dengan peran orangtua yang memegang
Tipe protektif, yaitu keluarga yang jarang fungsi kontrol dalam keluarga hal ini juga
melakukan percakapan, namun memiliki kepatuhan dikemukakan oleh DeVitto (2001) yang
yang tinggi, jadi terdapat banyak sifat patuh dalam memberikan penjelasan tentang 4 (empat)
keluarga, tetapi sedikit komunikasi. Orang tua dari karakteristik hubungan anggota keluarga.
tipe keluarga ini tidak melihat alasan penting Karakteristik yang pertama yaitu adanya peran
mengapa mereka harus menghabiskan banyak yang jelas dari masing-masing anggota meskipun
waktu untuk berbicara atau ngobrol, mereka juga tidak tertulis. Peran ini mengandung tugas dan
tidak melihat alasan mengapa mereka harus kewajiban serta hak masing-masing anggota
menjelaskan keputusan yang telah mereka buat, keluarga. Apa saja yang harus dilakukan, dan apa
karena alasan inilah orangtua atau suami istri saja yang menjadi hak bagi setiap orang.
semacam ini dikategorikan sebagai terpisah Karakteristik yang kedua adalah bahwa setiap
(separate) dalam hal orientasi perkawinannya. anggota memahami tanggung jawab masing-
masing. Bahwa sebagai bagian dari keluarga setiap
Tipe keluarga yang jarang melakukan percakapan orang memiliki tanggung jawab terhadap anggota
dan juga memiliki kepatuhan yang rendah disebut lain. Tanggung jawab bukan hanya dalam hal fisik
dengan laissez-faire, lepas tangan dengan atau finansial namun juga termasuk tanggung jawab
keterlibatan rendah. Anggota keluarga dari tipe ini untuk menjaga emosi. Misalnya, menjaga agar
tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan anggota keluarga lain merasa aman, berbahagia,
anggota keluarga lainnya dan tentu saja mereka terhindar dari rasa sedih, kesepian, melindungi dari
tidak ingin membuang waktu untuk rasa takut, khawatir dan sebagainya.
membicarakannya. Suami istri dari tipe keluarga ini
cenderung memiliki orientasi perkawinan campuran Karakteristik hubungan yang ketiga adalah bahwa
(mixed), artinya mereka tidak memiliki skema yang keluarga sebagai tempat berbagi cerita dan impian
sama yang menjadi dasar bagi mereka untuk masa depan. Dengan sealing berbagi maka anggota
berinteraksi. Mereka memiliki orientasi yang keluarga dapat saling mengenal anggota keluarga
242 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

lain lebih mendalam. Seringkali antar anggota keluarga lainnya. Secara umum, orang-orang yang
keluarga memiliki pertalian darah namun belum memiliki wewenang ini adalah guru, supervisor,
tentu dapat saling memahami. Karena seperti orang tua atau siapa saja yang statusnya diatas rata-
disebutkan oleh Littlejohn (2001) sebagai suatu rata orang kebanyakan dan arena statusnya ia
sistem yang terbuka anggota keluarga berinteraksi memiliki kekuasaan dan otoritas tertentu.
dengan lingkungannya sehingga anggota keluarga
dapat mengalami perubahan sikap atau pemikiran Bentuk relasi dan komunikasi orang tua kepada
karena adanya input dari anggota diluar keluarga. anak menurut Segrin & Flora (2005) meliputi dua
dimensi yaitu dimensi kehangatan dan kontrol.
Konsep mengenai hubungan antar anggota keluarga Disatu sisi orang tua diharapkan dapat memberikan
juga dikemukakan oleh Miller (2003) yang kehangatan kepada anak sehingga anak merasa
mengemukakan bahwa pendekatan dialektika nyaman bersama keluarga dan menjadi tempat
dalam studi komunikasi sebagai sebuah sistem untuk mengemukakan segala hal yang menjadi
mengenal kecenderungan adanya perubahan dan perasaan dan pemikirannya. Namun disisi lain
stabilitas sebagai individu, sistem, keluarga dan orang tua juga menjalankan fungsi kontrol terhadap
budaya yang semuanya saling terkait. Individu tindakan dan pemikiran anak, sehingga anak akan
sebagai bagian dari sistem memiliki peran yang memiliki arahan yang tepat dalam menjalani
akan mempengaruhi tindakan anggota lainnya. kehidupannya. Fungsi kontrol sendiri terbagi
Sementara sebagai sistem yang terbuka keluarga menjadi dua yaitu kontrol terhadap perilaku
juga dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya. (behavior control) dan kontrol terhadap psikologis
Maka ciri setiap keluarga memiliki kecenderungan (psychological control). Kontrol perilaku meliputi
yang berbeda dengan keluarga lainnya karena peraturan yang ditetapkan dalam keluarga dan
adanya faktor pengaruh dari luar keluarga. batasan-batasan yang boleh dilakukan oleh anak.
