Anda di halaman 1dari 5

Ananda Septiani Yunus Pengauditan I

A31116039
Akuntansi

ETIKA PROFESIONAL

Etika dan Moralitas


Etika (ethichs) berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti “karakter”. Kata lain untuk etika
ialah moralitas (morality), yang berasal dari bahasa Latin mores, yang berarti “kebiasaan”. moralitas
berpusat pada “benar” dan “salah” dalam perilaku manusia. Oleh karena itu, etika berkaitan dengan
pertanyaan tentang bagaimana orang akan berperilaku terhadap sesamanya.
A. Etika Umum
Etika umum (general ethics) mencoba mendefinisikan apa yang dimaksud dengan baik bagi
seseorang atau masyarakat, dan mencoba menetapkan sifat dari kewajiban atau tugas yang harus
dilakukan oleh seseorang bagi dirinya sendiri dan sesamanya. Adapun kerangka kerja etika umum
yang dikembangkan oleh para ahli untuk pengambilan keputusan, yang disebut kerangka kerja
enam langkah sebagai berikut:
a. Mendapatkan fakta yang relevan untuk pengambilan keputusan.
b. Mengidentifikasi masalah-masalah etika dari fakta relevan tersebut.
c. Menetukan siapa saja yang dapat dipengaruhi oleh keputusan tersebut dan bagaimana masing-
masing dipengaruhi.
d. Mengidentifikasi alternatif pengambilan keputusan.
e. Mengidentifikasi konsekuensi setiap alternative.
f. Membuat pilihan yang beretika.
B. Etika Profesional
Etika Profesional (professional ethics) harus lebih dari sekedar prinsip-prinsip moral. Etika ini
meliputi standar perilaku bagi seorang profesional yang dirancang untuk tujuan praktis dan
idealistik. Sedangkan kode etik profesional dapat dirancang sebagian untuk mendorong perilaku
yang ideal, sehingga harus bersifat realistis dan dapat ditegakkan.

