Anda di halaman 1dari 21

VIEWER

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DIPADU GROUP


INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI DI KELAS XI SMAN 1
TALUN B LITAR

SKRIPSI

OLEH
MAHESTI PUSPA PARNASUKMA
NIM 170341615091

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEPTEMBER 2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kurangnya kemampuan siswa dalam melakukan kreativitas dalam pembelajaran juga


akan mempengaruhi kognitif siswa. Pembelajaran Biologi menekankan pada aspek
mengingat pengetahuan, pemahaman, dan kreativitas sehingga siswa dapat melatih
kemampuan berpikir dan memecahkan masalah serta pengaplikasian konsep dalam
kehidupan sehari-hari. Penerapan kreativitas dapat memberikan kemampuan berpikir yaitu
kecakapan mengolah pikiran untuk menghasilkan ide-ide baru. Hal ini sesuai dengan apa
yang dikemukakan oleh Zimmerer dkk, 2009 bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara baru dalam melihat masalah dan
peluang.

Sebagaimana diketahui, dasar-dasar berpikir selama ini pada umumnya tidak dikuasai
dengan baik oleh siswa. Oleh karena itu, diperlukan transofrmasi pendidikan dalam mata
pelajaran apapun, dari belajar dengan menghafal menjadi belajar berpikir, atau dari belajar
yang dangkal menjadi mendalam atau kompleks (Suastra, 2010). Siswa harus diyakinkan
bahwa mata pelajaran yang dipelajarinya menarik dan berguna, karena bisa membantu
mereka untuk memahami tentang dunia dan diri sendiri. Proses pembelajaran harus bisa
meningkatkan daya imajinasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir logis.

Pembelajaran Problem Based Learning dipadu Group Investigation akan memicu dan
mendorong siswa untuk berpikir dengan menunjukkan berbagai masalah di lingkungan
sekitar mereka. Model Problem Based Learning akan memberikan kesempatan pada siswa
untuk menerima pengalaman nyata selama proses pembelajaran ekosistemnya. Menurut
penelitian Oh dan Shin (2005), model pembelajaran group investigation dapat
menjadikan para siswa menjadi komunitas inkuiri yang artinya setiap siswa
menjadi investigator untuk kepentingan pembelajaran di kelas. Dalam
pembelajaran ini kegiatan aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh
siswa dan mereka bertanggung jawab atas hasil pembelajarannya Group
Investigation dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan dalam
menemukan permasalahan dan mengembangkan suatu pengetahuan secara mandiri.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat
meningkatkan pemahaman siswa pada materi sistem reproduksi di kelas XI SMAN 1
TALUN?
2. Bagaimanakah penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat
meningkatkan kreativitas siswa pada materi sistem reproduksi di kelas XI SMAN 1
TALUN?
3. Bagaimanakah penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat
meningkatkan pemahaman siswa mendeskripsikan stuktur, fungsi, dan proses
pembentukan sel kelamin di kelas XI SMAN 1 TALUN?
4. Bagaimanakah penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat
meningkatkan kemampuan kreativitas siswa menjelaskan proses terjadinya ovulasi di
kelas XI SMAN 1 TALUN?
5. Bagaimanakah penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat
meningkatkan kemampuan kreativitas siswa menjelaskan proses terjadinya menstruasi
di kelas XI SMAN I TALUN?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam materi sistem reproduksi melalui
penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation di kelas XI SMAN 1
TALUN
2. Untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam materi sistem reproduksi melalui
penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation di kelas XI SMAN 1
TALUN
3. Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam mendeskripsikan struktur, fungsi, dan
proses pembentukan sel kelamin melalui penerapan Problem Based Learning Dipadu
Group Investigation di kelas XI SMAN 1 TALUN
4. Untuk meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dalam menjelaskan proses
terjadinya ovulasi melalui penerapan Problem Based Learning Dipadu Group
Investigation di kelas XI SMAN 1 TALUN
5. Untuk meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dalam menjelaskan proses
terjadinya menstruasi melalui penerapan Problem Based Learning Dipadu Group
Investigation di kelas XI SMAN 1 TALUN