Sedangkan kontrol psikologis meliputi hal-hal yang
Karakteristik keempat adalah peneguhan aturan terkait dengan pengendalian emosi, dan pemikiran-
didalam keluarga. Hubungan yang cukup dekat pemikiran yang menurut anggapan orang tua boleh
antara anggota keluarga meneguhkan sebuah aturan dilakukan oleh anak.
bahwa ada hal-hal tertentu yang boleh dan tidak
boleh dilakukan atau dibicarakan baik dengan Beberapa peneliti memberikan saran bahwa
anggota keluarga atau orang diluar keluarga. kehangatan dan keterlibatan orang tua pada anak
Tujuannya adalah melindungi anggota keluarga yang sangat kurang akan menimbulkan problem,
terhadap lingkungan diluar keluarga dan saling sedangkan terlalu banyak keterlibatan orang tua dan
menjaga anggota keluarga dari perilaku atau pesan- kendali yang dilakukan terhadap anak juga akan
pesan yang tidak perlu menjadi tema pembicaraan menimbulkan masalah bagi anak. Pada akhirnya,
diantara anggota keluarga. Biasanya dalam komunikasi anak dan orangtua terjadi sejak usia
keluarga ada aturan yang tidak tertulis apa saja kanak-kanak sampai dewasa akan menentukan
yang boleh dan tidak boleh dilakukan anggota bagaimana cara seseorang mengambil keputusan
keluarga. Aturan ini ditetapkan oleh anggota termasuk keputusan untuk menikah diusia dini.
keluarga yang lebih senior seperti orang tua, kakek-
nenek atau kakak. Disampaikan secara lisan
ataupun ditunjukkan dengan perilaku yang III. METODE PENELITIAN
diharapkan akan dicontoh oleh anggota keluarga
lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif dengan meninjau aspek dari komunikasi
Pesan yang disampaikan antara anggota keluarga anak dengan orang tua baik ayah maupun ibu pada
juga bersifat lebih pribadi karena anggota keluarga keluarga-keluarga yang anaknya menikah diusia
dianggap menjadi orang yang paling memahami remaja.
kondisi anggotanya sejak kecil atau dalam kurun
waktu yang lama. Ada unsur rasa saling percaya Dalam pemilihan informan tim peneliti
diantara anggota sehingga dapat menggunakan teknik purposif yang didasarkan atas
mengkomunikasikan berbagai hal. Ruben and pertimbangan akan kapasitas informan menjelaskan
Stewart (2006) menyebutkan bahwa sebagai dan menggambarkan secara mendalam tentang
anggota keluarga yang memiliki status, kekuasaan proses dalam proses komunikasi dalam keluarga
dan otoritas biasanya pesan yang disampaikan lebih ketika mengambil keputusan untuk menikah di usia
didengar, diperhatikan dan dipatuhi oleh anggota
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 243

remaja. Informan terdiri atas 3 orang yang disebuah perguruan tinggi. Menikah di usia 19
menjalani perkawinan di usia remaja. tahun, saat wawancara dilakukan informan remaja
duduk di semester tiga sebuah perguruan tinggi
Informan dipilih berdasarkan beberapa swasta di Jakarta dan kini telah memiliki 1 orang
pertimbangan yaitu dari jenis kelamin perempuan, anak. Menikah dengan teman kuliah yang sudah
menikah diusia remaja, masih memiliki orang tua dikenal sejak SMA. Anak bungsu dari 4
dan sebelum menikah tinggal bersama salah satu bersaudara. Suami bekerja di perusahaan swasta
atau kedua orang tua. Tipe keluarga informan sejak sebelum menikah, selisih usia dengan suami 1
umumnya adalah yang jarang melakukan tahun. Mengalami kehamilan sebelum pernikahan.
percakapan dan juga memiliki kepatuhan yang Menikah atas dasar keputusan bersama antara
rendah atau disebut dengan laissez-faire, lepas informan dan calon suami, serta disetujui oleh para
tangan dengan keterlibatan rendah orang tua masing-masing.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam Informan pertama memutuskan untuk menikah
(in depth interview) dengan teknik interview guide diusia remaja lebih karena kondisi kehamilannya.
approach. Panduan untuk wawancara digunakan Namun tampak bahwa yang bersangkutan dapat
agar pertanyaan yang diajukan sesuai dengan menerima dan menjalani pernikahan dengan relatif
konsep yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam baik.
