Anda di halaman 1dari 17

Airway Management in Trauma

“Tatalaksana Jalan Napas Pada Pasien Trauma ”

Author: Rashid M Khan, Pradeep K Sharma, Naresh Kaul

Oleh
HENNY APRIANI
C014172071

RESIDEN PEMBIMBING :dr. HASMIRAH


SUPERVISOR PEMBIMBING : Dr. dr. HISBULLAH, Sp.An, KIC-KAKV

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KINIK


DEPARTEMEN ILMU ANESTESI, PERAWATAN INTENSIF DAN MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama : HENNY APRIANI
NIM : C014172071
Judul review journal : Airway Management in Trauma
“Tatalaksana Jalan Napas Pada Pasien Trauma ”
Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada
Departemen Ilmu Anestesi, Perawatan Intensif dan Manajemen Nyeri, Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Makassar, Maret 2019

Supervisor Pembimbing, Residen Pembimbing,

Dr. dr. Hisbullah, Sp.An, KIC-KAKV dr. Hasmirah


ABSTRAK

Trauma telah diasumsikan sebagai penyebab kematian akibat


kecelakaan lalu lintas yang terjadi di India dengan epidemiologi sekitar
10%. Hipoksia dan kesalahan tatalaksana jalan napas napas ikut berkontribusi hingga
34% dari penyebab kematian pra-rumah sakit pada pasien trauma. Kecurigaan akan
adanya obstruksi jalan napas harus diasumsikan pada semua pasien trauma.
Tanda-tanda objektif gangguan jalan napas termasuk agitasi, obtundasi, sianosis,
suara napas abnormal dan kelainan trakea. Jika waktu memungkinkan, orang harus
melakukan penilaian jalan napas singkat sebelum melakukan manajemen jalan napas
definitif pada pasien ini. Teknik sederhana untuk mempertahankan jalan napas antara
lain jaw thrust manuver dan/atau penggunaan oro- dan nas-opharyngeal airway.
Semua upaya harus dilakukan untuk melakukan manajemen jalan napas definitif
setiap kali jalan napas terganggu yang tidak berhasil dengan teknik sederhana.

Kata kunci: Algoritma Airway, manajemen jalan napas, trauma jalan napas
PENDAHULUAN