D. Hipotesis Tindakan
1. Penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi sistem reproduksi di kelas XI SMAN 1 TALUN
2. Penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat meningkatkan
kreativitas siswa terhadap materi sistem reproduksi di kelas XI SMAN 1 TALUN
3. Penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat meningkatkan
pemahaman siswa mendeskripsikan stuktur, fungsi, dan proses pembentukan sel
kelamin di kelas XI SMAN 1 TALUN
4. Penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat meningkatkan
kemampuan kreativitas siswa menjelaskan proses terjadinya ovulasi di kelas XI
SMAN 1 TALUN
5. Penerapan Problem Based Learning Dipadu Group Investigation dapat meningkatkan
kemampuan kreativitas siswa menjelaskan proses terjadinya menstruasi di kelas XI
SMAN 1 TALUN

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
a. Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.
b. Meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran .
2. Bagi guru
a. Menemukan model pembelajaran yang sesuai dengan menggunakan metode
Problem Based Learning dipadu Group Investigation terhadap peningkatan
kreativitas dan hasil belajar.
3. Bagi sekolah
a. Jika hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem
Based Learning dipadu Group Investigation dapat meningkatkan kreativitas
siswa, maka sekolah dapat merekomendasikan penggunaan model
pembelajaran ini pada materi yang lain atau bahkan pada mata pelajaran yang
lain.

F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah pengertian dan penafsiran, maka
penulis pelu memberi batasan pengertian terhadap beberapa istilah yang terdapat dalam
judul ini. Adapun istilah yang perlu dijelaskan disini adalah:

1. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran PBL adalah suatu model pembelajaran yang


mengajak siswa untuk berkelompok dan mengembangkan
pengetahuan, penalaran, berfikir kritis, serta memperoleh pengalaman
dalam diskusi kelompok. Model pembelajaran PBL terdiri dari 5
tahapan yaitu: (1). Orientasi siswa pada masalah yaitu menjelaskan
tujuan pembelajaran dan hal-hal penting yang dianggap perlu, (2).
Mengorganisasikan siswa dalam belajar, maksudnya membantu siswa
mengkoordinasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah, (3).
Memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau bersama
kelompok, yaitu membantu siswa dalam mengumpulkan informasi
yang diperlukan, (4). Mengembangkan dan menyediakan alat-alat,
membantu siswa dalam perencanaan, (5). Menganalisis dan
mengevaluasikan pada penyelidikan dan proses yang
digunakan (Rusman, 2013)

Berdasarkan pengertian diatas, penulis memaksudkan bahwa model


pembelajaran PBL adalah suatu pembelajaran yang mengembangkan
pengetahuan, penalaran, berfikir kritis, dan memperoleh pengalaman
dengan menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks
bagi para siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran.

2. Group Investigation
Model pembelajaran GI memiliki kelebihan yaitu memberi kebebasan kepada siswa
untuk berpikir secara analitis, kritis, kreatif dan produktif (Dewi dkk, 2012). Dengan
demikian akan mengembanngkan kemampuan kognitif maupun psikomotor siswa.
Keunggulan model pembelejaran GI yang selanjutnya adalah membuat siswa tertarik
mengikuti proses pembelajaran, meraasa senang saat pembelajaran dan lebih mudah
memahaminya, karena siswa melihat secara langsung dan melalukakn pengamatan
sendiri masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.

3. Meningkatkan Kreativitas

Kreativitas dapat dilihat ari tiga aspek yaitu sebuah kemampuan, perilaku, dan proses.
Kreativitas adalah sebuah kemampuan untuk memikirkan dan menemukan sesuatu yang
baru, menciptakan gagasan-gagasan baru dengan cara mengkom binasikan, mengubah,
atau menerapkan kembali ide-ide yang telah ada. Menurut Evans (1991) berpikir kreatif
adalah suatu aktivitas mental untuk membuat hubungan-hubungan (conections) yang
terus menerus (kontinu). Jadi, berpikir kreatif mengabailam hubungan yang sudah
mapan, dan menciptakan hubungan-hubungan tersendiri.