penelitian ini digunakan triangulasi teori untuk
menentukan keabsahan penelitian yaitu dengan Latar belakang informan pertama sebelum menikah
menggunakan beberapa perspektif yang berbeda hidup bersama ibunya. Orangtuanya berpisah sejak
untuk mengintepretasikan data yang sama. Konsep informan duduk dibangku sekolah menengah.
yang digunakan tidak hanya menggunakan konsep Ibunya cenderung pendiam, jarang bertanya
komunikasi dengan fokus pada komunikasi mengenai kegiatannya disekolah atau belajar. Ibu
keluarga sebagai kajian utama penelitian ini namun tidak terlalu suka untuk diajak berdiskusi.
juga digunakan konsep-konsep tentang hubungan Percakapan dengan ibu cenderung terbatas pada
antar manusia secara umum, dan teori sistem hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari
komunikasi. Untuk menunjang keabsahan data dirumah. Sehingga informan lebih sering
penulis juga melakukan pengamatan dan berkomunikasi dengan ayahnya meskipun tidak lagi
wawancara terhadap lingkungan informan seperti tinggal dalam satu rumah. Pada saat orangtuanya
tempat tinggal informan dan teman-teman belum bercerai sang ayah selain menanyakan
informan. Peneliti bermaksud memperoleh aktivitas sehari hari juga sering menceritakan
gambaran lebih utuh mengenai kepribadian kegiatannya selama bekerja. Dengan kondisi ini
informan dalam perannya sebagai anak, remaja dan informan pertama merasa dihargai dan diposisikan
pelajar. Informasi dari pihak lain mengenai diri sebagai teman.
informan akan membantu peneliti untuk
memperoleh gambaran lebih utuh guna melengkapi Informan merasakan bahwa bentuk perhatian
analisa dari hasil wawancara. ayahnya yang sering menanyakan tentang sekolah,
teman-teman dan aktivitasnya sehari-hari amat ia
Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh perlukan. Selain itu informan merasa bentuk
data dari hasil wawancara dan pengamatan yang perhatian ayahnya melalui komunikasi yang
diperoleh dari berbagai sumber. Selanjutnya disampaikan dalam bentuk larangan dan aturan.
dilakukan reduksi data dan menyusun data untuk Seperti misalnya larangan pulang malam jika
kemudian dilakukan penyusunan data menurut informan sedang pergi bersama dengan teman-
kategori yang telah disusun dalam kerangka konsep temannya. Ayahnya selalu menghubungi melalui
serta dilakukan intepretasi data. telephon disaat informan berada diluar rumah.
Sejak ayah dan ibunya berpisah informan merasa
frekuensi ayahnya berkomunikasi dengannya
IV. HASIL PENELITIAN DAN banyak berkurang.
PEMBAHASAN
Perceraian orangtuanya membuat informan pertama
4.1 Deskripsi Informan remaja terguncang dan melampiaskan rasa sepi sedih dan
kecewa dengan bermain bersama teman-temannya.
Informan pertama perempuan, berusia usia 22 Kebutuhan akan teman yang dapat mendengarkan
tahun, dan sedang menyelesaikan tugas akhir keluh kesah dan saling berbagi mulai berkurang
244 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

dan terasa tidak diperoleh lagi dirumah. Pergaulan informan sedang mengalami proses perceraian yang
informan dengan salah seorang teman dekatnya memasuki tahap mediasi. Usia suami pada saat
berujung pada kehamilan. menikah 18 tahun yang merupakan teman satu
sekolah di SMA. Pada waktu berpacaran informan
Setelah menikah informan merasakan bahwa hamil, dan atas keputusan bersama dengan orang tua
komunikasi dengan orangtuanya tetap diperlukan informan dinikahkan.
meski ia sudah berkeluarga dan tinggal terpisah
dari orang tua. Informan sering berusaha untuk Setelah menikah informan tinggal bersama keluarga
berkomunikasi dengan ayah baik bertemu muka mertua yang mencukupi kebutuhan karena informan
maupun melalui telephon. Beberapa persoalan beserta suami masih melanjutkan kuliah dan
yang ditemui dalam perkawinan maupun dalam keduanya tidak bekerja.
studi disampaikan kepada sang ayah guna
memperoleh saran dan masukan. Informan merasa perkawinanya tidak dilandasi
dengan cinta dan semata-mata karena kehamilan
Informan kedua, menikah pada usia 19 tahun, saat yang tidak dikehendaki. Keputusan melakukan
ini usianya 23 tahun dan memiliki 2 (dua) orang pernikahan diusia remaja lebih karena dorongan
anak. Aktivitas sehari-hari berjualan warung keluarga terutama keluarga dari pihak mertua.
didepan rumah. Usia suami saat menikah 25 tahun, Keputusan ditentukan oleh orang tua dan informan
bekerja sebagai salesmen obat. Menikah setahun merasa tidak ikut dilibatkan dalam menentukan
setelah melewati proses pacaran. Menikah atas nasibnya.
dasar kesadaran kedua belah pihak setelah dan
disetujui oleh orang tua masing-masing. Selama menjalani pernikahan informan dengan
pasangan banyak mengalami pertengkaran.