Laporan kasus keselamatan lalu lintas global yang diterbitkan pada Mei 2011
oleh organisasi kesehatan dunia mencatat bahwa 125.000 kematian di In di a
di s eb ab k an k a r en a trauma di jalan. Laporan kasus tersebut juga menambahkan
bahwa sekitar 2,2 juta mengalami cedera serius setiap tahun. Sayangnya, mayoritas
korban trauma yang selamat mengalami kecacatan baik otak maupun cedera
tulang belakang sehingga mereka hanya terbaring selama sisa hidupnya.
Angka kejadian di India adalah 78% berjenis kelamin laki-laki pada kelompok usia 20
sampai 44 tahun, sehingga menyebabkan dampak yang signifikan pada produktivitas.
Mengapa korban trauma ini meninggal? Hal ini terutama disebabkan karena
hipoksia dan kesalahan tatalaksana jalan napas yang berkontribusi hingga 34% dari
kematian pra-rumah sakit pada pasien ini.
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa 7-28% pasien dengan trauma
membutuhkan tatalaksana jalan napas definitif baik intubasi endotrakeal (ETI) atau
trakeostomi. Meskipun tatalaksana jalan napas definitif dalam keadaan darurat
mempunyai komplikasi , menghindari hal tersebut justru akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas pada pasien trauma tersebut.
Teknik terbaik untuk menyelamatkan pasien trauma adalah dengan
memberikan pertolongan secara langsung, termasuk tatalaksana jalan napas pra-
rumah sakit dan perawatan trauma wajah dalam satu jam pertama dari trauma atau
biasa disebut Golden Hour.
Tujuan dari artikel ini adalah untuk meninjau informasi teoritis dan praktis
yang terbaru berkaitan dengan tatalaksana jalan napas pada korban trauma. Hal ini
termasuk mengidentifikasi penyebab kesulitan dalam tatalaksana jalan napas,
prediksi kesulitan jalan napas dan strategi terbaik dalam hal perangkat saluran napas,
teknik atau manuver yang mungkin berguna dalam pengelolaan jalan napas dalam
penanganan trauma.
PENYEBAB KESALAHAN TATALAKSANA JALAN NAPAS
Kesalahan tatalaksana jalan napas pada korban trauma dapat dikaitkan dengan
salah satu atau kombinasi dari penyebab berikut :
1. Kegagalan untuk mengenali jalan napas yang tidak memadai pada korban
trauma.
2. Kegagalan untuk mempertahankan jalan napas dengan atau tanpa perangkat
saluran napas.
3. Kegagalan untuk mengakui kesalahan dalam menggunakan perangkat
saluran napas
4. Perubahan posisi jalan napas yang sudah dikoreksi sebelumnya.
5. Kegagalan untuk mengenali kebutuhan akan ventilasi.
6. Aspirasi isi lambung
Kesalahan tatalaksana jalan napas akan menyebabkan asfiksia yang dapat
berkembang menjadi hipoksia serebral, kerusakan otak dan akhirnya kematian.
Dimana lokasi kesalahan tatalaksana jalan napas sering terjadi ? kesalahan
tatalaksana jalan napas dapat terjadi di lokasi kecelakaan atau pusat trauma. Penyebab
kesalahan tatalaksana jalan napas di lokasi kecelakaan meliputi berikut ini:
1. Kondisi yang tidak menguntungkan (misalnya, kegelapan, ruang yang tidak
memadai, terbatasnya akses jalan napas pasien).
2. Posisi pasien yang buruk yang mungkin tergeletak di jalan, mobil dan kereta
yang hancur berantakan di sekitarnya.
3. Personil penolong yang tidak dikenal dengan tingkat pengetahuan
penatalaksanaan jalan napas yang berbeda-beda.
Penyebab kesalahan tatalaksana jalan napas di pusat trauma antara lain:
1. Orofaringeal atau perdarahan paru dan / atau trauma wajah menutupi jalan
napas pasien.
2. Imobilisasi tulang servikal dengan cervical collar
3. Kemungkinan lambung penuh dan asisten menerapkan tekanan krikoid yang
salah (manuver Sellick ).
4. Dilema tentang penggunaan farmakologis tambahan.
5. Hypoxaemia memberi tekanan pada operator.
6. Pasien yang tidak kooperatif atau agresif
Semua atau beberapa faktor tersebut, serta keterampilan penatalaksanaan jalan
napas operator sendiri, mengakibatkan kesulitan dalam mengelola jalan napas 7
sampai 10% dari pasien trauma. Untuk menghindari kesalahan manajemen jalan napas,
penting untuk dokter atau paramedis menjadi terlatih, tetap tenang dan tidak panik.
Paramedis harus memberikan tatalaksana mengikuti A, B, C sesuai aturan pedoman
Advanced Trauma Life Support (ATLS) .

PREDIKSI JALAN NAPAS YANG TIDAK ADEKUAT PADA PASIEN


TRAUMA
Pasien trauma potensial yang dapat memiliki jalan napas yang tidak adekuat
termasuk pasien dengan:
1. Penurunan kesadaran akibat cedera kepala, obat-obatan atau alkohol.
2. Trauma langsung ke saluran napas (faciomaxillary, leher, laring dan
tenggorokan).
3. Pasien terluka parah dan mengalami perdarahan hebat atau koma.
4. Kegagalan pernafasan akibat ledakan atau cedera inhalasi, atau paparan bahan
kimia.
Tidak semua pasien tersebut memiliki jalan napas yang tidak adekuat.
Langkah-langkah berikut akan membantu untuk mengidentifikasi adanya gangguan
jalan napas dari pasien yang berpotensi :
1. Lihatlah: Cari kemungkinan, agitasi, sianosis, retraksi dan / atau penggunaan
otot-otot tambahan pernapasan, dan naik turunnya dada yang asimetris.
2. Dengarkan: Dengarkan pasien mencoba untuk berbicara tetapi gagal untuk
melakukannya, bunyi napas yang abnormal terkait dengan snoring, gurgling,
dan stridor. Suara napas asimetris pada hemithorax dan takipnea juga
menunjukkan jalan napas yang tidak adekuat.
3. Rasakan: adanya deviasi trakea dan / atau emfisema subkutan.
Pasien dengan salah satu atau kombinasi di atas harus dianggap memiliki
hambatan jalan napas sehingga membutuhkan penatalaksanaan yang tepat. Semua
pasien trauma harus dicurigai memiliki gangguan jalan napas. Mereka harus terus
menerima oksigen tambahan dan imobilisasi dilakukan dengan menggunakan
stabilisasi inline selama pemeriksaan dan tatalaksana jalan napas.
Selama mencoba menilai jalan napas yang tidak adekuat, tanyakan SAMPLE
jika kondisi memungkinkan
 Sign (Tanda / gejala)
 Allergy (Alergi)
 Medicine ( Obat) , jika ada
 Past Medical Hystory (Riwayat medis)
 Last Meal ( makanan terakhir), dan
 Events, (Peristiwa sebelum cedera)
Pedoman ATLS edisi ke-8 sangat menyarankan bahwa jika pasien
teroksigenasi dengan baik dan cukup stabil (mis., tidak perlu diintubasi dalam 2 sampai
3 menit berikutnya), harus dibuat rencana bertahap untuk menilai jalan napas yang
sulit. Untuk kemudahan mengingat, seseorang dianjurkan untuk menggunakan
mnemonik berikut untuk menilai kesulitan jalan napas pada pasien ini: LEMON dan
BONES