4. Meningkatkan Hasil Belajar

Dengan berakhirnya proses pembelajaran maka siswa memperoleh hasil


belajar. Hasil atau prestasi belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak
belajar dan tindak mengajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006:3). Menurut Gagne
dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:11-12), prestasi belajar dibedakan menjadi
lima aspek, yaitu : 1) Informasi verbal, yaitu kapabilitas untuk mengungkapkan
pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis, 2) ketrampilan
intelektual, yaitu kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan
lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang, 3) Strategi
kognitif, yaitu kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya
sendiri, Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam
pemecahan masalah, 4) ktrampilan motorik, adalah kemampuan melakukan
serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud
otomatisme gerak jasmani, dan 5) sikap, adalah kemampuan menerima dan
menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu. Jadi, prestasi belajar
merupakan hasil dari interaksi proses pembelajaran yang meliputi aspek kognitif,
afektif atau sikap dan psikomotorik.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Problem Based Learning

PBL pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970-an di


universitas
Mc Master fakultas kedokteran kanada, sebagai satu upaya
menemukan solusi
dalam diagnosis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sesuai
situasi yang
ada. Menurut Arends PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran
dimana
siswa mengerjakan permasalahan autentik dengan maksud untuk
menyusun
pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri, dan
keterampilan berfikir
tingkat lebih tinggi, mengembangkan kamandirian dan percaya diri
(Rusman, 2013)

Berdasarkan definisi tersebut pengajaran PBL merupakan


pendekatan yang
efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini
nmembantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam
benaknya
dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan
sekitarnya.Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan
pengetahuan dasar
maupun kompleks (Trianto, 2010)

Karakteristik pembelajaran PBL adalah sebagai berikut:

1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar,


2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di
dunia nyata yang tidak terstruktur.
3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple
perspektive),
4. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa,
sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi
kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama,
6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya,
dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial
dalam PBL,
7. Belajar adalah kolaboratif, komunikatif dan kooperatif,
8. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama
pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari
solusi dari sebuah permasalahan,
9. Keterbukaan proses dalam PBL meliputi integrasi dari sebuah proses
belajar,
10. PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses
belajar.

Langkah-langkah Pembelajaran PBL

Fas
Tahap Aktifitas/Kegiatan Guru
e
Guru menjelaskan tujuan
pembelajran,
menjelaskan logistik yang
diperlukan,
Orientasi siswa kepada
1 pengajuan masalah,
masalah
memotivasi siswa
terlibat dalam aktivitas
pemecahan
masalah yang dipilihnya
Guru membantu siswa
mendefinisikan
Mengorganisasikan dan mengorganisasikan tugas
2 siswa belajar
untuk belajar yang berhubungan dengan
masalah
tersebut.
3 Membimbing Guru mendorong siswa untuk
penyelidikan mengumpulkan informasi yang
sesuai,
melaksanakan eksperimen,
individual maupun untuk
kelompok mendapat penjelasan
pemecahan
masalah.
Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan
menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan,
Mengembangkan dan
4 video,
menyajikan hasil karya
model dan membantu mereka
untuk
berbagai tugas dengan
kelompoknya.
Guru membantu siswa
melakukan
Menganalisa dan
refleksi atau evaluasi terhadap
5 mengevaluasi proses
penyelidikan mereka dalam
pemecahan masalah.
proses
proses yang mereka gunakan.

Menurut Nurhadi (2004), PBL merupakan suatu model pembelajaran yang


menggunakan masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagai konteks bagi siswa untuk
belajar keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep
dasar dari suatu materi pelajaran. Model PBL dapat melatih siswa untuk lebih peka
terhadap masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitar, sehingga memberikan
kesempatan pada siswa untuk menerima pengalaman nyata selama proses pembelajaran
sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

Setiap model pembelajaran tentunya tidak mungkin ada yang


sempurna,
disamping banyak kelebihannya tentunya tidak sedikit pula terdapat
kelemahannya. Begitu juga dengan PBL model ini juga mempunyai
beberapa kelebihan dan ada juga kelemahannya antara lain:

1. Kelebihan PBL
a. Siswa terlibat aktif dalam mpembelajaran. Siswa belajar materi
matematika secara bermakna dengan belajar dan berfikir.
b. Orientasi pembelajaran adalah investasi dan penemuan yang
pada
dasarnya adalah pemecahan masalah, sehingga perhatian siswa
terpusat
pada masalah.
c. Pengetahuan bertahan lama, dapat diingat, bila dibandingkan
dengan
pengetahuan yang diperoleh dengan sebagian model pembelajaran lain.
d. Dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir
kritis.
e. Dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi untuk bekerja
terus sampai menemukan jawaban.
f. Menjadikan manusia lebih mandiri dan otonom.
g. Dapat membuat pelajaran menjadi lebih luas dan konkrit.
2. Kelemahan PBL
a. Kapasitas siswa yang banyak sulit bagi guru menerapkan model ini
b. Waktu kurang efektif dan efisien.
c. Tidak semua siswa bisa memahami pelajaran dengan model ini