Informan kedua sejak kecil tinggal bersama Dukungan informan diperoleh dari ayah dan ibunya
neneknya. Ibunya tinggal dikota lain dan hanya yang senantiasa mengingatkan untuk bersabar dan
sesekali menjenguk. Ayahnya telah meninggal. belajar dalam menjalani perkawinannya. Namun
Hubungan informan dengan ibunya relatif tidak sikap dewasa yang diharapkan pasangan yang tidak
banyak dikemukakan, namun tidak nampak rasa diperoleh informan sehingga akhirnya berujung pada
dendam maupun membenci ibunya. Hubungan keputusan informan untuk berpisah dengan
informan dengan sang nenek yang mengasuhnya pasangannya. Kondisi informan pada saat
sejak kecil nampak memuaskan informan. wawancara berlangsung sangat terasa penuh dengan
muatan emosi, amarah dan kekecewaan dengan
Informan sangat memahami keterbatasan sang pasangan. Berbagai persoalan dalam perkawinan
nenek dan keputusan untuk menikah di usia remaja dirasakan tidak ada penyelesaiannya.
antara lain adalah untuk meringankan beban
ekonomi sang nenek. Informan menikah dengan Rasa tidak nyaman selama menjalani perkawinan
teman lelaki yang sudah dikenal cukup lama dan adalah karena dominasi ibu mertuanya. Banyak hal
antara keluarga juga sudah saling mengenal. yang informan rasakan sebagai tekanan dan tidak
adanya ruang bagi informan untuk mengekspresikan
Pada saat memutuskan untuk menikah informan keinginannya. Ketika informan menyampaikan
menyampaikan kepada ibu kandungnya dan tidak keinginannya untuk bercerai, hal tersebut sangat
ada pertentangan dari sang ibu. Dikarenakan ditentang oleh ibu mertua dan lebih menekankan
informan tidak tinggal bersama ibunya, maka tidak untuk bersabar.
banyak yang diceritakan oleh informan mengenai
ibu sebagai satu-satunya orang tua. Informan lebih Dalam hal ini informan sangat menginginkan
banyak menyampaikan hubungannya dengan nenek kehadiran orangtua kandungnya yang lebih
yang menurutnya adalah nenek yang baik, mendukung dengan memahami apa yang dirasakan
memberikan kasih sayang dan selalu dalam perkawinannya. Namun disisi lain orang
mendukungnya. tuanya lebih mendukungnya untuk tetap menjalani
pernikahan. Bagi informan hal ini menunjukkan
Informan ketiga adalah anak bungsu dari 7 (tujuh) bahwa orangtuanya tidak dapat memahami kondisi
bersaudara, menikah di usia 18 tahun, pada saat ini dan perasaannya yang sebenarnya. Sehingga
usianya 23 tahun, duduk di semester 6 disalah satu beberapa bentuk pelampiasan yang dilakukan
perguruan tinggi di Jakarta. Memiliki 1 orang anak adalah dengan marah kepada pasangan, memaki
berusia 6 tahun. Pada saat wawancara berlangsung dan menjuluki pasangan dengan nama yang buruk.
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 245

4.2 Pembahasan membuat remaja tidak memiliki pilihan lain.


Keputusan menikah karena kondisi kehamilan yang
Dari hasil wawancara dan pengamatan yang tidak dikehendaki serta lemahnya interaksi dan
dilakukan peneliti terdapat tiga elemen penting komunikasi dengan orangtua membuat remaja
yang peneliti kategorikan sebagai elemen penentu merasa tertekan selama pernikahannya. Pasangan
dari keputusan seseorang untuk menikah diusia yang umumnya berusia tidak jauh dan masih di
remaja. Ketiga elemen tersebut ditinjau dari awal usia dewasa dirasakan tidak dapat memahami
perspektif komunikasi keluarga. Elemen-elemen kondisi psikologis remaja.
tersebut adalah: 1) Peran orang tua sebagai
pemegang kekuasaan dalam keluarga (Power and Remaja pada umumnya masih beroientasi pada
Control), 2) Peran keluarga sebagai sebuah sistem kehidupan sekolah dan pertemanan. Tugas sebagai
komunikasi (Communication in family as a system), istri sekaligus ibu yang dialami dalam waktu
3) Peran orang tua dalam membangun relasi yang singkat dianggap sebagai beban. Komunikasi
intim dengan anggota keluarga (building intimate dengan pasangan dirasakan tidak memuaskan.
relationship) Sebagian remaja berupaya untuk membicarakan
beban rumah tangga dengan orang tua meskipun
4.2.1 Peran sebagai pemegang kekuasaan dan seringkali tidak memperoleh jawaban seperti yang
menjalankan kontrol dalam keluarga. diharapkan.