LEMON untuk menilai kesulitan intubasi:


L Lihat eksternal Untuk trauma wajah atau leher yang masif,
mandibula, leher pendek (<3 jari lebarnya dari sternal
notch ke kartilago tiroid)
E Evaluasi 3-3-2 Pembukaan mulut, ruang submandibular dan jarak
antara kedudukan tiroid dan dagu kurang dari 3, 3 dan
2 jari masing-masing menunjukkan intubasi sulit
M Mallampati grade ≥2 harus waspada bagi operator untuk kejadian
kesulitan melakukan laringoskopi dan intubasi trakea.
O Obstruksi Obstruksi jalan napas dapat diperbaiki atau cepat
berubah karena cedera inhalasi atau trauma
faciomaxillary.
N Neck mobility Hal ini dapat diperbaiki seperti pada pasien dengan
cervical collar atau Halo frame.
Ventilasi dengan menggunakan masker yang sulit dapat diantisipasi jika pasien
memiliki 2 atau > dari parameter berikut di mnemonic.
BONES
B Beard (janggot)
O Obesitas (BMI> 26 kg / m 2)
N Tidak ada gigi
E Lansia (usia> 55 tahun)
S Snoring
Setelah diidentifikasi bahwa pasien memiliki jalan napas yang tidak memadai,
dapat dilakukan:
1. Strategi tatalaksana saluran napas sederhana
2. Strategi tatalaksana saluran napas definitif (ETI atau trakeostomi), atau
3. Strategi tatalaksana saluran napas Semi-definitif untuk membuat paten jalan
napas sesuai situasi yang ada
Namun, sebelum memulai strategi tatalaksana jalan napas, penting untuk
membersihkan bekuan darah dan lendir dari rongga mulut dan hidung. Lepaskan benda
asing seperti gigi palsu yang patah atau gigi avulsi. Seseorang juga harus mengontrol
posisi lidah dalam kasus fraktur mandibula simfisis bilateral. Hati-hati saat menyedot
rongga mulut: jangan pernah menghisap lebih jauh dari yang Anda lihat, selalu hisap
di jalan keluar, jangan pernah hisap lebih dari 15 detik dan selalu beri oksigen pasien
sebelum dan sesudah hisap.

STRATEGI TATALAKSANA SALURAN NAPAS SEDERHANA


Ini termasuk Head tilt dan Chin lift (hindari pada pasien dengan trauma
servikal) / Jaw Thrust atau penggunaan tambahan alat bantu napas dasar seperti
saluran napas orofaringeal pada pasien yang tidak responsif tanpa refleks muntah,
dan / atau saluran napas nasofaring pada pasien dengan refleks lebih aktif tapi tanpa
bukti fraktur dasar tengkorak.