B. Group Investigation

Menurut penelitian Oh dan Shin (2005), model pembelajaran group investigation


dapat menjadikan para siswa menjadi komunitas inkuiri yang artinya setiap siswa menjadi
investigator untuk kepentingan pembelajaran di kelas. Dalam pembelajaran ini kegiatan
aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan mereka bertanggung jawab
atas hasil pembelajarannya.

Model GI merupakan model pembelajaran yang dasar filosofinya merupakan


pembelajaran konstruktivisme karena dalam pembelajarannya siswa membangun sendiri
pengetahuannya dan guru bertindak sebagai fasilitator. Tujuan dari model pembelajaran
GI ini adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam rangka berpartisipasi
dalam proses sosial demokratik dengan mengkombinasikan perhatian-perhatian pada
kemampuan antar personal (kelompok) dan kemampuan rasa ingin tahu dalam bidang
akademis (Budiyono, 2011)
Penelitian mengenai penggunaan model pembelajaran GI terhadap kemampuan
berpikir telah banyak dilakukan hanya saja belum ada penelitian yang mengukur
kemampuan berpikir kritis dan keterampilan sosial siswa secara terintegrasi. Tujuan
penelitian ini adalah: (1) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam
pembelajaran biologi dengan menggunakan model pembelajaran GI; (2) untuk
meningkatkan keterampilan sosial siswa dalam pembelajaran biologi dengan
menggunakan model pembelajaran GI (Budiyono, 2011).

C. Kreativitas

Pengertian kreativitas Semiawan Kreativitas merupakan kemampuan untuk


memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.1
Menurut Munandar (2004: 104) mengatakan bahwa: Kreativitas adalah kemampuan untuk
membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur yang ada, berdasarkan
data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap
suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kualitas, ketepat gunaan dan
keragaman jawaban yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam
berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.

Menurut Dwiyanto (2006: 221) yang diangkat dari teori dan berbagai studi tentang
kreativitas, yaitu sebagai berikut:

a. Setiap orang memiliki kemampuan kreatif dengan tingkat yang berbeda-beda. Tidak
ada orang yang sama sekali tidak memiliki kreativitas, dan yang diperlukan adalah
bagaimana mengembangkan kreativitas tersebut.
b. Kreativitas dinyatakan dengan produk kreatif, baik berupa benda maupun gagasan.
Produk kreatif merupakan kriteria puncak untuk menilai tinggi rendahnya kreativitas
seseorang.
c. Aktualisasi kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor
psikologis (internal) dengan lingkungan (eksternal). Pada setiap orang, peranan
masingmasing faktor tersebut berbeda-beda.
d. Dalam diri seseorang dan lingkungannya terdapat faktor-faktor yang dapat menunjang
atau justru menghambat perkembangan kreativitas.
e. Kreativitas seseorang tidak berlangsung dalam kevokuman, melainkan didahului oleh,
dan merupakan pengembangan hasil-hasil kreativitas orang-orang yang berkarya
sebelumnya.
f. kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menciptakan kombinasi baru dari
hal-hal yang telah ada sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Karya kreatif tidak
lahir hanya karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang
menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat.

Dari beberapa uraian definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada
intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik
berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam karya baru maupun kombinasi
dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah
ada sebelumnya.