Dari hasil wawancara dengan informan remaja
ditemukan bahwa dalam memutuskan perkawinan Pada remaja yang menikah bukan karena kehamilan
di usia remaja, pihak keluarga lebih berperan untuk diluar perkawinan nampak lebih tenang secara
menentukan. emosional. Meskipun komunikasi dengan orangtua
tidak optimal namun tidak ada perasaan
Latar belakang remaja umumnya mengalami menyalahkan orang tua. Keputusan untuk menikah
kondisi yang kurang harmonis dengan orangtuanya. di usia remaja terjadi atas dorongan diri sendiri dan
Orangtua bercerai, single parent atau tinggal pasangan serta dorongan dari keluarga dalam hal
bersama nenek sejak kecil. Dalam hubungan yang ini sang nenek yang tinggal bersama sejak kecil.
kurang dekat dengan orangtua atau salah satu orang Kondisi emosi yang stabil juga dikarenakan adanya
tua, maka remaja cenderung mencari pelarian jaminan ekonomi dari pasangan.
dengan teman atau pacar.
Latar belakang dua dari tiga informan yang
Remaja cenderung menginginkan orang tua menikah diusia remaja karena alasan kehamilan
menanyakan aktivitas sehari-hari, mengingatkan merupakan kelemahan penelitian ini. Meskipun hal
dan melarang. Meskipun hal ini dianggap sebagai ini semula bukan merupakan kriteria penelitian tapi
kontrol terhadap remaja , namun disisi lain remaja merupakan temuan.
membutuhkannya. Informan yang orangtuanya
mengalami perceraian merasakan bahwa ketika Dari hasil penelitian ditemukan bahwa fungsi
fungsi kontrol orang tua berkurang maka mereka kontrol ini berkurang atau tidak dipenuhi oleh
akan mencari orang lain yang dianggap dapat orangtua. Kontrol yang dilakukan oleh orang tua
memahami mereka. Ada kecenderungan remaja sesungguhnya disadari oleh informan sebagai
mengungkapkan bahwa salah satu penyebab remaja. Umumnya remaja tidak memiliki informasi
pernikahan diusia remaja yang terjadi pada dirinya tentang perkawinan dari lingkungan keluarganya.
adalah karena kurang atau tidak adanya kontrol Kehidupan remaja masih seputar dunia sekolah dan
dari orangtuanya. pertemanan. Nilai-nilai tentang perkawinan belum
disosialisasikan oleh keluarga pada saat yang
Dikemukakan oleh remaja yang mengalami bersangkutan memasuki usia remaja, meskipun
kehamilan sebelum pernikahan adalah bahwa orang umumnya sudah memiliki pacar. Informasi tentang
tua yang pada awalnya marah namun pada akhirnya konsekuensi apa saja yang mungkin timbul pada
menggiring mereka untuk menikah demi menutup saat anak memiliki hubungan dengan teman dekat
aib keluarga. Remaja menyadari bahwa juga belum diperoleh.
pernikahannya tidak dilandasi dengan cinta yang
kuat dan jika tidak terjadi kehamilan maka mereka Tipe keluarga dalam penelitian ini adalah keluarga
tidak akan menikah dengan pasangannya. Ada yang jarang melakukan percakapan dan juga
perasaan menyesal dan marah dengan keadaan yang memiliki kepatuhan yang rendah atau disebut
dialami. Namun dorongan orangtua untuk menikah dengan laissez-faire, lepas tangan dengan
246 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

keterlibatan rendah. Anggota keluarga dari tipe ini Pesan yang disampaikan oleh orang tua kepada
tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan anak biasanya berupa saran, anjuran, keharusan
anggota keluarga lainnya dan tentu saja mereka melakukan sesuatu sehubungan dengan peran anak
tidak ingin membuang waktu untuk dalam keluarga, hukuman atau ganjaran karena
membicarakannya. melakukan kesalahan, pujian ketika melakukan
sesuatu yang dianggap baik, peringatan untuk tidak
Kondisi yang ditemui pada keluarga informan melakukan sesuatu, dan sebagainya. Dalam
adalah tidak berjalannya mekanisme kontrol dalam kekuasannya orang tua juga dapat meneguhkan
keluarga. Mekanisme sistem kontrol dalam sebuah aturan-aturan yang berlaku dikeluarga. Konsep
keluarga bisa dalam berbagai bentuk kontrol dan yang dikemukakan oleh Miller adalah bahwa aturan
pengambilan keputusan dalam keluarga dapat yang dikomunikasikan dalam keluarga meliputi
terpusat pada satu orang yang paling dominan. aturan-aturan yang terkait dengan perilaku anggota
Kontrol dilakukan ketika ada gejala terjadi keluarga. Seperti peraturan untuk batas anak pulang
penyimpangan. Sebaliknya terdapat keluarga yang dimalam hari, peraturan dengan siapa saja boleh
melakukan kontrol atau mengambil keputusan pada bergaul, dan peraturan lainnya yang umumnya
hal-hal tertentu sedangkan pada hal lainnya kontrol disampaikan secara lisan.