STRATEGI TATALAKSANA SALURAN NAPAS DEFINITIF


Strategi ini termasuk ETI atau trakeostomi. Indikasi untuk strategi saluran
napas definitif meliputi berikut ini:
1. Adanya apnea.
2. Kebutuhan untuk perlindungan jalan napas berupa aspirasi: muntahan,
perdarahan.
3. Tidak sadar: Glasgow Coma Scale <8.
4. Fraktur faciomaxillary yang parah.
5. Risiko untuk obstruksi: leher hematoma, laring / trakea cedera.
6. Kemungkinan akan atau berpotensi mengalami gangguan jalan napas: cedera
inhalasi.
7. Ketidakmampuan untuk mempertahankan SpO2> 90% dengan oksigenasi
menggunakan facemask.
Pilihan untuk menggunakan ETI menjadi salah satu dari alat bantu napas
berikut tergantung pada situasi, ketersediaan perangkat dan adanya operator dengan
keahlian yang diperlukan.
1. Laringoskopi direct dan intubasi trakea.
2. Video laringoskopi dan intubasi.
3. Intubasi trakea fiberoptic
4. Intubasi trakea Lightwand-guide
5. Intubasi LMA / C-Trach ™ berbantuan komputer
6. Bullard ™ -, UpsherScope ™ - atau WuScope ™ berbantuan komputer
intubasi.
7. Intubasi trakea teknik Retrograde.
8. Blind nasal intubasi.
Direct laringoscopy ya n g b e r s i f a t kaku dan lurus atau pisau laringoskop
yang melengkung masih menjadi tindakan yang paling baik dalam melakukan ETI
pada pasien dengan trauma. Hal ini karena paramedis memiliki pengalaman yang
banyak dengan penggunaan sehari-harinya. Pastikan jalan napas tidak terhambat
dengan adanya darah / sekresi / muntahan, dan cukup kuat saat berhadapan degan
pasien yang tidak kooperatif/agresif. Ada kekeliruan bahwa laringoskopi
konvensional langsung berhubungan dengan pergerakan yang signifikan dari tulang
servikal. Studi yang dilakukan pada pasien trauma yang masih hidup telah gagal
untuk mendukung asumsi ini. Saat ini, ada cukup bukti bahwa laringoskopi langsung
lembut dengan MILS tidak terkait dengan cedera servikal.
Video laryngoscopy seperti GlideScope ™ (Verathon, Bothell, Washington),
TruviewPCD ™ (Truphatek, Israel), McGrath ™ (Pesawat Medis Ltd, Edinburgh,
UK) dan lain-lain memberikan kesempatan untuk melihat langsung gambar pada
monitor, sehingga operator dapat menerapkan laring eksternal manipulasi. Selain itu,
teknik videolaryngoscopic juga memudahkan untuk mengajar seni tatalaksana jalan
napas pada pasien trauma. Tapi teknik ini memiliki kekurangan seperti kabur dari
pandangan jika ada darah dan sekret .
Intubasi trakea fibreoptic dianggap sebagai metode yang baik untuk intubasi
pasien dengan tulang servikal yang tidak stabil. Gerakan tulang servikal setidaknya
dikaitkan dengan intubasi trakea fibreoptic. Di IGD, tingkat keberhasilan bantuan
napas ini berkisar antara 50 sampai 90%. Namun, orang harus ingat bahwa
kemungkinan besar kegagalan bisa terjadi jika ada darah, sekret dan muntahan atau
pada pasien yang tidak kooperatif, serta pasien yang agresif.
Lightwand (Trachlight ™: Laerdal Medical Corp, Wappingers Falls, New
York) adalah perangkat intubasi yang aman, efektif, cepat dan murah. Intubasi
lightwand trakea adalah bantuan jalan nafas yang cocok pada pasien trauma di mana
intubasi harus dilakukan dalam posisi netral atau dengan ekstensi kepala minimal.
Keuntungan utama kedua adalah bahwa keberhasilannya tidak secara signifikan
dipengaruhi oleh adanya darah dan sekresi. Namun, karena metode intubasi ini adalah
pendekatan buta, maka harus dihindari pada pasien dengan ekspansi massa leher atau
trauma laringofaringeal.
Intubasi trakea LMA / C-Trach ™ telah digunakan pada pasien trauma untuk
mencapai intubasi trakea. Mereka membutuhkan gerakan kepala dan leher yang
minimal sambil menempatkannya di oropharynx pasien dan memfasilitasi ETI karena
pasien secara bersamaan diventilasi. Namun, Brimacombe et al. telah menunjukkan
bahwa penggunaannya dapat dihubungkan dengan pergeseran yang signifikan dari
vertebra servikal yang tidak stabil. Intubating laryngeal mask airway (LMA) telah
dicatat menyebabkan pergeseran vertebra servikal yang lebih besar dibandingkan
dengan intubasi orotrakeal konvensional. Oleh karena itu, seseorang harus berhati-hati