D. Hasil Belajar

Abdurrahman (2009: 37) mengatakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan yang
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.3 Belajar itu sendiri merupakan proses
dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang
relatifmenetap”. Soedijarto dalam Masnaini, (2003: 6) menyatakan bahwa Hasil belajar
adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar
mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar dalam kerangka studi ini
meliputi kawasan kognitif, afektif, dan kemampuan/kecepatan belajar seorang pelajar”.
Menurut Bloom dalam Dimyanti (2002) bahwa: “Hasil belajar merupakan keluaran dari
suatu pemprosesan masukan. Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam
informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatannya atau kinerja. Perbuatan merupakan
petunjuk bahwa proses belajar telah terjadi dan hasil belajar dapat dikelompokkan
kedalam dua macam saja yaitu pengetahuan dan keterampilan”.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Masing-masing
siklus terdiri atas tahap-tahap planning, implementing, observing, dan reflecting.
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-kuantitatif. Penelitian ini tergolong PTK
satu siklus
PLANNING

IMPLEMENTIN

OBSERVING

REFLECTIN

B. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah satu kelas XI MIPA di SMAN 1 TALUN dengan jumlah
35 siswa yang terdiri dari 23 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki
C. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai Agustus sampai dengan Oktober 2019
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

NO KEGIATAN WAKTU
1. Planning 1 minggu

2. Implementing 1 minggu

3. Observing 3 minggu

4. Reflecting 2 minggu

5. Reporting 1 minggu

D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi hasil pengamatan dan catatan
lapangan, lembar observasi PBL untuk guru, lembar observasi untuk siswa, pretest,
postest, presentasi investigasi, merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan,
tes uraian pada akhir siklus, menghasilkan temuan baru yang inovatif, bertanya,
obsrvasi, melakukan eksperimen, portofolio lembar kegiatan siswa.
Tabel 3.2 Instrumen Penelitian
No. Variabel Indikator (Syntax) Instrumen
1. PBL a. Melakukan orientasi pengenalan a. Hasil pengamatan dan
tentang permasalahan pada siswa. catatan lapangan
b. Mengkoordinir siswa untuk mela b. Lembar observasi PBL
kukan kajian dan meneliti. untuk guru
c. Membimbing penyelidikan siswa c. Lembar observasi untuk
secara mandiri atau berkelompok. siswa
d. Mengembangkan dan menyajikan d. Pretest
hasil penyelidikan. e. Postest
e. Menganalisis dan mengevaluasi
proses pemecahan masalah. Sumber: (Masek, 2011)

Sumber : (Kemendikbud, 2013)


2. Group Menurut Slavin: a. Presentasi investigasi
Investigation a. Pengelompokan (Grouping) b. Merangkum dan mencatat
b. Perencanaan (Planning) setiap topik yang disajikan
c. Penyelidikan (Investigation) c. Tes uraian pada akhir
d. Pengorganisasian (Orgnizing) siklus.
e. Presentasi (Presenting)
f. Evaluasi (Evaluating) Sumber: (Afifuddin, 2008)

Sumber: (Afifuddin, 2008)

Menurut (Sharan & Sharan, 1989) :


a. Mengidentifikasi topik yang akan
diselidiki dan mengatur siswa ke
dalam kelompok penelitian
b. Merencanakan penyelidikan dalam
kelompok
c. Melaksanakan investigasi
d. Menyiapkan laporan akhir
e. Mempresentasikan laporan akhir
f. Evaluasi
3. Kreativitas a. Ingin tahu a. Menghasilkan temuan baru
b. Tidak mudah meyerah yang inovatif
c. Masalah dapat diterima secara b. Bertanya
emosional c. Observasi
d. Melihat masalah sebagai hal yang d. Melakukan eksperimen
menarik
e. Melihat masalah sebagai peluang Sumber: (Nurlaela dan
f. Nyaman dengan imajinasi Ismayati, 2015)
g. Mampu membedakan penilaian
h. Optimis
i.Menikmati tantangan
j. Mencari masalah

Sumber: (Nurlaela dan Ismayati, 2015)


4. Hasil Belajar a. Kognitif (pemahaman akan konsep a. Tes tertulis sebagai alat
materi) ukur hasil belajar
b. Psikomotor (keterampilan motorik) b. Portofolio lembar kegiatan
siswa
E. Prosedur Penelitian
1. Planning
a. Menyusun RPP siklus 1 (Lampiran 1a) dan RPP siklus 2 (Lampiran 1b)
b. Menyusun instrumen (Lampiran 2a, 2b)
c. Menyiapkan media
d. Menyiapkan LKS (Lampiran 3)
e. Menyiapkan sumber belajar
2. Implementing
merupakan penerapan dari planning

a. Membuat RPP
b. Membuat instrument
c. Membuat media
d. Membuat LKS
e. Membuat sumber belajar
3. Observing
Pada saat implementing dilakukan observing menggunakan instrumen yang telah
disiapkan