dan pengambilan keputusan tidak dilakukan.
Kontrol yang dibutuhkan oleh remaja dilakukan Selain itu peraturan ini diberlakukan juga sebagai
oleh orang tua terhadap hal-hal seperti masalah fungsi kontrol bagi anggota keluarga seperti yang
pendidikan dan pergaulan anak. dikemukakan oleh Segrin dan Flora.

Karena umumnya orangtua informan mengalami Komunikasi orangtua pada anak dapat dilakukan
masalah (bercerai, atau masalah kesulitan ekonomi) dalam bentuk kehadiran orang tua yang bukan
maka orangtua tidak dapat menjalankan sistem hanya penting secara fisik namun juga penting
kontrol terhadap anak secara optimal. untuk memenuhi kebutuhan kognitif (pemikiran,
dan pertimbangan rasional), kebutuhan afeksi
Kontrol pada anak meliputi kontrol perilaku juga (perasaan, etika), serta kebutuhan konatif
kontrol psikologis. Hal ini juga terkait dengan (melakukan suatu aktivitas/tindakan).
peran dari anggota keluarga yang masing-masing
memiliki tanggungjawab baik bagi diri sendiri 4.2.2 Peran orang tua sebagai bagian dari
maupun tanggung jawab terhadap anggota keluarga sebuah sistem dalam komunikasi dalam
lainnya. keluarga
Dalam konsep komunikasi sebagai sistem
Remaja tidak mampu melakukan tanggungjawab ditemukan bahwa komunikasi yang telah dibangun
terhadap dirinya sendiri tanpa bantuan orang sekitar sejak masa kecil dilingkungan informan berada
terutama orangtuanya. Sementara karena kondisi bukan merupakan sistem yang tidak utuh. Kedua
perceraian maka orang tua juga tidak mampu orang tua tidak secara bersama mendampingi anak
melakukan perannya secara optimal seperti uraian secara fisik sejak anak masih kecil atau orang tua
DeVitto bahwa salah satu karakteristik keluarga yang bercerai pada saat anak usia remaja. Orang tua
adalah adanya kesadaran terhadap peran dalam baik ayah dan ibu hadir secara fisik namun kurang
keluarga. memenuhi kebutuhan komunikasi anak. Orangtua
cenderung tidak berkomunikasi secara terbuka,
Kehadiran orang tua dalam kehidupan seorang anak tidak cukup memiliki waktu bersama, kurang
diusia remaja sangat penting. Orang tua akan memiliki pengetahuan tentang lingkungan anak
memiliki kesan yang lebih tinggi dibandingkan seperti teman, pacar, hobi dan sekolah. Sehingga
anggota keluarga lain seperti saudara kandung, sistem komunikasi dalam keluarga ada yang tidak
saudara yang tinggal bersama atau kakek dan berfungsi.
nenek. Orang tua yang memiliki otoritas dalam
keluarga membuat posisinya sebagai sumber pesan Sebagai bagian dari sebuah sistem maka setiap
menjadi sangat menentukan bagi tindakan anak. komponen saling berhubungan dengan komponen
Komunikasi yang disampaikan orang tua yang lain. Anak sebagai bagian dari keluarga
mengandung unsur kepatuhan karena wewenang membutuhkan kehadiran orang tua bukan hanya
yang dimiliki orang tua terhadap anak. dari segi fisik namun juga dari segi pemikiran.
Komunikasi anatara orang tua baik ayah maupun
ibu dianggap kurang berperan. Sebagai bagian dari
Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012 247

sistem yang terbuka anak yang sedang berada di yang mau mendengar, menanggapi dan
usia remaja memiliki peluang untuk berinteraksi mengingatkan bahkan memberikan dukungan.
dengan pihak lain. Input diperoleh dari anggota Kesamaan usia dan pengalaman membuat anak
diluar keluarga seperti teman, keluarga besar, merasa nyaman dan menganggap setiap pandangan
sahabat, guru atau pacar. teman atau pacarnya adalah paling benar.