dalam penggunaannya pada pasien dengan cedera servikal.
Intubasi trakea Bullardlaryngoscope ™ (Circon Corp, Stamford,
Connecticut), UpsherScope ™ (Mercury Medis, Clearwater, Florida) atau WuScope
™ (Achi Corp, San Jose, California) berbasis komputer memiliki keuntungan
dibanding intubasi trakeal fiberoptik konvensional. Selain itu, intubasi ini lebih kuat
dan membutuhkan pelatihan yang kurang intensif. Karena bentuknya melengkung
secara anatomis, alat ini sangat cocok untuk pasien dengan cedera servikal karena
dalam penggunaannya tidak memerlukan gerakan kepala dan leher. Tekanan krikoid
dan stabilisasi inline kepala dan leher tampaknya tidak mengganggu utilitas dari ruang
lingkup Bullard ™. Seperti laryngoscopes fibreoptic lainnya, kekurangannya adalah
ketidakmampuan untuk membantu visualisasi laring jika ada darah, muntahan atau
sekresi. Namun, sebagian WuScope ™ terbebas dari kekurangan ini karena sistem
opticnya yang relatif dilindungi di pisau tubularnya.
Blind intubasi nasotrakeal, meskipun masih bagian dari ATLS, tapi sangat
sedikit indikasi pada pasien trauma. Salah satu indikasi tersebut mungkin pembukaan
mulut terbatas karena semua perangkat lain yang dirinci di atas memerlukan
pembukaan mulut minimal 2 cm untuk intubasi orotracheal. Dalam situasi seperti itu,
intubasi nasotrakeal dapat dicoba jika tidak ada indikasi langsung tatalakana jalan
napas dengan pembedahan. Salah satu hal yang harus diingat bahwa tindakan ini harus
dilakukan hanya oleh tenaga ahli. Kontraindikasi intubasi nasotrakeal adalah trauma
midface signifikan dan koagulopati.
Setelah intubasi trakea selesai, sangat penting untuk mengkonfirmasi
penempatan pipa trakea yang benar. Hal ini dilakukan baik dengan memvisualisasikan
tabung trakea melewati pita suara atau menggunakan metode lain seperti
memperhatikan pengembangan dada dan auskultasi 5 poin pada dada pasien; detektor
CO2 dan X-Ray dada. Kapnografi (alat pendeteksi CO2 secara kontinyu dengan
pembentukan gelombang) adalah metode yang direkomendasikan sekarang. Hanya
saja jika tidak tersedia, Kapnometry (pengukuran tunggal CO2) harus digunakan.
Setelah ditempatkan dengan benar, jangan lupa untuk mengamankan tabung
endotrakeal, jangan sampai terjadi perubahan posisi.
Gum bougie elastis adalah alat bantu napas yang jarang digunakan dalam
penatalaksanaan trauma jalan napas. Kelebihannya bukan hanya membuat intubasi
yang sulit menjadi mungkin ketika hanya sebagian dari inlet laring atau epiglotis saja
yang dapat divisualisasikan, namun penggunaannya juga tidak dipengaruhi oleh
adanya darah dan sekresi. Semua operator perawatan trauma harus puas dengan
Cormack dan Lehane kelas 2 atau 3 dan menggunakan bougie untuk membantu
intubasi trakea daripada menggunakan kekuatan untuk mendapatkan kelas 1 dan
memperburuk cedera servikal.
Tindakan bedah harus dilakukan ketika ada edema glottis yang parah dan / atau
perdarahan orofaringeal, fraktur laring dan ketika endotrakeal tube gagal untuk
melewati pita suara. 1% pasien trauma yang membutuhkan intubasi memerlukan
pembedahan saluran napas. Teknik bedah meliputi cricothyrotomy. Cricothyrotomy
dapat dilakukan dengan menggunakan tiga teknik berikut:
A. Gunakan jarum ukuran 12-14. Kanula, setelah menarik jarum, dihubungkan
dengan penghantar oksigen 40-50 psi dalam 15 liter/ menit. Insuflasi
intermiten, 1 detik on dan 4 detik off, dapat memberikan insuflasi yang
memuaskan.
B. Prosedur jarum saluran napas seperti di atas, tetapi di mana ventilasi
disediakan oleh ventilasi tekanan rendah.
C. “Tatalaksana jalan napas dengan pembedahan” di mana tabung diikat dan
dimasukkan ke dalam trakea melalui membran krikotiroid dan ventilasi
dilakukan oleh self-inflating bag atau teknik ventilasi lainnya.
Percutaneous trakeostomi (PCT) tidak dianjurkan pada pasien trauma karena
untuk melakukan PCT, kita harus membuat leher pasien hiperekstensi .
Sedangkan hal tersebut dapat berdampak buruk pada pasien dengan cedera servikal.
Prosedur ini bisa berbahaya dan memakan waktu dan karenanya tidak dianjurkan.