Kode Etik Perilaku Profesional AICPA


A. Tim Etika Profesional AICPA
Tim ini terdiri dari beberapa staf penuh waktu,anggota sukarela aktif,dan investigator sementara
jasa juga bersifat sukarela sesuai kebutuhan. Tim tersebut melaksanakan tiga fungsi utama untuk
menyelesaikan misinya sebagai berikut:
1. Menetapkan standar: Komite Eksklusif Etika Profesional melakukan interpretasi atas Kode
Perilaku Profesional AICPA serta mengusulkan perubahan pada kode perilaku.
2. Penegakkan etika: Tim Etika Profesional melakukan investigasi atas potensi masalah-masalah
disiplin yang melibatkan anggota AICPA serta mesyarakat CPA Negara bagian dan Program
Penegakan Etika Bersama.
3. Jasa permintaan bantuan teknis (ethics hotline): Tim Etika Profesional melakukan pendidikan
bagi anggota serta mempromosikan pemahaman atas standar etika yang ada dalam Kode
Perilaku Profesional AICPA, dengan cara menanggapi permintaan bantuan anggota dalam
rangka penerapan Kode Perilaku Profesional AICPA pada bidang praktik yang spesifik.
B. Komposisi Kode Etik AICPA
Kode Perilaku Profesional (Code of Profesional Conduct) AICPA yag telah direvisi dan
diterima oleh sidang keanggotaan tahun1988 terdiri dari dua seksi sebagai berikut:
1. Prinsip-prinsip (Principles) yang menyatakan ajaran dasar perilaku etika dan memberikan
kerangka kerja bagi peraturan-peraturan.
2. Peraturan Perilaku (Rules of Conduct) yang menetapkan standar minimun perilaku yang dapat
diterima dalam pelaksanaan layanan profesional.
C. Definisi Kode Etik
Definisi kode etik (code definition) beriku guna memahami penerapan prinsip-prinsip Kode dan
Peraturan:
1. Klien (client). Setiap orang atau entitas, selain pegawai anggota CPA yang menugaskan
anggota atau kantor anggota CPA untuk melaksanakan jasa professional bagi perorangan atau
entitas yang menerima jasa profesional tersebut.
2. Dewan (Council). Dewan yang berada dalam lembaga AICPA.
3. Perusahaan (Enterprise). Sinonim dengan istilah “Klien”.
4. Kantor Akuntan Publik (Firm). Bentuk organisasi yang diizinkan oelh undang-undang Negara
bagian atau peraturan yang memiliki karakteristik sesuai dengan keputusan Dewan, untuk
melaksanakan praktik akuntan publik, termasuk untuk perorangannya sebagai pemilik.
5. Status Keanggotaan (holding out). Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang anggota yang
menginformasikannya statusnya sebagai CPA atau spesialis AICPA yang terakreditasi.
6. Institut (Institute). AICPA itu sendiri sebagai kelembagaan.
7. Anggota (Member). Seorang anggota, anggota asosiasi, atau asosiasi internasional dari AICPA.
8. Praktik Akuntan Publik (Practise of public accounting). Pemberian jasa profssional berupa jasa
akuntansi, perpajakan, perencanaan keuangan pribadi, jasa dukungan litigasi, serta jasa
profesional lainnya oleh seorang anggota atau kantor akuntan publik yang terdaftar sebagai
pemegang CPA atau spesialis AICPA yang terakreditasi, sesuai dengan standar yang
diumumkan oleh badan-badan yang ditunjuk oleh Dewan
9. Jasa Profesional. (Professional services). Semua jasa yang dilaksanakan oleh seorang CPA
yang masih berstatus sebagai pemegang CPA.
D. Prinsip-prinsip
Enam prinsip yang terdapat dalam kode etik, dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Tanggung jawab. “Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional, para anggota
harus mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua aktivitas
mereka.”
2. Kepentingan Publik. “Para CPA harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang
mendahulukan kepentingan publik, menghargai kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen pada profesionalisme.”
3. Integritas. “Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan masyarakat para CPA harus
melaksanakan semua tanggung jawab professional dengan integritas tertinggi.”
4. Objektivitas dan Independensi. “Seorang CPA harus mempertahankan objektivitas dan bebas
dari pertentangan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesional. Seorang CPA
yang berpraktik sebagai akuntan publik harus bersikap independen dalam kenyataan dan
penampilan pada waktu melaksanakan audit atau jasa atestasi lainnya.”
5. Kecermatan atau Keseksamaan. “Seorang CPA harus mengamati standar teknis dan etika
profesi,terus meningkatkan kompetensi serta mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab
profesional dengan kemampuan terbaik.”
6. Lingkup dan Sifat Jasa “Seorang CPA yang berpraktik sebagai akuntan publik, harus mematuhi
Prinsip-Prinsip Kode Perilaku Profesional dalam menentukan lingkup dan jasa yang
diberikan.”

