Anda di halaman 1dari 3

3.

CARA MEMPEROLEH KEKUASAAN

Terdapat beberapa cara untuk memperoleh kekuasaan, yaitu sebagai berikut:

1. Legitimate Power
Legitimate adalah kekuasaan yang diperoleh melalui pengangkatan. Seperti dalam
kemiliteran suatu jabatan komandan tidak perlu dilakukan pemilihan umum, tetapi
cukup dilaksanakan pengangkatan, maupun seperti penobatan seorang putra mahkota
menjadi raja tidak perlu pemilihan tetapi langsung diangkat. Perbedaan antara
pengangkatan dengan pemilihan adalah hasil dari pengangkatan adalah kepala
sedangkan dari hasil dari pemilihan adalah pemimpin. Seorang kepala belum tentu
dapat menjadi pemimpin yang baik, tetapi seorang pemimpin sudah barang tentu
adalah juga kepala.
2. Coersive Power
Coersive berarti kekerasan, jadi Coersive Power adalah kekuasaan yang diperoleh
melalui cara kekerasan, bahkan mungkin bersifat perebutan atau perampasan
bersenjata, yang sudah barang tentu diluar jalur konstitusional yang lazim disebut
kudeta.
3. Expert Power
Expert berarti ahli, jadi Expert Power adalah kekuasaan yang diperoleh melalui
keahlian seorang. Maksudnya, pihak yang mengambil kekuasaan memang memiliki
keahlian untuk memangku jabatan tersebut. Peroleh kekuasaan seperti ini berlaku
dinegara demokrasi, karena sistem personalianya dalam memilih karyawan memakai
merit system.
4. Reward Power
Reward berarti imbalan, jadi Reward Power adalah kekuasaan yang diperoleh sebagai
suatu pemberian atau imbalan. Sebagai contoh, perhatikan bagaimana orang-orang
kaya dapat memerintah orang-orang miskin untuk bekerja dengan patuh. Orang-orang
melakukan perkejaan tersebut hanya karena mengharapkan dan butuh sejumlah uang
pembayaran (imbalan).
5. Reverent Power
Reverent berarti daya tarik, jadi Reverent Power adalah kekuasaan yang diperoleh
melalui daya tarik seseorang. Walaupun daya tarik tidak menjadi faktor utama
mengapa seseorang ditentukan menjadi kepala kemudian menguasai keadaan, namun
daya tarik tersebut seperti postur tubuh, wajah yang rupawan, dan penampilan serta
pakaian yang parlente dapat menentukan dalam mengambil perhatian orang lain,
dalam usaha menjadi kepala.
6. Identification Power with Other
Hubungan seseorang dengan orang lain yang punya kuasa berimbas pada orang
tersebut. Sebab itu, kekuasaan diturunkan lewat rujukan atas “penguasa lain”. Jenis
kekuasaan ini bisa datang lewat hubungan personal seperti sekretaris atau asisten
administrasi yang kerap kerja bareng eksekutif. Jika orang yang mendekatkan diri
dengan kekuasaan tersebut juga meniru gagasan, norma, metode, dan tujuan dari
orang berkuasa, kekuasaan orang tersebut akan bertambah.
7. Critical Power
Pada tingkat lain, kita berkuasa hingga derajat mana kontribusi kita bersifat kritis atas
individu lain atau organisasi. Bilamana orang lain berhasrat pada energi, sumberdaya,
dan keahlian kita, hingga derajat tersebut pula kita punya kekuasaan atas mereka. Kita
menerapkan kekuasaan sejauh orang terhubung dengan sumber daya yang kita kuasai.
Kita mencurahkan energi dalam perilaku kekuasaan hingga derajat mana kepentingan
kita dan hingga derajat mana kita merasa hasilnya secara kritis penting atau menarik.
Dalam hubungan interpersonal, persepsi atas fakta lebih menarik ketimbang fakta itu
sendiri.
8. Social Organization Power
Sumber kekuasaan lainnya adalah organisasi sosial. Kekuasaan juga diturunkan dari
hubungan terstruktur di mana orang mengkombinasikan kekuatan individual mereka
guna memenuhi tujuan kelompok. James MacGregor Burns menyatakan hal sama
dengan cara lain, “kekuasaan seorang pemimpin mengalir dari kekuasaan pengikut.”
Pencapaian tujuan datang sebagaimana individu memobilisasi dan mentransformasi
pengikut, yang, pada gilirannya, mentransformasikan pemimpin.
9. Power Using Power
Kekuasaan juga bisa bersumber tatkala seseorang menggunakan kekuasaannya.
Kekeliruan menerapkan kekuasaan dapat berakibat hilangnya kekuasaan. Sebaliknya,
penggunaan kekuasaan cenderung meningkatkan kekuasaan itu sendiri. Persepsi dari
orang lain seputar kekeliruan kita bisa menghasilkan berkurangnya dukungan.
Kekeliruan bertindak atau bertindak sembrono bisa mengikis kekuasaan dan
dukungan dari orang lain yang kita butuhkan agar kekuasaan kita langgeng.
Kekuasaan, pada dirinya sendiri, adalah sumber bagi kekuasaan lainnya.

10. Charismatic Power


Karisma yang digambarkan Max Weber dan Referent Power diidentifikasi
menyediakan dasar teoretis bagi dasar kekuasaan. Orang yang punya kharisma punya
personalitas menyenangkan, menarik, dan menarik orang agar mematuhi si pemilik
kharisma tersebut. Orang yang punya kharisma biasanya ada di lingkar tengah klik-
klik berpengaruh dan punya akses pada orang-orang berpengaruh di dalam komunitas.
11. Centrality Power
Penempatan strategis individu ke dalam organisasi juga merupakan sumber
kekuasaan. Lokasi fisik di jantung kegiatan atau interaksi dengan orang-orang
berkuasa menambah perkembangan dan penggunaan efektif dari kekuasaan kita.
Sentralitas signifikan dalam konteks kekuasaan baik secara fisik ataupun sosial.

Selain itu, menurut Gareth Morgan sumber-sumber kekuasaan dalam suatu organisasi
dapat berasal dari:

1. Otoritas formal
2. Kendali sumber daya langka
3. Penggunaan struktur, aturan, dan kebijakan organisasi
4. Kendali proses pembuatan keputusan
5. Kendali pengetahuan dan informasi
6. Kendali batasan (boundary) organisasi
7. Kendali teknologi
8. Aliansi interpersonal, jaringan, dan kendali atas “organisasi informal”
9. Simbolisme dan manajemen makna (filosofi organisasi)
10. Gender dan manajemen hubungan berbasis gender
11. Faktor-faktor struktural yang menentukan tahap-tahap tindakan
12. Kekuasaan yang telah seorang miliki

Daftar Pustaka

Ferilian, Prasetya. (2011). Kekuasaan dan Politik. Diunduh dari Blogspot website:
http://prasetyaferilian.blogspot.com/2011/11/kekuasaan-dan-politik.html.

Nashir, Nazaki. (2011). Kekuasaan. Diunduh dari Blogspot website: http://nazaki-


nashir.blogspot.com/2011/11/kekuasaan.html.