STRATEGI TATALAKSANA JALAN NAPAS SEMI DEFINITIF


Peran perangkat semi-definitif (perangkat saluran napas supraglottic) telah
dijelaskan dalam tatalaksana jalan napas pada pasien trauma di ATLS edisi ke-8.
Sebuah pendekatan yang disederhanakan untuk tatalaksana jalan napas definitif pada
pasien trauma di disajikan pada Gambar 1. Tiga perangkat yang direkomendasikan
meliputi LMA, combitube dan tabung laring (LT).

Laringeal mask airway


LMA dianggap sebagai perangkat saluran napas yang berguna pada setiap pasien jika
strategi tatalaksana saluran napas definitif tidak dapat dilakukan. Namun, LMA tidak
dianggap sebagai perangkat saluran napas definitif. ATLS sangat menganjurkan bahwa
dokter harus melakukan tatalaksana jalan napas definitive ketika pasien dengan alat
bantu ini masuk ke instalasi gawat darurat. Dan untuk pemasangan LMA dibutuhkan
pelatihan yang tepat.

Laringeal tube
LT adalah perangkat saluran napas supraglottic dengan kemampuan serupa dengan
LMA. Seperti halnya LMA, LT tidak dianggap sebagai perangkat salura napas
definitif. LT ditempatkan tanpa visualisasi langsung glotis dan tidak memerlukan
manipulasi kepala dan leher yang signifikan. Berbeda dengan combitube dan ETI, LT
memberikan peningkatan keberhasilan pemasangan dan waktu penempatan yang lebih
singkat.
Combitube
Combitube masih direkomendasikan sebagai perangkat saluran napas semi-definitif
yang akan digunakan pada pasien trauma jika perangkat saluran napas definitif tidak
ada atau gagal. Ini adalah perangkat yang dapat menghemat waktu dan semua upaya
yang telah dilakukan sebelumnya dengan perangkat saluran napas definitif. Berbeda
dengan LT, combitube mungkin jarang masuk ke dalam trakea. Dalam keadaan
seperti itu, pemasukan langsung ke lumen proksimal lainnya harus dilakukan untuk
memulai ventilasi yang benar.
Masalah lain yang biasa ditemukan selama tatalaksana jalan napas pada pasien
trauma meliputi: peran tekanan krikoid dan imobilisasi servikal, berurusan dengan
pasien agresif dan dilema pada intubasi sadar.

Gambar 1: pendekatan sederhana untuk manajemen jalan napas definitif pada


pasien trauma
Penekanan krikoid atau “manuver Sellick ” tidak disebutkan dalam ATLS edisi
ke-8 kecuali sebagai satu baris di bawah intubasi cepat. Meskipun telah digunakan
untuk mencegah regurgitasi isi lambung, diketahui penekanan krikoid dapat
mendistorsi pandangan laring dan menggeser tulang servikal yang tidak stabil. Jika
masih dilakukan, tekanan krikoid harus dikurangi atau sama sekali dihilangkan, jika
dirasa menghambat intubasi trakea atau penempatan perangkat supraglottic.