a. Pengisian instrumen observasi keterlaksanaan model pembelajaran Problem


Based Learning Dipadu GI bagi guru
b. Pengisian instrumen observasi keterlaksanaan pembelajaran Problem Based
Learning Dipadu GI bagi siswa
4. Reflecting
Reflecting merupakan tahap analisis data yang telah diperoleh pada saat
observing guna mengetahui apakah penelitian telah berhasil atau belum
Indikator keberhasilan penelitian digunakan pedoman sebagai berikut:
1. Proses Belajar.
Proses belajar dikatakan tercapai jika minimal 85% siswa tuntas. Adapun
kriteri ketuntasan adalah 75%.
2. Hasil Belajar
a. Kognitif: …….. tentukan
b. Afektif: ………… tentukan
c. Psikomotor: ………….. tentukan

Indikator keberhasilan penelitian digunakan pedoman sebagai berikut:


a. Hasil belajar kognitif
Indikator keberhasilan tindakan ditinjau dari hasil tes, jika rata-rata siswa ≥7,0
dengan ketuntasan klasikan 85%.
b. Kemampuan berpikir kritis
Indikator kemampuan berpikir kritis siswa dapat diukur dari peningkatan
presentase hasil tes awal dan akhir pada siswa

DAFTAR RUJUKAN
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, Jakarta : Rineka
Cipta
Afifuddin, N. 2008. Tesis: Perbedaan Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw dan Group Investigation (GI) terhadap Prestasi Belajar Biologi
Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa. Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
Bloom Dalam Dimyanti. 2002. Belajar Dan Pembelajaran. PT. Rineka Cipta.
Budiyono. 2011. Penerapan Metode Group Investigation Dipadu dengan Game Puzzle
untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII-B SMPN 1
Bondowoso. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS Universitas Negeri Malang
Dewi, R. P., Iswari, R. S., & Susanti, R. 2012. Penerapan Model Group Investigation
Terhadap Hasil Belajar Materi Bahan Kimia di SMP. Unnes Science Education Journal., 1
(2): 69-76.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Asdi Mahasatya
Dwiyanto, I. 2006. Reformasi “ Birokrasi Amplop” Mungkinkah ?. Yogyakarta. Penerbit
Gaya Media
Evans, J.R. 1991. Creative Thinking. Cincinnati, Ohio: South-Western Publishing Co.
Kemendikbud. 2013. Permedikbud Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses. Jakarta:
Kemendikbud.
Masek.A,.Yamin.S. 2011. The Effect of Problem Based Learning on Critical Thinking
Ability: A Theoretical and Empirical Review. International Review of Social Sciences and
Humanities, Vol.2, No.1 hal 215-221.
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Muslim Ibrahim 2005. Pembelajaran berdasarkan masalah.Surabaya: UNESA University
pers. h.27
Nurhadi Yasin, Burhan. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya
dalam KBK. Malang: UM Press.
Nurlaela, L., dan Ismayati, E. 2015. Strategi Belajar Berpikir Kreatif. Penerbit Ombak:
Yogyakarta
Oh, P.S & M.K. Shin. 2005. Students’ Reflections on Implementation of Group Investigation
in Korean Secondary Science Classrooms. International Journal of Science and
Mathematics Education. 3 (2): 327-349.
Rusman 2013. Model-model pembelajaran (mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta:
Rajawali pers. Edisi 2, Cet 6, h.242
Sharan, Y., & Sharan, S. 1989. Group Investigation Expands Cooperative Learning. (online).
tersedia: www.ascd.org/.../el_198912_sharan.pdf, diunduh 12 Agustus 2014.
Soedijarto (Masnaini, 2003). Hasil Belajar. Surabaya Unesa University Press.
Suastra, I. Wayan. 2010. Model pembelajaran sains berbasis budaya lokal untuk
mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal di SMP. Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran 43.2 : 8-16.
Trianto. 2010. Mendesain model-model pembelajaran inovatif-progresif konsep, landasan,
dan implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP. Jakarta:
Kencana.Edisi 1 Cet 4, h.92
Zimmerer, Thomas W, Scarborough, Norman M dan Doug Wilson. 2009. Kewirausahaan
dan Manajemen Usaha Kecil. Salemba Empat. Jakarta.