Peraturan Perilaku
Dalam memformulasikan peraturan-peraturan ini, AICPA telah berusaha untuk dapat memberikan
layanan yang terbaik bagi para anggotanya,profesi dan masyarakat dari waktu ke waktu, peraturan
tersebut dimodifikasi untuk dapat mengakomodasi perubahan norma dari perilaku etik serta pengaruh-
pengaruh lainnya, seperti perubahan-perubahan pada ketentuan pemerintah.
A. Interpretasi Independensi
Terdapat beberapa tema dalam interpretasi indenpendensi,yang meliputi pengaruh dari:
1. Kepentingan Keuangan. Larangan terhadap kepentingan keuangan bersifat sangat ekplisit.
Pertama, CPA atau kantor akuntan publik (KAP) tidak boleh mempunyai kepentingan
keuangan langsung dengan klien. Oleh karena itu, seorang CPA tidak boleh memiliki atau
mempunyai opsi untuk membeli satu lembar saham pun dari klien.
Kedua, seorang CPA tidak diperkenankan memiliki gubungan kerjasama atau memegang
investasi bisnis dengan perusahaan klien, komisaris, direktur atau pemegang saham utama
dalam perusahaan klien, komisaris, direktur atau pemegang saham utama dalam perusahaan
tersebut yang bersifat material bagi CPA ataupun aktiva bersih perusahaan.
Ketiga, seorang CPA tidak diperkenankan memiliki pinjaman kepada atau dari perusahaan
klien, komisaris, direktur atau pemegang saham utama adalam perusahaan tersebut, kecuali
memang diperbolehkan sesuai dengan interpretasi 101-5.
2. Hubungan Bisnis. Seorang CPA tidak diperbolehkan memeberikan layanan dalam kapasitas
sebagai anggota manajemen atau sebagai pegawai klien, karena dapat memperlemah
independensi. Penerapan interpretasi ini akan menjadi semakin kompleks apabila CPA
memiliki anggota klien.
3. Arti Ungkapan “CPA Atau Kantor Akuntan Publik”. Interpretasi 101-9 menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan CPA atau kantor akuntan publik (member or member's firm) meliputi
semua dari berikut ini:
a. Semua orang (dari setiap tingkatan) yang berpartisipasi dalam perikatan, kecuali mereka
yang hanya melaksanakan fungsi klerk rutin, seperti juru ketik atau operator foto kopi.
b. Semua orang yang memiliki posisi manajerial dan beralokasi dalam kantor yang
berpartisipasi signifikan dalam perikatan.
c. Semua pemilik, partner atau pemegang saham dari kantor akuntan public.
d. Sebuah entitas yang kebijakan usaha, keuangan atau akuntansinya dapat dikendalikan oleh
seorang atau lebih dari orang-orang yang telah disebutkan diatas atau oleh dua orang atau
lebih yang dipilih dan ditunjuk untuk bertindak bekerja sama.
4. Jasa Lain Bagi Klien. Seringkali CPA menyediakan jasa lain sebagai tambahan atas jasa
atestasi kepada klien. Sebagai contoh, seorang CA atestasinya. CPA yang melakukan praktik
sedemikian harus memenuhi persyaratan berikut agar dapat mempertahankan penampilannya
bahwa ia bukan menjadi klien sehingga dapat menjadi kurang independen menurut pandangan
seorang pengamat yang layak.
5. Litigasi. Litigasi melibatkan CPA dan kliennya yang mempertanyakan independensi CPA.
Pada umumnya, independensi akan melemah apabila keberadaan atau potensi ancaman litigasi
telah berubah secara signifikan atau diharapkan hubungan antara klien dengan CPA akan
berubah secara material.
6. Imbalan Yang Belum Dibayar. Imbalan yang belum dibayar untuk jasa profesional yang telah
diberikan akan dianggap sebagai pinjaman yang diberikan anggota kepada klien, sesuai dengan
apa yang di maksudkan dalam peraturan 101 dan interpretasinya.
B. Independence Standards Board (ISB)
Dewan standar independen didirikan pada tahun 1997 berdasarkan hasil diskusi antara AICPA
dengan perwakilan dari profesi dan SEC. misi yang diemban oleh ISB menurut terbitan mereka
adalah untuk menetapkan standar independensi yang dapat diterapkan pada audit atas entitas publik
dalam rangka melayani kepentingan masyarakat serta melindungi dan meningkatkan kepercayaan
investor dalam pasar bursa. Untuk mencapai maksud tersebut, dewan mengambil langkah sebagai
berikut:
1. Pada awalnya akan mengambil standar independen yang ada pada SEC.
2. Mengembangkan kerangka kerja konseptual independensi yang dapat diterapkan pada audit
atas entitas publik yang akan digunakan sebagai dasar pengembangan prinsip-prinsip yang
berbasis standar independensi.
3. Mengumumkan standar, melakukan review dan ratifikasi, melakukan konsensus dengan
Komite Masalah Independensi serta melakukan interpretasi atas masalah-masalah objektivitas
dan independensi auditor yang dikemukakan oleh staf ISB.
4. Mengembangkan proses untuk digunakan sebagai pedoman dan penyelesaian masalah,
termasuk mendayagunakan HC sebagai narasumber tentang masalah-masalah yang dapat
mempengaruhi independensi.
5. Menyediakan fungsi konsultatif bagi para praktisi dan registran yang ini menanyakan tentang
standar independensi.