Imobilisasi servikal
Dalam evaluasi komparatif non-acak dari tiga teknik imobilisasi tulang servikal
(servikal collar yang kaku, pita di dahi di kedua sisi leher dan manual-in-line
stabilisation) pada tampilan laringoskopi glotis selama laringoskopi, Heath mencatat
pandangan laringoskopi yang jelek (kelas 3 atau 4 dari Cormack dan Lehane) pada
64% pasien saat imobilisasi servikal dicoba menggunakan collar neck atau pita di dahi
dibandingkan dengan menggunakan MILS tercatat hanya 22%. Oleh karena itu, MILS
tentunya menjadi teknik yang disukai dari imobilisasi tulang servikal pada pasien
dengan dugaan trauma leher.

Berurusan dengan pasien agresif


Pasien dengan trauma mungkin agresif sebagai akibat keracunan (alkohol atau obat-
obatan), tetapi faktor-faktor lain yang sama pentingnya adalah karena mereka hipoksia,
hypercarbic, kepala terluka, takut, bingung atau sakit parah. Satu juga harus diingat
bahwa mungkin ada kondisi medis yang mendasari seperti hipoglikemia yang
memiliki kontribusi untuk perilaku agresif mereka. Mengatasi semua faktor-faktor
yang berkontribusi harus berdampingan dengan tatalaksana jalan napas.
Penatalaksanaan fisik dan kimia selama tatalaksana jalan napas harus dibatasi untuk
pasien yang memiliki faktor-faktor di atas . Pengendalian fisik dapat dicapai dengan
menempatkan pasien di spine board dengan collar neck, pengikat dan sandbags.
Namun, jika pasien terus bergerak , ia bisa berpotensi melukai tulang belakang dan
menjamin tindakan lebih lanjutnya. Pada pasien dengan hemodinamik stabil,
Haloperidol 5 mg, dapat diberikan dalam dosis yang diulang secara intravena setiap 5
menit dengan observasi untuk efek samping pengobatan.

Intubasi Sadar
Pada tahun 1970-an sampai 1980-an dipercaya bahwa tatalaksana jalan napas definitif
pada pasien sadar dapat menjaga tulang servikal yang terluka ketika tonus otot leher
yang tidak lumpuh bertindak seperti bidai. Tidak ada bukti yang mendukung asumsi
tersebut. Faktanya, tindakan tatalaksana jalan napas definitif pada pasien tersebut
secara signifikan dapat memperparah cedera servikal mereka karena batuk, bucking,
tersedak atau struggling. Dalam National Emergency Airway Registry, sebuah
penelitian multisenter lebih dari 15.000 intubasi darurat, analisis fase-dua data intubasi
trauma menunjukkan bahwa 80% dari pasien menjalani intubasi dan induksi cepat
menggunakan relaksan otot tanpa kerusakan servikal.

Intubasi Cepat
Intubasi dan induksi cepat anestesi, obat penenang dan obat yang memblok
neuromuskular masih dianggap berbahaya. Namun, jika situasi membenarkan risiko
pemberian obat ini, yang harus dipastikan bahwa tersedia tenaga terampil untuk
melakukan intubasi trakea.

Langkah-langkah berikut harus diikuti secara ketat saat melakukan intubasi yang
cepat:
1. Pastikan adanya seseorang dengan keterampilan melakukan tatalaksanan
pembedahan jika intubasi gagal.
2. Pastikan bahwa suction dan perangkat untuk ventilasi pasien sudah tersedia.
3. Pre-oksigenasi dengan 100% oksigen dan menerapkan teknik penekanan
krikoid (manuver Sellick ).
4. Berikan etomidate 0,3 mg / kg atau 20 mg dan kemudian mengelola 1-2 mg /
kg suksinilkolin intravena. Hindari suksinilkolin di pasien dengan cedera berat,
luka bakar dan luka bakar listrik , gagal ginjal kronis, kelumpuhan kronis dan
penyakit neuromuskuler kronis karena memiliki potensi hiperkalemia berat.
Thiopental dan obat-obatan penenang (midazolam dan diazepam) harus
dihindari pada pasien dengan hipovolemia.
5. Lakukan intubasi setelah pasien rileks.
6. Kembangkan cuff dari tabung endotrakeal kemudian mengkonfirmasi
penempatan pipa trakea sudah benar dengan auskultasi dan adanya CO2 saat
ekspirasi.
7. Lepaskan tekanan krikoid.
8. Ventilasi pasien.
9. Amankan posisi tabung trakea dengan baik.