Sebagai sebuah sistem yang tidak lengkap, maka Pada perkawinan diusia dini yang normal (tidak
keputusan untuk menikah diusia dini merupakan mengalami kehamilan diluar perkawinan), anak
akibat yang ditimbulkan oleh tidak optimalnya tetap membutuhkan bimbingan orangtua dalam
sistem dalam keluarga. Remaja cenderung mencari mengarungi kehidupan perkawinan yang sarat
wadah berkomunikasi dengan orang diluar anggota dengan berbagai permasalahan. Sehingga pada usia
keluarga, tanpa berpikir panjang bahwa segala remaja dimana anak membutuhkan peran orang tua,
tindakan interaksi yang dilakukan dengan orang perubahan status sebagai istri atau sekaligus dalam
lain memiliki konsekuensi-konsekuensi tertentu. waktu yang sama langsung menjadi ibu tidak serta
Salah satu akibat yang ditimbulkan adalah merta anak remaja tersebut dapat melepaskan peran
pernikahan diusia dini dan diantaranya didahului orang tua dan hidup secara mandiri baik secara
dengan kehamilan yang tidak direncanakan. fisik, psikologis bahkan finansial.

4.2.3 Peran orang tua dalam membangun relasi Pada usia remaja anak mengambil keputusan
yang intim dengan anggota keluarga menikah sangat tergantung dengan keputusan orang
Komunikasi yang dibutuhkan anak pada usia tuanya. Faktor ketergantungan finansial dengan
remaja umumnya adalah tanggapan keluarga orang tua dan belum mandirinya anak secara
tentang teman-teman mereka, tentang sekolah atau finansial menjadikan keputusan untuk menikah
pelajaran, pacar atau teman dekat dan hobi. Remaja tidak dapat ditolak oleh anak meskipun diantaranya
menghendaki komunikasi dengan keluarga dalam sebenarnya kurang mencintai pasangannya atau
bentuk sebagai pendengar dan pemberi tanggapan. sebenarnya belum siap memasuki kehidupan
Disisi lain remaja juga ingin mengetahui aktivitas perkawinan.
orangtuanya masing-masing dan berusaha
memahami kepribadian dan karakter orang tuanya
yang satu sama lain berbeda. Selain itu remaja V. KESIMPULAN
membutuhkan kontrol dari keluarga sebagai bentuk
perhatian. Ketika kondisi ini tidak diperoleh Simpulan yang dapat diuraikan penulis dalam
dirumah maka anak berusaha memperolehnya dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
teman. Dalam relasi dengan teman remaja yang 1. Keputusan untuk menikah di usia remaja
memiliki intensitas lebih tinggi dalam berhubungan merupakan keputusan yang terkait dengan latar
dengan teman dibandingkan dengan orang tuanya belakang relasi yang terbangun antara anak
terkadang tidak lagi dapat membatasi diri. Sehingga dan kedua orang tua dan anak dengan
terjadinya kehamilan diluar nikah seperti yang lingkungan pertemanannya.
ditemukan dalam penelitian ini adalah akibat 2. Dalam relasi komunikasi dengan orang tua
kurangnya komunikasi keluarga sebagai fungsi yang terjadi adalah bentuk komunikasi triadik
kontrol bagi remaja dan akibat upaya remaja yaitu remaja dengan ayah dan remaja dengan
mencari relasi guna pemenuhan dalam komunikasi ibu. Ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda
yang diperoleh dari teman-teman, teman dekat atau dalam komunikasi dengan anak sejak usia
pacar. kanak-kanak, remaja dan menikah di usia dini.
3. Fungsi ayah dan ibu sebagai elemen dalam
Materi komunikasi yang dibutuhkan remaja sistem komunikasi dikeluarga tidak berfungsi
berkisar antara kegiatan sehari-hari seperti masalah secara optimal karena terjadinya perceraian.
teman, sekolah, dan aktivitas lain termasuk pacar. Fungsi ayah dan ibu dalam sistem komunikasi
Ketika sistem dalam keluarga tidak berperan secara dalam menyampaikan kehangatan dan
optimal maka anak secara naluri berusaha menjalankan fungsi kontrol tidak dilakukan
memperoleh wadah untuk berkomunikasi dengan secara optimal bahkan ada yang tidak berfungsi
teman-temannya yang umumnya seusia. Diantara sama sekali.