Penegakan Peraturan
Seorang CPA hanya dapat dihukum karena melanggar peraturan-peraturan dari kode Perilaku
Profesional.Akan tetapi, dalam hal adanya dugaan pelanggaran atas peraturan, seorang CPA harus
memberikan alasan atas setiap setiap penyimpangan dari Interpretasi Peraturan Perilaku dan Peraturan
etika yang berlaku. Tindakan penegakan dapat dilakukan sebagai tanggapan atas (1) Adanya keluhan
terhadap anggota dan bukan anggota, (2) Ulasan dalam surat kabar atau publikasi, seperti SEC Docket
dan IRS Bulletin, yang ditulis oleh personil dalam Divisi Etika Profesional, dan (3) Penyampaian
adanya indikasi pelanggaran kepada AICPA oleh pejabat pemerintah Negara bagian bukan federal.
Penegakan peraturan AICPA dilakukan oleh dua kelompok,yaitu oleh AICPA dan masyarakat CPA
Negara bagian.keduanya memiliki wewenang untuk melakukan investigasi atas keluhan yang
disampaikan, melakukan dengar pendapat serta sanksi pada mereka yang telah melanggar peraturan.
Penegakan peraturan AICPA dilakukan melalui Divisi Etika Profesi serta badan Pengadilan
Bersama (Joint Trial Board).Sanksi maksimun yang dapat dikenakan oleh AICPA adalah memecat
CPA dari keanggotaan AICPA.
Penegakan oleh masyarakat Negara bagian dilakukan melalui komite Etika yang ada pada setiap
Negara bagian serta Badan Pengadilan Bersama. Sebagaimana halnya dengan AICPA, sanksi terberat
yang dapat dikenakan adalah kehilangan keanggotaan dalam masyarakat CPA Negara bagian.
A. Prosedur Penegakan Etika Bersama
Sebagai upaya penegakan peraturan perilaku lebih efektif serta lebih menyeragamkan tindakan
disiplin yang dilakukan, AICPA telah mengembangkan Program Penegakan Etika Bersama
.Menurut ketentuan dalam JEEP, keluhan terhadap seseorang CPA dapat disampaikan melalui
AICPA atau masyarakat CPA Negara bagian.Pada umumnya AICPA memiliki yurisdiksi untuk
menangani kasus: (1) Pada lebih dari satu Negara bagian; (2) Litigasi; dan (3) Masalah-masalah
yang menarik perhatian dan berskala nasional. Kelompok yurisdiksi dapat bertindak sendiri atau
bersama-sama.
B. Prosedur Badan Pengadilan Bersama
Hanya terdapat satu badan pengadilan bersama (joint trial board) yang terdiri dari setidaknya 36
anggota yang dipilih oleh majelis dari anggota majelis saat ini atau mantan anggota majelis.Badan
pengadilan bersama baru melibatkan diri apabila prosedur penegakan yang sebelumnya menilai
bahwa keluhan yang disampaikan tentang anggota ternyata cukup serius atau anggota yang terlibat
ternyata menolak untuk bekerja sama. Badan pengadilan bersama dapat mengambil tindakan
disiplin sebagai berikut: (1) Menegur CPA; (2) Memberhentikan sementara CPA selama periode
waktu yang tidak lebih dari tahun; dan (3) Memecat CPA.
C. Ketentuan Disiplin Otomatis
Peraturan tambahan meliputi juga ketentuan disiplin otomatis yang memberikan wewenang
untuk menghentikan sementara atau mencabut keanggotaan tanpa perlu melakukan dengar
pendapat dalam situassi tertentu.penghentian sementara dapat terjadi bila sekretaris AICPA
diberitahu bahwa pertimbangan atau pernyataan bersalah telah dijatuhkan kepada seorang CPA
yang
1. Menjalani hukuman pidana kurungan untuk masa lebih dari satu tahun.
2. Dengan sengaja lalai mengarsipkan surat pemberitahuan pajak penghasilan,di mana CPA
secara pribadi adalah seorang wajib pajak yang menurut undang-undang wajib mengarsipkan
surat pemberitahuan pajak penghasilan tersebut.
3. Pengarsipan surat pemberitahuan pajak penghassilan yang dipalsukan atau yang mengandung
kecurangan atas nama CPA atau atas nama klien.
4. Dengan sengaja membantu menyusun dan menyajikan surat pemberitahuan pajak penghasilan
atas nama klien yang dipalsukan atau yang mengandung kecurangan.