teman-teman tersebut adalah pacar yang 4. Komunikasi yang dibutuhkan anak pada usia
dianggapnya memiliki kelebihan, dikagumi dan remaja dengan orangtuanya adalah seputar
dianggap baik. Teman atau pacar merupakan pihak masalah sekolah, pertemanan, penampilan,
248 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL, Vol. 1, No. 4, September 2012

hobi, dan cita-cita masa depan. Dibutuhkan 2. Penelitian ini dapat dikembangkan menjadi
kehadiran orang tua baik ayah dan ibunya penelitian tentang komunikasi suami dan istri
untuk mendengarkan, berdiskusi dan dalam pernikahan di usia dini, karena latar
memahami apa yang dirasakan remaja. belakang dari informan sebagai remaja dan
5. Latar belakang relasi komunikasi anak dan masih memiliki ketergantungan yang tinggi
orangtua yang tidak optimal menyebabkan anak pada orang tua dapat menjadi salah satu elemen
mencari relasi diluar sistem keluarga yaitu yang berperan dalam membentuk pola
dengan teman-temannya. Pada suatu saat komunikasi pasangan suami istri dan keluarga
bentuk relasi dengan teman yang tidak
mendapat pendampingan orang tua membuat
remaja bergaul diluar batas sehingga DAFTAR PUSTAKA
menimbulkan beberapa konsekuensi seperti
kehamilan. [1] DeVitto, Joseph A, 2007, The Interpersonal
6. Keputusan untuk menikah diusia remaja antara Communication Book,New York, Longman
lain dilatar belakangi faktor karena telah [2] Ozirney, Henry. 2007. Knot Happy: How Your
Marriage Can Be. Oklahoma: Tate Publishing &
terjadinya kehamilan maupun kondisi ekonomi.
Enterprises
Keputusan untuk menikah pada kondisi karena [3] Griffin, EM. 2006. A First Look at Communication
kehamilan didominasi oleh keputusan orang Theory. Sixth Edition. New York: McGraw-Hill.
tua. Sedangkan pada pernikahan remaja yang [4] Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human
normal (tanpa terjadinya kehamilan), peran Communication. Seventh Edition. USA:
orang tua tetap dipertimbangkan sebagai faktor Wadsworth Group
pendukung. [5] Ruben, Brent D., Lea P. Stewart. 2006.
7. Selama masa pernikahan, remaja tetap Communication And Human Behavior. Fifth
membutuhkan komunikasi dengan orang tua Edition. USA: Pearson Education, Inc.
terutama yang bagi remaja sebelumnya sudah [6] Segrin, Chris. 2005. Family Communication. USA:
Lawrence Erlbaum Associates , Inc., Publishers
memiliki kedekatan. Kebutuhan untuk
[7] Reynold, G 2007 Ethics in Information
berkomunikasi dengan orang tua dalam masa Technology. Second Edition. Course (GR) 1, 4
pernikahan terutama ketika menghadapi [8] Santrock, John W, 2003 Adolescene,
masalah dengan pasangan atau dengan orangtua Perkembangan Remaja. Jakarta, Erlangga
pasangan. [9] Zulkifli, 2005, Psikologi Perkembangan, Bandung
8. Pada pernikahan usia remaja dibutuhkan Remaja Rosdakarya,
pendampingan oleh orang tua bagi pasangan. [10] Undang-undang Perkawinan Tahun 1974
Anak yang umumnya masih pada usia remaja
masih membutuhkan bantuan secara fisik, Jurnal:
psikologis bahkan finansial. Kematangan [11] Dumlao, Rebecca J. Family Communication
Scholarship: Current Work and Developing
pasangan akan membantu remaja mengatasi
Research Frontiers. Journal FamilyCommunication
permasalahan dalam pernikahan dini. Namun in the Information AgeVol. 16, No. 1. 2005.
jika pendampingan dari pasangan tidak optimal [12] K.E , Kiernan.Teenage Marriage and Marital
maka orangtualah yang dianggap paling Breakdown: A Longitudinal Study. Population
memiliki kemampuan untuk memberikan relasi Studies, Volume 40, Number 1, March 1986 , pp.
dalam bentuk kehangatan maupun kontrol yang 35-54(20).
dibutuhkan remaja.
Media:
Saran [13] Harmadi, Sonny Kompas, 11 Juli 2013.
1. Penelitian lanjutan tentang komunikasi Perkawinan dan Kehamilan Remaja
[14] AHA/ADH, Kompas 14 Juli 2013, Penyuluhan
keluarga dapat difokuskan pada hal-hal yang
KB Digalakkan Lagi
terkait dengan permasalahan dalam komunikasi [15] (http://id.berita.yahoo.com/bkkbn-peringatan-hari-
seperti konflik, ketidakpuasan dalam kependudukan-ditujukan-bagi-remaja).
komunikasi, tidak adanya keterbukaan, dan [16] MetroNews.com, 12 Juli 2013: Jumlah Remaja
fungsi keluarga sebagai sistem. Melahirkan Semakin Banyak
[17] (Republika On Line, 05 September 2013)